Jumat, 25 Desember 2015

184. Galaksi Yang Kembali Berperang

Di trilogi ketiga Star Wars (sebelumnya dua rangkai 4-5-6 pada tahun 1977-1983 dan 1-2-3 pada 1999-2005), Lucas Film—anak perusahaan Disney—mempercayakan JJ Abrams menggantikan George Lucas di tampuk sutradara dengan formula yang fresh dari sisi cerita dan tokoh-tokohnya.

Bertajuk Star Wars: The Force Awakens (Episode 7) dengan latar masa 30-an tahun setelah Return Of The Jedi (Eps 6). Organisasi antagonis bernama The First Order, sisa-sisa keruntuhan Empire, memburu Luke Skywalker (Mark Hamill) sang Jedi terakhir. Sementara kelompok The Resistance yang dikomandoi Jenderal Leia (Carrie Fisher) melawan balik untuk melindungi Luke.

Hampir sama dengan prekuelnya, A New Hope, di mana seunit droid disisipi peta rahasia keberadaan Luke. Droid comel nan imut bernama BB-8 itu diburu oleh First Order hingga akhirnya ditemukan oleh pemulung dari planet Jakku bernama Rey (Daisy Ridley). Kejar-kejaran terjadi antara Rey, pasukan Stoormtroopers, dan Finn (John Boyega) —mantan Stoormtroopers yang membelot ke Resistance. Sampai pesawat mereka terjebak di stasiun luar dan berjumpa dengan sang legenda, Han Solo (Harrison Ford).

Dalam satu nasib dan semangat patriotik mereka berjuang menemukan Luke dan menghadapi kelaliman First Order yang dipimpin Kylo Ren (Adam Driver) seorang berenergi Force dalam sisi gelap. Tampilannya mengingatkan akan sosok Darth Vader.

Every generation has a story. Di tangan Abrams, Force Awakens mencoba beradaptasi dengan generasi spektator baru tanpa menihilkan nostalgia masa lalu. Dengan cerita yang ditulis olehnya bersama Lawrence Kasdan dan Michael Arndt, ritme cerita terasa gegap dan gegas dengan rempah komedi di antara aksi perang bintang. Komedinya benar-benar kocak. Yang terasa absen yaitu drama politik yang sering ricuh antara Empire dan Republik di film-film sebelumnya. Segmen itu biasanya diisi dengan obrolan dan nego-lobi khas perpolitikan interplanet. Tugas berat Abrams untuk sekuel selanjutnya jika tidak hanya puas dengan parade aksi dan efek visual belaka. Mengingat, Force Awakens merupakan kunci pembuka setelah Star Wars tidur selama 10 tahun (film sebelumnya episode 3: Revenge Of The Sith, 2005).

Kemunculan kilat tiga aktor Indonesia, Yayan Ruhiyan, Iko Uwais, dan Cecep Rahman bisa dipertimbangkan untuk menonton Star Wars:  The Force Awakens di sinema.

Walau tidak memuaskan 100 % tapi saya terhibur.

Senin, 07 Desember 2015

183. Martabat Manusia Di Hadapan Alam

Sebelum manusia menemukan minyak bumi dan sebelum Alfa Edison menciptakan lampu pijar, manusia membutuhkan minyak hewani macam lemak paus. Di kota pelabuhan Nantucket, Massachusetts, paruh pertama abad 19. Di mana Amerika baru mengenal ekonomi kapitalisme berupa kota pelabuhan maju dengan perusahaan dan kapal-kapalnya yang di antaranya memburu minyak paus.

"In The Heart Of The Sea" disadur dari buku nonfiksi berjudul sama karangan Nathaniel Philbrick. Kisah dilisankan dengan alur flashback oleh pria tua, Thomas Nickerson (Brendan Gleeson), kepada seorang penulis, Herman Melville (Ben Whishaw). Thomas adalah salah satu ABK Essex.

Yaitu Owen Chase (Chris Hemsworth) ialah pelaut ulung nan disegani ABK tempat ia berlayar. Perusahaan tempatnya bekerja memberinya misi berlayar dengan target 2000 tong lemak paus. Walau Chase sudah menagih janji sebelumnya yang akan menjadikannya Kapten Kapal Essex, tetap saja yang menjadi kapten adalah anak orang kaya, George Polland Jr. (Benjamin Walker). Ada intrik egoisme di antara mereka berdua. Bahwa Chase merasa lebih mumpuni, sementara Polland pun demikian belum lagi dia membanggakan nama belakangnya. Titik kulminasi egoisme mereka luruh tersapu badai dan memaksa mereka mendarat di Ekuador. Di sana mereka dapat cerita tentang paus sperma (Physeter macrocephalus) berukuran raksasa berkulit bak pualam yang berangas di Samudera Pasifik.

Dengan percaya dirinya mereka mengarungi padang air untuk memburu paus. Akhirnya sang legenda pun mengamuk, melumatkan kapal kayu Essex. Membuat para ABK dan kaptennya terombang-ambing di sekoci selama 9 bulan tanpa makanan dan minuman yang jauh dari cukup.

Pada saat perburuan paus (sebelum paus antagonis raksasa), efek CGI terlihat sedikit kurang halus. Green screen tampak kasar dikit... 5 % mungkin. Tapi bagi yang kurang jeli itu akan terlupakan. Apalagi wujud animasi paus-pausnya sangat meyakinkan dan meneror. Dari sisi penokohan aktor utamanya Chris Hemsworth kurang mencuri atensi. Daya tutur filmnya bersahaja untuk ukuran cerita besar melegenda. Segmen ketika para ABK sekarat dan frustasi kurang dieksplor bagian ini, belum lagi tektok persenyawaan (chemistry) antar tokoh yang setengah matang. Kurang berkesan. Sepertinya Howard mengulanginya lagi setelah Angels & Demons. Tapi salut buat Howard yang hanya menunjukkan sisi kanibalismenya lewat bahasa teks tanpa visual.

In The Heart Of The Sea arahan Ron Howard bukan sekadar pertunjukan amukan mamalia terbesar di Planet Bumi itu tapi juga sebuah film refleksi jati diri manusia dengan intensitas yang lumayan (mencoba) dalam. Setelah dengan apa yang terjadi kamu masih saja pongah, kata Owen Chase kepada George Polland. Jawab Polland, kita adalah makhluk tertinggi menurut gambaran Tuhan. Kita terlahir sebagai raja bumi yang mampu menjelajah dan menaklukkan bumi.

Senin, 23 November 2015

182. Kill Snow Part 2

Tamat sudah riwayat film-film Hunger Games (HG). Film keempat produksi Color Force dan Lionsgate, The Hunger Games: Mockingjay Part 2, menjadi gong terakhir bagi perjuangan Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dkk merobohkan tembok totaliterisme di Panem, dengan Capitol sebagai pusatnya dan Presiden Snow sebagai simbolnya.

Setelah di film Mockingjay Part 1 Katniss bersama Gale (Liam Hemsworth), Finnick (Sam Claflin), Plutarch (Phillips Seymour Hoffman), dan presiden Distrik 13, Alma Coin (Julianne Moore) mempersiapkan perlawanan terhadap Capitol, mengobarkan video propaganda, dan mempersatukan semua Distrik, di bagian kedua film ini mereka harus menyelinap masuk ke jantung istana Capitol.

Akan tetapi... itu bukan rencana sepele. Di tiap hasta jalan menuju Capitol terpasang banyak jebakan ranjau dan penghalang, seperti manusia mutts yang menyerang membabi buta pada Kelompok Pemberontak di bawah tanah dan minyak panas yang menggelegak. Kedua adegan itu lumayan berangasan dan bertensi tinggi. Alur Mockingjay Part 2 dirasa mondar-mandir, misal perasaan ambivalensi Katniss tentang siapa yang dia cintai; Gale atau Peeta (Josh Hutcherson) juga bagian modus tersembunyi Alma Coin yang sangat jelas punya motif berkuasa setelah Presiden Snow (Donald Shutherland) tumbang. Sebenarnya banyak bagian yang serasa dimelar-melarkan akibat memenggal satu buku novel menjadi dua film yang jatuhnya menjemukan. Kayaknya cukup diselesaikan di Mockingjay Part 1 (dengan penambahan durasi tentunya) sehingga cerita akan menjadi padu, padat, meyakinkan, dan berkesan di sanubari.

Rasanya kok ya mau membantai Presiden Snow saja perlu 260 menit (durasi kedua film terakhirnya). Mirip pertanyaan untuk film The Lord of The Ring: The Return of The King. Si Frodo mau menyemplungkan Cincin Setan ke gunung api aja kok perlu waktu 263 menit. Berapa pun menitnya, asal digarap benar akan jadi film yang memorable. Poor you, Francis Lawrence, Mr Director.

Tren memenggal satu buku menjadi dua film dimulai dari buku Harry Potter And The Deathly Hallows, diikuti Twilight: Breaking Dawn. Berbeda dari novel Harry Potter yang tebal (Deathly Hallows sekitar 700 halaman), Mockingjay cuma 400 halaman.

Senin, 16 November 2015

181. Bangkitnya Dendam Sang Badoet

Sosok Badut yang lucu, disukai anak-anak, dan identik dengan pesta ulang tahun telah lama dijungkirbalikkan oleh sinema menjadi bahan baku horor. Sebut saja Amusement, It, dan Dead Silence. Badut sudah menjadi antitesis bagi dirinya sendiri. Pada nuansa Friday The 13th tahun ini, rumah produksi lokal, DT Films, mencoba menawarkan film serupa berjudul BADOET.

Disutradarai Awi Suryadi, plot dimulai dari adegan seorang Badut merias diri bersama denting kotak musiknya. Setelah beberapa lama, kotak musik itu ditemukan oleh Vino, anak penghuni rusun, yang tengah main petak umpet bersama tiga temannya. Bagai kotak pandora, ketika kotak musik itu kembali dibuka serentetan peristiwa horor membuncah, di antaranya kematian tiga teman Vino dan teror yang memaksa Donald (Daniel Topan), Farel (Christoffer Nelwan), dan Kayla (Aurelie Moeremans) beserta Nikki (Tiara Westlake); cewek indigo yang sebelumnya berseteru dengan Donald di Twitter tentang bola.

Ada benang merah dari kematian tiga bocah rusun itu: gambar badut yang digambar ketiga korban. Selidik demi selidik, terungkaplah sosok badut (Ronny P Tjandra) adalah penghibur pasar malam tahun 1997 yang dituduh menyodomi bocah dan dihakimi warga dengan disiksa.

Dengan kotak musik sebagai pintu interdimensi, cerita berkutat tentang bagaimana mengunci kembali kotak musik itu dengan anak kunci yang terkubur bersama sang badut. Dibantu Nikki yang mampu melihat memori-memori kilas balik tentang si badut dan kematian tiga bocah rusun.

Badoet memakai resep khas horor namun tidak lebay ketika menampilkan wujud hantu badut agar lebih intens menakuti penontonnya. Sesi kesurupan yang angker. Musik scoring yang digeber kian menebalkan aroma horor pada reseptor kuping. Sinematografinya juga sebangun seruang dengan plot.

Intinya BADOET sukses menjadi horor mimpi buruk bagi spektator baik pecinta atau bukan pecinta horor.

Jumat, 16 Oktober 2015

180. Polemik Mesin dan Manusia

Layar dibuka dengan pemeriksaan warga di Teheran, Iran, oleh sepasukan robot perang pengganti manusia. Namun, seunit robot menembak mati bocah lelaki pembawa pisau. Sebab menurut sistem, pisau (dan senjata umumnya) adalah obyek ancaman. OMNI Corp, korporasi multinasional yang bergerak di bidang sains dan keamanan adalah operator yang membuat dan memprogram robot-robot itu.

Di kalangan senat Amerika sendiri terjadi polemik apakah robot menjadi jawaban keamanan nasional yang efisien, tangguh, dan manusiawi? Robot tidak memiliki algoritma berpikir bak manusia yang secara naluriah mempertimbangkan dampak yang lebih kompleks. Robot cenderung berpikir matematis tanpa eksponansi rumit. Dan usaha Direktur OMNI Corp, Raymond Sellars (Michael Keaton), juga terbentur UU Dreyfus, yang melarang robot beroperasi di ranah keamanan. Maka, Sellars perlu membentuk opini masyarakat dengan memperkenalkan robot sebagai purwarupa yang lebih ramah dan bersahabat. Dibantu Patrick "Pat" Novak (Samuel L Jackson), pembawa acara The Novak Element yang mendukung OMNI Corp.

Sampai suatu malam seorang polisi dari Polda Detroit, Alex Murphy (Joel Kinnaman), terkena ledakan hebat dari mobilnya. Motif ledakan adalah pembalasan oleh mafia penjual senjata ilegal, Antoine Vallon (Patrick Garrow). Alex ialah salah seorang polisi yang jujur dan tengah menginvestigasi kasus penjualan senjata ilegal yang diduga melibatkan polisi korup. 90 persen tubuh Alex hancur dan hanya tersisa kepala, paru-paru, dan tangan kanannya.

Melalui proses pembangunan cyborg yang dikepalai Dr. Norton (Gary Oldman), Alex menjelma jadi RoboCop, robot hibrida berotak manusia. Ini impian CEO Sellars untuk membangun opini publik tentang masa depan robot yang ramah dan diidolakan masyarakat. Walau dalam internal OMNI Corp sendiri terjadi silang pendapat. Bagaimana robot yang berpikir emosional justru menjadi hambatan protokol itu sendiri. Bagaimana Sellars yang berotak bisnis selalu berpikir pragmatis sementara Dr. Norton berpikir lebih manusiawi, bahwa apa pun, Alex masih manusia dengan anak dan istrinya.

Segmen drama di film RoboCop (2014) terbangun sangat rapi dan terukur. Bagaimana Alex sebagai RoboCop mengunjungi keluarganya, David anaknya (John Paul Ruttan) dan Clara istrinya (Abbie Cornish), dengan canggung. Tergambar rasa cinta tapi aneh di antara mereka. Juga aksi balas dendam Alex pada Vallon.

Sebagai film aksi, sekuens aksinya amat minim dan cepat. Ini cukup mengecewakan. Jatuhnya RoboCop jadi film drama berbalut politik dan sains. Jika dibandingkan film pendahulunya tahun 1986, RoboCop 2014 memang tidak terlalu buruk. Bila Jose Padilha memformulasi sekuens action-nya lebih masif dibanding intrik-intrik politis yang porsinya menguras durasi, RoboCop akan lebih brillian.

Senin, 12 Oktober 2015

179. Dosa Itu Bernama Hantu

Dua lelaki atletis bertelanjang dada di dasar kolam renang mengapit perempuan yang diilustrasikan sebagai hantu. Jika The Swimmers (2014) adalah film Indonesia, kita patut curiga ini film horor esek-esek. Tapi ini buatan GTH Thailand, rumah produksi yang ulet menelurkan film horor sungguhan macam Alone, 4Bia, Phobia 2, dan Pee Mak. Walau judul terakhir jelas komedi horor.

Latar kolam renang pada posternya merupakan bagian konteks cerita tentang dua atlet renang di kampus. Cerita bermula dari Perth (Chutavuth Pattarakampol) dan karibnya, Tan (Thanapob Leeratanakajorn), sesama perenang kampus yang berlomba meraih kuota untuk Kejuaraan. Lalu alur mengikuti Ice (Supassra Thanachat) perempuan yang bunuh diri dari platform ke dasar kolam yang kering.

Ice ialah pacar Tan, yang berselingkuh dengan Perth. Sebab birahi Perth yang berapi-api, Ice hamil. Mereka kelimpungan. Melahirkan atau menggugurkannya. Karena film horor misteri, ada bagian yang disembunyikan demi mengasyikkan jalan cerita. Alur mundur-maju perlu untuk menggenapi mozaik cerita. Permusuhan tersembunyi antara Tan dan Perth sangat menggemaskan ketika ditarik ulur. Poin terkrusial yaitu bagaimana film ini menakuti penontonnya dalam teknik sinematografi dan audio. Tetap ada jump scare (hentakan ketakutan) dengan porsi seimbang. Lumayan lah. Gak jatuh murahan dan gak lebay.

Akibat perbuatan dosanya, Perth mengalami paranoid dan bunga-bunga teror. Dia merasa dirinya bunting karena arwah bayinya minta dilahirkan ke dunia melalui perut bapaknya. Dan hal itu bisa dijelaskan secara ilmiah bahwa tidak begitu. Sutradara Sophon Sakdaphisit menyekat batas misteri dan ilmiah dengan keambiguan film. Keren sih.

Jamaknya, film horor (dan genre apa pun sebenarnya) sebagai metafora bertutur. Dosa di masa lalu sering kali menghantui siapa pun pelakunya. Masalahnya, bisakah kita menerima konsekuensinya dan bertobat lalu bangkit selagi sempat.

Sabtu, 10 Oktober 2015

178. Serigala Pengejar Berita

Louis Bloom (Jake Gyllenhaall) ialah pencuri besi yang bekerja malam hari. Barang curiannya dijual kembali ke pengepul dengan harga yang menurutnya sering mengecewakan. Di sudut jalan di Los Angeles, terjadi kecelakaan mobil dan terbakar. Tim polisi berusaha menolong korban dengan dramatis, namun fokus Lou ke kamerawan-lepas yang sibuk meliput insiden itu. Kata kamerawan itu, rekaman videonya bisa dijual mahal ke salah satu stasiun tv, yang otomatis berhak menyiarkan eksklusif.

Lou terinspirasi. Dia mencuri sepeda supaya bisa membeli kamera dan scanner polisi. Pertama-tama dia selalu diusir polisi kalau mendekat ke TKP kecelakaan. Dia menjual videonya ke stasiun tv KWLA. Nina Romina (Rene Russo), direktur pemberitaan KWLA, tertarik dengan sudut pengambilan gambarnya.

Akhirnya, Lou merekrut pegawai bernama Rick (Riz Ahmed). Tugas Rick memantau siaran scanner dan memandu jalan. Perlahan tapi pasti, Video News Production (nama produksi yang diusung Lou) mengalami kemajuan.

Sampai suatu malam, Lou dan Rick mengejar ke TKP sebelum polisi datang. Rupanya di TKP sedang berlangsung penembakan terhadap keluarga kaya yang direkam diam-diam oleh Lou. Itu merupakan berita paling mahal. Dari sinilah klimaks cerita dimulai.

Film Nightcrawler (2014) merupakan debut sutradara Dan Gilroy. Ya, dia sukses. Walau film ini berbumbu thriller namun bahan bakunya adalah satire masyarakat modern. Sebuah satire dari obsesi Lou dan konsumsi berita itu sendiri. Film ini filmnya Jake Gyllenhaall, dia yang menguasai panggung. Dengan bantuan make up tampilannya terkesan macam preman. Apalagi diperkuat dengan wataknya. Dia bekerja bagai wartawan-lepas berdarah dingin. Bahkan kejam.

Riz Ahmed jelas hanya pendukung dan diperlukan. Rene Russo memerankan direktur pemberitaan yang tak kalah obsesifnya terhadap tuntutan jurnalisme yang serba segera dan akurat juga menarik. Belum lagi KWLA sedang terpuruk karena share terendah di LA.

Pers Barat memandang berita itu sebagai “komoditi" yang dapat diperjualbelikan. Sehingga berita harus menarik dengan bungkus dramatis dan berdarah-darah.

Keseluruhan, Nightcrawler sangat nikmat. Apalagi adegan liputan penangkapan pembunuh di restoran. Mendebarkan. Lalu apa itu satire modern? Ambil saja contoh ketika masyarakat menonton bencana tanah longsor atau berfoto selfie dengan latar bangkai pesawat Hercules.

Selasa, 06 Oktober 2015

177. He Was Alien, He Was American-alien

Misi Ares III merupakan misi NASA di Planet Mars. Sekelompok astronot yang dipimpin Melissa Lewis (Jessica Chastain) membangun anjungan di wilayah Acidalia Planitia. Suatu malam, terjadi badai yang super ganas dan mampu menggulingkan pesawat. Mereka lepas landas darurat, dan meninggalkan Mark Watney (Matt Damon) yang tergulung badai dan diduga tewas.

Tetapi Watney selamat dan hidup sebatang kara di planet merah itu. Komunikasi dengan NASA terputus. Kalaupun harus menanti penjemputan,  itu memakan waktu tahunan. Sementara, Watney semakin kekurangan pangan dan air. Mars planet tandus. Sebagai botanis, Watney menanam kentang di Habitat (tempat yang dirancang khusus untuk manusia) dengan pupuk kotoran manusia dan air dari pembakaran hidrogen dan oksigen. Hari demi hari (atau sol demi sol--satu solar/satu hari di Mars~25,67 jam), Watney mampu bertahan dengan kentang dan musik disko.

Sampai suatu hari, kompresi di kompartemen tempat tumbuhan kentang tidak stabil hingga meledak. Melenyapkan ladang kentangnya.

Sementara di Bumi, di tubuh NASA,  setelah mendapat kabar keselamatan Watney mereka berdebat, haruskah menyelamatkan astronotnya dengan konsekuensi tambahan anggaran juga mesti mengorbankan keselamatan lima astronot lain.

Direktur NASA, Teddy Sanders (Jeff Daniels) merasakan dilema antara mengorbankan satu nyawa (Watney) atau mencoreng institusinya. Sanders berseberangan dengan Henderson (Sean Bean) dan Vincent Kapoor (Chiwetel Ejiofor) yang optimis.

Komandan Melissa Lewis dan para astronot , Rick Martinez (Michael Pena), Johansen (Kate Mara),  Chris Beck (Sebastian Stan), dan Alex Vogel (Aksel Hennie) berusaha menolong Watney tanpa harus mendarat di Mars.

Secara sinematografi The Martian memang jawara. Pembawaan aktor Matt Damon sebagai astronot penuh tekanan juga apik. Ada saatnya dia bergurau sendiri dan nangis sendiri. Juga bagaimana transformasi fisiknya, dari gempal menjadi kurus. Kehadiran musik lawas di Habitat cukup menganulir kesunyian di Mars yang mana lebih sering terdengar suara badai.

Untuk segmen di Bumi ya standar khas Hollywood. Perdebatan dan obrolan berdiksi sainstifik. Nggak perlu mumet lah sama obrolan mereka. Ambil saja benang merahnya dan anyaman cerita bakal mengasyikkan.

Dan adegan tepuk tangan kegirangan banyak banget muncul di ruang kontrol NASA dan bikin basi. Adegan basi ini sebetulnya bisa elegan kalau ditakar pas dosisnya. Termasuk, karakter-karakternya bisa dipersempit aja. Biar nggak mubazir dan menyesakkan layar. Misal si tokoh Rich Purnell (Donald Glover), ahli astrodinamika itu dikembangkan lebih banyak. Dan aktor-aktor Tiongkok dieliminasi aja. Well, memang pasar di Tiongkok besar sih buat Hollywood tapi jangan dikit-dikit Tiongkok. Kita kan jadi jenuh. Kalau bisa bikin subplot parsial aja khusus Tiongkok kayak Iron Man 3 itu loh.

Intinya film Ridley Scott ini keren lah, walau secara drama-emosional masih di bawah Interstellar-nya Christopher Nolan.

Kamis, 01 Oktober 2015

176. Misteri Penunggang Kuda Buntung

Pada pengujung abad 18, seorang detektif-polisi rasional ditugaskan menyelidiki kasus teror penunggang kuda buntung yang hobi menebas kepala orang di desa suram bernama Sleepy Hollow di Kabupaten Westchester. Ichabod Crane (Johnny Depp), nama detektif itu, sekaligus melakukan uji coba pada penanganan kriminal secara ilmiah dan modern, seperti otopsi dan penyelidikan-penyidikan komprehensif dan logis. Itu lantaran di Kota New York masih diterapkan hukum kuno. Antara lain tidak adanya asas praduga tak bersalah.

Sleepy Hollow (1999)

Di desa muram dan kelabu itu, Ichabod dihadapkan pada hal yang melampaui kasus natural: supranatural. Korban antara lain si juragan tanah Peter Van Garrett (Martin Landau), anaknya, dan janda Winship, simpanannya. Lalu berlanjut ke korban-korban selanjutnya. Rupanya target penunggang kuda tidak acak, melainkan terencana.

Penunggang misterius ialah seorang pembantai ulung di era perang revolusi Amerika yang hobi memenggal kepala musuhnya. Ada masanya ia bernasib sama, dan arwahnya diperdaya oleh seorang wanita yang menggadaikan jiwanya pada setan. Arwah penunggang kuda tersebut dikendalikan oleh wanita yang menyimpan api dendam di dada pada keluarga Peter Van Garret dan keluarga Van Tassel (Michael Gambon).

Dibantu oleh anak pembantu keluarga Van Garret yang juga jadi korban, Masbath Jr. (Marc Pickering) dan Katrina (Christina Ricci), anak Van Tassel. Bagaimanapun selalu ada api sebelum asap membumbung di desa Sleepy Hollow. Masih dengan kerja ilmiah, Ichabod takut-takut berani membongkar pelan-pelan misteri di balik keangkaramurkaan Sang Penunggang Kuda Buntung (Christopher Walken/Ray Park).

Gaya Tim Burton menampilkan desa Sleepy Hollow dengan tonase warna dan efek gelap pasti pas dengan suasana cerita. Nggak ada plot bertele-tele. 105 menit serasa padat dan meneror. Untuk pembawaan khas Johnny Depp yang agak slengean dan galau akibat memori traumatik masa lalu bersama ayahnya yang kerap menganiaya ibunya. Dia semakin karam ketika dihadapkan pada ketakutan dan bagaimana mampu menghadapi ketakutannya dengan kepala tegak. Christina Ricci sebagai Katrina tampil sebagai gadis bersahabat yang disalahpahami oleh Ichabod Crane.

Musik latar film ini juga terdengar artistik dan mempertebal suasana film yang dipinang dari cerpen milik Washington Irving berjudul The Legend of Sleepy Holow. Pada akhirnya habis gelap terbitlah terang. Awal abad baru datang. Selamat tinggal hukuman kuno.

Minggu, 27 September 2015

175. Tatkala Monster Terlibat Perang Saudara

Didaulat sebagai film Tiongkok (bahasa mandarin) super laris hingga hari ini, Monster Hunt a.k.a Zhuō Yāo (2015) menyerobot singgasana yang diduduki oleh Lost In Thailand (2012). Disutradarai Raman Hui, astrada film Shrek The Third (2007).

Berformat hibrida manusia dan animasi. Bergaya aksi komedi. Bagaimana bisa Monster Hunt menyerok pundi-pundi Rp 3 T dalam 10 hari penayangannya?

Hikayatnya, di dunia monster terjadi pemberontakan oleh monster jahat pada monster baik. Motifnya menumbangkan pemerintahan lama. Setelah Sang Raja mati, Sang Ratu mesti menyelamatkan bayi di rahimnya agar terlahir selamat sentosa. Dia bersama beberapa pengikut setianya, termasuk pasutri monster Zhugao dan Pangying (diperankan dan diisi suara oleh Eric Tsang dan Sandra Ng), melarikan diri dari kejaran monster jahat ke dunia manusia.

Di desa Yongning, tempat para monster tinggal setelah bertikai dengan manusia berabad lalu, hidup Kades muda Tianyin (Jing Boran), yang bahkan tidak sanggup melerai warganya yang berantem. Bapaknya kabur, konon ingin memburu monster. Cuma ada neneknya yang sudah pikun.

Suatu kesempatan, Tianyin diludahi Sang Ratu untuk kemudian memindahkan bayinya dari rahim ke perut Tianyin lewat mulut. Sekonyong-konyong, Tianyin bunting bayi monster. Muncullah perempuan pemburu monster, Xiaolan (Bai Baihe). Dia mengikuti Tianyin dan merawat Wuba, bayi monster nan imut bagai lobak. Motifnya tentu saja ekonomi, bayi monster ini diburu Biro Perburuan Monster (BPM) dan harganya mahal.

Apalagi Ketua BPM Ge Qianhu (Wallace Hung) sangat ambisius untuk menangkap Wuba dan menyantapnya hidup-hidup.

Berhasilkah Ge Qianhu, yang mana merupakan kejutan tersendiri dalam tubuh BPM? Apakah manusia masih bermusuhan dengan monster?

Ada hal klise dari pesan filmnya. Bagaimana kita tetap menghargai perbedaan dan welas asih. Filmnya tetap segar dan menghibur. Seperti CJ-7-nya Stephen Chow. Karena konsep gambarnya sengaja tidak realisme (terlepas dari sisi fantasinya), maka Base Fx selaku pembuat efek visualnya perlu untuk tidak terlalu menghaluskan obyek animasinya. Namanya juga hybrid live action-CGI. Luwes kok obyeknya. Di atas standar Asia.

Walau jahitan cerita yang ditulis Alan Yuen terasa ada yang bolong. Si Pangeran Wuba merupakan target VVIP yang sangat perlu diselamatkan demi kejayaan dunia monster (?). Lalu apa? Bahkan tidak dijelaskan bagaimana rencana selanjutnya dari Wuba ini. Tinggal di desa Yongning? Ya mungkin jatuhnya fantasi lucu-lucuan saja jadi dunia monsternya tidak perlu dibangun terlalu kompleks.

Jangan lupakan beberapa klip lagu serasa musikal, salah satunya "Mi gu ba nu gu ba ta gu ba". Sedang tayang di Cinemaxx dan Cgv Blitz.

Minggu, 20 September 2015

174. Foya-foya Dengan Uang Haram

Sekelompok lelaki berjas memakan apel. Mereka bersiap mengejar empat kopor berisi duit haram milik CEO (Kim Ju Hyeok) yang dibawa sebuah sedan. Tanpa dinyana mobil itu diseruduk truk sampah. Oleh petugas derek-mobil-rongsok bernama Na-mi, ditemukanlah harta itu.

Ji-Noo (Ryoo Seung-Bum), salah satu lelaki berjas membuntuti Na-Mi. Tanpa tedeng aling-aling Na-mi (Koh Joon Hee) membolehkan Ji-Noo dan seorang Afro-Kanada, Yakuboo (Sam Okyere) bersama istrinya Jung Sok (Ryu Hyun-kung), berfoya-foya dengan duit di koper itu. Agak aneh sih pendekatannya. Namanya juga uang haram eksponen haram, dibuang sayang dimakan ketimpa malang.

Mereka berempat dikejar-kejar oleh sang pemilik uang melalui sekelompok lelaki berjas, kecuali Ji-No yang mana diam-diam menikmati uang dan seks bersama Na-mi.

Lelaki berjas yang dipimpin In-Soo (Kim Eung Soo) mengejar dan menyelidiki empat sekawan penjarah uang miliaran rupiah itu.

Tak terlalu jelas ada apa sebenarnya di balik perebutan doku itu. Yang jelas itu doku haram, hasil korupsi atau mungkin ilegal. Fondasi cerita serasa subtil. Dengan diproduksi oleh 20th Century Fox Korea, Intimate Enemies mencoba beda dalam genrenya sendiri. Komedi tapi tidak lucu, bukan karena gagal melucu. Laga namun tidak jor-joran. Sangat riskan sih.

Sebagai spektator kita ingin duo Na-mi dan Ji-no jago mengatasi masalah akibat perbuatannya. Ya paling tidak karakter berkembang sesuai konsekuensi cerita. Punya motivasi yang nyata. Balik lagi sih ke naskah filmnya. Apa ini tujuan Im Sang-Soo yang duduk di kursi sutradara. Janggal. Semi-surealisme. Tidak menginjak bumi tidak menyundul langit. Bagi beberapa orang menganggap ceritanya gaje, tapi sejatinya hanya samar. Karena plot kejadiannya tiba-tiba muncul aja tanpa sandaran konteks yang jelas.

Pesan moralnya sih universal, bagaimana materialisme seringkali mengikis kemurnian nurani manusia.

Usaha Im Sang-Soo sangat keren, namun antara penyutradaraan, penokohan, dan naskah kurang kohesif.

Selasa, 15 September 2015

173. Distopia Rasa Zombie

Saga distopia dengan tokoh para remaja ini masih berlanjut dari film pertamanya tahun lalu, The Maze Runner. Babak kedua kisah ini berjudul The Scorch Trials.

Setelah melalu ujian berat di labirin (maze) para Glader yang selamat "diselamatkan" oleh W.C.K.D. di markas berdinding baja tebal. Tempat yang nyaman dan aman bila dibandingkan di labirin dulu, begitu kira-kira kata Newt (Thomas Brodie-Sangster). Namun Thomas tidak percaya begitu saja terlebih ketika Teresa (Kaya Scodelario) dibawa anggota medis tanpa penjelasan.

Menurut Thomas (Dylan O'Brien) dan temannya, Aris (Jacob Lofland), W.C.K.D menyimpan banyak rahasia dan konspirasi. Mulai dari menggembleng ketahanan tubuh para remaja di labirin hingga mencapai sistem imun tubuh yang berevolusi maju. Darah (serum) mereka bisa menjadi vaksin untuk mengobati infeksi suar (virus zombie).

Karena dipenuhi syak wasangka, Thomas dkk memutuskan cabut dari markas WCKD. Pemeo klasik: keluar kandang singa masuk mulut buaya; itulah yang terjadi pada bocah-bocah remaja itu. Di luar markas, area yang disebut Scorch sebagai ekosistem gurun tandus dan berbatu, mereka mesti bertempur melawan panas, haus, petir, dan zombie. Tujuan mereka ke pegunungan di mana faksi Right Arm bermukim. Right Arm ialah faksi yang melawan WCKD.

Dalam perjalanan ke gunung itulah naskah film bergulir sebagai wujud sinema beraroma horor-ilmiah dengan bahan baku zombie dan geledek.

Entah apa filmnya terlalu berlarat-larat atau memang naskah adaptasinya yang encer dengan durasi mubazir 130 menit, Scorch Trials bikin saya menguap berkali-kali. Sebagai bukan pembaca novelnya kok aku merasa ada yang salah dengan naskahnya. Dan aku yakin sekalipun mungkin naskah aslinya (novelnya) jelek paling nggak dia punya semacam kedalaman sensasi atau suasana atau apalah itu.

Masa iya sementah ini (setengah mateng sih)? Akting pemain-pemainnya medioker, sisi dramanya kurang emosional, gangguan zombie yang terkesan murahan, pokoknya ibarat kamu minum es teh manis segelas cembung tapi kurang gula dan es batu. Saya rasa Mas Wes Ball (sutradara) nggak suka es teh manis LOL.

Tetapi... sinematografinya bagus sih.

Minggu, 13 September 2015

172. Alkisah Tentang Kisah-kisah

Tale of Tales (Il Racconto dei Racconti) merupakan omnibus fantasi-istana sentris dengan tiga keping cerita. Film diangkat dari syair klasik Italia, Pentamerone. Konon, Pentamerone menginspirasi penulis sekaliber Hans Christian Andersen, Grimm bersaudara, dan Charles Perrault.

Disutradari Matteo Garrone di bawah bendera Archimede Film dan Le Pact, layar dibuka dengan kisah Raja-Ratu yang dihibur kelompok sirkus. Semua orang tertawa bahagia kecuali Sang Ratu (Salma Hayek). Dia belum punya pewaris tahta. Suatu malam datang tamu misterius yang menawarinya keajaiban: Ratu bisa hamil dan melahirkan dalam semalam dengan syarat Sang Raja mesti membunuh monster laut dan jantung monster itu harus dimasak oleh perawan dan Sang Ratu memakan jantung itu.

Berhasil! Bukan tanpa efek samping tapi. Perawan yang masak juga hamil dan memiliki anak yang kembar identik dengan anak Ratu. Jonah (Jonah Lees; anak si perawan) dan Elias (Christian Lees; anak Ratu). Mereka bersahabat tapi Ratu tak setuju dan selalu menghalang-halangi mereka. Hingga tamu misterius kembali datang dan Sang Ratu mesti berkorban demi ambisinya memisahkan Jonah dan Elias.

Keping kedua. Di Istana Altomonte, Sang Raja (Toby Jones) tinggal bersama puterinya, Violet. Tatkala Puteri Violet (Bebe Cave) bernyanyi dengan gitarnya, Ayahnya malah sibuk dengan kutu yang mengganggunya. Kutu itu akhirnya dipiara Raja dan tumbuh sebesar babi. Hingga si kutu besar itu mati dan kulitnya dipajang sebagai tebakan pada sayembara menyunting puterinya yang kebelet kawin.

Apa pasal, Puteri Violet justru disunting oleh manusia ogre. Tinggal di gua tebing, makan daging mentah, sampai diselamatkan keluarga sirkus.

Keping terakhir. Di kerajaan Roccaforte, Sang Raja (Vincent Cassel) mendengar senandung merdu di belakang istana. Pemilik suara ialah wanita tua keriput namun Raja mengira gadis cantik. Raja meminta wanita itu--antara Dora dan Imma--untuk datang ke kamarnya. Dora (Hayley Carmichael) yang menyanggupi dengan syarat semua lilin di istana mati. Karena penasaran, Raja melihat rupa asli dan mencampakkannya ke hutan. Dengan bantuan nenek sihir, Dora menjadi muda-cantik dan dinikahi oleh Raja.

Imma (Shirley Henderson) diundang ke resepsi saudarinya. Imma cemburu pada rupa Dora. Frustasi dan nekat, Imma malah menguliti kulitnya.

Tale of Tales bukan semacam omnibus yang tiap filmnya terpisah dan tak terkait. Beberapa tokoh saling terkait dalam satu lanskap geografi yang sama, bahkan di akhir film mereka berkumpul di balairung manakala Puteri Violet dinobatkan menjadi Ratu.

Tale of Tales mengambil bentuk fantasi Eropa yang cenderung gelap dan vulgar, sebut saja pendahulunya macam El Laberinto del Fauno (2006) dan La Belle Et La Bête (2014).

Tidak seringan dan seceria Mirror Mirror-nya Lilly Collins, Cinderalla-nya Lily James, bahkan Alice in Wonderland yang masih gelap-moderat.

Kelemahan film ini pada struktur penuturan cerita-ceritanya yang terasa dominan di satu cerita dan kedodoran di cerita lain. Seperti pada keping pertama yang hilang pesonanya digerus keping ketiga yang lebih bertenaga dan mengasyikan. Jika boleh dibredel satu satu dari keping satu sampai tiga masing-masing dapat: 2,5/5, 3/5, dan 4/5.

Il Racconto dei Racconti menyisipkan pesan moral bahwasanya keegoisan seseorang dalam obsesinya akan cinta justru bisa mendesktruksi makna cinta itu sendiri. Messaggio classico della fiaba classica.

Minggu, 06 September 2015

171. Konflik Tanah Leviathan

Kata Leviathan tertulis di Kitab Ayub (Injil). Kepercayaan Kristen cenderung mengasosiasikan Leviathan dengan setan. Dalam wujud mitologi berupa naga berkepala banyak di samudera.

Dalam film buatan Rusia yang pertama kali dirilis di De Cannes Mei 2014, Leviathan menjadi semacam simbologi kejahatan atau kehancuran atau cobaan dari dalam dan luar diri.

Cerita bermula dari Koyla (Aleksei Serebryakov), si mekanik mobil, dan istri keduanya, Lilya (Elena Lyadova) serta anak bujangnya yang bengal, Roma (Sergey Pokhodyaev). Yang mana, properti pribadi mereka akan dibebaslahankan oleh negara demi kepentingan umum, dalam hal ini akan dibangun menara telekomunikasi oleh Walikota Vadim (Roman Madyanov), di wilayah Pribrezhny. Biaya kompensasi ganti rugi yang rendah bikin Koyla gusar dan harus melawan balik dengan menyewa pengacara dari Moskow, Dima (Vladimir Vdovichenkov).

Dalam konflik agraria di banyak negara, rakyat yang terusir selalu menjadi pecundang yang dimarjinalkan. Apalagi hukum selalu tumpul ke atas. Walikota Vadim sebagai sosok licik munafik tentulah punya kekuatan untuk melawan balik dengan tangan kotornya. Dia mengancam Dima, memfitnah Koyla, dan membeli hukum.

Apalah daya semut melawan gajah?

Berdurasi 140 menit, film pasti akan membosankan bila terus menyorot sengketa tanah antara rakyat dan pemerintah. Rangkap sebagai sutradara dan penulis, Andrey Zvyagintsev dibantu Oleg Negin merancang cerita dalam sub plot yang tidak mengganggu plot utama. Perselingkuhan Dima-Lilya, pemberontakan ala remaja--Roma, dan kepercayaan Dima-Kolya. Juga efek dari tema cerita utama; di manakah keadilan bagi rakyat biasa?

Nuansa muram dari cara bertutur dan merekam gambar menjadikan Leviathan lebih serius dan kelam dibanding kompetitornya di Oscar 2015 yaitu Ida dari Polandia. Mungkin para juri Oscar masih merasa film-film Yahudi macam Ida masih seksi dan menggemaskan.

Tema konflik agraria atau sengketa tanah masih sangat relevan di kehidupan masyarakat kita. Baik yang berdampak pada kerugian material dan non material maupun kerugian lingkungan hidup. Seperti sengketa tanah Mesuji di Lampung, kontra warga Rembang dan PT Semen, termasuk seringnya bentrok petani-TNI yang detailnya bisa ditelusuri sendiri di Google.

Senin, 31 Agustus 2015

170. Komedi Mata-mata

Spionase atau mata-mata atau agen intelijen merupakan sub genre dari produk film aksi. Agen-agennya (aktor) biasanya ialah pria tampan parlente dan perempuan cantik mematikan dengan tujuh nyawa.

Bagaimana bila agennya ialah perempuan gendut yang terbiasa bekerja di belakang meja kantor? Kantor bawah tanah yang banyak tikus dan kalongnya. Chernin Entertainment, Feigco Entertainment, TSG Entertainment dan 20th Century Fox mempersembahkan film mata-mata berjudul SPY.

Susan Cooper (Melissa McCarthy) ialah pegawai CIA yang biasa bekerja memandu agen lapangannya lewat earphone dan komputer satelitnya. Pada suatu ketika, rekannya, Bradley Fine (Jude Law) tertembak dalam misi penyelidikan terhadap keluarga Boyanov yang menjual senjata nuklir secara ilegal. Tanpa pengalaman bekerja di lapangan dan juga selalu diremehkan oleh Agen Ford (Jason Statham) yang banyak membual, Susan tetap maju dengan percaya diri dengan tambahan motif dendam atas kematian Fine, agen yang diam-diam ia cintai.

Nama samarannya, Carol Jenkins, janda empat anak, dengan tugas hanya melacak dan melapor keberadaan De Luca (Bobby Cannavale) di Paris, orang yang menjadi makelar penjualan nuklir. Di luar rencana, Susan menemui Rayna Boyanov (Rose Byrne), orang yang membunuh Agen Fine. Dan karena jasa Susan menyelamatkan Rayna dari pembunuh, Susan menyamar kembali sebagai Amber Valentine, bodyguard rekrutan Ayahnya Rayna. Susan/Amber terlibat terlalu dalam dari rencana awal.

Kelucuan dimulai saat Susan memperingatkan Ford ada bom di tasnya di panggung, pertemuannya dengan Agen MI-6 Aldo yang cabul, mengejar-ejar dan duel dengan musuh dengan sangat meyakinkan, mengambil kendali pesawat yang mau jatuh, dan penampilan Jason Statham yang komikal bermulut kotor

Akting Melissa McCarthy sangat lepas di bawah komando Paul Feig, sutradara yang baru tiga kali bekerja sama dengannya di film Bridesmaids dan The Heat, termasuk Spy.  Didukung Miranda Hart yang lucu alami. Dan 50 Cent yang meminjamkan heli pribadi pada CIA.

Lucu. Kocak. Aksinya tetap pas. Voilaa... 5/5.

Minggu, 30 Agustus 2015

169. Mengapa Makanan di Bioskop Mahal?

Kenapa harga makanan/minuman di bioskop mahal, hampir 2 kali harga retail, misal di Alfamart Minute Maid 7000, di bioskop 14.000. Untung kasarnya 110 % lah.

Ya karena untungnya buat biaya operasional bioskop yg juga besar. Singkatnya supaya harga tiket tetap murah dan secara psikologis bisa diterima masyarakat. Konon biaya operasional pemutaran satu film di satu studio per satu kali baru ter-cover bila jumlah penonton 30 % dari jumlah kursi, kata Mbak Catherine si sekretaris Grup 21. Misal satu studio rata-rata 300 kursi, otomatis kuota dari 30 % ya 100 penonton per studio per sekali tayang.

Pengalamanku selama ini nonton di Jakarta baik weekday/weekend tiap nonton di bioskop jumlah kursi yang penuh 30 % aja jaraaaaaang banget, kecuali event nobar, baik gratis maupun dibayari. Dan rasio nobar dan non nobar paling 1:9. Bahkan bisa 0,5:9,5

Jadi pengusaha bioskop bikin konsesi (di outlet biasa ditulis concession) dengan memahalkan harga makanan/minuman (produk sekunder) dibanding harga tiket film itu sendiri (produk primer). Yang disasar adalah tipe penonton yang nggak begitu kritis sama film. Jalan-jalan ke mal, misalnya, lalu tetiba pengen ke bioskop, pas di meja loket bingung 10 detik mau film apa, lalu beli makanan, lalu pulang dan semua berakhir.

Tapi bukan berarti "penonton beneran" gak pernah beli makanan. Kayak aku kalo kepepet haus di studio terpaksa beli es teh selasih 20ribu. *mahal ;(

Padahal aku yakin loh kalau harga popcorn dan minuman di bioskop lebih murah, misal popcorn dan minuman orson jeruk cuma 15 ribu pasti kurva penjualan naik walau margin keuntungan lebih kecil.

Misal pembeli sebelumnya cuma 500 orang per hari dengan margin laba 5.000.000 (contoh saja). Bisa jadi bila harga di kantin konsesi murah jumlah pembeli naik 1.000 orang dengan laba 7.000.000. Butuh hitung-hitungan lebih rinci sih. Ya walau laba turun tapi kantin kan rame, penjual gak banyak bengongnya. Ditambah lagi konsesi bioskop adalah usaha mandiri, 100 % buat bioskop. Tidak seperti tiket film yang 50 % buat bioskop, 40 % buat produser film, dan 10 % pajak.

Bisa jadi mengurangi penonton yang kucing-kucingan bawa makanan dari luar. Kalau aku biasanya sih minuman tetrapack, biskuit, kacang, cokelat di celana gunungku yang gombrong. Kalau celana jins ketahuan nonjolnya hihihi...

Balik lagi sih, ini cuma uneg-uneg konsumen, bukan dari perspektif pengusaha bioskop yang perlu strategi agar bioskopnya terus bernapas.

Rabu, 26 Agustus 2015

168. Sentimen Perang & Cinta

“Dengar – tidak ada perang yang akan mengakhiri semua perang.” – Haruki Murakami (Umibe no Kafuka).

Hubungan India dan Pakistan masih tetap seksi untuk digarap ke layar Bollywood. Dua bangsa serumpun yang pernah perang empat kali. Kali ini SKF (rumah produksi Salman Khan) bekerja sama dengan Kabir Khan Films (Kabir Khan; sutradara) yang didistribusikan oleh Eros International, menggarap cerita dengan ranah yang lebih humanis dan manis sampai Anda menangis. Bajrangi Bhaijaan.

Di desa Sultanpur nan asri di Azad Kashmir, Pakistan, hiduplah Shahida (Harshaali Malhotra) gadis cilik 6 tahun yang tidak bisa bicara tapi belum bisa dikatakan bisu karena bisa mendengar. Ketika ayahnya mengangon domba di lereng gunung Shahida tergelincir ke jurang, untungnya dia tersangkut di batang pohon. Karena belum juga bisa bicara, ayahnya menyarankan ibunya agar membawa Shahida ke Delhi ke Nizamuddin Dargah, makam seorang wali.

Nasib tak dapat ditampik musibah tak bisa disergah. Shahida ketinggalan kereta api di perbatasan lantaran dia kepo sama anak domba yang meringkuk sendirian di luar kereta.

Shahida memang rada nakal tapi imut dan penurut. Suratan membawanya pada Pawan Kumar Chaturvedi (biasa disapa Bajrangi; Salman Khan) penari yang berperan sebagai Sri Hanoman. Bajrangi memberinya makan dan minum. Tapi Shahida (selanjutnya dipanggil Munni oleh Bajrangi) terus membuntutinya. Mau tak mau Bajrangi membawanya ke rumah Rasika (Kareena Kapoor Khan), calon istrinya.

Bukan tanpa masalah, bapaknya Rasika, Dayanand (Sharat Saxenaas), yang sangat anti Pakistan (di mana sebelumnya juga sudah mengultimatum Bajrangi agar sanggup beli rumah dalam enam bulan sebagai prasyarat nikah dengan Rasika) mengusir Munni dari rumahnya saat tahu Munni seorang Pakistan.

Ditolak oleh Kedutaan Pakistan sebab Munni tidak bawa passport, akhirnya Bajrangi mengambil jalan radikal. Menerobos perbatasan lewat terowongan. Yang cukup lucu adalah kejujuran Bajrangi yang naif, misal sudah masuk perbatasan dengan ilegal masih saja minta izin sama petugas. Kemulian dan kejujuran Bajrangi dan kelucuan Munni ketika main kucing-kucingan di Pakistan inilah yang jadi dinamika dan eskalasi emosi film yang pelan-pelan dan menusuk. Bagaimana lika-liku Bajrangi ketika berusaha memulangkan Munni ke kampung halamannya malahan disangka agen spionase.

Jangan lupa kehadiran reporter Pakistan, Chand Nawab (Nawazuddin Siddiqui). Kariernya yang sedang menyedihkan berubah menjadi cemerlang karena mengikuti perjalanan Bajrangi-Munni dan merekamnya untuk diunggah ke media sosial. Videonya menggugah kesadaran massa dan kekuatannya (people power).

Bajrangi Bhaijaan (artian bebasnya Abang Bajrangi, panggilan akrab Pakistani dan Hindustani) menjadi semacam film renungan kembali tentang rasa kemanusiaan di antara memfosilnya dendam antar suku, golongan, bangsa, bahkan agama. Kita (generasi sesudah perang/konflik) hanyalah anak-anak kandung dari perselingkuhan antara cinta dan perang.

Senin, 24 Agustus 2015

167. Vampir Sesungguhnya (review Let The Right One In)

Aku suka banget novelnya yang setebel bantal. Ceritanya terbagi dalam karakter-karakter dalam subplot tersendiri; Oskar-Eli, Lacke-Virginia, dan Tommy-Staffan, beserta karakter pelengkap.

Dalam versi novel, Oskar ialah anak cowok 12 tahun yang sering diganggu teman-temannya, punya orangtua yang bercerai (ikut Mamanya yg bawel), dan berteman dengan Eli, cewek sebaya yang tinggal di samping apartemennya di wilayah Angby, Swedia. Eli adalah cewek misterius yang cuma keluar malam hari, badannya bau, muntah saat makan permen, karena makanan dia darah. Ya, Eli adalah vampir ratusan tahun.

Lacke (Peter Carlberg) adalah pecundang-nganggur separuh baya yang mencintai Virginia (Ika Nord), perempuan tua yang kesepian. Dia adalah filatelis dan berniat menjual semua koleksi perangko berharganya agar bisa membeli sepetak rumah dan tanah untuk tinggal bersama Virginia. Apa lacur, Virginia dicokot Eli (Lina Leandersson) yang kelaparan sebab Hakan gak becus mencarikan sejeriken darah segar baginya.

Ya, Hakan (Per Ragnar) ialah pria putus asa yang "diselamatkan" Eli, sampai akhirnya Hakan bertugas mencari darah segar dengan target anak-anak yang digantung terbalik.

Segmen Tommy dan calon ayahnya, Kepala Polisi Staffan, tidak dimasukkan ke naskah film yang disutradarai Tomas Alfredson ini. Mungkin agar plot film fokus pada Oskar-Eli dan Lacke-Virginia saja. Konsekuensinya durasi menjadi singkat dan tingkat keseruan film berkurang karena banyak hal yang disunat dari novelnya (John Ajvide Lindqvist, penulis).

Lupakan novelnya, kembali ke filmnya yang dirilis 2008 ini. Vampir Eli ialah androgini atau sebut saja tidak berkelamin. Tidak bervagina dan tidak berpenis (diperlihatkan sekilas). Eli bukan vampir modern bling bling yang vegetarian darah manusia, tidak anti matahari, dan dia minta dimengerti oleh seorang bocah ingusan. Vampir apa adanya, bukan vampir produk industri hiburan yang penuh make up.

Oskar (Kåre Hedebrant) yang tadinya penakut menjadi sosok yang memberontak berkat Eli. Cinta monyet tanpa syarat di antara mereka pun yang bikin gemes.

Dengan cerita yang sederhana dan efek yang tidak neko-neko, film Let The Right One In (Låt den Rätte Komma In) juga tak melupakan atmosfer film dan sinematografi yang keren. Tidak terlalu thrilling namun stylish dan... tonton saja sendiri.

Jumat, 14 Agustus 2015

166. Kya Dilli Kya Lahore (2014)

Pada tahun 1948 setelah India-Pakistan baru sama-sama merdeka dari imperalisme Britania, di perbatasan seorang tentara Pakistan diperintahkan atas dasar informasi Intel bahwa India akan membangun terowongan. Pihak Pakistan menginginkan cetak biru (file) terowongan tersebut.

Usaha Rehmat Ali (Vijaz Raaz) sia-sia saja karena di gubuk pos perbatasan hanya ada Sammarth (Manu Rishi), seorang koki yang tidak tahu menahu tentang file itu. Rehmat ialah seorang Pakistan yang dibesarkan di Delhi sementara Samarth seorang India yang dibesarkan di Lahore. Dalam pameo senasib sepenanggungan, makan nggak makan asal kumpul, namun dimentahkan oleh nasionalisme masing-masing negara.

Dalam obrolan dua orang dalam rentang setengah jam, sebuah dialog panjang nan membosankan tapi bikin senyam-senyum, mereka saling menyalahkan, tembak-tembakan, dan menyadari kalau mereka hanya korban. "Ketika dua gajah bertarung rumputlah yang merana."

Tiada siapa antagonis dan protagonis seperti film India bertema sejenis. Menyentuh tapi tidak cengeng. Meski paruh kedua terasa kedodoran karena terkesan klise endingnya, tapi emang hidup sudah klise kan?

Hanya ada empat aktor bermain dalam wilayah latar itu itu saja, gubuk dan padang ilalang tandus. Syutingnya di Fiji. Dan cuma dua yang signifikan, yaitu Vijay Raaz (sekaligus sutradara) dan Manu Rishi, kurang populer. Mereka mampu bikin tektok satu frekuensi. Very memorable acting performance in a movie.

3,5 dari 5

Selasa, 04 Agustus 2015

165. Ulasan Masalembo, Serial Galau Dari Net

Aku gatel banget pengin bahas serial Masalembo di Net.

Masalembo ini konon terinspirasi dari serial Lost di luar negeri (Timor Leste jg luar negeri wkwkwk).

Awal-awal ceritanya cukup menarik, mereka terdampar akibat kecelakaan pesawat, berusaha berjuang hidup bersama beberapa karakter manusia yg baru mereka kenal. Ada si kapten, dokter, tukang tempramen, tukang cenayang, ahli herbalogi, macem-macem. Awalnya mereka diteror oleh "entitas tak kasat mata" lewat sudut kamera bergerak & bersembunyi di balik2 semak beserta geraman-geraman seramnya. Tapi entitas itu tiada. Mungkin gak ada bujet bikin model monster/alien/predator secara animasi.

Lalu tetiba ada penjahat (kayaknya bagian dari mereka) yg entah apa motifnya suka menyekap penumpang lain yg selamat. Mungkin dialah entitas yg suka ngintip2 di semak dan menggeram seperti yeti pegunungan lol.

Apa motifnya? Apa cuma kesenangan psikopatik aja?

Bagian itu basi banget.

Lantas bagian terbaru ada sekelompok orang suku pedalaman, entah mengapa merasa terganggu dgn kehadiran penumpang pesawat yg survival. Cara mereka berpakaian juga terlalu sopan sebagai suku pedalaman (takut sama KPI kali kalo cuma pakai celana rumbai dari akar beringin) dan mereka berbahasa Indonesia, mestinya ketika bicara dgn org nonsuku pakai bahasa apa gitu terus pake teks di layar, kecuali bicara sesama org suku boleh tanpa teks. Terus ada subplot sisipan, kalo mereka mencari kunci harta karun (semakin ngaco) yg mana kuncinya ada di antara penumpang pesawat.

Maunya apa sih? Kenapa gak coba fokus pada skrip yg udah menjanjikan di awal dan harus memelar-melarkan cerita dgn cerita baru. Ya pantes aja sih sutradaranya ganti, mungkin beda visi.

Walau skenarionya galau, Masalembo masih mending lah daripada Manusia Harimau Yang Tidak Ganteng di tv anu itu.

164. The Way He Looks, Timbuktu, and Serbian Film in Flash Review

TIMBUKTU

Apa jadinya bila hukum syariah ditegakkan di bawah ancaman senjata?

Alkisah, kota Timbuktu di Mali sedang di bawah cengkeraman milisi ISIL (bukan ISIS). Kidane, seorang peternak sapi di gurun tidak terima satu sapi ditombak mati oleh Amadou, nelayan yang kesal karena sapi Kidane menghancurkan jaringnya. Hingga terdesak, Kidane membunuh Amadou. Menurut hukum syariah, Kidane mesti membayar kifarat 40 ekor sapi sementara dia hanya punya 7 sapi.

Merasa hidupnya tak lama lagi, dia meminta agar bertemu anak perempuannya yang sangat dicintai, namun permintaan itu diabaikan. Lalu istrinya datang ke tempat eksekusi bersama pria bermotor. Dan terjadi kekacauan yang tak terduga.

Ketika sekelompok masyarakat belum siap dengan hukum syariah apalagi hukum ditegakkan secara paksa tanpa pendekatan persuasif yang baik, yang terjadi cuma kegelisahan di masyarakat.

Misal wanita penjual ikan yang menolak memakai sarung tangan karena dia tak bisa membersihkan ikannya. Seorang pemuda yang dicambuk 40 kali karena main bola, kemudian ada sekelompok anak-anak yang bermain bola bayangan (miris dan lucu). Juga wanita bersuara merdu yang dicambuk 40 kali karena ketahuan bernyanyi -____-

Abderrahmanne Sissako (sutradara) bermain di wilayah perenungan, gambar sunyi yang menangis, dan paradoks dan ironis. Dengan naskah & skenario tipis film terasa bolak-balik menyorot para ekstremis ISIL beserta kebodohannya dalam mengaplikasikan ajaran agama mereka. Karakter-karakternya, baik antagonis maupun protagonis, pun bermain di area konflik "badai dalam mangkok, mangkok dalam samudra", maksudnya film ini terasa domestik namun juga universal dalam batas negara dan agama apa pun.

Film berdurasi hemat ini memang tidak meledak-ledak, namun cukup mengesankan. Timbuktu masuk nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik Oscar tahun ini, namun kalah dari film Polandia, IDA.

The Way He Looks

Baru sempet nonton film Brasil Hoje Eu Quero Voltar Sozinho (The Way He Looks).

Ceritanya ada seorang remaja tuna netra, Leonardo, yang sahabatan banget sama Giovanna dari kecil. Mereka pulang sekolah bersama, Leo dituntun Gigi, pipinya dikecup. Mungkin ada rasa cinta di hati Gigi.

Sampai suatu hari persahabatan mereka terganggu oleh Gabriel, murid pindahan dari Sao Paulo. Diam-diam Leo suka sama Gabriel (rainbow love hihihi). Gabriel juga suka sih, apalagi pas mereka mandi bareng dan Gabriel terkesima sekaligus kaget saat liat penis Leo (tentu off record, ini kan bukan film porno).

"Ayo kita nonton bioskop," ajak Gabriel pada Leo. Padahal Leo kan buta.

Premisnya sederhana ya, ketika persahabatan terusik orang ketiga. Ketika masing-masing hubungan mereka diuji sampai selentur apa. Juga hubungan orangtua yang over posesif pada anaknya yang tunanetra.

Jadi mirip film Taiwan: Eternal Summer.

The Way He Looks sudah menggondol dua piala: the FIPRESCI Prize for best feature film in the Panorama section dan the Teddy Award for best LGBT-themed feature.

Serbian Film

Tadinya iseng aja googling film kontroversial, salah satunya dpt Saló (120 Days Of Sodom). Nonton video reviewnya di YouTube, aku malah hampir pingsan.

Karena masih penasaran coba nonton film paling sakit jiwa dan menjijikan, dpt Srpski Film (judul umumnya A Serbian Film). Walau bagiku sih biasa saja hehehe.... Medium lah.

Ceritanya ada mantan bintang porno, Milos (Srdjan Todorovic) yang miskin dan ditawari kontrak kerjasama oleh Vukmir (Sergej Trifunovic). Namun kerjanya masih dirahasikan, Milos cuma dipasangin earpiece dan diperintah lewat situ serta ditemani dua kamerawan.

Dari situ Milos mulai bekerja dengan seorang wanita malang yg dipukuli tapi disuruh blowjob kemaluan Milos. Walau terkesan vulgar tapi dari cahaya, sudut kamera, dan sinematografi sih cenderung bagus loh. Jadi gak murahan.

Apalagi pas Milos merasa hilang selama tiga hari sebab pengaruh obat-obatan yg disuntikkan ke tubuhnya. Dari sini film kembali menggulung pita plotnya yang hilang bagai misteri dan terpasang sebagai puzzle nan menguak apa yang sebenarnya terjadi lewat rekaman pita VHS.

Terjadi pada anak lelakinya, pada istrinya, juga pada dirinya sendiri. Bagai kotak pandora yang mengeluarkan darah, mani, dan air mata.

Sedikit bocoran adegan asusilanya; ada cewek lagi diperkosa terus dibacok, dokter yang mempersalinkan wanita hamil eh bayinya diperkosa, gitu deh.

#flashreview yg rada alay

Kamis, 30 April 2015

163. Kesempatan Kedua untuk Sang Pendendam

Raghu/Raghav (Varun Dhawan) ialah suami-ayah dari dua korban perampokan bank, Mischa (Yami Gautam) dan Robin. Mereka adalah korban yang terbunuh saat mobil korban dirampas oleh perampok--Liak dan Harman--untuk melarikan diri.

Harman (Vinay Pathak) lolos dari tangkapan polisi, namun Liak Tungrekar (Nawazuddin Siddiqui) sengaja menumbalkan diri untuk dipenjara--divonis 20 tahun. Selama 15 tahun Liak tutup mulut kepada kepolisian (dan Raghu) tentang di mana keberadaan Harman (beserta uang rampokannya). Kebungkamannya adalah siasat supaya ia mendapat jatah dari Harman. Ia juga kerap berdusta bahwa Harman lah yang membunuh keluarga Raghu.

BADLAPUR

Pemeran: Varun Dhawan, Nawazuddin Siddiqui, Huma Qureshi, Yami Gautam, Divya Dutta.
Sutradara: Sriram Raghavan.
Skenario: Sriram Raghavan, Arijit Biswas.
Musik: Sachin Jigar.
Produksi: Maddock Films, Eros International.


Tak menyerah, Raghu menemui pacar Liak, Jhimli (Huma Qureshi) seorang pelacur yang dijanjikan akan dibahagiakan oleh Liak tapi malah masuk bui. Hasilnya tetap nihil. Mamanya Liak lah yang memberitahu di mana Harman berada.

Di seperempat sisa hukumannya, Liak mendapat grasi karena mengidap kanker maag, dan juga karena pengampunan Raghu atas desakan seorang aktivis pendamping narapidana, Shobha (Divya Dutta).

Liak menghirup udara segar, siap menyambut bagian uangnya dari Harman, yang uangnya sudah dianakpinakkan di bisnis resto. 25 juta Rupee, jatah untuk Liak.

Namun semua sia-sia, Raghu telah menghancurkan semuanya.

Yang menarik dari Badlapur adalah storytelling yang bulat-padat, melingkupi semua karakter (aktor) di dalam lingkarannya. Sriram Raghavan menahkodainya dengan pelan-pelan, di awan nan gelap, karang yang menohok, dan menyentuh di ujungnya. Pada tiap karakter terarsir warna-warni, tidak hanya hitam dan putih. Yang baik jadi jahat, yang jahat jadi baik. Penjahat jadi korban, korban jadi jahat.

"Atas kehendak Tuhan esok Liak akan bebas dari penjara, sementara engkau terpenjara dalam dirimu sendiri," kata Shobha ke Raghu.

Yang banyak mendapat kredit adalah lakon Nawazuddin Siddiqui yang murni kejam dari pembawaan fisiknya. Ekspresi mata yang apa adanya tanpa dibuat-buat. Kasting yang bagus.

Badlapur (Don't Miss The Beginning), drama-thriller beratmosfer noir yang realistis, agak sadis-agak porno dan itu pas, juga menggigit, dan komedik (tanpa beban untuk ditertawai).

Soundtrack keren nyaris tanpa lypsinc dan tari. Walau bangunan gelap film ini hampir hancur di closing-title pada soundtrack yang akhirnya di-lypsinc-kan dan ditarikan oleh Varun Dhawan. Malah jadi aneh -_- Tapi keseluruhan keren sih, salah satu film Bollywood wajib tonton setelah Kuch-kuch Hota Hai.

Senin, 06 April 2015

162. Ida, Anak Kandung Tragedi Zaman

Seorang biarawati muda, Anna, diminta Suster Kepalanya agar mengunjungi bibinya, Wanda Cruz, sebelum mengambil kaul sebagai biarawati. Bibinya adalah seorang mantan jaksa penuntut umum di Polandia, seorang komunis, peminum dan perokok berat, dan wanita jalang.

IDA

Pemeran: Agata Kulesza, Agata Trzebuchowska, Dawid Ogrodnik, Adam Szyszkowski.

Penulis: Rebecca Lenkiewicz, Paweł Pawlikowski.

Sinemafotografi: Łukasz Zal, Ryszard Lenczewski.

Sutradara: Paweł Pawlikowski.

Studio: Canal+ Polska, Danish Film Institute, Eurimages.


"Kau adalah orang Yahudi," katanya pada Anna, yang nama lahirnya adalah Ida Lebenstein. Seorang yatim piatu yang dirawat di biara setelah kedua orangtuanya dibunuh pada masa Pendudukan Jerman saat Perang Dunia II.

Mereka berdua melakukan perjalanan dari kota Lodz ke desa di mana keluarga Lebenstein dulu bermukim untuk mencari di mana kedua orangtua Ida dikuburkan. Mereka mendapati keluarga Feliks Skiba, orang Kristen yang menempati rumahnya dulu, dan mengirim Ida ke biara.

Wanda sering menggoda Ida dengan pertanyaan provokatif: bagaimana bila kau sudah sampai sana tapi tidak menemukan Tuhan?, keluarlah... Yesus-mu saja sudah keliling dunia, apa kau pernah berpikir tentang seks?

Di tengah jalan, mereka memberi tumpangan pada Lis, saksofonis jazz tampan yang bakal manggung untuk perayatan HUT kota. Sekali lagi bibinya mengajak Ida menonton gig musik di restoran hotel. Bibinya tahu bahwa dia tertarik pada Lis.

Tak lupa tujuan utama mereka, mencari di mana makam orangtua Ida. Itu tidak mudah, dengan sedikit usaha, pelan-pelan mereka menemukan jawabannya, kenapa Feliks harus membunuh keluarganya(?).

Film monokrom (hitam putih) buatan Polandia (dan Denmark, Perancis, Inggris) dikemas dengan film perjalanan (road movie) mini dengan durasi yang mini pula, 80-an menit. Tentang dua wanita yang sama-sama bergumul mencari remah-remah identitas di negara yang hampir binasa itu.

Dengan sinematografi yang terkesan muram, mungkin Pawlikowski mencoba menyuguhkan detail emosi yang mendalam. Kamera statis, adegan minimalis dan praktis. Tangkapan emosi pada kamera yang lelet. Lanskap wilayah yang terkesan sebagai kota mati. Dengan latar waktu 1961 di era kediktatoran Stalin.

Dua aktrisnya, Agata Trzebuchowska sebagai Ida, dan Agata Kulesza sebagai Wanda, bermain dalam persenyawaan yang sempurna. Dua buah teriakan jiwa yang membuncah dari kesedihan dan kemarahan akan tragedi zaman. Bagaimana masing-masing tokoh patah dari daya lentingnya menyikapi masalah. Wanda yang tidak mampu, Ida yang gamang. Ida yang berlari di trek pelarian yang membenturkannya ke ketiga kaul religius yang akan diikrarkannya nanti.

Film yang segar dan sempurna. Layak dapat Best Foreign Picture in Academy Awards 2015.

Jumat, 03 April 2015

161. Gangnam Shade of Blues

Ada kalanya sebuah peradaban (sebut saja kota) dibangun di atas puing-puing belulang dan darah manusia. Dengan batu nisan atas nama bisnis berayahkan politik. Bertabur kembang keserakahan.

Distrik Gangnam yang sekarang menjadi metropolitan Korea Selatan, pernah punya sejarah kelam dengan aktor para politisi busuk yang membayar gangster untuk merobek tanah orang miskin.

Gangnam 1970 (Gangnam Blues)

Pemeran: Lee Min-Ho, Kim Rae-Won, Jung Jin-Young, Seol Hyun, Kim Ji-Su, Lee Yeon-Doo, Yoo Seung-Mok, Choi Jin-Ho.

Sutradara dan skenario: Yoo Ha.

Sinematografi: Kim Tae-seong, Hong Seong-hyuk.

Studio: Showbox, m.o.vera Pictures.


Tersebutlah dua sahabat lama hidup dalam kemelaratan sebagai yatim piatu. Yong Ki (Kim Rae Won) dan Jong dae (Lee Min Ho) tiap hari memulung sampah dan mengepulnya. Rumah mereka sekadar gubuk derita yang tak sanggup menganulir dinginnya musim. Sampai rumah mereka dirontokkan alat berat oleh tuan tanah. Tentu mereka mengamuk.

Apa boleh buat, demi uang, mereka rela jadi pasukan front perusuh, mengobrak-abrik markas politik dari lawan politik yang membayar mereka untuk jadi front perusuh. Keadaan menjadi kacau, mereka berdua terpisah. Jong dae tinggal bersama ketua geng yang baik, Gil Su (Jong Jin Young). Sementara Yong ki bekerja pada Myeongdong-pa, organisasi kriminal paling disegani.

Organisasi tempat mereka berdua bernaung saling berseberangan. Ini menjadi dilema ketika Yong ki harus main kucing-kucingan demi menyelamatkan Jong dae yang diculik dan disiksa. Keadaan pun kian rumit saat Jong dae ketahuan bersekongkol.

Rasa penasaran lah yang bikin saya pengen nonton film ini. Walau ternyata tiada ada yang spesial di sektor akting, story telling, sinematografi, penyuntingan, ya cuma soundtrack-nya saja yang bikin saya happy. Juga pertarungan antar geng yang bengis, brutal, dan berangas, termasuk pakai kapak dan tawuran di tanah becek yang memaksa saya untuk mengingat adegan film The Raid: Berandal.

Sang bintang, Lee Min Ho, bagai supernova (bintang hancur) di sini. Gak ada sinarnya. Gak ada sesi untuk dirinya mengeksploitasi perannya. Belum lagi ada dua adegan zina yang bikin saya eneg. Gak ada konteksnya dengan frekuensi cerita. Aktrisnya, Seol Hyun dan Lee Yeon Doo, gak ada kontribusi kuat untuk menyokong fondasi cerita. Belum lagi terlalu banyak cast mubazir yang asal tempel dan membingungkan saya.

Story telling-nya pun bertele-tele. Seperti gak ada suntingan sempurna untuk membuang adegan yang gak penting dan bisa menghemat durasi (135 fucking minutes!).

Baru kali ini film Korea benar-benar mengecewakan saya. Buang-buang waktu. Buang-buang kuota. Tapi gakpapalah, download gratis doang wkwkwk.

Skor 1 dari 5.

Selasa, 10 Maret 2015

160. Legenda Penembak Takdir

Suara bor di bengkel merupakan hal yang lumrah, tapi tidak jika otak kita tersulut oleh memori traumatis akan dengaran bor tersebut. Bor dari musuh di medan perang sebagai senjata penyiksa.

American Sniper

Pemeran: Bradley Cooper, Sienna Miller, Luke Grimes, Kyle Gallner, Sam Jaeger, Jake McDorman, Sammy Sheik.
Penulis skenario: Jason Hall.
Sinematografi: Tom Stern.
Sutradara: Clint Eastwood.
Studio: Village Roadshow Pictures, 22nd & Indiana Pictures, Warner Bros.

American Sniper, sebuah biopik (dan disadur dari autobiografi dengan judul sama) dan drama perang dari tokoh angkatan laut Amerika Serikat (US Navy SEALs), Christopher Scott Kyle, yang seorang penembak jitu maut saat Amerika Serikat (AS) menginvasi Irak. Kementerian Pertahanan AS mengonfirmasi 160 musuh terbunuh olehnya.

Kyle muda gemar menembak rusa dengan bedil ayahnya. Beranjak dewasa dia menjadi koboi rodeo dan mesti pensiun akibat sebuah insiden melukai tangannya. Dengan gelora patriotisme dan semangat bela bangsa atas tragedi 11 September, Chris Kyle (Bradley Cooper) mendaftar di AL AS.

Tugas pertamanya adalah tiga hari setelah pernikahannya dengan Taya Kyle (Sienna Miller). Dan target tembak pertamanya tak pernah terbayangkan: seorang wanita dan bocah lelaki pembawa granat. Sebuah prolog yang membikin hati nyeri.

Kyle kembali dari tugas pertama di Irak sekaligus menyaksikan kelahiran anak pertamanya. Namun hanya raganya yang kembali, pikirannya masih bercokol di medan perang. Dari pergumulan psikologi inilah Bradley Cooper dengan "tenang dan senyap" memerankan Chris Kyle yang depresi tanpa harus meledak-ledak seperti aktor murahan.

Aktor antagonisnya, Mustafa (Sammy Sheik) yang juga penembak jitu juara Olimpiade,  kurang dapat porsi framing yang cukup untuk ditangkap ekspresi kekejamannya. Maklumi saja, dalam tiap perang penjahat dan pahlawan adalah subyektif. Dia hampir tidak berbicara sepanjang film.

Dari tiap-tiap segmen penugasan Chris Kyle di Irak (ada 4 kali tugas), Clint Eastwood membuat formula eskalasi drama dan perang yang stabil dan memuncak. Sinematografi di Irak representatif sebagai gambaran perang; gedung-gedung hancur, kilatan bom, matahari jingga terbenam segede tampah, dan perspektif teropong digital serta tata cahaya yang hemat ketika malam sesuai kondisi kurang listrik.

Aksi tembak-tembakan melawan mujahidin Irak lumayan intensif dan menghibur penonton yang memang mencari hiburan model film blockbuster dan sisi dramanya menjadi magnet tersendiri terutama bagi anggota AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Sciences) sehingga film ini dinominasikan pada Oscar 2015 dalam film terbaik, aktor terbaik, penyuntingan film, mixing suara, dan hanya menang pada kategori penyuntingan suara terbaik. Scoring dan audionya memang grande sih, apalagi suara azannya yang syahdu ^_^

Sabtu, 14 Februari 2015

159. Kalung Valentine (novelet versi revisi)



Novelet ini edisi revisi cerbung Kado Untuk Stefani empat bagian yang ditulis 2012 lalu. Sedikit memangkas kalimat yang nggak guna aja

"Kamu harus tahu bahwa Andrew masih sering
menangis di kamarnya walau sudah satu tahun
berlalu!”

Suara wanita bernada ketus dari membran ponselku putus tanpa permisi. Peringatan itu bagai menyisihkanku ke teluk penyesalan. Kubaringkan ponsel di meja dapur. Adonan kue
untuk hidangan hari valentine yang sempat
terbengkalai  kulanjutkan lagi. Namun percuma
saja.

Tanganku yang gemetar saat memegang
spatula mendamparkanku mundur ke masa silam
tatkala aku melakoni kecerobohan cinta yang berdampak pada tragedi klise. Menghempaskanku ke pojok tempat tidurku nan dingin. Memerah tetes per tetes air dari mataku. Sementara
hidup harus berjalan tanpa ampun. Hingga aku
berani berkeputusan dan takdir menjemputku sampai ke sini.

Aku terjaga dari kilas balik masa lampau.
Sekonyong-konyong serbuk kastor terbang dan menyembur wajahku.

“Ya Tuhan, uhuk uhuk!”
Serbuk gula halus itu masuk ke hidung dan mataku. Tersedak dan memedihkan. Apa yang baru saja terjadi? Siapa yang
meniupnya?
“Kenapa, Bu?” Asisten rumahku datang memasang raut heran.
“Enggak papa, Bi. Tolong lanjutkan adonan itu,
lalu tuang ke loyang, masukan ke oven suhunya
170 derajat dan harus 12 menit. Bentar aja, saya balik
lagi.

**

Ah… Hari keagungan cinta tahun ini berhambur
air hujan warna merah jambu dari langit. Dengan senyum merekah di wajah, aku memilih busana yang wajib kukenakan untuk menemani suami makan malam sederhana di
rumah. Memusnahkan cahaya-cahaya pongah
lampu. Memekarkan kuntum-kuntum lilin yang remang. Menyemprotkan partikel pengharum ruangan aroma mawar di
kamar tidur.

Hmm, aku tak boleh saltum malam ini. Cardigan kuning yang berpadu dengan kemeja merah muda dan pleated skirt warna ungu sekiranya cocok. Kuperagakan padu-padan busana itu di hadapan cermin lebar bersama senyumku yang menyebar.
Ahai, namun dress selutut warna magenta
bermotif mawar merah sejatinya menampilkan
kesan romantisme merah jambu.

Huh, bimbang juga. Sudahlah… cardigan lebih pas membalut ragaku pada musim hujan yang menggigil ini. Andaikan suamiku ingin yang lebih panas, sebelum naik ke ranjang aku akan memakai lingerie yang menggodanya.

“Fani, ayo turun.” Dia sudah siap, bersandar di daun pintu. Kemilau kemeja biru terangnya memendarkan kesan elegan. Aroma minyak rambutnya menyengat sekali.

“Tunggu, Tom, aku sedang merias.”

And even if the sun refuse to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart until the end of
time
You’re all I need, my love, my Valentine.

Lagu My Valentine mengalun syahdu di ruang makan. Lidah api sudah membakar metanol, menjilat panci logam yang berisi minyak kacang. Hmm… sudah menyeruak bebauan pancingan yang meneteskan liur. Ya, kami akan menyantap daging founde malam ini.

“Aku paling suka coklat fondue yang dicelupkan stroberi segar. Hmm….” Rupanya Tom nafsu pada coklat fondue.
“Coklat fondue kapan-kapan ya….”

Kucelupkan ham ke minyak panas dan menunggu beberapa saat.
“Okay, that’s why there’s no war if we eat fondue, he he he,” guraunya.
“Agree. Lagi pula aku punya strawberry mouse cake lho.”
“Hingga serbuk kastor bikin kamu keselak?”
“Sudah ah. Aneh sekali itu.”

Kuperhatikan sampai topik obrolan usai dan menu habis, belum juga Tom memamerkan kadonya. Bentuk dan warna sampulnya pun tak mampu kuterawang. Apa dia benar-benar tak mempersiapkan kado vlentine untukku.

“Tom….” Senyumku kecut. Rahangku kaku. Ada darah mengalir lembut dari keningnya ke hidungnya yang bangir. Baunya teramat anyir. Horor.
“Iya.”

Dengan gemetar aku menyeka hidungnya. Darah itu teramat dingin dan anyir. Teramat ganjil. Apakah Tom diam-diam punya penyakit?
“Fani, kenapa?”
“Darah.”

Dia mengusap dahi, hidung, dan pipinya. Dilihatlah tangannya sendiri. Kemudian telapaknya digosokkan ke serbet putih.

“Tak ada darah. Hanya keringat, mungkin banyak api
di meja ini.”
“Aku nggak bohong.”
“Tetapi tidak ada."

Tom mengeluarkan kotak bersampul merah jambu berpita biru tua dari kursi di sebelahnya. Ekspresinya separuh tertawa separuh tersenyum seraya menimang benda itu.

“Mungkin kamu sedang kalut. Dan di malam keagungan cinta ini aku persembahkan kado spesial untuk istriku tercinta, Stefani Widjaja. You would still have my heart until the end of
time. You’re all I need, my love, my valentine.”

Tembang yang dia lagukan amat merdu di hati. Dia berpindah kursi. Menghampiri lantas menarik tanganku yang masih bergetar untuk menerima pemberiannya.

“Terima kasih, suamiku tercinta.” Maka
dikecuplah pipiku.
“Apakah pria tak pantas dapat kado?” Tagihnya menggoda.
“Hadiah untuk pria selalu ada di ranjang sutra.”

Aku balas menggoda. Kubelai pipi putihnya. Dia menggenggam pergelangan tanganku sambil menciumnya. Terpejamlah kedua mata sipitnya. Dia menggigiti kecil jemariku.
**

Aku masih di kasur hangat dengan separuh ragaku yang lisut dihisap kumbang raja. Aku melepaskan diri dari rangkulannya. Tak sabar mau segera kucium kalung berlian hadiah dari Tom. Model macam ini pasti nilainya belasan juta. Tak salah alamat
aku memilih dia sebagai pasagan hidupku. Saat seperti ini aku jadi teringat masa lalu. Masa lalu yang tak mau beranjak dari tiap pagiku yang biru.

Nada diam ponselku berbisik. Ada pesan singkat dari Jenny rupanya. Aku tersenyum geli kala membaca isi pesannya. Duh… tadi siang dia berencana nimbrung makan malam dengan kami. Tapi dia berdalih takut memorakporandakan
malam keagungan cinta milik kami. Sebenarnya dia iri pada kami lantaran valentine ini tak ada gandengan. Semoga dia tetap tangguh dalam kejombloannya.

Ada notif suara burung. Twitter. Ah aku lupa mematikan notif suaranya.

Bagong Germanotta (@pokerface): RT @kecebonggenit Ada cewek mokat di mobil pas lagi pacaran di suropati @LilMon666 #BloodyValentine

Bagong? Dia kan adiknya Rahayu.

beritakilatdotcom (@beritakilat): 23.23 Seorang gadis remaja tewas di mobil dengan leher memerah. Sementara pacarnya masih syok belum bisa diajak bicara (cont...)

Aku terusik oleh rentetan linimasa di jejaring sosial itu. Berita kilat yang lumayan mencekat.

Nana Pasaribu (@nanaalem): Mank betul y di kaca mobil korban di tamsur itu ada tulisan 'aku ingin pergi tak mau menginjak bumi’. Hii siapa yg nulis? #BloodyValentine.

Rasa penasaran membuatku membuka tiap link berita yang disebar. Menelisik ke situs berita tersebut, sayang infonya masih kerdil. Mungkin esok mulai melebar.

Tiba-tiba tirai jendela melambai di pojok keremangan yang panjang. Mataku terbelalak mulutku mangap. Ada sosok yang
berdiri di luar jendela. Mewujudkan siluet bayangan dan meremas hatiku. Malingkah itu? Ah
tidak! Mungkin itu setan.

“Wo yao qu, wo bu yao zai di chu. (我要去 我不要
在地处)." [aku ingin pergi tak mau menginjak bumi].

Hantu itu berbisik dalam bahasa Mandarin.

“Tom! Bangunlah!” Kuguncang tubuhnya yang bugil berbalut selimut.
“Kenapa?”
“Ada setan!” Napasku memburu. Kalimatku menyeru.
“Kita di mana?” Dia menyelidik ke berbagai sisi.
Kesadarannya terbangun paripurna. “Sepertinya di
hutan….”

Baru kusadari kami berpindah ruang ke hutan bersama tempat tidur besi. Tempat yang dipagari pepohonan jangkung yang menjulang menyundul bintang. Tom bergegas mengenakan setelan piyamanya. Lalu dia mendekapku dengan damai, walau tetap saja panik mukanya.

“Apakah kita bermimpi?” bisikku.
“Aku baru bangun dari mimpi dikejar sapi. Apa aku mengalami mimpi lapis kedua kayak The Inception ?”
“Kenapa kita malah berdiskusi!” Kuomeli dia atas keengganan mencari jalan keluar tetapi cuma bisa memelukku.

Suara langkah menuju posisi kami. Perlahan.

“Tom, ada yang mendekat," desahku lemas.
“Itu Jeepers Creepes.”
“Kamu pikir leluconmu itu lucu!” Teriakanku menggema, berayun-ayun dengan liukan dahan pohon yang disembur angin. Kucubit putingnya sampai dia meringis.

“Mana hapemu. Aku mau menelpon Mas Luki.” Tom menyebut nama paranormal kenalannya.
“Apa ada sinyal?”

Mengatupkan kelopak mata adalah cara paling
jitu mengenyahkan rasa takut dari suasana mengerikan. Dengkingan anjing hutan bersahutan mengurung gelap. Koor aneka serangga menggenapi aroma liar. Roma-roma di
badanku berdiri ditegakkan angin malam. Sementara Tom belum berhasil menghubungi sang dukun itu.

Tak tuk tak tuk… Suara langkah kuda sepertinya. Ya tepat sekali. Juga ada ringkik kuda yang memantul ke tiang-tiang kayu. Siapa juga tengah malam berkuda di hutan. Apa pangeran istana yang dikejar Angling Dharma? Atau mungkin kuda siluman yang ditunggangi jin gondrong?

“Tom, suara langkah kuda.”
“Abaikan saja. Sepuluh menit lagi kita akan dikembalikan ke rumah.” Syukurlah, Tom sukses minta tolong pada dukun itu. Tapi….
“Sepuluh menit? Kuda itu keburu menginjak-injak badan kita!” Protesku rewel.
“Paling si penunggang akan merampas harta kita. Berikan saja kalung berlianmu itu.”

Aku cemberut. Pelan-pelan rasa takutku memudar karena celetukan-celetukan Tom yang menjengkelkan akan tetapi terasa menghibur.

Suara itu membesar. Sesuai Efek Doppler itu berarti kuda dan penunggangnya telah memangkas pita jarak mendekati kami. Ya Bapa di surga, kirimkanlah malaikat penyelamat dari langit.

“Awas, Tom!” Tom tiarap. Merengkuhku sambil menarik kemul menutupi seluruh tubuh kami yang menggigil. Kuda itu seperti menerjang, melompati kasur kami bak sirkus di pasar malam. Sialnya mereka berhenti dengan ringkikan kuda yang melentur laksana guntur. Kudengar dia hengkang dari pelana, langsung menjejak bumi tanpa meniti sanggurdi.

Ketukan kaki manusia atau iblis? Aku membayangkan sebilah keris menghunus ke arahku. Tom, bangkitlah sebagai pria sejati. Lindungilah wanitamu ini. Dia, penunggang itu, duduk di sebelahku, menggumam geram.

“Tom!” Aku kaget, bokongku disentuh oleh makhluk itu. Meremas dengan binalnya. Kurang ajar sekali dia. Belum pernah seumur hidup aku dilecehkan. Kini pantatku diremas bagaikan adonan donat. Aku ingin bangun dan menjotos
muka setan brengsek itu. Tapi aku takut…. Janganlah takut,
Stefani. Ayo sang wonder woman, bangkitlah!

“Kurang ajar kau!" pekikku ratusan desibal.

Loh? Kosong. Tiada penunggang. Tak ada kuda. Tak ada hutan. Ini kamar tidurku. Ah… aku akhirnya
kembali ke ruangan yang hangat dan sentosa. Puji Tuhan.

“Tom, kita sudah berganti tempat.”
“Tadi seru banget. Kayak nonton film horor 4 dimensi.”
“Kamu diam saja pantat istrimu dilecehkan dedemit itu.” Aku komplain.

**

Petang ini aku ada janji kongkow di mal bersama Rahayu. Sekadar menyeruput kopi hitam dan menonton bioskop. Meski
aktivitas ini hanya seminggu dua kali namun ampuh menetralisir kesumpekanku lantaran menjadi istri rumahan.

Biarlah Tom tak mendapati coklat fondue di meja makan. Aku lagi kesal dengan si muka Wuu Chun itu.

“Hai, Ayu, sudah panas bokongmu?” Aku memasan secangkir kopi toraja agar kompak dengan dia.
“Banget ha ha ha….” Behelnya tersibak manakala dia terbahak.

Setelah cas cis cus dan bla bli blu hampir setengah jam, tajuk obrolan kami berpindah ke kasus kematian super aneh yang berlangsung kemarin malam di Taman Suropati.

“Oh ya?” Aku terperanjat.
“Iya. Si cewek yang namanya Marisa itu berselingkuh. Yaa selingkuh model ABG gitu. Cowok yang di sampingnya masih bengong sampai sekarang. Dari hasil visum, leher Marisa
seakan-akan dililit tali bukan cekikan tangan manusia. How peculiar!”

Rahayu begitu lancar membeberkan berita yang tengah hangat di masyarakat.
"Satu lagi cin. Kaca mobilnya ada kalimat ‘aku ingin pergi tak
mau menginjak bumi’. Omaigot! Apa itu?”

Deg. Katup jantungku tertutup mendadak. Sesak sekali dadaku mendengar kalimat itu. Kalimat itu aku dengar dari hantu di luar jendela sebelum aku dan Tom bertamasya ke rimba berantah.
Kejanggalan bermula dari serbuk gula yang bagai ditiup, darah amis dari kening Tom, hantu di luar jendela, hingga perpindahan dimensi ruang yang terjadi dalam setengah detik.

Semua itu berjalan di antara kami. Sebuah valentine horor. Aku melihat labirin buntu antara valentine horor di rumah dengan valentine berdarah di taman itu. Kalimat misterius itulah yang membuntukannya sekaligus menghubungkannya.

Aku harus membongkar misteri ini. Kudesak Tom agar dia mau membantuku.

“Halo, Tom, masih di kantor?”
“Iya, aku sebentar lagi pulang kok.” Suaranya tetap saja bikin kangen.
“Kamu mau aku buatkan coklat fondue?”

Interval 1

Napas suamiku tersengal seperti habis lari sprint. Kuambil tas tentengnya. Aroma parfum kayunya sudah memudar dihajar
keringat. Kusuguhkan sekaleng minuman elektrolit.

“Kamu dikejar sapi?”
“Sejak kapan lantai dua beranak tangga seribu?”
Pertanyaannya masih mentah.
"Maksudnya?” Dia tak langsung menyahut. Peluh di mukanya diseka. Wajahnya tampak serius di balik kemudaannya. Usianya memang 4 tahun lebih muda dariku. Namun kariernya seperti 40 tahun lebih tua dariku.
“Sudahlah.” Dia pasrah. Melepas sepatu dan
kemejanya. Kurapikan. Barangkali dia lelah dan
penat.
“Stefani….” Telapak tanganku diremas, guratnya
cemas.
“Iya, sayang.”
“Seperti ada kekuatan hitam yang mengganggu
kita,” ucapnya serius.
“Jelaskan dulu apa maksud seribu anak tangga?”

Tom mengembuskan napas melunturkan keganjilan yang baru dia alami.

“Aku merasa jauh menaiki tangga dan terlihat tinggi sekali.”

Aku menjawab dengan bahasa diam, bahasa mengerti. Ada lagi pengalaman supranatural di antara kami sedangkan lampion-lampion misteri belum sanggup aku nyalakan.

“Kamu sudah tanya Mas Luki tentang tempo
hari?”
“Belum sempat.” Dia berdiri.
“Lalu kalimat itu?” tuntutku tak sabar.
“Apalagi itu. Aku sibuk.”
“Apa? Sibuk?” Aku menggertak.
“Iya sibuk, duitnya juga buat kamu. Enggak kayak
kamu, bisa jalan-jalan di mall.”

Cibirannya memenggal batang leherku. “Enak saja kamu, Tom! Kamu menyuruhku berhenti mengajar agar fokus menjadi istri rumahan yang melayani suami, mencucikan celana dalammu,
mengambilkanmu ini-itu. Aku kuliah capek toh akhirnya aku cuma di rumah melayani suami kolokan macam kamu. Nggak heran karena kamu anak lelaki satu-satunya yang dimanja!”

Kudengar petir di depan mukaku. Ah!

Aku membisu. Ini kali pertama Tom menampar pipiku. Tangannya panas sekali. Aku menangis sebagai wanita. Amat menyakitkan bila hidup harus dipilih, bukan memilih.

Dia berjongkok. Bersimpuh di sisiku. Tangannya yang kasar dilingkarkan di pinggangku. Kepalanya dibenamkan ke perutku.

“Fani, maafkan aku ya.” Penyesalan terucap dari
bibirnya. “Aku berjanji takkan memukulmu lagi.
Juga akan berusaha menyibak kalimat itu. Aku
rencana minta tolong pada rekan kerja dan
teman-temanku. Mungkin kamu bisa minta
bantuan pada murid-muridmu tempat kamu dulu
mengajar. Biasanya anak SMA lebih kreatif dan
rasa ingin tahunya berapi-api.”

**

Malam-malam terasa memanjang; nyenyak di pangkuan kelam. Siang-siang begitu ringkas, datang terlambat tanpa maaf. Bulan maduku bersama suami mengembun beku di ujung daun guyuran hujan.

Pembuntu labirin itu sedikit mendapat lubang jalan. Nasihat Tom usai aksi KDRT tiga hari lalu ada benarnya. Salah satu muridku berhasil meretakkan kaca buram yang menghalangi
maksud kalimat itu. Malam ini kami mengundang dia makan malam di restoran Jepang.

“Ternyata kamu suka sekali ya dengan ramen.” Aku sedikit terkekeh pada Galung. Senyumannya menyimpul.
"Sejak nonton film Ramen, Bu. Andai saja ramen
ini dibuat oleh Britany Murphy, wuihh saya rela
bayar sejuta ha ha ha….”
“Betul. Bahkan tempe goreng buatan Katy Perry
tuh lebih lezat daripada rendang bikinan Zhang
Ziyi.” Tom buka guyonan. Menyindir. Kutendang
betisnya.
“Aduuhh… kakiku ditendang arwah Marisa ha ha
ha.” Ya ampun, Tom memang memalukan.
“Kak Tom.”
“Iya.”
“Hmm, saya mendengar tawa perempuan berbarengan dengan tawa Kakak.”

Galung heran. Begitupun kami berdua. Semua sendok
diturunkan. Semua alis dinaikkan.

“Sudah tak ada wanita di resto ini, kecuali mantan guru fisika-mu yang cantik ini. Eh nggak ada istilah mantan ya buat guru?” Tom menekan hidungku. Menampik Galung.
“Iya, mungkin sekadar halusinasi.”
“Okay, langsung saja. Kenapa kamu berkesimpulan kalau kalimat ‘aku ingin pergi tak mau menginjak bumi’ ialah orang yang bunuh diri? Krek!” Tom memeragakan gerakan tangan
seperti menghabisi nyawa dengan menyembelih.
“Begini, Kak. Semua orang yang pergi pasti menginjak bumi, sekalipun naik pesawat insya Allah akan turun ke bumi. Ya kecuali astronot. Tapi suatu hari sang astronot yang bertugas di
luar bumi insya Allah akan kembali ke observatorium di bumi. Dan sepenggal kalimat 'tak mau menginjak bumi’ seperti pergi
selamanya.”

Galung amat brilian. Angkat topi untuknya.
“Why not?” Sanggahan Tom bikin pahit suasana.
“Tapi, Kak, kita sedang membahas hal gaib, bukan ilmiah. Yang menyampaikan pesan ini yaitu jin, bukan Yuri Gagarin.” Galung berkelit.
“Kalau begitu, model bunuh dirinya apa dengan gantung diri?” cetusku.
“Nah, Bu Fani benar! Gantung diri termasuk nggak menginjak bumi. Kalimatnya memang bercabang.”
“Lalu siapa yang bunuh diri pakai tali jemuran?”
Ah, Tom, kau masih saja bergurau.
**

Aku terhisap lubang waktu dengan putaran yang kencang. Sekencang mulut Galung. Pikiranku terhuyung ke suatu masa.
Ketika kali pertama Tom muncul, aku yakin dia masih mencium harum kembang kuburan yang menyeruak dari tetes terakhir air mataku. Dia adalah macam pemuda yang tak mau banyak
tahu. Kusembunyikan lembaran itu di hati terdalam.

Apa lacur. Makhluk bernama kenangan bangkit dari peti mati. Andrew, masa laluku, kini sudah turun dari tali api yang
menebas batang lehernya.

“Fani-ku sayang, aku dipecat.”

Karena itu kah kamu gagal meminangku.

“Fani, aku tak punya uang untuk membelikanmu kado valentine.”

Kamu ingin selalu menjadi pahlawan di depanku.

Kemudian aku cuma diam tersedu tatkala kau menuduhku selingkuh. Memang kamu benar. Bukankah kamu sudah mengaku kalah. Tak ada lagi wibawa yang menahanku agar tetap di sisimu.

Lalu kamu menjambak rambutku. Pria kedua itu kamu tonjok hingga mimisan. Setelah itu aku hanya melihat seekor anak iblis terbang dari bumi.

“Andrew, kamu marah padaku?” Aku bergumam.
“Kak Fani, Kak Andrew telah tiada.”

Ucapan dari adikmu hampir membuatku semaput.
Selama tiga hari namamu aku doakan ke langit
dari altar suci tempat sembilan malaikat memuji.

Tom berwajah masam geram. Sedikit dongkol mengetahui narasi besar masa laluku. Dosa masa lalu.

“Ada yang membuntuti kita sejak dari resto.” Spion tengah diselidik. Kami menyingkir ke warung kecil.
“Bermobil?”
“Bukan. Berjalan kaki.” Lagi-lagi banyolan. Di jalan belakang lengang. Bercahaya LED jingga yang terang. Manusia macam apa yang bertenaga kuda. Dan ternyata….

“Tom.” Dia mendekat bersama sebotol air mineral.
“Kamu lihat kan? Siapa dia?”
“Itu Andrew….” Bisikku gemetar, gentar.

Tom dengan tergesa memutar ban. Suhu dalam kabin turun meski hujan belum mendarat. Uap keluar dari mulut Tom. Kugesekkan jari-jariku biar hangat.

“Sekencang apa mobil ini, dia bisa mengejar kita
walau terlihat bagai orang berjalan santai.” Tom menggerutu. Bersungut.

Arwah Andrew mengejar mobil kami. Wajahnya dingin. Buluku bergidik. Tom bergaya bak pereli yang berambisi naik podium. Sukses. Hantu tersebut kehabisan tenaga untuk membuntuti
kami.

“Bagaimana? Mau melawan Latvala, ha ha ha….”

Guntur memanggil hujan. Temperatur yang berubah prematur, kini menghangat. Kaca samping mengembun. Di sinilah keajaiban bermula. Terukir di samping bahwa “aku ada di
belakang”. Ya Tuhan, apakah dia yang mencekik
Marisa?

“Dia sudah mendekat, Tom.”
“Sinting tuh!” Sedan berbelok cepat. Tergelincir namun terkontrol. Berpacu di aspal licin.
“Kampret!” Palang di perlintasan kereta diturunkan. Kereta listrik berlari sekuat predator.
“Kereta anjing! Panjangnyaaa.” Dari tadi Tom mengumpat. Rangkaian KRL yang memotong perjalanan kami tak kunjung habis. Bilangan gerbongnya seolah ribuan. Tidak mungkin.

“Dia sudah duduk di jok belakang.” Aku berbisik. Ya itu Andrew yang telah duduk. Jas hitamnya tampak gres. Seperti jas yang ia kenakan saat terlelap dalam peti mati. Bahkan Tom lebih
pengecut dariku. Tak pernah dia melirik ke spion.

“Ini kereta iblis! Kita tabrak aja!” Bentakannya menghilangkan bayangan Andrew di kaca. Dia menghilang.
“Mobil kita bisa terseret, Tom,” cegahku.
“Kereta ini hanya ilusi. Fatamorgana. Permainan visual setan!”

Teriakanku menggelegar. Kaca samping diketuk olehnya. Bukan. Bukan Andrew. Bukan Andrew yang mengetuk. Bukan Andrew yang mengetuk kaca samping. Penjaga perlintasan yang melakukannya.

“Neng, ayo jalan. Kan keretanya sudah lewat dari
tadi.”
Aku membuang napas.

**

Semerbak bau kopi arabika yang kumasak bertebaran di meja ruang tamu. Aku menjamu Mas Luki. Tergoda oleh wanginya, dia menghirup kepul-kepul dari cangkir, kemudian lidahnya
mengisap barang sekelumit. Tampilan dia klimis. Muda dan enerjik. Tiada satu pun aksesoris yang melambangkan bahwa dia seorang ahli paranormal. Dia lebih mirip presenter olahraga.

Ini untuk kali perdana dia bertamu ke rumah. Saya ingin tahu rumah Mas Tommy, dia bilang begitu. Ini pun istimewa karena tak biasanya dia menyambangi kliennya. Naga-naganya, pundi-
pundi Tom harus rela mengempis. Tarif VIP.

“Mas Tommy biasa pulang jam berapa?” Dia mendahulukan perbincangan.
“Akibat macet, ya sekitar jam 7 sampai jam 8, Mas.”

Gelasnya diletakkan di tatakan. Kroket hangat yang terhidang ia cicipi dengan sukacita. Gerak-geriknya teratur. Tiap zat yang masuk ke lambungnya diawali dengan komat-kamit atau
berdoa.

“Mas Luki, apa benar roh Andrew yang membunuh Marisa?” Bibirnya yang berminyak diseka tisu.
“Hmm… terus siapa yang membunuh Andrew?”

Aku tak sanggup menjawab. Itu sindiran.

“Lantas apa kaitannya antara kematian Marisa, lompatan ruang ke hutan, dan kalimat misterius itu, Mas?” Rasa penasaran melontarkan setumpuk pertanyaan.

“Ada pesan yang ingin disampaikan. Dia punya unfinished business denganmu.” Telunjuknya mengarah ke mukaku. Ia tersenyum dua lapis; menyejukkan dan mencemaskan.
“Jangan takut. Dia hanya jin yang menyerap memori dan energi Andrew sewaktu masih hidup. Untuk melatih keberanian spiritual, bagaimana jika kamu yang menghadapinya?” Mas Luki
menyodorkan opsi yang lumayan frontal.
“Menghadapinya? Nggak.”

Rambutku dibelai. Dipetik. Rautnya serius. Sehelainya direntangkan dengan kedua pasang jarinya. Ditekankan ke bibir cangkir. Terbelah sempurna. Rambut itu seperti sembilu mengiris tahu. Aku terpana.

“Rambutmu saja punya kekuatan. Masa
jantungmu tidak.”
“Tapi, Mas….” Aku keberatan. Takut.
“Saya akan menjagamu dari belakang.”
**

Aku dan Tom berbagi tugas. Tom bernegosiasi dengan adiknya Andrew, Jonathan, supaya aku bisa masuk; menyelundup ke kamar tidurnya tanpa harus mengetuk pintu mengucap salam pada nyonya besar pemilik rumah. Wanita tua itu sungguh membenciku. Kebencian akut.

Segala sesaji kupersiapkan; kemenyan, dupa, dan
bunga tujuh rupa. Klenik. Makanan makhluk gaib.
Pancingan. Undangan. Oh… mengerikan.

“Tom, xian zai wo zhen de hen pa. (现在我真的很
怕) [Tom, aku benar-benar takut akan semua ini]” Aku merengek padanya. Dia mengantarku.
“Ni fang sin, wo gen ni yi qi. (你放心, 我跟你一起)
[Tak apa, aku di sampingmu].

Keluar dari mobil angin dingin menampar kulitku. Kegelapan memeluk. Lamat-lamat terdengar rintih punguk. Terlihat seekor cerpelai merangkak di atap rumah. Aku menoleh ke Tom.

Jonathan melambaikan aba-aba dari jendela. Komandonya
kuturuti. Lewat pintu alternatif.
“Jo, terima kasih ya.”
“Nggak papa, kok.” Parasnya mirip Andrew. Suaranya teduh. Ramah.

Daun pintu kutekuk. Berderit. Engselnya kurang pelumas. Lampu benderang di kamarnya. Jo pamit meninggalkanku. Apakah Andrew masih sering menangis di ruangan ini seperti yang ibunya katakan?

Terang lampu kupadamkan. Terbakarlah dupa dan kemenyan. Di pinggir gelisahku membumbung aroma kembang tujuh rupa. Gelap kian genap. Aku duduk bersandar di ranjang. Setengah jam telah lewat. Suhu ruangan naik. Seperti ada pergerakan. Halus. Meringkus keberanian.

Pesan apa yang hendak disampaikan jin itu? Perihal apa? Urusan apa yang belum selesai antara aku dan Andrew? Kesepiankah dia di sana? Mungkinkah nyawaku akan ditarik untuk menemaninya bercanda di taman firdaus?

Pelbagai tanda tanya kusebarkan di kepala sebagai strategi pengusir rasa ngeri.

Lalu…. Ada lenguhan napas panjang. Apakah jin bernapas? Bagaimanapun itu, dia benar-benar nongol ke arahku. Aku memejamkan mata.

“Stefani.” Dia memanggil. Aku meriang. Kulitku serasa
menebal. Napasku menjadi berat. Menghadapi makhluk gaib adalah hal paling konyol. Jangankan muka ke muka, mendengar cekikikannya saja bikin aku lari pontang-panting.

Tetapi… misi ini akan amburadul apabila aku mundur; menutup mata. Dengan doa-doa yang kuucapkan pelan–tentu tidak khusyuk–kuberanikan membuka penglihatan. Meledakkan
cangkang-cangkang fobia yang memenjara.

Tidak ada. Hilang. Tak ada apa-apa. Hening. Ya Tuhan! Dia duduk di sampingku. Di tepi kasur, membelakangiku. Berjas. Astaga… bagaimana struktur mukanya kalau dia menoleh.
“Andrew….” Ah, tak kuduga, aku berani juga memanggilnya balik, walau keringat sudah kuyup.

Dia menengok. Menatapku. Tak ada darah khas hantu di film. Pucat membiru. Cembung matanya tampak cekung menampung bahasa nan sinis. Tenagaku terkuras saat duduk
berdampingan dengan makhluk ini. Dunia kami yang berbeda serasa berat bertemu pada frekuensi yang sama–disamakan.

“Aku menyayangimu. Jangan tinggalkan aku.” Dia berbicara lagi. Suaranya timbul mengambang antara gelap dan terang. Aku paham suara hati Andrew. Air mataku meleleh membasahi isak penyesalan.
“Maafkan aku, sayang.” Aku sesenggukan melisankan permohonan itu. Untukmu Andrew. Untuk kekasihku yang tak kuat bertahan tanpaku.

Sesaat sebelum sosok itu raib dariku, ia mengujarkan pesan. Laci. Ya, dia menyebut kata itu dalam kepalaku. Aku bergegas menuju laci susun empat di samping rak sepatu. Inspeksiku berhasil. Sekotak tempat perhiasan kalung dari beludru merah.
Ternyata ini. Aku mengusapnya. "Kado untuk Stefani”, itulah tulisan yang tertera di kotak. Tergores mungil dari spidol biru.

Aku terharu biru ketika tahu Andrew akan menghadiahi kado ini sebelum jiwanya pergi.
Namun barang ini gagal terberi dari tangan
pangeran Andrew ke tangan putri Stefani. Dongeng sekali.

Saat kubuka ternyata… kosong. Di mana seuntai kalung itu?

Interval 2

Andrew memanjat pohon berbatang nila. Ia berusaha meraih sekuntum bunga paling indah dan besar yang bermahkota di pucuk pohon. Berhasil. Serta-merta….

“Andrew!” Ia terjungkal. Telentang di hamparan butir-butir emas. Kudekati. Lantas ia tersenyum waktu mengangsurkan ratu bunga padaku.
“Harum sekali kembang ini,” ulasku. Terpejam.
Belum pernah sebelumnya wewangian ini
terhirup. Baik puspa dari bumi tropis maupun
puspa dari bumi empat musim.

Ia telah berlari menjauhiku ke kerumunan pemuda yang
meniup serunai berlanggam tradisi syahdu.

“Andrew sayang, kamu hendak ke mana?”
Pengejaranku terhalang dinding halimun tebal.
Aku di pinggir sungai susu.

"Ya sayang, aku di sini.” Jubah putihnya berkibar.
Kemah miliknya tampak agung dan kemilau. Dia kususul. Kupeluk erat. Melekat.
“Kamu jangan tinggalkan aku.” Pintaku manja. Keningku dikecup. Mendamaikan.
“Yang mulia, maaf, hidangannya sudah datang.”

Dari luar kemah, seorang pelayan memohon izin masuk.

“Silahkan,” sahutnya, duduk di tempat tidur yang
pinggirannya bertabur manikam aneka warna. Pelayan masuk membawa dua nampan perak. Satu nampan berisi dua gelas kaki dan seteko anggur. Satu nampan lainnya tergolek burung
bakar. Menteganya melumer ke dasar.

Si pelayan mohon undur. Rambutnya berkilau dan harum. Seperti disemir dengan pomade. Di pinggangnya, terpasang sebilah keris.
“Ya habibah, mari kita nikmati hidangan lezat
ini.” Aku agak geli saat dia memanggilku habibah. Andrew mempersilakan, menarik kursi untukku. Kami berhadapan di antara meja pualam. Aih… getarannya bikin perutku mulas.

Kubalikkan piring perak. Ia menyobek seiris daging untukku. Kupetik sebutir anggur dalam keranjang. Kusorongkan ke mulutnya. Dia mengunyah seraya
tersenyum. Hidungku dicubit.

Ada yang masuk. Pedangnya mengacung. “Hai Stefani!!!” Dia berteriak keras sekali. Lelaki itu. Dia bertoga merah kental. Tommy. Kemunculannya mengejutkan kami.
“Kakanda Tom.” Aku menyahut. Kepergok.

Klang! Andrew mencabut pedangnya dari sarung. Matanya waspada. Akan ada pertarungan sepasang pendekar memperebutkanku.

“Kakanda Tom, jangan.” Supaya ia mundur, aku
maju menahannya. Pedangnya menghalau. Aku berhenti.
“Gadis pengkhianat!” tukasnya sengit. Dia tunanganku. Dijodohkan. Aku tak mencintainya.

Kemudian mereka beradu pedang. Mencabik angin. Membelah kain. Memeras darah. Menumbuk amarah.

“Hentikan!” Kutahan dia. Tubuhku dicampakkan. Aku keluar mencari pertolongan. Sepi. Hanya seekor kuda merah legam kepunyaan Tom. Tiada harapan.

“Aaaarrrhhh…!!!” Teriakan pilu. Andrew.
“Kamu jahat!!!” Aku menuju Andrew yang sekarat. Akan tetapi pendekar bejat menarikku kasar.

**

Apa yang baru terjadi? Bunyi dengkuran. Khas suamiku. Aku
berbalik. Astaga, cuma kembang tidur. Latar lokasinya… di Shangri-la? Ya, Shangri-la di Provinsi Yunan di China selatan. Ah, jauh. Surganya lebih mirip penggambaran dalam Alkitab.

Melancong ke negeri mimpi cukup menguras energi. Ujungnya perut lapar jika terjaga pada dua pertiga malam. Kuturuni anak tangga. Kuselidik lukisan naturalisme dari cat akrilik yang terpajang di dekat sofa sebab ada yang berubah. Obyeknya.
Gadis cilik bercheongsam merah kerah tinggi itu menghilang!

Barang itu dibeli Tom saat perayaan Tahun Baru Imlek di pameran seni rupa peranakan tahun lalu. Kini gambarnya tersisa sungai, pohon bambu, dan sebongkah batu tempat gadis
itu duduk.

Kendati lapar, selera makanku padam. Berusaha berani. Abaikan saja. Kuputar kenop kompor. Mi instan kuaduk.
Perhatianku tersita. Ada yang tampak berlari. Kuintai dari meja dapur. Bocah. Obyek ukisan itukah? Aku amati. Dia berlari-lari di ruang tamu, ruang televisi, sekitar tangga.

Siapakah gerangan? Makhluk fantasi? Anak hantu? Dia menjauhi tangga. Aku mengibrit ke lantai atas. Kutengok dia. Matanya bersinar.

“Kakak!” Oh Kristus, dia memanggilku.

Pintu kamar kutubruk. Tom terbangun.
“Kakak.” Nyatanya pintu lupa kututup. Ia melongok dan memanggil lagi.
“Kamu siapa?” Tom mengucek mata.
“Aku mau pulang.” Tom menengok ke arahku. Jidatnya lecek memerhatikan gadis sipit itu. Ia bertanya padaku lewat tatapan.

Ia menghampiri gadis itu dengan gurat waswas. Usai mencapai tiga langkah ia berlutut. Menyamai tinggi makhluk ajaib itu.
“Kamu mau main di sungai?”
“Aku mau pulang.” Jawabannya kerap diulang.

Kedua lengan Tom akan menyentuhnya. Hendak digendong. Ia berani menghadapi hantu. Yang jelas itu hantu. Kepalanya menyeruduk muka Tom. Tom mengerang. Kemudian gadis hantu itu berpendar menjadi cahaya merah. Naik. Terbang. Hinggap di lukisan tempat dia bermuasal. Sungguh aneh namun
mengagumkan.

“Tom, kamu gak papa?”
“Gusiku berdarah nih.”

**

Telah tergenggam jawaban atas hilangnya “Kado untuk Stefani”. Adik Andrew membongkar satu demi satu nama orang yang masuk ke kamarnya. Jo telah lancang, membiarkan teman-temannya masuk ke kamar Andrew. Sehingga mengakibatkan seuntai harta raib tanpa buronan.

“Seingatku Mukhlis, Aditya, Riza, dan Marisa.” Ia jawab begitu saat kutanya kemarin.
“Marisa?”
“Yup, almarhumah Marisa yang meninggal valentine lalu.”
“Apa hubungan dia denganmu?”
“Teman semasa SMP.”

Tentu aku curiga pada mereka berempat. Kecuali Marisa, mereka berjanji menemuiku di sebuah kafe. Sebenarnya kecurigaanku lebih condong pada Marisa. Perempuan satu-satunya. Perempuan lazimnya menggilai perhiasan. Terus
apa motif dibalik pencurian tersebut? Sekadar suka? Ekonomi? Atau ia punya klepotomoni?

Di tangan siapa benda berharga itu sekarang? Kuduga disita dokter forensik yang mengotopsi mayat Marisa. Bukankah proses otopsi sudah selesai sehingga jenazah beserta benda-benda yang tersandang telah dikembalikan ke pihak
keluarga korban. Apa musabab kematiannya? Apa hasil VeR ( Visum et Repertum) yang diterima penyidik atas kasus kematian super aneh pada valentine lalu? Dicekik setan? Hmm….

Aku pun teringat dengan obrolan dengan Rahayu di mal tanggal 15 Februari–sehari setelah kasus kematiannya. Dia bilang hasil visum menunjukkkan bahwa Marisa tidak dicekik cowok
dalam mobil, melainkan bagaikan dililit tali–entah tali apa dan dari mana– hingga lehernya memerah. Itu janggal. Setergesa itukah dokter menjabarkan hasil otopsi? Lagi pula setahuku
dokter forensik tak memiliki wewenang menyiarkan VeR pada media massa ataupun umum. Itu melanggar sumpah jabatannya. Pihak kepolisiankah? Aku sangka itu rumor yang
tertampung di media sosial.

“Astagfirullahal azhiim, saya enggak mungkin nyolong, Mbak. Duit jajan saya lebih dari cukup.” Mukhlis menjawab setelah kutuduh dengan halus.
“Apalagi gue, eh, aku.” Aditya duduk di sebelahku. Tubuh sintalnya berbau keringat puber, cologne spirtus, dan sengatan matahari.
“Tentu bukan saya, ya Mbak. Barangkali Marisa. Bukan bermaksud su’uzon nih.”

Aku sependapat dengan Riza. Dia yaitu calon tersangka. Siapa
lagi. Ketiga remaja ini tak punya pendapat yang mungkin meyakinkan.

Cuaca siang ini cerah. Lengkung langit diselimuti awan sirostratus yang menimbulkan efek lingkaran halo di sekitar matahari. Lingkaran biru dibagian luarnya. Lingkaran merah di bagian dalamnya. Aku memicingkan mata.

**

“Kamu baru pulang?” Aku curiga. Pukul 21 lewat sekian.
“Sebagai financial planner ganteng dan profesional, aku wajib menepati janji sang klien.” Gombal. Dia mencari sesuatu di kulkas. Bir kaleng. Minuman itu kurang cocok mendampingi tempe goreng tepung yang tengah kumasak.

“Wuidih, Katy Perry goreng tempe sambil nyanyi The One That Got Away, ha ha ha ha….” Leluconnya kuabaikan.
“Aku berencana ke rumah Marisa dan
menanyakan kalung itu pada orangtuanya.”
“Dan mereka akan menganggap kamu adalah cici
penjual emas.”
“Ah aku capek ngomong sama kamu!”

Dia merangkul dari belakang. Membisikkan kalimat, “Aku sudah tidak tahan.” Bibirnya hangat beraroma alkohol.
"Genit ya...."

“Kakak!”
“Eh Mei Mei, mau buat gusiku berdarah lagi?”
Hantu cilik itu berlari mengitari ruang tamu, ruang televisi, ke
taman kecil. Makan malam terpaksa tertunda.

Dalam kegelapan ruang televisi, ada penampakan seorang pria yang merokok. Bara apinya terlihat. Tak ada lagi lelaki di rumah ini kecuali Tom.

“Tom, banyak hantu di rumah kita.” Ia mengangguk.
“Aku lapar banget. Makan aja yuk. Kalau mereka ke sini, ya kita tawari saja tempe, he he he.” Hah!

Jeritan membahana. Hantu cilik jatuh berguling-guling di
tangga lalu tersungkur ke lantai keramik tak berkarper. Tom berlari. Derapnya berhenti saat sosok perokok itu bangkit, berjalan ke arah korban. Tak salah lagi itu wujud Andrew.

Kupeluk Tom.  Andrew melempar rokoknya. Mengusap darah di dahi gadis mungil itu. Membopongnya ke lantai atas. Ada
apa ini? Kami diteror komplotan hantu.

Tom memungut sepuntung rokok yang terlempar.
“Dji Sam Soe,” katanya keheranan.
“Rokoknya Andrew.” Kututup mulutku.

Sesudah 15 menit, kutatap lekat-lekat lukisan itu beberapa saat. Memar wajahnya. Secuil cairan merah menempel di keningnya. Aku tak sanggup lagi mencerna antara logika dan gaib.

Interval 3

Asma kronis. Penyakit menahun. Itulah jawabannya. Jawaban yang kalah semarak dibanding kicauan-kicauan sampah di Twitter. Rumor yang kurang memuaskan bagiku. Terlebih tentang rumor kematiannya akibat dicekik roh jahat dari
Andrew. Yang terakhir adalah rumor yang aku ciptakan sendiri hanya karena dia menyampaikan pesan yang sama antara aku dan Marisa. Wo yao qu, wo bu yao zai di chu [aku ingin pergi, tak mau menginjak bumi].

Lalu berkembang di benakku akhir-akhir ini penyebabnya yakni Marisa. Kusangka dia yang menghilangkan kalung milik Andrew
sehingga mati menyedihkan. Segalanya patah. Robek. Itulah faktanya ketika kubaca salinan berkas VeR ( Visum et
Repertum) yang diserahkan Ibunya Marisa. Anak itu ngeyel waktu dicegah keluar oleh Ibunya saat cuaca di luar dingin.

Kondisinya sedang memburuk. Bantahannya berakhir maut demi perayaan valentine yang menyesatkan pikirannya.

“Marisa nggak pakai perhiasan emas waktu itu. Paling aksesori gelang plastik yang dibeli di pasar malam.” Ibunya ramah. Ia tak curiga dengan pertanyaanku yang setengah menuduh putrinya.
Aku mengundurkan diri setelah suamiku habis mengunyah tiga donat yang tersuguh. Saat-saat serius dia masih sempat menikmati lezatnya makanan.

“Kamu malah makan.” Protesku di mobil.
“Donat seribuan lebih enak dari Jeko.” Sebutir meises menempel di bibirnya.
“Nggak menghormati orang susah.”
“Lho? Dikasih makanan di meja ya harus dimakan dong. Kalau nggak namanya nggak menghormati."

TIN!

Ada sedan hendak masuk ke garasi saat kami tengah berusaha keluar. Anak muda. Kayaknya itu cowok yang menyaksikan kematiam Marisa. Aku menahan tangan Tom di stir.

“Lihat nopolnya. 9342. Kombinasi angka pada
rokok Dji Sam Soe yang dibakar setan kemarin
malam.”
"Ah lebay lu kayak detektif aja. Rokoknya juga hilang Padahal sudah kusimpan di toples.”
“Nanti kita buntuti dia!” Aku sangat membara dan penasaran dengannya.

Di jalan aspal nan sepi, Tom berhasil menghadang dia dari depan. Tak pelak terjadi insiden tabrakan. Tidak parah.

“Ngehek lu!" Si pengemudi memaki kami.
“Kontol!” Mulut kotor Tom mulai.

Wah payah jika Tom begini. Rencanaku bisa kandas. Kuhampiri sang pemaki. Kusampaikan maaf untuknya dan kujabarkan maksud kami membuntuti. Dia melunak.

“Betul. Marisa menyerahkan kalung itu pada saya.” Semua jadi terang.
“Bersedia kalau saya beli kalung itu dua kali lipat?” godaku.
“Nggak. Itu kenangan terakhir saya dengannya. Priceless." Wah repot.
“Memang kenapa kepengin kalung ini? Di toko emas banyak.”

Kata-katanya keluar bersama kalung tersebut dari tas laptopnya. Pemuda yang ternyata bernama Fiyan itu segera membenamkan kalungnya.

“Karena dia cici penjual emas yang paham emas mana yang berkualitas premium.” Tom membelaku.
“Tetap saja. Takkan saya lepaskan.” Fiyan benar-
benar keras kepala.

**

Apakah wanita tak pernah mau bangkit dari masa lalu? Jika memang iya, wanita itu adalah aku. Kaki kananku telah berpijak di garis masa depan. Kaki kiriku masih terbelenggu rantai masa lalu. Aku masih mencintai Andrew. Terlalu cepat tamat untuk tak terselesaikan. Juga begitu cepat bersambung untuk diselesaikan. Tom, hanyalah pelarianku. Plester. Nafsu badaniyah belaka.

Aku tak sabar menunggu kepulangan Tom. Ia minta bantuan pada Mas Luki supaya rencananya berjalan halus. Tak mengerti
pertolongan jenis apa yang diberikan ahli supranatural berperawakan tinggi itu. Apa pun usahanya, itu lebih baik daripada kami menuduh Marisa sebagai pencuri lalu menunjuk
Fiyan si penghilang barang bukti atau justru penadah.

Kami hanya punya saksi anak-anak, di bawah 18, dan dia Jo. Kami tak tega menggiringnya ke pengadilan. Bukan nilai
ekonomi yang aku tuntut dari seuntai kalung itu,
melainkan nilai kenangan di tiap karatnya. Tapi itu lebay.
Harapanku, Tom kembali membawa apa yang aku cari. Andaikata tuntas dan selesai, aku yakin teror-teror gaib akan sirna. Takkan lagi ada jin Andrew, setan Mei Mei, kereta hantu,
dan apa saja yang selama ini terasa mendecakkan jantung.

“Kakak.” Panjang umur. Makhluk kecil yang bersangkutan bersuara. Aku mencoba mengendalikan rasa takut. Rasa
dalam diri sendiri. Harus ditaklukkan. Walau tetap waspada.

“Apa maumu?” tanyaku. Dia malah terisak. Hanya suara saja.

“Hai istriku yang jelek!” Panggilannya bikin aku lompat. Suamiku yang sipit. Ia memegang sesuatu. Keberhasilan.
“Ini, simpan baik-baik,” ucapnya riang. Aku
berjingkrak girang.
“Bagaimana kamu bisa meraihnya dari tangan
Fiyan?” Bikin penasaran sekali.
“Azimat bermahar 500 ribu dari Mas Luki, yaitu
gendam.” Ia memperlihatkan semacam batu kecil.

Hah, okultisme atau klenik.
“Gendam?”
“Mix antara pelet dan hipnosis, kurang lebih.”
“Sebuah kejahatan,” gumamku.
“Aelah, pencuri dilarang menyalip pencuri bro!”

Ia berlalu, tertawa puas, melepas bajunya. Kalung emas 10 gram 20 karat tanpa liontin. Tentu tak sebanding disejajarkan dengan kalung valentine dari Tom. Ini pengikat emosional
antara aku dan Andrew.

Bayangan Andrew meluntur terurai cahaya di penglihatanku. Mukanya tak biru pasi lagi. Senyum Mei Mei pun melengkung gagu. Air matanya jatuh terburai di sungai. Tak ada lagi terang di belakang bayangan. Tiada lagi gaduh di tengah keheningan.

**

Aku menghidupi kenangan
jelmaan aksara di marmer hitam
pada nisan di gunduk pusaramu
menabur kembang hidup
agar namamu hidup
bukankah kenangan akan hidup bila segalanya
mati, sayang…
namun butuh saksi hidup untuk mengenangnya,
cinta…
ingatkah engkau tatkala kita menerima hosti suci
dari tarbernakel?
hosti lapuk! keluhmu
selapuk cinta kita
nanar matanya menerawang pada diam
aku melipir ke malam
tersisa kelam

“Masak apa kau?” Tanyamu dari kantor. Tommy-ku sayang.
“Beef steak,” asal kujawab. Spontan engkau terpingkal. Nyaring. Ingin kecelupkan hapeku ke wajan. Aku tahu kamu sedang mengurangi lemak daging supaya program fitness-mu sukses. Ah, gombal kamu, Tom. Punya perut six pack adalah tahayul bagi orang sibuk macam kamu.

Obrolanku dengannya mengganggu aktivitas masakku. Malam ini akan ada menu yang tak terlalu berlemak. Tahu mapo, capcay, mi hijau, dimsum (dianxin) aku sajikan. Tapi bukan dim
sum fang zau (ceker ayam), cukup bakpao kacang hijau.

Penutupnya ialah gelato, bukan es krim yang berlemak. Sebagian kumasak dibantu bibi pembantu. Sisanya aku membeli di luar.

“Mama mia, amazing birthday
celebration !” Komentar Tom ketika baru pulang.
“Ulang tahun suami kolokan, he he he,” gurauku
“Biar kolokan tapi pahlawanmu.”

Dia naik ke kamar untuk mandi. Tak sampai setengah jam dia kembali.

“Selamat menikmati.” Kupersilakan semangkok mi hijau untuknya.
“Bu yao, wo chi bao le ,” [不要, 我吃饱了. Tidak, aku sudah kenyang] tolaknya sketika.
“Kenapa?”
“Buang dulu kalung itu.” Ia memerintahkan hal
yang tak ternyana. Hatiku tersayat.
“Memangnya kenapa?” Kusentuh kalung ini yang masih ada di leher.

Air mukanya marah. Ada apa? Kenapa tiba-tiba?

“Serahkan sini!” bentakannya sambil membelalak.

Aku buru-buru mematuhinya. Ia mencampakkan kalung
itu ke lantai. Keras sekali. Andai yang ia lempar berupa telur bercangkang keramik pasti remuk. Seremuk hatiku.

Tangisanku tak bersuara. Sungguh kejam. Merobek perasaan Andrew.

“Besok aku nggak mau melihat kalung itu di
lehermu. Deal ?”

**

“Hai Jeng, come in," ajak Rahayu ketika aku di depan pintu rumahnya. Aku dituntun me kamar tidurnya.
“Drink what? Tea, coffee, juice, hot chocolate;
which one?”
“Nggak usah.”
“Please, you need it .”

Mataku menjelajah kamarnya, terpaku pada foto pernikahannya. Wajahnya bahagia, juga suaminya dalam bingkai itu. Mereka berdua berpacaran
sejak SMA. Meski kerap putus-nyambung, kekuatan cintalah yang mengikat mereka dalam pernikahan. Ada sebentuk iri membuncah di dadaku.

Ia datang membawa nampan. Ada secangkir teh hijau dan kudapan roti vla tabur almond. Menggiurkan, namun tidak untuk kesempatan ini. Suasana jiwaku berantakan. Pikiranku lagi kacau.

Apalagi semalam Tom minggat dan belum juga pulang. Ia foya-foya merayakan ulang tahunya dengan kawan-kawannya.

“Ayu, kira-kira kenapa dia? Dia enggan menjelaskannya.”
“Kamu harus peka, Jeng, sebagai perempuan,” timpalnya singkat.
“Peka?” tegasku kurang paham. Kuminum sedikit teh hijau agar pikiran lebih rileks.
“Ember. Maksudku, kita sebagai perempuan harus peka dalam membaca perasaan lelaki. Mungkin aja Mas Tom tuh cemburu
karena kamu pakai kalung dari Andrew. Lelaki mana sih, Jeng, yang gak jealous. ” Rahayu benar.

Aku tidak peka. Aku tak mau peka.

“Ayu, aku amat menyesal.” Aku tergolek lemah di
dekapan sahabatku. "Aku sudah dua kali mengecewakan lelaki aku benar-benar wanita durhaka….”

**

Tiga hari kulewati hidup tanpa lawakan garing ala Tom. Ia mendiamkanku. Keperluan apa pun ia kerjakan sendiri. Ia pernah mengenakan dasi motif batik dengan kemeja kuning. Menurutku itu kurang sesuai. Aku tak berani meralatnya. Ia mudah merajuk. Itulah sifat aslinya yang keluar sesudah tiga bulan menikah dengannya.

“Mas Tom, mau dong digendam. Aku rela diapa-
apain,” godaku diiringi gestur genit. Aku ingin
melumerkan kebekuan. Sebenarnya aku mau muntah mendengar suaraku sendiri. Ia sedang memainkan game smartphone di tempat tidur. Beberapa detik kemudian ia terpingkal-pingkal mendengar ajakanku.

“Jangan panggil Mas Tom ah  cukup Tom aja," katanya di akhir tawa. Kudekati dia. Tiduran di sisinya. Meraba perutnya.
“Nanti aku dicap istri yang tak hormat.”

Kusingkirkan smartphone dari tangannya.

“Ya enggaklah. Lagian aku maunya disapa Ayah Tom. Bila kita sudah punya anak,” harapnya.
“Dan aku dipanggil Bunda Fani. Cetak tebal Bunda.” Kami saling berpelukan. Kurindukan kehangatan badannya.
"Dalam kurung buntingin janda, ha ha ha….” Mulai lagi candaan garingnya. Lengannya kucubit hingga merah.

“Mana kalung itu?” ungkitnya
“Kenapa kamu tanya lagi? Sudah kulupakan. Kalung itu ada di Jonathan. Kusuruh ia menjaganya,” terangku.
“Kamu yakin akan melupakannya?” tanyanya menyelidik. Ia duduk.
“Iya,” balasku ringkas, antara yakin dan tidak.

Dia turun. Menuju ke lemarinya. Mengambil bungkusan hitam.

“Ini kado untuk Stefani dari… Andrew!” Dikeluarkan kotak perhiasan. Dibuka. Seuntai kalung. Aku belum mengerti apa maksudnya. Napasku tersumbat. Menebak, apakah ini kejutan
atau lelucon belaka?

“Apa ini?”
“Itu yang original. Yang disimpan Jo cuma duplikat.”
“Jadi kamu cuma akting, Tom? Kamu jahat ya!” Aku menangis antara bahagia dan kesal. Akting sinetronnya Tom sungguh mengecoh. Menyebalkan.
“Aku bilang kan simpan baik-baik, bukan dipakai. Masa lalu nggak mesti dibuang, simpan saja, tapi nggak perlu diletakkan di depan.” Tumben Tom menyabdakan kata-kata mutiara untukku.
“Tom, maafkan aku ya. Wo ai ni.” [我爱你. Aku
mencintaimu]
“Wo ye ai ni.” [我也爱你. Aku juga mencintaimu]

Aku telah merepotkannya untuk melalui dan memecahkan misteri yang amat mendebarkan selama sebulan ke belakang. Pasti ia tersundut percikan api cemburu manakala sering kusebut nama Andrew.

“Hayo, katanya minta digendam.” Ia mengelitiku. Aku meronta-ronta manja dalam dekapannya. Jeritan-jeritan geli menciptakan gelombang longitudional yang bermedium ke seluruh udara kamar. Berisik.
“Nggak mau ah. Entar aku disuruh gaya-gaya aneh.”
“Mulai 1-2-3!”

Jakarta, ditulis 28 Januari sampai 8 Maret 2012