Rabu, 14 Maret 2012

129. Kado untuk Stefani (episode akhir)


Asma kronis. Penyakit menahun. Itulah jawabannya. Jawaban yang kalah semarak dibanding kicauan-kicauan sampah di Twitter. Kurang memuaskan bagiku. Terlebih tentang rumor kematiannya akibat dicekik roh jahat dari Andrew. Yang terakhir adalah rumor yang aku ciptakan sendiri hanya karena dia menyampaikan pesan yang sama antara aku dan Marisa. Wo yao qu, wo bu yao zai di chu [aku ingin pergi, tak mau menginjak bumi]. Lalu berkembang di benakku akhir-akhir ini penyebabnya yakni Marisa. Kusangka menghilangkan kalung milik Andrew sehingga mati menyedihkan.



Segalanya patah. Robek. Itulah faktanya ketika aku membaca salinan berkas VeR (Visum et Repertum) yang diserahkan Ibunya Marisa. Anak itu ngeyel waktu dicegah keluar oleh Ibunya sebab cuaca di luar dingin. Kondisinya sedang memburuk. Bantahannya berakhir maut demi perayaan valentine yang menyesatkan pikirannya.



"Marisa nggak pakai perhiasan emas waktu itu. Paling aksesori gelang plastik yang dibeli di Nico Nico Intimo." Ibunya ramah. Ia tak curiga dengan pertanyaanku yang setengah menuduh putrinya.



Aku mengundurkan diri usai suamiku habis mengunyah tiga donat yang tersuguh. Masa-masa serius dia masih sempat menikmati lezatnya makanan.



"Kamu malah makan." Protesku di mobil.

"Donat secengan lebih enak dari J-Co ha ha ha...." Sebutir meises menempel di bibirnya.

"Nggak menghormati orang susah."

"Lho? Dikasih makanan di meja ya harus dimakan dong. Kalau nggak namanya nggak menghormati. Tidak suka. Tidak enak.” Kujewer telinganya sampai dia bilang aduh dan ampun.



TIN!

Ada city car hendak masuk ke garasi saat kami tengah berusaha keluar. Anak muda. Diduga cowok yang menyaksikan bayonet malaikat maut melesak ke dada Marisa. Aku menahan tangan Tom di stir.



"Lihat nopolnya. 9342. Kombinasi angka pada rokok Dji Sam Soe yang dibakar setan kemarin malam." "Ah lebay lu kayak detektip aja. Rokoknya juga amblas. Padahal sudah kusimpan di stoples."

"Nanti kita buntuti dia!" Aku sangat membara dan bergelora.



Di lantai aspal nan sepi, Tom berhasil menghadang dia dari depan. Tak pelak terjadi insiden tabrakan. Tidak parah. Rasanya Tom butuh belajar banyak dengan pebalap GP sekaliber Rio Haryanto.

"Ng***** lu!!!" Si pengemudi memaki kami.

"Ko**** bau lu!!!" Wah payah jika Tom begini. Rencanaku bisa kandas.



Kuhampiri sang pemaki. Sajak maaf untuknya kuatasnamakan suamiku yang brutal bagai di negeri mimpi. Kujabarkan maksud kami. Dia melunak.



"Betul. Marisa menyerahkan kalung itu pada saya." Cukup membanggakan kejujurannya.

"Bersedia kalau saya beli kalung itu dua kali lipat?" Apa air liurnya menetes?

"Nggak. Itu kenangan terakhir saya dengannya. Priceless." Gagal. Strategi antipenuduhanku dilepehnya lonjong-lonjong.

"Memang kenapa kepengin kalung ini? Di toko emas banyak." Kata-katanya keluar bersama kalung tersebut dari tas laptopnya. Pemuda yang ternyata bernama Fiyan itu segera membenamkan kalungnya. Selaput air di mataku menebal saat kutatap selayang pandang kalung itu. Pecah. Entah bagaimana.



"Karena dia cici penjual emas yang paham emas mana yang berkualitas premium." Tom membelaku.

"Tetap saja. Takkan saya lepaskan." Fiyan benar-benar keras kepala.

**

Apakah wanita tak pernah mau bangkit dari masa lalu? Jika memang iya, wanita itu adalah aku. Kaki kananku telah berpijak di garis masa depan. Kaki kiriku masih terbelenggu rantai masa lalu. Terlalu cepat tamat untuk tak terselesaikan. Juga begitu cepat bersambung untuk diselesaikan.



Bersama tokoh kamu yang baru. Siapkah aku berbahtera dengan kamu yang baru? Belum, Tom. Kamu yang baru hanyalah pelarianku. Plester. Nafsu badaniyah belaka. Gula-gula manis bergagang berlian. Wanita lebih memilih mengemut berlian, Tom. Bukan ular nagamu.



Otakku masih awas meraba-raba monumen kenangan tanpa tanggal denganmu, kamu yang lama. Ruangan lama. Di bangku taman itu aku sekali mengejek posisimu. Kugantikan dengan pria kedua. Karena kamu punya apa, Andrew, untuk cinderella-mu ini? Adakah roti dari bahan baku cinta yang diolesi air liurmu, lalu mengenyangkan lapar? Kamu tidak pernah mau tahu di mana letak pergumulan logikaku sebagai wanita lantaran kamu sering menyakitiku sebagai wanita beremosional.



Emosi dan logika berjumpalitan mengaduk segelas jus jeruk yang sudah dua jam gagal kusedot. Di detik akhir aku menyerah pada dahaga di mal ini. Sarang manusia yang riuh bergemuruh. Banyak pasangan muda tertawa girang mendampingi putra-putri mereka di zona permainan seraya menunggu gulungan film diputar di gedung teater.

Aku nyatanya seorang diri. Dua karcis nonton aku robek. Rahayu urung menemaniku. Mertuanya mendadak bertamu. Dia dua kali memesan permaafan dariku. Sahabatku yang tak mau menghakimi dosa-dosaku. Orang pertama yang menjemput air mataku untuk Andrew.



Everybody needs a best friend in this world

We all need one good thing in this cruel cruel world

That we can count on all of our lives

You sounded so alone last night and I could not help but cry

I wanted to reach out to you and just make everything all right

I wish that I could show you just how much I truly care

All my life I promise to be there

**

Aku tak sabar menunggu kepulangan Tom. Ia minta bantuan pada Mas Luki supaya gagasan rencananya berjalan halus. Tak mengerti pertolongan jenis apa yang diberikan ahli supranatural berawakan tinggi itu. Apa pun usahanya, itu lebih baik daripada dia dan aku menuduh Marisa sebagai pencuri lalu menunjuk Fiyan si penghilang barang bukti atau justru penadah. Ekstrem. Kami hanya punya saksi anak-anak, di bawah 18, dan dia Jo. Kami tak tega menggiringnya ke pengadilan. Bukan nilai ekonomi yang aku tuntut dari seuntai kalung itu, melainkan nilai kenangan di tiap karatnya. Harapanku, Tom kembali membawa apa yang aku cari. Andaikata tuntas dan selesai, aku yakin teror-teror gaib akan sirna. Takkan lagi ada jin Andrew, setan Mei Mei, suara kecipak air di toilet, dan apa saja yang selama ini terasa mendecakkan jantung; semua itu bersekutu dalam satu komando.



"Kakak." Panjang umur. Panjang kepang. Makhluk yang bersangkutan bersuara.

Aku mencoba mengendalikan rasa takut. Rasa dalam diri sendiri. Harus ditaklukkan. Walau tetap waspada. Kutiti jengkal per jengkal mendekati lukisan. Matanya berkedap-kedip. Aku tekan ketakutan yang menggelembung. Dia hanya entitas makhluk sama denganku.



"Apa maumu?" Diam. Malah terisak.

"Hai istriku yang jelek!" Panggilannya bikin aku lompat. Suamiku yang sipit. Auranya positif dan prospektif. Ia memegang sesuatu. Keberhasilan.

"Ini, simpan baik-baik," ucapnya riang. Aku berjingkrak girang. Bernyanyi da di du di da.

"Bagaimana kamu bisa meraihnya dari tangan Fiyan?" Bikin penasaran!

"Azimat bermahar 500 ribu dari Mas Luki, yaitu gendam." Ia memperlihatkan semacam batu kecil. Masih okultisme.

"Gendam?"

"Mix antara pelet dan hipnosis, kurang lebih."

"Sebuah kejahatan," gumamku.

"Aelah, pencuri dilarang menyalip pencuri bro!"

“Xie xie.” [terima kasih]



Tangan jailnya menepuk bokongku. Ia berlalu, tertawa puas, melepas bajunya.



Kalung emas 10 gram 20 karat tanpa liontin. Tentu tak sebanding disejajarkan dengan kalung valentine kado dari Tom. Ini pengikat emosional antara aku dan Andrew. Pudarlah terlutuh di kain yang terkembang melayari perjalanan kami. Untuk menit ini. Walau noktah merah kesumba melekat kuat dalam serat sejarah. Dia menggantung napas terakhirnya di temberang pemenggal nyawa sewaktu kami terbalik menabrak karang melintang.



Bayangan Andrew meluntur terurai cahaya tanwarna. Terakhir mukanya tak biru pasi lagi. Senyum Mei Mei pun melengkung gagu. Air matanya jatuh terburai di sungai. Tak ada lagi terang di belakang bayangan. Tiada lagi gaduh di tengah keheningan.

**

Aku menghidupi kenangan

jelmaan aksara di marmer hitam

pada nisan di gunduk pusaramu

menabur kembang hidup

agar namamu hidup

bukankah kenangan akan hidup bila segalanya mati, sayang...

namun butuh saksi hidup untuk mengenangnya, cinta...



ingatkah engkau tatkala kita menerima hosti suci dari tarbernakel?

hosti lapuk! keluhmu

selapuk cinta kita

nanar matanya menerawang pada diam

aku melipir ke malam

tersisa kelam



Hari ini aku ringan berjalan. Kutebar senyum. Kukabari suka. Membagi kasih. Tiap pengamen dan pengemis menerima uluran sedekahku. Tak seperti biasa, bila kaca film terketuk hati terpaksa terbuka.



"Masak apa kau?" Tanyamu dari kantor.

"Beef steak," asal kujawab. Spontan kamu terpingkal. Nyaring. Ingin kecelupkan ponselku ke wajan. Aku tahu kamu sedang mengurangi lemak daging supaya program fitness-mu sukses. Ah, gombal kamu, Tom, ha ha ha. Punya perut six pack adalah tahayul bagi orang sibuk macam kamu.



Obrolanku dengannya mengganggu aktivitas masakku. Malam ini akan ada menu yang tak terlalu berlemak. Tahu mapo, capcay, mi hijau, dimsum (dianxin) aku sajikan. Tapi bukan dim sum fang zau (ceker ayam), cukup bakpao kacang hijau. Penutupnya ialah gelato, bukan es krim yang berlemak. Sebagian kumasak dibantu bibi pembantu. Sisanya aku membeli di luar.



"Mama mia, amazing birthday celebration!" (Mama mia, selebrasi ulang tahun yang keren). Komentar Tom ketika baru pulang.

"Ulang tahun suami kolokan, he he he," gurauku

"Biar kolokan tapi pahlawanmu, ha ha ha." Dia naik ke kamar untuk mandi dan berdandan.



Dia mengamatiku serius. Membuatku tersanjung. Jangan-jangan little black dress-ku yang tak berpundak. Apa pikirannya kalau busananku berlebihan? Persis perempuan berkebaya dan berkonde lantas cuma makan malam di rumah bersama suaminya, begitu kan? Tak masalah kan seorang istri berias tampil anggun demi suaminya.



"Selamat menikmati." Kupersilakan semangkok mi hijau untuknya.



“Bu yao, wo chi bao le,” [不要, ζˆ‘εƒι₯±δΊ†. Tidak, aku sudah kenyang] tolaknya seketika.

"Kenapa?"

"Buang dulu kalung itu." Ia memerintahkan hal yang tak ternyana. Hatiku tersayat.

"Memangnya kenapa?" Air mukanya mendidih. Tidak ada pribadi Tom di sana. Terkaan-terkaanku belum menemukan titik hampir.

"Serahkan sini!" Bentakannya menohok. Membelalak. Aku buru-buru mematuhinya. Rupanya aku takut pada wibawa lelaki.



Ia mengaum murka dan mencampakkan kalung itu ke lantai. Keras sekali. Andai yang ia lempar berupa telur bercangkak baja pasti remuk. Seremuk hatiku. Kini kepalaku tersunjam lagi ke tanah. Lagi dan lagi.

"Kamu jahat!!!" Tangisanku tak bersuara. Mimpiku yang berlatar surga sedang terwujud. Ia sungguh kejam. Merobek perasaan Andrew.

"Besok aku nggak mau melihat kalung itu di lehermu. Deal?" Ia pergi. Bayangannya tampak bagai anak setan berlidah api yang memegang tombak trisula.



**

"Hai Jeng, come in.” [ayo masuk"]. Ajak Rahayu ketika aku di depan pintu rumahnya. Aku dituntun ke kamar tidurnya.

"Drink what? Tea, coffee, juice, hot chocolate; which one?"

"Nggak usah."

"Please, you need it."



Mataku menjelajah kamarnya, terpaku pada foto pernikahannya. Wajahnya bahagia, juga suaminya dalam bingkai itu. Mereka berdua berpacaran sejak SMA. Meski kerap putus-nyambung, kekuatan cintalah yang mengikat mereka dalam pernikahan. Ada sebentuk iri membuncah di dada.



Ia tiba membawa nampan. Ada secangkir teh hijau dan kudapan roti vla tabur almond. Menggiurkan, namun tidak untuk kesempatan ini. Suasana jiwaku berantakan. Pikiranku lagi kacau. Apalagi semalam Tom minggat dan belum juga pulang. Ia foya-foya merayakan ulang tahunya dengan kawan-kawannya. Ia tidur di hotel dengan perempuan nakal. Begitulah isi pikiran galauku.



"Ayu, kira-kira kenapa dia? Dia enggan menjelaskannya."

"Kamu harus peka, Jeng, sebagai perempuan," timpalnya singkat.

"Peka?" tegasku kurang paham. Kuminum sedikit teh hijau agar pikiran lebih rileks.

"Ember (memang). Maksudku, kita sebagai pere harus peka dalam membaca perasaan lelaki. Mungkin aja Mas Tom yang cucok itu cemburu karena kamu pakai kalung dari Andrew. Lelaki mana sih, Jeng, yang gak jealous." Rahayu benar. Aku tidak peka. Aku tak mau peka, selain pada tiap keping uangnya yang dihabiskannya.

"Ayu, aku amat menyesal." Banjirlah bajunya dengan air mataku. Aku tergolek lemah di dekapan sahabatku.

"Weep as much”. Biar lega." [Menangislah sepuasnya].

"Aku sudah dua kali mengecewakan lelaki aku benar-benar wanita pendurhaka...."



Seolah air mataku terus menderas dan merintik. Berhamburan. Aku tak kuat berdiri.

**

Tiga hari kulewati hidup tanpa lawakan garing ala Tommy. Ia mendiamkanku. Keperluan apa pun ia kerjakan sendiri. Ia pernah mengenakan dasi motif batik dengan kemeja kuning. Menurutku itu kurang sesuai. Aku tak berani meralatnya.



Tubuhku yang rajin kurawat dengan lulur puteri keraton dan wajahku yang kulumuri ekstrak caviar tak lagi ia sentuh. Ia mudah merajuk. Itulah sifat aslinya yang keluar sesudah tiga bulan menikah dengannya. Bagaimanapun itu, aku telah memilihnya. Juga aku telah memilih untuk dipilih. Dia ada di depanku sekarang. Aku harus melangkah maju. Melupakan masa lalu yang terserak di belakang.



"Mas Tom, mau dong digendam. Aku rela diapa-apain," godaku diiringi gestur genit. Aku ingin melumerkan kebekuan. Ia sedang memainkan PSP di tempat tidur. Kemudian terpingkal-pingkal mendengar ajakanku. Aku menggenggam kunci yang menggembok keintiman kami. Aku tidak betah melakukan aksi bisu di rumah.



"Jangan panggil Mas Tom, cukup Tom aja." Katanya di akhir tawa. Kudekati dia. Tiduran di sisinya. Meraba perutnya.

"Nanti aku dicap istri yang tak hormat." Kusingkirkan portable game dari tangannya.

"Ya enggaklah. Lagian aku maunya disapa Ayah Tom. Bila kita sudah punya anak," harapnya berbinar.

"Dan aku dipanggil Bunda Fani. Cetak tebal Bunda." Kami saling berpelukan. Kurindukan kehangatan badan laki-laki. Tiga hari serasa tiga tahun kedinginan

"Dalam kurung buntingin janda, ha ha ha...." Mulai lagi candaan garingnya. Lengannya kucubit hingga merah. Malah ia menindihku. Aku sesak menahan berat raganya.



"Mana kalung itu?" ungkitnya

"Kenapa kamu tanya lagi? Sudah kulupakan. Kalung itu ada di Jonathan. Kusuruh ia menjaganya," terangku demikian.

"Kamu yakin melupakannya?" Tanyanya menyelidik. Ia duduk.

"Iya," balasku ringkas, antara yakin dan tidak.



Dia turun. Menuju ke lemarinya. Mengambil bungkusan hitam. Menentengnya kemari.

"Ini kado untuk Stefani dari... Andrew!" Dikeluarkan kotak perhiasan. Dibuka. Seuntai kalung. Aku belum mengerti apa maksudnya. Napasku tersumbat. Menebak, apakah ini kejutan atau lelucon belaka?

"Apa ini?" Dua kata dan selengkung tanda tanya yang sanggup kuujarkan.

"Itu yang original. Yang disimpan Jo cuma duplikat.”

"Jadi kamu cuma akting, Tom? Kamu jahat!" Aku menangis deras antara bahagia dan kesal. Akting sinetronnya Tom sungguh mengecoh. Menyebalkan.



"Aku bilang kan simpan baik-baik, bukan dipakai. Masa lalu nggak mesti dibuang, simpan saja, tapi tak perlu diletakkan di depan." Tumben Tommy menyabdakan kata-kata mutiara untukku.

"Tom, maafkan aku ya. Wo ai ni.” [ζˆ‘ηˆ±δ½  Aku mencintaimu]

“Wo ye ai ni.” [ζˆ‘δΉŸηˆ±δ½  Aku juga mencintaimu]



Aku meraih tangannya. Menciumnya dengan takzim. Aku telah merepotkannya untuk melalui dan memecahkan misteri yang amat mendebarkan selama sebulan ke belakang. Pasti ia tersunu percikan api cemburu manakala sering kusebut nama Andrew.



"Hayo, katanya minta digendam." Ia mengelitiku. Meronta-ronta manja dalam dekapannya. Jeritan-jeritan geli menciptakan gelombang longitudinal yang bermedium ke seluruh udara kamar. Gaduh. Berisik.

"Nggak mau ah. Entar aku disuruh gaya-gaya cabul di ranjang sutra, ha ha ha."

"Mulai 1-2-3!"



TAMAT

Jakarta, 3-8 Maret 2012

*****

128. Kado untuk Stefani (episode 3)


Andrew memanjat pohon berbatang nila. Ia berusaha meraih sekuntum bunga paling indah dan besar yang bermahkota di pucuk pohon. Berhasil. Serta-merta....



"Andrew!" Ia terjungkal. Telentang di hamparan butir-butir emas. Kudekati. Lantas ia tersenyum waktu mengangsurkan ratu bunga padaku.



"Harum sekali kembang ini," ulasku. Terpejam. Belum pernah sebelumnya wewangian ini terhirup. Baik puspa dari bumi tropis maupun puspa dari bumi empat musim. Terlena. Ia telah berlari menjauhiku ke kerumunan pemuda yang meniup serunai berlanggam syahdu nan merdu.



"Andrew sayang, kamu hendak ke mana?" Pengejaranku terhalang dinding halimun tebal. Aku di pinggir sungai susu. Pikiranku, dia bersembunyi ke arah estuaria di kuala sungai.



Ya habibah, aku di sini." Jubah putihnya berkibar. Kemah miliknya tampak agung dan kemilau. Dia kususul. Kupeluk. Erat. Melekat.



"Kamu jangan tinggalkan aku." Pintaku manja. Keningku dikecup. Mendamaikan.



"Ya maula, maaf, hidangannya sudah datang." Dari luar kemah, seorang pelayan memohon izin masuk.



"Silahkan," sahutnya, duduk di tempat tidur yang pinggirannya bertabur manikam aneka warna.



Pelayan masuk membawa dua nampan perak. Satu nampan berisi dua gelas kaki dan seteko khamr. Satu nampan lainnya tergolek burung bakar. Menteganya melumer ke dasar.



Si pelayan mohon undur. Rambutnya berkilau dan harum. Seperti disemir dengan pomade. Di pinggangnya, terpasang sebilah keris.



"Ya habibah, mari kita nikmati hidangan lezat ini." Andrew mempersilakan, menarik kursi untukku. Kami berhadapan di antara meja pualam. Aih... getarannya bikin perutku mulas.



Kubalikkan piring logam bermotif segi oktagonal. Diambil olehnya. Ia menyobek seiris daging untukku. Kupetik sebutir anggur dalam keranjang. Kusorongkan ke mulutnya. Dia mengunyah seraya tersenyum. Hidungku dicubit.



Tak perlu instrumen untuk menimbulkan irama musik. Cukup deburan ombak dan cericit ciblek lincah. Serta kami berdua sudah menjadi nada-nada yang padu dan satu, meski tetap ada timbre sewaktu kami mendendangkan tembang tentang sejoli yang ingin hidup abadi di tepi nirwana.



Ada yang masuk. Pedang mengacung. "Hai Stefani!!!" Berteriak keras sekali. Lelaki itu. Dia betoga merah kental. Tommy. Kemunculannya mengejutkan agenda percumbuan kami.



"Kakanda Tom." Aku menyahut. Kepergok. Alamat leherku bakal dipenggal.



Klang! Andrew mencabut samurainya dari sarung. Matanya waspada. Akan ada pertarungan sepasang pendekar memperebutkan seorang perawan.



"Kakanda Tom, jangan." Supaya ia mundur, aku maju menahannya. Terompahnya bergesek. Pedangnya menghalau. Aku berhenti.



"Gadis pengkhianat!" tukasnya sengit. Dia tunanganku. Dijodohkan. Aku tak mencintainya. Ia brutal.



Kemudian mereka beradu pedang. Mencabik angin. Membelah kain. Memeras darah. Menumbuk amarah. Menyisakan penyerah.



"Hentikan!" Kutahan dia. Dibanting tubuhku.



Aku keluar mencari pertolongan. Sepi nian. Hanya seekor kuda merah legam kepunyaan Tom. Tiada harapan.



"Aaaarrrhhh...!!!" Teriakan pilu. Andrew. Jiwanya sudah menyangkut di ujung ketajaman logam panjang keparat milik pendekar bejat.



"Kamu jahat!!!" Aku menuju kekasih setengah nyawa. Akan tetapi pendekar bejat menarikku kasar. Tangisanku menyublim membentuk batu-batu membara yang dicengkram kawanan burung ababil. Hancur lebur surga menjadi lautan api.



**



Penglihatan perdanaku tertumbuk ke korden yang terolesi berkas cahaya lampu balkon. Apa yang baru terjadi? Bunyi dengkuran. Khas suamiku. Aku berbalik. Astaga, cuma kembang tidur.



Latar lokasinya... di Shangri-la? Ya, Shangri-la di Provinsi Yunan di China selatan. Ah, jauh. Surganya lebih mirip penggambaran dalam Al Quran. Aku pernah membacanya di toko buku. Surat apa ya? Aku harus tanya Rahayu.



Di sana ada nuansa campur-tabrak. Nuansa Timur Tengah. Jawa. China. Kakanda Tom. Habibah. Keris. Baju toga. Amboi... surganya banyak akulturasi. Dan klimaksnya adalah pertengkaran itu. Suram. Muram.



Melancong ke negeri mimpi cukup menguras energi. Ujungnya perut lapar jikalau terjaga pada dua pertiga malam.



Kuturuni anak tangga. Kuselidik lukisan naturalisme dari cat akrilik yang terpajang di dekat sofa sebab ada yang berubah. Obyeknya. Gadis cilik bercheongsam merah kerah tinggi itu menghilang! Barang itu dibeli Tom saat perayaan Tahun Baru Imlek di pameran seni rupa peranakan di galeri ternama. Kini gambarnya tersisa sungai, pohon bambu, dan sebongkah batu tempat gadis itu duduk. Mistik.



Kendati lapar, selera makanku padam. Berusaha berani. Abaikan saja. Kuputar kenop kompor. Mi instan kuaduk.



Perhatianku tersita. Ada yang tampak berlari. Kuintai dari meja dapur. Bocah. Citra lukisan itukah? Aku amati. Dia berlari-lari di ruang tamu, ruang televisi, sekitar tangga.



Siapakah gerangan? Makhluk fantasi? Anak hantu? Dia menjauhi tangga. Seketika aku mengibrit tunggang langgang ke lantai atas. Kutengok dia. Matanya bersinar.



"Kakak!" Oh mama, dia memanggilku.



Pintu kamar kutubruk. Menjerit. Tom terbangun.



"Kakak." Nyatanya pintu lupa kututup. Ia melongok dan memanggil lagi.

"Kamu siapa?" Tom mengucek mata.

"Aku mau pulang." Tom menengok ke arahku. Jidatnya lecek memerhatikan gadis sipit itu. Bertanya padaku lewat tatapan. Telah dia dapatkan jawaban.



Ia menghampirinya dengan gurat waswas. Usai mencapai tiga hasta, ia berlutut. Menyamai tinggi makhluk ajaib itu. Kutebak dadanya bergumuruh rusuh. Pun aku.



"Kamu mau main di sungai?"

"Aku mau pulang." Jawabannya kerap diulang.



Kedua lengannya akan menyentuhnya. Hendak digendong. Ia berani menghadapi hantu. Yang jelas itu hantu.



Hantunya menyerang! Kepalanya menyeruduk muka Tom. Mengerang. Sangat tegang adegan ini. Kemudian ia berpendar menjadi cahaya merah oval. Naik. Terbang. Hinggap di lukisan tempat dia bermuasal. Sungguh aneh namun mengagumkan.



"Mas, kamu gak papa?"

"Gusiku berdarah nih."



**

Telah tergenggam jawaban atas hilangnya "Kado untuk Stefani". Adiknya mencacah satu demi satu nama orang yang masuk ke kamarnya. Jo telah lancang. Sehingga mengakibatkan seuntai harta raib tanpa buronan.



"Seingatku Mukhlis, Aditya, Riza, dan Marisa." Ia jawab begitu saat kutanya kemarin.

"Marisa?"

"Yup, almarhumah Marisa yang meninggal valentine lalu."

"Apa hubungan dia denganmu?"

"Teman semasa SMP."



Tentu curiga pada mereka berempat. Kecuali Marisa, mereka berjanji menemuiku di sebuah kafe. Sebenarnya kecurigaanku lebih condong pada Marisa. Perempuan satu-satunya. Perempuan lazimnya menggilai perhiasan. Terus apa motif dibalik pencurian tersebut? Sekadar suka? Ekonomi? Atau ia punya klepotomoni?



Di tangan siapa benda berharga itu menjuntai? Kuduga disita dokter forensik yang mengotopsi mayat Marisa. Bukankah proses otopsi sudah selesai sehingga jenazah beserta benda-benda yang tersandang telah dikembalikan ke pihak keluarga korban. Apa musabab kematiannya? Apakah hasil VeR (Visum et Repertum) yang diterima penyidik atas kasus kematian superaneh pada valentine lalu? Dicekik setan? Hmm....



Aku pun teringat dengan obrolan dengan Rahayu di mal tanggal 15 Februari--sehari setelah kasus kematiannya. Dia bilang hasil visum menunjukkkan bahwa Marisa tidak dicekik cowok dalam mobil, melainkan bagaikan dililit tali--entah tali apa dan dari mana-- hingga lehernya memerah. Itu janggal. Setergesa itukah dokter menjabarkan hasil otopsi? Lagi pula setahuku dokter forensik tak memiliki wewenang menyiarkan VeR pada media massa ataupun umum. Itu melanggar sumpah jabatannya. Pihak kepolisiankah? Aku sangka itu rumor yang tertampung di media siber.



"Astagfirullahal azhiim, saya enggak mungkin nyolong, Mbak. Duit jajan saya lebih dari cukup." Mukhlis menjawab.

"Apalagi gue, eh, aku." Aditya duduk di sebelahku. Tubuh sintalnya berbau keringat puber, cologne spirtus, dan sengatan sang surya.

"Tentu bukan ane, ya ukhty. Barangkali Marisa. Bukan bermaksud su'uzon nih." Aku sependapat dengan Riza. Dia yaitu calon tersangka. Siapa lagi. Ketiga remaja ranum di sekitarku tak beralibi.



Cuaca siang ini cerah. Lengkung langit diselimuti awan sirostratus yang menimbulkan efek lingkaran halo di sekitar matahari. Lingkaran biru di bagian luarnya. Lingkaran merah di bagian dalamnya. Indah sekali.



**

"Kamu baru pulang?" Aku curiga. Pukul 21 lewat sekian.



"Sebagai financial planner ganteng dan profesional, aku wajib menepati janji sang klien." Kilahnya lancar. Dia mencari sesuatu di kulkas. Sampanye. Minuman itu kurang cocok mendampingi tempe goreng tepung yang tengah kumasak.



"Wuidih, Katy Perry goreng tempe sambil nyanyi The One That Got Away, ha ha ha ha...." Lelucon dan sindirannya kuabaikan.

"Aku berencana ke rumah Marisa dan menanyakan kalung itu pada orangtuanya."

"Dan mereka akan menganggap kamu adalah cici penjual emas di toko Sinar Widjaja Cemerlang."

"Ah aku capek ngomong sama kamu!"



Dia merangkul dari belakang. Membisikkan kalimat, "Aku sudah tidak tahan." Bibirnya hangat beraroma alkohol.



Oh, Kakanda Tom. Aku masih membaui amis hawa nafsumu dari sisik-sisik kulitmu, walaupun telah lebih tujuh puluh tujuh malam seliramu dan seliraku berenang di lautan peluh lalu memuncrat menuju puncak bulan berlumur madu.





Kurang puaskah dikau? Nyaris tiap malam aku duduk di antara kedua pahamu. Mengisap ujung tumpul dagumu sampai dikau menggelinjang. Ular nagamu yang panas lagi keras membuat aku lupa di mana kuletakkan kedua buah dadaku kala engkau unggat-unggit menahan desahan pendek yang rasanya memanjang ke seluruh jaringan pembuluh darah. Merambat teramat lambat ke otak. Melesat terlampau cepat ke sumsum tulang belakang. Lebih dari dadamu, aku mengagumimu. Lebih dari kelaminmu, aku menghormatimu. Kurang dari kedua itu, aku bisa tertunduk lesu.



Aku balikkan badan. Meraba wajahnya yang hangat terpanggang bara kama sutra. Bibirku dicium. Dikunyah bak kiwi selandia. Lidahku dibelit. Digulung. Ditekuk. Saliva tertukar.



"Kakak!"



Melepas. Dilepas. Terlepas.



Pemanasan terusik suara setan cilik itu. Bagaimana dia bisa keluar lagi dari selembar kanvas dwimatra? Anomali. Tetapi tak ada kata 'tak normal' dalam kamus metafisika.



"Eh Mei Mei, mau buat gusiku berdarah lagi?"



Ia berlari mengitari ruang tamu, ruang televisi, ke taman kecil. Makan malam tertunda. Lauk dan sayur mendingin. Menihilkan rasa ingin.



Dalam kegelapan ruang televisi, ada lagi penampakan seorang pria yang merokok. Bara apinya terlihat. Tak ada lagi lelaki di rumah ini kecuali Tom.



"Tom, banyak hantu di rumah kita." Ia mengangguk.

"Aku lapar banget. Makan aja yuk. Kalau mereka ke sini, ya kita tawari saja tempe, he he he."



Jeritan membahana. Dia jatuh berguling-guling di tangga lalu tersungkur ke lantai keramik tak berpermadani.



Tom berlari. Ingin menolong pasti. Derapnya berhenti saat sosok perokok itu bangkit, berjalan ke arah korban. Tak salah lagi jin Andrew muncul kembali. Kupeluk suamiku. Kurasakan genderang bertabuh saat kuraba bidang dadanya.



Dia melempar rokoknya. Mengusap darah di dahi gadis mungil. Membopongnya ke lantai atas. Ada apa ini? Kami diteror komplotan jin yang bersekongkol.



Tom memungut sepuntung rokok yang terlempar.

"Dji Sam Soe," katanya keheranan.

"Rokoknya Andrew." Aku keheranan pangkat tiga ditambah kebingungan kuadrat dibagi pemakluman akar satu..



Sesudah 15 menit, kutatap lekat-lekat lukisan itu beberapa saat. Memar wajahnya. Secuil cairan merah menempel di keningnya. Aku tak sanggup lagi mencerna antara logika dan gaib. Namun selama 31 tahun hidup di dunia fana ini, baru kali ini aku mengalami kemelut gaib yang beda dan baru. Bukan lagi melihat pocong lompat-lompat yang talinya minta dilepas. Kuntilanak yang rambutnya tak pernah di-creambath. Atau genderuwo yang merangkak di genteng sekolah semasa aku kemalaman menjadi panitia HUT RI.



Tanganku yang bertisu dengan amat hati-hati mendekati spot darah itu. Entah darah asli atau sintetis. Deg. Sudah kena. Citranya telah bersih dari noda. Tak terjadi apa pun. Hai Mei Mei, aku percaya kau sudah mati akibat perbuatanmu sendiri. Jangan ganggu tuan rumahmu lagi.



"Kakak."



Bersambung...



Jakarta, 21 Februari-2 Maret 2012