Jumat, 16 Oktober 2015

180. Polemik Mesin dan Manusia

Layar dibuka dengan pemeriksaan warga di Teheran, Iran, oleh sepasukan robot perang pengganti manusia. Namun, seunit robot menembak mati bocah lelaki pembawa pisau. Sebab menurut sistem, pisau (dan senjata umumnya) adalah obyek ancaman. OMNI Corp, korporasi multinasional yang bergerak di bidang sains dan keamanan adalah operator yang membuat dan memprogram robot-robot itu.

Di kalangan senat Amerika sendiri terjadi polemik apakah robot menjadi jawaban keamanan nasional yang efisien, tangguh, dan manusiawi? Robot tidak memiliki algoritma berpikir bak manusia yang secara naluriah mempertimbangkan dampak yang lebih kompleks. Robot cenderung berpikir matematis tanpa eksponansi rumit. Dan usaha Direktur OMNI Corp, Raymond Sellars (Michael Keaton), juga terbentur UU Dreyfus, yang melarang robot beroperasi di ranah keamanan. Maka, Sellars perlu membentuk opini masyarakat dengan memperkenalkan robot sebagai purwarupa yang lebih ramah dan bersahabat. Dibantu Patrick "Pat" Novak (Samuel L Jackson), pembawa acara The Novak Element yang mendukung OMNI Corp.

Sampai suatu malam seorang polisi dari Polda Detroit, Alex Murphy (Joel Kinnaman), terkena ledakan hebat dari mobilnya. Motif ledakan adalah pembalasan oleh mafia penjual senjata ilegal, Antoine Vallon (Patrick Garrow). Alex ialah salah seorang polisi yang jujur dan tengah menginvestigasi kasus penjualan senjata ilegal yang diduga melibatkan polisi korup. 90 persen tubuh Alex hancur dan hanya tersisa kepala, paru-paru, dan tangan kanannya.

Melalui proses pembangunan cyborg yang dikepalai Dr. Norton (Gary Oldman), Alex menjelma jadi RoboCop, robot hibrida berotak manusia. Ini impian CEO Sellars untuk membangun opini publik tentang masa depan robot yang ramah dan diidolakan masyarakat. Walau dalam internal OMNI Corp sendiri terjadi silang pendapat. Bagaimana robot yang berpikir emosional justru menjadi hambatan protokol itu sendiri. Bagaimana Sellars yang berotak bisnis selalu berpikir pragmatis sementara Dr. Norton berpikir lebih manusiawi, bahwa apa pun, Alex masih manusia dengan anak dan istrinya.

Segmen drama di film RoboCop (2014) terbangun sangat rapi dan terukur. Bagaimana Alex sebagai RoboCop mengunjungi keluarganya, David anaknya (John Paul Ruttan) dan Clara istrinya (Abbie Cornish), dengan canggung. Tergambar rasa cinta tapi aneh di antara mereka. Juga aksi balas dendam Alex pada Vallon.

Sebagai film aksi, sekuens aksinya amat minim dan cepat. Ini cukup mengecewakan. Jatuhnya RoboCop jadi film drama berbalut politik dan sains. Jika dibandingkan film pendahulunya tahun 1986, RoboCop 2014 memang tidak terlalu buruk. Bila Jose Padilha memformulasi sekuens action-nya lebih masif dibanding intrik-intrik politis yang porsinya menguras durasi, RoboCop akan lebih brillian.

Senin, 12 Oktober 2015

179. Dosa Itu Bernama Hantu

Dua lelaki atletis bertelanjang dada di dasar kolam renang mengapit perempuan yang diilustrasikan sebagai hantu. Jika The Swimmers (2014) adalah film Indonesia, kita patut curiga ini film horor esek-esek. Tapi ini buatan GTH Thailand, rumah produksi yang ulet menelurkan film horor sungguhan macam Alone, 4Bia, Phobia 2, dan Pee Mak. Walau judul terakhir jelas komedi horor.

Latar kolam renang pada posternya merupakan bagian konteks cerita tentang dua atlet renang di kampus. Cerita bermula dari Perth (Chutavuth Pattarakampol) dan karibnya, Tan (Thanapob Leeratanakajorn), sesama perenang kampus yang berlomba meraih kuota untuk Kejuaraan. Lalu alur mengikuti Ice (Supassra Thanachat) perempuan yang bunuh diri dari platform ke dasar kolam yang kering.

Ice ialah pacar Tan, yang berselingkuh dengan Perth. Sebab birahi Perth yang berapi-api, Ice hamil. Mereka kelimpungan. Melahirkan atau menggugurkannya. Karena film horor misteri, ada bagian yang disembunyikan demi mengasyikkan jalan cerita. Alur mundur-maju perlu untuk menggenapi mozaik cerita. Permusuhan tersembunyi antara Tan dan Perth sangat menggemaskan ketika ditarik ulur. Poin terkrusial yaitu bagaimana film ini menakuti penontonnya dalam teknik sinematografi dan audio. Tetap ada jump scare (hentakan ketakutan) dengan porsi seimbang. Lumayan lah. Gak jatuh murahan dan gak lebay.

Akibat perbuatan dosanya, Perth mengalami paranoid dan bunga-bunga teror. Dia merasa dirinya bunting karena arwah bayinya minta dilahirkan ke dunia melalui perut bapaknya. Dan hal itu bisa dijelaskan secara ilmiah bahwa tidak begitu. Sutradara Sophon Sakdaphisit menyekat batas misteri dan ilmiah dengan keambiguan film. Keren sih.

Jamaknya, film horor (dan genre apa pun sebenarnya) sebagai metafora bertutur. Dosa di masa lalu sering kali menghantui siapa pun pelakunya. Masalahnya, bisakah kita menerima konsekuensinya dan bertobat lalu bangkit selagi sempat.

Sabtu, 10 Oktober 2015

178. Serigala Pengejar Berita

Louis Bloom (Jake Gyllenhaall) ialah pencuri besi yang bekerja malam hari. Barang curiannya dijual kembali ke pengepul dengan harga yang menurutnya sering mengecewakan. Di sudut jalan di Los Angeles, terjadi kecelakaan mobil dan terbakar. Tim polisi berusaha menolong korban dengan dramatis, namun fokus Lou ke kamerawan-lepas yang sibuk meliput insiden itu. Kata kamerawan itu, rekaman videonya bisa dijual mahal ke salah satu stasiun tv, yang otomatis berhak menyiarkan eksklusif.

Lou terinspirasi. Dia mencuri sepeda supaya bisa membeli kamera dan scanner polisi. Pertama-tama dia selalu diusir polisi kalau mendekat ke TKP kecelakaan. Dia menjual videonya ke stasiun tv KWLA. Nina Romina (Rene Russo), direktur pemberitaan KWLA, tertarik dengan sudut pengambilan gambarnya.

Akhirnya, Lou merekrut pegawai bernama Rick (Riz Ahmed). Tugas Rick memantau siaran scanner dan memandu jalan. Perlahan tapi pasti, Video News Production (nama produksi yang diusung Lou) mengalami kemajuan.

Sampai suatu malam, Lou dan Rick mengejar ke TKP sebelum polisi datang. Rupanya di TKP sedang berlangsung penembakan terhadap keluarga kaya yang direkam diam-diam oleh Lou. Itu merupakan berita paling mahal. Dari sinilah klimaks cerita dimulai.

Film Nightcrawler (2014) merupakan debut sutradara Dan Gilroy. Ya, dia sukses. Walau film ini berbumbu thriller namun bahan bakunya adalah satire masyarakat modern. Sebuah satire dari obsesi Lou dan konsumsi berita itu sendiri. Film ini filmnya Jake Gyllenhaall, dia yang menguasai panggung. Dengan bantuan make up tampilannya terkesan macam preman. Apalagi diperkuat dengan wataknya. Dia bekerja bagai wartawan-lepas berdarah dingin. Bahkan kejam.

Riz Ahmed jelas hanya pendukung dan diperlukan. Rene Russo memerankan direktur pemberitaan yang tak kalah obsesifnya terhadap tuntutan jurnalisme yang serba segera dan akurat juga menarik. Belum lagi KWLA sedang terpuruk karena share terendah di LA.

Pers Barat memandang berita itu sebagai “komoditi" yang dapat diperjualbelikan. Sehingga berita harus menarik dengan bungkus dramatis dan berdarah-darah.

Keseluruhan, Nightcrawler sangat nikmat. Apalagi adegan liputan penangkapan pembunuh di restoran. Mendebarkan. Lalu apa itu satire modern? Ambil saja contoh ketika masyarakat menonton bencana tanah longsor atau berfoto selfie dengan latar bangkai pesawat Hercules.

Selasa, 06 Oktober 2015

177. He Was Alien, He Was American-alien

Misi Ares III merupakan misi NASA di Planet Mars. Sekelompok astronot yang dipimpin Melissa Lewis (Jessica Chastain) membangun anjungan di wilayah Acidalia Planitia. Suatu malam, terjadi badai yang super ganas dan mampu menggulingkan pesawat. Mereka lepas landas darurat, dan meninggalkan Mark Watney (Matt Damon) yang tergulung badai dan diduga tewas.

Tetapi Watney selamat dan hidup sebatang kara di planet merah itu. Komunikasi dengan NASA terputus. Kalaupun harus menanti penjemputan,  itu memakan waktu tahunan. Sementara, Watney semakin kekurangan pangan dan air. Mars planet tandus. Sebagai botanis, Watney menanam kentang di Habitat (tempat yang dirancang khusus untuk manusia) dengan pupuk kotoran manusia dan air dari pembakaran hidrogen dan oksigen. Hari demi hari (atau sol demi sol--satu solar/satu hari di Mars~25,67 jam), Watney mampu bertahan dengan kentang dan musik disko.

Sampai suatu hari, kompresi di kompartemen tempat tumbuhan kentang tidak stabil hingga meledak. Melenyapkan ladang kentangnya.

Sementara di Bumi, di tubuh NASA,  setelah mendapat kabar keselamatan Watney mereka berdebat, haruskah menyelamatkan astronotnya dengan konsekuensi tambahan anggaran juga mesti mengorbankan keselamatan lima astronot lain.

Direktur NASA, Teddy Sanders (Jeff Daniels) merasakan dilema antara mengorbankan satu nyawa (Watney) atau mencoreng institusinya. Sanders berseberangan dengan Henderson (Sean Bean) dan Vincent Kapoor (Chiwetel Ejiofor) yang optimis.

Komandan Melissa Lewis dan para astronot , Rick Martinez (Michael Pena), Johansen (Kate Mara),  Chris Beck (Sebastian Stan), dan Alex Vogel (Aksel Hennie) berusaha menolong Watney tanpa harus mendarat di Mars.

Secara sinematografi The Martian memang jawara. Pembawaan aktor Matt Damon sebagai astronot penuh tekanan juga apik. Ada saatnya dia bergurau sendiri dan nangis sendiri. Juga bagaimana transformasi fisiknya, dari gempal menjadi kurus. Kehadiran musik lawas di Habitat cukup menganulir kesunyian di Mars yang mana lebih sering terdengar suara badai.

Untuk segmen di Bumi ya standar khas Hollywood. Perdebatan dan obrolan berdiksi sainstifik. Nggak perlu mumet lah sama obrolan mereka. Ambil saja benang merahnya dan anyaman cerita bakal mengasyikkan.

Dan adegan tepuk tangan kegirangan banyak banget muncul di ruang kontrol NASA dan bikin basi. Adegan basi ini sebetulnya bisa elegan kalau ditakar pas dosisnya. Termasuk, karakter-karakternya bisa dipersempit aja. Biar nggak mubazir dan menyesakkan layar. Misal si tokoh Rich Purnell (Donald Glover), ahli astrodinamika itu dikembangkan lebih banyak. Dan aktor-aktor Tiongkok dieliminasi aja. Well, memang pasar di Tiongkok besar sih buat Hollywood tapi jangan dikit-dikit Tiongkok. Kita kan jadi jenuh. Kalau bisa bikin subplot parsial aja khusus Tiongkok kayak Iron Man 3 itu loh.

Intinya film Ridley Scott ini keren lah, walau secara drama-emosional masih di bawah Interstellar-nya Christopher Nolan.

Kamis, 01 Oktober 2015

176. Misteri Penunggang Kuda Buntung

Pada pengujung abad 18, seorang detektif-polisi rasional ditugaskan menyelidiki kasus teror penunggang kuda buntung yang hobi menebas kepala orang di desa suram bernama Sleepy Hollow di Kabupaten Westchester. Ichabod Crane (Johnny Depp), nama detektif itu, sekaligus melakukan uji coba pada penanganan kriminal secara ilmiah dan modern, seperti otopsi dan penyelidikan-penyidikan komprehensif dan logis. Itu lantaran di Kota New York masih diterapkan hukum kuno. Antara lain tidak adanya asas praduga tak bersalah.

Sleepy Hollow (1999)

Di desa muram dan kelabu itu, Ichabod dihadapkan pada hal yang melampaui kasus natural: supranatural. Korban antara lain si juragan tanah Peter Van Garrett (Martin Landau), anaknya, dan janda Winship, simpanannya. Lalu berlanjut ke korban-korban selanjutnya. Rupanya target penunggang kuda tidak acak, melainkan terencana.

Penunggang misterius ialah seorang pembantai ulung di era perang revolusi Amerika yang hobi memenggal kepala musuhnya. Ada masanya ia bernasib sama, dan arwahnya diperdaya oleh seorang wanita yang menggadaikan jiwanya pada setan. Arwah penunggang kuda tersebut dikendalikan oleh wanita yang menyimpan api dendam di dada pada keluarga Peter Van Garret dan keluarga Van Tassel (Michael Gambon).

Dibantu oleh anak pembantu keluarga Van Garret yang juga jadi korban, Masbath Jr. (Marc Pickering) dan Katrina (Christina Ricci), anak Van Tassel. Bagaimanapun selalu ada api sebelum asap membumbung di desa Sleepy Hollow. Masih dengan kerja ilmiah, Ichabod takut-takut berani membongkar pelan-pelan misteri di balik keangkaramurkaan Sang Penunggang Kuda Buntung (Christopher Walken/Ray Park).

Gaya Tim Burton menampilkan desa Sleepy Hollow dengan tonase warna dan efek gelap pasti pas dengan suasana cerita. Nggak ada plot bertele-tele. 105 menit serasa padat dan meneror. Untuk pembawaan khas Johnny Depp yang agak slengean dan galau akibat memori traumatik masa lalu bersama ayahnya yang kerap menganiaya ibunya. Dia semakin karam ketika dihadapkan pada ketakutan dan bagaimana mampu menghadapi ketakutannya dengan kepala tegak. Christina Ricci sebagai Katrina tampil sebagai gadis bersahabat yang disalahpahami oleh Ichabod Crane.

Musik latar film ini juga terdengar artistik dan mempertebal suasana film yang dipinang dari cerpen milik Washington Irving berjudul The Legend of Sleepy Holow. Pada akhirnya habis gelap terbitlah terang. Awal abad baru datang. Selamat tinggal hukuman kuno.