Kamis, 11 Desember 2014

155. Domo Arigato, Doraemon

Doraemon ialah idola pop lintas zaman dan negara. Paling tidak bagi generasi 70-an hingga kini. Animenya masih berkibar di RCTI dan layar perak, manganya (komik) masih mejeng di rak toko buku di saat buku lain sudah didepak ke area cuci gudang.

Tahun ini tiga rumah produksi Jepang gotong royong dengan ambisi besar: memboyong versi animasi dwimatra (2D) Doraemon ke dalam bentuk trimatra (3D) dengan judul Stand By Me Doraemon (SBMD). Tren ini pernah dilakukan oleh Nickelodeon Movies melalui The Adventures of Tintin pada 2011 dan studio yang sama lewat The Spongebob Movie: Sponge Out of Water tahun depan. Plot SBMD merupakan potongan seri-seri manga seperti "All the Way From the Country of the Future", "Romance in Snowy Mountain", "Nobita's the night Before a Wedding", dan "Goodbye, Doraemon...".

STAND BY ME DORAEMON
Pengisi suara: Megumi Ohara, Yumi Kakazu, Subaru Kimura, Tomokazu Seki, Shihoko Hagino, Wasabi Mizuta.
Penulis skenario: Takashi Yamazaki, berdasar komik karya duo Fujiko F. Fujio (Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko).
Sutradara: Takashi Yamazaki, Ryuchi Yagi.
Produksi dan distribusi: Shirogumi, Robot Communications, Shin-Ei Animations, dan Toho.

Prolog dibuka dengan gambar Nobi Nobita (Megumi Ohara) terbang melayang di angkasa lantaran dipanggil Shizuka Minamoto (Yumi Kakazu) dalam mimpi--dasar cinta monyet--sampai... tentu saja terlambat sekolah dan dihukum di depan kelas. Lalu diledek oleh Giant/Takeshi Gouda (Subaru Kimura) dan Suneo Honekawa (Tomokazu Seki). Itu generik sekali.

Suatu hari Sewashi (Yoshiko Kamei) yang adalah cucunya cucu Nobita (generasi keempat keturunan Nobita) datang dari masa depan pada abad 22 dalam misi membantu dan membahagiakan kakek buyutnya dengan bantuan robot kucing bernama Doraemon (Wasabi Mizuta). Misi besarnya adalah supaya di masa depan Nobita bisa sukses dan menikah dengan Shizuka.

Tapi itu bukan perkara mudah sebab rival terberatnya adalah Dekisugi (Shihoko Hagino). Anak yang rajin belajar dan berkemauan keras. Alat-alat Doraemon yang legendaris hadir dengan sekuen cepat karena sutradara merasa penonton sudah akrab dengannya. Sebut saja demonstrasi Baling-Baling Bambu yang digarap sangat epik ketika Nobita pertama kali mencobanya. Kocak dan koplak, yah sebagian komedinya splastick sih. Tak mungkin tawa penonton tak pecah. Bisa dibilang SBMD lebih lucu dan enggak sesendu yang diperkirakan.

Detail rambut Nobita sangat teliti meski tidak seteliti tokoh Merida dalam Brave. Apalagi latar kota masa depan yang terlalu futuristik. Warna-warni pastel. Deru badai salju yang terasa hidup. Sayangnya perancang musik malu-malu menyisipkan selirik-dua lirik lagu Himawari no Yakusoku/Janji Bunga Matahari pada slot yang tepat, malah saat tutup layar baru keluar.

Jika SBMD dilihat secara tunggal, maksudnya Anda tidak mengenal Doraemon cs sama sekali, bisa dibilang film ini terasa prematur. Penulis skenario seolah sprinter yang terengah-engah menjalin banyak cuplikan manganya dalam rentang waktu 90-an menit kendati mampu menginjak garis finis dengan sukses (enggak tega bilang... dengan klise... karena Yamakazi patuh pada pakem manganya meski sedikit beda di bagian pertama kali Nobita bertemu Doraemon. Di manga dan anime ketemu siang hari, di SBMD malam). Bisa dibilang tidak banyak studio animasi yang berani memproduksi fitur animasi lebih dari 100 menit. Ini berisiko bikin anggaran membengkak dan tahap produksi jadi lebih lama.

Stand By Me cukup menghibur dan sayang dilewatkan sebagai tontonan ujung tahun. Baik sebagai nostalgia maupun hiburan keluarga bagi yang sudah berkeluarga. Ditayangkan di jaringan sinema blitzmegaplex, Cinemaxx, dan Platinum Cineplex.