Minggu, 25 Desember 2016

196. Kisah-Kasih di Kosmos (review film Passengers 2016)

Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
Seperti takkan pernah pulang, kau membias di udara dan terhempaskan cahaya

(lirik lagu Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa — Frau dgn. Ugoran Prasad)

Kosmos merupakan rimba buas nan dingin lagi nirbatas dalam sejarah pengetahuan manusia. Manusia sendiri penengah antara mikro dan makrokosmos menurut desain neoplatonik Yunani kuno. Tiada manusia yang mampu menembus pucuk langit kecuali dengan ilmu. Alkisah, kapal antarbintang Avalon menjelajah membawa 5000 penumpang dan 250 kru (semua berhibernasi panjang) dari Bumi ke Homestead II—planet kosong serupa Bumi di sistem bintang Bhakti. Berupa misi kolonisasi manusia di planet baru.

Jim Preston (Chris Pratt), mekanik yang terbangun dari hibernasi panjang akibat malfungsi kapsulnya. Lama perjalanan 120 tahun waktu Bumi. Baru 30 tahun tertidur Jim terbangun dan depresi menghadapi sisa 90 tahun sendiri dengan metabolisme tubuh manusia normal, kecuali hanya ditemani android-bartender bernama Arthur (Michael Sheen). Mati kesepian dalam dinding baja. Ada pikiran nekat di benak Jim. Ia ingin membangunkan penumpang lain dalam kapsul, yaitu Aurora Lane (Jennifer Lawrence), penulis cantik yang ia sukai ketika membaca rekaman pribadi Aurora. Terbangunlah Aurora tanpa tahu Jim yang membangunkannya.

Sepasang pria-wanita dalam dinding baja yang dingin dan senyap pasti ada gesekan-gesekan romansa, memang itu rencana Jim. Adegan sepasang kekasih yang bercinta di luar angkasa, dialog-dialog gombal, termasuk lawakan-lawakan kecil. Bumbu-bumbu itu terlumat dan kian harum bersama sumbu konflik yang akan meledak. Aurora murka saat tahu kenyataannya. Tadinya cinta berubah benci. Namun benci saja bukan pilihan terbaik. Sistem permesinan dan catudaya yang sedari awal bermasalah memuncak seiring amarah Auora. Meski kepala dek Avalon terbangun, Gus (Laurence Fishburne), tetapi tidak banyak membantu.

Akankah Jim dan Aurora berhasil memperbaiki sistem catudaya reaktor nuklir yang kian membara dan berisiko menjeblukkan mesin, membunuh ribuan manusia koloni di Avalon? Pertanyaan ini tak perlu ditunjukkan ke sinema Amerika. Sebab perselingkuhan antara Hollywood dan mimpi Amerika sudah berpola mengulang. Passengers yang disutradarai sineas Norwegia—Morten Tyldum (film debut Amerika-nya The Imitation Game) mencoba mengalir, ringan, manis, tegang, dan tidak berusaha pintar dengan istilah-istilah fiksi ilmiah astronominya.

Performa Lawrence tak perlu diragukan (peraih Academy Awards di Silver Linings Playbook). Dia menyuntikkan akting psikologis wanita penuh letupan. Walau bahasa mata Chris Pratt kurang meyakinkan untuk pria yang sedang kasmaran. Tapi tidak terlalu buruk sih gesekan molekul cinta mereka. Memuaskan.

Minggu, 11 Desember 2016

195. Aksi Amnesia Yang Mudah Terlupakan [review Headshot 2016)

Bagaimana film laga yang bagus? Yang banyak bercerita atau banyak beraksi? Keduanya bisa bagus. Cerita ibarat aliran sungai dan para aktor berlayar dengan perahunya (juga komponen-komponen lain penyokong pelayaran). Bicara Headshot teringat The Raid 2: Iko Uwais, Julie Estelle, Very T. Yulisman, silat, sadistis, namun naskah Headshot teramat tipis sehingga terasa begitu kepayahan mengejar sekuen-sekuen laga nan begitu padat.

Dengan prolog kerusuhan adu tembak di penjara, adegan berganti ke sosok Ishmael/Abdi (Iko Uwais) bersama dokter muda-cantik Ailin (Chelsea Islan)—terbaring di ranjang dengan diagnosis amnesia retrogade akibat trauma tembakan. Mengingatkan akan film laga terkeren Oldboy (2003) yang amnesia akibat hipnosis. Ishmael tidak kenal siapa dirinya dan apa yang terjadi padanya. Fragmen per fragmen memori Ishmael muncul bersamaan dengan stimulus yang diterimanya.

Kerusuhan di penjara ada hubungannya dengan Ishmael. Lee (Sunny Pang) ialah gembong pemasok senjata haram yang merekrut anak-anak pesisir untuk dijadikan mesin pembunuh. Dia disebut bapak-dari-neraka. Lee bersama anak-anaknya: Rika (Julie Estelle), Tejo (David Hendrawan), Tano (Zack Lee), Besi (Very T. Yulisman) memburu Ishmael untuk dibantai. Menjadikan Ailin sebagai umpan.

Dengan aksi tembak-tembakan ala sinema yang suka melanggar logika (perhatikan jumlah pelor yang ditembakkan pada duel Abdi-Tejo), adu silat, tusuk-tusukan disertai darah segar menghambur dalam gerakan lambat, Headshot membuat meringis dan hati jeri. Sayang, terlalu banyak bikin jenuh dan garing. Seperti rumus abadi: terlalu banyak hantu nongol dalam film horor, rasa ngeri akan kebal. Terlalu melodrama dalam film romansa, akan terasa picisan.

Sutradara duo Kimo Stamboel-Timo Tjahjanto (Timo rangkap sebagai penulis) bagi saya kurang berhasil memegang Headshot. Tapi sinematografinnya cukup memesona. Akting aktor Singapura Sunny Pang lah yang cukup mencuri perhatian. Pemilihan Chelsea Islan sebagai dokter Ailin seperti salah pilih aktris. Kalau yang dipilih Nurul Arifin sepertinya akan meyakinkan, sayang dia sudah tua.

Headshot tidak terlalu buruk, tapi juga tidak sebaik The Raid 2. Gampang terlupakan, tak membekas di hati.