Minggu, 27 September 2015

175. Tatkala Monster Terlibat Perang Saudara

Didaulat sebagai film Tiongkok (bahasa mandarin) super laris hingga hari ini, Monster Hunt a.k.a Zhuō Yāo (2015) menyerobot singgasana yang diduduki oleh Lost In Thailand (2012). Disutradarai Raman Hui, astrada film Shrek The Third (2007).

Berformat hibrida manusia dan animasi. Bergaya aksi komedi. Bagaimana bisa Monster Hunt menyerok pundi-pundi Rp 3 T dalam 10 hari penayangannya?

Hikayatnya, di dunia monster terjadi pemberontakan oleh monster jahat pada monster baik. Motifnya menumbangkan pemerintahan lama. Setelah Sang Raja mati, Sang Ratu mesti menyelamatkan bayi di rahimnya agar terlahir selamat sentosa. Dia bersama beberapa pengikut setianya, termasuk pasutri monster Zhugao dan Pangying (diperankan dan diisi suara oleh Eric Tsang dan Sandra Ng), melarikan diri dari kejaran monster jahat ke dunia manusia.

Di desa Yongning, tempat para monster tinggal setelah bertikai dengan manusia berabad lalu, hidup Kades muda Tianyin (Jing Boran), yang bahkan tidak sanggup melerai warganya yang berantem. Bapaknya kabur, konon ingin memburu monster. Cuma ada neneknya yang sudah pikun.

Suatu kesempatan, Tianyin diludahi Sang Ratu untuk kemudian memindahkan bayinya dari rahim ke perut Tianyin lewat mulut. Sekonyong-konyong, Tianyin bunting bayi monster. Muncullah perempuan pemburu monster, Xiaolan (Bai Baihe). Dia mengikuti Tianyin dan merawat Wuba, bayi monster nan imut bagai lobak. Motifnya tentu saja ekonomi, bayi monster ini diburu Biro Perburuan Monster (BPM) dan harganya mahal.

Apalagi Ketua BPM Ge Qianhu (Wallace Hung) sangat ambisius untuk menangkap Wuba dan menyantapnya hidup-hidup.

Berhasilkah Ge Qianhu, yang mana merupakan kejutan tersendiri dalam tubuh BPM? Apakah manusia masih bermusuhan dengan monster?

Ada hal klise dari pesan filmnya. Bagaimana kita tetap menghargai perbedaan dan welas asih. Filmnya tetap segar dan menghibur. Seperti CJ-7-nya Stephen Chow. Karena konsep gambarnya sengaja tidak realisme (terlepas dari sisi fantasinya), maka Base Fx selaku pembuat efek visualnya perlu untuk tidak terlalu menghaluskan obyek animasinya. Namanya juga hybrid live action-CGI. Luwes kok obyeknya. Di atas standar Asia.

Walau jahitan cerita yang ditulis Alan Yuen terasa ada yang bolong. Si Pangeran Wuba merupakan target VVIP yang sangat perlu diselamatkan demi kejayaan dunia monster (?). Lalu apa? Bahkan tidak dijelaskan bagaimana rencana selanjutnya dari Wuba ini. Tinggal di desa Yongning? Ya mungkin jatuhnya fantasi lucu-lucuan saja jadi dunia monsternya tidak perlu dibangun terlalu kompleks.

Jangan lupakan beberapa klip lagu serasa musikal, salah satunya "Mi gu ba nu gu ba ta gu ba". Sedang tayang di Cinemaxx dan Cgv Blitz.

Minggu, 20 September 2015

174. Foya-foya Dengan Uang Haram

Sekelompok lelaki berjas memakan apel. Mereka bersiap mengejar empat kopor berisi duit haram milik CEO (Kim Ju Hyeok) yang dibawa sebuah sedan. Tanpa dinyana mobil itu diseruduk truk sampah. Oleh petugas derek-mobil-rongsok bernama Na-mi, ditemukanlah harta itu.

Ji-Noo (Ryoo Seung-Bum), salah satu lelaki berjas membuntuti Na-Mi. Tanpa tedeng aling-aling Na-mi (Koh Joon Hee) membolehkan Ji-Noo dan seorang Afro-Kanada, Yakuboo (Sam Okyere) bersama istrinya Jung Sok (Ryu Hyun-kung), berfoya-foya dengan duit di koper itu. Agak aneh sih pendekatannya. Namanya juga uang haram eksponen haram, dibuang sayang dimakan ketimpa malang.

Mereka berempat dikejar-kejar oleh sang pemilik uang melalui sekelompok lelaki berjas, kecuali Ji-No yang mana diam-diam menikmati uang dan seks bersama Na-mi.

Lelaki berjas yang dipimpin In-Soo (Kim Eung Soo) mengejar dan menyelidiki empat sekawan penjarah uang miliaran rupiah itu.

Tak terlalu jelas ada apa sebenarnya di balik perebutan doku itu. Yang jelas itu doku haram, hasil korupsi atau mungkin ilegal. Fondasi cerita serasa subtil. Dengan diproduksi oleh 20th Century Fox Korea, Intimate Enemies mencoba beda dalam genrenya sendiri. Komedi tapi tidak lucu, bukan karena gagal melucu. Laga namun tidak jor-joran. Sangat riskan sih.

Sebagai spektator kita ingin duo Na-mi dan Ji-no jago mengatasi masalah akibat perbuatannya. Ya paling tidak karakter berkembang sesuai konsekuensi cerita. Punya motivasi yang nyata. Balik lagi sih ke naskah filmnya. Apa ini tujuan Im Sang-Soo yang duduk di kursi sutradara. Janggal. Semi-surealisme. Tidak menginjak bumi tidak menyundul langit. Bagi beberapa orang menganggap ceritanya gaje, tapi sejatinya hanya samar. Karena plot kejadiannya tiba-tiba muncul aja tanpa sandaran konteks yang jelas.

Pesan moralnya sih universal, bagaimana materialisme seringkali mengikis kemurnian nurani manusia.

Usaha Im Sang-Soo sangat keren, namun antara penyutradaraan, penokohan, dan naskah kurang kohesif.

Selasa, 15 September 2015

173. Distopia Rasa Zombie

Saga distopia dengan tokoh para remaja ini masih berlanjut dari film pertamanya tahun lalu, The Maze Runner. Babak kedua kisah ini berjudul The Scorch Trials.

Setelah melalu ujian berat di labirin (maze) para Glader yang selamat "diselamatkan" oleh W.C.K.D. di markas berdinding baja tebal. Tempat yang nyaman dan aman bila dibandingkan di labirin dulu, begitu kira-kira kata Newt (Thomas Brodie-Sangster). Namun Thomas tidak percaya begitu saja terlebih ketika Teresa (Kaya Scodelario) dibawa anggota medis tanpa penjelasan.

Menurut Thomas (Dylan O'Brien) dan temannya, Aris (Jacob Lofland), W.C.K.D menyimpan banyak rahasia dan konspirasi. Mulai dari menggembleng ketahanan tubuh para remaja di labirin hingga mencapai sistem imun tubuh yang berevolusi maju. Darah (serum) mereka bisa menjadi vaksin untuk mengobati infeksi suar (virus zombie).

Karena dipenuhi syak wasangka, Thomas dkk memutuskan cabut dari markas WCKD. Pemeo klasik: keluar kandang singa masuk mulut buaya; itulah yang terjadi pada bocah-bocah remaja itu. Di luar markas, area yang disebut Scorch sebagai ekosistem gurun tandus dan berbatu, mereka mesti bertempur melawan panas, haus, petir, dan zombie. Tujuan mereka ke pegunungan di mana faksi Right Arm bermukim. Right Arm ialah faksi yang melawan WCKD.

Dalam perjalanan ke gunung itulah naskah film bergulir sebagai wujud sinema beraroma horor-ilmiah dengan bahan baku zombie dan geledek.

Entah apa filmnya terlalu berlarat-larat atau memang naskah adaptasinya yang encer dengan durasi mubazir 130 menit, Scorch Trials bikin saya menguap berkali-kali. Sebagai bukan pembaca novelnya kok aku merasa ada yang salah dengan naskahnya. Dan aku yakin sekalipun mungkin naskah aslinya (novelnya) jelek paling nggak dia punya semacam kedalaman sensasi atau suasana atau apalah itu.

Masa iya sementah ini (setengah mateng sih)? Akting pemain-pemainnya medioker, sisi dramanya kurang emosional, gangguan zombie yang terkesan murahan, pokoknya ibarat kamu minum es teh manis segelas cembung tapi kurang gula dan es batu. Saya rasa Mas Wes Ball (sutradara) nggak suka es teh manis LOL.

Tetapi... sinematografinya bagus sih.

Minggu, 13 September 2015

172. Alkisah Tentang Kisah-kisah

Tale of Tales (Il Racconto dei Racconti) merupakan omnibus fantasi-istana sentris dengan tiga keping cerita. Film diangkat dari syair klasik Italia, Pentamerone. Konon, Pentamerone menginspirasi penulis sekaliber Hans Christian Andersen, Grimm bersaudara, dan Charles Perrault.

Disutradari Matteo Garrone di bawah bendera Archimede Film dan Le Pact, layar dibuka dengan kisah Raja-Ratu yang dihibur kelompok sirkus. Semua orang tertawa bahagia kecuali Sang Ratu (Salma Hayek). Dia belum punya pewaris tahta. Suatu malam datang tamu misterius yang menawarinya keajaiban: Ratu bisa hamil dan melahirkan dalam semalam dengan syarat Sang Raja mesti membunuh monster laut dan jantung monster itu harus dimasak oleh perawan dan Sang Ratu memakan jantung itu.

Berhasil! Bukan tanpa efek samping tapi. Perawan yang masak juga hamil dan memiliki anak yang kembar identik dengan anak Ratu. Jonah (Jonah Lees; anak si perawan) dan Elias (Christian Lees; anak Ratu). Mereka bersahabat tapi Ratu tak setuju dan selalu menghalang-halangi mereka. Hingga tamu misterius kembali datang dan Sang Ratu mesti berkorban demi ambisinya memisahkan Jonah dan Elias.

Keping kedua. Di Istana Altomonte, Sang Raja (Toby Jones) tinggal bersama puterinya, Violet. Tatkala Puteri Violet (Bebe Cave) bernyanyi dengan gitarnya, Ayahnya malah sibuk dengan kutu yang mengganggunya. Kutu itu akhirnya dipiara Raja dan tumbuh sebesar babi. Hingga si kutu besar itu mati dan kulitnya dipajang sebagai tebakan pada sayembara menyunting puterinya yang kebelet kawin.

Apa pasal, Puteri Violet justru disunting oleh manusia ogre. Tinggal di gua tebing, makan daging mentah, sampai diselamatkan keluarga sirkus.

Keping terakhir. Di kerajaan Roccaforte, Sang Raja (Vincent Cassel) mendengar senandung merdu di belakang istana. Pemilik suara ialah wanita tua keriput namun Raja mengira gadis cantik. Raja meminta wanita itu--antara Dora dan Imma--untuk datang ke kamarnya. Dora (Hayley Carmichael) yang menyanggupi dengan syarat semua lilin di istana mati. Karena penasaran, Raja melihat rupa asli dan mencampakkannya ke hutan. Dengan bantuan nenek sihir, Dora menjadi muda-cantik dan dinikahi oleh Raja.

Imma (Shirley Henderson) diundang ke resepsi saudarinya. Imma cemburu pada rupa Dora. Frustasi dan nekat, Imma malah menguliti kulitnya.

Tale of Tales bukan semacam omnibus yang tiap filmnya terpisah dan tak terkait. Beberapa tokoh saling terkait dalam satu lanskap geografi yang sama, bahkan di akhir film mereka berkumpul di balairung manakala Puteri Violet dinobatkan menjadi Ratu.

Tale of Tales mengambil bentuk fantasi Eropa yang cenderung gelap dan vulgar, sebut saja pendahulunya macam El Laberinto del Fauno (2006) dan La Belle Et La Bête (2014).

Tidak seringan dan seceria Mirror Mirror-nya Lilly Collins, Cinderalla-nya Lily James, bahkan Alice in Wonderland yang masih gelap-moderat.

Kelemahan film ini pada struktur penuturan cerita-ceritanya yang terasa dominan di satu cerita dan kedodoran di cerita lain. Seperti pada keping pertama yang hilang pesonanya digerus keping ketiga yang lebih bertenaga dan mengasyikan. Jika boleh dibredel satu satu dari keping satu sampai tiga masing-masing dapat: 2,5/5, 3/5, dan 4/5.

Il Racconto dei Racconti menyisipkan pesan moral bahwasanya keegoisan seseorang dalam obsesinya akan cinta justru bisa mendesktruksi makna cinta itu sendiri. Messaggio classico della fiaba classica.

Minggu, 06 September 2015

171. Konflik Tanah Leviathan

Kata Leviathan tertulis di Kitab Ayub (Injil). Kepercayaan Kristen cenderung mengasosiasikan Leviathan dengan setan. Dalam wujud mitologi berupa naga berkepala banyak di samudera.

Dalam film buatan Rusia yang pertama kali dirilis di De Cannes Mei 2014, Leviathan menjadi semacam simbologi kejahatan atau kehancuran atau cobaan dari dalam dan luar diri.

Cerita bermula dari Koyla (Aleksei Serebryakov), si mekanik mobil, dan istri keduanya, Lilya (Elena Lyadova) serta anak bujangnya yang bengal, Roma (Sergey Pokhodyaev). Yang mana, properti pribadi mereka akan dibebaslahankan oleh negara demi kepentingan umum, dalam hal ini akan dibangun menara telekomunikasi oleh Walikota Vadim (Roman Madyanov), di wilayah Pribrezhny. Biaya kompensasi ganti rugi yang rendah bikin Koyla gusar dan harus melawan balik dengan menyewa pengacara dari Moskow, Dima (Vladimir Vdovichenkov).

Dalam konflik agraria di banyak negara, rakyat yang terusir selalu menjadi pecundang yang dimarjinalkan. Apalagi hukum selalu tumpul ke atas. Walikota Vadim sebagai sosok licik munafik tentulah punya kekuatan untuk melawan balik dengan tangan kotornya. Dia mengancam Dima, memfitnah Koyla, dan membeli hukum.

Apalah daya semut melawan gajah?

Berdurasi 140 menit, film pasti akan membosankan bila terus menyorot sengketa tanah antara rakyat dan pemerintah. Rangkap sebagai sutradara dan penulis, Andrey Zvyagintsev dibantu Oleg Negin merancang cerita dalam sub plot yang tidak mengganggu plot utama. Perselingkuhan Dima-Lilya, pemberontakan ala remaja--Roma, dan kepercayaan Dima-Kolya. Juga efek dari tema cerita utama; di manakah keadilan bagi rakyat biasa?

Nuansa muram dari cara bertutur dan merekam gambar menjadikan Leviathan lebih serius dan kelam dibanding kompetitornya di Oscar 2015 yaitu Ida dari Polandia. Mungkin para juri Oscar masih merasa film-film Yahudi macam Ida masih seksi dan menggemaskan.

Tema konflik agraria atau sengketa tanah masih sangat relevan di kehidupan masyarakat kita. Baik yang berdampak pada kerugian material dan non material maupun kerugian lingkungan hidup. Seperti sengketa tanah Mesuji di Lampung, kontra warga Rembang dan PT Semen, termasuk seringnya bentrok petani-TNI yang detailnya bisa ditelusuri sendiri di Google.