Sabtu, 23 Februari 2008

29. gaya-gaya fotografer [ part 2 ]







Lihat juga bagian pertama[ arsip tahun 2007 ]

Minggu, 17 Februari 2008

28. Futur ( stagnan ba'da dinamis )




Ane ini sedang futur




terbukti dengan dateng ogah-ogahan ke pengajian tiap pekan


dengan alasan klasik, kuliahlah, sekolahlah, lelahlah, sibuklah, inilah, itulah




Ane ini sedang futur




jarang baca buku tentang islam,


lagi demen baca koran


dulu tilawah tidak pernah ketinggalan


sekarang satu lembar udah lumayan


tilawah udah kagak lagi berkesan


nonton layar emas ketagihan




Ane ini sedang futur




mulai males shalat malam


jarang bertafakur ba'da shubuh, kanan kiri salam


lantas mendengkur


apalagi waktu libur sampai menjelang zuhur




Ane ini sedang futur




lihat perut ane semakin buncit


karena junk food 'n pangsit


kalo infaq mulai sedikit dan pelit


apalagi shoum sunnah perut rasanya begah




Ente tau ane lagi futur




sedikit dzikir banyakkan tidur


belajar ngawur rengking pun ancur


shohib-shohib kagak ada yang negur




Ente tau ane lagi futur




hati beku otak ngelantur


mikirin orang sedulur


diri sendiri kagak pernah ngukur




Ente tau lah ane sekarang




seneng duduk di kursi goyang


perut kenyang


hati melayang


mulut sibuk ngomongin orang


aib sendiri kagak kebayang




Ente tau ane bengal




bangun malam sering jarang


otak bebal banyak mengkhayal


udah lupa yang namanya ajal




Ente tau ane begini




udah sok tau seneng dipuji


ngomong sok suci kayak murobbi


kagak ngaca diri sendiri




Ente tau ane gegabah




petantang-petenteng merasa gagah


diri ngaku ikhwah


kalo mau muhasabah


diri itu gak beda sama sampah




Ente tau ane sekarang




udah kalah di medan perang


ane pengen pulang kandang


ke tempat ane dulu datang




Ane ini lagi futur




tak lagi pandai bersyukur


seneng disanjung dikritik murung




Ane ini lagi futur




males ngurusin dakwah


rajin bikin ortu marah


sedikit sekali muhasabah


sering sekali mengghibah




Ya, ane memang lagi futur




mengapa ane futur?


mengapa tak ada satu ikhwah pun yang menegur dan menghibur


kenapa batas-batas mulai mengendur


kepura-puraan, basa-basi kelakuan makin subur


kenapa di antara kita sudah tidak jujur


kenapa ukhuwah di antara kita sudah mulai luntur


kenapa di antara kita hanya pandai bertutur




ya Allah berikan hambamu ini pelipur


agar saya tak semakin futur


apalagi semakin tersungkur






bersegeralah menuju ampunan Allah

Sabtu, 09 Februari 2008

27. Bocah pembeli es cream



Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun berjalan menuju ke sebuah gerai tempat penjual eskrim. Karena pendek, ia terpaksa memanjat untuk bisa melihat si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana hingar bingar mal yang serba wangi dan indah.

“Mbak sundae cream harganya berapa?” si bocah bertanya.
“Lima ribu rupiah,” yang ditanya menjawab.

Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung recehan di tangannya demngan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih “berduit” ngantre di belakang pembeli ingusan itu.

“Kalau plain cream berapa?”
Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, “Tiga ribu lima ratus”.

Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, ” Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak,” kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.

Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi.

Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.

26. Alamat-alamat Email [ part 1 ]




Di bawah ini adalah beberapa alamat-alamat email di Indonesia dan mungkin luar negeri.
Nomor 26 adalah 1 bagian dari 3 bagian, yang akan bersambung nanti.
Cara membacanya adalah, jika -Kool, V  maka dibaca V-Kool , yaitu kaca film.



-Kool, V [Edit]
info@vkool-indonesia.com

-Men, L [Edit]
consumer@l-men.com

"by BizNet", Max 3 [Edit]
customer_care@max3.co.id

"laptop", Zyrex [Edit]
cs@zyrex.com

"LPG", Meco [Edit]
LPG@meco.co.id

"market", Hero [Edit]
herocustomercare@hero.co.id


Abbott [Edit]
custservice.id@abbott.com


academy, The Next (Film_tv_prod_manag) [Edit]
tnac@thenextacademy.ac.id


advocate, Dhaniswara [Edit]
dhanis@dhaniswara.com

Aging, Asia Anti [Edit]
info@asiaantiaging.net


Ahmadiyah [Edit]
info@ahmadiyya.or.id

ALila [Edit]
jakarta@alilahotels.com

Amidjaja, Arleen [Edit] penulis
arleen315@yahoo.com


Anak Bangsa, Yayasan Cinta [Edit]
konseling@ycab.org


Antar Budaya, Yayasan Bina [Edit]
yba-info@centrin.net.id

Arnott's [Edit]
halo@arnotts.com

art institute, neep's (photography&imaging) [Edit]
info@neeps-artinstitute.com



Asri, Ngerembel (tempat_wisata) [Edit]
info@ngerembelasri.com

Asuransi, Heksalife [Edit]
ptheli@heksalife.com


Bank, Danamon [Edit]
contact.center@danamon.co.id

bank, Lippo [Edit]
telesales@lippobank.co.id

BII [Edit]
cs@bii.co.id


Bina Nusantara, Universitas [Edit]
inquiry-jw@binus.ac.id

Bodi Automotif, Asosiasi Bengkel [Edit]
sekretariat@abba.or.id

buah hati, Yayasan kita dan [Edit]
kitadanbuahhati@yahoo.com

Business School, Ukrida Penabur [Edit]
admission@upi-edu.com

Center, Jakarta Culinary [Edit]
jakartaculinarycenter@yahoo.com

center, pertamina contact [Edit]
ppc@pertamina.com


Cipta, Nusa Raya [Edit]
nrc@nusarayacipta.com

Clinic, On [Edit]
info@onclinic.co.id

Coco, Wong [Edit]
wongcoco@indo.net.id

college, Lassale (design_videoGame_3Danime) [Edit]
info@lassale.co.id



Couples Company, White Shoes & the [Edit]
whiteshoesandthecouplescompany@yahoo.co.uk

course, Direct English [Edit]
directinfo@directenglish-id.com

course, English Talk [Edit]
info@englishtalk-id.com

cycle, Polygon [Edit]
polygon@polygoncycle.com

dahlan YGAF, Rudi [Edit] program radio
friend_ygaf@yahoo.com

Dairy, Contre (Holland_Milk) [Edit]
sales@knh.nl

dental clinic, Lokartha [Edit]
Lokartha_dentalclinic@yahoo.com

Dhuafa, Dompet [Edit]
ziswaf@dompetdhuafa.or.id

macindo,AGEN Kodak [Edit]
macindo@rad.net.id

donuts, J-Co [Edit]
hello@jcodonuts.com

Duta, Aulia (labour_supplier) [Edit]
aulia_duta@yahoo.com

Education, Netherlands [Edit]
general@nec.or.id

Ericsson, Sony [Edit]
questions.id@support.sonyericsson.com

Event, Kawan [Edit]
kawanevent@yahoo.com


Farma, Kalbe [Edit]
customer@kalbefood.com

Femina [Edit]
kontak@femina-online.com

FIDS [Edit]
enquiries@fids.sg

Firex, Indo [Edit]
info@indofirex.com


Flag, Frisian [Edit]
layanan.peduli@frieslandfoods.co.id

FM, Cosmopolitan [Edit]
program@cosmopolitanfm.com

FM, Delta [Edit]
program@deltafm.net

FM, hard rock [Edit]
program@hardrockfm.com

Fm, Indika [Edit]
program@indika.co.id

FM, KL [Edit] radio Kuala Lumpur
klfm@rtm.net.my

Food, Garuda [Edit]
customer@garudafood.com

food & fun, batula [Edit]
batula@batula.net

Fritolay, Indofood [Edit]
cs.ifl@indofood.co.id

furniture&bed, Chandra Karya [Edit]
sales@chandrakarya.com

Gajah Mada, Universitas [Edit]
admissions@mm.ugm.ac.id

Giant [Edit]
layanan_giant@hero.co.id


Globe, Swallow [Edit]
info@swallow-globe.co.id

grow, zevit [Edit]
zevitgrow@thetempogroup.net

Harvest, The [Edit]
theharvest@cbn.net.id


Hati, Wisata [Edit]
cintact_us@wisatahati.com

Hidayah, Al [Edit]
buletin.alhidayah@yahoo.co.id

Hot, Detik [Edit]
redaksi@detikhot.com

Hotel, Arya Duta [Edit]
reservation@aryaduta.com

Hotel, Manhattan [Edit]
booking@hotel-manhattan.com

Hotel, Mulia [Edit]
reservation@hotelmulia.com

Hotel, Nikko [Edit]
reservation@nikkojakarta.com

Hotel, Salak [Edit]
marketing@hotelsalak.co.id

Husada, Sari [Edit]
customerservice@sarihusada.co.id

Jumat, 01 Februari 2008

25. Penantian Sang Ayah




Tersebutlah seorang ayah yang mempunyai anak. Ayah ini sangat menyayangi anaknya. Di suatu weekend, si ayah mengajak anaknya untuk pergi ke pasar malam. Mereka pulang sangat larut. Di tengah jalan, si anak melepas seat beltnya karena merasa tidak nyaman. Si ayah sudah menyuruhnya memasang kembali, namun si anak tidak menurut.

Benar saja, di salah satu tikungan, ada sebuah mobil lain melaju kencang tak terkendali. Ternyata pengemudinya mabuk. Tabrakan tak terhindarkan. Si ayah selamat, namun si anak terpental keluar. Kepalanya membentur aspal, dan menderita gegar otak yang cukup parah. Setelah berapa lama mendekam di rumah sakit, akhirnya si anak siuman. Namun ia tidak dapat melihat dan mendengar apapun. Buta tuli. Si ayah dengan sedih, hanya bisa memeluk erat anaknya, karena ia tahu hanya sentuhan dan pelukan yang bisa anaknya rasakan.

Begitulah kehidupan sang ayah dan anaknya yang buta-tuli ini. Dia senantiasa menjaga anaknya. Suatu saat si anak kepanasan dan minta es, si ayah diam saja. Sebab ia melihat anaknya sedang demam, dan es akan memperparah demam anaknya. Di suatu musim dingin, si anak memaksa berjalan ke tempat yang hangat, namun si ayah menarik keras sampai melukai tangan si anak, karena ternyata tempat 'hangat' tersebut tidak jauh dari sebuah gedung yang terbakar hebat.

Suatu kali anaknya kesal karena ayahnya membuang liontin kesukaannya. Si anak sangat marah, namun sang ayah hanya bisa menghela nafas. Komunikasinya terbatas. Ingin rasanya ia menjelaskan bahwa liontin yang tajam itu sudah berkarat. Namun apa daya si anak tidak dapat mendengar, hanya dapat merasakan. Ia hanya bisa berharap anaknya sepenuhnya percaya kalau papanya hanya melakukan yang terbaik untuk anaknya.

Saat-saat paling bahagia si ayah adalah saat dia mendengar anaknya mengutarakan perasaannya, isi hatinya. Saat anaknya mendiamkan dia, dia merasa tersiksa, namun ia senantiasa berada disamping anaknya, setia menjaganya. Dia hanya bisa berdo'a dan berharap, kalau suatu saat Allah dapat memberi mujizat. Setiap hari jam 4 pagi, dia bangun untuk mendo'akan kesembuhan anaknya. Setiap hari.

Beberapa tahun berlalu. Di suatu pagi yang cerah, sayup-sayup bunyi kicauan burung membangunkan si anak. Ternyata pendengarannya pulih! Anak itu berteriak kegirangan, sampai mengejutkan si ayah yang tertidur di sampingnya. Kemudian disusul oleh pengelihatannya. Ternyata Allah telah mengabulkan do'a sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang telah memutih dan tangan sang ayah yang telah mengeras penuh luka, si anak memeluk erat sang ayah, sambil berkata. "Ayah, terima kasih ya, selama ini engkau telah setia menjagaku."


Sahabatku, terkadang seperti Anak itulah tingkah kita. Terkadang kita Buta dan Tuli, tidak mau sedikit pun mendengar dan melihat sekeliling kita. Tapi Allah sebagai AYAH YANG BAIK dan SETIA pada Kita. Dia selalu dengan Sabar Menuntun dan Menolong Kita.

24.Zhang Da




Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa.

Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya.
Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27
Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan
kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da.

Pada tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah
untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini.

Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian
ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.

Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.

ZhangDa Merawat Papanya yang Sakit.

Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia
membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

Zhang Da menyuntik sendiri papanya.

Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan
injeksi/suntikan kepada pasiennya.

Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka
Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.

Aku Mau Mama Kembali

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da,
Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir.

Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab
apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, “Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!” demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.

Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun
tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup
untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta
sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya. Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini. Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekuatan yg
istimewa untuk menjalani ujian di dunia. Sehebat apapun ujian yg dihadapi pasti ada jalan keluarnya…ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan dan Tuhan tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan umat-Nya.

Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalami kekalahan….bangkitlah! karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapa saja yg telah berusaha sekuat kemampuannya.