Jumat, 30 Oktober 2009

93. Telanjang


Seekor ular tercengang menyaksikan tingkah polahku. Ia mengira punya "teman" baru. Ya, hari Senin (26/10) saya telanjang bulat sembari menari erotis di antara berhelai-helai guyuran air dari langit di belakang rumah. Ini bukan pornoaksi, karena hanya dilihat oleh Tuhan, malaikat, jin ifrit, kecebong, cacing, dan ular tadi.

Kalau Anda, kapan terakhir bugil yang bukan di kamar mandi/tidur? Jangan-jangan Anda telanjang sambil menari di atas tangisan orang lain. Selingkuh maksudnya. Kalau bisa seringlah kita "bertelanjang", apalagi yang hobi "menelanjangi" orang lain. Denotasinya ialah membuka aib atau mengomentari setiap jengkal keburukan/kekurangan orang lain. Siapa pun berhak mengomentari segala keburukan, itu bagian dari iman. Namun, tekanlah nafsu untuk menggunjing dan memfitnah. Pepatah klasik mengajarkan, "gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak". Seorang Imam al-Ghazali bertutur, "Pada setiap manusia selalu menonjol tujuh sifat (tercela) dalam kehidupannya sehari-hari, yaitu sifat dusta, serakah, kikir, gunjing, riya, iri hati, dan sombong."

Dengan sering "menelanjangi" orang lain, seolah-olah kita tak punya cacat cela. Atau mungkin kita pura-pura tak sadar bahwa ternyata kita jauh lebih buruk. Dan sebab mereka sudah telanjang, maka kini mereka mengenakan pakaian yang lebih baru. Akibatnya, kita tak pernah mengenakan pakaian yang baru karena kita tak mau/mampu menelanjangi diri kita sendiri. Ironis....

Minggu, 18 Oktober 2009

92. Memeluk Risiko


Tertawa berisiko tampil konyol. Menangis berisiko tampil sentimentil. Merengkuh orang lain berisiko keterlibatan. Menunjukkan perasaan berisiko menampilkan dirimu yang sesungguhnya. Mengemukakan gagasan-gagasan dan mimpi-mimpimu di hadapan umum berisiko kehilangan semua itu. Mencintai berisiko tak berbalas. Hidup berisiko mati. Berharap berisiko kecewa. Berikhtiar berisiko gagal.

Akan tetapi, risiko tetap mesti diambil. Ancaman terbesar dalam hidup adalah tak ingin memeluk risiko. Orang yang tak berani mengambil risiko, takkan mengerjakan apa pun, tak mempunyai apa pun, dan bukan apa pun. Ia mungkin dapat menjauhi derita dan sesal. Namun, ia tak bisa belajar, berubah, bertumbuh, dan mencintai.Ia budak yang terbelenggu keyakinan. Hanya pengambil risiko yang tidak membentengi kebebasannya.

Robert Holden
Timesles Wisdom for a Manic Society

Jumat, 09 Oktober 2009

91. Jengkolan


Hari ini saya dengar orang menangis histeris. Tak jelas, apakah anak-anak atau orang dewasa yang nangis. Tangisannya samar-samar, sebab kami terpaut dua rumah. Bernyanyi, "Sesungguhnya aku punya rencana. Beli rumah yang sangat sederhana sekali.RSSS." Kalau rumah saya tipe RSSS..., yaitu rumah yang sangat sederhana sekali, sempit, sampai selonjoran saja susah. He-he-he...bercanda.

Saya penasaran, lalu tanya ke papi, "Pi, siapa yang nangis?" Jawabnya, "Bang Sahrul. Dia gak bisa kencing." O iya, saya teringat kalau tadi malam papi cerita bahwa Sahrul kesulitan kencing. Ayo, tebak, kenapa dia gak bisa kencing? Dia "jengkolan"! Apa tuh jengkolan? Itu istilah dari efek kebanyakan mengonsumsi jengkol. Wah, jengkol? Itu makanan kesukaanku setelah tempe. Bayangkan sobatku, ia beli 2 kg jengkol....Kalau saya ngidam jengkol, paling-paling beli Rp 3.000 di warteg. Harga segitu dapat enam buah, yang mana itu hanya tiga butir jika mentah. Mahal ya, bo. Habis makan jengkol, gak bisa ciuman dech.

Dia, Sahrul, perawakannya gendut dan tinggi. Hmm, lucu juga kalau orang setipe dia menangis hanya karena tak bisa kencing. Lagipula bisa kencing bukan hal sepele, itu adalah rahmat. Seorang preman Pasar Senen pun bisa nangis kalau gak bisa kentut. Jadi, kentut yang bau dan bunyinya kurang sopan itu, juga termasuk rahmat.

Mbok ya, kalau ke rumah sakit alasannya yang keren. Misal, serangan jantung sebab gak terpilih jadi presiden/anggota legislatif. Atau gak bisa kencing sebab selingkuh mulu. Ini, ke rumah sakit sebab gak bisa kencing, kebanyakan makan jengkol penyebabnya.

From my diary, "Sang Pemberontak". Tanggal 2 Oktober 2009

Kalau Anda perhatikan, kisah ini kocak banget. Minimal Anda tersenyum. Kalau tidak tersenyum juga, wah...hidup Anda serius banget. Dan, jengkol bukanlah faktor tunggal penyebab "tak bisa kencing".

Senin, 05 Oktober 2009

90. kekaguman


ada seseorang yang bikin aku kagum
aku malu menyebutkan siapa dia
namun, ketika terbayang wajahnya, senyumku merekah bagai mekarnya kuntum kamboja
kadang terbesit dalam relung benakku, aku ingin menciumnya
apalagi tatapan nanarku pun dibumbui renyahnya nafsu

sayangnya, dia tak sanggup melihat diriku di antara tarian tulip di tanah rana
dia pun berjalan di garisnya sendiri, tak rela meladeni edannya pikiranku
dan, yang kuharapkan hanya menjilati remah-remah birahinya
aku masih bermandikan amisnya syahwatku, sekalipun telah berwindu-windu berenang dalam samudra tawar

hingga tak ada yang kutakuti
aku pun masih mengkhayal tentang indahnya sensasi ini
malam ini aku tetap tersenyum bagai mekarnya kuntum kamboja yang jatuh terserak di batu nisanmu