Rabu, 12 Juli 2017

Umroh Seorang Marbut


Petang menjelang. Sekejap jua surya kan tertelan ufuk angkasa. Pak Abdul repot mempersiapkan jamuan buka puasa dibantu beberapa remaja masjid. Tangannya ringkih namun gigih. Helai-helai ubannya ialah bilangan usia. Dia sejak muda sudah memakmurkan masjid. Istrinya telah tiada. Salah satu anaknya merantau ke pinggir kota.

Sebagian warga menyedekahkan makanan sebagian lain mempercayakan uang. Berkahnya Ramadhan membuat warga berlomba-berlomba bersedekah.

Masjid Mujahidin punya ketua masjid baru, Brotoseno. Seno–sapaannya–selain mengurus masjid juga bekerja di firma hukum. Baru lima bulan menikahi Asmirandah. Desainer cantik yang menghijabi keayuannya.

Seno tumbuh dan besar di lingkungan masjid. Ayahnya dulu ketua masjid yang menerima Pak Abdul sebagai marbut. Seno selalu mengaji usai magrib. Rajin shalat berjamaah. Pesantren kilat saat Ramadhan. Abdul, semasa muda, pun kerap mengarahkan shaf anak-anak yang sering ribut. Bilamana amarah sudah membuncah, hanya pelototan kecil cukup bikin mereka menggigil. Namun sesabar-sabarnya manusia dia pernah menyiram anak-anak yang bermain petasan ketika khusyuk bertarawih. Terlebih Seno meraung-raung tangannya terpanggang mercon. Kejadiannya sekitar 20 tahun silam. Abdul membopong Seno, berlari-lari, menggedor pintu klinik yang sudah tutup. Sejak itu tiada lagi petasan meletus di halaman masjid.

****

“Alhamdulillah!” Seru jamaah mendengar azan maghrib dari tv kantor masjid. Mereka karyawan, pedagang, anak-anak, dan warga sekitar.

Setelah muazin membatalkan puasa dengan setenggak air, ia sesegera mungkin melantangkan kalimat-kalimat kebesaran Allah.

Habis shalat, Pak Abdul menghampiri Seno.

“Ustad, kipas angin di shaf perempuan rusak dua.” Seno biasa dipanggil ustad. Lulusan S2 di Kairo.

“Sejak kapan Pak? Habis ini saya sampaikan ke bendahara untuk mereparasi atau beli baru.”

Dering hp Pak Abdul bernyanyi. Si bungsu cowok menelepon. Dia meminggir ke ujung serambi. “Waalaikumsalam, Jefri. Kenapa?” Deru napas di ujung telepon terengah. Jefri baru tiga bulan bekerja di minimarket setelah lulus SMA. Kini dia tinggal di mes karyawan.

“Aku dihipnosis, Pak.” Jawabnya kelesuh-kelesah.

Pak Abdul bingung, mau kaget atau panik. Belum sempat panik, Jefri mengeluh kembali. “Motor temanku hilang! Dia masih kredit, belum lunas, Pak! “

“Apa tidak diasuransikan?” Ada perasaan plong ketika Pak Abdul spontan saja mengatakannya.

Tetapi itu tidak lama. “Pihak asuransi nggak meng-cover kasus hipnosis. Sekarang aku nelpon karena temenku minta ganti rugi, setengahnya aja.”

Bagaimana kalau minta ganti semuanya?

***

Pak Abdul tak juga nyenyak. Jam dinding menuding 02.30. Ia basuh wajahnya. Tak puas sekalian ia mandi. Baju kokonya samar-samar wangi minyak jaffaron. Dalam cermin ia menggumam, bersyukur aku pernah haji dan punya simpanan untuk umroh di luar sana banyak umat yang susah berangkat haji umroh. Ia berjalan ke masjid hendak membangunkan sahur. Di sana Ustad Seno tengah bertadarus. Selayang pandang Seno melihat baju koko merah terakotanya. Pak Abdul memberi isyarat padanya untuk menyalakan mikrofon. Seno mengangguk.

“Ada apa nih Pak? Ada masalah?” Orang terdekat orang yang paling cepat tahu masalah kita. Tadinya Pak Abdul mau menyangkal tapi apa daya, dia pernah menyembunyikan masalahnya dari Seno, tak berhasil.

“Jefri, dihipnotis, Ustad. Motor temannya hilang.”

“Astagfirullah…. Kok ya bisa? Lagi sendirian?”

“Iya. Kejadiannya sore kemarin dekat jembatan susun pasar. Dia mau ganti rugi. 6 juta.”

Seno terperangah dan heran, beberapa detik berlalu dia paham. Pak Abdul pernah cerita kalau usai lebaran haji dia mau berangkat umroh. Sebenarnya keinginan dia umroh Ramadhan dengan keutamaan pahala setara haji sebagaimana dalam hadis. Tapi Pak Abdul memang belum daftar umroh. Selain dananya belum cukup, paspornya belum diperpanjang. Dia sudah punya tabungan 13 juta, katanya enam bulan lalu. Tujuh tahun lalu Pak Abdul naik haji dari biaya yayasan. Tahun ini entah awal tahun depan ia ingin ibadah umroh.

Ada alasan Pak Abdul tidak mau merepotkan anak perempuannya yang sudah beranak tiga. Saat itulah ada perasaan tak enak di benak. Mengapa tidak dia saja yang menanggung biaya umroh Pak Abdul? Biarkan Pak Abdul menolong putranya dulu.

“Ya sudah Pak. Bebannya saya minta setengahnya. Kita makan sahur dulu,” kata Seno sebagai pelipur lara. Di meja tersuguh nasi hangat. Sayur lodeh buatan Asmirandah. Tempe tepung dan telur balado.

***

“Kalau begitu kita daftarkan Pak Abdul ke travel umroh seperti Abu Tour. Ada promo umroh murah 2019, mulai 12 juta,” usul Asmirandah setelah dia diceritakan.

“Dia maunya tahun ini, paling nggak awal tahun depan, Umi.”

“Apa itu berat buat kamu, Abi?” Istrinya mendekat,mengusap jambang suaminya dengan cinta.

“Ya enggaklah. Cuma apa-apa kan mesti diomongin dulu.”

****

Takbir hari raya bertalu-talu di sehamparan Bumi. Sesudah halalbihalal, Seno dan Asmirandah merapat ke sisi Pak Abdul yang tengah duduk di teras seorang diri. Menunggu kedua anaknya berkunjung.

“Bagaimana Pak, masalah Jefri sudah beres?” Asmirandah menyapanya.

“Alhamdulillah, mbak.”

“Pak, rencananya tahun depan kami mau umroh. Bapak ikut. Masalah ongkos dan administrasi kami urus.”

Air mata Pak Abdul berlinang. Bahkan ucapan terima kasih saja dia malu mengatakannya, dia hanya sanggup memeluk Seno. Anak kecil yang dulu ia gendong ke klinik.

***

Tulisan ini dibuat dalam rangka sedang mengikuti Blog Contest Ramadhan Bersama Abutours & Travel. Tulisan lain berupa diary Ramadhan bisa kamu klik ini.

#LebihDariSekedarNikmatnyaIbadah #SemuaBisaUmroh

Dear Buk-Hari...

"Diary Ramadhan Penuh Berkah Bersama Abutours & Travel"

Dear Buk-Hari… (buku harian)

Ramadhan hari 2, 28 Mei 2017

Dear bukhari, hari Minggu puasa hari kedua. Gawe juga lagi off nih. Daripada tidur lemas di rumah aku jalan-jalan aja naik bus transjakarta. Biasa sendirian. Rencananya mau nonton Pirates of The Caribbean ke-5 di Central Park. Naik dari halte Kebayoran dan turun di halte Grogol 1-transit Grogol 2. Tapi anehnya begitu sampai di Grogol 1 aku bablas aja ke Harmoni Sentral. Malah naik koridor 6, dan turun di Warung Jati. Dalam hati film Pirates ke-4 saja sungguh menjemukan walau film itu anggaran termahal dalam sejarah (sampai saat ini). Kemudian berbalik ke koridor 1 arah Blok M. Mau nonton WonderWoman saja bulan depan.

Dahulu sebelum suka nonton bioskop, cinta pertamaku adalah toko buku, paling sering ke Gramedia Melawai. Bahkan kalau bolos sekolah pun (agak bandel dulu) larinya ke sana bareng teman. Jam 10 begitu toko dibuka langsung disambut oleh semua staf dan kru toko. Pipiku sampai memerah kalau disambut begitu. Aku kan cuma numpang baca, nggak beli. Kadang saking nggak enaknya akhirnya aku beli novel, komik, apa saja yang sedang diskon.

Begitu sampai di terminal Blok M aku masuk ke rubanah (basement) tapi aku dicegat oleh pria bertopi. Aku siap-siap kejadian buruk akan terjadi meski bulan puasa kejahatan tak kenal musim.

“Mas, saya butuh ongkos. Duit saya hilang. Dompet saya.” Dia meminta dengan lirih. Hatiku agak plong. Kusangka dia akan memalak.

“Butuh berapa?”

“10.000.”

Dia berterima kasih. Tapi tahukah Anda apa yang dia ucapkan sembari mengejek? “Bego banget nih orang, mau aja dibohongi.” Sebenarnya dia bicara pelan, tetap saja kuping mudaku yang sudah tak pernah lagi disumpal headphone ini mendengar jelas. Walau cuaca sedang berawan, seolah semua awan di atmosfer runtuh di terminal itu. Sejak awal sudah kuduga kalau lelaki itu jahat. Janggal saja kalau kehilangan dompet lalu tak bisa pulang. Tidakkah dia punya ide menaruh dua uangnya di kantong berbeda seperti saya? Setelah pulangnya aku baru sadar, mengapa tidak dia naik transjabodetabek saja, pakai  Jackcard-ku? Tidak ada uang tunai yang keluar. Aku juga bingung sih karena manajemen transjakarta yang semrawut transjabodetabek pernah berhenti beroperasi.

Aku agak dongkol. Rencanaku ke Gramedia Melawai gagal. Lagipula Gramedia Melawai sudah pindah ke Cibubur. Ada toko Gramedia baru di seberang Blok M Square yang lebih kecil.

****

Dear Buk-Hari…

Ramadhan hari 8, 3 Juni.

Sekitar seminggu lalu aku ikutan kuis dari bioskop, menebak adegan film apa dari foto yang di-post. Ternyata jawabanku tepat. Dua voucher segera mendarat ke rumah, harganya setara 100.000 rupiah. Sekejap jua aku teringat peristiwa di terminal Blok M. Inikah balasan dari berkah Ramadhan dan berkah berbagi. Kendati sesaat aku merasa dibohongi, begitu buka puasa di rumah hari itu aku ikhlaskan saja semua pada Allah. Niscaya akan dibalas. Dan alhamdulillah dibalas 10 kali lipat. Tapi tetap saja, kita mesti mawas diri pada orang asing yang gesturnya mencurigakan. Kemawasdirian kita yang berlebihan sehingga sungkan membantu orang juga kurang baik. Tetaplah menolong meski kantongmu bolong. Serahkan masalah kita pada Allah yang maha kaya dan penolong. Aamiin.

***

Buk-Hari, begitu saja pengalaman menarikku saat Ramadhan dalam rangka sedang mengikuti Blog Contest Ramadhan Bersama Abutours & Travel. Jika pembaca ingin umroh murah bisa daftar umroh ke Travel Umroh tersebut seperti Abutours. Di sana akan ada semacam generator dengan parameter yang disesuaikan dengan kebutuhan ibadah umroh, lalu keluar pula biaya umroh sesuai tempat keberangkatan, waktu, dan jenis paket. Atau mau rencana haji umroh tahun depan juga bisa. Apalagi umroh Ramadhan 2018. Terencana deh. 

Tulisan lain berupa cerpen bisa diklik di sini

#LebihDariSekedarNikmatnyaIbadah #SemuaBisaUmroh

Selasa, 06 Juni 2017

200. Sang Dewi Pencinta Kedamaian [Wonder Woman]

Jika dalam kultur Superman tokoh si maskulin selalu menyelamatkan Lois Lane, menerbangkannya di angkasa, lalu mencium bibirnya. Di Wonder Woman Diana Prince (Gal Gadot) yang mencoba menyelamatkan pria termasuk Steve Trevor (Chris Pine) di gang dari kawanan pihak Jerman yang mengejar Trevor.

Wonder Woman dilahirkan dari tangan penulis & psikolog William Marston dan seniman Harrys G Peter. Marston dapat ilham dari Margaret Sanger aktivis KB Amerika. Dalam film di Themyscira sebuah pulau tropis, hanya ada kaum amazon wanita saja. Tokoh Diana Prince si demigoddes (setengah dewi) pun konon terbuat dari tanah liat dan ditiupkan roh oleh Dewa Zeus. Reproduksi seksual jantan betina tidak terjadi di sana.

Wonder Woman disutradarai Patty Jenkins, film terakhirnya tahun 2003, Monster. Tidak banyak wanita sutradara mengarahkan proyek superhero, di antaranya Lexi Alexander dalam Punisher: War of Zone (2008) dan Patty Jenkins sendiri, sebab di Amerika pun masih kental hierarki gender. Ditakutkan wanita sutradara tidak cakap menerjemahkan kemachoan superhero, bahkan wanita superhero sekalipun, Elektra (2005) dan Catwoman (2004) yang disutradarai pria dan secara kalkulasi flop di pasaran. Maka itu bursa film pahlawan super dari komik mayoritas adalah pria pahlawan.

Di rantaian keempat DC Extended Universe—DCEU, Man of Steel, Batman V Superman, Suicide Squad, dan Wonder Woman —film bercerita awal mula Diana Prince mengenal dan masuk ke dunia manusia semasa Perang Dunia I. Dengan grafis ala (lukisan) naturalis fragmen-fragmen cerita tentang siapa suku Amazon dan mengapa terjadi banyak peperangan akibat ulah Dewa Ares, cukup memanjakan mata penonton. Dari situlah bibit cerita berplot ke Jerman versus Sekutu yang diwakilkan Inggris. Di London Trevor mesti memberikan buku catatan formula yang dia curi dari Dr. Isabel Maru (Elena Anaya) ahli racun yang berkongsi dengan Jenderal Erich Ludendorff (Danny Huston). Mereka ingin terus berperang, membunuh orang dengan racun mematikan. Diana Prince yang naif dan bergelora jiwa kawula muda maju ke garis depan bersama Trevor, Sameer agen rahasia jago menyamar (Saïd Taghmaoui), Charlie si penembak yang tukang teler (Ewen Bremner), dan Chief si Indian penunjuk jalan (Eugene Brave Rock). Diana Prince hendak membunuh Ares (Dewa Perang) yang merasuki tiap individu manusia untuk saling berperang, Trevor sedikit geli dengan ucapannya. Manusia akan tetap berperang walau dengan dan tanpa Ares, sanggah Trevor.

Pertarungan di Tanah Tak Bertuan merupakan paling indah dan menakjubkan, meski banyak gerak lambat yang agak sedikit mengganggu. Bahkan pertarungan final Diana Prince dengan Dewa Ares / Sir Patrick Morgan (David Thewlis) rasanya biasa saja. Megah tapi tidak indah. Efek visual atau CGI juga lemah di beberapa bagian khususnya pergerakan Diana ketika lompat sana-sini. Pun penampilan Gal Gadot terlalu bersih dan cantik, saya mengharapkan ia sedikit kotor dari luka dan debu. Toh tetap saja cantik dan mulus, seperti ketiaknya yang disensor tim CGI menjadi putih bersinar hingga memicu polemik kemerdekaan tubuh perempuan oleh feminis Amerika. Pembawaan Chris Pine juga mampu mengimbangi keperkasaan Diana Prince. Romansa mereka berdua terpintal lambat bersama plot utama. Bagi penonton eksyen sejati mungkin bagian ini agak menjenuhkan. Namun terbayar lunas di ujung film.

Wonder Woman dapat sensor 13 tahun ke atas oleh LSF.

Rabu, 03 Mei 2017

199. Kartini, Sang Bunga Penutup Abad

“Tubuh boleh terpasung tetapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebasnya.”

Dalam catatan sinema Indonesia pahlawan nasional Kartini sudah tiga kali bangkit dari sejarah dan berlakon dalam film R.A. Kartini (1983), Surat Cinta Untuk Kartini (2016), dan Kartini (2017). Kartini terbaru adalah garapan Hanung Bramantyo di bawah payung Legacy Pictures dan Screenplay Production.

Kartini—Trinil (diperankan Dian Sastro), adalah anak seorang bangsawan Japara. Ibunya bukan bangsawan sehingga dengan terpaksa Kartini memanggil Yu (Bibi) pada M.A. Ngasirah (Christine Hakim). Bapaknya (Dedy Sutomo) menikah lagi demi menyinambungkan kekuasaan lantaran dia hanya wedana, untuk menjadi bupati mesti menikah dengan RA Moeryam (Djenar Maesa Ayu) wanita bangsawan. Plot cerita Kartini memang familiar. Tentang gadis-gadis Jawa dalam kungkungan budaya feodalisme dan patriarki. Ada Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita) saudara-saudara Kartini yang juga mengalami laku pingitan sejak hari pertama menstruasi hingga dilamar.

Dalam masa pingitan, masnya Kartini, Kartono, (diperankan singkat oleh Reza Rahadian), memberikan kunci keluar kamar pada Kartini sebelum Kartono studi ke Belanda. Kunci untuk keluar rupanya bukan makna denotatif, melainkan kunci lemari berisi buku supaya pikiran Kartini bebas terbang sejauh mungkin. Pengadeganan baca buku dan korespondensi oleh Kartini dengan temannya, Stella (Rebecca Reijman) di Belanda divisualisasikan satu dimensi dalam ruang Kartini. Cara yang diambil Hanung Bramantyo cukup segar.

Di era kolonialisme sosok Kartini dipuja oleh orang-orang Belanda, Ovink Soer (Hans de Kraker) dan istrinya. Tapi ibu tirinya, RA Moeryam, sinis padanya. “Setinggi apa pun kamu dipuji oleh londo-londo itu, di sini tetap aku yang paling tinggi.” Termasuk menghadapi masnya yang kaku, Slamet (Denny Soemargo). Bagaimana rintangan mengaral tatkala Kartini mengajukan beasiswa ke Nederland. Titik kulminasi memuncak saat Raden Adipati Aryo Sosroningrat, bapaknya, terserang strok ringan dan Kartini gagal meraih beasiswa kemudian menikah dengan Bupati Rembang Raden Adipati Joyodiningrat (diperankan dengan karikatural oleh Dwi Sasono). Lakon Christine Hakim sebagai ibu kandung Kartini tampil dengan wajah sentimental dan penuh bakti pada suami. Air matanya memancing kelenjar lakrimalis penonton. Secara keseluruhan mengharukan tanpa jatuh menyak-menyek sekaligus disisipi humor.

Film Kartini yang syutingnya sempat tertunda setahun ini menggunakan tiga bahasa, Indonesia, Jawa, dan Belanda. Dilengkapi teks terjemahan. Ada kata yang kurang teliti untuk disunting, semisal untuk kata depan di dan di- untuk prefiks verba pasif. Sementara transisi dialog Jawa dan Indonesia sering diucapkan simultan terdengar agak berantakan. Misal satu kalimat bahasa Jawa lalu selanjutnya bahasa Indonesia. Mungkin bisa satu alinea bahasa Jawa, alinea berikutnya Indonesia. Untuk logat Jawa cuma Pak Atmo (Bondan Nusantara) yang terdengar pulen. Dia berperan sebagai pembantu keraton. 

Kartini seperti bunga penutup abad. Abad saat posisi perempuan sekadar komoditi lelaki. Tidak punya hak dan posisi yang sama dalam sosio kultural dan pendidikan, tanpa mesti melawan takdir kodrati. Sebuah tontonan bergizi bagi generasi muda, meski kurang diminati—jumlah penonton kurang memuaskan (*) 

Rabu, 08 Maret 2017

198. Sang Raja Diraja Hutan (resensi Kong Skull Island)

Melihat poster resmi Kong: Skull Island dengan nuansa lembayung senja terpaksa memancing memori poster film Apocalypse Now. Dengan latar tempat sama-sama Vietnam, dan kawasan Indochina umumnya, serta sungai dan perahu. Vietnam dan Hollywood ibarat sejoli mesra namun penuh kepalsuan. Sejak Amerika kalah perang dengan komunis Vietnam, Hollywood melahirkan sinema patriotis semacam tetralogi Rambo.

Dua tentara Jepang dan Amerika (era Perang Dunia II) mendarat di pulau berantah. Mereka bertarung hidup mati, muncullah sosok gigantik. Seekor primata (sebenarnya secara harfiah tidak berekor) dari spesies gorila. Primata yang secara DNA dekat dengan manusia setelah simpanse. Menurut catatan produksi, Kong 2017 lebih besar (85 kaki) dari King Kong 2005 (30 kaki).

Di era flowers generation, di mana The Beatles sedang didewa-dewakan, anak-anak muda menentang perang di Vietnam lewat sinematografi yang bertutur dari video-video footage. Dua orang ilmuwan Amerika meminta bantuan seorang senator untuk mensponsori misi mereka menjelajah pulau fiktif tengkorak di lautan Pasifik. Setelah perlombaan luar angkasa bersama Soviet, Amerika memasang satelit, memotret citra janggal di pulau itu. Senator menolak dengan dalih menghabiskan anggaran.

“Pak, Anda tidak mau kan keduluan Soviet?”

Seperti Asia Tenggara umumnya, Indochina juga baru 20 tahun merdeka dari Perancis. Vietnam masih dan sudah 19 tahun dicengkeram oleh aliansi SEATO yang melawan komunis. Dua ilmuwan (Bill Randa [John Goodman] dan Houston Brooks [Corey Hawkins]), fotografer jurnalis Time Mason Weaver (Brie Larson), sepasukan peleton yang dipimpin Letnan Preston Packarc (Samuel L. Jackson), dan prajurit bayaran  Inggris James Conrad (Tom Hiddlestone). Tak ketinggalan aktris Tiongkok Jing Tian sebagai San Lin si ahli biologi. Legendary kerjasama dengan Tencent Pictures asal Tiongkok demi merebut pasar menjanjikan di daratan itu.

Seperti insting hewan, mereka tidak akan mengganggu apabila tidak diganggu. Manusia selalu pongah merasa dirinya raja rantai makanan, sifat itu diperankan apik oleh Samuel L. Jackson. Tidak sampai seperempat durasi, Kong sudah mengamuk membantai iring-iringan helikopter pelempar bom. Kong Skull Island lebih simpel dan resep cerita apa adanya. Mereka masuk ke pulau neraka, bagaimana bisa keluar dari sana? Sudah. Kong adalah raja pulau hutan penyeimbang ekosistem. Musuh terbesarnya adalah kadal serupa komodo berkaki dua berjulukan Tengkorak Yang Merayap. Kadal ini lebih sangar dari T-rex di film sebelumnya. Dan fauna-fauna di Kong lebih sedikit. Hanya ada tarantula raksasa, semacam Pterodactyl, kerbau raksasa, belalang kayu, dan gurita. Tidak banyak yang buas.

Latar waktu 70an maka musiknya juga musik masa itu. Cuma tidak ada lagu Queen, The Rolling Stone, John Lennon 😁. Ada David Bowie sih. Penyuntingan visualnya bagus ya, termasuk footage, kuburan gas yang kekuningan itu, dinding-dinding api, desain make up suku pedalaman, dan panorama alam. Audionya khas film musim panas. Kursi sampai bergetar dan bokong cukup geli. Kong buatan Legendary ini disutradarai oleh sutradara yang portfolio karyanya belum banyak, Jordan Vogt-Roberts. Rencananya Kong akan satu semesta cerita dengan Godzila tahun-tahun mendatang. Harap bersabar beberapa menit setelah credit-title sebab ada adegan tambahan. 

Nah, Kong Skull Island masih cocok ditonton sekeluarga. Sensornya untuk 13 tahun ke atas. Mengandung adegan kekerasan dan agak sadis. Moderat lah.