Rabu, 17 Januari 2018

208. Seni yang Membahagiakan Banyak Orang [Greatest Showman]

Life is a circus ring, with some moments more spectacular than others —Janusz Korczak

P. T. Barnum (Hugh Jackman) dan ayahnya pernah hidup susah. Cinta monyetnya adalah Charity (Michelle Williams), anak majikan ayahnya yang penjahit. Jurang kelas sosial antara mereka memecut Barnum untuk menyejahterakan Charity dan anak-anaknya. Perusahaan kapal tempat kerjanya pailit. Lewat ide putrinya, Barnum membeli gedung Museum Amerika dan menyulap jadi sirkus musikal dengan para penampil orang-orang unik. Ada manusia tinggi, pria bertato seluruh tubuh, kurcaci, wanita berjanggut dll, yang dikisahkan termarjinalkan oleh masyarakat New York yang saat itu masih intoleran dan picik. Berlatar New York abad 19 akhir.

The Greatest Showman (TGS) menyadur kisah nyata kelompok sirkus Ringling Bros. and Barnum & Bailey Circus yang tutup tirai setelah mentas lebih dari 140 tahun. Film dibuka dengan logo klasik 20th Century Fox dan logo Fox khas TGS. Diawali tembang The Greatest Show yang mendecakkan indra. Cerita melingsir ke kehidupan miskin Barnum yang penuh cita cinta bersama Charity. Ternyanyikan di lagu A Million Dreams.

'Cause every night I lie in bed. The brightest colors fill my head. A million dreams are keeping me awake. I think of what the world could be.

Sang sutradara Michael Gracery sebelumnya berkecimpung sebagai spesialis efek visual. Terlihat lewat debut penyutradaraanya, visualisasi TGS memanjakan mata. Disokong tim penulis Bill Condonn dan Jenny Bicks dengan cerita klisenya. Jatuh bangun mendirikan bisnis pertunjukan broadway. Membangun reputasi lewat penyanyi opera Jenny Lind (Rebecca Ferguson). Menghadapi cibiran dari kelas borjuis yang belagu. Fitnah perselingkuhan yang melimbungkan rumahtangga. Ya ceritanya renyah dan tidak rumit. Kalau baca cerpen di Kompas aku suka membatin, ceritanya biasa banget, aku juga bisa nulis begitu. Tapi nggak bisa. Di situ bukan cuma cerita, ada gaya bahasa, latar, penokohan, dll yang dibuat dengan nilai kesenian tinggi.

Kisah kasih beda kelas sosial yang paling menarik terjadi pada pasangan Philip (Zac Efron)—dramawan yang gabung ke Barnum—dengan Anne (Zendaya) seorang akrobat palang gantung. Percakapan Anne dan Philip dalam Rewrite the Stars manis-getir mengekspresikan harapan dapat mengubah takdir. Penokohan penampil-penampil unik dan ganjil diwakili oleh Lettie si cewek berjanggut dan Charles kurcaci-jenderal. Selebihnya figuran. Keunikan mereka hanya tampak visual dan audio, menunjukkan tubuh dan nyanyi. Mungkin akan lebih bagus jika tiap-tiap penampil punya keahlian tersendiri seperti Anne. Komposisi pertunjukannya sedikit. Contoh ada yang bisa atraksi debus begitu, misalkan. Atraksi hewan ada, dikit, tentu hewan animasi sebab no animal were harmed during the making of this film mengikuti undang-undang federal. Jika cuma animasi, sebaiknya lebih nyirkus. Inilah salah satu alasan Barnum & Bailey Circus tutup. Eksploitasi hewan.

Lagu-lagunya rancak dan medium menjadi bagian dari narasi dan dialog. Lirik dan musik ditangani komposer yang juga membuat lagu di La La Land, Benj Pasek dan Justin Paul. Mengantarkannya pada Lagu Original Terbaik di Golden Globes tahun ini lewat lagu This is Me yang dipersembahkan dengan emosional oleh penyanyi broadway Keala Seattle—berperan sebagai Lettie cewek berjanggut.

I am brave, I am bruised. Iam who I'm meant to be, this is me. Look out 'cause here I come. And I'm marching on to the beat I drum. I'm not scared to be seen. I make no apologies, this is me

Kamis, 28 Desember 2017

207. Perang Fisik dan Mistik di Galaksi Nun Jauh (The Last Jedi)

Rangkaian trilogi ketiga (sebelumnya 4-5-6, 1-2-3, 7-8-next 9) di episode 8 dengan subjudul The Last Jedi. Jedi adalah ordo dan orang-orang yang punya bakat Force, energi semesta yang terkoneksi dengan Jedi, baik mengendalikan dan dikendalikan. Misal, bisa telekinesis. Premisnya nyambung dikit ke The Force Awakens episode 7, Rey mencari Master Jedi, Luke Skywalker. Standar ya, awalnya Rey ditolak. Diusir. Karena kekeuh akhirnya diterima. Jadi Jedi ini lazimnya bakat turunan, begitu tau Rey punya force, Master kaget. Tak bisakah Master merasakannya seperti master bisa merasakan energi mikrokosmos dan energi semesta?

Dengan naskah seringan kapas, First Order menghajar Resistance yang menginginkan kebebasan seperti Rebel Alliance memberontak pada Empire pada trilogi sebelumnya. First Order yg dikuasai Jedi sisi gelap, Kylo dan gurunya Snoke, terus-terusan menghabisi pasukan Resistance yang tersisa sedikit. Beberapa bagian terasa berlarat-larat tapi itu lumrah sih, ibarat film drama festival yang suka berlarat-larat demi mengisi kekosongan cerita. Di dua episode era milenial ini nggak ada lagi drama perpolitikan ala parlemen yang terkadang menjenuhkan. Tapi Rian Johnson si sutradara rangkap penulis lihai jaga tensi penonton, diselipkan beberapa adegan seru. Semisal kegaduhan hewan pacuan mirip kuda aneh, entah spesies apa itu.

The Last Jedi tidak punya karakter nonhumanoid (contoh Jar Jar Binks) yang mencuri perhatian—kecuali droid. Walau perang galaksi rasanya perang di Bumi saja. Star Wars manusia banget! (meminjam frasa kampanye Academy Awards: Oscar so white!). Karakter nonhumanoid di episode 8 cuma figuran. Burung yang dibawa Chewbacca hanya lucu saja termasuk makhluk di pulau Ahch-To. Karakter Kylo Ren alias Ben Solo terfigur sempurna tentang mengapa dia menjadi Dark, dan persenyawaan bersama Rey rasanya lebih cocok ke arah renjana. Setelah Hans Solo gugur di episode sebelumnya, episode ini akan jadi penampilan terakhir Princess Leia karena kematian Carrie Fisher tahun lalu. BB-8 tetap banyol dan penuh kejutan, menggantikan R2-D2 droid purnabakti. Tokoh Rose Tico ibarat pembelahan karakter Finn, mereka terlibat cinta bhinneka. Finn si Afro dan Ross si wajah Asia Timur. Kapten Poe pilot X Wings punya potensi berkarisma andai lebih digali lagi di episode selanjutnya.

Yang mencuri perhatian di episode 8 yaitu Luke Skywalker dengan ilmu force-nya. Dia bisa meragasukma! Jika ilmu kebatinan/mistik di Doctor Strange terasa biasa, di Last Jedi ruar biyasah! CGI dan sinematografi mengakomodasi kemistikan Force secara mewah dan indah juga eklektik. Bagian crawl text (sinopsis berjalan) aku hampir nangis.

Poster teatrikalnya jelek!

Jumlah skor ada di My ★★★★ review of Star Wars: The Last Jedi on Letterboxd https://boxd.it/mTOIv

Kamis, 16 November 2017

206. Paddington, Beruang Ikhlas yang Terjebak di Lapas

Hikayat beruang coklat dari pedalaman Peru mendapat sambutan hangat penonton 2014 silam. Ingin mengulang kesuksesan, StudioCanal dan Heyday Films mendapuk kembali Paul King sebagai pengarah dan penulis skenario dibantu Simon Farnaby–dengan akar karakter dari buku anak-anak terkenal di Britania Raya, A Bear Called Paddington karangan Michael Bond. Masih Ben Wishaw mengisi suara Paddington, beruang dalam teknik live action itu.

Setelah Paddington cukup diterima oleh keluarga Brown di London, Paddington kangen pada Bibi Lucy si beruang dan ingin menghadiahi buku pop-up tema landmark kota London. Di prolog film, Lucy dan Pastuzo suaminya punya harapan merantau ke Inggris. Namun impian mereka pupus. Paddington-lah yang diserahkan impian tersebut. Sekuel ini Paddington bekerja keras agar mampu membeli buku pop-up seharga 1000 keping (satu keping berapa sen ya?) dari toko antik Samuel Gruber (Jim Broadbent). Seperti manusia umumnya, Paddington membersihkan kaca-kaca apartment dan jadi asisten di barber shop. Sebab dia beruang, ada insiden menggelikan semisal badannya tertarik ember cuci. Paddington 2 menampilkan Hugh Grant sebagai aktor pasar malam Phoenix Buchanan, yang lihai menyamar untuk mencuri buku pop-up yang akan dibeli Paddington. Naasnya, Paddington tertuduh sebagai pencuri, tertangkap basah di TKP. Dipenjaralah dia.

Paddington merupakan beruang anthropomorphis yaitu entitas non manusia yang bergerak, merasa, dan berbicara seperti manusia, lazim dalam film animasi. Pada film pertamanya Paddington tidak dianggap sebagai “beruang aneh yang berbicara” (misal ditangkap NASA lalu dikarantina) ketika ditemukan oleh keluarga Brown di stasiun Paddington. Nama beruang ini diambil dari nama stasiun itu, atau justru sebaliknya, nama stasiunnya dari nama karakter karya Michael Bond (?).

Tokoh antagonis Phoenix tidak sebengis Millicent Clyde (Nicole Kidman) di film sebelumnya. Tapi petualangan Paddington dan keluarga Brown—Henry (Hugh Bonneville) si ayah, Mary (Sally Hawkins) si ibu, Mrs. Bird (Julie Walters), Jonathan (Samuel Joslin), dan Judy (Madeleine Harris)—tetap seru dan mengagumkan secara sinematik visual. Walau porsi mereka sedikit di belakang dari Paddington yang selalu disorot. Dalam film pertama Paddington hadir lebih domestik (maksudnya lebih banyak dalam lingkungan rumah Brown) bersama keluarga Brown yang kedua anaknya tengah melewati krisis prabelia. Di situ Paddington punya peran sebagai perekat. 


Di film kedua Jonathan yang sudah bujang mengembangkan  ketertarikannya pada kereta uap dan Judy pada jurnalistik. Minat dan bakat mereka  bermanfaat dalam petualangan membersihkan nama Paddington dari dakwaan pencurian. Jangan lupakan penampilan menarik dari Brendan Gleeson menjadi Chef Knuckles McGint, juru masak lapas yang semula dingin dan garang mencair karena keluguan dan keikhlasan Paddington. Itu karena Knuckles tanpa sengaja memakan marmalade sandwich (roti lapis isi selai jeruk). Paddington dan marmalade bak penyeimbang ekosistem urban yang individualis. Keramahtamahannya ibarat lidah penyambung kehangatan tetangga-tetangganya yang terkotak rapat dalam kubus beton—flat. Lihat saja ketika Paddington dipenjara dan tidak hadir dalam lingkungan flat. Suasana menjadi muram. 


Paddington 2 lebih lucu dengan warna-warni dominan pastel. Penutup film terlihat megah dan klasik dengan kejar-kejaran kereta uapnya. Paddington 2 lolos klasifikasi semua umur (SU).

Kamis, 05 Oktober 2017

205. Pengabdi Setan, dari Sekte Kesuburan ke Teror Kuburan

Setelah satu dasawarsa Rapi Films merestui Joko Anwar untuk menggarap ulang (termasuk menulis naskahnya) Pengabdi Setan. Bersama CJ Entertainment, rumah produksi raksasa dari Korea Selatan, Pengabdi Setan menjadi film Indonesia pertama pada wahana teater 4DX (4 Dimensions Experience) dan akan dipasarkan ke negeri-negeri seberang. Gimmick promo keranda di bioskop CGV adalah ide CJ.

Kerai disibak adegan Rini (Tara Basro) bertamu ke kantor label musik untuk menagih royalti album ibunya (Ayu Laksmi) tapi gagal. Teks layar menginformasikan tarikh 1981. Bus, rumah, busana, tatanan rambut, perabotan, siaran RRI, dan dialog semua tersentuh era di mana lagu Guru Oemar Bakri-nya Iwan Fals tengah meledos di pasaran–sayang lagu ini tidak masuk sebagai penanda zaman sebab memang tidak senapas dengan film. Ditulislah lagu Kelam Malam yang dinyanyikan Aimee Saras dan digubah Tony The Brandals. Satu nomor tembang yang lebur bersama sinematografi redup (sinematografer Ical Tanjung, pemenang Citra untuk film May pada 2008).

Syahdan, satu keluarga sedang kesulitan ekonomi. Ibu sakit aneh, tak bisa bicara tak mampu berdiri, mengandalkan lonceng kecil untuk meminta bantuan. Lonceng  itu pula menjadi keleneng mencekam ketika sang ibu telah tiada. Terlebih sosok Bapak (Bront Palarae) yang gagah mesti kerja ke luar kota. Mengganggu seisi rumah, hendak menculik anak bungsu, Ian (M. Adhiyat), yang konon anak terakhir buah pemujaan setan untuk “ditumbalkan”. Rini pun dibantu Hendra (Dimas Adhitya) memecahkan misteri. 

Padanan pengabdi(-an) setan bersama sektenya hanya dideskripsikan lisan Tony (Edni Arfian) berdasar artikel yang dimuat majalah Maya tulisan Budiman (Egy Fedly) tanpa adegan eksposisi. Tokoh ibu bisa dikatakan steril lalu gabung sekte hitam kesuburan. Punya anak-anak. Anak terakhir berusia genap 7 tahun mesti diserahkan pada komunitas sekte. Zombi-zombi dari tokoh yang mati bangkit kembali meneror seisi rumah dan menyeret Ian.

Sekuen zombi dengan riasan yang seram kurang maksimal hadirnya. Kekalahan Ustad (Arswendi Bening Swara) dari zombi anaknya kurang berkesan. Memang zombi ini bukan roh halus yang secara tradisional ditaklukan ayat-ayat suci. Joko Anwar mengonfirmasi kalau setan-setannya dibuat seorganik mungkin tanpa bantuan CGI kecuali mungkin selimut terbang dan tangan di pintu yang bikin refleks mengangkat tangan tanpa perlu menjerit. Tokoh ikonik Darminah yang diperankan oleh Ruth Pelupessy digeser timeline-nya dan muncul di ending sebagai Darminah muda (Asmara Abigail). Dibanding film 1980-nya, versi 2017 lebih dimatangkan sebab akibat ceritanya, apa itu pengabdian setan dan sektenya, apa konsekuensinya, bagaimana terornya bekerja menggigilkan tokoh-tokohnya.

Pelakonan aktor-aktor bocah berhasil memancing humor jujur di antara atmosfer horor. Ian si anak tunarungu mencuri perhatian, karena lucu, itu saja.  Visualnya mantap menebalkan hawa seram. Banyak lampu yang mati. Kamar mandi dengan sumur, astagfirullah.... Karena digeber kehororan terus, seperti tidak ada ruang bagi aktor-aktornya untuk merasa diteror. Istilahnya mengembangkan karakter seperti diteror. Mirip di film Babadook, ketika aktor diberi ruang untuk stres. Mungkin tidak perlu selebar Babadook, sedikit saja. Hanya tokoh Bondi (Nasar Anuz) cukup stres menghadapi keganjilan di rumahnya. Kalau ditanya film horor lokal apa yang seramnya komplit? Humornya, musik dan lagu, visual, jumpscare, dan cerita yang solid. Pengabdi Setan bisa jadi jawabannya. 

Perolehan film horor 2017, tiket Pengabdi Setan hari pertama sekitar 91 ribu, mengalahkan Danur, 80 ribu tiket. Seminggu tayang Pengabdi Setan memborong 958 ribu tiket.


Selasa, 26 September 2017

204. Bedah Poster "Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak"

"don't judge a book by its cover" (but it's not a book, it's a movie)

Mengulas poster teatrikal terbaru Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak.

(Mbak) Mouly Surya merupakan sineas berbakat dengan sedikit filmografi (Fiksi., What They Don't Talk about When They Talk about Love). Film thriller terbarunya berlatar lanskap Sumba. Variety menyebutnya "satay western", merujuk padanan frasa "spaghetti western". Film koboi. Filmnya melanglang di Festival de Cannes dan Toronto International Film Festival.

Poster internasional terasa lebih komunikatif. Ada elemen padang sabana, wanita berkuda, menenteng kepala pria! Beserta quotes poster dari media-media internasional. Dengan review yang menggoda.

Poster resmi untuk spektator Indonesia terasa lebih simpel. Bisa dikatakan minim informasi. Ada yg bilang lebih mengedepankan woman empowerment (kedigdayaan perempuan) melalui ekspresi aktris Marsha Timothy (Marlina) sesuai plot, seorang janda yang rumahnya dirampok penyamun dan melawan balik.

Coba kita tengok kasus poster Lights Out, hanya saklar mati/off di situ. Film setan, berikanlah sedikit gambaran setan di poster. Filmnya kurang moncer di sini. Distributor luar belajar ketika Don't Breathe tayang di sini. Poster simpel versi US dimodifikasi dengan elemen rumah horor dan mata pak tua. Sebenarnya masih banyak kasus poster film action Hollywood kelas B yg disesuaikan dengan penonton sini yang masih takluk dengan desain dan visual poster—sebisa mungkin komunikatif dan provokatif.

Ketika penonton ke bioskop akhir pekan, tidak semua tahu film apa yang mau ditonton. Biasanya mereka ini lama sekali mikir di meja loket. Nanya-nanya ke mbak, mbak ini film apa ya? Setelah seminggu penat bekerja, untuk penonton awam, mereka biasanya kurang aware atau ngeh film terbaru yang sedang tayang atau film apa yang review-nya positif. Tapi mestinya ini tidak terjadi, kita udah punya gawai yang serba tahu.

Kesimpulan, poster teatrikal terbaru Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak yang tayang 16 November ini kurang komunikatif di mata penonton awam dan jangan meremehkan penonton awam, ceruknya lumayan besar. Semoga Marlina tembus angka emas, 1 juta penonton. Bersama rival berat Beyond Skyline dibintangi Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan, jika tayang bersamaan. šŸ˜‚