Rabu, 09 Mei 2018

214. Thanos, Kolektor Batu Akik yang Mendukung KB era Soeharto

SPOILER!

Avengers Infinity War mengambil tema yang sama dengan cerita Inferno karya Dan Brown. Kelebihan populasi. Di Inferno, tokoh Zobrist yang dianggap antagonis, bermanuver dan mengecoh Robert Langdon demi melepas tipe virus yang mampu menjangkiti sepertiga penduduk Bumi supaya mandul. Di film alegoris mother! karya Aronofsky, digambarkan Bumi sebagai sosok ibu dengan rumahnya yang sudah kacau dan tak sanggup mengakomodasi seluruh manusia. Infinity War yang skenarionya ditulis Christopher Markus dan Stephen McFeely berdasarkan ilham dua komik dari The Infinity Gauntlet ciptaan Jim Starlin dan Infinity kreasi Jonathan Hickman. Disutradarai Russo bersaudara, sebelumnya pernah menggarap dua film Captain America. Infinity War merupakan bagian pertama dari dua sekuel integral yang berlanjut tahun depan—sementara belum ada judul.

Dimulai dengan remuk ambruknya planet Asgard beserta tampuk Kekaisaran Asgard manakala Thanos dan pasukannya menyerang demi Space Stone. Hulk yang masih trauma kembali ke bumi, meminta Avengers bersatu. Tanpa menunggu lama, anak-anak Thanos, di antaranya Squidward (ups, Ebony Maw), menginvasi bumi mencari Batu Masa milik Doctor Strange dengan kapal luar angkasa bulatnya. Iron Man, Spider-Man, dan Doctor Strange terbawa kapal hingga ke planet Titan. Masih tiga dari enam batu akik yang diperlukan Thanos agar dapat menyirnakan sebagian populasi makhluk di beberapa planet. Dengan motif mirip Zobrist di novel Inferno. Infinity War berlokasi di beberapa planet dengan superhero-nya yang saling berpencar. Di bumi dengan pertempuran epik organiknya di Wakanda, dan di Titan dengan pertarungan sengitnya melawan Thanos nan sakti mandraguna.

Avengers ketiga ini tidak terlalu banyak obrolan tentang strategi dan birokrasi. Sekitar 20 superhero (malas disebut di sini) langsung menyongsong perang alot melawan Thanos dan anak buahnya. Thanos diposisikan sebagai peran utama dan motor cerita. Dia punya visi, misi, dan drama yang menyentuh. Tentu drama sebatas lapisan luar luapan emosinya bersama Gamora—anak angkatnya. Kalau terlalu dalam bisa masuk Oscar nanti. Apa pun itu, tetap menarik simpatik tentang bagaimana lalimnya Thanos masih menyimpan cinta pada Gamora. Cinta itulah prasyarat mutlak dan berat untuk mendapatkan Batu Jiwa. Ekspresi terdalam Thanos—digerakkan oleh Josh Brolin—terasa hambar ketika harus mengorbankan cintanya demi batu akik. Malah ekspresi terkuatnya (walau lewat wajah CGI) sewaktu Mantis menghipnosisnya. Meski sayang di adegan itu Peter Quill mengacaukan rencana demi kepentingan pribadinya dibanding kepentingan semesta. Tak bisakah sebagai Star Lord yang gagah perkasa dia meredam dulu emosinya? Pun demi dramatisasi lapuk, Doctor Strange memasrahkan Batu Masa agar Tony Stark tidak dibunuh. Juga demi Nebula, Gamora memberitahukan lokasi Batu Jiwa pada Thanos. Kalian superhero atau supermie? Okelah sah saja menunjukkan sisi emosional manusianya. Contohlah Wanda. Kendati berat, dia mengorbankan cintanya supaya Thanos tidak memiliki Batu Pikiran milik Vision. Namun takdir berkata lain.

Alokasi lontaran leluconnya terasa pas, tidak banyak, dan pada tempatnya. Misal ketika Parker mesti keluar bus kuning dan meminta tolong Ned untuk mengalihkan teman-temannya yang mau berdarmawisata. Lawakan menyebut Squidward tepat sasaran. Referensi Peter Quill cuma sebatas Flash Gordon, dan Steve Rogers yang belum paham kalau Groot cuma bisa bilang I'm Groot, terus dia jawab I'm Steve Rogers, juga penampilan Peter Dinklage sebagai Eitiri, Raja Kurcaci yang sama sekali tidak cebol. Semua lawakan tadi untuk mengimbangi alur film yang lebih serius dibanding individu-individu film di jagat Marvel (MCU).

Dengan tema yang bisa dibilang lebih serius, untuk bisa dibilang tidak sepolaritas siapa yang benar dan salah. Kadang visi misi Thanos ada benarnya juga. Kadang caranya terlalu radikal pula. Pesan semacam itu pernah ditilik di film Okja tentang isu paling elementer, yaitu pangan! Di dialog, Lucy Mirando menyebut dari 6 miliar penduduk bumi, 10 %-nya kelaparan akibat kekurangan sumber daya. Hal itu pernah ditulis Thomas Robert Malthus pada 1798 dalam esainya yang populer di kurikulum sekolah bahwa pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur (1, 2, 4, 8, 16, dst) sementara persediaan makanan ada di deret hitung (1, 2, 3, 4, 5, dst).

Menyaksikan Avengers: Infinity War bukan saja tentang dikotomis si baik (superhero) versus si jahat (supervillain) dalam gaya tarung dan aksi yang secara sinematik punya ukuran menghibur, namun juga terasa bak penyuluhan keluarga berencana yang pernah digaungkan Bapak Pembangunan kita, Soeharto. Terlepas dari masuk atau mental pesan yang ingin disampaikan sang pembuat film, paling tidak kita sudah mengikuti tren budaya pop dengan menontonnya.

Jumat, 06 April 2018

213. Monster Pemakan Suara [A Quiet Place]

Hampir 70 % dialog film A Quiet Place disampaikan lewat bahasa isyarat (tentu ada teksnya). Mereka sekeluarga berjalan tanpa alas dan kadang mesti berjinjit. Bukan tanpa alasan, di wilayah mereka bahkan seluruh dunia, monster pemakan suara meneror siapa dan apa saja yang bersuara. Oleh karena itu, sssttt jangan berisik ketika menontonnya di bioskop, barangkali si monster pun masih bisa dengar degub jantungmu.

Sekeluarga enam anggota hidup di wilayah terpencil yang sudah hampir 80an hingga 400an hari dari kondisi kiamat sugra akibat serangan makhluk asing entah dari mana berasal. Sepanjang film nyaris tidak ditemukan penduduk lain, kecuali pria dan wanita di hutan yang akhirnya mampus dimakan monster rakus. Sebenarnya kurang meyakinkan, apa makhluk itu benar-benar memakan manusia atau menyerangnya saja. Monster-monster itu juga cenderung kurus dan kesannya hanya merobek usus wanita di hutan. Yang jelas, siapa pun yang berisik bisa dicabik-cabik. Pun kurang terjelaskan, berapa desibel (dB) suara terendah yang terdengar oleh si monster? Normalnya saat manusia berbicara menghasilkan 40-50 dB. Ketika berbisik 30 dB. Ada adegan si ibu Evelyn (Emily Blunt) berbisik pada anaknya Marcus (Noah Jupe) disertai isyarat. Aman.

Setelah kematian si bungsu Beau, sekeluarga dirajam rasa bersalah. Terlebih kakak perempuannya, Regan (diperankan aktris yang sebenarnya bisu-tuli, Millicent Simmonds). Regan merasa bapaknya, Lee (John Krasinski), menyalahkan dirinya atas kematian Beau di jembatan. Lewat terowongan psikologi pemainnya, penonton diajak menjerit atau minimal menghela napas menyaksikan kehadiran monster yang haus suara. Seperti politisi haus suara saat pemilu. Beberapa momen terasa mencekam, membuat jantung berhenti merenyut. 

Demi bumbu dramatis, ada adegan kayak dibuat-buat semisal paku di tangga yang berdiri tegak. Mana ada? Kalau tukang bangunan pun khilaf, paling tidak bengkok 45° dan tenggelam sedikit. Termasuk adegan melahirkan yang nauzubilah mendebarkannya (sempat ya papah mamah bikin adek pas suasana lagi horor, awas desahannya jangan sekencang JAV). Mungkin bisa bu biar bayinya nggak nangis kasih ASI. Eksklusif enam bulan. Adegan-adegan itu biar seru sih, namanya film bioskop harus ada pecutan-pecutan kedahsyatan. Bagian muasal makhluk itu juga diabaikan. Tak apa. Film itu luwes dan lumrah jika penceritaannya mau minimalis dan idealis.

Monster itu punya kelemahan. Entah aku kurang paham, monster itu punya pendengaran infrasonik seperti anjing. Si bapak yang juga suami betulan si ibu di kehidupan nyata, merakit semacam earpiece yang punya range infrasonik dan berdengung tiap didekati si monster. A Quiet Place tengah tayang di bioskop Indonesia. 

Rabu, 21 Maret 2018

212. Manusia yang Dikadalin oleh Kadal [resensi Pacific Rim Uprising]

Film pertamanya, Pacific Rim, lima tahun lalu yang disutradarai Guillermo del Toro (Pan's Labyrinth, Hellboy, The Shape of Water) menggalang dolar kurang dari 500 juta dari anggaran 190 juta dolar dan meraih kritik moderat. Sekuelnya yang tidak lagi di bawah bendera Warner Bros., kini Universal, tidak lagi diarahkan del Toro. del Toro dan John Boyega, aktor utamanya, bertindak sebagai produser. Pacific Rim Uprising berkronologi satu dasawarsa usai peristiwa film pertama.

Breach atau celah Samudra Pasifik telah tertutup. Itu adalah portal keluarnya kaiju, monster kadal mutan yang reseh dan hobi menghancurkan gedung seperti meremukkan kerupuk. Tidak ada film apabila masalah selesai. Muncul jaegar ilegal dari laut Tiongkok dan menentang jaegar legal PPDC (Pan Pacific Defense Corps). Jaegar itu robot yang dikendalikan oleh dua pilot pakai sensor gerak tubuh, dan kedua pilot mesti tersinkron secara psikologis—agak bingung di bagian ini. Jake (John Boyega) salah satu pilotnya, anak jenderal Stacker Pentecost (Idris Elba) yang memimpin perang 10 tahun lalu. Cerita juga mengikuti Amara (Cailee Spaeny, debut keaktorannya di film panjang, mengingatkan pada Daisy Ridley di Star Wars 7) remaja pengepul rongsokan sisa perang Jaeger vs Kaiju dan merakit menjadi Jaeger kecil tapi ilegal. Mereka gabung ke PPDC bersama kadet-kadet lain untuk berlatih mengendalikan jaeger (ye-ger).

Tidak seperti Pacific Rim (selanjutnya PR), adegan-adegan pelatihan di Pacific Rim Uprising (Uprising) kurang kental dan disajikan instan dan seadanya jika dibandingkan saat Raleigh Becket (Charlie Hunnam) latihan tarung di sanggar dengan macho di PR. Meski Hunnam terlalu dieksploitasi kemachoannya dengan buka baju lebih dari tiga kali demi memamerkan keatletisannya ibarat patung periode klasik karya Phadias. Juga tokoh-tokoh di PR terkesan murung dengan melodrama Raleigh galau-galau mirip Fantastic Four (2015). Di Uprising, meski lawakannya tipikal, John Boyega dan Cailee Spaeny sukses menghilangkan awan kelabu di PR. Patut diakui, narasi Uprising sedikit kreatif dengan memanfaatkan otak dan jaringan hidup Kaiju untuk mengendalikan Jaeger musuh. Terlebih jaringan Kaiju itu seperti “cuci otak” dan berparasit di salah satu petinggi Shao Company (perusahaan riset dan pengembangan Jaeger) untuk menyerang balik dan mengganyang seisi Bumi. Tujuan Kaiju ialah Gunung Fuji, yang mengandung mineral-mineral komplit—komplitan Gunung Sinabung. Nah tugas para Jaeger lah—di antaranya bernama Gypsy Avenger, Bracer Phoenix, Saber Athena, Titan Redeemer, dan Guardian Bravo—mesti mencekal Kaiju ke Fuji. Jaeger Saber Athena paling menarik dengan postur ramping lincah warna oranye bak ninja hatori.

Memang Uprising seperti menandingi waralaba Transformers, dan Pacific Rim tidak urgen banget untuk dilanjutkan. Pertarungannya lebih banyak robot dengan robot, baja lawan baja, bukan baja lawan daging sebagaimana PR lima tahun lalu. Tatkala baja Jaeger sebagai lambang modernisme-teknologi kontra daging kadal-monster lambang kepurbaan hewani yang liar semua terasa eklektik. Tidak terlalu banyak yang bisa diharapkan dari Uprising kendati tetap menghibur dan tidak menyakitkan mata lantaran warna robot jahat dan baiknya kontras. Pacific Rim Uprising tayang perdana hari ini dan tersedia format 3D reguler dan IMAX 2D. Aspek rasio pada IMAX 1.89:1 tidak penuh dan menyisakan balok hitam di atas bawah layar. 

Rabu, 14 Maret 2018

211. Warga Teladan yang Wajahnya Dicuri oleh Negara [resensi film Golden Slumber]

Golden Slumber (Goldeun Seulreombeo 골든 슬럼버) mengintisarikan novel Jepang berjudul sama karya Kōtarō Isaka, yang juga pernah diangkat ke sinema Jepang. Film ketiga sutradara Noh Dong-seok ini bercerita tentang seorang kurir warga teladan, Kim Gun-woo (Gang Dong-won), yang dikambinghitamkan oleh otoritas lalim (menyebut dirinya "negara") sebagai pelaku pembunuhan presiden petahana dalam iring-iringan kampanye. Pelaku sebenarnya ialah rival politiknya, menghalalkan segala cara supaya maju sebagai capres tunggal.

Tidak mudah bagi Kim untuk membuktikan dirinya bersih, terlebih sepasukan pria bersenjata berusaha membunuhnya. Setelah teman lamanya, Moo-yeol tanpa tedeng aling-aling membebatnya pada gulungan kusut konspirasi politik yang busuk dan korup. Tapi Moo-yeol berpesan, "don't trust anyone." Dari uber-uberan yang menggenjot hormon epinefrina dan diselamatkan Min—pria misterius yang membelot dari tujuannya, Kim mengetahui fakta yang mengejutkan di balik insiden ledakan mobil presiden. Wajah Kim dicuri dalam arti harfiah secara kosmetika-kedokteran dan sosoknya diimpresikan sebagai pembunuh-pengkhianat negara.

Pers sebagaimana pilar penting dalam negara sedemokratis Korea Selatan punya kekuatan menjatuhkan dan mengangkat derajat seseorang. Dalam film ini, pers hanya sebagai selang kosong yang tidak punya kuasa mengalirkan airnya sendiri kecuali dari bukti-bukti rekayasa pemerintah dan menyiramnya ke masyarakat.

Kim hanyalah pion dalam percaturan politik busuk dan dengan mudah identitasnya dicuri dan tubuhnya dimusnahkan. Beberapa narasi politik busuk itu lemah diceritakan motivasi besarnya dalam film. Golden Slumber ibarat gelombang longitudinal yang punya rapatan dan renggangan pada plot cerita. Pada renggangannya, merambat pelan dan khas drama Korea ada cerita persahabatan satu band dengan Dong-gyu, Geum-cheul, dan Sun-young cinta pertama Kim. Mereka bukan hanya pemanis cerita tapi berkontribusi dan menolong Kim. Lagu-lagu yang mereka biasa mainkan saat ngeband adalah The Beatles, yang sepanjang film beberapa kali lagunya diputar. Golden Slumber sendiri judul lagu The Beatles dari album Abbey Road rilisan 1969 dari ilham puisi Cradle Song karya dramawan Thomas Dekker.

Kamis, 22 Februari 2018

210. Monster Hunt 2... Dongeng Monster yang Belum Seger

Setelah film pertamanya meraup pundi-pundi RMB2,5 miliar, Monster Hunt 2 siap berburu lagi keping-keping kimpo bersama tukang judi Tony Leung alias Tu Sigu. Selain pemasaran globalnya ditangani Sony International, efek visualnya juga salah satunya ditangani oleh Industrial Light & Magic yang memoles film Star Wars.

Film dibuka semarak tari dan nyanyi sekelompok manusia berbaju warna-warni. Warna-warni musim semi perayaan tahun baru China. Ada Wuba di situ. Para penari itu adalah monster—monster baik. Sekonyong-konyong muncul monster jahat berperawakan besar, berwajah sangar, ingin membunuh Wuba, sang pangeran kerajaan monster yang pada film sebelumnya tahta kerajaan digulingkan para pengkhianat. Wuba tercebur sungai dan mengembara sampai Kota Air Jernih. Bertemu BenBen, monster baik dan bongsor dengan kemampuan berkamuflase, dan Tu—tukang judi pengeksploitasi monster demi keuntungan dirinya. Tu punya utang pada Zhu dengan jaminan dirinya akan menikahi Zhu jika jatuh tempo belum bisa bayar. Zhu tampil sebagai pendukung cerita dan karakternya satu dimensi saja—ingin kawin sama Tu, sama seperti tokoh tukang reparasi senjata yang diperankan dengan karikatural oleh Huang Lei. Ada juga pengisi suara dari aktor kawakan Eric Tsang dan Sandra Ng, tampil sebentar berjoget dan mengisi suara monster Zhugao dan Ying.

Tu punya pilihan antara kawin atau menyerahkan Wuba yang jadi buronan dengan upah menggiurkan. Sekuelnya tidak mengembangkan ceritanya sendiri. Mungkin sama dengan Paddington 2. Paddington dan Monster Hunt sah dibandingkan sebab sama-sama film makhluk ajaib, diadopsi dan dirawat manusia, dan film keluarga, meski LSF melabelkan 13 tahun untuk Monster Hunt 2. Paddington 2 meski tetap pada latar yang sama tapi beruang coklat itu dicampakkan ke problem yang lebih besar dan segar, penjara! Dan aksi-aksi yang secara sinematik mengagumkan. Monster Hunt 2 malah kembali ke metode awal. Pendekatan relasi antara Wuba dan Tu, seperti pendekatan “biologis” antara Tianyin (Boran) dan Wuba. Di sekuel, Jing Boran malah menjadi aktor pendukung. Aktor utamanya Tony Leung dengan porsi lebih besar. Untungnya penampilan Tony Leung cukup menghibur.

Monster Hunt 2 tidak benar-benar memburu dan diburu. Hanya seperempat film dengan aksi dan visual mengagumkan untuk mengingatkan film ini Wuba masih dalam “status awas” diburu monster jahat yang menyusup di tubuh Biro Pemburu Monster. BPM yang diharapkan lebih kejam, kurang dapat panggung. Narasi Wuba sang pangeran adalah sosok yang mampu mempersatukan permusuhan manusia dan monster pun luntur di sini. Mungkin berlanjut di bagian ketiga—semoga ceritanya benar-benar segar. Monster Hunt 2 terasa ringan dan aman, makanya aku bingung dengan LSF kenapa mesti klasifikasi usia 13 tahun, sementara ceritanya mudah dimengerti dan aksi kekerasannya minim. Bila dibandingkan dengan Paddington 2 untuk semua umur.

Visualnya memesonakan. Warna-warni. Gunung Zhangjiajie yang menginspirasi gunung melayang di Avatar ditampilkan sebagai latar pertarungan. Meski monster-monster bergerak cepat CGI mereka tetap halus. Secara garis besar, Monster Hunt 2 yang ganti penulis skenarionya dari film pertama, ditulis dalam zona aman dan takut kusut jika bertutur terlalu kompleks. Bisa dibenarkan sebab ini film fantasi keluarga. Namun, takut berisiko dengan tidak mengembangkan ceritanya menjadi besar merupakan risiko juga.

Monster Hunt 2 memang berhasil meraup 190 juta US dolar pada akhir pekan Tahun Baru China, menyalip Monkey King 3 yang ikhlas bergelayutan cuma membawa 79 juta US dolar.