Rabu, 14 Maret 2012

129. Kado untuk Stefani (episode akhir)


Asma kronis. Penyakit menahun. Itulah jawabannya. Jawaban yang kalah semarak dibanding kicauan-kicauan sampah di Twitter. Kurang memuaskan bagiku. Terlebih tentang rumor kematiannya akibat dicekik roh jahat dari Andrew. Yang terakhir adalah rumor yang aku ciptakan sendiri hanya karena dia menyampaikan pesan yang sama antara aku dan Marisa. Wo yao qu, wo bu yao zai di chu [aku ingin pergi, tak mau menginjak bumi]. Lalu berkembang di benakku akhir-akhir ini penyebabnya yakni Marisa. Kusangka menghilangkan kalung milik Andrew sehingga mati menyedihkan.



Segalanya patah. Robek. Itulah faktanya ketika aku membaca salinan berkas VeR (Visum et Repertum) yang diserahkan Ibunya Marisa. Anak itu ngeyel waktu dicegah keluar oleh Ibunya sebab cuaca di luar dingin. Kondisinya sedang memburuk. Bantahannya berakhir maut demi perayaan valentine yang menyesatkan pikirannya.



"Marisa nggak pakai perhiasan emas waktu itu. Paling aksesori gelang plastik yang dibeli di Nico Nico Intimo." Ibunya ramah. Ia tak curiga dengan pertanyaanku yang setengah menuduh putrinya.



Aku mengundurkan diri usai suamiku habis mengunyah tiga donat yang tersuguh. Masa-masa serius dia masih sempat menikmati lezatnya makanan.



"Kamu malah makan." Protesku di mobil.

"Donat secengan lebih enak dari J-Co ha ha ha...." Sebutir meises menempel di bibirnya.

"Nggak menghormati orang susah."

"Lho? Dikasih makanan di meja ya harus dimakan dong. Kalau nggak namanya nggak menghormati. Tidak suka. Tidak enak.” Kujewer telinganya sampai dia bilang aduh dan ampun.



TIN!

Ada city car hendak masuk ke garasi saat kami tengah berusaha keluar. Anak muda. Diduga cowok yang menyaksikan bayonet malaikat maut melesak ke dada Marisa. Aku menahan tangan Tom di stir.



"Lihat nopolnya. 9342. Kombinasi angka pada rokok Dji Sam Soe yang dibakar setan kemarin malam." "Ah lebay lu kayak detektip aja. Rokoknya juga amblas. Padahal sudah kusimpan di stoples."

"Nanti kita buntuti dia!" Aku sangat membara dan bergelora.



Di lantai aspal nan sepi, Tom berhasil menghadang dia dari depan. Tak pelak terjadi insiden tabrakan. Tidak parah. Rasanya Tom butuh belajar banyak dengan pebalap GP sekaliber Rio Haryanto.

"Ng***** lu!!!" Si pengemudi memaki kami.

"Ko**** bau lu!!!" Wah payah jika Tom begini. Rencanaku bisa kandas.



Kuhampiri sang pemaki. Sajak maaf untuknya kuatasnamakan suamiku yang brutal bagai di negeri mimpi. Kujabarkan maksud kami. Dia melunak.



"Betul. Marisa menyerahkan kalung itu pada saya." Cukup membanggakan kejujurannya.

"Bersedia kalau saya beli kalung itu dua kali lipat?" Apa air liurnya menetes?

"Nggak. Itu kenangan terakhir saya dengannya. Priceless." Gagal. Strategi antipenuduhanku dilepehnya lonjong-lonjong.

"Memang kenapa kepengin kalung ini? Di toko emas banyak." Kata-katanya keluar bersama kalung tersebut dari tas laptopnya. Pemuda yang ternyata bernama Fiyan itu segera membenamkan kalungnya. Selaput air di mataku menebal saat kutatap selayang pandang kalung itu. Pecah. Entah bagaimana.



"Karena dia cici penjual emas yang paham emas mana yang berkualitas premium." Tom membelaku.

"Tetap saja. Takkan saya lepaskan." Fiyan benar-benar keras kepala.

**

Apakah wanita tak pernah mau bangkit dari masa lalu? Jika memang iya, wanita itu adalah aku. Kaki kananku telah berpijak di garis masa depan. Kaki kiriku masih terbelenggu rantai masa lalu. Terlalu cepat tamat untuk tak terselesaikan. Juga begitu cepat bersambung untuk diselesaikan.



Bersama tokoh kamu yang baru. Siapkah aku berbahtera dengan kamu yang baru? Belum, Tom. Kamu yang baru hanyalah pelarianku. Plester. Nafsu badaniyah belaka. Gula-gula manis bergagang berlian. Wanita lebih memilih mengemut berlian, Tom. Bukan ular nagamu.



Otakku masih awas meraba-raba monumen kenangan tanpa tanggal denganmu, kamu yang lama. Ruangan lama. Di bangku taman itu aku sekali mengejek posisimu. Kugantikan dengan pria kedua. Karena kamu punya apa, Andrew, untuk cinderella-mu ini? Adakah roti dari bahan baku cinta yang diolesi air liurmu, lalu mengenyangkan lapar? Kamu tidak pernah mau tahu di mana letak pergumulan logikaku sebagai wanita lantaran kamu sering menyakitiku sebagai wanita beremosional.



Emosi dan logika berjumpalitan mengaduk segelas jus jeruk yang sudah dua jam gagal kusedot. Di detik akhir aku menyerah pada dahaga di mal ini. Sarang manusia yang riuh bergemuruh. Banyak pasangan muda tertawa girang mendampingi putra-putri mereka di zona permainan seraya menunggu gulungan film diputar di gedung teater.

Aku nyatanya seorang diri. Dua karcis nonton aku robek. Rahayu urung menemaniku. Mertuanya mendadak bertamu. Dia dua kali memesan permaafan dariku. Sahabatku yang tak mau menghakimi dosa-dosaku. Orang pertama yang menjemput air mataku untuk Andrew.



Everybody needs a best friend in this world

We all need one good thing in this cruel cruel world

That we can count on all of our lives

You sounded so alone last night and I could not help but cry

I wanted to reach out to you and just make everything all right

I wish that I could show you just how much I truly care

All my life I promise to be there

**

Aku tak sabar menunggu kepulangan Tom. Ia minta bantuan pada Mas Luki supaya gagasan rencananya berjalan halus. Tak mengerti pertolongan jenis apa yang diberikan ahli supranatural berawakan tinggi itu. Apa pun usahanya, itu lebih baik daripada dia dan aku menuduh Marisa sebagai pencuri lalu menunjuk Fiyan si penghilang barang bukti atau justru penadah. Ekstrem. Kami hanya punya saksi anak-anak, di bawah 18, dan dia Jo. Kami tak tega menggiringnya ke pengadilan. Bukan nilai ekonomi yang aku tuntut dari seuntai kalung itu, melainkan nilai kenangan di tiap karatnya. Harapanku, Tom kembali membawa apa yang aku cari. Andaikata tuntas dan selesai, aku yakin teror-teror gaib akan sirna. Takkan lagi ada jin Andrew, setan Mei Mei, suara kecipak air di toilet, dan apa saja yang selama ini terasa mendecakkan jantung; semua itu bersekutu dalam satu komando.



"Kakak." Panjang umur. Panjang kepang. Makhluk yang bersangkutan bersuara.

Aku mencoba mengendalikan rasa takut. Rasa dalam diri sendiri. Harus ditaklukkan. Walau tetap waspada. Kutiti jengkal per jengkal mendekati lukisan. Matanya berkedap-kedip. Aku tekan ketakutan yang menggelembung. Dia hanya entitas makhluk sama denganku.



"Apa maumu?" Diam. Malah terisak.

"Hai istriku yang jelek!" Panggilannya bikin aku lompat. Suamiku yang sipit. Auranya positif dan prospektif. Ia memegang sesuatu. Keberhasilan.

"Ini, simpan baik-baik," ucapnya riang. Aku berjingkrak girang. Bernyanyi da di du di da.

"Bagaimana kamu bisa meraihnya dari tangan Fiyan?" Bikin penasaran!

"Azimat bermahar 500 ribu dari Mas Luki, yaitu gendam." Ia memperlihatkan semacam batu kecil. Masih okultisme.

"Gendam?"

"Mix antara pelet dan hipnosis, kurang lebih."

"Sebuah kejahatan," gumamku.

"Aelah, pencuri dilarang menyalip pencuri bro!"

“Xie xie.” [terima kasih]



Tangan jailnya menepuk bokongku. Ia berlalu, tertawa puas, melepas bajunya.



Kalung emas 10 gram 20 karat tanpa liontin. Tentu tak sebanding disejajarkan dengan kalung valentine kado dari Tom. Ini pengikat emosional antara aku dan Andrew. Pudarlah terlutuh di kain yang terkembang melayari perjalanan kami. Untuk menit ini. Walau noktah merah kesumba melekat kuat dalam serat sejarah. Dia menggantung napas terakhirnya di temberang pemenggal nyawa sewaktu kami terbalik menabrak karang melintang.



Bayangan Andrew meluntur terurai cahaya tanwarna. Terakhir mukanya tak biru pasi lagi. Senyum Mei Mei pun melengkung gagu. Air matanya jatuh terburai di sungai. Tak ada lagi terang di belakang bayangan. Tiada lagi gaduh di tengah keheningan.

**

Aku menghidupi kenangan

jelmaan aksara di marmer hitam

pada nisan di gunduk pusaramu

menabur kembang hidup

agar namamu hidup

bukankah kenangan akan hidup bila segalanya mati, sayang...

namun butuh saksi hidup untuk mengenangnya, cinta...



ingatkah engkau tatkala kita menerima hosti suci dari tarbernakel?

hosti lapuk! keluhmu

selapuk cinta kita

nanar matanya menerawang pada diam

aku melipir ke malam

tersisa kelam



Hari ini aku ringan berjalan. Kutebar senyum. Kukabari suka. Membagi kasih. Tiap pengamen dan pengemis menerima uluran sedekahku. Tak seperti biasa, bila kaca film terketuk hati terpaksa terbuka.



"Masak apa kau?" Tanyamu dari kantor.

"Beef steak," asal kujawab. Spontan kamu terpingkal. Nyaring. Ingin kecelupkan ponselku ke wajan. Aku tahu kamu sedang mengurangi lemak daging supaya program fitness-mu sukses. Ah, gombal kamu, Tom, ha ha ha. Punya perut six pack adalah tahayul bagi orang sibuk macam kamu.



Obrolanku dengannya mengganggu aktivitas masakku. Malam ini akan ada menu yang tak terlalu berlemak. Tahu mapo, capcay, mi hijau, dimsum (dianxin) aku sajikan. Tapi bukan dim sum fang zau (ceker ayam), cukup bakpao kacang hijau. Penutupnya ialah gelato, bukan es krim yang berlemak. Sebagian kumasak dibantu bibi pembantu. Sisanya aku membeli di luar.



"Mama mia, amazing birthday celebration!" (Mama mia, selebrasi ulang tahun yang keren). Komentar Tom ketika baru pulang.

"Ulang tahun suami kolokan, he he he," gurauku

"Biar kolokan tapi pahlawanmu, ha ha ha." Dia naik ke kamar untuk mandi dan berdandan.



Dia mengamatiku serius. Membuatku tersanjung. Jangan-jangan little black dress-ku yang tak berpundak. Apa pikirannya kalau busananku berlebihan? Persis perempuan berkebaya dan berkonde lantas cuma makan malam di rumah bersama suaminya, begitu kan? Tak masalah kan seorang istri berias tampil anggun demi suaminya.



"Selamat menikmati." Kupersilakan semangkok mi hijau untuknya.



“Bu yao, wo chi bao le,” [不要, 我吃饱了. Tidak, aku sudah kenyang] tolaknya seketika.

"Kenapa?"

"Buang dulu kalung itu." Ia memerintahkan hal yang tak ternyana. Hatiku tersayat.

"Memangnya kenapa?" Air mukanya mendidih. Tidak ada pribadi Tom di sana. Terkaan-terkaanku belum menemukan titik hampir.

"Serahkan sini!" Bentakannya menohok. Membelalak. Aku buru-buru mematuhinya. Rupanya aku takut pada wibawa lelaki.



Ia mengaum murka dan mencampakkan kalung itu ke lantai. Keras sekali. Andai yang ia lempar berupa telur bercangkak baja pasti remuk. Seremuk hatiku. Kini kepalaku tersunjam lagi ke tanah. Lagi dan lagi.

"Kamu jahat!!!" Tangisanku tak bersuara. Mimpiku yang berlatar surga sedang terwujud. Ia sungguh kejam. Merobek perasaan Andrew.

"Besok aku nggak mau melihat kalung itu di lehermu. Deal?" Ia pergi. Bayangannya tampak bagai anak setan berlidah api yang memegang tombak trisula.



**

"Hai Jeng, come in.” [ayo masuk"]. Ajak Rahayu ketika aku di depan pintu rumahnya. Aku dituntun ke kamar tidurnya.

"Drink what? Tea, coffee, juice, hot chocolate; which one?"

"Nggak usah."

"Please, you need it."



Mataku menjelajah kamarnya, terpaku pada foto pernikahannya. Wajahnya bahagia, juga suaminya dalam bingkai itu. Mereka berdua berpacaran sejak SMA. Meski kerap putus-nyambung, kekuatan cintalah yang mengikat mereka dalam pernikahan. Ada sebentuk iri membuncah di dada.



Ia tiba membawa nampan. Ada secangkir teh hijau dan kudapan roti vla tabur almond. Menggiurkan, namun tidak untuk kesempatan ini. Suasana jiwaku berantakan. Pikiranku lagi kacau. Apalagi semalam Tom minggat dan belum juga pulang. Ia foya-foya merayakan ulang tahunya dengan kawan-kawannya. Ia tidur di hotel dengan perempuan nakal. Begitulah isi pikiran galauku.



"Ayu, kira-kira kenapa dia? Dia enggan menjelaskannya."

"Kamu harus peka, Jeng, sebagai perempuan," timpalnya singkat.

"Peka?" tegasku kurang paham. Kuminum sedikit teh hijau agar pikiran lebih rileks.

"Ember (memang). Maksudku, kita sebagai pere harus peka dalam membaca perasaan lelaki. Mungkin aja Mas Tom yang cucok itu cemburu karena kamu pakai kalung dari Andrew. Lelaki mana sih, Jeng, yang gak jealous." Rahayu benar. Aku tidak peka. Aku tak mau peka, selain pada tiap keping uangnya yang dihabiskannya.

"Ayu, aku amat menyesal." Banjirlah bajunya dengan air mataku. Aku tergolek lemah di dekapan sahabatku.

"Weep as much”. Biar lega." [Menangislah sepuasnya].

"Aku sudah dua kali mengecewakan lelaki aku benar-benar wanita pendurhaka...."



Seolah air mataku terus menderas dan merintik. Berhamburan. Aku tak kuat berdiri.

**

Tiga hari kulewati hidup tanpa lawakan garing ala Tommy. Ia mendiamkanku. Keperluan apa pun ia kerjakan sendiri. Ia pernah mengenakan dasi motif batik dengan kemeja kuning. Menurutku itu kurang sesuai. Aku tak berani meralatnya.



Tubuhku yang rajin kurawat dengan lulur puteri keraton dan wajahku yang kulumuri ekstrak caviar tak lagi ia sentuh. Ia mudah merajuk. Itulah sifat aslinya yang keluar sesudah tiga bulan menikah dengannya. Bagaimanapun itu, aku telah memilihnya. Juga aku telah memilih untuk dipilih. Dia ada di depanku sekarang. Aku harus melangkah maju. Melupakan masa lalu yang terserak di belakang.



"Mas Tom, mau dong digendam. Aku rela diapa-apain," godaku diiringi gestur genit. Aku ingin melumerkan kebekuan. Ia sedang memainkan PSP di tempat tidur. Kemudian terpingkal-pingkal mendengar ajakanku. Aku menggenggam kunci yang menggembok keintiman kami. Aku tidak betah melakukan aksi bisu di rumah.



"Jangan panggil Mas Tom, cukup Tom aja." Katanya di akhir tawa. Kudekati dia. Tiduran di sisinya. Meraba perutnya.

"Nanti aku dicap istri yang tak hormat." Kusingkirkan portable game dari tangannya.

"Ya enggaklah. Lagian aku maunya disapa Ayah Tom. Bila kita sudah punya anak," harapnya berbinar.

"Dan aku dipanggil Bunda Fani. Cetak tebal Bunda." Kami saling berpelukan. Kurindukan kehangatan badan laki-laki. Tiga hari serasa tiga tahun kedinginan

"Dalam kurung buntingin janda, ha ha ha...." Mulai lagi candaan garingnya. Lengannya kucubit hingga merah. Malah ia menindihku. Aku sesak menahan berat raganya.



"Mana kalung itu?" ungkitnya

"Kenapa kamu tanya lagi? Sudah kulupakan. Kalung itu ada di Jonathan. Kusuruh ia menjaganya," terangku demikian.

"Kamu yakin melupakannya?" Tanyanya menyelidik. Ia duduk.

"Iya," balasku ringkas, antara yakin dan tidak.



Dia turun. Menuju ke lemarinya. Mengambil bungkusan hitam. Menentengnya kemari.

"Ini kado untuk Stefani dari... Andrew!" Dikeluarkan kotak perhiasan. Dibuka. Seuntai kalung. Aku belum mengerti apa maksudnya. Napasku tersumbat. Menebak, apakah ini kejutan atau lelucon belaka?

"Apa ini?" Dua kata dan selengkung tanda tanya yang sanggup kuujarkan.

"Itu yang original. Yang disimpan Jo cuma duplikat.”

"Jadi kamu cuma akting, Tom? Kamu jahat!" Aku menangis deras antara bahagia dan kesal. Akting sinetronnya Tom sungguh mengecoh. Menyebalkan.



"Aku bilang kan simpan baik-baik, bukan dipakai. Masa lalu nggak mesti dibuang, simpan saja, tapi tak perlu diletakkan di depan." Tumben Tommy menyabdakan kata-kata mutiara untukku.

"Tom, maafkan aku ya. Wo ai ni.” [我爱你 Aku mencintaimu]

“Wo ye ai ni.” [我也爱你 Aku juga mencintaimu]



Aku meraih tangannya. Menciumnya dengan takzim. Aku telah merepotkannya untuk melalui dan memecahkan misteri yang amat mendebarkan selama sebulan ke belakang. Pasti ia tersunu percikan api cemburu manakala sering kusebut nama Andrew.



"Hayo, katanya minta digendam." Ia mengelitiku. Meronta-ronta manja dalam dekapannya. Jeritan-jeritan geli menciptakan gelombang longitudinal yang bermedium ke seluruh udara kamar. Gaduh. Berisik.

"Nggak mau ah. Entar aku disuruh gaya-gaya cabul di ranjang sutra, ha ha ha."

"Mulai 1-2-3!"



TAMAT

Jakarta, 3-8 Maret 2012

*****

128. Kado untuk Stefani (episode 3)


Andrew memanjat pohon berbatang nila. Ia berusaha meraih sekuntum bunga paling indah dan besar yang bermahkota di pucuk pohon. Berhasil. Serta-merta....



"Andrew!" Ia terjungkal. Telentang di hamparan butir-butir emas. Kudekati. Lantas ia tersenyum waktu mengangsurkan ratu bunga padaku.



"Harum sekali kembang ini," ulasku. Terpejam. Belum pernah sebelumnya wewangian ini terhirup. Baik puspa dari bumi tropis maupun puspa dari bumi empat musim. Terlena. Ia telah berlari menjauhiku ke kerumunan pemuda yang meniup serunai berlanggam syahdu nan merdu.



"Andrew sayang, kamu hendak ke mana?" Pengejaranku terhalang dinding halimun tebal. Aku di pinggir sungai susu. Pikiranku, dia bersembunyi ke arah estuaria di kuala sungai.



Ya habibah, aku di sini." Jubah putihnya berkibar. Kemah miliknya tampak agung dan kemilau. Dia kususul. Kupeluk. Erat. Melekat.



"Kamu jangan tinggalkan aku." Pintaku manja. Keningku dikecup. Mendamaikan.



"Ya maula, maaf, hidangannya sudah datang." Dari luar kemah, seorang pelayan memohon izin masuk.



"Silahkan," sahutnya, duduk di tempat tidur yang pinggirannya bertabur manikam aneka warna.



Pelayan masuk membawa dua nampan perak. Satu nampan berisi dua gelas kaki dan seteko khamr. Satu nampan lainnya tergolek burung bakar. Menteganya melumer ke dasar.



Si pelayan mohon undur. Rambutnya berkilau dan harum. Seperti disemir dengan pomade. Di pinggangnya, terpasang sebilah keris.



"Ya habibah, mari kita nikmati hidangan lezat ini." Andrew mempersilakan, menarik kursi untukku. Kami berhadapan di antara meja pualam. Aih... getarannya bikin perutku mulas.



Kubalikkan piring logam bermotif segi oktagonal. Diambil olehnya. Ia menyobek seiris daging untukku. Kupetik sebutir anggur dalam keranjang. Kusorongkan ke mulutnya. Dia mengunyah seraya tersenyum. Hidungku dicubit.



Tak perlu instrumen untuk menimbulkan irama musik. Cukup deburan ombak dan cericit ciblek lincah. Serta kami berdua sudah menjadi nada-nada yang padu dan satu, meski tetap ada timbre sewaktu kami mendendangkan tembang tentang sejoli yang ingin hidup abadi di tepi nirwana.



Ada yang masuk. Pedang mengacung. "Hai Stefani!!!" Berteriak keras sekali. Lelaki itu. Dia betoga merah kental. Tommy. Kemunculannya mengejutkan agenda percumbuan kami.



"Kakanda Tom." Aku menyahut. Kepergok. Alamat leherku bakal dipenggal.



Klang! Andrew mencabut samurainya dari sarung. Matanya waspada. Akan ada pertarungan sepasang pendekar memperebutkan seorang perawan.



"Kakanda Tom, jangan." Supaya ia mundur, aku maju menahannya. Terompahnya bergesek. Pedangnya menghalau. Aku berhenti.



"Gadis pengkhianat!" tukasnya sengit. Dia tunanganku. Dijodohkan. Aku tak mencintainya. Ia brutal.



Kemudian mereka beradu pedang. Mencabik angin. Membelah kain. Memeras darah. Menumbuk amarah. Menyisakan penyerah.



"Hentikan!" Kutahan dia. Dibanting tubuhku.



Aku keluar mencari pertolongan. Sepi nian. Hanya seekor kuda merah legam kepunyaan Tom. Tiada harapan.



"Aaaarrrhhh...!!!" Teriakan pilu. Andrew. Jiwanya sudah menyangkut di ujung ketajaman logam panjang keparat milik pendekar bejat.



"Kamu jahat!!!" Aku menuju kekasih setengah nyawa. Akan tetapi pendekar bejat menarikku kasar. Tangisanku menyublim membentuk batu-batu membara yang dicengkram kawanan burung ababil. Hancur lebur surga menjadi lautan api.



**



Penglihatan perdanaku tertumbuk ke korden yang terolesi berkas cahaya lampu balkon. Apa yang baru terjadi? Bunyi dengkuran. Khas suamiku. Aku berbalik. Astaga, cuma kembang tidur.



Latar lokasinya... di Shangri-la? Ya, Shangri-la di Provinsi Yunan di China selatan. Ah, jauh. Surganya lebih mirip penggambaran dalam Al Quran. Aku pernah membacanya di toko buku. Surat apa ya? Aku harus tanya Rahayu.



Di sana ada nuansa campur-tabrak. Nuansa Timur Tengah. Jawa. China. Kakanda Tom. Habibah. Keris. Baju toga. Amboi... surganya banyak akulturasi. Dan klimaksnya adalah pertengkaran itu. Suram. Muram.



Melancong ke negeri mimpi cukup menguras energi. Ujungnya perut lapar jikalau terjaga pada dua pertiga malam.



Kuturuni anak tangga. Kuselidik lukisan naturalisme dari cat akrilik yang terpajang di dekat sofa sebab ada yang berubah. Obyeknya. Gadis cilik bercheongsam merah kerah tinggi itu menghilang! Barang itu dibeli Tom saat perayaan Tahun Baru Imlek di pameran seni rupa peranakan di galeri ternama. Kini gambarnya tersisa sungai, pohon bambu, dan sebongkah batu tempat gadis itu duduk. Mistik.



Kendati lapar, selera makanku padam. Berusaha berani. Abaikan saja. Kuputar kenop kompor. Mi instan kuaduk.



Perhatianku tersita. Ada yang tampak berlari. Kuintai dari meja dapur. Bocah. Citra lukisan itukah? Aku amati. Dia berlari-lari di ruang tamu, ruang televisi, sekitar tangga.



Siapakah gerangan? Makhluk fantasi? Anak hantu? Dia menjauhi tangga. Seketika aku mengibrit tunggang langgang ke lantai atas. Kutengok dia. Matanya bersinar.



"Kakak!" Oh mama, dia memanggilku.



Pintu kamar kutubruk. Menjerit. Tom terbangun.



"Kakak." Nyatanya pintu lupa kututup. Ia melongok dan memanggil lagi.

"Kamu siapa?" Tom mengucek mata.

"Aku mau pulang." Tom menengok ke arahku. Jidatnya lecek memerhatikan gadis sipit itu. Bertanya padaku lewat tatapan. Telah dia dapatkan jawaban.



Ia menghampirinya dengan gurat waswas. Usai mencapai tiga hasta, ia berlutut. Menyamai tinggi makhluk ajaib itu. Kutebak dadanya bergumuruh rusuh. Pun aku.



"Kamu mau main di sungai?"

"Aku mau pulang." Jawabannya kerap diulang.



Kedua lengannya akan menyentuhnya. Hendak digendong. Ia berani menghadapi hantu. Yang jelas itu hantu.



Hantunya menyerang! Kepalanya menyeruduk muka Tom. Mengerang. Sangat tegang adegan ini. Kemudian ia berpendar menjadi cahaya merah oval. Naik. Terbang. Hinggap di lukisan tempat dia bermuasal. Sungguh aneh namun mengagumkan.



"Mas, kamu gak papa?"

"Gusiku berdarah nih."



**

Telah tergenggam jawaban atas hilangnya "Kado untuk Stefani". Adiknya mencacah satu demi satu nama orang yang masuk ke kamarnya. Jo telah lancang. Sehingga mengakibatkan seuntai harta raib tanpa buronan.



"Seingatku Mukhlis, Aditya, Riza, dan Marisa." Ia jawab begitu saat kutanya kemarin.

"Marisa?"

"Yup, almarhumah Marisa yang meninggal valentine lalu."

"Apa hubungan dia denganmu?"

"Teman semasa SMP."



Tentu curiga pada mereka berempat. Kecuali Marisa, mereka berjanji menemuiku di sebuah kafe. Sebenarnya kecurigaanku lebih condong pada Marisa. Perempuan satu-satunya. Perempuan lazimnya menggilai perhiasan. Terus apa motif dibalik pencurian tersebut? Sekadar suka? Ekonomi? Atau ia punya klepotomoni?



Di tangan siapa benda berharga itu menjuntai? Kuduga disita dokter forensik yang mengotopsi mayat Marisa. Bukankah proses otopsi sudah selesai sehingga jenazah beserta benda-benda yang tersandang telah dikembalikan ke pihak keluarga korban. Apa musabab kematiannya? Apakah hasil VeR (Visum et Repertum) yang diterima penyidik atas kasus kematian superaneh pada valentine lalu? Dicekik setan? Hmm....



Aku pun teringat dengan obrolan dengan Rahayu di mal tanggal 15 Februari--sehari setelah kasus kematiannya. Dia bilang hasil visum menunjukkkan bahwa Marisa tidak dicekik cowok dalam mobil, melainkan bagaikan dililit tali--entah tali apa dan dari mana-- hingga lehernya memerah. Itu janggal. Setergesa itukah dokter menjabarkan hasil otopsi? Lagi pula setahuku dokter forensik tak memiliki wewenang menyiarkan VeR pada media massa ataupun umum. Itu melanggar sumpah jabatannya. Pihak kepolisiankah? Aku sangka itu rumor yang tertampung di media siber.



"Astagfirullahal azhiim, saya enggak mungkin nyolong, Mbak. Duit jajan saya lebih dari cukup." Mukhlis menjawab.

"Apalagi gue, eh, aku." Aditya duduk di sebelahku. Tubuh sintalnya berbau keringat puber, cologne spirtus, dan sengatan sang surya.

"Tentu bukan ane, ya ukhty. Barangkali Marisa. Bukan bermaksud su'uzon nih." Aku sependapat dengan Riza. Dia yaitu calon tersangka. Siapa lagi. Ketiga remaja ranum di sekitarku tak beralibi.



Cuaca siang ini cerah. Lengkung langit diselimuti awan sirostratus yang menimbulkan efek lingkaran halo di sekitar matahari. Lingkaran biru di bagian luarnya. Lingkaran merah di bagian dalamnya. Indah sekali.



**

"Kamu baru pulang?" Aku curiga. Pukul 21 lewat sekian.



"Sebagai financial planner ganteng dan profesional, aku wajib menepati janji sang klien." Kilahnya lancar. Dia mencari sesuatu di kulkas. Sampanye. Minuman itu kurang cocok mendampingi tempe goreng tepung yang tengah kumasak.



"Wuidih, Katy Perry goreng tempe sambil nyanyi The One That Got Away, ha ha ha ha...." Lelucon dan sindirannya kuabaikan.

"Aku berencana ke rumah Marisa dan menanyakan kalung itu pada orangtuanya."

"Dan mereka akan menganggap kamu adalah cici penjual emas di toko Sinar Widjaja Cemerlang."

"Ah aku capek ngomong sama kamu!"



Dia merangkul dari belakang. Membisikkan kalimat, "Aku sudah tidak tahan." Bibirnya hangat beraroma alkohol.



Oh, Kakanda Tom. Aku masih membaui amis hawa nafsumu dari sisik-sisik kulitmu, walaupun telah lebih tujuh puluh tujuh malam seliramu dan seliraku berenang di lautan peluh lalu memuncrat menuju puncak bulan berlumur madu.





Kurang puaskah dikau? Nyaris tiap malam aku duduk di antara kedua pahamu. Mengisap ujung tumpul dagumu sampai dikau menggelinjang. Ular nagamu yang panas lagi keras membuat aku lupa di mana kuletakkan kedua buah dadaku kala engkau unggat-unggit menahan desahan pendek yang rasanya memanjang ke seluruh jaringan pembuluh darah. Merambat teramat lambat ke otak. Melesat terlampau cepat ke sumsum tulang belakang. Lebih dari dadamu, aku mengagumimu. Lebih dari kelaminmu, aku menghormatimu. Kurang dari kedua itu, aku bisa tertunduk lesu.



Aku balikkan badan. Meraba wajahnya yang hangat terpanggang bara kama sutra. Bibirku dicium. Dikunyah bak kiwi selandia. Lidahku dibelit. Digulung. Ditekuk. Saliva tertukar.



"Kakak!"



Melepas. Dilepas. Terlepas.



Pemanasan terusik suara setan cilik itu. Bagaimana dia bisa keluar lagi dari selembar kanvas dwimatra? Anomali. Tetapi tak ada kata 'tak normal' dalam kamus metafisika.



"Eh Mei Mei, mau buat gusiku berdarah lagi?"



Ia berlari mengitari ruang tamu, ruang televisi, ke taman kecil. Makan malam tertunda. Lauk dan sayur mendingin. Menihilkan rasa ingin.



Dalam kegelapan ruang televisi, ada lagi penampakan seorang pria yang merokok. Bara apinya terlihat. Tak ada lagi lelaki di rumah ini kecuali Tom.



"Tom, banyak hantu di rumah kita." Ia mengangguk.

"Aku lapar banget. Makan aja yuk. Kalau mereka ke sini, ya kita tawari saja tempe, he he he."



Jeritan membahana. Dia jatuh berguling-guling di tangga lalu tersungkur ke lantai keramik tak berpermadani.



Tom berlari. Ingin menolong pasti. Derapnya berhenti saat sosok perokok itu bangkit, berjalan ke arah korban. Tak salah lagi jin Andrew muncul kembali. Kupeluk suamiku. Kurasakan genderang bertabuh saat kuraba bidang dadanya.



Dia melempar rokoknya. Mengusap darah di dahi gadis mungil. Membopongnya ke lantai atas. Ada apa ini? Kami diteror komplotan jin yang bersekongkol.



Tom memungut sepuntung rokok yang terlempar.

"Dji Sam Soe," katanya keheranan.

"Rokoknya Andrew." Aku keheranan pangkat tiga ditambah kebingungan kuadrat dibagi pemakluman akar satu..



Sesudah 15 menit, kutatap lekat-lekat lukisan itu beberapa saat. Memar wajahnya. Secuil cairan merah menempel di keningnya. Aku tak sanggup lagi mencerna antara logika dan gaib. Namun selama 31 tahun hidup di dunia fana ini, baru kali ini aku mengalami kemelut gaib yang beda dan baru. Bukan lagi melihat pocong lompat-lompat yang talinya minta dilepas. Kuntilanak yang rambutnya tak pernah di-creambath. Atau genderuwo yang merangkak di genteng sekolah semasa aku kemalaman menjadi panitia HUT RI.



Tanganku yang bertisu dengan amat hati-hati mendekati spot darah itu. Entah darah asli atau sintetis. Deg. Sudah kena. Citranya telah bersih dari noda. Tak terjadi apa pun. Hai Mei Mei, aku percaya kau sudah mati akibat perbuatanmu sendiri. Jangan ganggu tuan rumahmu lagi.



"Kakak."



Bersambung...



Jakarta, 21 Februari-2 Maret 2012

Kamis, 23 Februari 2012

127. Kado untuk Stefani (episode 3)


Napas suamiku tersengal bagai usai bersprint di lintasan lurus. Kudekati, kuambil tas tentengnya. Aroma parfum kayunya sudah memudar dihajar keringat. Kusuguhkan sekaleng minuman elektrolit. Habislah ditenggak di sofa hijau tosca kesayanganku.

"Kamu dikejar sapi?"

"Sejak kapan lantai dua beranak tangga seribu?" Pertanyaannya masih mentah. "Maksudnya, Tom?" Dia tak langsung menyahut. Peluh di mukanya diseka. Wajahnya tampak serius di balik kemudaannya. Usianya memang 4 tahun lebih muda dariku. Namun kariernya seperti 40 tahun lebih tua dariku.

"Sudahlah." Dia pasrah. Melepas sepatu dan kemejanya. Kurapikan. Barangkali dia lelah dan penat. Dia harus beristirahat di pelukanku yang hangat.

"Stefani...." Telapak tanganku diremas, guratnya cemas.

"Iya, sayang."

"Seperti ada kekuatan hitam yang mengganggu kita," ucapnya serius.

"Jelaskan dulu apa maksud seribu anak tangga?"

Tom mengembuskan napas melunturkan keganjilan yang baru dia alami.

"Aku merasa jauh meniti tangga dan terlihat tinggi sekali."

Aku menjawab dengan bahasa diam, bahasa mengerti. Ada lagi pengalaman supranatural di antara kami sedangkan lampion-lampion misteri belum sanggup aku nyalakan.

"Kamu sudah tanya Mas Luki tentang tempo hari?"

"Belum sempat." Dia berdiri.

"Lalu kalimat itu?" tuntutku tak sabar.

"Apalagi itu. Aku sibuk."

"Apa? Sibuk?" Aku menggertak.

"Iya sibuk, duitnya juga buat kamu. Enggak kayak kamu, bisa lenggang kangkung di mall."

Cibirannya memenggal batang leherku. "Enak saja kamu, Tom! Kamu menyuruhku berhenti mengajar agar fokus menjadi istri rumahan yang melayani suami, mencucikan celana dalammu, mengambilkanmu ini-itu. Aku kuliah capek toh akhirnya aku cuma di rumah melayani suami kolokan macam kamu. Nggak heran karena kamu anak lelaki satu-satunya yang dimanja!"

Plak!

Ah! Aku membisu. Ini kali pertama Tom menampar pipiku. Tangannya panas sekali bagai ada kobaran api di tiap sumbu jemarinya.

Aku menangis sebagai wanita. Wanita yang lemah. Perih. Amat menyakitkan bila hidup harus dipilih, bukan memilih. Dia berjongkok. Bersimpuh di sisiku. Tangannya yang kasar dilingkarkan di pinggangku. Kepalanya dibenamkan ke perutku.

"Fani, maafkan aku ya." Penyesalan terucap dari bibirnya. "Aku berjanji takkan memukulmu lagi. Juga akan berusaha menyibak kalimat itu. Aku rencana minta tolong pada rekan kerja dan teman-temanku. Mungkin kamu bisa minta bantuan pada murid-muridmu tempat kamu dulu mengajar. Biasanya anak SMA lebih kreatif dan rasa ingin tahunya berapi-api." Tom bicara sepihak.

oh mentari sang jimat

turunlah ke bumi sebagai juru selamat

saksikanlah tarian ranjang kami yang kian hangat

sarikanlah satu kitab menjadi satu kalimat

esok subuh ku kan berdoa agar luruh segala kesumat

bagaimana aku memanjatkannya ke langit bertabur rahmat
engkau telah turun ke bumi pada sepucuk siang yang terlambat

**

Malam-malam terasa memanjang; nyenyak di pangkuan kelam. Siang-siang begitu ringkas, datang terlambat tanpa maaf. Bulan maduku bersama suami mengembun beku di ujung daun dan batang kemaluan. Guyuran hujan saban petang enggan meninggalkan jejak di pinggir malam.

Pembuntu labirin itu sedikit mendapat lubang jalan. Nasihat Tom usai aksi KDRT tiga hari lalu ada benarnya. Salah satu muridku berhasil meretakkan kaca buram yang menghalangi maksud kalimat itu. Malam ini kami mengundang dia makan malam di restoran Jepang.

"Ternyata kamu suka sekali ya dengan ramen." Aku sedikit terkekeh pada Galung. Senyumannya menyimpul.

"Sejak nonton film Ramen, Bu. Andai saja ramen ini dibuat oleh Britany Murphy, wuihh saya rela bayar sejuta ha ha ha...."

"Betul. Bahkan tempe goreng buatan Katy Perry tuh lebih lezat daripada rendang bikinan Zhang Ziyi." Tom buka guyonan. Menyindir. Kutendang betisnya.

"Aduuhh... kakiku ditendang arwah Marisa ha ha ha." Ya ampun, suamiku memang memalukan. Pandainya cuma berkelekar tak bisa bikin masalah ini kelar.

"Kak Tom."

"Iya."

"Hmm, saya mendengar tawa perempuan berbarengan dengan tawa Kakak." Galung heran. Begitupun kami berdua. Semua sendok diturunkan. Semua alis dinaikkan.

"Sudah tak ada wanita di resto ini, kecuali mantan guru fisika-mu yang cantik ini." Tom menekan hidungku. Menampik Galung.

"Iya, mungkin sekadar halusinasi."

"Okay, langsung saja. Kenapa kamu berkesimpulan kalau kalimat 'aku ingin pergi tak mau menginjak bumi' ialah orang yang bunuh diri? Krek!" Tom memeragakan gerakan tangan seperti menghabisi nyawa dengan menyembelih.

"Begini, Kak. Semua orang yang pergi pasti menginjak bumi, sekalipun naik pesawat insya Allah akan turun ke bumi. Ya kecuali astronot. Tapi suatu hari sang astronot yang bertugas di luar bumi insya Allah akan kembali ke observatorium di bumi. Dan sepenggal kalimat 'tak mau menginjak bumi' seperti pergi selamanya." Galung amat brilian. Angkat topi untuknya.

"Why not?" Sanggahan Tom bikin pahit suasana.

"Tapi, Kak, kita sedang membahas hal gaib, bukan ilmiah. Yang menyampaikan pesan ini yaitu jin, bukan Yuri Gagarin." Galung berkelit sekuat urat.

"Kalau begitu, model bunuh dirinya apa dengan gantung diri?" cetusku.

"Nah, Bu Fani benar! Gantung diri termasuk nggak menginjak bumi. Kalimatnya memang bercabang."

"Lalu siapa yang bunuh diri pakai tali jemuran?" Ah, Tom, kau masih saja bergurau.

**

Aku terhisap lubang waktu dengan putaran yang kencang. Sekencang mulut Galung. Pikiranku terhuyung ke suatu masa. Gerhana menyambangiku lagi di tengah padang sabana kala aku dan masa depanku bergandengan intim diiringi burung-burung gurun.

Ketika kali pertama Tom muncul, aku yakin dia masih mencium harum kembang kuburan yang menyeruak dari tetes terakhir air mataku. Dia adalah macam pemuda yang tak mau banyak tahu. Kusembunyikan lembaran itu di kitab paling tebal.

Apa lacur. Makhluk bernama kenangan bangkit dari peti mati bertanggang cahaya. Andrew, masa laluku, kini sudah turun dari tali api yang menebas batang lehernya.

"Fani-ku sayang, aku dipecat."

Keluhanmu itu bagai lidah penyambung tambang berkepang empat. Bukankah kala itu kutatap nanar matamu yang biru terbakar menjadi abu.



Kemudian bulan-bulanmu terborgol ketidakpastian. Langkah kakimu tak mampu maju. Darah syahwatmu kian amis ketika kubaui lekuk ketiakmu. Kamu gagal meminangku.



"Fani, aku tak punya uang untuk membelikanmu kado valentine."

Kamu ingin selalu menjadi pahlawan di depanku. Tanpa luka meski kalah tempur di medan buangan. Derap kakimu teratur Bukankah kemarin sepulang dari Gereja engkau mengaduh betismu ditembus peluru dari kaca panas.



"Fani, brengsek kau!!!" Aku cuma diam tersedu. Kamu menukasku bahwa aku melelang bunga cintaku. Memang kamu benar. Bukankah kamu sudah mengaku kalah. Tak ada lagi wibawa yang menahanku agar tetap di sisimu.



Lalu kamu menjambak rambutku. Pria kedua itu kamu tonjok hingga mimisan. Usainya aku hanya melihat seekor anak iblis terbang dari bumi.



"Andrew, kamu marah padaku?" Aku bergumam pada jejak sayapmu di langit. Tentu hanya sunyi yang bernyanyi.



"Kak Fani, Kak Andrew telah tiada." Ucapan dari adikmu fajar itu hampir membuatku semaput. Selama tiga hari namamu aku doakan ke langit dari altar suci tempat sembilan malaikat memuji.

Kekasihku, kau pergi tanpa membawa rohku. Kamu sungguh marah tatkala memandangku mendua. Engkau tak tahan akan semua itu. Aku pun tak tahan dengan takdirmu yang menggelantung di tepi kelopak lotus. Namun semudah itukan kamu menjadi hakim yang lalim?

**

Tom berwajah masam geram. Sedikit dongkol mengetahui narasi besar masa laluku. Dosa masa lalu. Tetapi kejengkelannya meredup. Tak berbekas kalau dia mantan anak mama dan papa. Kemudinya kalem.

"Ada yang membuntuti kita sejak dari resto." Spion diselidik. Menyingkir ke warung kecil.

"Bermobil?"

"Bukan. Berjalan kaki." Lagi-lagi banyolan. Waktu hanya dianggap sampah alam.

Di jalan belakang, lengang. Bercahaya LED jingga yang terang. Manusia macam apa yang bertenaga kuda. Dan ternyata....

"Tom." Dia mendekat bersama sebotol air mineral.

"Kamu lihat kan? Siapa dia?"

"Itu Andrew...." Bisikku gemetar, gentar, diiringi halilintar yang sejak sore gagal memanggil hujan. Tom dengan tergesa memutar ban. Suhu dalam kabin turun meski hujan belum mendarat. Uap keluar dari mulut Tom. Kugesekkan jari-jariku biar hangat.

"Sekencang apa mobil ini, dia bisa mengejar kita walau terlihat bagai orang berjalan santai." Menggerutu. Bersungut.

Arwah Andrew mengejar mobil kami. Wajahnya dingin. Buluku bergidik. Tom bergaya bak pereli yang berambisi naik podium. Sukses. Hantu tersebut kehabisan tenaga untuk membuntuti kami. Terkendali.

"Bagaimana? Mau melawan Latvala, ha ha ha...." Bahaknya memanggil hujan. Temperatur yang berubah prematur, kini menghangat. Kaca samping mengembun. Di sinilah keajaiban bermula. Terukir di samping bahwa "aku ada di belakang". Ya Tuhan, apakah dia yang mencekik Marisa?

"Dia sudah mendekat, Tom."

"Sinting tuh!" Sedan berbelok cepat. Tergelincir. Terkontrol. Berpacu di aspal licin tak berkawan. Mengebut kencang dengan gundah. Menghapus butiran hujan yang basah.

"Kampret!" Palang di perlintasan kereta diturunkan. Kereta listrik berlari sekuat predator. Menipiskan kesabaran Tom. Menebalkan kecemasanku.

"Kereta a*jing! Panjangnyaaa." Dari tadi Tom mengumpat. Geledek pecah di angkasa. Curah hujan tumpah ruah. Rangkaian KRL yang memotong perjalanan kami tak kunjung habis. Bilangan gerbongnya laksana seribu kurang satu. Kereta pengangkut mayatkah ini?

"Dia sudah duduk di jok belakang." Aku berbisik. Ya, itu Andrew yang telah duduk. Jas hitamnya tampak gres. Seperti jas yang ia kenakan saat terlelap dalam peti mati. Bahkan Tom lebih pengecut dariku. Tak pernah dia melirik dari spion.

"Ini kereta iblis! Kita tabrak aja!" Murka. Bentakannya menghilangkan bayangan Andrew di kaca. Dia menghilang.

"Mobil kita bisa terseret, Tom," cegahku.

"Kereta ini hanya ilusi. Fatamorgana. Permainan visual setan!"

Teriakanku menggelegar. Kaca samping diketuk olehnya. Bukan. Bukan Andrew. Bukan Andrew yang mengetuk. Bukan Andrew yang mengetuk kaca samping. Penjaga. Penjaga perlintasan. Penjaga perlintasan yang melakukannya.

"Neng, ayo jalan. Kan keretanya sudah lewat dari tadi."

Aku membuang napas.

**

Semerbak bau kopi arabika yang kumasak bertebaran di meja ruang tamu. Aku menjamu Mas Luki. Tergoda oleh wanginya, dia menghirup kepul-kepul dari cangkir, kemudian lidahnya mengisap barang sekelumit. Tampilan dia klimis. Muda dan enerjik. Tiada satu pun aksesoris yang melambangkan bahwa dia seorang ahli paranormal. Dia lebih mirip presenter olahraga.

Ini untuk kali perdana dia bertamu ke rumah. Saya ingin tahu rumah Mas Tommy, dia bilang begitu. Ini pun istimewa karena tak biasanya dia menyamperi kliennya. Naga-naganya, pundi-pundi Tom harus rela mengempis. Tarif VIP. Tak apalah. Toh, kedatangannya ke sini sebagai ajang konsultasi intensif.

"Mas Tommy biasa pulang jam berapa?" Dia mendahulukan perbincangan.

"Akibat macet, ya sekitar jam 7 sampai jam 8, Mas."

Gelasnya diletakkan di tatakan. Kroket hangat yang terhidang ia cicipi dengan sukacita. Gerak-geriknya teratur. Tiap zat yang masuk ke lambungnya dimulakan dengan komat-kamit atau berdoa.

"Mas Luki, apa benar roh Andrew yang membunuh Marisa?" Bibirnya yang berminyak diseka tisu, lalu dia, "Hmm... terus siapa yang membunuh Andrew?"

Aku tak sanggup menjawab. Itu sindiran.

"Lantas apa kaitannya antara kematian Marisa, lompatan ruang ke hutan, dan kalimat misterius itu, Mas?" Rasa penasaran melontarkan setumpuk pertanyaan.

"Ada pesan yang ingin disampaikan. Dia punya unfinished business denganmu." Telunjuknya mengarah ke muka orientalku. Ia tersenyum dua lapis; menyejukkan dan mencemaskan.

"Jangan takut. Dia hanya jin yang menyerap memori dan energi Andrew sewaktu masih hidup. Untuk melatih keberanian spiritual, bagaimana jika kamu yang menghadapinya?" Mas Luki menyodorkan opsi yang lumayan frontal.

"Menghadapinya? Nggak." Mengkerutlah aku.

Rambutku dibelai. Dipetik. Rautnya serius. Sehelainya direntangkan dengan kedua pasang jarinya. Ditekankan ke bibir cangkir. Terbelah sempurna. Rambut itu seperti sembilu mengiris tahu. Aku terpana. Ludah kutelan sembunyi-sembunyi.

"Rambutmu saja punya kekuatan. Masa jantungmu tidak tidak."

"Tapi, Mas...." Aku keberatan. Takut.

"Saya akan menjagamu dari belakang."

**

Aku dan Tom berbagi tugas. Tom bernegosiasi dengan adiknya Andrew, Jonathan, supaya aku bisa masuk; menyelundup ke kamar tidurnya tanpa mengetuk pintu mengucap salam pada nyonya besar pemilik rumah. Wanita tua itu sungguh membenciku. Kebencian akut.

Segala sesaji kupersiapkan; kemenyan, dupa, dan bunga tujuh rupa. Klenik. Makanan makhluk gaib. Pancingan. Undangan. Oh... mengerikan.

“Tom, xian zai wo zhen de hen pa. (现在我真的很怕) [3]” Aku merengek padanya. Dia mengantarku.

“Ni fang sin, wo gen ni yi qi. (你放心, 我跟你一起) [4]”

Keluar dari mobil angin dingin menampar kulitku. Kegelapan memeluk. Lamat-lamat terdengar rintih punguk. Terlihat seekor cerpelai merangkak di atap rumah. Aku menoleh ke Tom. Senyumannya sejuk.

Jonathan melambaikan aba-aba. Komandonya kuturuti. Lewat pintu alternatif. Jalan tikus cukup mulus.

"Jo, terima kasih ya."

"Nggak papa, kok." Parasnya mirip Andrew. Suaranya teduh. Ramah.

Daun pintu kutekuk. Berderit. Engselnya kurang pelumas. Lampu benderang di kamarnya. Jo pamit meninggalkanku. Apakah Andrew masih sering menangis di ruangan ini? Di mana dia menghamburkan malam semasa hidupnya. Letih dan perihnya dibaringkan di kasur. Denting dawai gitar, melagukan syair masa depan yang sudah terkapar.

Terang kupadamkan. Terbakarlah dupa dan kemenyan. Di pinggir gelisahku membumbung aroma kembang-kembang tujuh rupa. Gelap kian genap. Aku duduk bersandar di ranjang. Seribu lima ratus detik berjalan merintik. Suhu ruangan naik. Seperti ada pergerakan. Halus. Meringkus keberanian.

Pesan apa yang hendak disampaikan jin itu? Perihal apa? Urusan apa yang belum selesai antara aku dan Andrew? Kesepiankah dia di sana? Mungkinkah nyawaku akan ditarik untuk menemaninya bercanda di taman firdaus? Pelbagai tanda tanya kusebarkan di kepala sebagai strategi pengusir rasa ngeri.

Lalu.... Ada lenguhan napas panjang. Apakah jin bernapas? Bagaimanapun itu, dia benar-benar nongol ke arahku. Aku memejamkan mata.

"Stefani." Memanggil. Aku meriang. Kulitku serasa menebal. Napasku menjadi berat. Menghadapi makhluk gaib adalah hal paling konyol. Jangankan muka ke muka, mendengar cekikikannya saja bikin aku lari pontang-panting. Merapal ayat dalam Al Kitab untuk menghalau hantu biadab.

Tetapi... misi ini akan amburadul apabila aku mundur; menutup mata. Dengan doa-doa yang kuucapkan pelan--tentu tidak khusyuk--kuberanikan membuka penglihatan. Meledakkan cangkang-cangkang fobia yang memenjara.

Tidak ada. Hilang. Tak ada apa-apa. Hening. Kuatur pernapasan. Kuselaraskan emosi.

Ya Tuhan! Dia duduk di sampingku. Di tepi kasur, membelakangiku. Berjas. Alamak... bagaimana struktur mukanya kalau dia menoleh. Pasti berdarah, rusak-hancur, atau mungkin dikerubungi belatung montok? Aih....

"Andrew...." Ah, tak kuduga, aku berani juga memanggilnya balik, walau keringat sudah kuyup melembabkan baju.

Dia menengok. Menatapku. Tak ada darah dan belatung. Pucat membiru. Cembung matanya tampak cekung menampung bahasa nan sinis. Runcing. Tenagaku terkuras saat duduk berdampingan dengan makhluk ini. Dunia kami yang berbeda serasa berat bertemu pada frekuensi yang sama--disamakan.

"Aku menyayangimu. Jangan tinggalkan aku." Dia berbicara lagi. Suaranya timbul mengambang antara gelap dan terang. Aku paham suara hati Andrew. Air mataku meleleh membasahi isak penyesalan. Kucampakkan dia saat tersungkur bersimbah lumpur.

"Maafkan aku, sayang." Aku sesenggukan melisankan permohonan itu. Untukmu Andrew. Untuk kekasihku yang tak kuat bertahan tanpaku. Maafkanlah kekasihmu yang durjana ini. Bawalah maafku dan ketulusanmu ke alammu yang damai dan abadi.

Sesaat sebelum sosok itu raib dariku, ia mengujarkan pesan. Laci. Ya, dia menyebut kata itu. Aku bergegas menuju laci susun empat di samping rak sepatu. Leburlah ketegangan. Menetral. Terang. Inspeksiku berhasil. Sekotak tempat perhiasan kalung dari beludru merah. Ternyata ini. Aku mengusapnya.

"Kado untuk Stefani", itulah tulisan yang tertera di kotak. Tergores mungil dari spidol biru. Aku terharu biru ketika tahu Andrew akan menghadiahi kado ini sebelum jiwanya pergi.

Namun barang ini gagal terberi dari tangan pangeran ke tangan permaisuri. Kado valentine tahun lalu putus oleh tragedi klise. Mengendap lebih dari lima puluh minggu dengan pesan yang termangu.

Trenyuh. Tersentuh. Kembali ke masa lalu melihat rembulan yang sudah berdebu. Pandangan menyapu. Tapi ternyata... kosong.

Di mana seuntai kalung itu?

[3] Tom, aku sungguh takut dengan semua ini.

[4] Jangan takut, ada aku di sampingmu.

Bersambung…

Jakarta, 2-17 Februari 2012

Selasa, 14 Februari 2012

126. Kado untuk Stefani (Episode 1)



"Kamu harus tahu bahwa Andrew masih sering menangis di kamarnya walau sudah satu tahun berlalu!”



Suara wanita bernada ketus dari membran ponselku putus tanpa permisi. Peringatan itu bagai menyisihkanku ke teluk penyesalan. Kubaringkan ponselku di meja dapur. Adonan kue untuk hidangan Hari Valentine yang sempat terbengkalai aku lanjutkan lagi. Namun percuma saja. Tanganku yang bergemetar saat memegang spatula mendamparkaanku mundur ke masa silam tatkala aku melakoni kecerobohan cinta yang berdampak pada tragedi klise. Menghempaskanku ke pojok tempat tidurku nan dingin. Memerah tetes per tetes air dari bola mataku. Sementara hidup harus berjalan tanpa ampun. Hingga aku berani berkeputusan dan takdir menjemputku sampai ke sini.





Aku terjaga dari kilas balik masa lampau. Sekonyong-konyong serbuk kastor terbang dan menyembur wajahku.



“Ya Tuhan, uhuk uhuk!”

Serbuk gula halus itu masuk ke hidung dan mataku. Tersedaklah hidungku dan memedihkan mataku. Apa yang baru saja terjadi? Siapa yang meniupnya? Aduh… anehnya.





"Kenapa, Bu?" Asisten rumahku datang memasang raut heran.

"Enggak papa, Bi. Tolong lanjutkan adonan itu, lalu tuang ke loyang, masukan ke oven suhunya 170'C dan harus 12 menit. Bentar aja, saya balik lagi.



**

Ah... Hari Keagungan Cinta tahun ini berhambur air hujan warna merah jambu dari langit nan sendu. Dengan senyum merekah di wajah, aku memilih busana yang wajib kukenakan untuk menemani suamiku makan malam sederhana di rumah kami. Memusnahkan cahaya-cahaya lampu yang pongah. Memekarkan kuntum-kuntum lilin yang remang. Menyemprotkan partikel pengharum ruangan aroma mawar di kamar tidur. Amboi... romantisnya layaknya cerita dalam novel.



Hmm, aku tak boleh saltum malam ini. Cardigan kuning yang berpadu dengan kemeja merah muda dan pleated skirt warna ungu sekiranya cocok. Kuperagakan padu-padan busana itu di hadapan cermin lebar bersama senyumku yang menyebar. Ahai, namun dress selutut warna magenta bermotif mawar merah sejatinya menampilkan kesan romantisme merah jambu.



Huh, bimbang aku dibuatnya. Sudahlah... cardigan lebih pas membalut ragaku pada musim hujan yang menggigil ini. Andaikan suamiku ingin yang lebih panas, sebelum naik ke “arena” aku akan memakai lingerie yang menggodanya.



"Fani, ayo turun." Suamiku sudah siap. Dia bersandar di daun pintu. Kemilau kemeja biru terangnya memendarkan kesan elegan. Aroma minyak rambutnya menyengat sekali.

"Tunggu, Tom, aku sedang merias."



And even if the sun refuse to shine

Even if romance ran out of rhyme

You would still have my heart until the end of time

You're all I need, my love, my Valentine



Lagu My Valentine mengalun syahdu di ruang makan. Lidah api sudah membakar metanol supaya menjilat panci logam yang berisi minyak kacang. Hmm… sudah menyeruak bebauan pancingan yang meneteskan liur. Ya, kami akan menyantap daging founde malam ini.



"Aku paling suka coklat fondue yang dicelupkan stroberi segar. Hmm...." Rupanya Tom nafsu pada coklat fondue.

"Coklat fondue kapan-kapan ya...."



Kucelupkan ham ke minyak panas dan menunggu beberapa saat.

"Okay, that's why there's no war if we eat fondue, he he he," guraunya.

"Agree. Lagi pula aku punya strawberry mouse cake lho."

"Hingga serbuk kastor bikin kamu keselak?"

"Sudah ah. Aneh sekali insiden itu."



Kuperhatikan sampai topik obrolan usai dan menu habis, belum juga Tom memamerkan kadonya padaku. Bentuk dan warna sampulnya pun tak mampu keterawang. Apa dia benar-benar tak mempersiapkan kado Valentine untuk istrinya tersayang....





"Tom...." Senyumku kecut. Rahangku kaku. Ada darah mengalir tulus dari keningnya ke hidungnya yang agak bangir. Baunya teramat anyir. Kental. Horor.

"Iya."

Dengan gemetar aku menyeka hidungnya. Darah itu teramat dingin dan anyir. Teramat ganjil. Apakah Tom diam-diam punya penyakit?

"Fani, kenapa?"

"Darah."



Dia mengusap dahinya, hidungnya, dan pipinya. Dilihatlah tangannya sendiri. Kemudian telapaknya digosokkan di serbet putih.

"Tak ada darah. Hanya keringat sebab banyak api di meja ini."

"Aku nggak bohong."

"Tetapi tidak ada fakta."



Tom mengeluarkan kotak bersampul merah jambu berpita biru tua dari kursi di sebelahnya. Ekspresinya separuh tertawa separuh tersenyum seraya menimang benda pamungkas itu.

"Mungkin kamu sedang kalut. Dan di malam Keagungan Cinta ini aku persembahkan kado spesial untuk istriku tercinta, Stefani Widjaja. You would still have my heart until the end of time. You're all I need, my love, my valentine." Tembang yang dia lagukan amat merdu di hati. Dia berpindah kursi. Menghampiriku lantas menarik tanganku yang masih bergetar untuk menerima pemberiannya.



"Terima kasih, suamiku tercinta." Maka dikecuplah pipiku.

"Apakah pria tak pantas dapat kado?" Tagihnya menggoda.

"Hadiah untuk pria selalu ada di ranjang sutra." Aku balas menggoda. Kubelai pipi putihnya. Dia menggenggam pergelangan tanganku sambil menciumnya. Terpejamlah kedua mata sipitnya. Dia menggigiti kecil jemariku. Geli nian. Oh dia sudah melakukan foreplay di sini.



***



Aku masih di kasur hangat dengan separuh ragaku yang lisut dihisap kumbang raja. Sisa-sisa napasku juga masih menyangkut di selangkangannya. Aku melepaskan diri dari rangkulannya. Tak sabar mau kucium kalung berlian hadiah dari Tom. Alamak... model macam ini pasti nilainya belasan juta. Tak salah alamat aku memilih dia sebagai nahkoda hidupku. Saat seperti ini aku jadi teringat masa lalu. Masa lalu yang tak mau beranjak dari tiap pagiku yang ungu.



Nada diam ponselku berbisik. Ada pesan singkat dari Jenny rupanya. Aku tersenyum geli kala membaca isi pesannya. Duh... tadi siang dia berencana nimbrung makan malam dengan kami. Namun dia berdalih takut memorak-porandakan malam Keagungan Cinta milik kami. Sebenarnya dia iri pada kami lantaran valentine ini tak ada gandengan. Semoga dia tetap tangguh dan antigalau.



BagongGermanotta (Bagong Wicaksono): RT @kecebonggenit Ada cewek mokat di mobil pas lagi pacaran di suropati @LilMon666 Valentine berdarah tuh @AlfaHooligans



beritakilat (beritakilat.com): 23.23 Seorang gadis remaja tewas di mobil dengan leher memerah. Sementara pacarnya masih syok belum bisa diajak bicara bit.ly/xyS35a



Aku terusik oleh rentetan linimasa di jejaring sosial itu. Berita kilat yang lumayan mencekat. Malam hujan masih saja keluyuran.



katyperih (Nana Pasaribu): Mank betul y di kaca mobil korban di tamsur itu ada tulisan 'aku ingin pergi tak mau menginjak bumi'. Hii siapa yg nulis? Takara!



Rasa penasaran membawaku agar membuka tiap URL berita yang disebar. Aku menelisik ke situs berita tersebut, sayang infonya masih kerdil. Mungkin esok mulai melebar.



Lantas, tirai jendela dibelai, melambai santai di pojok keremangan yang panjang. Mataku terbelalak mulutku mangap. Ada sosok yang berdiri di luar jendela. Mewujudkan siluet bayangan sejati meremas hati. Malingkah itu yang berhasrat menggondol kalung mewahku? Ah tidak! Mungkin itu tirau pengacau. Astaga, ada tirau di rumah ini.



"

Wo yao qu, wo bu yao zai di chu. (我要去 我不要在地处). [1]" Hantu itu berbisik dalam bahasa mandarin.



"Tom! Bangunlah!" Kuguncang tubuhnya yang bugil berbalut selimut.

"Kenapa?"

"Ada setan!!!" Napasku memburu. Kalimatku menyeru.



"Kita di mana?" Dia menyelidik ke berbagai sisi. Kesadarannya terbangun paripurna. "Sepertinya di hutan...."

Baru kusadari kami berpindah ruang ke belantara tak bernama bersama tempat tidur besi. Dipagari pepohonan jangkung yang menjulang menyundul gemintang terang. Kembang-kembang kabut menyesakkanku ke perasaan serba takut. Kupandang Tom bergegas mengenakan setelan piamanya. Lalu dia mendekapku dengan damai, kendati rona-rona panik memerah di pipinya.



"Apakah kita bermimpi?" bisikku.

"Aku baru bangun dari mimpi dikejar sapi. Apa aku mengalami mimpi lapis kedua kayak The Inception?"

"Kenapa kita malah berdiskusi!" Kuomeli dia atas kepayahannya yang enggan mencari jalan keluar tetapi cuma bisa memelukku.



Suara langkah menuju posisi kami. Perlahan.

"Tom, ada yang mendekat."

"Itu Jeepers Creepes."

"Kamu pikir leluconmu itu lucu!" Teriakanku menggema, berayun-ayun dengan liukan dahan pohon yang disembur angin. Kucubit puting teteknya sampai dia meringis.



"Mana hapemu. Aku mau menelpon Mas Luki." Tom menyebut nama paranormal kenalannya.

"Apa ada sinyal?"



Mengatupkan kelopak mata adalah cara paling jitu mengenyahkan rasa takut dari suasana mengerikan yang terbangun di tengah rimba tak berkompas. Dengkingan anjing hutan bersahutan mengurung gelap yang sudah terlelap. Koor aneka serangga menggenapi aroma liar. Roma-roma di badanku berdiri ditegakkan angin malam. Sementara suamiku belum berhasil menghubungi sang dukun itu.



Tak tuk tak tuk... Suara langkah kuda sepertinya. Ya tepat sekali. Juga ada ringkik kuda yang memantul ke tiang-tiang kayu. Siapa lagi itu tengah malam berkuda di hutan. Apa pangeran istana yang dikejar Angling Dharma? Atau mungkin kuda siluman yang ditunggangi jin gondrong?

"Tom, suara langkah kuda."

"Abaikan saja. Sepuluh menit lagi kita akan dikembalikan ke rumah." Syukurlah, Tom sukses minta tolong pada dukun itu. Tapi....

"Sepuluh menit? Kuda itu keburu menginjak-injak badan kita!" Protesku rewel.

"Paling si penunggang akan merampas harta kita. Berikan saja kalung berlianmu itu."



Aku cemberut. Pelan-pelan rasa takutku memudar akibat celetukan-celetukan Tom yang menjengkelkan akan tetapi terasa menghibur ketegangan.



Suara itu membesar. Sesuai Efek Doppler, itu berarti kuda dan penunggangnya telah memangkas pita jarak mendekati kami. Ya Bapa di surga, kirimkanlah malaikat penyelamat dari langit.



"Awas, Tom!!!" Tom tiarap. Merengkuhku sambil menarik kemul menutupi seluruh tubuh kami yang menggigil. Kuda itu seperti menerjang, melompati kasur kami bak sirkus di pasar malam. Sialnya mereka berhenti dengan ringkikan kuda yang melentur laksana guntur. Aku mendengar dia hengkang dari pelana, langsung menjejak bumi tanpa meniti sanggurdi.





Ketukan kaki manusia atau iblis? Aku membayangkan sebilah keris menghunus ke arahku. Tom, bangkitlah sebagai pria sejati. Lindungilah wanitamu ini.



Dia duduk di sebelahku. Dia menggumam geram. Aku belum siap mati. Aku belum memesan peti kayu jati.



"Tom!" Aku kaget, bokongku disentuh oleh makhluk itu. Meremas dengan binalnya. Kurang ajar sekali dia. Belum pernah seumur hidup aku dilecehkan macam ini bahkan oleh pria brengsek sekalipun. Kini pantatku diremas bagaikan adonan donat. Aku ingin bangun dan menjotos muka jurig itu. Tapi aku takut.... Janganlah takut, Stefani. Ayo sang wonder woman, bangkitlah!



"Kurang ajar kau!!!"



Kosong. Tiada penunggang. Tak ada kuda. Tak ada hutan. Ini kamar tidurku. Ah... aku akhirnya kembali ke muasalku. Ruangan yang hangat dan sentosa. Puji Tuhan.



"Tom, kita sudah berganti tempat."

"Tadi seru banget. Kayak nonton film horor 4 dimensi."

"Kamu diam saja pantat istrimu dilecehkan dedemit itu." Aku komplain.

"

Ni de pi ku mei you mo yi mo gen nan shen bu ran, hahaha…. “(你的屁股没有摸一摸跟男生不然) [2]



PLAK! Kutampar pipinya.



**

Petang ini aku ada janji kongkow di mal bersama Rahayu. Sekadar menyeruput kopi racikan bartender tampan dan menonton di sinema. Meski aktivitas ini hanya seminggu dua kali namun ampuh menetralisir kesumpekanku akibat menjadi istri rumahan yang wajib melayani keperluan suami serta menyambut kedatangannya dari kantor dengan senyum segar manis.



Biarlah Tom tak mendapati coklat fondue di meja makan. Aku lagi kesal dengan si muka Wuu Chun itu.



"Hai, Ayu, sudah panas bokongmu?" Aku memesan secangkir kopi toraja agar kompak dengan dia.

"Banget ha ha ha...." Behelnya tersibak manakala dia terbahak.



Setelah cas cis cus dan bla bli blu hampir setengah jam, tajuk obrolan kami berpindah ke kasus kematian superaneh yang berlangsung kemarin malam di Taman Suropati.



"Oh ya?" Aku terperanjat.

"Iya. Si cewek yang namanya Marisa itu berselingkuh. Yaa selingkuh model ABG gitu. Cowok yang di sampingnya masih bengong sampai sekarang. Dari hasil visum, leher Marisa seakan-akan dililit tali bukan cekikan tangan manusia. How peculiar!"



Rahayu begitu lancar membeberkan berita yang tengah hangat di masyarakat. "Satu lagi cin. Kaca mobilnya ada kalimat 'aku ingin pergi tak mau menginjak bumi'. Oh my God! Apa itu?"



Deg. Katup jantungku tertutup mendadak. Sesak sekali dadaku mendengar kalimat itu. Kalimat itu aku dengar dari hantu di luar jendela sebelum aku dan Tom bertamasya ke rimba berantah.



Kejanggalan bermula dari serbuk gula yang bagai ditiup, darah amis dari kening Tom, hantu di luar jendela, hingga perpindahan dimensi ruang yang terjadi dalam setengah detik. Semua itu berjalan di antara kami. Sebuah valentine horor. Lantas aku melihat labirin buntu antara valentine horor di rumah dengan valentine berdarah di taman itu.

Kalimat misterius itulah yang membuntukannya. Aku harus membongkar misteri ini. Kudesak Tom agar dia rela membantuku.



"Halo, Tom, masih di kantor?"

"Iya, aku sebentar lagi pulang kok."

"Kamu mau aku buatkan coklat fondue?"



[1] Aku ingin pergi tak mau menginjak bumi



[2] Untung bokongmu tidak diremas laki-laki genit.



Bersambung...

Minggu, 11 Desember 2011

125. WonderNancy: Jamu Kuat Waria (cerpen superhero)


Malam telah merengkuhi bumi yang menggigil. Telah tiga hari rembulan mati tenggelam rotasi. Tabir-tabir malam yang kelam kian membuat lorong-lorong ruang remang temaram. Begitupun gelapnya hidup Nancy yang dicoba disamarkan dengan make up yang menor.



Di depan tolet berbingkai ukir-ukiran jawa itu, Nancy membubuhkan alas bedak di mukanya yang feminin. Lantas ia menindihnya lagi dengan bedak padat warna emas.



"Eh bo, tahu tinta lekong yang namanya Mas Adam?" (Tahu tidak lelaki yang namanya Mas Adam). Dia bertanya pada rekannya, Angela, sembari menggoreskan pensil alis diiringi eyeliner dan mascara.

"Oh diana yang bawa moblang mersong, yang cucok, yang six pack bo?" (Oh dia yang bawa mobil Merci, yang ganteng, yang six pack). Angela menegaskannya, ia menyemprotkan eau de toilette aroma lily of the valley.

"Embeeeerrr...!!!"

"Diana lucica ya bo, tintah pelita, hahaha." (Dia lucu, nggak pelit).

"Dompetnya lemuk. Pokoknya akika mawar ngesong diana malam indang," tekadnya berkobar. Dipulaslah gincu red coral di bibirnya yang tebal.

"Good luck, yah."



*

Nancy sudah mangkal di taman seperti biasa. Taman yang bunga-bunga merekah warna-warni bak pelangi. Taman yang suram dan panas. Tempat bagi golongan-golongan yang rem hawa nafsunya blong. Dia duduk di sebuah bangku batu yang membisu. Gaun ungu terusan yang hanya sepaha melilit tubuh mungilnya. Menyamarkan lekuk-lekuk tegas khas maskulinitas. Sapuan rona emas di pipinya berkilau terpantul lampu sorot dari city car yang menghampirinya. Dia berdiri seperti menyambut tamunya yang naga-naganya masih brondong. Dan benar masih brondong. Laksana buah mangga mengkal, biarpun rasanya kecut-kecut imut, tapi tetap enak diemut.



Sang calon tamu itu mengedip centil pada Nancy. Nancy tersipu malu dan membuang muka ke sisi kiri. Kemudian dia menatap lagi ke pengemudi brondong itu.



”Say, masuk donk," ajak si brondong itu genit.

"Tintah mawar ah!" (Nggak mau ah!). Tolak dia dengan merendahkan intonasi suaranya. Dia sok jual mahal. Bagaimana tidak? Dia adalah waria primadona di kawasan ini. Dia juga pernah terpilih sebagai juara harapan kontes kecantikan waria di Bangkok tahun lalu.



Si brondong itu keluar dan membukakan pintu untuknya. Mempersilakannya masuk bak putri keraton yang dipingit 40 hari 40 malam. Nancy mendekat dengan langkah gemulai dul megal megol bagai macam luwe. Si brondong menutup pintu dan bergegas ke bangku kemudinya.

"Cantik banget...," puji dia pada Nancy.

"Thanks."



Malam bergerak. Bintang berserak. Cahaya berselerak. Gigi malaikat bergemilitak. Dan setan tertawa berjingkrak-jingkrak.

"Namamu siapa?"

"Nancy Swan."

"Uh... keren! Mirip Elizabeth Swan dan Bella Swan."

"Kalau kamu?" Dia ingin tahu meski jawabannya pasti nama samaran.

"Leonardo. Hmm, nama siangmu siapa?"

"Nandoooooo...," ceplos Nancy.

Leonardo tertawa terpingkal-pingkal. Pun Nancy tertawa lebar-lebar seakan dia lupa menyadari bahwa dirinya lagi berperan sebagai Nancy yang seduktif.



Mobil Leo ditambatkan di dekat kedai jamu yang menyeruak aroma rempah-rempah bubuk. Leo duduk, memesan jamu.

"Yei masih brendy tapi sukria jamu. (Kau masih brondong tapi suka jamu). Anak muda lebih sukria wine," puji Nancy sembari mengelus pahanya. Leo menggelinjang

"Wine kan haram, say...." Nancy tersentak. Jidatnya terjitak. Dia bingung. Bagaimana ada manusia yang menolak satu keburukan tapi menerima satu keburukan yang lain. Menghindari alkohol namun menggemari zina. Keluar kandang serigala, masuk sarang anaconda.

"Kamu pesan apa? Aku jamu kuat pria."

"Hmm... apa ya, Leo?"

"Jamu rapet wangi aja," gurau Leo.

"Ih emang akika wanita!"

Lagi-lagi Leo terbahak-bahak sampai napasnya sesak.



"Bang, akika mawar belalang jamkuwar!" (Bang, aku mau beli jamkuwar). Ia memesan setengah berteriak.

"Jamkuwar apa?" tanya Leo.

"Jamu kuat waria!" Jawaban Nancy terdengar oleh penjual jamu tanpa ia kudu mengonfirmasi apa yang diujarkan Nancy dalam bahasa planet. Planet Derby Sahertian dan pengikutnya.

"Nggak ada, Mbak." Abang penjual jamu itu bimbang juga dengan pesanan calon pembelinya itu. Yang ia tahu hanya ada jamu kuat pria dan kuat wanita. Jamu pasak bumi dan jamu sundul langit. Hingga racikan jamu yang sanggup bikin para janda kembali legit.



Nancy cemberut, parasnya kusut. Sedangkan Leo tengah meminum jamunya beserta air jeruk manis penawar pahit. "Bang, bikin jamu dari setengah bungkus jamu kuat wanita dan setengah bungkus jamu kuat pria." Leo mengusulkan ide brilian.



Nancy menganga. Begitupun si abangnya. Tetapi si abang segera paham usul Leo dan meracik jamkuwar buat Nancy.

Jamkuwar plus telur telah terhidang di hadapan Nancy. Alih-alih diminum, ia mengabaikannya sebab takut keracunan.

"Jamu apa sih ini, Leo?"

"Itu jamkuwar pesananmu."

"Akika takara. Nanti metong." (Aku takut. Nanti mati).

"Nggak. Coba dulu deh.”



Dia menghirupnya, lantas menenggaknya dengan keyakinan penuh dan menyeluruh. Dipejamkan matanya. Namun sekonyong-konyong, wignya mental ke atas. Berikutnya dari tubuhnya keluar getaran kuat seperti gelombang radioaktif; sinar alfa, beta, dan gamma. Dinding-dinding udara yang memadat menghempaskan siapa pun dan apa pun yang ada di sekitarnya. Luluh lantak semuanya. Hancur lebur segalanya.



Nancy menangis sesenggukan. Semua orang tersungkur ke lantai terjauh. Kaca-kaca pecah meriah. Suasana tampak sunyi dan mencekam. Gelap. Lampu-lampu padam terbenam. Insiden tadi terasa amat cepat dan dahsyat.

Leo bangkit dari kolapsnya, mendekati Nancy.



"Nancy, kamu tak apa?"

Nancy masih menangis.

"Kenapa ini? Aku sudah merugikan dan melukai banyak orang," isaknya menyesal.

"Aku yang akan ganti rugi. Ini salahku." Leo ikut menangis. Ia mengangsurkan sapu tangan merah pada Nancy untuk menyeka air matanya yang melunturkan riasannya.



*

Nancy dan Leo masih menerka-nerka apa yang baru saja terjadi. Mereka membisu dan mengatur irama napas. Degup detak jantung mereka sudah berakselerasi normal. Kejadian itu mirip kebangkitan superhero Captain America di laboratorium uji coba.



“Maaf ya, gara-gara aku semua jadi berantakan.” Kata Leo lirih karena merasa berdosa.

“Nggak papa, cuma aku aja yang syok. Kok bisa begitu ya?” Kini nancy tak lagi ngondek, bukan waktunya yang tepat.

“Ya udah, itu nggak usah dipikirkan.”



Nancy mengangguk. Kendati insiden tadi lumayan janggal, tapi ia sangkal. Baginya peristiwa tadi hanyalah aktivitas makhluk astral yang usil mengganggu manusia. Yang membuatnya bingung, mengapa dirinya yang dijadikan media. Akan tetapi yang dikatakan Leo ada benarnya juga. Barangkali dari efek jamkuwar itu. Ah… itu berlebihan, gumamnya di batin.



“Sampai sini aja, Leo.”

“Lho? Rumahmu masih jauh.”

“Aku bisa jalan sendiri. Makasih ya say sudah mengantarkanku pulang.” Tuturnya seraya membetulkan posisi wignya yang acakkadut.



“Tunggu, Nando, ups, Nancy. Aku punya ini.” Leo menunjukkan sesuatu. Nancy terbelalak. Ia belum pernah melihat barang sebesar itu.

“WOW! UKURAN SWISS!” Ia berteriak lantang. Meraihnya, menggenggamnya, dan menikmatinya perlahan. Dijilatinya sebelum menggigitnya. Ia merasakan sensasi yang berbeda saat meleleh di mulutnya, dan menelannya dengan nikmat menganulir kepalanya yang sedang penat.

“Masa gitu aja sampai merem sih.” Leo meledek, cengengesan.

“Habis coklat Swiss-nya lezat sih. Baru kali ini aku makan coklat yang enak, gede pula. Selama ini aku cuma makan coklat cap Ayam Jago.”

“Coklat kan bisa mengurangi stres. Jangan takut, entar aku belikan yang banyak.”

“Thanks ya. Ya sutralah, aku turun ya. Bye.” Nancy keluar dari sedan dan melambaikan tangan ke Leo yang menjauhinya.



Dia menyusuri malam bersama jejak-jejak kesunyian yang masih membekas di aspal. Dia amat lelah harus bertarung melawan nuraninya yang berteriak-teriak saban hari. Dia hendak naik dari lembah hitam menuju padang terang dengan sejumput azzam. Sungguh, ia pun jijik dengan pekerjaannya sendiri. Tak terasa, air mata menganak-sungai di pipi.



Langkahnya terhenti saat mengamati tiga orang di depannya. Ada yang tak beres rupanya, gumamnya. Ada seorang pria tegap yang sedang ditodong oleh dua perampok. Pria yang sepertinya ia kenal itu diacungi pistol oleh seorang perampok. Sementara perampok satunya sedang beraksi mengobrak-abrik barang-barang di dalam mobil si korban.



“Hai bajingan, hentikan!” Nancy memekik mengejutkan mereka.

“Hey bencong! Jangan macam-macam lu, gue tembak nih!” Ancaman datang dari si perampok itu.



Nancy lari mendekat, perampok itu mengacungkan pistol agar Nancy mundur. Tapi Nancy tak gentar. Begitu dekat, ia melompat dan menendang penjahat itu hingga mental sejauh 20 meter. Dan naas, kecebur ke got yang dalam.

Nancy terkejut. Ternyata sanggup juga ia menendang orang sejauh itu. Ia merasa mempunyai kekuatan super yang canggih. Namun, sejak kapan? Apa sejak ia mengonsumsi jamkuwar yang berkhasiat itu. Atau jangan-jangan ia lupa pernah berguru di kuil Tiongkok sebagai seorang shaolin. Tidak mungkin! Dia feminin.



“Hahahaha… ternyata ini pistol mainan.” Si korban tertawa saat memegang pistol yang terjatuh.”

“Mas Adam?”

“Kamu?”

“Aku Nancy,” akunya.

“Oh, Nancy Swan ya.”



Adam ingat tentang Nancy, waria yang suatu malam pernah melayani syahwatnya. Tak dinyana, ada juga waria yang begitu kuat sampai bisa menghempaskan orang laksana meniup sehelai kapas dari tangan.



“AWAS!” Adam mengingatkan Nancy, ada perampok lain menyerang dari belakang.



Nancy menunduk, mengepalkan tinju ke perutnya. Terlempar hanya 3 meter. Sekilat perampok itu segera bangkit. Perampok yang satu ini lebih kuat seolah-olah punya ilmu bela diri yang mumpuni. Dan benar! Dia memutar badannya melawan arah jarum jam, menihilkan gaya gravitasi bumi sehingga mampu terbang dan ancang-ancang untuk melumpuhkan Nancy. Nancy gentar. Nancy ciut.



“Nancy…” Adam cemas akan nasib pahlawannya.

“Mas Adam, pergilah sejauh-jauhnya dengan mobilmu!”

“Tapi….”

“CEPAT!!!”



Adam segera mengebut dengan pikiran kalut. Di situ, nancy memejamkan mata, konsentrasi mengumpulkan tenaganya. Ia teringat insiden gelombang ultrakuat yang menghempaskan tiap obyek yang ada di sekelilingnmya. Kala detak-detik kaki perampok menyentuhnya, ia membuka mata dan berteriak. Sontak saja getaran menggelegar menangkis perampok itu sampai ke ujung atomsfer menabrak awan-awan.



Ia tersadar dengan ilmu gelombang yang ternyata tidak destruktif itu. Cukup konsentrasi dengan satu obyek sasaran, maka obyek lain takkan terkena resonansi. Ia mulai menerima bahwa kekuatan dari dalam dirinya bersumber dari Tuhan melalui jamu kuat waria. Ia tersungkur malu.



“Nancy, kamu baik-baik saja?” Adam telah kembali.

“Tak apa, Mas.”



Adam menghampirinya, merengkuhnya sebagai balasan terima kasih.

“Nancy, kamu adalah wonderwoman-ku. Kamu adalah WonderNancy yang hebat dan kuat.”



Malam ini telah lahir WonderNancy, superhero terbaru, tanpa kostum, tanpa senjata.



Dunia Dalam Cerita. Jakarta, 6-7 Desember 2011.



Terima kasih buat Argha Premana yang telah menjadi penasihat bahasa gaul versi Derby Sahertian ^_^v

Rabu, 16 November 2011

124. Anak Hujan


Gadis cilik itu selalu bersukacita tiap kali menonton hujan dari jendela rumahnya. Ia juga mendengar nyanyian kodok, denting percikan air hujan, seruling angin, hingga dentum geledek yang malah membuatnya senang. Namun sungguh, bocah 9 tahun itu hatinya pilu, lantaran bapak-ibunya melarangnya bermain dan menari di antara bulir-bulir air rahmat dari langit yang pekat.



"Kamu mandi hujan, kan! Nanti kamu sakit, dasar anak badung!" Ibunya yang baru saja pulang kerja sore itu menyeretnya masuk saat memergoki anak semata wayangnya berjoget genit dalam guyuran hujan.

"Biar saja, nanti bapak pukul!" Kali ini bapaknya yang angkat bicara dengan muka setegang baja.



Gara-gara kejadian kemarin, gadis cilik itu tak lagi bermain bersama grup hujan yang riuh dan menggigil. Dia takut dihardik dan dicambuk gesper oleh bapaknya. Untuk mengusir rasa sepinya di rumah ketika orangtuanya sibuk di luar, ia menunggu kelompok hujan (air, mega, angin, guntur, kodok) dari jendela kamar tidurnya.



Namun pasukan hujan belum juga bertandang. Mereka sedang di kota lain rupanya. Dia makin diselimuti kesunyian usai pulang sekolah. Tak ada kawan barang sekepala pun di rumahnya. Hanya pasukan hujan yang menemaninya saat hanya cuaca mendukung kedatangan mereka. Maka baginya, musim kemarau ialah penantian terpanjang di terminal kesunyian untuk sekadar melihat hujan yang berlalu lalang.

*

Tidaklah sia-sia penantiannya. Petang ini mega segera menghitam dan desau angin menjadi penata awan. Guntur telah jatuh di bukit nun jauh. Butir air perdana sudah tercurah ke burung yang gerah.



Ia singkap tirainya yang lebar. Ia buka matanya yang nanar. Kelompok hujan sedang berdendang dan menari di luar sana. Dentuman petir bagai hantaman simbal. Sepoi angin laksana tiupan seruling. Dan kodok, si diva, bernyanyi melantunkan kidung pujian pada Tuhan. Semua begitu ramai dan megah. Gadis cilik itu tertawa riang dan tak hentinya berjingkrak di balik jendela kamarnya.



"Kemarilah, bernyanyi dengan kami," ajak air hujan yang mendekati jendela kamarnya.

"Aku takut dipukul oleh bapak-ibuku," tolak dia menyesal.

"Aku akan melindungimu." Si angin bicara, menerpa tubuh mungil lagi ringkih milik si gadis itu.



Hujan kian deras dan lama. Pasukannya tambah gaduh senja ini. Volume air di luar tumpah ruah. Selokan memuntahkannya ke hamparan jalan. Sungai kembung dan tak sanggup menelan debit air yang besar. Akan tetapi pasukan hujan belum juga beranjak. Mereka pesta pora bernyanyi dan menari menemani si gadis yang kesepian.



"Keluarlah!" Pasukan hujan serentak menyeru bocah kencur itu untuk bergabung dengan mereka.



Tanpa sangsi, ia berlari keluar, dan disambut tarian dan nyanyian pasukan hujan yang gegap gempita. Kuyuplah badannya menyeluruh. Dia berenang dalam kubangan keruh. Ia berayun-ayun di angkasa bertalikan kawat petir. Lalu jiwanya terbang ke langit dalam timangan angin.

*

Pada awal malam, bapak dan ibunya panik dan cemas menyusuri tiap lorong ruang untuk menemui buah hatinya yang hilang diculik sekelompok pasukan garang. Teriakan dan panggilan miris membahana ke penjuru praja. Waktu mereka yang dahulu mengucur deras, kini cuma menetes detik demi detik dengan malas. Harta yang buat mereka bangga, dalam sekerlip menguap menjadi jelaga.



Sejak saat itu, kedua orangtuanya harus menanti kelompok hujan singgah di kota mereka supaya bisa menyaksikan anaknya menari rancak diiringi musik hujan yang menawan. Terbang melayang bersama angin dan angan. Berduet dengan sang diva dalam dentingan hujan. Dan yang paling menyedihkan bagi bapak-ibunya yaitu manakala anak gadisnya meluncur bebas dari perosotan pelangi. Pelangi yang melengkung di akhir hujan. Setelah pelangi itu memudar, mereka mesti menunggu kelompok hujan mampir lagi ke kota mereka yang tengah dilanda kemarau. Entah kapan.



Dunia Dalam Cerita. Jakarta, 15 November 2011.

Senin, 07 November 2011

123. Takbir dari Hati


Cerita Mini (cermin) karya Abu Waswas ^_^



Takbir dari Hati



Argha sudah melihat Lebaran Haji di ambang pintu. Ia membuka pintunya dan keluar mendongak ke hamparan langit nan bersih. Rembulan tanggal 7 sudah merayap ke puncak zenit. Pertanda tiga hari lagi takbir Idul Adha 10 Zulhijah bergemuruh di langit teduh. Juga kulit bedug akan bergetar beresonansi sebab dihantam kayu-kayu lonjong dari jiwa-jiwa yang menyongsong.



Segala hiruk-pikuk Idul Qurban membikin hatinya resah. Bagaimana tidak. Ia ingin sekali membeli seekor hewan qurban dari harta jerih payahnya barang sekali setahun. Ia pun kudu gigit bibir demi menumpuk keping per keping selama setahun ke belakang agar bisa menuntun kambing tahun ini. Namun suratan berkata lain. Ibunya yang di kampung mendadak sakit bulan lalu. Maka bangkrutlah dia. Pupuslah rencana yang tulus dan indah.

*

"Argha, coba kamu tengok hewan qurban di belakang masjid." Ustad Ramzi, seorang imam masjid, memerintahkannya untuk memeriksa para dorbia pada malam itu.

Yang disuruh patuh dan memastikan jumlah hewan qurban malam ini tidak berkurang dicolong begal.

"Siji, loro, telu, papat, limo," hitungnya, telunjuknya mengarah ke para ternak. Empat kambing dan seekor domba gemuk. Tanpa seekor sapi pun. Ia termangu. Mana cukup hanya lima ternak ini untuk dibagikan ke ratusan duafa. Butuh paling tidak seekor sapi supaya mereka terbagi rata dan bisa kenyang terpenuhi gizinya. Maka galaulah si Argha. Apalagi ia tak mampu memberi barang seekor. Ia merasa terajam kerikil dosa lantaran hal itu. Genangan air matanya luber. Ringkihan cempreng kambing menjaga dirinya dari sengkarut kegalauan. Disekanya lelehan cairan yang keluar dari matanya.

*

Saat hendak shalat magrib, ia melihat rumah keluarga besar Pak Bambang riuh dan sibuk. Ia tahu sedang ada pesta ulang tahun anak bungsunya. Memang keempat anaknya masih saja tinggal satu atap walau sudah mapan dan dua di antaranya telah menikah.



Yang jelas semua warga mengenal keluarga Pak Bambang pelit serta medit. Hidupnya bermewah-mewah. Desas-desusnya, bulan lalu anak sulungnya, Prio, membeli Toyota Harrier. Fardhan, anak kedua, yang baru kawin, berbulan madu ke Perancis. Nita, anak perempuan satu-satunya, baru saja operasi plastik supaya parasnya cantik jelita bagai Megan Fox. Dan kini si bungsu, Ben, merayakan miladnya yang superglamor. Sayang ia tak diundang. Mungkin jika diundang ia tak mampu beri kado yang prospektif.



Usai magriban, Argha dapat ide cemerlang habis memantau keluarga Bambang. Dia ingin agar mereka legowo berkurban sapi dan menitipkannya di masjid ini. Paling tidak mereka urunan beli seekor sapi.



"Hai kalian, bentar lagi akan ada sapi di sini. Doakan saja!" Ia teriak ke para ternak, yang lantas mengembik bersama laksana bilang "aamiin".



Tak ada lagi galau. Ia mendekati imam masjid di ruangannya. Ia menggenggam seuntai harapan. Segalanya terasa ringan.



"Pak Ustad Ramzi, ane ada ide nih biar masjid ini bisa dipercaya untuk dititipkan sapi,” ujar dia dengan raut menyala-nyala.

"Siapa yang mau menitipkan untuk kami kelola?"

"Keluarga Pak Bambang."

Pak Ustad langsung pening bak tertimpuk telur kalkun. Namun ia menghargai pendapat Argha dan mau berdiskusi dengannya.

*



Usai shalat isya berjamaah, ia langsung ke rumah Bambang Family untuk melancarkan misinya. Dengan tiga lembar kupon bercap tinta biru nama masjid An Nur, ia ingin menyindir keluarga besar tersebut.



"Assalamu'alaikum." Salam mengarah ke Prio yang tengah meraba Harrier terbarunya.

"Wa'alaikumsalam."

Ia masuk mendekat dan menyapa Maya, putri kecilnya Prio, yang sedang anteng di dalam mobil papanya yang masih gres.

"Ada apa, Gha?"

“Begini Mas Prio, saya ingin membagikan kupon pengambilan daging hewan qurban di Masjid An Nur.”

“Lho?” Prio tercekat dan melipat-lipat jidat.

“Ini, Mas.” Ia mengangsurkan tiga lembar kupon yang masih hangat baru dicetak.

“Saya tidak pantas nerima ini, Gha,” tolaknya. Argha menarik lagi tangannya. Mukanya layu.

“Tapi semua duafa sudah kebagian, dan ini lebih tiga lembar untuk Mas Prio sekeluarga,” kelitnya, memasang wajah melas.

“Yakin semua duafa dapat cukup? Berapa jumlah hewan qurban di An Nur?” Ia menyelidik. Nada bicaranya mulai empuk dan sejuk.



Argha merasa sudah menggenggam buntut. Seulas senyum terukir di bibirnya.

“Empat kambing dan seekor domba, Mas. Gemuk-gemuk, lho, hehehehe….”

Prio terbungkam sejenak, merasa tak enak, dan nuraninya berteriak.

“Berapa nomor ponselmu?”

*

I’m your biggest fan



I’ll follow you until you love me

Papa-paparazzi

Baby there’s no other superstar

You know that I’ll be your

Papa-paparazzi



Ia lompat meraih ponselnya yang berdering berulang. HAP! Dari Mas Prio rupanya. Tombol hijau ditekannya.

“Assalamu’alaikum, Argha.”

“Wa’alaikumsalam, Mas Prio.”

“Kamu tahu gak berapa harga sapi di tempat Pak Jumianto?”

“Pak Jumianto jual sapi yang beratnya 300 kg seharga 11 juta, Mas.”

“Oh, gitu. Sepulang kamu kerja temani saya ya ke sana.”

“Baik, Mas!”



Argha bersorak berjingkrak. Ia gembira dengan rencana penyindirannya yang sukses. Ya, penyindiran, bukan pemaksaan. Sebab ibadah berkurban datang dari hati yang tulus.

*

Usai shalat Id, ia mengelus-elus punggung sapi yang siap disembelih. Gema takbir berkumandang dari penjuru bumi. Golok dan pisau mengkilat yang baru diasah seakan tak sabar memuncratkan darah segar.



Sebagai salah satu panitia penyembelihan dan penyaluran hewan qurban 1432 H, tentu Argha sibuk. Kontras dengan Prio yang cuma memotret dan merekam gambar hidup. Tampak pula Ben membawa makanan dari rumahnya untuk konsumsi para panitia.



Penyembelihan perdana, seekor domba gemuk digiring Argha ke tukang jagal berpeci miring. Setelah diikat, ia dan Ben menahan pemberontakan si domba. Penjagal komat-kamit merapal doa, lantas melukai kulit leher domba hingga darah muncrat mengucur ke lubang tanah.



Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar.....

Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.

Allaahu akbar walillaahil - hamd.



Jakarta, 4 November 2011

$$$

Sabtu, 22 Oktober 2011

122. Hadiah yang Kosong


Cerpen karya Abu Waswas



"ALHAMDULILLAH! ANE MENANG HAPE!" teriak Rasyid berjingkrak-jingkrak. Sementara Hans, sobatnya, bermuka kecut.

Simelekete!" cibirnya.



Dua penganggur ini kerap melekat ke mana pun arah angin menuju. Bersepeda ria di jalur bebas kendaraan bermotor, tahlilan orang mati ataupun selametan wanita bunting, hingga seiya setidak dalam berpartisipasi dalam program hadiah uang dan barang-barang bermartabat.



Siang berawan ini Hans punya agenda segudang, dari memenuhi undangan interview di kantor perusahaan minyak goreng, mengunjungi galeri seni rupa agar tampak menjadi warga urban yang melek seni (walau kenyataannya tidak!), hingga jalan-jalan ke mall (hanya jalan-jalan). Sudah tentu, sudah pasti, sudah yakin ia akan ditemani oleh Rasyid, sobatnya yang alim itu.

"Gimana tadi wawancara ente, Hans?" ujar Rasyid sambil mengamati lukisan kubisme yang tak ia pahami.

"Biasa aja," balasnya meninggalkan si penanya.

"Astagfirullah, gitu aja ente ngambek, Hans!"

"Siapa yang ngambek? Gue cuma tahu diri aja, Syid. Cuma lulusan SMA," gerutunya.

"Jangan gitu, kan ente cuma ngelamar jadi buruh pabrik, bukan manajer."

"Yup, I know. Tapi kan banyak pelamar. Nah kalau gak ada uang pelicin atau orang dalam, bakal susah." Rasyid mematung di samping patung harimau berbahan tembaga. Ia tak hentinya komat-kamit melafalkan asmaul husna bersama kenaifannya sendiri.



Di sela-sela jajaran toko dan interior yang cantik, menarik, dan eksotik, mereka cuma wara-wiri beserta ludah mereka yang hambar bin tawar. Tiada segelas sirup rasa lemon untuk sekadar pembasah kerongkongan ataupun pemanis mulut. Pun tiada karcis bioskop di genggaman, yang mana ingin sekali menyaksikan kekocakan dan atraksi silat si Po Panda dkk.

"Eh Hans, udah ada pengumuman belum hadiah kecap botol cap Bebek?" tanya Rosyid yang lalu duduk di sebuah bangku cuma-cuma.

"Nama gue gak ada."

"Sabarlah, mungkin belum rejekinya. Padahal hadiahnya lumayan; kulkas, motor, laptop, uang. Kan kalau dapat bisa buat modal buka usaha pondok bakso," harapnya dengan diiringi kesabaran.

Lagi-lagi keduanya melamun di hamparan orang-orang yang modis, klimis, dan manis. Dalam tertegun, Hans membaca poster yang terbentang di beranda toserba.

"Syid, daripada elu nanya mulu apa lamaran gue diterima atau gak, mending kita ikut itu aja!" Ia setengah berteriak dengan jari mengacung ke tulisan: Menangkan hadiah utama satu unit BMW dan hadiah hiburan lainnya dengan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk memakai deterjen Gaya!

"HAHAY!!!" Berpijarlah bohlam 100 watt di atas kepala Rasyid.



Demi sejumput tujuan mulia, Rasyid dan Hans memasang target untuk menggaet sebanyak-banyaknya pemakai deterjen Gaya. Mereka melancarkan aksi demo persuasif dari pintu ke pagar, kost ke kontrakan, pagi ke siang, dan siang ketiduran.



Gayanya sudah seperti sales kantoran. Padahal nasib menuntunnya menjadi pengangguran. Niat mereka sekeras baja. Usaha mereka sungguh-sungguh menginjak keluh. Daya lenting mereka selentur rotan Kalimantan.



"Hans, pagi ini ente ke perumahan RT sebelah, ane di RT sini dulu," aju si Rasyid.

"Oke deh. Gue pasang target 10 orang hari ini. Jangan lupa, selain bungkusnya, elu minta juga fotokopi KTP-nya."

"Insya Allah, niat kita jadi barokah," doa Rasyid dengan tangan dan kepala menengadah ke langit.

"Aamiin."



Hans yang pemalu semakin malu tatkala ia mesti memalukan dirinya sendiri di hadapan para ibu dan remaja putri yang tersenyum malu. Ditambah ada Sri yang lirak-lirik dengan rambut yang ia kibaskan penuh kesan. Ia menciut. Ia gemetar. Tak pernah ia mempelajari ilmu penjualan.

"Kamu promosi apa sih?" tanya Sri mesam-mesem.

"A...a...anu, Sri." Gagap mendadak.

"Anu apa hayooo...," ledek Sri.



Ia melamun memandang kecantikan alami wajah Sri. Sri laksana spora bunga desa yang terbang terbawa angin urbanisasi. Akibat dari penyerbukan yang subur ia mekar berjajar di jalanan metropolitan. Gadis sanjai sederhana yang mematik naluri lelakinya hingga berkobar, membakar tiap tetes birahinya yang panas. Ia berhasrat untuk mempersuntingnya jika memenangkan hadiah utama BMW. Seandainya.... Apabila... Bilamana....



"Anu, aku lagi ikut program mencari sebanyaknya pemakai deterjen Gaya. Aku dan Rasyid jadi agennya," bebernya lancar.

"Oh gitu. Memang apa bagusnya Gaya?"

"Bisa mengangkat noda membandel, menjaga serat kain agar tetap lembut, dan harum pastinya," promonya dengan senyum tersungging di gigi yang kering. Serta merta gadis berambut panjang legam itu mendekatinya, meraba kaosnya dan mengendus pada bagian dadanya.

"Betul. Lembut dan harum, hehehe..."

Seutuh jiwa dan raga Hans terjeblos ke mulut bumi. Terus terperosok dalam magma endorfin yang meletup-letup.



Derap segerombolan kaum bapak dan pemuda keluar dari rumah yang menggelar kenduri nujuh bulanan. Dua sekawan, Hans dan Rasyid, ialah peserta yang tak pernah absen pada acara serupa. Kehadiran orang-orang macam mereka diperlukan untuk periuh suasana dan pendukung supaya doa-doa terpanjat tembus ke langit.

Rasyid setengah berlari ke arah Hans yang berbalut koko putih dan bersarung hijau terang setengah betis.



"Assalamualaykum," salamnya, terengah-engah.

"Waalaykumsalam."

"Tadi ente siang dapat berapa?"

"Wah, menakjubkanlah. Gue laksana ketiban durian gundul, hehehe," ujarnya terkekeh geli.

"Alhamdulillah. Ane mau tahu ente dapat apa, Hans?"

Ia menepuk pundak Rasyid. Lengkung alisnya menggeliat. Nasi berkatnya ia angkat. Lalu dengan ligat ia merampas songkok putih yang bercokol di kepala Rasyid. Ia kabur dengan tawa yang berderai derai.

"Astagfirullah! Woy, kembalikan peci ane!”

"Berita sukacita dan peci bisa didapatkan di rumah gue, hahaha..."



Di beranda rumah Hans, mereka menjumlah bungkus per bungkus deterjen hasil perjuangan melumpuhkan rasa gengsi. Kepulan asap membumbung terurai desau angin malam. Sisa-sisa sendawa meledak dalam bahasa kenyang.

"Masa tiga hari cuma terkumpul 70 bungkus sih," keluh Rasyid.

"Betul! Kita bisa kalah banyak dari agen lain yang berkonspirasi dengan pihak penyelenggara," tukasnya.

"Konspirasi apa tuh? Ane kagak ngerti, Hans."

"Kongkalikong."

"???"



Ia menyambit tarbus merahnya ke muka Rasyid yang melongo. Ia menawarkan strategi.

"Kalau lamban gini, kapan gue bisa ngelamar Sri. Gimana kalau kita memanfaatkan pak RT supaya dia bisa mengimbau warganya untuk pakai deterjen Gaya."

"Cuma mengimbau?"

"Iya, kan dia punya kuasa dan disegani. Begitu warganya nurut, baru kita ketuk door to door tanpa perlu mempromosikannya lagi. Hemat waktu, jadi kita bisa lebih cepat dan dapat banyak!" tegasnya mantap.

"Target kita pak RT sebelah, Pak Widodo."

"Persis!"



Pak Widodo masih sibuk dengan burung prenjak jawa kesayangannya. Ia menyemprotnya agar lebih segar. Siulannya beradu dengan cit cit cuit sang burung yang lincah.

"Assalamualaykum, Pak Widodo," salamnya menghatur dengan map biru terlampir brosur informasi program deterjen berhadiah.-

"Waalaykumsalam. Eh kamu, Hans," sahutnya sembari menggantungkan sangkar bambu ke langit-langit serambi.

Pak Widodo menggiring tamunya ke dalam. Sementara ia nyelonong ke kamar tidur meninggalkan Hans di ruang tamu.

Ia kembali dengan segepok kartu undangan bercorak batik yang cantik lagi harum.

"Kamu ada perlu apa? Mungkin bisa saya bantu."

"Ini Pak," jawabnya. Hans mengangsurkan mapnya.

"Oh hadiah Gaya itu. Oke, gampanglah. Nah, coba kamu bagikan undangan pernikahan ini ke warga saya."

"Pernikahan siapa, Pak?"



Hans membanting segepok kartu undangan itu di hadapan kawan karibnya. Rasyid terpental ke arah tenggara. Mukanya tegang melintang. Dan wajah Hans berang meradang.

"Astagfirullahal 'azhiim, sabar deh ente, Hans."



Mukanya yang layu bertambah mendayu. Gemericik air hujan di luar bersuara bisu. Guntur nan sangar terdengar sendu. Parasnya yang sebam kian kelabu.



Ia tak mengerti lagi bagaimana mesti membawa harapan. Ia tak paham lagi harus bagaimana memintal impian. Dan ia tambah tak tahu lagi bagaimana meninggalkan sebuah cita-cita.



Ia belum kuasa beranjak dari bayangan hitam yang semakin hitam tersiram silaunya cahaya masa depan. Bayangan yang lahir dari seberkas angan-angan dan tuntutan yang bersetubuh dalam lelapnya malam. Dan sialnya, bayangan itu hanya hadir manakala ia berdiri di bawah silaunya bintang masa depan. Ia pun tak memiliki kekuatan untuk memilih. Juga takdir memilihnya supaya ia tak punya kekuatan.



Lima hasta dari tempatnya duduk, kawannya yang setia ikut terselubung atmosfer yang berkemelut. Ia tergugu dalam hanyut udara yang kian karut-marut. Seharian ini Rasyid sedikit bicara mengimbangi dirinya yang tengah kalut. Ia sadar dan paham bahwa Hans tak perlu wejangan yang bikin dirinya ringan. Apalagi ia tak butuh ceramah yang membuat jiwanya cerah.

"Kau butuh bersembunyi dalam tempurung sunyi," tutur Rasyid puitis.

"Sedangkan pujaan hatiku bersembunyi dengan bidadara yang merdu bernyanyi," timpalnya pilu.



Rasyid menghampiri rumahnya yang terjilat juluran lidah cahaya surya. Sang subuh baru saja dijemput sang waktu yang angkuh. Jendela kamarnya tak mengembuskan napas kehidupan. Masih rapat terhalang tirai menjuntai.

Ia mendapati Hans terkulai loyo bak kurang kalsium. Mukanya dibenamkan di bantal yang tak lagi harum. Rasyid mengguncang bahunya yang tanpa baju. Ia hendak mengutarakan sesuatu.



"Hans, ente seminggu ini mengurung diri terus di rumah. Boro-boro mau bantu kejar target. Masa gara-gara Sri kawin, cita-cita kita berdua kandas," ulasnya.

"Yeeh... kata elu, gue kudu bersembunyi dalam sunyi."

"Yaah... seruan ane berubah jadi sesat."

"Tadi lu bilang apa, gara-gara Sri kawin cita-cita kita berdua kandas," tegasnya, ia bangkit seraya mengelus dadanya yang kokoh dan atletis.

"Betul begitu."

Hans beranjak, meraih kaos katunnya. Tak lupa ia menjinjing sepatu bola favoritnya. Rasyid mengikutinya.

"Mau main bola?"

"Yoi. Ngapain juga patah hati dikelonin di kasur." Ia menjalin temali sepatunya di ruang tamu.

"Secepat itukah?"

"Yee... tadi lu yang nasihati gue. Hati tuh sulit diatur sama otak, makanya gerakin aja sama otot, yaitu olah raga.

"Intinya, dipaksakan," simpul si Rasyid.

"Persis."



Hans memerhatikan para wanita berkumpul di rumah Sri usai bersepakbola. Rumah pengantin baru itu riuh rendah oleh bahak mereka.

"Ada apa, Syid?"

"Entahlah."

Ia bertanya pada seorang ibu yang keluar berjalan mendekatinya. "Kenapa bu, ada ramai-ramai di sana?"

"Oh... kami menukarkan bungkus kosong Gaya dengan gelas ini," pamer si ibu.

"Bukannya warga sini jadi target ente, Hans? Itu janji Pak Widodo, kan?" Rasyid mengingatkannya.



Ia menyetil senar gitar diiringi lengkingan jangkrik, gumaman kodok, dan lenguhan dorbia. Kini ia mampu bernyanyi dalam tempurung sunyi. Namun segala lamunannya robek tersayat gemuruh gesekan udara oleh pesawat jet di atas rumahnya. Tempurung sunyi makin melantunkan bahasa sunyi yang sejatinya tatkala sahabatnya sedang tak ada di sisinya.



Mulutnya terasa lidas menyairkan bait-bait berjudul Asap Rokok. Syair tanpa kata, tanpa diksi.

"Apa yang kau cari, Hans?" Bisikan bertanya dari telinga kanannya.

"Kebahagian," jawab hatinya.

"Bukankah engkau belum mengosongkan tempurung sunyi untuk kau isi dengan kebahagian dan kesedihan."

"Aku belum sanggup. Aku masih terlalu hijau."

"Maka dengan begitu kebahagian dan kesedihanmu takkan pernah bersandar pada penciptanya."



Lengkung senyum dan deret gigi kinclong tergambar di paras Hans dan Rasyid Minggu terik ini. Bagaimana tidak. Hans--tentu saja Rasyid kecipratan--memenangi undian berhadiah televisi LCD 32" yang disponsori perusahaan susu tersohor.

"Alhamdulillah, selama setahun gue ikut bersepeda di jalur car free day, akhirnya gue dapat hadiah, hahaha," tawanya girang.

"Alhamdulillah, itu rezeki ente. Bagi ane dong... kan ane yang maksa ente berangkat subuh tadi," tagih Rasyid mengharap.

"Oke deh. Padahal kalau kita menang BMW itu kan bisa untuk investasi. Modal UMKM."

"Sudahlah, yang itu kan rezekinya Bram.



Laju sepeda mereka melesat kencang tak terkendali menghantam pantat sedan luks di tikungan curam. Mereka terhuyung, ambruk ke aspal. Mengeluh, meringis, mengutuk tumpah ruah dari mulut mereka. Sang pemilik menghentikan sedannya, turun, kemudian menghampiri mereka.



"Bram," sapa Hans terkejut.

"Hans. Kalian perlu ke rumah sakit?"

"Oh tidak! Cuma lecet dikit dan untung pakai helm," tolaknya pura-pura gagah.



Mereka tergesa-gesa mengangkat sepeda yang tergolek lesu. Jok telah diduduki, pedal siap dikayuh.

"Hans, kamu baik-baik saja?" tanya seorang wanita ayu yang baru keluar dari jok depan. Mukanya cemas dan maras. Parasnya masih alami. Dialah pujaan hatinya yang dulu. Ya, ketika dulu.



Jakarta, 18-21 Oktober 2011