Rabu, 20 Januari 2010

100. Siluman Monyet Putih




Azan mendesah-desah di kolong langit yang redup. Para malaikat terjun ke bumi seraya disinari bintang zohrat yang bertengger di kaki langit timur. Karena saya berhadas besar, maka kutuju kamar mandi untuk mandi junub. Di paruh waktu, terdengar suara "HEY!". Saya kaget, dan celingak-celinguk sambil bergumam, "Siapa yang manggil gue? Kayaknya nggak ada siapa-siapa, dech?" Langsung saya berwudu. Merinding! Dan peristiwa subuh horor juga pernah dialami tetanggaku, Pak Emen. Ketika dia berwudu, dia dikencingi genderuwo dari atap mushola. Termasuk imam mushola, Pak Azis, yang dia ditertawai kuntilanak di jendela mushola saat baca al-Qur'an.

Pada ujung malam, kakakku kesulitan buka pintu WC. Begitu didobrak, alhasil ada sosok hantu bermata besar yang jongkok di balik daun pintu. Sontak ia menjerit dan lari pontang-panting. Lalu, masih eksiskah setan atau hantu di era informatika ini? Mari kita kilas balik ke lingkungan rumahku yang dulu, sebelum saya pindah ke alamat baru.

KISAH LINGKUNGAN RUMAH LAMA (1994-2006)

Lingkungan di situ terdapat hamparan tanah gambut yang asam. Ditumbuhi tanaman berduri dan pohon rengas, serta menjadi habitat dari biawak dan bangau. Di rawa-rawa inilah keangkeran bersumber, yakni berupa suara-suara gaib. Manakala lolongan serigala dan rintihan pungguk terdengar, maka saya (saat itu 12 tahun) mendengar semacam suara gamelan jawa yang menghentak dari genteng kamarku. Genteng seakan-akan dilempari pasir dan dihujani tengkorak yang menggelinding. Dua kali saya mengalaminya. Bagi tetanggaku yang matanya rabun, mereka sanggup melihat monyet bergelantungan di pohon rengas. Sedangkan saya dan yang lainnya yang bermata normal, malah tak awas. Kami menjuliknya "Siluman Monyet Putih". Jangan-jangan saudaranya Siluman Ular Putih.

Kompleks rumah kami dihubungkan oleh gang kecil untuk akses ke jalan tipe III c. Gang kecil ini terbentuk dari deretan punggung rumah. Di sinilah kerapkali kami diteror oleh setan. Begini singkat ceritanya. Tetanggaku kala malam melintasinya, lalu dicegat oleh ular yang mahagendut. Kemudian di kala hujan merintik, ibuku dikejutkan oleh setan yang kerdil. Lantas ia pun memilih jalur lain, yang mana itu lebih panjang tiga puluh kali lipat. Termasuk aku dan kawan-kawan seusia SMP, yang ditakuti oleh makhluk bertubuh besar yang menyempil di barisan kami. Spontan kami tunggang-langgang dan tersandung-sandung. Inilah yang klimaks. Tetanggaku dikerjai oleh dua setan sekaligus. Pertama, ia berjumpa dengan hantu nenek bejubah hitam, yang menyapa, "Pak, takut denganku ya? Hi-hi-hi...." Seketika dia pun berjalan seribu langkah. Namun, baru menghabisi lima ratus langkah, ia dikagetkan lagi oleh hantu pria berbusana SMA. "Kenapa Pak, koq jalannya cepat-cepat?" tanya setan itu, yang diduga arwah dari pelajar SMA yang dikebumikan di makam wakaf sebab OD drugs.

Semasa SMK, saya berangkat via makam Tanah Kusir pada pukul 5.15. Suatu pagi yang buta, saya ada barengannya. Dia sekira sepuluh langkah di depan saya dan dia berbusana gamis. Dia lalu naik metro mini dan saya menyusul. Tapi begitu bokongku menyentuh bangku dan mataku menjelajah ke pelosok bus, aku tak lihat pria bergamis itu lho. Ternyata gue berangkat sekolah bareng dedemit. IH...TAQYUUUUUUUUT BO! Esoknya saya berangkat pukul 5.45.

Waduh, padahal ceritanya masih banyak banget. Kalau diceritakan semua, bisa dua puluh alinea. Yang mengetik capek, yang baca juga malas. Dan, hati-hati, nanti malam kalau Anda mau ke kamar mandi. Ada apa tuch di balik daun pintu...?

Dari catatan NAFSU SELIAR-LIARNYA (27/6/2009) dan HUJAN HURUF (2/1/2010)

Jumat, 08 Januari 2010

99. Syukur Berjamaah


Terima kasih Allah. Aku bisa dengan leluasa menghirup oksigen, walau sering bengek kalau malam hari, kebanyakan merokok. Di Rumah Sakit Omni Internasional ada yang terserang asma akut hingga harus dirawat inap. Alhamdulillah, saya tak punya asma. Saya berjanji akan berhenti merokok.

Terima kasih Allah. Penyakitku hanya sama. Ada saudaraku di RS Kanker Dharmais yang menderita kanker paru-paru, dan bersusah payh menganyam harapan untuk sembuh. Alhamdulillah, saya hanya asma.

Terima kasih Allah. Engkau telah memberikanku kanker. Betapa nikmatnya memiliki paru yang sehat justru ketika aku lagi sakit. Terima kasih atas paru pinjamanMu. Alhamdulillah, saya masih berharap untuk sembuh.

Terima kasih Allah. Mataku masih normal (emetrop), meski seringkali mengintip mbak pembantu yang tengah mandi dan kerap memelototi situs porno. Karena banyak kawanku yang matanya rabun, seperti miopi, hipermetropi, presbiopi, dan hemosralopi, juga kelainan mata astigmatisma. Mereka harus memasang kaca mata agar dapat dengan jelas memandang obyek. Mulai hari ini saya akan lebih banyak melahap sayur mayur daripada ayam goreng sang kolonel yang berkaca mata itu.

Terima kasih Allah. Mataku hanya rabun. Saya sanggup menyaksikan panorama langit dan bumi, walau mesti memasang lensa ganda agar obyeknya jelas. Sebab masih ada hambaMu tercinta yang tunanetra/kebutaan, dan low vision. Alhamdulillah, mataku hanya rabun.

Terima kasih Allah. Hanya mataku yang buta, sedangkan seluruh anggota tubuhku berfungsi normal. Imanku pun semoga tak ikut-ikutan buta. Kalau aku sampai putus asa, aku tentu malu pada seekor kelelawar yang bisa pecicilan terbang ke sana kemari dalam kegelapan. Apabila bunyi ultrasoik keluar dari tubuh kelelawar, maka jiwa ultraman yang gagah berani akan keluar dari diriku. Dan tak lupa minum ultramilk dulu supaya sehat, ha-ha-ha, iklan nich.

Terima kasih Allah. HambaMu ini masih punya penghasilan, meski sering mengeluh tidak cukup. Di seberang sana ada banyak penganggur terdidik. Alhamdulillah, atas kucuran rezeki dariMu. Saya akan bersedekah lebih banyak, sebelum disedekahi oleh Dompet Dhuafa.

Terima kasih Allah. Saya jadi penganggur, bisa istirahat sementara. Saya akan berwirausaha secepatnya. Seekor cacing pun bisa hidup, beranak pinak, dan badannya gendut-gendut, tapi menjijikan. Padahal invertebrata yang satu ini tak punya tangan dan kaki, bahkan hermafrodit seperti bekicot. Kalaupun cacing dapat rezeki dariMu, kenapa saya tidak? Bukankah akulah makhlukMu yang paling paripurna di jagat ini?

Terima kasih Allah. Saya memiliki mobil yang butut. Lumayan bisa kebut-kebutan, brum...brum...brum....Eh, besok masuk bengkel lagi. Alhamdulillah, saya punya mobil, tetanggaku hanya punya motor yang suka mogok. Mulai hari ini saya nggak akan kebut-kebutan lagi ah....

Terima kasih Allah. Aku mampu berangkat kerja dengan motor, walaupun sering mogok. Bosku malahan ke kantor naik sepeda. Ih...cape dech, bo.

Terima kasih Allah. Thanks banget. Lha wong harga sepedaku lebih mahal koq dibanding motor merek Kawoskaki Ninja. Sepedaku itu mereknya Ya-Mahal. Alhamdulillah, saya bisa menggenjot sepeda, sekalian olah raga, plus bebas polusi.

Terima kasih Allah. Biarpun saya tak punya kendaraan pribadi, namun saya masih memiliki kaki yang sanggup diayunkan ke mana pun, termasuk ke tempat maksiat sekalipun. Karena ada kerabatku yang kakinya lumpuh dan terduduk di kursi roda. Saya berjanji takkan ke tempat maksiat lagi.

Terima kasih Allah. Kakiku masih utuh, meski keduanya lumpuh. Yang penting semangatku tak lumpuh, juga roda keuanganku yang tak pernah lumpuh. Alhamdulillah.

Terima kasih Allah. Saya memiliki seorang istri yang bawel banget. Saya baru pulang kerja, ia sudah nyerocos kalau dana belanjanya kurang. Cerewetnya persis Nenek Lampir yang turun dari Gunung Merapi yang baru meletus. Beruntung saya beristrikan seorang yang cerewet. Banyak rekan kerjaku yang tak punya istri. Bukan karena istrinya digondol oleh pria lain yang lebih tampan dan tajir, tapi ya...memang mereka belum menemukan jodohnya hingga usianya nyaris senja, bahkan usia malam. Alhamdulillah, saya akan lebih mencintainya, dan berjanji tak selingkuh (lagi).

Terima kasih Allah. Saya belum/tak punya pasangan hidup. I'm single and very happy. Jika bidadara/bidadari mengetuk pintu ruamahku, maka akan kuhancurkan seluruh dinding rumahku. Alhamdulillah, masih terlalu banyak nikmatMu yang alpa untuk kusyukuri.

Dari gabungan dua catatan yang sudah diedit dari aslinya. Catatan "Bertelanjang Dada, Berbaju Takwa", tertanggal 23 Juli 2009; dan catatan "Bidadara di Kota Abu-abu", tertanggal 6 Januari 2010.

Minggu, 27 Desember 2009

98. Bait-bait Anak Jalanan



anak jalanan kumbang metropolitan
selalu dalam kesepian
anak jalanan korban kemunafikan
selalu kesepian di keramaian

tiada tempat untuk mengadu
tempat mencurahkan isi kalbu
cinta kasih dari ayah dan ibu
hanyalah peri yang palsu

anak gedongan lambang metropolitan
menuntut hidup alam kedamaian
anak gedongan korban kesibukan
hidup gelisah dalam keramaian

tiada waktu untuk bertemu
waktu berkasihan dan mengadu
karena orang tua metropolitan
hanyalah budak kesibukan

(Chrisye, Anak Jalanan)

Anak jalanan sungguh pandai bernyanyi. Mereka fasih mendendangkan lagunya ST 12, walaupun mereka belepotan ketika menyenandungkan lagunya Jason Mraz.

Anak jalanan tak mau lagi bermimpi setinggi langit, meski langit-langit rumah sekalipun. Mereka hanya bermimpi agar esok dapat makan dua kali di warteg di pinggir selokan. Lagipula untuk apa ke langit, di bumi pun banyak rezeki. Sedangkan anak rumahan tak usah bermimpi untuk dapat mengisap secangkir kopi di Starbucks.

Anak jalanan tak menangis jika putus cinta. Namun mereka akan pingsan apabila koin-koinnya menggelinding dan lenyap. Sedangkan anak rumahan akan mogok makan jikalau putus cinta.

Anak jalanan hanyalah obyek empuk bagi pengusaha untuk membagikan "recehan", remah-remah dari keuntungan kapitalisme. Lalu pengusaha itu dan anak jalanan berpose senyum dan berpelukan, kemudian diterbitkan di koran atas nama CSR (tanggung jawab sosial perusahaan). Seakan-akan mulia sekali pengusaha itu. Bagus, patut ditiru!

Anak jalanan gemar mengejar sedan yang kinclong, walau yang ia tatap hanyalah wajah pengemudi yang buram dalam kaca film, dan kaca yang tak akan tergulung. Andaipun tergulung, paling hanya menyodorkan Rp 1.000, itu pun sisa kembalian sehabis beli laptop seharga Rp 4.999.000.

Anak jalanan hidupnya keras, sehingga tak sudi punya akun facebook. Sebab mereka sanggup membedakan antara teman yang penyombong dengan teman yang pendiam di facebook. Anak rumahan juga lihai membedakan ENTER dengan ENTAR. Tekan ENTER ketika masuk facebook, dan tekan ENTAR ketika masuk waktu sembahyang.

Anak jalanan mampu menahan kentut saat mengamen di bus kota. Mereka menghormati para penumpang. Tapi, mereka akan lari terkentut-kentut tatkala dikejar oleh Satpol PP. Sedangkan anak rumahan tak mampu menahan kentut saat makan malam di rumah calon mertua. Bisa berabe. Padahal kentut itu sangat manusiawi.

Anak jalanan ternyata lebih tegar dibanding anak rumahan. Buktinya, mereka nggak pernah terjun dari ketinggian lantai di mal. Ya iyalah, lha wong mereka dilarang masuk ke mal oleh security.

Dari catatan harian "Hujan Huruf", tertanggal 26-12-2009

Jumat, 18 Desember 2009

97. Nyalakan Api Kehidupan, Kobarkan Api Asmara



Cakrawala mulai diselimuti oleh tirai malam. Mega-mega yang merona jingga bergelayutan di antero angkasa. Di atap, gerombolan burung jalang bernyanyi sukacita sebab penuhnya tembolok mereka. Mereka mematuk-matuk nasi yang kujemur di tampah. Senandung para burung telah lenyap. Saya beralih ke musik India, dengan suara khas Lata Mangeshkar. Tatkala menikmati syahdunya musik India, sekonyong-konyong ada suara minta tolong. Kucari sumber suaranya, mulai dari kolong-kolong, lorong-lorong, hingga di gentong yang kosong. Ternyata asalnya dari seorang ibu yang minta tolong. "Mas An, kompor saya nggak bisa nyala," suaranya mirip serigala melolong yang lapar karena belum makan lontong. Maka membaralah welas asihku, segera kutolong dia. Wajib ditolong dong, jangan cuma bengong. Nanti ketiban durian montong.

Begitulah jadinya apabila para ibu kesulitan menyalakan kompornya. Mereka akan mohon bantuan pada pria yang paling gagah dan tampan. Mereka ialah penerima kompor dan tabung gas gratis dari pemerintah. Gratis dari Hong Kong...! Mereka tetap kena pungutan liar sebesar Rp 5.000-Rp 20.000. Padahal pemerintah berkoar bahwa ongkos distribusi sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Kenyataannya? Mana kualitas barangnya KW 3. Kalaupun niat memberi, berilah yang kualitasnya wahid. Pemimpinnya dapat fasilitas yang super lux. Amsalnya, biaya laundry untuk jas dan pakaian dinas yang mencapai Rp 70 juta per bulan. Sedangkan rakyatnya hanya dapat kompor gas picisan. Mungkin kebanyakan beban APBN kali ya....

"Mas An bisa?" tanya seorang ibu. "Tenang saja. Beres dech," kumencoba menenangkan, meski saya juga bingung bagaimana agar kompor menyala. Pria harus pandai mendamaikan hati wanita sekalipun kondisinya genting. Cetak-cetuk, bunyi pematik tergesek, namun si jago biru enggan timbul. Utak sana, atik sini, hingga saya berpeluh dan bertelanjang dada. Saya terkejut, sebab ada gadis yang matanya berpendar ketika menyelidiki lekuk badanku yang tambun. Seketika kukenakan baju, malu akan perut Semar ini. Di tengah senyuman malu dengan wajah semerah biji saga, tebersit hasrat untuk mencopot regulator dari selang. Kemudian kumemasok aliran gas ke selang, kugesek pematiknya, dan blup...si jago biru pun berkobar. HOREEE, Dora berhasil!!!

Sejak peristiwa itu, saya kerap dipanggil oleh para ibu jika mereka kesulitan menyalakan kompornya. Mestinya saya yang jadi model iklan untuk program konversi minyak tanah ke gas, bukan Dik Doank. Dia sich cuma bisa mejeng doank. "Mas ganteng, ini uang untuk beli rokok," tawar seorang ibu yang riasannya menor. "Wah, terima kasih. Saya sudah berhenti merokok," tolakku halus, sehalus bokong bayi Timor Leste. "Oh, pantas bibirnya tampak merah jambu," pujinya padaku. Berikanlah pelayanan untuk dan karena Allah, tanpa pamrih.

Bahkan tangan suami mereka tak berkutik. Saya menyindir ke seorang suami, "Kau tak mampu menyalakan api kehidupan bagi keluargamu, lalu bagaimana kau mampu mengobarkan api asmara untuk istrimu di ranjang?"

Perlahan Sang Lunar mendaki puncak zenit, pertanda malam kian larut. Lengkingan jangkrik menggema dari semak gulma. Kami kongko-kongko seraya disuguhkan kopi panas dan pizza jawa alias bakwan toge. SEDAAAP!!!

Syukurlah. Sekarang mereka sudah sanggup menyalakan api kehidupannya sendiri. Blup....

Minggu, 06 Desember 2009

96.Secarik Gelitik di Tangan Mistik


Berselancar dengan mesin waktu,yuk! Kita mindik-mindik ke kamarnya Nobita, lalu masuk ke laci belajarnya. Doraemon kan mengatur mesin waktunya di situ. Yup, kita ke tahun 2000, ketika saya masih berusia 13 tahun. Kala itu saya sedang mabuk judi, judi togel (toto gelap). bukan ala kasino di Vegas. Ini semacam tebak nomor, caranya kita membeli dengan karcis karbon seharga mulai dari Rp 1.000. Satu nomor--yang tersusun atas dua, tiga ,atau empat digit--harganya Rp 1.000. Gambarannya, 1234, 234, atau 34. Per nomor bisa dibeli lebih dari sekali. Maka di karcis akan tertulis 1234x3, berarti beli nomor 1234 sebanyak tiga kali. Jika nomor itu yang keluar, maka si pembeli (penjudi) mendapatkan tiga kali lipat.

Namanya juga masih putih biru, yang uang sangunya Rp 2.000, kalau sudah berjudi konsekuensinya nggak jajan di sekolah besok. Manakala gemerincing lonceng istirahat membahana, saya hanya ada di perpustakaan, dikira kutu buku. Ketika kawan-kawan menjilati manisnya es bonbon, saya tak mau kalah, saya juga jilati asinnya air mata ini. Jikalau mereka keringatan sebab kenyang, saya malah keringatan sebab lapar. Kutu kupret tuh togel, bikin gue sangsai! Pun kalau harus membayar biaya fotocopy. Tampang saya akan pucat pasi mirip Edward Cullen. Bilamana sudah begitu, kawan-kawan dengan berbesar hati akan menolongku. Kalau sampai Sang Jawara Kelas nggak ditolong, mereka akan keringat dingin, takut nggak dikasih contekan lagi. Ha ha ha ha, NARSIS!

Mekanisme judinya kurang lebih seperti ini, tiap empat hari kita diberi selembar kertas ramalan oleh seorang agen bandar (judi). Kontennya di antaranya bermetafor begini, "matahari di atas lautan, hewan-hewan mendekat", plus disertai angka-angka petunjuk. Jika Anda cermat, pasti menjawab hewan laron. Kemudian kita mencari kata laron di buku ramalan mimpi khusus togel. Di situ, misalnya, kita menemukan nomor 57 untuk kata laron. Lalu kita meracik (ngecak) angka itu, contoh modifikasinya 1257, 3575, 575, 12, dst. Paginya seorang agen menempelkan secarik kertas berisikan nomor yang keluar, amsalnya 7512. Kalau kita pasang 3312 dan/atau 12, maka kita dapat buntutnya. Jujur saya nggak pernah dapat, hiks hiks hiks. Dan jika sohib saya yang dapat, saya tentu ditraktir untuk minum-minum. Maaf nih, saya nggak mau mabuk sajang,anggur, bir, apalagi jamu. Tahu Intisari? Itu jamu vitalitas untuk emak-emak yang habis beranak. Aturannya minumnya satu sloki, mereka satu botol. Jadi terngiang-ngiang lirik lagu dangdut, "Sudah mabuk minuman ditambah mabuk judi/Masih saja kakang tergoda janda kembang/Tak sudi, ku tak sudi." Saya pernah curhat ke ibu saya, "Ma, aku lagi berhubungan sama janda." Ia spontan menyergah, "Cari yang perawan!" Saya kaget dan menimpali, "Maksudnya perempuan hartawan?" Beliau pun mengangguk setuju. Ibu dan anak bujangnya ternyata sama gendengnya.

Bukan hanya meramal dari kertas ramalan dan mimpi, namun juga dari peristiwa hot yang baru terjadi. Salah satunya ialah tragedi tabrakan antara kereta api dengan angkot mikrolet di Bintaro. Salah satu korban yang kepalanya buntung, terseret hingga ke TPU Tanah Kusir, dan tergeletak di plang Semboyang 35 (panduan masinis untuk membunyikan klakson). Saya memprediksi angka itu (35), tapi alpa untuk membelinya. Alhasil, esoknya keluar. Huh....

Penjelajahannya cukup, kita kembali ke lorong waktu. Ingin cerita lebih banyak, tapi nyokap gue yang bawelnya persis nenek-nenek encok itu, tiba-tiba menelpon. Katanya si Tuminem lagi nonton The Twilight Saga:New Moon, terus saya yang disuruh cuci piring. GEMAZ!!!

Rabu, 25 November 2009

95.Sandal Jepit Sang Mantan Koruptor


Untuk keluar rumah dengan jarak dekat, saya hanya pakai sandal jepit seharga Rp 5.000-Rp 7.500. Jarak dekatnya semisal ke minimarket, ke masjid, dan ke warnet. Hingga pada suatu kala sandalku yang masih gres sirna, seusai shalat Isya. Yang tersisa cuma seonggok sandal yang buruk rupa. Dengan berat hati kuayunkan kaki dengan sandal itu. Ternyata ada juga jemaah masjid yang bernaluri maling. Bibirnya mengucap bismillah, namun kelakuannya na'uzubillah.

Tunggu, kasusnya belum rampung. Karena jengkel sandalnya hilang, maka saya pergi ke warnet. Begitu urusan dengan jemaah dunia maya usai, sandal murahanku tak ada. Yang ada sepasang sandal baru dari jenis yang sama. Ya sudah, mau tak mau saya kenakan sandal swalow baru itu, daripada nyeker. Memang antara musibah dan anugerah hanya setipis kondom. Dan supaya tidak hilang lagi, sandal temuan itu saya mandikan dengan air dari sumber tujuh mata air. Diperoleh dari air mineral yang kemasannya tertera, "Dari Mata air Babakan Pari, Gunung Salak"; "Mata air Gunung Salak"; "Mata air Babakan Pari, Sukabumi"; "Mata air Sigedang, Klaten"; "Mata air Pati"; "Mata air Cipondok, Subang"; dan "Mata air sumur". Ha-ha-ha, kurang kerjaan! Sedangkan si pemakainya mandi dengan bunga/kembang tujuh rupa, yaitu Bunga citra lestari; bunga desa; kembang janda; kembang perawan; kembang tahu; kembang kempis; dan kembang biak. Wah, tambah ngaco deh gue....

Walaupun sandal jepit hilang, saya tak jera untuk shalat berjamaah lagi di masjid. Naasnya sandalku yang sudah dimandikan dengan air keramat, hilang lagi. Tertukar jadi lebih buruk. Lu sich musyrik, pakai agenda mandi tujuh mata air segala. Sekarang matalu yang berair (nangis). Lalu selang sepuluh jam kemudian, saat shalat Subuh, sandal buruk itu tertukar menjadi lebih kinclong. Hingga waktu terus berlari, sandal kinclongku menjadi jelek, usang digerogoti usia. Saya pun mengembara ke warnet dengan sandal gembel mirip pengemis keadilan. Ketika keluar (dari warnet) saya bertanya, "Lho koq, sandal gembelku raib?" Yang tersisa ialah sandal bagus yang dicampakkan pemilknya. SIKAAAAT!!! Bila ada istilah istri atau piala bergilir, dalam sejarahku ada istilah sandal bergilir.

Terkadang di malam remang-remang yang mana semilir angin membelai jenggot tipisku, saya merenung sok bijak bak seorang nabi akhir zaman, Rasulullah SAW, bahwa hakikatnya manusia tak punya apa pun di dunia ini. Allah-lah yang memilki segalanya. Saya lahir dalam keadaan lemah dan miskin, begitupun saat mati kelak. Saya juga mesti belajar kehilangan sesuatu yang saya cintai, kehilangan ponsel, kehilangan kendaraan, dan kehilangan anggota keluarga. Menurut hemat saya, kehilangan terbesar adalah terampoknya keperjakaan di malam pertama nanti. He-he-he, ini malah kehilangan yang saya harapkan. Karena peristiwa inilah saya jadi malu, sebab justru sandal jepitlah yang mengajarkan saya bahwa saya tak memiliki apa pun di dunia ini. Jadi, saya tak usah protes pada Sang Pemberi kalau permintaan saya tak terkabulkan, juga tak perlu menjadi sosok yang serakah. Karena keserakahan (korupsi) yang pernah saya perbuat, saya dipecat dari tempat kerja yang dulu. Untung belum ketemu cicak....

Minggu, 08 November 2009

94.Pengantin Miskin


Terkisahlah sepasang pengantin yang miskin. Ketika pagi, sang suami yang lembut tapi sering kentut itu bertanya ke sang istri, "Beib, kita sarapan apa?" Sang istri menjawab,"Kita tak punya apa pun." Akhirnya untuk melupakan rasa laparnya, mereka berhubungan seks. Kala sudah waktunya makan siang, si suami yang tak bertanggung jawab itu bertanya hal yang sama, dan tentunya dijawab dengan jawaban yang sama pula. Untuk menghibur rasa laparnya, mereka berhubungan seks lagi. "Sungguh terlalu!" kata Rhoma Irama.

Entahlah ada angin apa, kini sang suami mulai sadar dan mencoba mencari pekerjaan. Sudah wara-wiri hingga malam, ia tak mendapat pekerjaan apa pun. Sang suami yang bernama Bambang itu bimbang, sebab ia mau merantau ke Palembang tapi koq kapalnya mengambang (menurut lu!). Di tengah kebimbangannya akan ekonomi keluarga, ia memerhatikan sang istri yang bernama Mayang Sariadem sedang main perosotan sambil bugil. Bambang bertanya dengan heran, "Yang, kamu ngapain...?" Mayang menjawab, "Aku sedang menghangatkan makan malam, Mas."
GUBRAK!!!!

Jumat, 30 Oktober 2009

93. Telanjang


Seekor ular tercengang menyaksikan tingkah polahku. Ia mengira punya "teman" baru. Ya, hari Senin (26/10) saya telanjang bulat sembari menari erotis di antara berhelai-helai guyuran air dari langit di belakang rumah. Ini bukan pornoaksi, karena hanya dilihat oleh Tuhan, malaikat, jin ifrit, kecebong, cacing, dan ular tadi.

Kalau Anda, kapan terakhir bugil yang bukan di kamar mandi/tidur? Jangan-jangan Anda telanjang sambil menari di atas tangisan orang lain. Selingkuh maksudnya. Kalau bisa seringlah kita "bertelanjang", apalagi yang hobi "menelanjangi" orang lain. Denotasinya ialah membuka aib atau mengomentari setiap jengkal keburukan/kekurangan orang lain. Siapa pun berhak mengomentari segala keburukan, itu bagian dari iman. Namun, tekanlah nafsu untuk menggunjing dan memfitnah. Pepatah klasik mengajarkan, "gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak". Seorang Imam al-Ghazali bertutur, "Pada setiap manusia selalu menonjol tujuh sifat (tercela) dalam kehidupannya sehari-hari, yaitu sifat dusta, serakah, kikir, gunjing, riya, iri hati, dan sombong."

Dengan sering "menelanjangi" orang lain, seolah-olah kita tak punya cacat cela. Atau mungkin kita pura-pura tak sadar bahwa ternyata kita jauh lebih buruk. Dan sebab mereka sudah telanjang, maka kini mereka mengenakan pakaian yang lebih baru. Akibatnya, kita tak pernah mengenakan pakaian yang baru karena kita tak mau/mampu menelanjangi diri kita sendiri. Ironis....

Minggu, 18 Oktober 2009

92. Memeluk Risiko


Tertawa berisiko tampil konyol. Menangis berisiko tampil sentimentil. Merengkuh orang lain berisiko keterlibatan. Menunjukkan perasaan berisiko menampilkan dirimu yang sesungguhnya. Mengemukakan gagasan-gagasan dan mimpi-mimpimu di hadapan umum berisiko kehilangan semua itu. Mencintai berisiko tak berbalas. Hidup berisiko mati. Berharap berisiko kecewa. Berikhtiar berisiko gagal.

Akan tetapi, risiko tetap mesti diambil. Ancaman terbesar dalam hidup adalah tak ingin memeluk risiko. Orang yang tak berani mengambil risiko, takkan mengerjakan apa pun, tak mempunyai apa pun, dan bukan apa pun. Ia mungkin dapat menjauhi derita dan sesal. Namun, ia tak bisa belajar, berubah, bertumbuh, dan mencintai.Ia budak yang terbelenggu keyakinan. Hanya pengambil risiko yang tidak membentengi kebebasannya.

Robert Holden
Timesles Wisdom for a Manic Society

Jumat, 09 Oktober 2009

91. Jengkolan


Hari ini saya dengar orang menangis histeris. Tak jelas, apakah anak-anak atau orang dewasa yang nangis. Tangisannya samar-samar, sebab kami terpaut dua rumah. Bernyanyi, "Sesungguhnya aku punya rencana. Beli rumah yang sangat sederhana sekali.RSSS." Kalau rumah saya tipe RSSS..., yaitu rumah yang sangat sederhana sekali, sempit, sampai selonjoran saja susah. He-he-he...bercanda.

Saya penasaran, lalu tanya ke papi, "Pi, siapa yang nangis?" Jawabnya, "Bang Sahrul. Dia gak bisa kencing." O iya, saya teringat kalau tadi malam papi cerita bahwa Sahrul kesulitan kencing. Ayo, tebak, kenapa dia gak bisa kencing? Dia "jengkolan"! Apa tuh jengkolan? Itu istilah dari efek kebanyakan mengonsumsi jengkol. Wah, jengkol? Itu makanan kesukaanku setelah tempe. Bayangkan sobatku, ia beli 2 kg jengkol....Kalau saya ngidam jengkol, paling-paling beli Rp 3.000 di warteg. Harga segitu dapat enam buah, yang mana itu hanya tiga butir jika mentah. Mahal ya, bo. Habis makan jengkol, gak bisa ciuman dech.

Dia, Sahrul, perawakannya gendut dan tinggi. Hmm, lucu juga kalau orang setipe dia menangis hanya karena tak bisa kencing. Lagipula bisa kencing bukan hal sepele, itu adalah rahmat. Seorang preman Pasar Senen pun bisa nangis kalau gak bisa kentut. Jadi, kentut yang bau dan bunyinya kurang sopan itu, juga termasuk rahmat.

Mbok ya, kalau ke rumah sakit alasannya yang keren. Misal, serangan jantung sebab gak terpilih jadi presiden/anggota legislatif. Atau gak bisa kencing sebab selingkuh mulu. Ini, ke rumah sakit sebab gak bisa kencing, kebanyakan makan jengkol penyebabnya.

From my diary, "Sang Pemberontak". Tanggal 2 Oktober 2009

Kalau Anda perhatikan, kisah ini kocak banget. Minimal Anda tersenyum. Kalau tidak tersenyum juga, wah...hidup Anda serius banget. Dan, jengkol bukanlah faktor tunggal penyebab "tak bisa kencing".

Senin, 05 Oktober 2009

90. kekaguman


ada seseorang yang bikin aku kagum
aku malu menyebutkan siapa dia
namun, ketika terbayang wajahnya, senyumku merekah bagai mekarnya kuntum kamboja
kadang terbesit dalam relung benakku, aku ingin menciumnya
apalagi tatapan nanarku pun dibumbui renyahnya nafsu

sayangnya, dia tak sanggup melihat diriku di antara tarian tulip di tanah rana
dia pun berjalan di garisnya sendiri, tak rela meladeni edannya pikiranku
dan, yang kuharapkan hanya menjilati remah-remah birahinya
aku masih bermandikan amisnya syahwatku, sekalipun telah berwindu-windu berenang dalam samudra tawar

hingga tak ada yang kutakuti
aku pun masih mengkhayal tentang indahnya sensasi ini
malam ini aku tetap tersenyum bagai mekarnya kuntum kamboja yang jatuh terserak di batu nisanmu

Selasa, 29 September 2009

89. Keabadian Penduduk Surga




Pertanyaan
Apakah orang-orang yang berbuat baik akan kekal dalam surganya Allah, atau kelak akan dipindahkan ke mana untuk tidak menyamai kekekalan Allah itu sendiri?

Jawaban

Salah satu informasi yang menjelaskan keabadian penduduk surga dan neraka bisa ditemukan pada QS.al Bayyinah {98}:6-8. Para ahli tafsir, semisal al-Thabari (Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an jilid 15, hal.92-293), al-Maraghi (Tafsir al-Maraghi, jilid 10, hal.216), dan Buya Hamka (Tafsir al-Azhar, jilid 10, hal.8080), memiliki penjabaran yang sama mengenai kekekalan kehidupan di surga dan neraka, kehidupan yang diredaksikan dengan anak kalimat "khalidina fiha abadan", yaitu kekal selama-lamanya, tidak pernah keluar dari surga dan neraka, dan tidak pernah merasakan mati di dalamnya.

Al-Thabari (Jami al Bayan 'an Ta'wil Ay al-Quran, jilid 7, hal .136) ketika membahas QS. al Bayyinah {98): 6-8, memberi penjelasan tentang kata abadan yang diletakkan sesudah anak kalimat khalidina fiha. Menurut al-Thabari, orang Arab biasa menggunakan kata abadan untuk menggambarkan lamanya suatu masa, melukiskan keabadian suatu hal yang paling lama tapi ada batas akhirnya, dan bukan keabadian tanpa akhir. Kekekalan selain Allah SWT ada batasnya. Kekekalan kehidupan di surga dan neraka pun ada batas akhirnya, yakni berlangsung sepanjang keberadaan langit dan bumi (QS. Huda {11}: 106-108). Ternyata di akhirat juga ada langit dan bumi. Tapi seperti apa langit dan bumi di akhirat kelak, ada baiknya kita memerhatikan catatan yang diberikan oleh Maraghi ketika mengakhiri uraian tentang ketiga ayat dalam QS.al Bayyinah {98}: 6-8. Al Maraghi memberi catatan bahwa umat Islam sekadar dituntut untuk memercayai eksistensi surga dan neraka, tanpa dituntut untuk memercayai hakikat dan di mana letak surga dan neraka, pun tak dituntut untuk mengetahui batas akhir keabadian para penghuninya dan lain sebagainya. Al-Maraghi berargumen bahwa hakikat surga dan neraka, di mana letak surga dan neraka, seperti apa keabadiannya , dan lain sebagainya , termasuk perihal gaib yang hanya Allah SWT saja yang mengetahuinya.

Catatan al-Maraghi ini seirama dengan QS. al Jin {72}: 26-27 yang menguraikan bahwa hanya Allah yang mengetahui perihal gaib. Sebab itu, keyakinan terhadap adanya kehidupan yang kekal di surga dan neraka harus diletakkan dalam konteks kalimat "laysa kamitslihi syay'un" (QS.asy Syura {42}: 11). Ada keabadian di akhirat, namun keabadian yang ada batas akhirnya, dan bukan keabadian yang sama dengan Allah SWT.

Wa Allah a'lam bi al-shawab

Sabtu, 26 September 2009

88. Meraih Mimpi



Rabu kemarin (23/9) gue, keponakan, dan kakak, nonton di 21, yaitu Meraih Mimpi. Ini kali pertama bagi keponakan gue, Melisa, untuk nonton di bioskop, termasuk bagi ibunya. Dan ini kali pertama bagi gue untuk menginjakkan kaki di Blok M Square, tempat di mana 21 berada. Kami hanya bayar dua tiket. Sebab Melisa masih 3 tahun 11 bulan, nyaris 4 tahun, usia kena HTM. Di dalam bioskop, Melisa seperti amazing. Dari yang pertama kali melihat layar yang besar, sebelumnya ia menyebut TV, hingga kaget saat audio bioskop menggelegar.

Meraih Mimpi (atau Sing to the Dawn,untuk judul versi internasional), sebuah animasi musikal produksi Indonesia. Secara teknis gambar, jangan dibandingkan dengan PIXAR atau Dreamworks. Animator Indonesia masih dalam tahap belajar. Misal, motion atau gerakan karakter masih kaku, kurang halus. Namun, film ini Nusantara banget. Contoh, ada karakter hewan yang beraksen Melayu (karakter Kakatua, disuarakan Cut Mini), ada hewan yang beraksen Tegal, dan aksen-aksen lainnya. Si tokoh sentral, Dana (Gita Gutawa), bersenandung dengan sangat merdu, dan melengking. Karakater-karakter manusia digambarkan menggunakan sandal jepit karet, khas Indonesia. Seperti saya, yang selalu pakai sandal jepit jika shalat di masjid. Tapi kini tidak. Sering hilang! Namun saya agak kecewa, karena ceritanya tidak lucu. Saya lupa, kalau tidak semua film animasi harus komedi. Kecuali rangkaian Ice Age dan Kung Fu Panda.

Melihat kondisi Blok M, saya jadi pangling. Sudah bersih dan tertib. Tak ada lagi PKL. Wah, malah kesan Blok M jadi hilang dalam memori-memori romantisme saya.

Senin, 21 September 2009

87. Hari tanpa Kemenangan


Hari ini sendirian di rumah, keluargaku sedang rekreasi. Kemarin gak shalat Id, kesiangan. Angpao "hanya" dapat Rp.100.000,- huh.... Lalu apa yang gue harapkan di akhir Ramadhan, tak sesuai dengan kenyataan. Mungkin nanti masih ada waktu. Nanti. Terima kasih buat kawan-kawan di facebook yang mengucapin selamat ulang tahun 14 September lalu. Walau punya akun facebook gak banyak manfaatnya.

Diare, nih. Rendang dagingnya pedas banget. Bosan makan daging mulu, pengen makan tempe goreng. Pokoknya seperti hari tanpa kemenangan. Apa hanya kemenangan yang tertunda.

Senin, 14 September 2009

86. Usia Berkurang


Hari ini aku ulang tahun yang ke-22. Wow, 22, aku belum siap menyambut angka itu. Yang mana kelakuanku masih kayak anak kecil. Gampang marah. Gampang tersinggung. Umur segini, belum juga bisa membahagiakan orang tua. Memberi cucu, misalnya. Kawin dulu, bos.... Sama siapa? Janda? Gile.... Kebanyakan sih teman-teman gue pada rencana nikah. Hmmm, biarlah itu jalan hidup mereka.

Tadi gue dibelikan kebab. Pedas, bos. Paling enak juga combro pakai cabe rawit. Aku selalu berharap agar Allah mengabulkan doaku, saat usiaku berkurang ini. Senantiasa melindungiku supaya tak terjerumus dalam jurang kemaksiatan. Amin. Ci ye...sok alim. Sudahlah begini saja sambutan-sambutannya. Malah seperti sambitan dari langit.

Jumat, 11 September 2009

85. Senjataku


nafasku terendam dalam kubangan zaman
zaman di tepi penghabisan
poranda, lantah, musnah oleh yang mereka ciptakan sendiri
lalu, aku?
kumerangkak di atas jembatan takdir
goyah...getir... menyiksa, namun romantis
kupamerkan jajaran remuk gigiku
tersenyum, walau tak selayaknya tersenyum
aku masih bisa tersenyum

Kautunjukkan padaku, suka, duka, dan rasa di antaranya
Kautunjukkan padaku, benar, salah, namun tidak yang di antaranya

kupegang tali keyakinan
kutapaki padang keihklasan
dan dengan senjataku (doa), kulumpuhkan buruknya takdirku
hingga kuterjungkal karam di lautan hikmah


Sudarmanto s

Minggu, 30 Agustus 2009

84. Puasa hari Jumat


Hari Jumat (28/8) lalu libur, nggak ke mana-mana. Libur panjang banget. Paginya bangun jam tiga, sahur, terus shalat subuh. Tidur setengah enam, bangun jam sepuluh. Wah, siap-siap shalat Jumat. Ke masjid jalan kaki, dech. Habis, mobilnya masih di showroom. Sampai di masjid masih sepi. Eh... malah ketemu kawan lama. Kalau bisa sich, jangan sampai ketemu. Soalnya kalau ketemu, kami pasti ngobrol. Kan katanya kalau sudah berwudhu, kita tak boleh banyak cakap.

Kami (Anto & Arsyad) ngomongin hal film. Kalau film yang terakhir gue tonton di cineplex adalah The Dark Knight (seri Batman). Sedikit ceritaku sehabis pulang dari cineplex, ada seorang pria yang minta pertolongan ke saya. Dia -katanya- uangnya hilang, dan tak bisa pulang ke Bekasi. Terus gue kasih Rp 5.000. Eh, beberapa minggu kemudian dibalas oleh Allah SWT sebesar Rp 300.000. Alhamdulillah. Ayo, di bulan spesial ini, kita banyak sedekah. Nggak mau sedekah? Ih...beli koran Republika edisi Jumat, dech. Harganya Rp 2.900. Kalau uang Anda Rp 3.000, jangan minta kembali ah. Dijamin Anda akan termotivasi untuk bersedekah/berzakat/berinfak.

Kembali ke tajuk awal. Dia, Arsyad, nawarin untuk nonton Transformers 2. Sebenarnya gue pengen, tapi malas ah.... Film pertamanya begitu-gitu aja. Hollywood Style. Semenjak The Dark Knight, gue "puasa" nonton di cineplex. Ih...malas bo! Semua film membosankan, kecuali bokep film, he-he-he, bercanda ah. Sssttt...khotib sudah naik. Hmm...seperti biasa, khutbahnya membosankan.

Jumat lalu cuacanya panas. Jalan kaki ke rumah sekira 500 m. Di taman kota malah ada dua sejoli yang memadu kasih. Madu itu kan manis. Lalu, madu apa yang pahit? Katanya sih "dimadu". Sabar...bu! Pacarannya nanti aja lagi, saat buka. Aduh, saking panasnya, gue beli koran Republika, buat memayungi wajahku yang pas-pasan ini. Mana di samping lapak koran ada penjual nasi gule. Ada yang makan pula. Wuuuh, jadi pengen. Godaan puasa, nich. He-he-he-he....

Dari catatan "Blank Paper" yang ditulis hari ini.

Sabtu, 01 Agustus 2009

83. Puasa tapi Tidak Shalat



Marhaban Yaa Ramadhan

Pertanyaan:
Diterimakah ibadah puasa dari orang yang meninggalkan shalat?

Jawaban:
Tidak semestinya seorang Muslim meninggalkan shalat. Ancaman Allah SWT dan Rasul-Nya sangat keras terhadap orang-orang yang meninggalkannya dan berlaku lalai terhadapnya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya, "Janji yang ada antara kami dan mereka (orang-orang munafik) adalah shalat. Karena itu, barang siapa meninggalkannya, sungguh ia telah kafir."

Juga agar ia tidak termasuk dalam ancaman Allah pada firmannya, surat Al Baqarah:85, yang artinya, "Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat), dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat."

Persoalan apakah diterima atau ditolak puasa, tidak ada ulama yang berbicara tentangnya, sebab hal itu kita serahkan kepada Allah SWT. Dan kita mengharap kepada Allah SWT agar menerima puasa seluruh orang-orang yang berpuasa.

Hanya saja, orang yang shalat dan berpuasa lebih diharapkan diterima dibanding orang yang berpuasa tanpa melaksanakan shalat. Sedangkan persoalan yang berkaitan dengan sah tidaknya puasa, maka meskipun orang yang meninggalkan shalat mengantarkan dirinya ke dalam bahaya besar, dan Nabi Muhammad SAW menggunakan kata "kafir", dan ia berlaku lalai terhadap agamanya karena ia telah merobohkan tiang agama, maka puasanya tetap sah.

Tidak disyaratkan mendirikan shalat dalam kesahihan puasa. Akan tetapi, meninggalkan shalat termasuk dosa-dosa besar, dan tidak boleh seorang Muslim melakukan hal itu. Siapa saja dari kaum Muslimin yang meninggalkannya, hendaknya ia segera bertaubat kepada Allah SWT. Dan Allah SWT Maha Tinggi dan Maha Mengetahui.

Senin, 20 Juli 2009

82. Rp 1.000 Untuk Pengemis Cinta - Rp 0 Untuk Pengemis Nenek



Pengalaman Sudarmanto Syaukanie

Ini unik. Sepulang dari kantor pos, usai kirim surat ke redaksi Kompas, saya bersua dengan pengemis nenek. Dari jauh, saya sudah ancang-ancang, "Nanti gue kasih seceng (Rp 1.000)." Begitu dekat, malah tak jadi. Bukan lantaran saya pelit, saya terkejut. Sebab, dia mengacungkan tangannya ke arah saya secara tiba-tiba. Karena kaget, maka goyahlah pendirianku. Bodoh nian kau!

kala si oma itu menjauh, saya menemukan selembar kertas bergambar Kapitan Pattimura berpose dengan goloknya, telentang di bibir trotoar. Mau kukasih, ia telah raib. Kenapa si pengemis nenek itu tak awas jika ada uang di sini. Bukankah nenek renta dan peyot itu melewati jalan ini tadi.... Apa matanya -yang mungkin presbiopi- hanya menyelidiki wajahku nan tampan paripurna? Tampan itu "tampak ancur".

Bilamana pengemis itu memerhatikan badan jalan, harta ini 'kan jadi haknya. Sesungguhnya, ia punya dua peluang: mendapatkan Rp 1.000 dari aspal robek dan Rp 1.000 dari saya. Sayangnya, ia tak awas, ditambah lagi dengan mengejutkanku -yang niat awalnya mau memberi.

Ya Allah, Tuhan yang romantis, mengapa rezeki ini justru untukku, sang "pengemis cinta". Rp 1.000 bagiku, paling untuk membakar selinting tembakau. Kalau untuk pengemis, mungkin bisa buat tambahan beli sekepal nasi kucing. Yang jika dilahap, kenyang kagak, lapar lagi dech. Dasar geragas!(rakus). Miaaauuuwww...miaaaauwwww....

From my diary, "Bertelanjang Dada - Berbaju Takwa". Date 6 Juli 2009

Sabtu, 04 Juli 2009

81. Paman Tampan Belajar Jadi Ayah Gadungan



Melisa (3), "Lik, lihat dompetnya ya. Aku mau lihat foto paklik waktu masih kecil." Melisa manggil saya 'le', kependekan dari 'paklik', yang jika dilafalkan berbunyi 'pakle'. Artinya paman. Biasanya kalau lihat dompet, pasti ada maunya. Jajan. Saya ucap, "Tapi, jangan beli es ya." Kalau dia mau es, harus izin ke saya. Dia lebih takut saya dibanding orang tuanya. Ho-ho-ho-ho-ho (tertawa bangga).

Kami sekeluarga pernah terkejut, lantaran dia sudah latah. Jika latah, menyebut 'k**t*l', alat kelamin pria. "JANGAN NGOMONG GITU!!!!!" teriak saya. Karena anak-anak, dinasihati bukannya nurut, malah ngeledek. Jika ada anak-anak ngomong kotor, kita jangan teriak. Malah mereka akan mengulangi kata yang kita larang.

Keponakan menangis. Inilah yang menyebalkan, telingaku panas! Saya joget aja, dan dia pun terhibur. Menghadapi balita, harus berani tampil konyol, maksudnya membadut. Aku nyanyi sambil joget, nungging dan ketut. Malu juga, harus membadut di depan keluarga. Perangai asliku kan pendiam. Bodoamat! Yang penting keponakan terhibur.

Dia hafal lagu-lagu pop. Waktu masih kecil, aku nyanyi lagunya pak Ateng, "Del ta ko del/ko del/ta ko del/ko del." Lagu band Seventeen, dia hafal. Saya modifikasi syairnya, "Jelaskan padaku, isi dompetmu/ Seberapa tebalkah, untuk jadi pacarku/ Mengapa harus aku yang membayar/ Tak pernahkah kau berpikir, sedikit tentang gajiku." Termasuk lagunya band Netral, "Garuda di uang gope/ Garuda di uang seribu/ Kuyakin, hari ini pasti jajan." Melisa protes, "Bukan gitu. Salah!" Toh, akhirnya dia nyanyi versi modifikasi saya. (Pernah) Waktu aku gajian, aku belikan susu. Ternyata susunya salah. Tak sesuai dengan kategori usianya. Sok tahu, sih!

Kalau hanya berdua, terus dia mau BAB, itu menyebalkan! Kan mesti dicebokin. Aku menggerutu, "Jijik, Amit-amit! Aku belum siap punya anak, apalagi harus menyentuh kotorannya." Lalu dia berujar, "Terima kasih ya, Lik." Hatiku pun luluh, tersentuh nian. Ucapan terima kasih dari seorang balita polos lebih berharga dibanding ucapan dari orang dewasa, yang terkadang hanya basa-basi dan tak ikhlas. Imbalannya, aku persembahkan tembang cantik milik biduan terseksi, Julia Perez. Kami pun bersenandung dan bergoyang bersama. "Semua orang, pasti suka belah duren/Apalagi malam pengantin/ Sampai pagi pun, yo wis ben." Ci ye...malam pengantinnya Mas Riza dan istrinya yang bahenol, Nyonya Ima Azmi. Tempat tidur sampai ambruk, tuh. Tak apa ambruk, asalkan bahtera rumah tangganya awet sampai jompo, bahkan hingga mati. Amin. Maaf Mas Riza, aku tak bisa datang ke resepsinya. Aku sedang kerja di Selandia, selatan Gondangdia.

"Lik, cerita-cerita dong!" Jawabku, "Ini bukan Kompas. Ini Republika. Nanti hari Minggu." Saya sering mendongengkan cerita dari Kompas Anak untuknya. Kalau mau minum, pakai baju, ambil mainan, buang sampah, dan kencing, maka kusuruh mandiri. Dia susah kalau mandi. Padahal ibunya sudah bicara panjang x lebar= "Mandi Mel! Bla-bla-bla." Tetap saja tak mau. Cukup satu kata dariku, "Mandi!" Langsung dia mandi. Anak-anak tak suka jika kita bicara bertele-tele alias cerewet. Apalagi jika kita seorang bapak, bapak yang cerewet, hilang wibawa kebapakannya. Lagipula seorang ayah tak layak jika cerewet.

Bapaknya Melisa, masih muda banget. Sebaya dengan saya. Waktu masih putih abu-abu, kami bolos bareng, main PS, lalu ke Blok M. Gemez!! Masih muda, namun sudah punya anak (fresh father). Saking gemasnya, aku tonjok pantatnya. Ternyata pantatnya tepos/kempis. Kalau sudah kawin, pantat kita tepos kali ya? Kan di tiap malam yang dingin, kita "kerja bakti" sama istri/suami. Jadi, lemak di pantatnya terbakar. Bokong gue mah pandat dan montok, sebab badan gue agak sintal.

Huuuuuhh...mendidik anak itu lucu juga, dan menyebalkan pastinya. Karena aku serumah dengan keponakan, maka secara langsung terlibat dalam pengasuhan. Serasa punya momongan, hi-hi-hi-hi. Tinggal kawin, nich! Biayanya? Minta orang tua dan mertua aja. Ah...sontoloyo!!!!!!!!
Q:"Memang mau nikah sama siapa, sih?"
A:"Sama Agnes."
Q:"Monica?"
A:"Bukan, Sumarsih!"
Q:"Lho, Agnes Sumarsih itu kan ibunya Katon Bagaskara?"
A:"Benarkah??? TIDAAAAAAAAAAAKKK!!!! [screaming].

Minggu, 21 Juni 2009

80. Facebook - Menjalin Persatuan dan Kesatuan



Anda punya Facebook (FB)? Bikin dong! Nanti dimarahi Mark Zuckerberg, lho. Saya pernah lihat dia di Swiss, sekitar wilayah Sunter Selatan. Memang ada Sunter Selatan? Setahuku Sunter Ijo. Ini ide saya sejak Januari 2009, dan tidak menjiplak. Yaitu, karena Indonesia penduduknya beragam -bhinneka tunggal ika- maka saya cari identitas mereka masing-masing.

Misal, saya ingin berteman dengan orang-orang NAD, maka saya cari nama-nama: Teuku, Tengku, dan Cut. Daftar tampilan lalu saya tambah. Terserah mereka, mau konfirmasi atau abaikan. Teuku dan Tengku sedang bertengkar pakai rencong. Ternyata mereka rebutan Cut yang sedang nari saman. Alamak, perempuan banyak!

Horas! Dari Aceh terbang ke Sumatera Utara. Eh...ada Bang Ivan Nasution, dia lagi renang di Danua Toba, pakai sempak doang lagi. Itu kan Butet, cantik banget, mirip Novia Kolojengking (ups...Kolopaking!). Terus aku cari yang bermarga Simanjuntak, Simanungkalit, atau yang lainnya. Mereka memakai ulos, tampak anggun.

Aku mengundang urang Sunda. Kang Asep/Acep, dan Kang Deden. Kang Deden malah ngajak dahar. Yah...Kang Deden, wayana (seadanya), tempe deyi, tempe deyi. Siapa tuh yang main angklung? Cecep!

Dan tentu saja, karena aku wong Jowo, maka aku cari: Sudarmanto (nama lengkapku) dan Bambang. Ada Untung tuh, lagi manjat pohon toge. Katanya mau bikin pecel. Dan yang bernama Suparno, hai Mbak Ariyanti, hai Mas Benny, hatur nuhun mau jadi koncoku. Hai Bejo,daripada bengong jorok mending gabung di FB.

Ke pulau Bali, yuk! Ingat penyanyi Maribeth, Denpasar Moon. Ke Bali naik apa ya? Naik getek aja, deh. Mau cari Ketut dan Wayan, tapi Mbak Ni Made gak mau 'confirm'. Mungkin dia lagi sembahyang di pura.

Cari nama-nama pasaran khas Indonesia -nama gue juga pasaran- ada Rudi nih, Rudi Khaerudin. Asyik...pasti dia bisa masakin aku jengkol balado. Rudi juru masak? Ada Erna lagi BEOL, belanja online di pernikmuslim.com.Tuti, Agus, Agung, Wahyu, Ratna,dan Budi, mereka sedang main petak umpet. Juga yang namanya FX, nama yang unik. Dan si cantik Dyah.

Cari marga di Sulawesi, tapi jarang yang 'confirm'. Cuma Aldo Turangan yang 'confirm'.

Dan perlu diingat. Yang saya tulis di atas, sifatnya tidak baku, bisa dimentahkan. Misal, namanya saja Ketut (ih bau,itu kentut!), tapi belum tentu mereka tingal di Bali. Semua orang merantau ke Jakarta. Bukan metropolitan lagi, tapi METRO-POLUTAN. Atau bahkan namanya saja Butet padahal dia orang Jawa. Contoh, Butet Kertaredjasa. Lagipula, Butet kan nama perempuan. Hi-hi-hi-hi

Ok, ikutin dong cara saya. Seperti slogan TVRI: Menjalin Persatuan dan Kesatuan. Atau jangan-jangan, Anda yang terlebih dulu punya ide ini. Duh Gusti, aku telat.

Yang merasa namanya disebutkan, lalu tersinggung dan marah. Mohon maaf. Cuma bercanda. Ada tuh yang marah, terus gue dipecat dari FB-nya. Padahal gue cuma bercanda. Bukankah bikin akun FB sama dengan bergaul. Dan jika bergaul, 90%-nya adalah bercanda -kadang candaannya cenderung menyakitkan. Mungkin dia (agak) kuper.

Eh...eh...koq gitu sih? Lho koq marah. Jangan gitu kawan. Jangan gitu kawan.

Sabtu, 13 Juni 2009

79. Mengintip Buku Harianku


1. Dipo nembak Lisi

Gue dengar hal ini dari Andriansyah, kalau Lisi "jadian" sama Dipo. Tadinya gue gak percaya, lalu waktu UH (Ulangan Harian), Taufiq nyeletuk, "Dipo ngelamun!" kepada Lisi. Emang ini bukan urusan gue, baru deh gue 98 % percaya.

Diary berjudul "the recall". Tanggal 15 Agustus 2001

2. Dicukur

Oboh misbah , dia memanggilku, memperingatkanku agar memotong rambut. Jambangku ditarik, aduh sakit, teman-teman pada kabur.
Lagi bercanda-canda di kelas, dia datang lagi, bawa gunting, kepalaku dijitak, aduh sakit lagi, dan rambutku dicukur acak-acakan. Malam ini baru aja ke salon, botak nih, mas pencukurnya bilang, "dicukur guru ya?"

Diary berjudul "18 mm square" . Tanggal 19 Juli 2005

3. Dicukur (2)

Rambut gondrong nih, kena hukuman nih, berdiri di lapangan ditonton semua orang ( lagi upacara). Udah pengen lolos tuh, eh malah ketahuan Sugeng, digampar pipi gue. Akhirnya rambut gue dicukur lagi.

Diary "the favourite cinemas" . Tanggal 17 April 2006

4. Kursi Roda

Hari ini melihat sepasang anak SMA laki-laki di Jalan Proklamasi.

Yang salah satunya menggunakan kursi roda, mungkin cacat.

Satu lainnya mendorong dengan kasih sayang. Terharu. Sedangkan aku masih saja sering bolos dan telat.


Diary "Jenny has gone". Tanggal 26 September 2005

5. Dikejar Anjing

Berangkat ke sekolah dicegat oleh anjing kecil. Si Angga ketakutan, dia lari duluan. Anjing tidak mengejarnya. Aku teriak ke dia, " Pengecut Lu! "


Dengan sok berani aku tetap berjalan, tapi anjingnya memandang sinis padaku. Giliran aku yang berlari, si anjing malah mengejarku. Aku berlari sekitar 30 M.


Kejadiannya di taman, depan rumah pak RT.


Diary "Jenny has gone". Tanggal 26 September 2005

6. Ke Gramedia Melawai

Gue ke warnet 1 jam (Rp. 4000), bikin Email baru: sansanwawa_yes@yahoo.com. Kirim Email ke Aldo, penyiar Female Radio--sebelumnya siaran di Prambors FM--yang movie freak itu.

Sign in to Yahoo! Messenger. Send a text message (Yahoo! Mobile) ke HP-nya Iqbal (XL), terus besoknya berhasil. Yes!

Diary "the favourite cinemas". Tanggal 3 Mei 2006

7. Nomat

Besok mau nomat, neh! Hari Senin di Megaria 21. Film "Brokeback Mountain", janji sunyi di gunung punggung patah.
The best song in Golden globe, the best adapted screenplay in Academy Awards, and the best director in Academy Awards (Ang Lee). What else?
HTM nomat Rp.12500,-

Diary "the favourite cinemas". Tanggal 12 Maret 2006

8. KDRT

Tadi gue kesel banget! Kakak gue, dia tiba-tiba menghilang. Sudah 2,5 jam gak nongol-nongol. Mana di rumah lagi sepi, gak ada siapa-siapa.

Pas dia pulang, gue tanya, "Dari mana lu?" Alasannya, "Dari main." Gue tahu deh, dia itu "pacaran" sama lelaki beristri. Gila!

Gue marah besar. Lalu gue ambil sapu lidi, dan gue pukul ke dia berkali-kali. Dia teriak histeris, hingga semua tetangga mendekat. Malah gue juga berantem sama tetangga. Parfum & losion (milik kakak), gue buang semua isinya. Dia janji gak mengulangi lagi. Insya Allah.

Menyesal juga melakukan KDRT. Habis dilembutin gak mau, maunya dikerasin.

Diary "abuwaswas". Tanggal 3 Juni 2009

Kamis, 21 Mei 2009

78. Cantengan


Jempol kakiku cantengan, aduh! Ibu jarinya, bapake neng ndi? (Bapaknya mana?) Mboke tok! (Ibunya doang!)

Aku cantengan sejak umur 13. Waktu itu belum bisa merawat kebersihan kaki.Masih main di got, di kali, apalagi kalau banjir, senang banget! Aku pernah renang di lokasi banjir, dan dilecehkan oleh mas-mas. Dia menunjukkan penisnya ke saya (I was kid), saya terkejut dan berteriak dalam hati, "Wow! 'Sosis jumbo'. Berbiji, berbulu, berbatang, seperti jagung.And I was so shock.

Gara-garanya, aku makai sepatu yang sudah sempit, jarinya kejepit sepatu, dan cantengan dech. Soalnya aku ora duwe duit (I don't have enough money), duite angel (uangnya susah). Dadine aku ora iso tuku sepatu sing anyar (so i can't buy a new shoe).

Karena cantengan, pas olahraga, aku ora iso melayu (i can't run), isone melaku alon-alon ( i just can walk slowly). Dadine pontenku elek (my score is bad). Kalau malam, jempolnya diolesin minyak bawang yang panas sama mboke.

Lalu, aku bisa beli sepatu baru. Horeeeee!!! Tapi kesenanganku cuma sebentar. Sepatuku robek, sebab di setrap-suruh push up- hanya karena satu kelas tak bisa jawab pelajaran 'english'. Tapi yang bikin atiku loro (hurt) adalah, kenapa cuma aku yang push up? Sepatu larang-larang dadi rusak (sepatu mahal-mahal jadi rusak).

Saiki sikilku masih cantengan (kini kakiku masih cantengan), jempolnya. Yang dulu sudah sembuh, tapi kumat lagi. Kalau kotorannya aku ambil pakai potongan kuku, terus aku cium, "Ya Gusti, mambune uenak tenan (OMG, it's delicious smell)." Terkadang aku gak rela kalau cantenganku sembuh, nanti baunya hilang.Hi-hi-hi-hi.

Kamu pernah cium ketek sendiri? Baunya sedap, kan? Ketekku sedep banget, menggairahkan lawan jenis. Tapi kalau pakai Rexona, malah baunya kurang menyenangkan. Aku punya tetangga, dia (male) itu keteknya bau banget. Dahulu Jusuf, sekarang Kalla, maksudnya pada suatu kala, aku sedang berjalan-jalan. Tiba-tiba tercium bau badan yang menyengat, hatiku bergumam, "Mambune sopo iki? (baunya siapa nih?). Saat itu jalanan sepi, eh sekonyong-konyong dia datang dari ujung gang. Orangnya belum ada, baunya sudah muncul. PARAH!

Minggu, 10 Mei 2009

77. Besarnya Kasih Sayang Rasulullah terhadap Umatnya (part 2)


Kali pertama saya membaca artikel ini, mata saya bekaca-kaca dan tumpahlah air mata. Betapa dahsyat cintanya Rasulullah terhadap umatnya, sedangkan kita? Sudahkah kita (termasuk saya) mencintainya? Implementasinya?

Dalam kitab "Syaraf Ummat Muhammadiyah" karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al Hasani, dijelaskan bahwa nanti di padang mahsyar, semua manusia akan mendatangi Rasulullah. Lalu mereka bertanya, "Ya Rasulullah! Kamu adalah utusan Allah, kamu adalah penutup para nabi. Kamu telah diberi ampunan oleh Allah, oleh karena itu tolong kami kepada Tuhanmu, tidaklah kamu saksikan keadaan kami sudah sangat menderita ini . Kemudian Rasulullah menjelaskan dalam sabdanya, "Lalu Aku (Rasul) segera berlalu menuju ke bawah Arasy dan langsung bersujud terhadap Allah SWT. Lalu Allah berfirman kepadaku, "Ya Muhammad! Angkatlah kepalamu, mintalah pasti diberi, berilah syafaat pasti diizinkan." Lalu aku mengangkat kepalaku dan berkata, "Umatku ya Allah! Umatku ya Allah! Umatku ya Allah!"

Masih dalam kitab yang sama pada halaman 234, ada sebuah hadits riwayat Ibnu Abbas Ra yang menjelaskan bahwa nabi Muhammad bersabda yang artinya, "Semua para nabi kelak di hari kiamat akan didudukkan di mimbar mereka masing-masing yang terbuat dari cahaya dan semua nabi menduduki mimbar mereka, kecuali aku yang tidak mendudukinya , aku berdiri di hadapan Allah karena perasaan takut, aku akan dibawa ke surga sementara umatku aku tinggalkan. Lalu aku berkata kepada Allah, "Ya Allah umatku, ya Allah umatku." Lalu Allah berfirman, "Ya Muhammad, apa yang akan Aku lakukan kepada umatmu?" Lalu aku (Rasulullah) berkata, "Ya Allah, percepatlah hisab umatku." Maka setelah itu umat nabi Muhammad segera dipanggil untuk dihisab. Di antara mereka ada yang masuk surga dengan rahmat Allah. Di antara mereka ada yang masuk surga karena syafaatku (Rasulullah). Lalu beliau melanjutkan ucapannya dengan berkata, "Aku terus memberikan syafaatku kepada umatku, sampai-sampai aku diberikan daftar nama-nama umatku yang mereka sudah digiring menuju neraka, hingga malaikat Malik penjaga pintu neraka berkata kepadaku, "Ya Rasulullah! Nampaknya kamu tidak akan memberikan (membiarkan) umatmu untuk mendapatkan azab Allah SWT.

Sementara dalam hadits riwayat sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra, dijelaskan bahwa Rasullah bersabda, yang artinya, "Aku akan memeberikan syafaat kepada umatku hingga aku dipanggil dan ditanya oleh Allah dengan pertanyaan, "Ya Muhammad! Apakah kamu sudah puas dan ridho?" Lalu aku menjawab, "Ya, aku sudah puas dan ridho, ya Allah."

Lalu Syeikh Abu Laits Assamarqandi dalam kitabnya "Tambihul Ghafilin" pada halaman 17, mengutip sebuah hadits yang menceritakan bahwa nanti di hari kiamat ketika Allah telah menghidupkan kembali malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil. Lalu ketiganya diperintahkan oleh Allah untuk segera turun ke kuburan Nabi Muhammad.

Ketiganya sambil membawa buraq dan perhiasan-perhiasan surga. Dan ketika mereka telah sampai di lokasi yang menjadi makam Rasullah , maka terbelahlah kuburan itu, lalu keluarlah beliau dari dalam kuburnya sambil melihat ke arah Jibril dan langung bertanya, "Ya Jibril, hari apa ini?" Jibril menjawab, "Ini adalah hari kiamat, ini adalah hari yang hak, hari yang sangat menakutkan." Setelah mendengar jawaban dari Jibril , maka Nabi Muhammad SAW bertanya lagi kepada malaikat Jibril, "Ya Jibril! Lalu apa yang telah diperbuat Allah SWT terhadap umatku?"

Subhanallah! Sungguh betapa amat besar kasih sayang dan perhatian nabi kita Muhammad kepada kita, umatnya. Beliau adalah orang yang pertama dibangkitkan dari alam kubur. Beliau baru saja bangkit dari alam kubur, namun beliau langsung bertanya kepada Jibril tentang keadaan kita kaum muslimin yang menjadi umatnya.

Anda (minimal) berkaca-kaca ?

Part 1-nya nomor 73

Jumat, 01 Mei 2009

76. ah ah ah


aku melihat Bu Lurah
hanya pakai tank top karena gerah
ukuran dadanya mirip Mariah (Carey)
nafsuku makin bergairah

aku hanya pasrah
ketika dia menyerahkan 'durennya' untuk dibelah
dia pun mendesah-desah
hari ini hari yang sangat indah
aku merasa jadi pria paling gagah
sekaligus pria paling murah (-an)

sekonyong-konyong datang Pak Lurah
kami berdua tertangkap basah
tentu Pak Lurah amat marah
hingga dia memotong 'burungku' sampai patah
maka tubuhku pun berlumuran darah

aku teriak, bangun dengan nafas terengah-engah
ternyata semuanya hanya mimpi, mimpi basah
jadinya aku tak shalat subuh berjemaah
sebab mentari sudah cerah
aku merasa berdosa dan bersalah
untung Allah itu Maha Pengampun dan Pemurah

pantunnya sampai di sini sajalah
karena badanku sudah lelah
seharian beraktivitas di luar rumah
semoga pantunku tak membuat Anda muntah