Selasa, 06 Juni 2017

200. Sang Dewi Pencinta Kedamaian [Wonder Woman]

Jika dalam kultur Superman tokoh si maskulin selalu menyelamatkan Lois Lane, menerbangkannya di angkasa, lalu mencium bibirnya. Di Wonder Woman Diana Prince (Gal Gadot) yang mencoba menyelamatkan pria termasuk Steve Trevor (Chris Pine) di gang dari kawanan pihak Jerman yang mengejar Trevor.

Wonder Woman dilahirkan dari tangan penulis & psikolog William Marston dan seniman Harrys G Peter. Marston dapat ilham dari Margaret Sanger aktivis KB Amerika. Dalam film di Themyscira sebuah pulau tropis, hanya ada kaum amazon wanita saja. Tokoh Diana Prince si demigoddes (setengah dewi) pun konon terbuat dari tanah liat dan ditiupkan roh oleh Dewa Zeus. Reproduksi seksual jantan betina tidak terjadi di sana.

Wonder Woman disutradarai Patty Jenkins, film terakhirnya tahun 2003, Monster. Tidak banyak wanita sutradara mengarahkan proyek superhero, di antaranya Lexi Alexander dalam Punisher: War of Zone (2008) dan Patty Jenkins sendiri, sebab di Amerika pun masih kental hierarki gender. Ditakutkan wanita sutradara tidak cakap menerjemahkan kemachoan superhero, bahkan wanita superhero sekalipun, Elektra (2005) dan Catwoman (2004) yang disutradarai pria dan secara kalkulasi flop di pasaran. Maka itu bursa film pahlawan super dari komik mayoritas adalah pria pahlawan.

Di rantaian keempat DC Extended Universe—DCEU, Man of Steel, Batman V Superman, Suicide Squad, dan Wonder Woman —film bercerita awal mula Diana Prince mengenal dan masuk ke dunia manusia semasa Perang Dunia I. Dengan grafis ala (lukisan) naturalis fragmen-fragmen cerita tentang siapa suku Amazon dan mengapa terjadi banyak peperangan akibat ulah Dewa Ares, cukup memanjakan mata penonton. Dari situlah bibit cerita berplot ke Jerman versus Sekutu yang diwakilkan Inggris. Di London Trevor mesti memberikan buku catatan formula yang dia curi dari Dr. Isabel Maru (Elena Anaya) ahli racun yang berkongsi dengan Jenderal Erich Ludendorff (Danny Huston). Mereka ingin terus berperang, membunuh orang dengan racun mematikan. Diana Prince yang naif dan bergelora jiwa kawula muda maju ke garis depan bersama Trevor, Sameer agen rahasia jago menyamar (Saïd Taghmaoui), Charlie si penembak yang tukang teler (Ewen Bremner), dan Chief si Indian penunjuk jalan (Eugene Brave Rock). Diana Prince hendak membunuh Ares (Dewa Perang) yang merasuki tiap individu manusia untuk saling berperang, Trevor sedikit geli dengan ucapannya. Manusia akan tetap berperang walau dengan dan tanpa Ares, sanggah Trevor.

Pertarungan di Tanah Tak Bertuan merupakan paling indah dan menakjubkan, meski banyak gerak lambat yang agak sedikit mengganggu. Bahkan pertarungan final Diana Prince dengan Dewa Ares / Sir Patrick Morgan (David Thewlis) rasanya biasa saja. Megah tapi tidak indah. Efek visual atau CGI juga lemah di beberapa bagian khususnya pergerakan Diana ketika lompat sana-sini. Pun penampilan Gal Gadot terlalu bersih dan cantik, saya mengharapkan ia sedikit kotor dari luka dan debu. Toh tetap saja cantik dan mulus, seperti ketiaknya yang disensor tim CGI menjadi putih bersinar hingga memicu polemik kemerdekaan tubuh perempuan oleh feminis Amerika. Pembawaan Chris Pine juga mampu mengimbangi keperkasaan Diana Prince. Romansa mereka berdua terpintal lambat bersama plot utama. Bagi penonton eksyen sejati mungkin bagian ini agak menjenuhkan. Namun terbayar lunas di ujung film.

Wonder Woman dapat sensor 13 tahun ke atas oleh LSF.

Rabu, 03 Mei 2017

199. Kartini, Sang Bunga Penutup Abad

“Tubuh boleh terpasung tetapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebasnya.”

Dalam catatan sinema Indonesia pahlawan nasional Kartini sudah tiga kali bangkit dari sejarah dan berlakon dalam film R.A. Kartini (1983), Surat Cinta Untuk Kartini (2016), dan Kartini (2017). Kartini terbaru adalah garapan Hanung Bramantyo di bawah payung Legacy Pictures dan Screenplay Production.

Kartini—Trinil (diperankan Dian Sastro), adalah anak seorang bangsawan Japara. Ibunya bukan bangsawan sehingga dengan terpaksa Kartini memanggil Yu (Bibi) pada M.A. Ngasirah (Christine Hakim). Bapaknya (Dedy Sutomo) menikah lagi demi menyinambungkan kekuasaan lantaran dia hanya wedana, untuk menjadi bupati mesti menikah dengan RA Moeryam (Djenar Maesa Ayu) wanita bangsawan. Plot cerita Kartini memang familiar. Tentang gadis-gadis Jawa dalam kungkungan budaya feodalisme dan patriarki. Ada Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita) saudara-saudara Kartini yang juga mengalami laku pingitan sejak hari pertama menstruasi hingga dilamar.

Dalam masa pingitan, masnya Kartini, Kartono, (diperankan singkat oleh Reza Rahadian), memberikan kunci keluar kamar pada Kartini sebelum Kartono studi ke Belanda. Kunci untuk keluar rupanya bukan makna denotatif, melainkan kunci lemari berisi buku supaya pikiran Kartini bebas terbang sejauh mungkin. Pengadeganan baca buku dan korespondensi oleh Kartini dengan temannya, Stella (Rebecca Reijman) di Belanda divisualisasikan satu dimensi dalam ruang Kartini. Cara yang diambil Hanung Bramantyo cukup segar.

Di era kolonialisme sosok Kartini dipuja oleh orang-orang Belanda, Ovink Soer (Hans de Kraker) dan istrinya. Tapi ibu tirinya, RA Moeryam, sinis padanya. “Setinggi apa pun kamu dipuji oleh londo-londo itu, di sini tetap aku yang paling tinggi.” Termasuk menghadapi masnya yang kaku, Slamet (Denny Soemargo). Bagaimana rintangan mengaral tatkala Kartini mengajukan beasiswa ke Nederland. Titik kulminasi memuncak saat Raden Adipati Aryo Sosroningrat, bapaknya, terserang strok ringan dan Kartini gagal meraih beasiswa kemudian menikah dengan Bupati Rembang Raden Adipati Joyodiningrat (diperankan dengan karikatural oleh Dwi Sasono). Lakon Christine Hakim sebagai ibu kandung Kartini tampil dengan wajah sentimental dan penuh bakti pada suami. Air matanya memancing kelenjar lakrimalis penonton. Secara keseluruhan mengharukan tanpa jatuh menyak-menyek sekaligus disisipi humor.

Film Kartini yang syutingnya sempat tertunda setahun ini menggunakan tiga bahasa, Indonesia, Jawa, dan Belanda. Dilengkapi teks terjemahan. Ada kata yang kurang teliti untuk disunting, semisal untuk kata depan di dan di- untuk prefiks verba pasif. Sementara transisi dialog Jawa dan Indonesia sering diucapkan simultan terdengar agak berantakan. Misal satu kalimat bahasa Jawa lalu selanjutnya bahasa Indonesia. Mungkin bisa satu alinea bahasa Jawa, alinea berikutnya Indonesia. Untuk logat Jawa cuma Pak Atmo (Bondan Nusantara) yang terdengar pulen. Dia berperan sebagai pembantu keraton. 

Kartini seperti bunga penutup abad. Abad saat posisi perempuan sekadar komoditi lelaki. Tidak punya hak dan posisi yang sama dalam sosio kultural dan pendidikan, tanpa mesti melawan takdir kodrati. Sebuah tontonan bergizi bagi generasi muda, meski kurang diminati—jumlah penonton kurang memuaskan (*) 

Rabu, 08 Maret 2017

198. Sang Raja Diraja Hutan (resensi Kong Skull Island)

Melihat poster resmi Kong: Skull Island dengan nuansa lembayung senja terpaksa memancing memori poster film Apocalypse Now. Dengan latar tempat sama-sama Vietnam, dan kawasan Indochina umumnya, serta sungai dan perahu. Vietnam dan Hollywood ibarat sejoli mesra namun penuh kepalsuan. Sejak Amerika kalah perang dengan komunis Vietnam, Hollywood melahirkan sinema patriotis semacam tetralogi Rambo.

Dua tentara Jepang dan Amerika (era Perang Dunia II) mendarat di pulau berantah. Mereka bertarung hidup mati, muncullah sosok gigantik. Seekor primata (sebenarnya secara harfiah tidak berekor) dari spesies gorila. Primata yang secara DNA dekat dengan manusia setelah simpanse. Menurut catatan produksi, Kong 2017 lebih besar (85 kaki) dari King Kong 2005 (30 kaki).

Di era flowers generation, di mana The Beatles sedang didewa-dewakan, anak-anak muda menentang perang di Vietnam lewat sinematografi yang bertutur dari video-video footage. Dua orang ilmuwan Amerika meminta bantuan seorang senator untuk mensponsori misi mereka menjelajah pulau fiktif tengkorak di lautan Pasifik. Setelah perlombaan luar angkasa bersama Soviet, Amerika memasang satelit, memotret citra janggal di pulau itu. Senator menolak dengan dalih menghabiskan anggaran.

“Pak, Anda tidak mau kan keduluan Soviet?”

Seperti Asia Tenggara umumnya, Indochina juga baru 20 tahun merdeka dari Perancis. Vietnam masih dan sudah 19 tahun dicengkeram oleh aliansi SEATO yang melawan komunis. Dua ilmuwan (Bill Randa [John Goodman] dan Houston Brooks [Corey Hawkins]), fotografer jurnalis Time Mason Weaver (Brie Larson), sepasukan peleton yang dipimpin Letnan Preston Packarc (Samuel L. Jackson), dan prajurit bayaran  Inggris James Conrad (Tom Hiddlestone). Tak ketinggalan aktris Tiongkok Jing Tian sebagai San Lin si ahli biologi. Legendary kerjasama dengan Tencent Pictures asal Tiongkok demi merebut pasar menjanjikan di daratan itu.

Seperti insting hewan, mereka tidak akan mengganggu apabila tidak diganggu. Manusia selalu pongah merasa dirinya raja rantai makanan, sifat itu diperankan apik oleh Samuel L. Jackson. Tidak sampai seperempat durasi, Kong sudah mengamuk membantai iring-iringan helikopter pelempar bom. Kong Skull Island lebih simpel dan resep cerita apa adanya. Mereka masuk ke pulau neraka, bagaimana bisa keluar dari sana? Sudah. Kong adalah raja pulau hutan penyeimbang ekosistem. Musuh terbesarnya adalah kadal serupa komodo berkaki dua berjulukan Tengkorak Yang Merayap. Kadal ini lebih sangar dari T-rex di film sebelumnya. Dan fauna-fauna di Kong lebih sedikit. Hanya ada tarantula raksasa, semacam Pterodactyl, kerbau raksasa, belalang kayu, dan gurita. Tidak banyak yang buas.

Latar waktu 70an maka musiknya juga musik masa itu. Cuma tidak ada lagu Queen, The Rolling Stone, John Lennon 😁. Ada David Bowie sih. Penyuntingan visualnya bagus ya, termasuk footage, kuburan gas yang kekuningan itu, dinding-dinding api, desain make up suku pedalaman, dan panorama alam. Audionya khas film musim panas. Kursi sampai bergetar dan bokong cukup geli. Kong buatan Legendary ini disutradarai oleh sutradara yang portfolio karyanya belum banyak, Jordan Vogt-Roberts. Rencananya Kong akan satu semesta cerita dengan Godzila tahun-tahun mendatang. Harap bersabar beberapa menit setelah credit-title sebab ada adegan tambahan. 

Nah, Kong Skull Island masih cocok ditonton sekeluarga. Sensornya untuk 13 tahun ke atas. Mengandung adegan kekerasan dan agak sadis. Moderat lah.

Kamis, 19 Januari 2017

197. Rezim Yang Takut Kata-kata [resensi film Istirahatlah Kata-kata]

Seumpama bunga, Kami adalah bunga yang tak kau hendaki tumbuh, Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah, Seumpama bunga, kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya, Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi (sepenggal sajak Wiji Thukul “Bunga dan Tembok” yang dimusikalisasi dalam film oleh Merah Bercerita feat. Cholil).

Istirahatlah Kata-kata disutradarai dan ditulis Yosep Anggi Noen. Layar dibuka lewat teks narasi dan siaran radio tentang kritikan dan tuntutan Partai Rakyat Demokratik (PRD) seperti pembentukan multipartai dengan latar Solo tahun 1996. Ini berguna bagi penonton muda yang tidak banyak acuan mengenai siapa dan apa yang dilakukan penyair Wiji Thukul hingga bersembunyi di Pontianak. Wiji Thukul atau Wiji Widodo merupakan penyair dengan sajak-sajak yang vokal melawan rezim diktatorial Orde Baru. Sajak-sajaknya tidak terlalu mabuk kata-kata dekoratif yang berjarak dengan realita. Dari buruh pabrik, pemilu yang cuma formalitas, sampai sajak-sajaknya yang membakar reformasi 1998.

Sebelum dinyatakan hilang tahun 1998, dia bersembunyi ke pulau seberang. Sementara Intel menginterogasi dan mengobrak-abrik keluarga dan rumah Thukul. Adonan ketegangan kian kalis. Di pulau seberang, ia bersahabat dengan sunyi dan gelap. Pindah dari satu rumah kawan ke rumah kawan lain. Dihantui paranoia. Ya plotnya setipis itu. Mengambil sepenggal kehidupan Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) di Pontianak dan Solo. Di Pontianak, ia juga menginap di rumah Martin (Eduward Manalu), orang Batak yang juga masuk daftar perburuan bersama Thukul. Kendati nuansa poster dan sinematografinya cenderung guram-muram, bukan berarti tidak ada sisi komedinya, malah semembahana dinamit. Martin membawa sisi humor di bibir sungai Kapuas, dengan mata kamera statis yang menangkap panorama sungai dengan puitis. Film hening dengan gambar jujur.

Penokohan wanita diisi oleh Melanie Subono (Ida, istri Martin) dengan candanya yang mengubur ketakutan. Dan Marisa Anita (Sipon), istri Thukul, yang meluapkan kegetiran dalam diam dan ledakan emosi di akhir. Istirahatlah Kata-kata tidak menutup dirinya dengan titik namun koma. Sebab perjuangan belum berakhir.

Minggu, 25 Desember 2016

196. Kisah-Kasih di Kosmos (review film Passengers 2016)

Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
Seperti takkan pernah pulang, kau membias di udara dan terhempaskan cahaya

(lirik lagu Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa — Frau dgn. Ugoran Prasad)

Kosmos merupakan rimba buas nan dingin lagi nirbatas dalam sejarah pengetahuan manusia. Manusia sendiri penengah antara mikro dan makrokosmos menurut desain neoplatonik Yunani kuno. Tiada manusia yang mampu menembus pucuk langit kecuali dengan ilmu. Alkisah, kapal antarbintang Avalon menjelajah membawa 5000 penumpang dan 250 kru (semua berhibernasi panjang) dari Bumi ke Homestead II—planet kosong serupa Bumi di sistem bintang Bhakti. Berupa misi kolonisasi manusia di planet baru.

Jim Preston (Chris Pratt), mekanik yang terbangun dari hibernasi panjang akibat malfungsi kapsulnya. Lama perjalanan 120 tahun waktu Bumi. Baru 30 tahun tertidur Jim terbangun dan depresi menghadapi sisa 90 tahun sendiri dengan metabolisme tubuh manusia normal, kecuali hanya ditemani android-bartender bernama Arthur (Michael Sheen). Mati kesepian dalam dinding baja. Ada pikiran nekat di benak Jim. Ia ingin membangunkan penumpang lain dalam kapsul, yaitu Aurora Lane (Jennifer Lawrence), penulis cantik yang ia sukai ketika membaca rekaman pribadi Aurora. Terbangunlah Aurora tanpa tahu Jim yang membangunkannya.

Sepasang pria-wanita dalam dinding baja yang dingin dan senyap pasti ada gesekan-gesekan romansa, memang itu rencana Jim. Adegan sepasang kekasih yang bercinta di luar angkasa, dialog-dialog gombal, termasuk lawakan-lawakan kecil. Bumbu-bumbu itu terlumat dan kian harum bersama sumbu konflik yang akan meledak. Aurora murka saat tahu kenyataannya. Tadinya cinta berubah benci. Namun benci saja bukan pilihan terbaik. Sistem permesinan dan catudaya yang sedari awal bermasalah memuncak seiring amarah Auora. Meski kepala dek Avalon terbangun, Gus (Laurence Fishburne), tetapi tidak banyak membantu.

Akankah Jim dan Aurora berhasil memperbaiki sistem catudaya reaktor nuklir yang kian membara dan berisiko menjeblukkan mesin, membunuh ribuan manusia koloni di Avalon? Pertanyaan ini tak perlu ditunjukkan ke sinema Amerika. Sebab perselingkuhan antara Hollywood dan mimpi Amerika sudah berpola mengulang. Passengers yang disutradarai sineas Norwegia—Morten Tyldum (film debut Amerika-nya The Imitation Game) mencoba mengalir, ringan, manis, tegang, dan tidak berusaha pintar dengan istilah-istilah fiksi ilmiah astronominya.

Performa Lawrence tak perlu diragukan (peraih Academy Awards di Silver Linings Playbook). Dia menyuntikkan akting psikologis wanita penuh letupan. Walau bahasa mata Chris Pratt kurang meyakinkan untuk pria yang sedang kasmaran. Tapi tidak terlalu buruk sih gesekan molekul cinta mereka. Memuaskan.

Minggu, 11 Desember 2016

195. Aksi Amnesia Yang Mudah Terlupakan [review Headshot 2016)

Bagaimana film laga yang bagus? Yang banyak bercerita atau banyak beraksi? Keduanya bisa bagus. Cerita ibarat aliran sungai dan para aktor berlayar dengan perahunya (juga komponen-komponen lain penyokong pelayaran). Bicara Headshot teringat The Raid 2: Iko Uwais, Julie Estelle, Very T. Yulisman, silat, sadistis, namun naskah Headshot teramat tipis sehingga terasa begitu kepayahan mengejar sekuen-sekuen laga nan begitu padat.

Dengan prolog kerusuhan adu tembak di penjara, adegan berganti ke sosok Ishmael/Abdi (Iko Uwais) bersama dokter muda-cantik Ailin (Chelsea Islan)—terbaring di ranjang dengan diagnosis amnesia retrogade akibat trauma tembakan. Mengingatkan akan film laga terkeren Oldboy (2003) yang amnesia akibat hipnosis. Ishmael tidak kenal siapa dirinya dan apa yang terjadi padanya. Fragmen per fragmen memori Ishmael muncul bersamaan dengan stimulus yang diterimanya.

Kerusuhan di penjara ada hubungannya dengan Ishmael. Lee (Sunny Pang) ialah gembong pemasok senjata haram yang merekrut anak-anak pesisir untuk dijadikan mesin pembunuh. Dia disebut bapak-dari-neraka. Lee bersama anak-anaknya: Rika (Julie Estelle), Tejo (David Hendrawan), Tano (Zack Lee), Besi (Very T. Yulisman) memburu Ishmael untuk dibantai. Menjadikan Ailin sebagai umpan.

Dengan aksi tembak-tembakan ala sinema yang suka melanggar logika (perhatikan jumlah pelor yang ditembakkan pada duel Abdi-Tejo), adu silat, tusuk-tusukan disertai darah segar menghambur dalam gerakan lambat, Headshot membuat meringis dan hati jeri. Sayang, terlalu banyak bikin jenuh dan garing. Seperti rumus abadi: terlalu banyak hantu nongol dalam film horor, rasa ngeri akan kebal. Terlalu melodrama dalam film romansa, akan terasa picisan.

Sutradara duo Kimo Stamboel-Timo Tjahjanto (Timo rangkap sebagai penulis) bagi saya kurang berhasil memegang Headshot. Tapi sinematografinnya cukup memesona. Akting aktor Singapura Sunny Pang lah yang cukup mencuri perhatian. Pemilihan Chelsea Islan sebagai dokter Ailin seperti salah pilih aktris. Kalau yang dipilih Nurul Arifin sepertinya akan meyakinkan, sayang dia sudah tua.

Headshot tidak terlalu buruk, tapi juga tidak sebaik The Raid 2. Gampang terlupakan, tak membekas di hati.

Rabu, 16 November 2016

194. Dunia Sihir Penuh Kesenangan dan Getir

Fantastic Beasts And Where To Find Them bercerita tentang Newt Scamender, diperankan aktor berbakat pemenang Oscar—Eddie Redmayne, seorang magizoologist yang melancong ke New York. Namun hewan-hewan ajaib di kopernya terlepas. Oleh dewan Macusa (kementerian sihirnya US) Newt tertuduh membuat kekacauan atas kematian seorang senator Shaw akibat sihir jahat.

Di sisi lain Credence (Ezra Miller) kehilangan kendali atas kemampuan sihirnya sehingga mengacaukan seluruh kota.

Film ini bercerita pada dua hal tersebut. Keduanya adhesif satu sama lain. Newt sibuk mencari hewan-hewan ajaibnya bersama Jacob Kawolski (Dan Fogler). Sangat lucu dan menyenangkan. Apalagi hewan Niffler, campuran tikus dan platipus, menyukai aneka blink-blink. Hewan yang paling susah ditangkap. Adegan di toko perhiasan yang terbaik. No-maj (muggle: manusia tanpa bakat sihir) Jacob sangat komikal gayanya. Namun menurut saya Eddie Redmayne belum menemukan formula gesture dan akting yang lepas. Entahlah masih beradaptasi mungkin.

Di sisi lain Graves (Collin Farrel) dan Goldstein (Katherine Waterston) sibuk dengan silang sengkarut yang menimpa Macusa terkait hubungan dengan kematian senator. Juga "menjinakkan" sihir Credence. Di balik kisah getirnya.

Fantastic Beasts dikepalai oleh sutradara empat film Harry Potter—David Yates. Sebagai film tunggal Fantastic terkesan fun dan penuh keajaiban visual dunia hewan ajaib serta bombastisasi ala Hollywood dengan naskah tipis berdurasi 132 menit. Sebagai prolog dari (rencana) film pancalogi, Fantastic Beasts and Where To Find Them menjadi pembuka yang santai dan tidak menggebu-gebu. Jangan makan berat untuk menu appetizer.

Format IMAX 3D.

Ditonton dalam format IMAX 3D rasio 1.9:1 dengan sengaja menyisakan black bar atas bawah demi efek pop out yang diperlukan. Banyak sekali pop out keluar layar sampai kepala saya harus melengos, khususnya hewan kumbang itu. Kedalamannya cukup meyakinkan seolah pemain ada di depan penonton.

Rabu, 12 Oktober 2016

193. Neraka Yang Kurang Membara

Inferno

Gambar dibuka dengan opini-opini radikal Bertrand Zoobrist (Ben Foster) tentang hiperpopulasi pada manusia dan akibat buruk, misal secara alamiah dan naluriah manusia akan menyeleksi habitatnya sendiri. Saling bunuh rebutan pangan. Penyakit yang mengendalikan umur dan hidup manusia. Dll.

Prof. Robert Langdon (Tom Hanks) terbangun di RS dalam keadaan kepala robek tergores proyektil pistol. Dia mengalami amnesia jangka pendek. Ingatan 48 jam terakhir hilang. Hanya fragmen-fragmen wanita berkerudung yang berkata "cari dan temukan" bersama gambaran dimensi neraka dalam deskripsi puisi Dante, Inferno. Dante Alighieri merupakan penyair Firenze (Italia) penulis epos The Divine Comedy, yang mana puisi berjudul Inferno menjadi roda cerita yang menginspirasi Zoobrist termasuk kaitannya dengan Wabah Hitam di Eropa abad pertengahan. Melalui puisi itu pula dan teka-teki simbologi di Palazzo Vellachio hingga ke Hagia Sophia di Turki.

Bersama Sienna Brooks (Felicity Jones), dokter yang menyelamatkan Langdon dari kejaran agen SRS dan agen konsorsium. Langdon masih bingung mana lawan mana kawan. Selama ini konsorsium yang diketuai Provos alias Sims (Irrfan Khan) melindungi Zoobrist dari kejaran W.H.O, musuh Zoobrist. Tapi Provos pun merasa tertipu dengan menolong Zoobrist sebab Zoobrist akan merilis virus berbahaya di Waduk Kuno di Turki tempat ratusan wisatawan sedang menonton konser. Berhasilkah Langdon dan Sienna menemukan di mana virus tersegel plastik itu sebelum pecah dan mewabah di dunia?

Tak banyak bisa diharapkan dari sutradara Ron Howard (Apollo 13, A Beautiful Mind, In The Heart of The Sea) untuk proyek trilogi Robert Langdon bersama Sony Pictures ini. Entah karena sudah terlalu tua sehingga tidak punya kesabaran bertutur dan visi kuat dengan penulis skenario, David Koepp (Jurassic Park, Mission: Impossible, dan dua film prekuel Inferno). Walau tidak seburuk Angels & Demons (2009) yang mementahkan bagian fundamental ceritanya, Inferno seharusnya bisa lebih keren dan menggigit. Padahal penyuntingan cerita Inferno (dari buku ke sinema) bagus sih. Mengubah sedikit cerita tanpa kehilangan roh naskah aslinya (novel). Bagian penutup filmnya terasa template Hollywoodisasi banget. Lebih keren novelnya. Tapi bukan berarti buruk. Efek ledakan di waduk nggak semegah ledakan tabung antimateri di Angels & Demons (bagi saya itu ledakan nonapi terepik sepanjang hidup saya). Visualisasi Hagia Sophia dan kanal Venesia dilupakan begitu saja oleh sang sutradara fotografi, Salvatore Totino. Nuansa sephia kuning untuk flashback Zoobrist sih ajib.

Editing flashback ketika Langdon mengingat memorinya itu alamak cakepnya. Dramatis dan tragis. Cuma bagi penonton umum yang tidak baca novelnya akan mumet dengan kecepatan bercerita yang ruwet tapi pemecahan teka-teki yang terlalu mudah sehingga pesona akting Tom Hanks jadi berkurang. Banyak potensi pesan sosial yang bisa menjadi otokritik untuk para penonton tentang jumlah penduduk dan kita secara individual bisa berperan juga namun rasanya karam sudah dengan adegan-adegannya yang thrilling. Ini sudah tidak seimbang. Walau tidak seburuk prekuelnya, Inferno bagus kendati mudah terlupakan.

Jumat, 08 Juli 2016

192. Garis Tipis Kepercayaan dan Kesombongan

Tidak ada formula yang benar-benar segar untuk sinema drama olahraga macam Sultan: motivasi, kemenangan, kekalahan, keterpurukan, dan melodrama. Disutradarai Ali Abbas Zafar di bawah produksi Yash Raj Films, Salman Khan mesti bertarung di arena gulat sebagai tokoh rekaan bernama Sultan Ali Khan.

Program mixed martial arts (MMA) Pro Take-down milik Aakash (Amit Sadh) terancam kandas di musim ketiga. Semua sponsor menarik diri. Bapaknya menyarankan dia untuk merekrut Sultan sebagai salah satu petarungnya demi rating. Sultan merupakan mantan atlet gulat peraih medali emas di Commonwealth Games, Asian Games, dll. Namun membujuknya kembali ke arena ring tak semudah meniup kapas di tangan.

Melalui Govind (Anant Sharma), sobat karibnya, cerita mundur ke masa lalu di mana Sultan hanyalah karyawan tv kabel dan pengejar layang-layang hingga jatuh cinta dan memutuskan jadi pegulat dengan Aarfa (Anushka Sharma) sebagai motivasinya. Pernah merasakan silaunya lampu kemasyuran dan gegapnya pekik kemenangan. Sampai ketika semuanya hilang terhembus angin akibat keangkuhannya. Sultan hidup menjadi pria yang hampa dan penuh penyesalan. Enaknya, kegalauan Sultan tidak terasa absurd dan menjengkelkan penonton.

Salman Khan melakukannya dengan cara Salman Khan (ini ada negatif dan positifnya), sebab ini bukan biopik tokoh lain di mana aktor sebisa mungkin membunglon sesuai karakter tokoh biopik. Termasuk penampilan Anushka Sharma dengan melankolis minimalis yang terasa mengiris-iris. Dan Randeep Hoda sebagai Fateh Singh—pelatih MMA, walau sekilas ia tetap mengesankan dengan caranya. Berdurasi 170 menit, Sultan terasa agak berlarat-larat untung meriah dengan musik, komedi, dan laga gulat. Setengah awal filmnya penuh nyanyian dan tari khas Bollywood seolah menyaksikan kabaret Hindustan. Paruh kedua filmnya diisi oleh persiapan dan pertarungan Sultan di arena Pro Take-down. Akankah Sultan memenangkan pertandingan setelah dokter mengatakan dia takkan keluar hidup-hidup jika kembali ke arena? Sultan (2016) tayang mulai Lebaran di jaringan bioskop tertentu.

Jumat, 17 Juni 2016

191. Memori Pendek Melintasi Jarak Nan Panjang

Siapa tak kenal film Pixar yang sangat melegenda, Finding Nemo. Ikan yang punya nama latin Amphiprion ocellaris ini sempat booming dan jadi primadona pencinta ikan hias. Tiga belas tahun kemudian Pixar merilis lanjutannya bertajuk Finding Dory di bawah asuhan yang sama oleh Andrew Stanton.

Dory ialah ikan biru (Paracanthurus hepatus) penyandang ingatan jangka pendek, yang kerap mengulang pertanyaan yang sama tiap—kurang lebih—lima detik. Pada suatu malam Dory (Ellen DeGeneres) bermimpi tentang orangtuanya yang terpisah sejak bayi. Bukan berarti Dory tidak punya informasi masa lampau. Mungkin dia berada dalam perenungan psikologi di mana peristiwa masa lalu terkuak kembali. Teluk Morro California adalah salah satu klu dari informasi tersebut. Walau Marlin (Albert Brooks) mencegahnya untuk mencari orangtua Dory nun jauh di sana, Dory bersikukuh.

Setelah menumpang arus penyu yang bermigrasi, Dory ditangkap oleh Sigourney Weaver dan dibawa ke Institut Kelautan untuk dikarantina. Bertemu Hank (Ed O'Neill) si gurita baik dengan kemampuan kamuflase, Dory dan Hank bekerjasama untuk pergi ke laut lepas. Sementara Nemo (Hayden Rolance) dan bapaknya, Marlin, terpisah dari Dory.

Tokoh yang menarik ialah paus putih bernama Bailey (Ty Burrel) yang bisa memetakan area di sekitarnya dengan bantuan pantulan resonansi suaranya. Canggih! Destiny (Kaitlin Olson) teman masa kecil Dory berada di Institut Kelautan dan rabun.

Klu lain ialah kerang ungu, kerang kesukaan Charlie, ayah Dory. Sesi flashback masa kecil Dory ditampilkan berkali-kali ketika secara impulsif ingatan memori lampaunya berkelebat di kepala. Dengan keterbatasan ingatan jangka pendek yang sebagian besar tidak masuk ke ingatan jangka panjang adalah hal yang nenyiksa mencari orangtua yang tercerai bertahun lamanya di luasnya samudera. Situasi ini memberikan rasa haru (baper) ke penonton. Bagaimana dengan sabarnya Jenny dan Charlie, orangtua Dory, merawat cinta pada Dory tanpa syarat dengan keyakinan. Ini sangat dalam, meski sang sutradara dan penulis tidak berlagak menggurui dan mengisinya dengan lelucon yang segar.

Soundtrack Beyond the Sea "Jack Lawrence" dan Unforgettable "Sia" pas banget munculnya dan menebalkan suasana. Untuk format trimatra (3D) Finding Dory tidak spesial di pop out, tapi lumayanlah efek "akuariumnya", maksudnya seolah-olah kita melihat ke akuarium atau kedalaman efek tiga dimensi.