Selasa, 10 Maret 2015

160. Legenda Penembak Takdir

Suara bor di bengkel merupakan hal yang lumrah, tapi tidak jika otak kita tersulut oleh memori traumatis akan dengaran bor tersebut. Bor dari musuh di medan perang sebagai senjata penyiksa.

American Sniper

Pemeran: Bradley Cooper, Sienna Miller, Luke Grimes, Kyle Gallner, Sam Jaeger, Jake McDorman, Sammy Sheik.
Penulis skenario: Jason Hall.
Sinematografi: Tom Stern.
Sutradara: Clint Eastwood.
Studio: Village Roadshow Pictures, 22nd & Indiana Pictures, Warner Bros.

American Sniper, sebuah biopik (dan disadur dari autobiografi dengan judul sama) dan drama perang dari tokoh angkatan laut Amerika Serikat (US Navy SEALs), Christopher Scott Kyle, yang seorang penembak jitu maut saat Amerika Serikat (AS) menginvasi Irak. Kementerian Pertahanan AS mengonfirmasi 160 musuh terbunuh olehnya.

Kyle muda gemar menembak rusa dengan bedil ayahnya. Beranjak dewasa dia menjadi koboi rodeo dan mesti pensiun akibat sebuah insiden melukai tangannya. Dengan gelora patriotisme dan semangat bela bangsa atas tragedi 11 September, Chris Kyle (Bradley Cooper) mendaftar di AL AS.

Tugas pertamanya adalah tiga hari setelah pernikahannya dengan Taya Kyle (Sienna Miller). Dan target tembak pertamanya tak pernah terbayangkan: seorang wanita dan bocah lelaki pembawa granat. Sebuah prolog yang membikin hati nyeri.

Kyle kembali dari tugas pertama di Irak sekaligus menyaksikan kelahiran anak pertamanya. Namun hanya raganya yang kembali, pikirannya masih bercokol di medan perang. Dari pergumulan psikologi inilah Bradley Cooper dengan "tenang dan senyap" memerankan Chris Kyle yang depresi tanpa harus meledak-ledak seperti aktor murahan.

Aktor antagonisnya, Mustafa (Sammy Sheik) yang juga penembak jitu juara Olimpiade,  kurang dapat porsi framing yang cukup untuk ditangkap ekspresi kekejamannya. Maklumi saja, dalam tiap perang penjahat dan pahlawan adalah subyektif. Dia hampir tidak berbicara sepanjang film.

Dari tiap-tiap segmen penugasan Chris Kyle di Irak (ada 4 kali tugas), Clint Eastwood membuat formula eskalasi drama dan perang yang stabil dan memuncak. Sinematografi di Irak representatif sebagai gambaran perang; gedung-gedung hancur, kilatan bom, matahari jingga terbenam segede tampah, dan perspektif teropong digital serta tata cahaya yang hemat ketika malam sesuai kondisi kurang listrik.

Aksi tembak-tembakan melawan mujahidin Irak lumayan intensif dan menghibur penonton yang memang mencari hiburan model film blockbuster dan sisi dramanya menjadi magnet tersendiri terutama bagi anggota AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Sciences) sehingga film ini dinominasikan pada Oscar 2015 dalam film terbaik, aktor terbaik, penyuntingan film, mixing suara, dan hanya menang pada kategori penyuntingan suara terbaik. Scoring dan audionya memang grande sih, apalagi suara azannya yang syahdu ^_^