Selasa, 26 Juli 2011

119. Hujan Batu


Hujan batu yang berselerak bergemuruh geledek di dadaku
Tombak malaikat maut menghujam dada-dada kalian
Fosil-fosil itu telah membatu, mengeras menggigil oleh suhu waktu

Rau sarau!
Tak ada ruang berwaktu
Rintihan aku dan kamu takkan pernah menjuarai desau angin

Lantas apa yang kau kehendaki jikalau kepalamu harus tertunduk siku
Bacalah sabda itu
Tulisan kursif itu buatmu merasa apa?
Aku tak bisa merasa, hanya membeda: benar atau salah

Kolt mereka tergigit di mulut suci mereka yang getol berzikir saban pagi hingga malam, dari hati sampai gigi mereka keram

Aku meyerah saja, sayang…
Kau mau apa? Kok kepala batu sih!
Aku ingin mabuk dan mengawang-awang
Wow, indahnya kiswah di negeri Arab itu
Aku hendak ke sana dan belajar jadi kaum munafik yang kerap alpa bermuhasabah
Ngomong-ngomong muhasabah, di mana ya kuletakkan syahwatku saat hujan batu turun di kampung tetanggaku?

Kirjah dosa dosa kirjah
Kau takut akan dosa, cinta…
Bukankah itu indah sekali, maduku…
Pak ustad kami yang berjenggot , tampan, lulusan negeri Piramid, bergamis dan berpeci saat di masjid pernah bilang: dosa adalah ibu kandung kesengsaraan dan pemutus rahmat

Magrib itu kami bergetar sampai muka kami berpelukan dan terisak sesenggukan
Kau menelan air mataku nan rasa umami
Kami pun terbahak lagi tatkala menonton kethoprak di Taman Ismail Marzuki

Kau telah pergi…
Keparat! Kirbatku tertinggal di rumah roti keju itu

Jangan menoleh ke belakang dengan cinta, sayang…
Aku baru saja pulang dari masjid pak ustad itu sesaat setelah kalian berdua ditandu
Jubah tegarummu berkibar oleh sepoi doa dan restu

Tak perlu menengok diriku
Aku tengah payah menggendong anak kandung yang lampau ibunya sering kami tiduri

Diary “Be a calm man”. 22-07-2011

Jumat, 22 Juli 2011

118. Jerawat Oh Jerawat...


jerawat ialah sahabatku yang sudah pulang ke Cirebon
jerawat oh setia padaku semasa SMK
jerawat oh jerawat

aku masih ingat
kalian menempel di wajahku tanpa SIM (Surat Izin Menempel)

tanya saja pada kawan dan guruku
Apri, Edward, Didi S, dan Pak Rolly
mungkin mereka berbisik amit-amit dalam sanubari

manakala aku ke toko buku
ada cewek yang mendekatiku
aku malu dengan wajah rombengku
lalu kututup mukaku pakai majalah Bobo

lantas aku terbang ke pasar super
aku genggam produk antijerawat
aku selalu beli
mahal!
sampai tak jajan dan kelaparan
kemudian aku turun 1 kg saat ditimbang di posyandu

ah periblis dengan Riobe, Sulfur, Bersih & Cemerlang, Bunga Tulip
tetap saja jerawat nongol

roman-romannya formula farmasi produk mereka dirancang kurang ampuh
ya jika ampuh jerawatu hilang
bilamana hilang lalu aku tak beli produk mereka
apabila produk mereka tidak aku beli, ya perusahaan mereka gulung tikar
aci-aci gulung tikar maka jajaran direksi, manajemen, staf, dan buruh pabrik mereka enggak bisa kerja
jumlah pengangguran akan melonjak
dan mereka jadi beban negara

seandainya negaraku bangkrut
terus aku tinggal di mana?
di Republik Rakyat Kongo? Turmenistan apa? Atau di Kepulauan Barbados?
lebih baik aku hidup di Kepulauan Solomon...
bersama Doraemon sembari melayang dengan balon

suatu siang yang bertabur cahaya surya di lorong kelas, Bu Anita yg killer berujar tengik, "Jerawat sampai gak bisa parkir (di muka, karena sudah penuh)."
sesampainya di rumah aku menangis terbahak-bahak
aku terluka
aku ngesot saja ke dapur
kuraih tiga siung bawang putih
kuparut dan kububuhkan di muka
masker ini panas nian, alamak... rasanya mukaku digampar Malaikat Jabaniyah

namun demi Allah yang nyawaku ada dalam genggamanNya
aku mencoba ikhlas dan tawakal dalam menghadapi ujian ini
aku selalu berdoa dan berusaha
meski aku merana
aku percaya, ujian ini akan berakhir
badai pasti berlaluuuu (nyanyi)

hingga pada suatu masa
aku dengar iklan produk sabun antijerawat terbaru di radio Prambors yang penyiarnya Imam Darto
yeah... mama mia
mereknya Tambatan Hidup: Kulit Cemerlang

tanpa basa-basi aku lompat ke Indoapril, tuing tuing
aku dapat! murah bu... cuma 3.500 perak
kan kalau Bunga Tulip Rp 15.000
hanya dalam 2-3 minggu legium jerawat terpukul mundur dibombardir proyektil
hingga keluar Jakarta (kini Cirebon)

mukaku yang dulu bak kulit kodok bangkong
kini cemerlang bagaikan pengantin keraton yang pakai blankon
Alhamdulillah, wajahku bercahaya
ini sebab karunia Allah yang memberikan ketampanan di parasku ^_^

jerawat oh jerawat
kembalilah ke Jakarta dan kota-kota lain
benteng pertahanan sedang lemah
selemah hati para penduduk kota
yang kerap uring-uringan
perihal asmara di status FB dan Twitter mereka

From my diary, "Be a calm man". July 20, 2011

Minggu, 10 Juli 2011

117. Sepuluh Orang yang Dilaknat Rasulullah SAW sebab Khamar


Terinspirasi dari obrolan antara saya dan Imam Samudra II pada statusnya (Facebook). Yang mutual friend dengan dia, pasti sudah tahu.

Nah, dari ide obrolan yang spontan itu, saya akan memfiksikannya kembali. Iseng aja, sudah enam bulan enggak nulis notes. Kok lucu ya ^.^. Sekalian dakwah yang lucu kayak alm. KH. Zainudin Mz.



Di sebuah masjid yang megah berkubah emas, terdapat seorang ustad yang sedang memberikan tausiyah kepada muridnya yang bodoh. Sang ustad yang bernama Imam Samudra (Pasifik kali yee, wkwkwk, bukan teroris ya) membacakan sebuah hadis pada muridnya si Abu Waswas (roman-romannya cicitnya Abu Nawas).



Dengan jenggotnya yang menari-nari dibelai angin dari AC, sang ustad berujar, "Rasulullah saw bersabda, aku melaknat 10 orang yang berkenaan dengan khamar (minuman beralkohol), yaitu orang yang memerasnya, orang yang minta diperaskan, orang yang meminumnya, orang yang membawakannya (menghidangkannya), orang yang dibawakan ,orang yang menuangkannya, orang yang menjualnya, orang yang memakan harganya (uang hasil penjualan) ,orang yang membelinya, dan orang yang minta dibelikan.(HR.Tirmidzi,Ibnu Majjah).

Sekarang ente paham, Abu?" selidiknya pada Abu Waswas, yang malah asyik Facebookan dari ponselnya yang boleh dapat dari hadiah kwaci.



"Iya, Pak Ustad Imam," angguknya.

"Baguslah, ente memang cerdas dan tampan," pujinya seraya menutup kitab hadis.

"Kalau ana disambit pakai botol bir, apa ana termasuk yang dilaknat, Pak?"

"Ya tidak dong, paling endasmu yang benjol, hehehehe ^_^," guraunya.



Seekor kecoa mengintip obrolan mereka dari kusen masjid. Kecoa itu tersenyum mengamati keakraban antara guru dan muridnya di senja yang jingga, saat kumandang azan akan segera menggema di langit Jakarta.



"Pak Ustad Imam, tanya dong, kenapa ana disambit botol bir?"

"Memang kenapa murid ana yang baik dan saleh ini disambit botol. Yang nyambit dilaknat Allah," belanya.

"Karena habis minum bir, ana enggak bayar, langsung kabur."

"@#(*&^!!*^#7&41," Pak Ustad pingsan.