Minggu, 30 November 2014

154. Anugerah dalam Atribut Kesetanan

"I will love you for the rest of my life."
"Just love me for the rest of mine."

Dialog manis pada pembuka film terasa (tidak) ambigu ketika Merrin (Juno Temple) membalas gombalan Ignatius "Ig" Perrish (Daniel Radcliffe). Mereka sejoli yang memadu kasih di rumah pohon di bibir hutan, tempat persembunyian mereka sejak kanak-kanak.

Maka biarkanlah penonton menahan napas kemanisan sebab gambar berubah seratus delapan puluh derajat. Merrin terbunuh di rumah pohonnya. Tidak meninggalkan jejak kejahatan sama sekali. Tak ayal, hampir semua orang (orangtua Ig, orangtua korban, tetangga, nyamuk pers, pelayan restoran yang terobsesi jadi terkenal, termasuk dua polisi gay yang membuntuti tindak-tanduk Ig) menaruh syak wasangka bahwa Ig lah yang paling punya motif untuk melakukannya. Walau Ig punya alibi yang kuat dan terbebas dari tuntutan hukum.

Dari sinilah sebuah premis original bertutur lewat tanduk (horns) yang tumbuh dari kepala Ig, tanpa tedeng aling-aling, bersama ular (-ular) yang mengalung di pundaknya. Maklumi saja, ini fantasi-kriminal-supra.

HORNS
Pemain: Daniel Radcliffe, Juno Temple, Max Minghella, Joe Anderson, Kelli Garner, James Remar, Mitchell Kummen, Sabrina Carpenter.
Skenario: Keith Bunin.
Sutradara: Alexandre Aja.
Produksi & distribusi: Red Granite Pictures, Mandalay Pictures, Dimension Films.

Suatu hari, saat terbangun karena mabuk atas apa yang telah terjadi pada pujaan hatinya, Ig mendapati dua tanduk tumbuh dari keningnya. Panik, ia menemui seorang dokter untuk menangangi anomali di tubuhnya. Sampai ia tersadar mempunyai kekuatan ketika menyentuh pasien wanita bersama putri kecilnya yang terus berteriak.

Rupanya, atribut keiblisan berupa tanduk di kepala Ig hanyalah ironi belaka. Alih-alih memiliki kekuatan setan nan menakutkan, ia menikmatinya sebagai demoniak, dengan galau. Ig berusaha menyelidiki siapa bajingan yang telah memperkosa sekaligus membunuh kekasihnya itu. Melalui pendekatan secara persuasi Ig mampu mempengaruhi orang melakukan apa yang ia mau dan menampilkan sisi kelam mereka, tak terkecuali dua polisi yang kerap membuntuti Ig--lalu keluarlah pengakuan terbesar mereka (homoseksual). Tak lupa mendesak orang-orang terdekatnya untuk mengakui, seperti Terry (Joe Anderson) dan Lee (Max Minghella). Mereka berdua dan Ig adalah orang-orang yang terakhir kali bersama Merrin sebelum tewas.

Demi memperdalam koherensi cerita, Alexandre Aja sering melakukan sesi alur mundur, terutama tatkala Ig dkk masih belia. Ini membikin penonton mencurigai tokoh mana yang bertanggung jawab atas kematian Merrin. Formula penuturannya terkesan absurd, kaku, dan encer sebagai film kriminal, dengan beberapa sub genre. Namun Horns tidak memposisikan diri sebagai kriminal klasik, di mana tokoh dan otoritas kepolisian menguak tiap kemungkinan sebagai umpan investigasi. Lantaran Ig punya demon power sebagai interogrator mumpuni... yang bimbang dan masih manusiawi.

Alexandre Aja memang tipe yang suka main-main (lihat saja Maniac). Latar kota Horns seolah terpencil lantaran lokasi syuting di beberapa daerah di Provinsi British Columbia, Kanada. Tata kamera dan efek visual yang sederhana, mood gambar yang muram, kalung salib sebagai klu, nuansa komedi, dan lagu David Bowie--Heroes--yang rotasinya berulang. Dengan drama romansa yang kuat, dukungan akting Juno dan Joe, seperti sembunyikanlah kepahitan dengan kata-kata ambigu nan manis.

Paling tidak, Horns semacam film yang menghibur sebagian penontonnya dan membuat yang lain jengkel (penulis sih lumayan terhibur). Seperti film yang minta dimengerti penontonnya, bukan sama-sama dimengerti.

Horns merupakan adaptasi novel drama kriminal supranatural (dengan judul sama) karya Joe Hill--Joseph Hillstrom King--anak Stephen King, maestro novel/skenario horor, supranatural, gotik, dsj. Adagium "buah jatuh tak jauh dari pohonnya" memang abadi.

Horns sudah diputar pada ajang Toronto International Film Festival 2013 dan pada momen Halloween tahun ini. Sayangnya, film produksi bersama AS-Kanada ini tersengal-sengal dalam tangga box office dan harus ikhlas di posisi 30 pada awal perilisannya.

Film ini khusus dewasa karena mengandung unsur ketelanjangan dan seks.

I, I wish you could swim
Like the dolphins, like dolphins can swim
Though nothing, nothing will keep us together
We can beat them, for ever and ever
Oh we can be Heroes, just for one day