Sabtu, 22 Oktober 2011

122. Hadiah yang Kosong


Cerpen karya Abu Waswas



"ALHAMDULILLAH! ANE MENANG HAPE!" teriak Rasyid berjingkrak-jingkrak. Sementara Hans, sobatnya, bermuka kecut.

Simelekete!" cibirnya.



Dua penganggur ini kerap melekat ke mana pun arah angin menuju. Bersepeda ria di jalur bebas kendaraan bermotor, tahlilan orang mati ataupun selametan wanita bunting, hingga seiya setidak dalam berpartisipasi dalam program hadiah uang dan barang-barang bermartabat.



Siang berawan ini Hans punya agenda segudang, dari memenuhi undangan interview di kantor perusahaan minyak goreng, mengunjungi galeri seni rupa agar tampak menjadi warga urban yang melek seni (walau kenyataannya tidak!), hingga jalan-jalan ke mall (hanya jalan-jalan). Sudah tentu, sudah pasti, sudah yakin ia akan ditemani oleh Rasyid, sobatnya yang alim itu.

"Gimana tadi wawancara ente, Hans?" ujar Rasyid sambil mengamati lukisan kubisme yang tak ia pahami.

"Biasa aja," balasnya meninggalkan si penanya.

"Astagfirullah, gitu aja ente ngambek, Hans!"

"Siapa yang ngambek? Gue cuma tahu diri aja, Syid. Cuma lulusan SMA," gerutunya.

"Jangan gitu, kan ente cuma ngelamar jadi buruh pabrik, bukan manajer."

"Yup, I know. Tapi kan banyak pelamar. Nah kalau gak ada uang pelicin atau orang dalam, bakal susah." Rasyid mematung di samping patung harimau berbahan tembaga. Ia tak hentinya komat-kamit melafalkan asmaul husna bersama kenaifannya sendiri.



Di sela-sela jajaran toko dan interior yang cantik, menarik, dan eksotik, mereka cuma wara-wiri beserta ludah mereka yang hambar bin tawar. Tiada segelas sirup rasa lemon untuk sekadar pembasah kerongkongan ataupun pemanis mulut. Pun tiada karcis bioskop di genggaman, yang mana ingin sekali menyaksikan kekocakan dan atraksi silat si Po Panda dkk.

"Eh Hans, udah ada pengumuman belum hadiah kecap botol cap Bebek?" tanya Rosyid yang lalu duduk di sebuah bangku cuma-cuma.

"Nama gue gak ada."

"Sabarlah, mungkin belum rejekinya. Padahal hadiahnya lumayan; kulkas, motor, laptop, uang. Kan kalau dapat bisa buat modal buka usaha pondok bakso," harapnya dengan diiringi kesabaran.

Lagi-lagi keduanya melamun di hamparan orang-orang yang modis, klimis, dan manis. Dalam tertegun, Hans membaca poster yang terbentang di beranda toserba.

"Syid, daripada elu nanya mulu apa lamaran gue diterima atau gak, mending kita ikut itu aja!" Ia setengah berteriak dengan jari mengacung ke tulisan: Menangkan hadiah utama satu unit BMW dan hadiah hiburan lainnya dengan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk memakai deterjen Gaya!

"HAHAY!!!" Berpijarlah bohlam 100 watt di atas kepala Rasyid.



Demi sejumput tujuan mulia, Rasyid dan Hans memasang target untuk menggaet sebanyak-banyaknya pemakai deterjen Gaya. Mereka melancarkan aksi demo persuasif dari pintu ke pagar, kost ke kontrakan, pagi ke siang, dan siang ketiduran.



Gayanya sudah seperti sales kantoran. Padahal nasib menuntunnya menjadi pengangguran. Niat mereka sekeras baja. Usaha mereka sungguh-sungguh menginjak keluh. Daya lenting mereka selentur rotan Kalimantan.



"Hans, pagi ini ente ke perumahan RT sebelah, ane di RT sini dulu," aju si Rasyid.

"Oke deh. Gue pasang target 10 orang hari ini. Jangan lupa, selain bungkusnya, elu minta juga fotokopi KTP-nya."

"Insya Allah, niat kita jadi barokah," doa Rasyid dengan tangan dan kepala menengadah ke langit.

"Aamiin."



Hans yang pemalu semakin malu tatkala ia mesti memalukan dirinya sendiri di hadapan para ibu dan remaja putri yang tersenyum malu. Ditambah ada Sri yang lirak-lirik dengan rambut yang ia kibaskan penuh kesan. Ia menciut. Ia gemetar. Tak pernah ia mempelajari ilmu penjualan.

"Kamu promosi apa sih?" tanya Sri mesam-mesem.

"A...a...anu, Sri." Gagap mendadak.

"Anu apa hayooo...," ledek Sri.



Ia melamun memandang kecantikan alami wajah Sri. Sri laksana spora bunga desa yang terbang terbawa angin urbanisasi. Akibat dari penyerbukan yang subur ia mekar berjajar di jalanan metropolitan. Gadis sanjai sederhana yang mematik naluri lelakinya hingga berkobar, membakar tiap tetes birahinya yang panas. Ia berhasrat untuk mempersuntingnya jika memenangkan hadiah utama BMW. Seandainya.... Apabila... Bilamana....



"Anu, aku lagi ikut program mencari sebanyaknya pemakai deterjen Gaya. Aku dan Rasyid jadi agennya," bebernya lancar.

"Oh gitu. Memang apa bagusnya Gaya?"

"Bisa mengangkat noda membandel, menjaga serat kain agar tetap lembut, dan harum pastinya," promonya dengan senyum tersungging di gigi yang kering. Serta merta gadis berambut panjang legam itu mendekatinya, meraba kaosnya dan mengendus pada bagian dadanya.

"Betul. Lembut dan harum, hehehe..."

Seutuh jiwa dan raga Hans terjeblos ke mulut bumi. Terus terperosok dalam magma endorfin yang meletup-letup.



Derap segerombolan kaum bapak dan pemuda keluar dari rumah yang menggelar kenduri nujuh bulanan. Dua sekawan, Hans dan Rasyid, ialah peserta yang tak pernah absen pada acara serupa. Kehadiran orang-orang macam mereka diperlukan untuk periuh suasana dan pendukung supaya doa-doa terpanjat tembus ke langit.

Rasyid setengah berlari ke arah Hans yang berbalut koko putih dan bersarung hijau terang setengah betis.



"Assalamualaykum," salamnya, terengah-engah.

"Waalaykumsalam."

"Tadi ente siang dapat berapa?"

"Wah, menakjubkanlah. Gue laksana ketiban durian gundul, hehehe," ujarnya terkekeh geli.

"Alhamdulillah. Ane mau tahu ente dapat apa, Hans?"

Ia menepuk pundak Rasyid. Lengkung alisnya menggeliat. Nasi berkatnya ia angkat. Lalu dengan ligat ia merampas songkok putih yang bercokol di kepala Rasyid. Ia kabur dengan tawa yang berderai derai.

"Astagfirullah! Woy, kembalikan peci ane!”

"Berita sukacita dan peci bisa didapatkan di rumah gue, hahaha..."



Di beranda rumah Hans, mereka menjumlah bungkus per bungkus deterjen hasil perjuangan melumpuhkan rasa gengsi. Kepulan asap membumbung terurai desau angin malam. Sisa-sisa sendawa meledak dalam bahasa kenyang.

"Masa tiga hari cuma terkumpul 70 bungkus sih," keluh Rasyid.

"Betul! Kita bisa kalah banyak dari agen lain yang berkonspirasi dengan pihak penyelenggara," tukasnya.

"Konspirasi apa tuh? Ane kagak ngerti, Hans."

"Kongkalikong."

"???"



Ia menyambit tarbus merahnya ke muka Rasyid yang melongo. Ia menawarkan strategi.

"Kalau lamban gini, kapan gue bisa ngelamar Sri. Gimana kalau kita memanfaatkan pak RT supaya dia bisa mengimbau warganya untuk pakai deterjen Gaya."

"Cuma mengimbau?"

"Iya, kan dia punya kuasa dan disegani. Begitu warganya nurut, baru kita ketuk door to door tanpa perlu mempromosikannya lagi. Hemat waktu, jadi kita bisa lebih cepat dan dapat banyak!" tegasnya mantap.

"Target kita pak RT sebelah, Pak Widodo."

"Persis!"



Pak Widodo masih sibuk dengan burung prenjak jawa kesayangannya. Ia menyemprotnya agar lebih segar. Siulannya beradu dengan cit cit cuit sang burung yang lincah.

"Assalamualaykum, Pak Widodo," salamnya menghatur dengan map biru terlampir brosur informasi program deterjen berhadiah.-

"Waalaykumsalam. Eh kamu, Hans," sahutnya sembari menggantungkan sangkar bambu ke langit-langit serambi.

Pak Widodo menggiring tamunya ke dalam. Sementara ia nyelonong ke kamar tidur meninggalkan Hans di ruang tamu.

Ia kembali dengan segepok kartu undangan bercorak batik yang cantik lagi harum.

"Kamu ada perlu apa? Mungkin bisa saya bantu."

"Ini Pak," jawabnya. Hans mengangsurkan mapnya.

"Oh hadiah Gaya itu. Oke, gampanglah. Nah, coba kamu bagikan undangan pernikahan ini ke warga saya."

"Pernikahan siapa, Pak?"



Hans membanting segepok kartu undangan itu di hadapan kawan karibnya. Rasyid terpental ke arah tenggara. Mukanya tegang melintang. Dan wajah Hans berang meradang.

"Astagfirullahal 'azhiim, sabar deh ente, Hans."



Mukanya yang layu bertambah mendayu. Gemericik air hujan di luar bersuara bisu. Guntur nan sangar terdengar sendu. Parasnya yang sebam kian kelabu.



Ia tak mengerti lagi bagaimana mesti membawa harapan. Ia tak paham lagi harus bagaimana memintal impian. Dan ia tambah tak tahu lagi bagaimana meninggalkan sebuah cita-cita.



Ia belum kuasa beranjak dari bayangan hitam yang semakin hitam tersiram silaunya cahaya masa depan. Bayangan yang lahir dari seberkas angan-angan dan tuntutan yang bersetubuh dalam lelapnya malam. Dan sialnya, bayangan itu hanya hadir manakala ia berdiri di bawah silaunya bintang masa depan. Ia pun tak memiliki kekuatan untuk memilih. Juga takdir memilihnya supaya ia tak punya kekuatan.



Lima hasta dari tempatnya duduk, kawannya yang setia ikut terselubung atmosfer yang berkemelut. Ia tergugu dalam hanyut udara yang kian karut-marut. Seharian ini Rasyid sedikit bicara mengimbangi dirinya yang tengah kalut. Ia sadar dan paham bahwa Hans tak perlu wejangan yang bikin dirinya ringan. Apalagi ia tak butuh ceramah yang membuat jiwanya cerah.

"Kau butuh bersembunyi dalam tempurung sunyi," tutur Rasyid puitis.

"Sedangkan pujaan hatiku bersembunyi dengan bidadara yang merdu bernyanyi," timpalnya pilu.



Rasyid menghampiri rumahnya yang terjilat juluran lidah cahaya surya. Sang subuh baru saja dijemput sang waktu yang angkuh. Jendela kamarnya tak mengembuskan napas kehidupan. Masih rapat terhalang tirai menjuntai.

Ia mendapati Hans terkulai loyo bak kurang kalsium. Mukanya dibenamkan di bantal yang tak lagi harum. Rasyid mengguncang bahunya yang tanpa baju. Ia hendak mengutarakan sesuatu.



"Hans, ente seminggu ini mengurung diri terus di rumah. Boro-boro mau bantu kejar target. Masa gara-gara Sri kawin, cita-cita kita berdua kandas," ulasnya.

"Yeeh... kata elu, gue kudu bersembunyi dalam sunyi."

"Yaah... seruan ane berubah jadi sesat."

"Tadi lu bilang apa, gara-gara Sri kawin cita-cita kita berdua kandas," tegasnya, ia bangkit seraya mengelus dadanya yang kokoh dan atletis.

"Betul begitu."

Hans beranjak, meraih kaos katunnya. Tak lupa ia menjinjing sepatu bola favoritnya. Rasyid mengikutinya.

"Mau main bola?"

"Yoi. Ngapain juga patah hati dikelonin di kasur." Ia menjalin temali sepatunya di ruang tamu.

"Secepat itukah?"

"Yee... tadi lu yang nasihati gue. Hati tuh sulit diatur sama otak, makanya gerakin aja sama otot, yaitu olah raga.

"Intinya, dipaksakan," simpul si Rasyid.

"Persis."



Hans memerhatikan para wanita berkumpul di rumah Sri usai bersepakbola. Rumah pengantin baru itu riuh rendah oleh bahak mereka.

"Ada apa, Syid?"

"Entahlah."

Ia bertanya pada seorang ibu yang keluar berjalan mendekatinya. "Kenapa bu, ada ramai-ramai di sana?"

"Oh... kami menukarkan bungkus kosong Gaya dengan gelas ini," pamer si ibu.

"Bukannya warga sini jadi target ente, Hans? Itu janji Pak Widodo, kan?" Rasyid mengingatkannya.



Ia menyetil senar gitar diiringi lengkingan jangkrik, gumaman kodok, dan lenguhan dorbia. Kini ia mampu bernyanyi dalam tempurung sunyi. Namun segala lamunannya robek tersayat gemuruh gesekan udara oleh pesawat jet di atas rumahnya. Tempurung sunyi makin melantunkan bahasa sunyi yang sejatinya tatkala sahabatnya sedang tak ada di sisinya.



Mulutnya terasa lidas menyairkan bait-bait berjudul Asap Rokok. Syair tanpa kata, tanpa diksi.

"Apa yang kau cari, Hans?" Bisikan bertanya dari telinga kanannya.

"Kebahagian," jawab hatinya.

"Bukankah engkau belum mengosongkan tempurung sunyi untuk kau isi dengan kebahagian dan kesedihan."

"Aku belum sanggup. Aku masih terlalu hijau."

"Maka dengan begitu kebahagian dan kesedihanmu takkan pernah bersandar pada penciptanya."



Lengkung senyum dan deret gigi kinclong tergambar di paras Hans dan Rasyid Minggu terik ini. Bagaimana tidak. Hans--tentu saja Rasyid kecipratan--memenangi undian berhadiah televisi LCD 32" yang disponsori perusahaan susu tersohor.

"Alhamdulillah, selama setahun gue ikut bersepeda di jalur car free day, akhirnya gue dapat hadiah, hahaha," tawanya girang.

"Alhamdulillah, itu rezeki ente. Bagi ane dong... kan ane yang maksa ente berangkat subuh tadi," tagih Rasyid mengharap.

"Oke deh. Padahal kalau kita menang BMW itu kan bisa untuk investasi. Modal UMKM."

"Sudahlah, yang itu kan rezekinya Bram.



Laju sepeda mereka melesat kencang tak terkendali menghantam pantat sedan luks di tikungan curam. Mereka terhuyung, ambruk ke aspal. Mengeluh, meringis, mengutuk tumpah ruah dari mulut mereka. Sang pemilik menghentikan sedannya, turun, kemudian menghampiri mereka.



"Bram," sapa Hans terkejut.

"Hans. Kalian perlu ke rumah sakit?"

"Oh tidak! Cuma lecet dikit dan untung pakai helm," tolaknya pura-pura gagah.



Mereka tergesa-gesa mengangkat sepeda yang tergolek lesu. Jok telah diduduki, pedal siap dikayuh.

"Hans, kamu baik-baik saja?" tanya seorang wanita ayu yang baru keluar dari jok depan. Mukanya cemas dan maras. Parasnya masih alami. Dialah pujaan hatinya yang dulu. Ya, ketika dulu.



Jakarta, 18-21 Oktober 2011

Kamis, 06 Oktober 2011

121. Kembalikan Nyawaku...! (secangkir cerpen rasa darah)


Nyaris tiap hari janda tua itu mengolok-olokku. Bujang lapuk. Bujang busuk. Bujang buluk. Kalau sudah begitu akan kukumandangankan sumpah terkutuk yang isinya tak perlu muluk-muluk. Cukup agar ia menderita penyakit batuk. Dengan begitu, aku bisa hidup lebih khusyuk.



Ya, aku juga mungkin salah. Pada usia 37 di ambang petang, diriku masih membujang. Ini prinsipku—tepatnya terpaksa karena jodoh selalu menjauh. Jadi janganlah kalian menasihatiku, menyindirku, lebih-lebih menghinaku dengan label bujang uk uk uk. Maka dengan mantra yang bersumber dari mulutku yang sakti dan bertuah, dijamin mereka kan pasrah dan menyerah.



“Eh Bung Rayno, bengong aja! Mana kuitansi pembayaran iklan radio periode minggu lalu?” bosku menghardik.



Aku gelagapan. Aku selalu lupa menaruh kertas itu setelah menerimanya dari account executive klienku.



“Maaf, Pak, nanti saya cek di arsip.”

“Hmm, baru hal sepele sudah lupa. Bagaimana kamu bisa jadi calon suami nanti. Memang kamu lebih cocok jadi bujang buluk, hahaha,” tawanya menjatuhkan.







Malam ini aku melepas penat di mall. Kutinggalkan prinsip di meja kerjaku, dan kini waktunya untuk menjamah wanita-wanita ramah. Bertemu dengan golongan manusia glamor, walau terkesan menor.



Aku masuk ke sebuah kedai kopi. Kupesan cappuccino whipped cream. Aku melakukannya sebab terpancing oleh keanggunan seorang wanita di situ. Gaun merah yang ia kenakan sungguh aduhai, meski di mataku tampak lebay.



“Hai, sendirian saja.” Aku pindah. Duduk semeja dengannya.

“Iya, Mas.”

Wow, mas. Aku memang lebih tua darimu, namun sebut saja aku pria matang. Ibarat buah matang yang belum dipetik. Petiklah diriku, makanlah aku.



“Perkenalkan, namaku Rayno.”

Kuulurkan tangan. Kuangsurkan nama. Tetapi mukanya sekecut jeruk purut. Cemberut. Kusut. Mengkerut.



Taksi menurunkanku di pintu gerbang ini. Malam kian menyepi sunyi digenapi jangkrik yang bernyanyi. Aku semakin sakti mandraguna. Aku semakin ringan berjalan dalam lorong kegelapan. Kegelapan dalam 20 tahunan. Di sinilah kutemukan tempat persemayaman yang paling nyaman.



“Wajahmu tampan, tapi menjadi bujang sungguh kerasan. Saya pikir kau menyukai pria yang jika malam menjadi waria.” Leceh janda itu lagi saat kami bersitatap dan bersitegang di sebuah gang.



“Terima kasih, Mak. Semoga batukmu membuat hidupmu tenang selama-lamanya.”



Ketut sekonyong-konyong mengguncang bahuku. Ia tergopoh-gopoh. Ia mengabarkan padaku:

“Ray, anak Pak Bos Romo, si Aditya, kecelakaan. Ia kritis. Dia di ICU sekarang. Kalau sudah seperti ini, rencana outing kantor bakal diundur.”



Aku tersenyum sinis. Aku semakin mantap berjalan di lorong yang hitam. Inilah kesaktian yang sudah paripurna dari ribuan geram. Lantaran sengkarut dendam, hidupku mesti kuanyam meski kelam. Pekatlah hitam yang bercumbu dengan malam.



Dalam termenung, aku kerap kandas mendapatkan pasangan. Apa pasal parasku ini mirip setan. Maka jadilah setan yang bergentayangan. Menggerayangi hati wanita yang merah tercabik-cabik dan berdarah.



Jarum jam merambat pada dimensi yang bulat. Menjumlah waktu yang cuma satu. Dari situ, lantas di ujung selimutku tepat di kuku bagai ada yang memaku. Belaian angin bikin telapakku dingin. Bukalah mataku. Sambutlah tamu itu. Seorang wanita yang kukenal dulu. Bibirku telah kelu. Kutatap parasnya tampak pilu. Ia membawa dendam yang belum lunas bersama sorot matanya yang pedas. Aku menciut. Aku mengkerut. Wajahnya berdarah, bernanah, dan marah.



"Kembalikan nyawaku...!"

"Pergi kau wanita dingin!"



"Nyawamu sudah putus di eskalator karena kepongahanmu!"



Ia merayap di atas selimutku perlahan. Aroma horor yang menyengat bertebaran. Aku sungguh menggigil kedinginan. Hidungnya mimisan. Aku tak lama lagi bakal pingsan.



Aku terbangun dari mimpi buruk yang hiruk pikuk tatkala mentari berkobar di ufuk. Semalam adalah perjumpaan antara bujang lapuk dan setan terkutuk. Biarlah ini hanya ujian agar jiwa gelapku terbentuk.



Sudah begitu lamanya aku memuja setan tanpa ragu. Baru kali ini aku dapatkan sebuah ilmu baru. Terik nanti hendak kujungkirbalikkan truk pengangkut kayu.



Siang menjelang pukul satu. Aku mencegat di jalanan berliku. Kulihat ada truk yang tengah berpacu. Lekas kurapalkan sebait mantra sumpahku yang padu. "Demi nama setan yang bercawan-cawan kegelapan, akan kupersembahkan setetes darah segar dari pengemudi truk itu yang sedang melaju. Binasalah!"

Sontak kendaraan itu oleng dan menghantam pohon beringin.



Alamak, cepat nian. Mengerikan. Mengharukan. Dan memuaskan.



"TOLONG, MAS! ADA KECELAKAAN!"

Seorang bapak menyeruku seraya berlalu. Kupandang banyak orang lalu lalang. Menolong, lebih tepatnya menonton sopir yang malang.





"Rayno, kau Muslim, tapi tak sekali pun kulihat kau shalat. Sesungguhnya apa yang terjadi?" Ketut menyemburkan pertanyaan itu ke mukaku.



Aku bersembunyi menuju gudang sekolah. Aku dilahirkan sebagai anak yang kudu mengalah. Digunjing teman-temanku pun pasrah. "Rayno anak pungut, haram jadah! hahahahah!" Dan aku tumbuh berkembang sebagai remaja yang gelisah. Terjajah.



"Hai anak Adam, aku mau dan mampu menolongmu." Aku mendongak ke langit-langit gudang. Tampak setan Lucifer terbang melayang. Suasana kian tegang. Membuatku kejang-kejang.



"Tenang anak Adam. aku bisa menganugerahimu kekuatan supaya mereka tak menyakitimu lagi."

"Apa itu Tuan Setan?"

"Sebutlah namaku dan kerajaanku, lalu kutuklah mereka dengan sumpahmu. Dan bersyarat."

"Apa syaratnya Tuan Setan?"

"Hahahaha." Ia terbahak menang.

"Yaitu, ikutilah aku jalan yang gelap dan jauhilah seruan Tuhanmu yang riuh di mana pun."



Ketut mencengkram kerahku dan mengangkat dadaku. Matanya tajam dan dalam. Napasnya mengejar waktu. Namun ia bergemetar melakukan semua ini.



"Kembalilah, hai penyembah setan!" Ia mengaum bak harimau bali.

"Aku tak bisa. Aku tak mau melanggar janji. Aku nyaman hidup dalam kegelapan tanpa harus dibuntuti oleh bayang-bayang semu. Aku merasa lebih kuat!"

"Kau brengsek. Kuantar kau ke ustad bijak."



Ia menjinak. Matanya tiada lagi membelalak. Walau anjurannya lumayan menyentak.



"Aku tak suka dengan ustad. Antarkan saja ke paranormal, yang lebih paham okultisme."



"Jika sampai ada lebih dari tiga arwah atau manifestasi dari orang-orang yang kau kutuk lantas minta dikembalikan nyawanya dan kau tak mampu, maka kau yang akan melunasi dengan nyawamu sendiri." "Kenapa bisa, Pak?" tanyaku pada paranormal berpeci yang pernyataannya menggalaukan hatiku.

"Karena kau telah bersekutu dengan setan yang menipumu dan menginginkanmu agar mati dalam kekafiran. Juga semakin banyak arwah yang balas dendam dengan menagihmu hingga membuat jiwamu makin lemah dan bisa mati. Maka berhentilah mengutuk dan kembali ke jalan Tuhanmu."

"Baiklah, Pak."



Aku pulang dengan jiwa yang teduh. Tiada lagi di dada ini gulungan gemuruh. Segalanya telah luruh. Lenyaplah berbagai keluh.



Mobilku ditabrak dari belakang. Sudah tentu pelakunya sopir jalang. Ia tak suka melihatku girang. Ia mendahuluiku di kiri. Sebuah truk. Truk yang kukenal. Gelap. Masya Allah, tanpa sopir. Truk hantu. Aku berakselerasi cepat menghindari arwah keparat. Alih-alih tertinggal, truk itu menghalangiku di depan. Segera kuberbalik namun mesin mendadak mati. Kepepet. Terdesak.

"Hey keluar kau setan bejat, belum tahu rasanya kulumat!"



Aku menunggu dengan cemas. Uh naas. Dahulu aku yang mempermainkannya kini aku yang dipermainkannya. Seharusnya aku belajar ikhlas yang bilamana dihina tak berubah beringas. Pertanyaan besar bahwa aku seorang pengikut setan. Akan tetapi bukan berarti aku bebas dari teror setan. Bukan. Bukan karakteristik setan. Mereka hanya jin ataupun arwah penasaran. Kurang lebih begitulah terminologi yang berlaku di pasaran.



Kucuri pandang. Ada yang duduk di jok belakang. Aku tegaskan lewat spion tengah yang terpasang. Bulu-bulu romaku yang panjang mulai tegak menjulang.



Aku panik. Buka pintu terkunci. Macet. Najis dan menggelikan saat matanya copot beserta darah di mukanya.

"PERGI KAU SETAN TERKUTUK!!!"

"Kembalikan nyawaku...!"

"Waa... tidak!"



Aku menangis disoraki rinai gerimis. Peluh menyemburat dari kulit ariku yang tipis. Kudengar di saat kritis ini hantu itu cuma mendesis. Aku jiper parah sampai terpipis.



Semua kukerjakan disambi menyalakan mesin yang belum juga hidup. Sebab sial aku terperangkap di mobil yang tertutup. Gendengnya arwah itu meniup-niup rambutku hingga menguncup. SUDAH CUKUP!!! Teriakku pasrah merasa sudah tak sanggup. AKU TAK SUDI SETAN ITU MENGECUP!!!



Mesin langsung menyala. Seketika kupacu tanpa ragu. BRRUUMM...!!!

Aku plong. Lega. Sejuk. Makhluk brengsek itu raib. Ini hal yang ajaib.



BUUGG!!! Mobilku menabrak sesuatu saat cuma dua detik aku menoleh ke belakang. Sepertinya aku menabrak orang. Atau jangan-jangan kucing berbuntut panjang.



Aku bangkit untuk menolong korban yang sekarat. Tubuhnya menghadap ke barat. Dari wajahnya terpancar darah merah pekat. Tergambar derita yang tersurat. Aku sudah mendekat.



Aku memangku kepalanya di pahaku. Tercekat. Merinding lagi. Berkeringat lagi. Menangis lagi ketika sadar korban ini wajahnya persis Aditya, anak bosku yang wafat dua hari lalu. Bukan. Cuma mirip. Tenangkan jiwamu, Rayno...



"Kita ke rumah sakit!" Aku mengangkatnya dan hendak kubawa ke mobil. Tapi apa dikata apa dinyana. Tak kutolong mungkin ia mati. Namun kubopong beratnya kayak seribu pocong.

"Siapa namamu?"

"Aditya bin Romo."

"APPAAA?!"

"Kembalikan nyawaku...!"



Aku membuka mata mendapati diriku di dalam kamar. Bersamaku, sebuah lampu pijar yang berpendar samar. Aku sadar berada di sebuah kamar sobatku yang sabar.



Ia masuk. Sinar matanya sejuk. Perawakannya gemuk sebab ia penggemar nasi uduk.

"Kursemangat!" membaca mantra.

"Hahahaha..."



Aku segera paham maksudnya. Ia duduk di tepi kasur. Kami bercengkerama tentang apa yang membuatku semaput tadi malam. Hanyalah ia, seorang sahabat yang tak jenuh mengingatkanku supaya kembali ke jalan yang terang.



"Tadi pagi buta saya ke rumahmu."

"Tanpa izin?" aku curiga.

"Tanpa izin mencuri kunci rumah di kantongmu. Tanpa izin masuk ke rumahmu, ke kamarmu, hanya untuk mengambil ini." Ia menunjukkan sebatang flashdisk. Dahiku mengernyit, lalu mengangguk.

"Yup, di situ ada file Power Point yang belum diselesaikan buat rapat nanti siang di fPod."

"Ayo mandi. Berangkat!"

"Siap bos."

"Tunggu, Rayno. Habis subuh ke rumahmu tadi, ada tetanggamu yang meninggal."

"Siapa dia."

"Aku buru-buru. Tapi ia seorang janda."

Info darinya membuat tekanan darahku anjlok.



Aku menarik bajunya hingga ia pun terjungkal dan menindihku.

"Kamu ingin memerkosaku?"

"Aku ingin mati."

"Berapa banyak lagi yang akan menagihmu. Kamu memang setan, Rayno!"

"Ini terakhir. Janganlah arwah itu mengetuk pintu rumah ini dan menagih nyawa padaku."

"Bayar saja! Apa kamu takut mati, wahai setan pengecut!"



Aku tercenung. Jiwaku benar-benar terpasung. Di antara bulan-bulan yang menjadikanku murung. Laksana burung dalam sangkar-sangkar kabung.



"Ketut, lindungi aku..."

"Mintalah perlindungan pada Tuhanmu! Bukan aku. Bukan Lucifer. Kembalilah padaNya, Rayno..." Ia bersungut-sungut.



Malam telah menjelang. Purnama bersinar cemerlang. Beberapa punguk melintas terbang. Merintih di selembar cabang. Kabut kesunyian mengendap di antara ilalang. Begitulah irama sebait lagu malam yang menggigilkan seorang bujang. Aku masih di rumah Ketut, belum pulang.



Aku belum bisa tidur. Sementara di kamarnya, Ketut tak lupa mendengkur. Di ruang tamu, aku memilih tontonan yang menghibur. Yaitu Barclays Premier League antara Arsenal versus Tottenham Hotspur. Alih-alih menghibur, pikiranku melantur. Kabur. Hancur.



Aku spontan melompat kala lampu sekarat. Mati sendiri. Kupandang ada bayangan berkelebat. Kumatikan televisi. Lantas lampu hidup kembali.

Tok-tok-tok!

"Siapa itu?" Hening. Tiada jawaban. Diam. Mencekam. Seram.



Tok-tok-tok! Lagi. Neon mati kembali. Iseng. Usil.

"Siapa sih, kurang kerjaan banget!"

Setelahnya aku merinding lagi, mendidih lagi, berkeringat lagi.



Serta merta pintu terdobrak. Terbanting. Disertai angin dingin yang kering. Aku menutup wajahku dengan bantal sofa. Merinding lagi, mendidih lagi, berkeringat lagi, dan menangis lagi saat kuyakin dia adalah Mak Jumi, janda yang mangkat kemarin subuh.



Aku tak mampu kabur dari ruang tamu. Kaku dan beku. Tubuhku bagai ditahan ribuan paku. Aku berharap Ketut bangun dan menggendongku.

"Rayno..." Oh tidak.

"Maafkan aku, Mak Jumi. Aku telah mengutukmu jadi menderita batuk sampai merenggut nyawamu. Maafkan aku, Mak Jumi," lirihku. Aku mengintip keangkeran paras pucatnya di depan pintu.

"Kembalikan..." Kusumbat telingaku.



JEEGGAAARRRR!!!

Aku terpental mendengar ledakan bom. Dan aku masih hidup. Ternyata hantu Mak Jumi meledak. Kenapa? Bagaimana?



Di balik kepulan asap ledakan, tergambar siluet Tuan Setan. Ia tegak bersama pedang yang dihunuskan. Pedangnya ia jatuhkan ke lantai dan berubah jadi ular berkulit keemasan. Jubahnya tertiup angin dan berkibar perlahan-lahan.



Tuan Setan datang dengan kekuatannya melepaskan mala bahaya. Ia menggenapi tiap-tiap dendam yang kelam.





"Siapa yang kau sembah, wahai anak Adam?"

"Yang mulia dengan nama Tuan Setan, engkaulah yang aku sembah."



Aku bersimpuh di hadapannya. Bersujud ragaku. Bersujud jiwaku. Bersujud hatiku.

JEEEGGGGAAARRRR!!!



"Ya Tuhan! Rayno! Rayno! Kenapa kamu?!"



Jakarta, 1-5 Oktober 2011