Sabtu, 29 November 2008

61. anak STM ( suka tawuran mulu )



Dulu waktu SMP ( smp 161 ) jarak dari rumah ke sekolah dekat banget, tinggal lompat. Begitu lulus lalu mengambil Sekolah Teknik, bukan SMA, tapi SMK, khususnya teknik kelistrikan dan Tata Udara. Namanya SMKN 54 Kemayoran. Reporter Prambors pernah lho mampir ke situ.

Aku tidak mau membicarakan tentang sekolahnya, tapi cerita waktu aku jadi anak STM yang mendebarkan. Waktu itu masih pakai kendaraan umum. Sebelum BBM naik tahun 2005, tarifnya Rp 500, setelah naik jadi Rp 1000. Tapi kalau kondekturnya galak, Rp 500 gak boleh duduk harus berdiri.

Pernah naik bis bareng anak-anak BUDUT ( SMK Budi Utomo ),terus kami dicegat oleh musuh kami di Penang Bistro Pakubuwono. Hanya anak-anak Budut yang turun, kecuali aku masih tertinggal di bis. Mereka dikejar dengan menghunuskan senjata tajam dan kopel ( gesper berkepala besi). Oh Tuhan aku selamat. Inikah namanya tawuran. Sangat menjijikan. Lebih menjijikan daripada seonggok kotoran kerbau yang dihinggapi lalat bunting, bunting di luar nikah pula.

Lalu naik bis dari Senen, eh ada tas kertas di pojok kursi. Begitu aku buka isinya kacang mede matang dan kwaci beserta struk dari Pasaraya Grande bertuliskan seharga Rp 29.000. Lumayan rejeki. Dapat Rp 1000 pula , buat ongkos nih.

Eh ada pengamen matanya cuma satu. Tapi suaranya bagus banget. Begitu aku kasih dia menolak. Dia gak mau nerima dari pelajar. Kalau pengamennya bengo-bengo ( teriak teriak), aku takut. Mereka bilang, "Daripada kami nodong, mendingan kami meminta pada Anda." Aku kasih aja daripada dipalak. Pernah lho aku hampir dipalak sama dua gembel. Mana bis lagi sepi. Di kantongku ada Rp 250.000. Untung aku selamat. Mereka hanya mengobrak-abrik tas dan kantong celana depan, padahal uangnya ada di kantong belakang. Allah melindungiku. Pernah juga sih dipalak kena Rp 15.000. Sedih nich!.

Ada lho pengemis suami istri yang dua-duanya buta. Mereka dituntun oleh anaknya yang umurnya masih 10-an tahun. Mereka naik dari Senen lalu turun di Mayestik. Jadi terharu.

Sebelnya kalau naik bis pas sore hari, penumpangnya bau ketek, kecuali aku. Karena Rexona setia setiap saat. Promosi nih. Pernah aku lapar banget lalu ada penjual donat seharga Rp6000, tapi aku dicuekin. Dikira aku pelajar yang miskin. Eh gak ada yang beli. Kasihan dech!!!.

Tahu artis berinisial UA? Yang mirip Benyamin itu. Dia ketua Komite Sekolah di SMK 54. Anaknya satu sekolah denganku. Dia adalah promotor tawuran. Semua anak dipengaruhi agar tawuran. Tawurannya sama anak Tamsis, Grafica, atau Poncol. Aku pengen coba-coba tawuran, tapi takut mati.Lagian siapa yang berani tawuran. Aku aja gak pernah berantem sama teman sekelas. Paling-paling berantem kalau rebutan kerupuk sambal terasi. Itu juga waktu masih SD. Eh bener, besoknya ada yang tewas. Di lapangan ada bendera 1/2 tiang. Bukan dari sekolahku yang tewas, dari sekolah lain. Temanku hanya bocor kepalanya. Aku nyumbang deh buat biaya pengobatannya. Siapa suruh tawuran, gue yang nyumbang. Satu kelas juga nyumbang.

Mana sekolah gak ada ceweknya, membosankan. Kantinnya kurang variatif makanannya. Paling makan mie ayam pakai ganja (daun bawang). Anak STM beraninya cuma tawuran, gak berani merangkai instalasi listrik. Takut kesetrum katanya. Kalau mereka agendanya tawuran, ngegele ( ngisap ganja ), nokip ( mabuk), aku mah ngeBand aja. Padahal gak bisa main alat musik. Paling-paling tamborin ( he he he hi hi hi ha ha ha ). Nyanyi juga sih.

Kembali ke bis, maksudnya busway. Lagi promosi jadinya gratis, bolak-balik sampe puas. Giliran gak gratis gak naik lagi. Kembali ke tawuran, maksudnya pengeroyokan. Bis yang aku tumpangi berhenti di Dukuh Atas, aku duduk di depan, dua anak Budut di belakang. Tiba-tiba banyak anak sekolah menyerbu ke bis, eh dua anak Budut dikeroyok, untung bukan aku. Allah melindungiku. terima kasih Allah ( bukan terima kasih cinta ). Padahal waktu itu aku gak pernah shalat, tapi si pengeroyok dikeroyok balik sama penumpang bis. Rasain LU!.

Kalau baca koran ada anak sekolah yang tewas dikeroyok. Biasanya yang tewas anak baik-baik, mereka gak tawuran hanya nunggu bis, lalu dibacokin. Sangat memprihatinkan dan memalukan. Lebih memalukan daripada ditangkap KPK di kamar Hotel dan disuruh pake baju bertuliskan "tahanan KPK", masuk koran Tempo pula.Pernah sekali waktu aku lagi nunggu bis, tiba-tiba segerombolan anak sekolah turun dari bis. Aku tentu ketakutan, mukaku merah, keringatan, eh mereka cuma nanya," Mau ke mana?" Kujawab," ke Blok M." Mereka menjawab lagi, "Bareng yuk!" Memang mukaku itu imut-imut banget, baby face, jadi gak ada yang tega membunuhku apalagi menyakitiku khususnya pacarku.

Sudah ah capek nih ngetiknya, soalnya masih banyak pengalaman selama 3 tahun menjadi anak STM yang mendebarkan yang tak cukup hanya ditulis di blog ini.

Sabtu, 22 November 2008

60. Sibuk


Lagi gak sempat nulis di BLOG nich!

Banyak kerjaan

Mungkin nanti akhir tahun bisa cerita-cerita liburannya

Tapi bikin pantun dulu yuk

jalan jalan ke pasar kamis
pengen beli mangga muda
kirain masih gadis
ternyata udah janda

jangan banyak banyak makan sekoteng
nanti sakit perut
emang gue ganteng
tapi sering kentut

kuku cewe gue lentik lentik
seperti kuku kucing
dia sih cantik
mirip novia kolojenking ( kolopaking)

Selasa, 11 November 2008

59. Tertawa



Luise Rinser, pengarang wanita yang banyak menulis tentang pengalaman relijius, pernah ketemu dengan Dalai Lama. Rinser, sangat terkesan dengan tokoh spiritual Tibet yang kini dalam pengasingan. Apa yang membuat ia terkesan akan Dalai Lama? Tertawanya!. Tawa Dalai Lama itu demikian lepas dan bebas.

Tawa itu tampaknya demikian penting dalam hidup Rinser. Dalam penutup roman terakhirnya, Aeterna, ia menulis , segala kegelisahan dan pertanyaan manusia akhirnya hanya dapat diatasi dengan tertawa. Tertawa itu membebaskan. Tertawa itu tanda dari kemerdekaan terhadap segala belenggu dan kebijaksanaan manusia yang pasrah dan menyerah.

Rinser mengajak kita untuk belajar tertawa. Sesungguhnya kita dapat menertawakan apa saja : kegelisahan, keraguan, dan problem hidup kita. Tak ada problem hidup yang akan berlangsung selamanya. Dan kita dapat mengatasi problem itu jika kita mau tertawa bersamanya.

Namun, mengapa kita jarang tertawa? Mungkin kita terlalu menganggap diri kita penting, dan hidup kita demikian serius. Kita hanya terpaku pada tugas dan tujuan hidup kita. Kita hanya mengenal kerja dan kuliah. Di luar itu, kita tidak mengenal apa pun jua. Hal ini membuat hidup kita sumpek dan jenuh, sedih, serta muram. Kita kehilangan kegembiraan dan keceriaan.

Maka dari itu kita perlu tertawa. Bila kita bisa tertawa, justru ketika kita dilanda oleh masalah yang berat, kita akan mengakui, betapa tertawa itu membebaskan. Pada saat itu pula kita tahu, bahwa tertawa itu rahmat. Memang hanya karena rahmat tertawa itu kita bisa bergembira dan bersyukur terhadap apa saja yang diberikan Tuhan pada kita, suka maupun duka.

Sabtu, 08 November 2008

58. alam kubur


هتاكربو ﷲا ةمحرو مكيلع مﻼسلا /> > Salam sejahtera > > > > Kubur itu gelap , cahayanya ialah Laa Ilaaha illAlLah . > > Jika diletakkan langit dan bumi di sebelah dacing, > > dan kalimah ini di sebelah yang satu lagi, > > pasti lebih berat lagi nilai kalimah ' Laa ilaaha> > illAlLah ' ini . > > > > Rasulullah saw. bersabda ( mafhumnya ): > > ' Wahai manusia ! Ucaplah ' Laa ilaahaillalLah'> > , kamu pasti berjaya!' > > Marilah kita ucapkan kalimah ini : ' Laa ilaaha> > illallah !' x 10 > > > > Setelah ucapkannya sebanyak 10 kali, > > fowardkan email ini kepada sekurang - kurangnya 10 orang> > rakan-rakan anda . > > Bayangkan betapa besarnya pahala yang Allah sediakan, > > hanya untuk usaha kita yang sedikit ini > > Laa ilaaha illalLah ! > > > > Sekian terima kasih > > Wassalam.