Sabtu, 20 Maret 2010

103. Masturbasi


pikiranku melayang-layang ke negeri zirbad, negeri bawah angin
rongga badanku dijilati oleh api syahwat
api yang mula-mula dingin, kini hangat, panas, dan membakar
menyublimkan helai per helai pakaianku
aku pun masturbasi, dengan sabun balita yang lembut
Ibunya protes, "Kau memakai sabun keponakanmu?"
"Nggak sih. Mungkin dijilat-jilat oleh Tika (tikus kampung)," dustaku.

tatkala malam merengkuhi bumi, tak ada yang rebahan di dada bidangku yang bertato Mickey Mouse ini
dingin, membeku, membatu, berlumut ganggang hijau
bercumbu dengan bantal gulingku
berpelukan dengan senyap gulita
bersetubuh dengan mimpi-mimpi murahanku
dan tiap malam kudonorkan darahku untuk utusan PMI
"Darah muda darahnya para remaja./Yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah./Masa muda masa yang berapi-api./Yang maunya menang sendiri, walau salah tak peduli...."

malam yang berkabut itu, kucoli ria, khas seorang bujang lapuk dan duda karat yang takut berzina
"Hari hari bilangnya ke kantor, padahal bobo bobo siang, bobo bobo siang...."
dan kukocok pelan-pelan laksana mengocok telur moa
pejamkanlah mata
nikmatilah
mendesahlah, ah...
yeah, sebentar lagi ejakulasi, tanpa polispermi
OH...!!! orgasme primer!
kukocok kencang-kencang bak mengocok telur brontosaurus
menyemburlah lahar-lahar kegelisahan
dari magma-magma membara yang meronta-ronta di inti bumi
bagai kegelisahan seorang janda yang hanya menikah sembilan hari
sebab suaminya tewas diseruduk banteng
"Mengapa terjadi kepada dirimu./Aku tak percaya kau telah tiada./Haruskah kupergi, tinggalkan dunia, agar aku dapat berjumpa denganmu...."


Tok-tok-tok!
"Kau mandi lama banget!" kakakku teriak.
"Iya, sudah. Dasar pengganggu!" ketusku.

Minggu, 07 Maret 2010

102. Main "Panas"


Seorang bapak tega-teganya bermain "panas" dengan anak gadisnya yang masih berusia 10 tahun. Jangan menyangka bahwa permainan ini adalah inisiatif dari si bapak. Anaknyalah yang merengek dan merayu agar si bapak mau melakukannya. Tadinya si bapak malas melayani anaknya, tapi berhubung si istri sedang merantau di Hong Kong sebagai TKI, inilah kesempatannya. Lagi pula, si anak tak keberatan apabila harus berkeringat bersama bapaknya yang ganteng itu (mirip Primus--pria mulus--anggota DPR).

Dengan penuh gairah, akhirnya si bapak mengajak putri semata wayangnya untuk bermain layang-layang. Karena mainnya siang bolong, mereka kepanasan dan berkeringat. Yang semakin bikin berkeringat adalah layang-layangnya menyangkut di antena TV rumah pak RT. Begitu si anak menariknya, alhasil tiang bambu penyangga antenanya malah patah! Aduh, biung, mana si bapak sudah lima bulan belum bayar iuran hansip. Sontoloyo!