Jumat, 16 Januari 2009

64. andai masjid berbicara


aku adalah masjid
ingin mengungkapkan rasa padamu
dalam bentuk syair elegi yang kusut

di sini tertinggal jejak telapak yang bernoda
terlukis sidik jari di pemutar kran
sisa-sisa kejayaan hari Jumat
hari di mana lambungku kenyang oleh umat manusia
mimbar-mimbar tak membisu lagi

sayang sekali hari ini saat gerhana bulan Muharram
aku kehilangan pamor, tidak populis
aku menjadi gelap terarsir bayangan umbra

semua jemaah kocar-kacir lari terbirit-birit dikejar mimpi dunia
menjauh dan berenang dalam orbit gugusan asteroid
padahal azanku berteriak-teriak bagai kaset bajakan
namun gendang telinga mereka gaduh
berdentang lonceng metropolitan yang bising tanpa interval
dengan irama sumbang dari nafsu liar yang menggonggong dan merengek-rengek minta berzina
musik-musik duniawi seakan menggempur azanku
azan dari corong mulutku yang berkarat

andai aku bisa bicara utuh
aku akan gembira saat Ramadhan tiba
melihat mereka menungging di karpet apek
bibir yang komat-kamit bagai dukun beranak
serta ingus dan air mata mereka yang asin menetes-netes

kau juga sadar bahwa aku kesepian lagi
tak sesemarak konser penyanyi dari seberang Pasifik
tak sepenuh kursi bioskop kelas velvet yang memutar film blockbuster
jumlah jemaahnya pun tak sebanyak bilangan temanmu di Facebook


setelah kau mengunjungiku
kau pergi dengan roda mobilmu yang menggulung aspal retak dan berlubang
aku merana lagi, dan menyanyi di sini
laguku lebih merana dibanding grup musik cengeng yang liriknya penuh keputus-asaan
aku dan grup itu terus saja bernyanyi
dan menggaruk-garuk tanah latreit yang tandus
persis Michael Jackson (video What About Us) yang menggaruk tanah karena merana oleh bumi yang kian krisis

organ-oraganku pun begitu
kusen-kusen jendelaku telah dijadikan persalinan kecoa bunting
daun-daun pintuku yang tak kau sentuh telah bersarang oleh laba-laba berbentuk sarang segi tigabelas

apakah semangat imanmu layu?
selayu bunga monokotil biru yang hendak rontok tersedot gravitasi
ayo bangunlah, kau adalah pasak betonku
yang mampu menguatkanku dan menyelamatkanku
agar Allah tak langsung turun tangan
turun tangan menyelamatkanku dari tsunami akbar di serambi mekah
menyelamatkanku saat gempa bumi di negeri Turki

kunjungilah aku, sebatang teman yang kara dan terlupakan

Kamis, 15 Januari 2009

63. malam sepi



walau malam sepi
tapi aku tidak kesepian
walau malam dingin
aku merasa hangat

Tuhan jauh
tapi kaki-Nya ada di sajadah subuh
burung berkicau cerewet sekali

mereka menyuruhku berubah
aku tak bisa berubah
tapi berubah adalah sebuah kepastian

nanti akan berubah
bersama mentari senja yang jingga
namun ia sudah karam di bibir ufuk