Kamis, 10 Maret 2016

190. Siapa Aku? Aku Adalah...

Walau telat tayang enam minggu dari bioskop Amerika, riwayat Kung Fu Panda tetap memancing animo masyarakat Indonesia. Kung Fu Panda 3 telah genap sebagai trilogi utuh dengan cerita yang makin solid meski tiada yang benar-benar baru dari film yang disutradarai duo Jennifer Yuh Nelson dan Alessandro Carloni ini.

Kai (J.K. Simmons), prajurit dan pengumpul energi chi makhluk hidup bertarung dengan Master Oogway (Randall Duk Kim) di alam roh. Oogway terkalahkan.

Sementara di Pedepokan Jade, Master Shifu (Dustin Hoffman) memutuskan agar Po (Jack Black) untuk turun gunung, mengajar di perguruannya. Namun Po menolak karena dia merasa tidak punya kapabilitas dan kecakapan sebagai guru. Pertanyaan retoris masih dilontarkan di instalasi ketiga ini: siapa aku? Tentu pertanyaan itu tidak bisa dijawab dalam semalam. Apalagi ada panda lain yang masih tersisa, ayah biologis Po, Li Shan (Bryan Cranston) berkunjung ke resto ayah angkat Po. Sekalipun napas film ini komedi, rasanya ada yang mengganjal saat pertemuan ayah-anak. Terlalu komikal. Tanpa melankolia sedikit pun. Mungkin karena Po dan Li Shan tak punya ikatan emosional yang kuat di mana Po sudah dirawat oleh Mr. Ping (James Hong) sejak bayi.

Kai yang kabur ke dunia fisik membuat kekacauan di Lembah. Semua chi master kung fu dari berbagai wilayah ia curi, termasuk Monkey (Jackie Chan), Viper (Lucy Liu), Mantis (Seth Rogen), Crane (David Cross), terkecuali Tiggres (Angelina Jolie) yang menyusul Po ke kampung panda untuk memperingatkan bahaya yang akan terjadi.

Sebagai antagonis berperawakan kerbau dan banteng, Kai, kurang meyakinkan kesangarannya dibanding Lord Shen si merak lalim dalam Kung Fu Panda 2. Dirinya juga dijadikan unsur komedi yang tidak perlu sebenarnya. Kai ingin merebut chi Po si Ksatria Naga, sementara Po tidak tahu bagaimana mengeluarkan chi untuk melawan balik Kai. Keluarga Pandanya pun sudah tidak tahu lagi bagaimana melakukannya. Tapi nasihat dari Master Shifu kembali terngiang: aku takkan mengubah dirimu menjadi orang lain, kau adalah kau. Dari situlah Po dapat petunjuk untuk mengalahkan Kai.

Kung Fu Panda 3 sesak oleh unsur lawakan yang universal dan pecah. Juga pesan yang klasik. Sebuah sekuel yang matang dan mengharukan khususnya saat Po diselamatkan oleh orang-orang tersayangnya tatkala terjebak di dunia roh bersama Kai. Sepertinya bagian pertarungan terakhir itu perlu dipoles dengan suntingan suara yang grande tapi sang penata suara malas orangnya.

Trilogi Kung Fu Panda ibarat piramida utuh dengan puncaknya yang tangguh tanpa perlu bangunan tambahan berupa sekuel yang berpotensi merobohkan bangunan.

Selasa, 08 Maret 2016

189. Gadis Yang Mengakhiri Permainan

Membuat film yang minimalis memang susah-susah gampang. Di sisi lain banyak partikel-partikel yang perlu dibuang, di sisi lain perlu memberi kebersahajaan demi gaya film tersebut, seperti pada Final Girl (2015)

Gadis kecil tanpa latar belakang yang terang diwawancarai seorang pria.
"Ayah Ibumu meninggal, apa perasaanmu?"
"Biasa saja, semua orang mengalami itu."

Tanpa motivasi yang benderang (sebuah partikel yang tercampakkan), William (Wes Bentley) berencana melatih gadis itu, Veronica (Gracyn Shinyei). Ketika besar, Veronica (Abigail Breslin) punya misi membasmi empat lelaki berandalan yang hobi memburu dan membunuh puluhan gadis muda. Yaitu Jameson (Alexander Ludwig), Shane (Cameron Bright), Nelson (Reece Thompson), dan Daniel (Logan Huffman).

Singkat cerita, Veronica mengorbankan diri sebagai target para lelaki bandit yang suka pakai tuksedo ke hutan untuk membunuh para cewek. Veronica yang dalam dialog William telah dilatih satu dasawarsa lebih dua tahun untuk menjadi jagoan mesti menghadapi keempat lelaki, terutama sang alfa, Jameson, yang lebih tangguh.

Sudut kamera dan sinematografi secara keseluruhan sangat indah mendukung kosmetika cerita film. Namun penokohan Veronica yang seharusnya penonton bersimpatik kepadanya terasa hambar. Karakternya hanya satu dimensi: pembalas dendam bagi 20 cewek yang mati sia-sia di tangan empat cowok berandal. Lalu hubungan dengan sang pelatih, William, juga tidak berkembang. Ada partikel sampah yang mesti dibuang di sini: Veronica sudah terlatih membunuh dan membela diri selama 12 tahun lalu untuk apa dia menjebak ketiga cowok, kecuali Jameson, untuk minum alkohol bercampur cairan DNT yang bikin si cowok berhalusinasi sehingga mudah dikalahkan oleh Veronica? Kita analogikan, kamu sudah berlatih berenang 12 tahun lalu ketika kapal yang kamu naiki karam di pantai (kayak Rafelia), kamu masih pakai pelampung.

Juga gaya bela diri Veronica terasa kikuk. Dan apa motivasi William melakukan ini semua, apa dia anggota FBI yang mengincar keempat cowok jahanam itu. Oh, come on, banyak potensi dari skrip yang sebetulnya bisa menarik tapi tersisih. Tapi saya punya sanggahan, ini hanya film yang sifatnya kurang ajar dengan dunianya sendiri. Jika kamu berpikir begitu, oh amboi betapa Final Girl begitu molek, minimalis, dan stylish, walau kurang garang aja aksi fight-nya.