Selasa, 29 September 2009

89. Keabadian Penduduk Surga




Pertanyaan
Apakah orang-orang yang berbuat baik akan kekal dalam surganya Allah, atau kelak akan dipindahkan ke mana untuk tidak menyamai kekekalan Allah itu sendiri?

Jawaban

Salah satu informasi yang menjelaskan keabadian penduduk surga dan neraka bisa ditemukan pada QS.al Bayyinah {98}:6-8. Para ahli tafsir, semisal al-Thabari (Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an jilid 15, hal.92-293), al-Maraghi (Tafsir al-Maraghi, jilid 10, hal.216), dan Buya Hamka (Tafsir al-Azhar, jilid 10, hal.8080), memiliki penjabaran yang sama mengenai kekekalan kehidupan di surga dan neraka, kehidupan yang diredaksikan dengan anak kalimat "khalidina fiha abadan", yaitu kekal selama-lamanya, tidak pernah keluar dari surga dan neraka, dan tidak pernah merasakan mati di dalamnya.

Al-Thabari (Jami al Bayan 'an Ta'wil Ay al-Quran, jilid 7, hal .136) ketika membahas QS. al Bayyinah {98): 6-8, memberi penjelasan tentang kata abadan yang diletakkan sesudah anak kalimat khalidina fiha. Menurut al-Thabari, orang Arab biasa menggunakan kata abadan untuk menggambarkan lamanya suatu masa, melukiskan keabadian suatu hal yang paling lama tapi ada batas akhirnya, dan bukan keabadian tanpa akhir. Kekekalan selain Allah SWT ada batasnya. Kekekalan kehidupan di surga dan neraka pun ada batas akhirnya, yakni berlangsung sepanjang keberadaan langit dan bumi (QS. Huda {11}: 106-108). Ternyata di akhirat juga ada langit dan bumi. Tapi seperti apa langit dan bumi di akhirat kelak, ada baiknya kita memerhatikan catatan yang diberikan oleh Maraghi ketika mengakhiri uraian tentang ketiga ayat dalam QS.al Bayyinah {98}: 6-8. Al Maraghi memberi catatan bahwa umat Islam sekadar dituntut untuk memercayai eksistensi surga dan neraka, tanpa dituntut untuk memercayai hakikat dan di mana letak surga dan neraka, pun tak dituntut untuk mengetahui batas akhir keabadian para penghuninya dan lain sebagainya. Al-Maraghi berargumen bahwa hakikat surga dan neraka, di mana letak surga dan neraka, seperti apa keabadiannya , dan lain sebagainya , termasuk perihal gaib yang hanya Allah SWT saja yang mengetahuinya.

Catatan al-Maraghi ini seirama dengan QS. al Jin {72}: 26-27 yang menguraikan bahwa hanya Allah yang mengetahui perihal gaib. Sebab itu, keyakinan terhadap adanya kehidupan yang kekal di surga dan neraka harus diletakkan dalam konteks kalimat "laysa kamitslihi syay'un" (QS.asy Syura {42}: 11). Ada keabadian di akhirat, namun keabadian yang ada batas akhirnya, dan bukan keabadian yang sama dengan Allah SWT.

Wa Allah a'lam bi al-shawab

Sabtu, 26 September 2009

88. Meraih Mimpi



Rabu kemarin (23/9) gue, keponakan, dan kakak, nonton di 21, yaitu Meraih Mimpi. Ini kali pertama bagi keponakan gue, Melisa, untuk nonton di bioskop, termasuk bagi ibunya. Dan ini kali pertama bagi gue untuk menginjakkan kaki di Blok M Square, tempat di mana 21 berada. Kami hanya bayar dua tiket. Sebab Melisa masih 3 tahun 11 bulan, nyaris 4 tahun, usia kena HTM. Di dalam bioskop, Melisa seperti amazing. Dari yang pertama kali melihat layar yang besar, sebelumnya ia menyebut TV, hingga kaget saat audio bioskop menggelegar.

Meraih Mimpi (atau Sing to the Dawn,untuk judul versi internasional), sebuah animasi musikal produksi Indonesia. Secara teknis gambar, jangan dibandingkan dengan PIXAR atau Dreamworks. Animator Indonesia masih dalam tahap belajar. Misal, motion atau gerakan karakter masih kaku, kurang halus. Namun, film ini Nusantara banget. Contoh, ada karakter hewan yang beraksen Melayu (karakter Kakatua, disuarakan Cut Mini), ada hewan yang beraksen Tegal, dan aksen-aksen lainnya. Si tokoh sentral, Dana (Gita Gutawa), bersenandung dengan sangat merdu, dan melengking. Karakater-karakter manusia digambarkan menggunakan sandal jepit karet, khas Indonesia. Seperti saya, yang selalu pakai sandal jepit jika shalat di masjid. Tapi kini tidak. Sering hilang! Namun saya agak kecewa, karena ceritanya tidak lucu. Saya lupa, kalau tidak semua film animasi harus komedi. Kecuali rangkaian Ice Age dan Kung Fu Panda.

Melihat kondisi Blok M, saya jadi pangling. Sudah bersih dan tertib. Tak ada lagi PKL. Wah, malah kesan Blok M jadi hilang dalam memori-memori romantisme saya.

Senin, 21 September 2009

87. Hari tanpa Kemenangan


Hari ini sendirian di rumah, keluargaku sedang rekreasi. Kemarin gak shalat Id, kesiangan. Angpao "hanya" dapat Rp.100.000,- huh.... Lalu apa yang gue harapkan di akhir Ramadhan, tak sesuai dengan kenyataan. Mungkin nanti masih ada waktu. Nanti. Terima kasih buat kawan-kawan di facebook yang mengucapin selamat ulang tahun 14 September lalu. Walau punya akun facebook gak banyak manfaatnya.

Diare, nih. Rendang dagingnya pedas banget. Bosan makan daging mulu, pengen makan tempe goreng. Pokoknya seperti hari tanpa kemenangan. Apa hanya kemenangan yang tertunda.

Senin, 14 September 2009

86. Usia Berkurang


Hari ini aku ulang tahun yang ke-22. Wow, 22, aku belum siap menyambut angka itu. Yang mana kelakuanku masih kayak anak kecil. Gampang marah. Gampang tersinggung. Umur segini, belum juga bisa membahagiakan orang tua. Memberi cucu, misalnya. Kawin dulu, bos.... Sama siapa? Janda? Gile.... Kebanyakan sih teman-teman gue pada rencana nikah. Hmmm, biarlah itu jalan hidup mereka.

Tadi gue dibelikan kebab. Pedas, bos. Paling enak juga combro pakai cabe rawit. Aku selalu berharap agar Allah mengabulkan doaku, saat usiaku berkurang ini. Senantiasa melindungiku supaya tak terjerumus dalam jurang kemaksiatan. Amin. Ci ye...sok alim. Sudahlah begini saja sambutan-sambutannya. Malah seperti sambitan dari langit.

Jumat, 11 September 2009

85. Senjataku


nafasku terendam dalam kubangan zaman
zaman di tepi penghabisan
poranda, lantah, musnah oleh yang mereka ciptakan sendiri
lalu, aku?
kumerangkak di atas jembatan takdir
goyah...getir... menyiksa, namun romantis
kupamerkan jajaran remuk gigiku
tersenyum, walau tak selayaknya tersenyum
aku masih bisa tersenyum

Kautunjukkan padaku, suka, duka, dan rasa di antaranya
Kautunjukkan padaku, benar, salah, namun tidak yang di antaranya

kupegang tali keyakinan
kutapaki padang keihklasan
dan dengan senjataku (doa), kulumpuhkan buruknya takdirku
hingga kuterjungkal karam di lautan hikmah


Sudarmanto s