Sabtu, 26 September 2009

88. Meraih Mimpi



Rabu kemarin (23/9) gue, keponakan, dan kakak, nonton di 21, yaitu Meraih Mimpi. Ini kali pertama bagi keponakan gue, Melisa, untuk nonton di bioskop, termasuk bagi ibunya. Dan ini kali pertama bagi gue untuk menginjakkan kaki di Blok M Square, tempat di mana 21 berada. Kami hanya bayar dua tiket. Sebab Melisa masih 3 tahun 11 bulan, nyaris 4 tahun, usia kena HTM. Di dalam bioskop, Melisa seperti amazing. Dari yang pertama kali melihat layar yang besar, sebelumnya ia menyebut TV, hingga kaget saat audio bioskop menggelegar.

Meraih Mimpi (atau Sing to the Dawn,untuk judul versi internasional), sebuah animasi musikal produksi Indonesia. Secara teknis gambar, jangan dibandingkan dengan PIXAR atau Dreamworks. Animator Indonesia masih dalam tahap belajar. Misal, motion atau gerakan karakter masih kaku, kurang halus. Namun, film ini Nusantara banget. Contoh, ada karakter hewan yang beraksen Melayu (karakter Kakatua, disuarakan Cut Mini), ada hewan yang beraksen Tegal, dan aksen-aksen lainnya. Si tokoh sentral, Dana (Gita Gutawa), bersenandung dengan sangat merdu, dan melengking. Karakater-karakter manusia digambarkan menggunakan sandal jepit karet, khas Indonesia. Seperti saya, yang selalu pakai sandal jepit jika shalat di masjid. Tapi kini tidak. Sering hilang! Namun saya agak kecewa, karena ceritanya tidak lucu. Saya lupa, kalau tidak semua film animasi harus komedi. Kecuali rangkaian Ice Age dan Kung Fu Panda.

Melihat kondisi Blok M, saya jadi pangling. Sudah bersih dan tertib. Tak ada lagi PKL. Wah, malah kesan Blok M jadi hilang dalam memori-memori romantisme saya.

Tidak ada komentar: