Rabu, 20 Januari 2010

100. Siluman Monyet Putih




Azan mendesah-desah di kolong langit yang redup. Para malaikat terjun ke bumi seraya disinari bintang zohrat yang bertengger di kaki langit timur. Karena saya bernajis, maka kutuju kamar mandi untuk mandi junub. Di paruh waktu, terdengar suara "HEY!". Saya kaget, dan celingak-celinguk sambil bergumam, "Siapa yang manggil gue? Kayaknya nggak ada siapa-siapa, dech?" Langsung saya berwudu. Merinding! Dan peristiwa subuh horor juga pernah dialami tetanggaku, Pak Emen. Ketika dia berwudu, dia dikencingi genderuwo dari atap mushola. Termasuk imam mushola, Pak Azis, yang dia ditertawai kuntilanak di jendela mushola saat baca al-Qur'an.

Pada ujung malam, kakakku kesulitan buka pintu WC. Begitu didobrak, alhasil ada sosok hantu bermata besar yang jongkok di balik daun pintu. Sontak ia menjerit dan lari pontang-panting. Lalu, masih eksiskah setan atau hantu di era informatika ini? Mari kita kilas balik ke lingkungan rumahku yang dulu, sebelum saya pindah ke alamat baru.

KISAH LINGKUNGAN RUMAH LAMA (1994-2006)

Lingkungan di situ terdapat hamparan tanah gambut yang asam. Ditumbuhi tanaman berduri dan pohon rengas, serta menjadi habitat dari biawak dan bangau. Di rawa-rawa inilah keangkeran bersumber, yakni berupa suara-suara gaib. Manakala lolongan serigala dan rintihan pungguk terdengar, maka saya (saat itu 12 tahun) mendengar semacam suara gamelan jawa yang menghentak dari genteng kamarku. Genteng seakan-akan dilempari pasir dan dihujani tengkorak yang menggelinding. Dua kali saya mengalaminya. Bagi tetanggaku yang matanya rabun, mereka sanggup melihat monyet bergelantungan di pohon rengas. Sedangkan saya dan yang lainnya yang bermata normal, malah tak awas. Kami menjuliknya "Siluman Monyet Putih". Jangan-jangan saudaranya Siluman Ular Putih.

Kompleks rumah kami dihubungkan oleh gang kecil untuk akses ke jalan tipe III c. Gang kecil ini terbentuk dari deretan punggung rumah. Di sinilah kerapkali kami diteror oleh setan. Begini singkat ceritanya. Tetanggaku kala malam melintasinya, lalu dicegat oleh ular yang mahagendut. Kemudian di kala hujan merintik, ibuku dikejutkan oleh setan yang kerdil. Lantas ia pun memilih jalur lain, yang mana itu lebih panjang tiga puluh kali lipat. Termasuk aku dan kawan-kawan seusia SMP, yang ditakuti oleh makhluk bertubuh besar yang menyempil di barisan kami. Spontan kami tunggang-langgang dan tersandung-sandung. Inilah yang klimaks. Tetanggaku dikerjai oleh dua setan sekaligus. Pertama, ia berjumpa dengan hantu nenek bejubah hitam, yang menyapa, "Pak, takut denganku ya? Hi-hi-hi...." Seketika dia pun berjalan seribu langkah. Namun, baru menghabisi lima ratus langkah, ia dikagetkan lagi oleh hantu pria berbusana SMA. "Kenapa Pak, koq jalannya cepat-cepat?" tanya setan itu, yang diduga arwah dari pelajar SMA yang dikebumikan di makam wakaf sebab OD drugs.

Semasa SMK, saya berangkat via makam Tanah Kusir pada pukul 5.15. Suatu pagi yang buta, saya ada barengannya. Dia sekira sepuluh langkah di depan saya dan dia berbusana gamis. Dia lalu naik metro mini dan saya menyusul. Tapi begitu bokongku menyentuh bangku dan mataku menjelajah ke pelosok bus, aku tak lihat pria bergamis itu lho. Ternyata gue berangkat sekolah bareng dedemit. IH...TAQYUUUUUUUUT BO! Esoknya saya berangkat pukul 5.45.

Waduh, padahal ceritanya masih banyak banget. Kalau diceritakan semua, bisa dua puluh alinea. Yang mengetik capek, yang baca juga malas. Dan, hati-hati, nanti malam kalau Anda mau ke kamar mandi. Ada apa tuch di balik daun pintu...?

Dari catatan NAFSU SELIAR-LIARNYA (27/6/2009) dan HUJAN HURUF (2/1/2010)

Jumat, 08 Januari 2010

99. Syukur Berjamaah


Terima kasih Allah. Aku bisa dengan leluasa menghirup oksigen, walau sering bengek kalau malam hari, kebanyakan merokok. Di Rumah Sakit Omni Internasional ada yang terserang asma akut hingga harus dirawat inap. Alhamdulillah, saya tak punya asma. Saya berjanji akan berhenti merokok.

Terima kasih Allah. Penyakitku hanya sama. Ada saudaraku di RS Kanker Dharmais yang menderita kanker paru-paru, dan bersusah payh menganyam harapan untuk sembuh. Alhamdulillah, saya hanya asma.

Terima kasih Allah. Engkau telah memberikanku kanker. Betapa nikmatnya memiliki paru yang sehat justru ketika aku lagi sakit. Terima kasih atas paru pinjamanMu. Alhamdulillah, saya masih berharap untuk sembuh.

Terima kasih Allah. Mataku masih normal (emetrop), meski seringkali mengintip mbak pembantu yang tengah mandi dan kerap memelototi situs porno. Karena banyak kawanku yang matanya rabun, seperti miopi, hipermetropi, presbiopi, dan hemosralopi, juga kelainan mata astigmatisma. Mereka harus memasang kaca mata agar dapat dengan jelas memandang obyek. Mulai hari ini saya akan lebih banyak melahap sayur mayur daripada ayam goreng sang kolonel yang berkaca mata itu.

Terima kasih Allah. Mataku hanya rabun. Saya sanggup menyaksikan panorama langit dan bumi, walau mesti memasang lensa ganda agar obyeknya jelas. Sebab masih ada hambaMu tercinta yang tunanetra/kebutaan, dan low vision. Alhamdulillah, mataku hanya rabun.

Terima kasih Allah. Hanya mataku yang buta, sedangkan seluruh anggota tubuhku berfungsi normal. Imanku pun semoga tak ikut-ikutan buta. Kalau aku sampai putus asa, aku tentu malu pada seekor kelelawar yang bisa pecicilan terbang ke sana kemari dalam kegelapan. Apabila bunyi ultrasoik keluar dari tubuh kelelawar, maka jiwa ultraman yang gagah berani akan keluar dari diriku. Dan tak lupa minum ultramilk dulu supaya sehat, ha-ha-ha, iklan nich.

Terima kasih Allah. HambaMu ini masih punya penghasilan, meski sering mengeluh tidak cukup. Di seberang sana ada banyak penganggur terdidik. Alhamdulillah, atas kucuran rezeki dariMu. Saya akan bersedekah lebih banyak, sebelum disedekahi oleh Dompet Dhuafa.

Terima kasih Allah. Saya jadi penganggur, bisa istirahat sementara. Saya akan berwirausaha secepatnya. Seekor cacing pun bisa hidup, beranak pinak, dan badannya gendut-gendut, tapi menjijikan. Padahal invertebrata yang satu ini tak punya tangan dan kaki, bahkan hermafrodit seperti bekicot. Kalaupun cacing dapat rezeki dariMu, kenapa saya tidak? Bukankah akulah makhlukMu yang paling paripurna di jagat ini?

Terima kasih Allah. Saya memiliki mobil yang butut. Lumayan bisa kebut-kebutan, brum...brum...brum....Eh, besok masuk bengkel lagi. Alhamdulillah, saya punya mobil, tetanggaku hanya punya motor yang suka mogok. Mulai hari ini saya nggak akan kebut-kebutan lagi ah....

Terima kasih Allah. Aku mampu berangkat kerja dengan motor, walaupun sering mogok. Bosku malahan ke kantor naik sepeda. Ih...cape dech, bo.

Terima kasih Allah. Thanks banget. Lha wong harga sepedaku lebih mahal koq dibanding motor merek Kawoskaki Ninja. Sepedaku itu mereknya Ya-Mahal. Alhamdulillah, saya bisa menggenjot sepeda, sekalian olah raga, plus bebas polusi.

Terima kasih Allah. Biarpun saya tak punya kendaraan pribadi, namun saya masih memiliki kaki yang sanggup diayunkan ke mana pun, termasuk ke tempat maksiat sekalipun. Karena ada kerabatku yang kakinya lumpuh dan terduduk di kursi roda. Saya berjanji takkan ke tempat maksiat lagi.

Terima kasih Allah. Kakiku masih utuh, meski keduanya lumpuh. Yang penting semangatku tak lumpuh, juga roda keuanganku yang tak pernah lumpuh. Alhamdulillah.

Terima kasih Allah. Saya memiliki seorang istri yang bawel banget. Saya baru pulang kerja, ia sudah nyerocos kalau dana belanjanya kurang. Cerewetnya persis Nenek Lampir yang turun dari Gunung Merapi yang baru meletus. Beruntung saya beristrikan seorang yang cerewet. Banyak rekan kerjaku yang tak punya istri. Bukan karena istrinya digondol oleh pria lain yang lebih tampan dan tajir, tapi ya...memang mereka belum menemukan jodohnya hingga usianya nyaris senja, bahkan usia malam. Alhamdulillah, saya akan lebih mencintainya, dan berjanji tak selingkuh (lagi).

Terima kasih Allah. Saya belum/tak punya pasangan hidup. I'm single and very happy. Jika bidadara/bidadari mengetuk pintu ruamahku, maka akan kuhancurkan seluruh dinding rumahku. Alhamdulillah, masih terlalu banyak nikmatMu yang alpa untuk kusyukuri.

Dari gabungan dua catatan yang sudah diedit dari aslinya. Catatan "Bertelanjang Dada, Berbaju Takwa", tertanggal 23 Juli 2009; dan catatan "Bidadara di Kota Abu-abu", tertanggal 6 Januari 2010.