Rabu, 21 Januari 2015

157. Antara Cinta, Tuhan, dan Remote IFO

Ada pepatah Yahudi begini: “Saat manusia berpikir, maka Tuhan tertawa.” Tuhan benar-benar tertawa saat menyaksikan alien-humanoid yang mencariNya di mana-mana dan dengan segala cara. Tentu cara berpikir alien (dipanggil PK atau pemabuk) yang entah dari planet mana itu sangat lugu dan kritis.

PK

Pemeran: Aamir Khan, Anushka Sharma, Sushant Singh Rajput, Boman Irani, Saurabh Shukla, Sanjay Dutt.


Musik: Shantanu Moitra, Atul Raninga.

Skenario: Abhijat Joshi, Rajkumar Hirani.

Sutradara: Rajkumar Hirani.

Sintografi:  C.K., Muraleedharan.


Produksi/distribusi: Vinod Chopra Films, Rajkumar Hirani Films, UTV Motion Pictures.

PK (Aamir Khan) mencari remote UFO-nya (sebenarnya IFO-identified) yang dicuri orang dan dijual ke pemuka agama Hindu di Delhi atau dijuluki Yang Mulia/Godman (Saurabh Shukla). Pencarian remote hanyalah semacam asosiasi dari ambisi dan harapan kebanyakan manusia dan keprasahan akan Tuhan. Tapi tidak dengan PK--alien ateis--dia mencari Tuhan di banyak agama; Hindu, Budha, Kristen, dan Islam (mengingatkan kita pada tokoh Pi dalam Life of Pi). Misal dia membeli patung Siwa (atau Khrisna?) lalu berdoa padaNya karena dia lapar maka dalam dua detik seorang ibu memberinya pisang dan dia girang alang kepalang. Dia yakin Tuhan ada karena mengabulkan doanya. Namun saat meminta remote supaya IFO-nya bisa menjemputnya malah tak dikabulkan. Sangsilah dia. Maka dia ke gereja, diusir. Ke masjid, dikejar-kejar.

Termasuk wartawan/anchorwoman bernama Jaggu (Anushka Sharma) bersama bosnya yang ingin menaikkan rating di tv mereka bekerja. Jaggu percaya-nggak-percaya pada kisah yang dibeberkan oleh PK sampai dia punya ide untuk menjadikan PK sebagai narasumber liputan. Liputan yang bermula dari kekritisan PK pada Yang Mulia ini berbuntut pada debat akhir yang sangat emosional dan klimaks.

Film retorik ini lumayan menyentil bagaimana attitude hidup dan kehidupan beragama sebagian dari kita. Fanatisme sempit. Banalitas atas nama kebenaran. Bahkan syahwat (sok) berjihad.

Kata PK pada Yang Mulia, "Anda hanya setitik debu dari semesta, mengapa Tuhan yang menciptakan semesta harus Anda bela?"

Namun sang sutradara dan penulis juga produser menyampaikannya dengan aroma komedi satiris dan kontemplatif. Jadi tertawa sambil berpikir. Coba bayangkan dia mencuri pakaian dari "mobil bergoyang". Ada drama romansa singkat antara Jaggu-Sarfaraz (Sushant Singh), romansa canggung antara Jaggu-PK, dan pertemanan dengan musisi karavan, Bairon Singh (Sanjay Dutt) merupakan subplot yang saling menyokong pilar plot utama. Film 150-an menit ini berlari dengan sangat gagah tanpa harus terengah-engah dengan embel-embel lebay yang mengotori layar.

Satu hal yang agak mengganggu saat nonton film Hindi di bioskop ialah teks Indonesia ditransfer dari teks Inggris. Misal Peekay ditulis tipsy. Terjemahan oral di tv malah lebih baik.

Walau banyak dikecam di negeri asalnya, film beranggaran 13 juta dolar AS ini telah balik modal hampir 10 kali lipat.

Sabtu, 10 Januari 2015

156. Persimpangan Antara Perang dan Romansa

"Perang telah mengajarkan kita banyak hal. Tapi perang juga memberitahukan bahwa pelajaran yang bisa didapat dari peperangan telah habis." -anonim-

THE CROSSING part 1

Pemain: Zhang Ziyi, Takeshi Kaneshiro, Song Hye-kyo, Huang Xiaoming, Tong Dawei, Masami Nagasawa.
Penulis: Wang Hui-ling.
Sutradara fotografi: Zhao Fei.
Musik: Taro Iwashiro.
Sutradara: John Woo.
Produksi: Beijing Gallop Horse Film, China Film Group Corporation.

Perang selalu meninggalkan koreng sejarah. Namun wajah feminin dari perang selalu menarik untuk dikulik oleh para sineas. Berlatar pada babak kulminasi Partai Komunis Tiongkok atau perang saudara jilid dua pada tahun 1946-1950. Tentang adu otot dan ngotot Pasukan Nasionalis dan Pasukan Komunis. Mao Zedong dan Chiang Kai-shek. Tentang ideologi.

The Crossing merupakan sinema romansa perang dari panggung sejarah tenggelamnya kapal uap Taiping pada 1949 dan menewaskan 1.500 orang. Segmen tragedi kapal uap Taiping akan muncul di bagian kedua dari film dua bagian ini. Film stereoskopik 3D ini tidak tayang di Indonesia, hanya versi 2D saja.

Dalam ranah fiksi diriwayatkanlah enam tokoh yang bercerita secara paralel, tentu saja. Lei Yifang (Huang Xiaoming) adalah Jenderal muda pemimpin salah satu divisi kaum Nasionalis. Dia kasmaran pada Zhou Yunfen (Song Hye Kyo) anak bankir di Shanghai. Mereka menikah dan Yunfen harus menyeberang ke Pulau Taiwan demi keamanan sementara sang suami maju ke medan perang.

Yan Zenkun (Takeshi Kaneshiro) seorang dokter yang terpisah jauh dari kekasihnya, Masako (Masami Nagasawa). Ia juga ke Taiwan.

Yu Zhen (Zhang Ziyi) seorang perawat yang menyambi sebagai kupu-kupu malam karena penderitaan hidup dan depresi ekonomi karena perang. Agar diterima untuk sewa rumah, ia harus sudah berkeluarga atau dicibir sebagai pelacur. Maka ia membuat foto rekayasa keluarga dengan berfoto pada Kapten Tong Daqing (Tong Dawei), anak buah Yifang. Penampilan Ziyi cukup menggugah emosi penonton dalam tiap bahasa getir yang tak terucap. Dialah primadona dalam film ini.

"Melepaskan perpisahan adalah sial," kata Yunfen pada suaminya. Sering kali firasat lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Di Taiwan Yunfen bertemu dengan dokter Zenkun yang ternyata mereka memiliki garis asmara yang sama. Gaya tutur segmen Zenkun-Masako (dan film ini umumnya) lumayan elok sinemafotografinya. Padang ilalang yang bernyanyi. Gemerincing angin nan sunyi. Payung dan hujan. Kolase gambar beku (foto). Salju yang syahdu. Hingga salju maut bagi Pasukan Nasionalis di medan perang.

"Jenderal, kami lebih baik mati karena tertembak musuh daripada mati kedinginan dan kelaparan."

Wajah maskulin perang tetap berserak di awal dan akhir film. Api yang membara, tembakan, darah memuncrat, mayat bergelimpangan. Sampai ledakan ke arah (sensor, nanti spoiler) yang seolah sehangat pelukan sang kekasih. Tak lupa sisi komedi. Salah satunya saat dua Nasionalis berebut kelinci buruan dengan seorang Komunis, jelas dengan hidung senapan yang saling menantang dan mengacung. Memang biasa, tapi satir banget.

John Woo dan Wang Hui-ling merajut cerita untuk sang penonton dengan santai, ibarat menyuguhkan appetizer (makanan pembuka) agar lebih berselera pada main course (makanan utama) atau part 2 dari film ini. Nikmati dulu 130 menit bangunan piramida emosi yang akan diluluhlantakkan "ombak" di Selat Taiwan oleh Taiping pada The Crossing part 2 bulan Mei mendatang.