Sabtu, 10 Januari 2015

156. Persimpangan Antara Perang dan Romansa

"Perang telah mengajarkan kita banyak hal. Tapi perang juga memberitahukan bahwa pelajaran yang bisa didapat dari peperangan telah habis." -anonim-

THE CROSSING part 1

Pemain: Zhang Ziyi, Takeshi Kaneshiro, Song Hye-kyo, Huang Xiaoming, Tong Dawei, Masami Nagasawa.
Penulis: Wang Hui-ling.
Sutradara fotografi: Zhao Fei.
Musik: Taro Iwashiro.
Sutradara: John Woo.
Produksi: Beijing Gallop Horse Film, China Film Group Corporation.

Perang selalu meninggalkan koreng sejarah. Namun wajah feminin dari perang selalu menarik untuk dikulik oleh para sineas. Berlatar pada babak kulminasi Partai Komunis Tiongkok atau perang saudara jilid dua pada tahun 1946-1950. Tentang adu otot dan ngotot Pasukan Nasionalis dan Pasukan Komunis. Mao Zedong dan Chiang Kai-shek. Tentang ideologi.

The Crossing merupakan sinema romansa perang dari panggung sejarah tenggelamnya kapal uap Taiping pada 1949 dan menewaskan 1.500 orang. Segmen tragedi kapal uap Taiping akan muncul di bagian kedua dari film dua bagian ini. Film stereoskopik 3D ini tidak tayang di Indonesia, hanya versi 2D saja.

Dalam ranah fiksi diriwayatkanlah enam tokoh yang bercerita secara paralel, tentu saja. Lei Yifang (Huang Xiaoming) adalah Jenderal muda pemimpin salah satu divisi kaum Nasionalis. Dia kasmaran pada Zhou Yunfen (Song Hye Kyo) anak bankir di Shanghai. Mereka menikah dan Yunfen harus menyeberang ke Pulau Taiwan demi keamanan sementara sang suami maju ke medan perang.

Yan Zenkun (Takeshi Kaneshiro) seorang dokter yang terpisah jauh dari kekasihnya, Masako (Masami Nagasawa). Ia juga ke Taiwan.

Yu Zhen (Zhang Ziyi) seorang perawat yang menyambi sebagai kupu-kupu malam karena penderitaan hidup dan depresi ekonomi karena perang. Agar diterima untuk sewa rumah, ia harus sudah berkeluarga atau dicibir sebagai pelacur. Maka ia membuat foto rekayasa keluarga dengan berfoto pada Kapten Tong Daqing (Tong Dawei), anak buah Yifang. Penampilan Ziyi cukup menggugah emosi penonton dalam tiap bahasa getir yang tak terucap. Dialah primadona dalam film ini.

"Melepaskan perpisahan adalah sial," kata Yunfen pada suaminya. Sering kali firasat lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Di Taiwan Yunfen bertemu dengan dokter Zenkun yang ternyata mereka memiliki garis asmara yang sama. Gaya tutur segmen Zenkun-Masako (dan film ini umumnya) lumayan elok sinemafotografinya. Padang ilalang yang bernyanyi. Gemerincing angin nan sunyi. Payung dan hujan. Kolase gambar beku (foto). Salju yang syahdu. Hingga salju maut bagi Pasukan Nasionalis di medan perang.

"Jenderal, kami lebih baik mati karena tertembak musuh daripada mati kedinginan dan kelaparan."

Wajah maskulin perang tetap berserak di awal dan akhir film. Api yang membara, tembakan, darah memuncrat, mayat bergelimpangan. Sampai ledakan ke arah (sensor, nanti spoiler) yang seolah sehangat pelukan sang kekasih. Tak lupa sisi komedi. Salah satunya saat dua Nasionalis berebut kelinci buruan dengan seorang Komunis, jelas dengan hidung senapan yang saling menantang dan mengacung. Memang biasa, tapi satir banget.

John Woo dan Wang Hui-ling merajut cerita untuk sang penonton dengan santai, ibarat menyuguhkan appetizer (makanan pembuka) agar lebih berselera pada main course (makanan utama) atau part 2 dari film ini. Nikmati dulu 130 menit bangunan piramida emosi yang akan diluluhlantakkan "ombak" di Selat Taiwan oleh Taiping pada The Crossing part 2 bulan Mei mendatang.

Tidak ada komentar: