Rabu, 12 Oktober 2016

193. Neraka Yang Kurang Membara

Inferno

Gambar dibuka dengan opini-opini radikal Bertrand Zoobrist (Ben Foster) tentang hiperpopulasi pada manusia dan akibat buruk, misal secara alamiah dan naluriah manusia akan menyeleksi habitatnya sendiri. Saling bunuh rebutan pangan. Penyakit yang mengendalikan umur dan hidup manusia. Dll.

Prof. Robert Langdon (Tom Hanks) terbangun di RS dalam keadaan kepala robek tergores proyektil pistol. Dia mengalami amnesia jangka pendek. Ingatan 48 jam terakhir hilang. Hanya fragmen-fragmen wanita berkerudung yang berkata "cari dan temukan" bersama gambaran dimensi neraka dalam deskripsi puisi Dante, Inferno. Dante Alighieri merupakan penyair Firenze (Italia) penulis epos The Divine Comedy, yang mana puisi berjudul Inferno menjadi roda cerita yang menginspirasi Zoobrist termasuk kaitannya dengan Wabah Hitam di Eropa abad pertengahan. Melalui puisi itu pula dan teka-teki simbologi di Palazzo Vellachio hingga ke Hagia Sophia di Turki.

Bersama Sienna Brooks (Felicity Jones), dokter yang menyelamatkan Langdon dari kejaran agen SRS dan agen konsorsium. Langdon masih bingung mana lawan mana kawan. Selama ini konsorsium yang diketuai Provos alias Sims (Irrfan Khan) melindungi Zoobrist dari kejaran W.H.O, musuh Zoobrist. Tapi Provos pun merasa tertipu dengan menolong Zoobrist sebab Zoobrist akan merilis virus berbahaya di Waduk Kuno di Turki tempat ratusan wisatawan sedang menonton konser. Berhasilkah Langdon dan Sienna menemukan di mana virus tersegel plastik itu sebelum pecah dan mewabah di dunia?

Tak banyak bisa diharapkan dari sutradara Ron Howard (Apollo 13, A Beautiful Mind, In The Heart of The Sea) untuk proyek trilogi Robert Langdon bersama Sony Pictures ini. Entah karena sudah terlalu tua sehingga tidak punya kesabaran bertutur dan visi kuat dengan penulis skenario, David Koepp (Jurassic Park, Mission: Impossible, dan dua film prekuel Inferno). Walau tidak seburuk Angels & Demons (2009) yang mementahkan bagian fundamental ceritanya, Inferno seharusnya bisa lebih keren dan menggigit. Padahal penyuntingan cerita Inferno (dari buku ke sinema) bagus sih. Mengubah sedikit cerita tanpa kehilangan roh naskah aslinya (novel). Bagian penutup filmnya terasa template Hollywoodisasi banget. Lebih keren novelnya. Tapi bukan berarti buruk. Efek ledakan di waduk nggak semegah ledakan tabung antimateri di Angels & Demons (bagi saya itu ledakan nonapi terepik sepanjang hidup saya). Visualisasi Hagia Sophia dan kanal Venesia dilupakan begitu saja oleh sang sutradara fotografi, Salvatore Totino. Nuansa sephia kuning untuk flashback Zoobrist sih ajib.

Editing flashback ketika Langdon mengingat memorinya itu alamak cakepnya. Dramatis dan tragis. Cuma bagi penonton umum yang tidak baca novelnya akan mumet dengan kecepatan bercerita yang ruwet tapi pemecahan teka-teki yang terlalu mudah sehingga pesona akting Tom Hanks jadi berkurang. Banyak potensi pesan sosial yang bisa menjadi otokritik untuk para penonton tentang jumlah penduduk dan kita secara individual bisa berperan juga namun rasanya karam sudah dengan adegan-adegannya yang thrilling. Ini sudah tidak seimbang. Walau tidak seburuk prekuelnya, Inferno bagus kendati mudah terlupakan.