Selasa, 23 September 2014

151. Lari dari Kenyamanan Semu

Datang lagi di jagat fiksi-sinema sebuah film berlatar dunia distopia (antitesis utopia), sebut saja di antaranya The Hunger Games dan The Divergent.

Apa yang baru dari film yang dipinang dari novel laris manis karya James Dashner, The Maze Runner? Premis cerita nan menjanjikan!

THE MAZE RUNNER

Pemain: Dylan O'Brien, Aml Ameen, Ki Hong Lee, Blake Cooper, Thomas Brodie-Sangster, Will Poulter, Kaya Scodelario, Joe Adler, Patricia Clarkson.

Sutradara: Wes Ball.

Skenario: Noah Oppenheim, Grant Pierce Myers, T.S. Nowlin.

Produksi/distribusi: Gotham Group,
Temple Hill Entertainment/ 20th Century Fox.

Dari elevator yang menderu-deru, muncullah seorang remaja yang kepayahan dan amnesia temporer. Dia disambut oleh cowok-cowok sepantarnya ke sebuah tempat berupa hutan kecil, padang rumput, ladang palawija, dan kandang (rumah) yang dikitari dinding beton ratusan meter, di pusat labirin. Mereka semua terjebak di tengah labirin. Bukan labirin seperti kebanyakan. Labirin yang disebut Glade itu konfigurasi dindingnya bisa berubah kapan saja (secara periodik?).

Remaja yang amnesia itu akhirnya tahu siapa namanya, Thomas (Dylan O'brien), beserta fragmen memori mengapa dia ada di sini, di Glade, walau ingatannya abu-abu. Thomas diterima dengan tangan terbuka oleh Alby (Aml Ameen) si pemimpin Glader (sebutan bagi penghuni Glade) dan dekat dengan Chuck (Blake Cooper), Glader termuda, gemuk, dan berambut merah tembaga.

Tak ada yang tahu siapa yang mengirim mereka ke Glade, semuanya terasa gelap. Yang pasti mereka hidup nyaman di sana setelah usai masa-masa kelam. Itulah kira-kira prinsip Gally (Will Poulter) si Glader antagonis yang taat aturan (di antaranya dilarang memasuki dinding Glade).

Sampai pertanyaan demi pertanyaan bercokol di benak Thomas: untuk apa kita di sini, ini bukan rumah kita, lebih baik mati daripada terpenjara. Dan Thomas bersama Minho (Ki Hong Lee) adalah dua dari para runner (pelari) yang tiap siang memasuki dan memetakan rongga-rongga labirin dan mesti kembali ke pusat sebelum matahari terbenam karena sebelumnya tiada Glader yang sanggup bertahan di rongga labirin karena ancaman Griever (serangga hibrida robot dan otot) yang sengatannya bisa mengacaukan pembuluh darah.

Hingga suatu petang, yang seharusnya pintu Glade bertala-tala tanda tertutup, kali itu tidak. Teror muncul. Griever masuk ke pusat dan membantai separuh penghuninya.

Menggetarkan!

Dengan tonase visual yang muram dan hangat, dan tekstur musik yang sederhana, The Maze Runner terbilang cukup menegangkan (thrilling) secara aksi namun melempem pada sektor drama dan penokohan. Banyak tokoh yang terasa bagai tempelan dan kurang kuat mengabarkan karakter sebenarnya. Misal aktor Will Pouter yang secara muka dan gestur terkesan satu dimensi sebagai Gally si antagonis. Sisi rapuhnya kurang disorot. Termasuk aktris Kaya Scodelario (Teresa), satu-satunya Glader cewek, si pemanis yang kurang manis. Kecuali untuk aktor Blake Cooper si pemeran Chuck yang dapat bumbu drama. Ia memahat patung mini dari kayu untuk orangtuanya yang bahkan tidak diingatnya. Terlepas apa akting mereka tersekat naskah skenarionya atau tidak. Semoga iya.

Apa pun itu, The Maze Runner unggul dari segi aksi thriller yang membuat penonton menahan kedip mata tatkala Griever menyerang dan saat formasi pintu dan pisau labirin bergerak dinamis dan sadis. Horor! Hampir tiada sekuens yang longgar.

Maka dengan premis yang menjanjikan (terperangkap di pusat labirin, labirin yang kompleks, tanpa tahu motifnya) sang sutradara cukup berhasil. Lumayan menghibur.

Rabu, 03 September 2014

150. Sparta Versus Persia Versi Asia


Syahdan, empat abad lalu, angkatan laut (AL) Dinasti Joseon (sekarang Korea) hanya memiliki 12 armada kapal untuk menangkis kembali invasi kedua AL Jepang (Zaman Azuchi-Momoyama) dengan 300 kapalnya di pantai Joseon.

ROARING CURRENTS
Pemain: Choi Min Sik, Ryu Seung-ryong, Jin-Woong Cho, Myung-gon Kim, Ku Jin, Jung-hyun Lee.
Sutradara: Han-min Kim.
Naskah dan cerita: Cheol-Hong Jeon, Han-min Kim.
Studio: CJ Entertainment.

Laksamana AL Joseon, Yin Sun-sin (Choi Min Sik) meminta pasukan lebih pada raja namun ditolak. Akibat kekalahan telak di Chilchonryang, AL Joseon cuma memililki 12 kapal, sisa-sisa perang. Mau tak mau dia harus menghadapi ratusan armada Jepang di bawah komando Kurushima Michifusa (Ryu Seung-ryong) dan Wakisaka Yasuharu (Cho Jin-woong).

Kondisi tersebut cukup menciutkan nyali pasukan Joseon. Ketakutan akan kekalahan perang, mati sia-sia, bercokol di benak tiap pasukan. Bahkan demi membakar semangat pasukannya Yin Sun-sin harus memenggal kepala anak buahnya dan membakar kamp di pantai. Apa itu cukup? Tidak! Rasa takut akan tetap menjadi takut sampai kita benar-benar menghadapinya di depan mata.

Roaring Currents (Myeong-ryang) merupakan salah satu "bom atom" yang meledak dan terjual 16 juta tiket di bioskop lokal Korea Selatan [bandingkan di Indonesia yang penduduknya 230an juta, film paling banyak ditonton Laskar Pelangi, hanya terjual 5 juta tiket]. Film tentang sejarah Korea tahun 1597 melawan gempuran kolonial Jepang memang sangat menarik minat warga Korsel untuk mengapresiasinya, ditambah aktor Choi Min Sik dan Ryu Seung-ryong yang menjadi magnet untuk film ini. Meski di sektor akting tiada yang membekas di benak (forgettable).

Babak pertama film ini skenario dibangun lewat drama dan pergumulan masing-masing karakter, salah satunya tokoh sentral Yin Sun-sin merasa pernah babak belur di Chilchonryang. Lewat gestur dan mimik marah yang kalem, Min Sik agak berhasil menyampaikannya. Sekuen babak pertama pun terasa mengulur-ulur dan divergen (kurang fokus) membangun fondasi drama-cerita. Tidak seperti film Korea biasanya yang terasa mantap membangun drama dan menyublim jadi satu dengan gagasan utama cerita filmnya. Ini berpotensi menghambarkan rasa emosional penonton. Dan memang garing. Agak garing.

Namun, kekikukkan dan kegaringan di babak pertama dibayar di babak peperangan di selat dengan strategi kearifan alam berupa pusaran air dan siklus gelombang deras yang menjadikan Dewi Fortuna berpihak ke Joseon. Komposisi orkestra (score) nan riuh dan garang menyuntikkan semangat peperangan, cukup grande untuk konten bioskop. Sayang format audio teater studio 8 blitzmegaplex terdengar melempem.

Peperangan kapal jarak jauh dan jarak dekat pastinya patriotik dan heroik, dengan darah memuncrat, mata tertancap anak panah, dan kepala terpenggal, serta meriam berdebum. Memang dibayar tapi tidak dibayar lunas. Peperangan Roaring Currents sangat klise. Ya memang perang seperti itu. Mungkin kesalahan di babak pertama.

Alhasil... Roaring Currents tetap renyah sebagai tontonan alternatif selain hegemoni basi Hollywood.