Senin, 23 November 2015

182. Kill Snow Part 2

Tamat sudah riwayat film-film Hunger Games (HG). Film keempat produksi Color Force dan Lionsgate, The Hunger Games: Mockingjay Part 2, menjadi gong terakhir bagi perjuangan Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dkk merobohkan tembok totaliterisme di Panem, dengan Capitol sebagai pusatnya dan Presiden Snow sebagai simbolnya.

Setelah di film Mockingjay Part 1 Katniss bersama Gale (Liam Hemsworth), Finnick (Sam Claflin), Plutarch (Phillips Seymour Hoffman), dan presiden Distrik 13, Alma Coin (Julianne Moore) mempersiapkan perlawanan terhadap Capitol, mengobarkan video propaganda, dan mempersatukan semua Distrik, di bagian kedua film ini mereka harus menyelinap masuk ke jantung istana Capitol.

Akan tetapi... itu bukan rencana sepele. Di tiap hasta jalan menuju Capitol terpasang banyak jebakan ranjau dan penghalang, seperti manusia mutts yang menyerang membabi buta pada Kelompok Pemberontak di bawah tanah dan minyak panas yang menggelegak. Kedua adegan itu lumayan berangasan dan bertensi tinggi. Alur Mockingjay Part 2 dirasa mondar-mandir, misal perasaan ambivalensi Katniss tentang siapa yang dia cintai; Gale atau Peeta (Josh Hutcherson) juga bagian modus tersembunyi Alma Coin yang sangat jelas punya motif berkuasa setelah Presiden Snow (Donald Shutherland) tumbang. Sebenarnya banyak bagian yang serasa dimelar-melarkan akibat memenggal satu buku novel menjadi dua film yang jatuhnya menjemukan. Kayaknya cukup diselesaikan di Mockingjay Part 1 (dengan penambahan durasi tentunya) sehingga cerita akan menjadi padu, padat, meyakinkan, dan berkesan di sanubari.

Rasanya kok ya mau membantai Presiden Snow saja perlu 260 menit (durasi kedua film terakhirnya). Mirip pertanyaan untuk film The Lord of The Ring: The Return of The King. Si Frodo mau menyemplungkan Cincin Setan ke gunung api aja kok perlu waktu 263 menit. Berapa pun menitnya, asal digarap benar akan jadi film yang memorable. Poor you, Francis Lawrence, Mr Director.

Tren memenggal satu buku menjadi dua film dimulai dari buku Harry Potter And The Deathly Hallows, diikuti Twilight: Breaking Dawn. Berbeda dari novel Harry Potter yang tebal (Deathly Hallows sekitar 700 halaman), Mockingjay cuma 400 halaman.

Senin, 16 November 2015

181. Bangkitnya Dendam Sang Badoet

Sosok Badut yang lucu, disukai anak-anak, dan identik dengan pesta ulang tahun telah lama dijungkirbalikkan oleh sinema menjadi bahan baku horor. Sebut saja Amusement, It, dan Dead Silence. Badut sudah menjadi antitesis bagi dirinya sendiri. Pada nuansa Friday The 13th tahun ini, rumah produksi lokal, DT Films, mencoba menawarkan film serupa berjudul BADOET.

Disutradarai Awi Suryadi, plot dimulai dari adegan seorang Badut merias diri bersama denting kotak musiknya. Setelah beberapa lama, kotak musik itu ditemukan oleh Vino, anak penghuni rusun, yang tengah main petak umpet bersama tiga temannya. Bagai kotak pandora, ketika kotak musik itu kembali dibuka serentetan peristiwa horor membuncah, di antaranya kematian tiga teman Vino dan teror yang memaksa Donald (Daniel Topan), Farel (Christoffer Nelwan), dan Kayla (Aurelie Moeremans) beserta Nikki (Tiara Westlake); cewek indigo yang sebelumnya berseteru dengan Donald di Twitter tentang bola.

Ada benang merah dari kematian tiga bocah rusun itu: gambar badut yang digambar ketiga korban. Selidik demi selidik, terungkaplah sosok badut (Ronny P Tjandra) adalah penghibur pasar malam tahun 1997 yang dituduh menyodomi bocah dan dihakimi warga dengan disiksa.

Dengan kotak musik sebagai pintu interdimensi, cerita berkutat tentang bagaimana mengunci kembali kotak musik itu dengan anak kunci yang terkubur bersama sang badut. Dibantu Nikki yang mampu melihat memori-memori kilas balik tentang si badut dan kematian tiga bocah rusun.

Badoet memakai resep khas horor namun tidak lebay ketika menampilkan wujud hantu badut agar lebih intens menakuti penontonnya. Sesi kesurupan yang angker. Musik scoring yang digeber kian menebalkan aroma horor pada reseptor kuping. Sinematografinya juga sebangun seruang dengan plot.

Intinya BADOET sukses menjadi horor mimpi buruk bagi spektator baik pecinta atau bukan pecinta horor.