Senin, 16 November 2015

181. Bangkitnya Dendam Sang Badoet

Sosok Badut yang lucu, disukai anak-anak, dan identik dengan pesta ulang tahun telah lama dijungkirbalikkan oleh sinema menjadi bahan baku horor. Sebut saja Amusement, It, dan Dead Silence. Badut sudah menjadi antitesis bagi dirinya sendiri. Pada nuansa Friday The 13th tahun ini, rumah produksi lokal, DT Films, mencoba menawarkan film serupa berjudul BADOET.

Disutradarai Awi Suryadi, plot dimulai dari adegan seorang Badut merias diri bersama denting kotak musiknya. Setelah beberapa lama, kotak musik itu ditemukan oleh Vino, anak penghuni rusun, yang tengah main petak umpet bersama tiga temannya. Bagai kotak pandora, ketika kotak musik itu kembali dibuka serentetan peristiwa horor membuncah, di antaranya kematian tiga teman Vino dan teror yang memaksa Donald (Daniel Topan), Farel (Christoffer Nelwan), dan Kayla (Aurelie Moeremans) beserta Nikki (Tiara Westlake); cewek indigo yang sebelumnya berseteru dengan Donald di Twitter tentang bola.

Ada benang merah dari kematian tiga bocah rusun itu: gambar badut yang digambar ketiga korban. Selidik demi selidik, terungkaplah sosok badut (Ronny P Tjandra) adalah penghibur pasar malam tahun 1997 yang dituduh menyodomi bocah dan dihakimi warga dengan disiksa.

Dengan kotak musik sebagai pintu interdimensi, cerita berkutat tentang bagaimana mengunci kembali kotak musik itu dengan anak kunci yang terkubur bersama sang badut. Dibantu Nikki yang mampu melihat memori-memori kilas balik tentang si badut dan kematian tiga bocah rusun.

Badoet memakai resep khas horor namun tidak lebay ketika menampilkan wujud hantu badut agar lebih intens menakuti penontonnya. Sesi kesurupan yang angker. Musik scoring yang digeber kian menebalkan aroma horor pada reseptor kuping. Sinematografinya juga sebangun seruang dengan plot.

Intinya BADOET sukses menjadi horor mimpi buruk bagi spektator baik pecinta atau bukan pecinta horor.

Tidak ada komentar: