Minggu, 27 Desember 2009

98. Bait-bait Anak Jalanan



anak jalanan kumbang metropolitan
selalu dalam kesepian
anak jalanan korban kemunafikan
selalu kesepian di keramaian

tiada tempat untuk mengadu
tempat mencurahkan isi kalbu
cinta kasih dari ayah dan ibu
hanyalah peri yang palsu

anak gedongan lambang metropolitan
menuntut hidup alam kedamaian
anak gedongan korban kesibukan
hidup gelisah dalam keramaian

tiada waktu untuk bertemu
waktu berkasihan dan mengadu
karena orang tua metropolitan
hanyalah budak kesibukan

(Chrisye, Anak Jalanan)

Anak jalanan sungguh pandai bernyanyi. Mereka fasih mendendangkan lagunya ST 12, walaupun mereka belepotan ketika menyenandungkan lagunya Jason Mraz.

Anak jalanan tak mau lagi bermimpi setinggi langit, meski langit-langit rumah sekalipun. Mereka hanya bermimpi agar esok dapat makan dua kali di warteg di pinggir selokan. Lagipula untuk apa ke langit, di bumi pun banyak rezeki. Sedangkan anak rumahan tak usah bermimpi untuk dapat mengisap secangkir kopi di Starbucks.

Anak jalanan tak menangis jika putus cinta. Namun mereka akan pingsan apabila koin-koinnya menggelinding dan lenyap. Sedangkan anak rumahan akan mogok makan jikalau putus cinta.

Anak jalanan hanyalah obyek empuk bagi pengusaha untuk membagikan "recehan", remah-remah dari keuntungan kapitalisme. Lalu pengusaha itu dan anak jalanan berpose senyum dan berpelukan, kemudian diterbitkan di koran atas nama CSR (tanggung jawab sosial perusahaan). Seakan-akan mulia sekali pengusaha itu. Bagus, patut ditiru!

Anak jalanan gemar mengejar sedan yang kinclong, walau yang ia tatap hanyalah wajah pengemudi yang buram dalam kaca film, dan kaca yang tak akan tergulung. Andaipun tergulung, paling hanya menyodorkan Rp 1.000, itu pun sisa kembalian sehabis beli laptop seharga Rp 4.999.000.

Anak jalanan hidupnya keras, sehingga tak sudi punya akun facebook. Sebab mereka sanggup membedakan antara teman yang penyombong dengan teman yang pendiam di facebook. Anak rumahan juga lihai membedakan ENTER dengan ENTAR. Tekan ENTER ketika masuk facebook, dan tekan ENTAR ketika masuk waktu sembahyang.

Anak jalanan mampu menahan kentut saat mengamen di bus kota. Mereka menghormati para penumpang. Tapi, mereka akan lari terkentut-kentut tatkala dikejar oleh Satpol PP. Sedangkan anak rumahan tak mampu menahan kentut saat makan malam di rumah calon mertua. Bisa berabe. Padahal kentut itu sangat manusiawi.

Anak jalanan ternyata lebih tegar dibanding anak rumahan. Buktinya, mereka nggak pernah terjun dari ketinggian lantai di mal. Ya iyalah, lha wong mereka dilarang masuk ke mal oleh security.

Dari catatan harian "Hujan Huruf", tertanggal 26-12-2009

Jumat, 18 Desember 2009

97. Nyalakan Api Kehidupan, Kobarkan Api Asmara



Cakrawala mulai diselimuti oleh tirai malam. Mega-mega yang merona jingga bergelayutan di antero angkasa. Di atap, gerombolan burung jalang bernyanyi sukacita sebab penuhnya tembolok mereka. Mereka mematuk-matuk nasi yang kujemur di tampah. Senandung para burung telah lenyap. Saya beralih ke musik India, dengan suara khas Lata Mangeshkar. Tatkala menikmati syahdunya musik India, sekonyong-konyong ada suara minta tolong. Kucari sumber suaranya, mulai dari kolong-kolong, lorong-lorong, hingga di gentong yang kosong. Ternyata asalnya dari seorang ibu yang minta tolong. "Mas An, kompor saya nggak bisa nyala," suaranya mirip serigala melolong yang lapar karena belum makan lontong. Maka membaralah welas asihku, segera kutolong dia. Wajib ditolong dong, jangan cuma bengong. Nanti ketiban durian montong.

Begitulah jadinya apabila para ibu kesulitan menyalakan kompornya. Mereka akan mohon bantuan pada pria yang paling gagah dan tampan. Mereka ialah penerima kompor dan tabung gas gratis dari pemerintah. Gratis dari Hong Kong...! Mereka tetap kena pungutan liar sebesar Rp 5.000-Rp 20.000. Padahal pemerintah berkoar bahwa ongkos distribusi sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Kenyataannya? Mana kualitas barangnya KW 3. Kalaupun niat memberi, berilah yang kualitasnya wahid. Pemimpinnya dapat fasilitas yang super lux. Amsalnya, biaya laundry untuk jas dan pakaian dinas yang mencapai Rp 70 juta per bulan. Sedangkan rakyatnya hanya dapat kompor gas picisan. Mungkin kebanyakan beban APBN kali ya....

"Mas An bisa?" tanya seorang ibu. "Tenang saja. Beres dech," kumencoba menenangkan, meski saya juga bingung bagaimana agar kompor menyala. Pria harus pandai mendamaikan hati wanita sekalipun kondisinya genting. Cetak-cetuk, bunyi pematik tergesek, namun si jago biru enggan timbul. Utak sana, atik sini, hingga saya berpeluh dan bertelanjang dada. Saya terkejut, sebab ada gadis yang matanya berpendar ketika menyelidiki lekuk badanku yang tambun. Seketika kukenakan baju, malu akan perut Semar ini. Di tengah senyuman malu dengan wajah semerah biji saga, tebersit hasrat untuk mencopot regulator dari selang. Kemudian kumemasok aliran gas ke selang, kugesek pematiknya, dan blup...si jago biru pun berkobar. HOREEE, Dora berhasil!!!

Sejak peristiwa itu, saya kerap dipanggil oleh para ibu jika mereka kesulitan menyalakan kompornya. Mestinya saya yang jadi model iklan untuk program konversi minyak tanah ke gas, bukan Dik Doank. Dia sich cuma bisa mejeng doank. "Mas ganteng, ini uang untuk beli rokok," tawar seorang ibu yang riasannya menor. "Wah, terima kasih. Saya sudah berhenti merokok," tolakku halus, sehalus bokong bayi Timor Leste. "Oh, pantas bibirnya tampak merah jambu," pujinya padaku. Berikanlah pelayanan untuk dan karena Allah, tanpa pamrih.

Bahkan tangan suami mereka tak berkutik. Saya menyindir ke seorang suami, "Kau tak mampu menyalakan api kehidupan bagi keluargamu, lalu bagaimana kau mampu mengobarkan api asmara untuk istrimu di ranjang?"

Perlahan Sang Lunar mendaki puncak zenit, pertanda malam kian larut. Lengkingan jangkrik menggema dari semak gulma. Kami kongko-kongko seraya disuguhkan kopi panas dan pizza jawa alias bakwan toge. SEDAAAP!!!

Syukurlah. Sekarang mereka sudah sanggup menyalakan api kehidupannya sendiri. Blup....

Minggu, 06 Desember 2009

96.Secarik Gelitik di Tangan Mistik


Berselancar dengan mesin waktu,yuk! Kita mindik-mindik ke kamarnya Nobita, lalu masuk ke laci belajarnya. Doraemon kan mengatur mesin waktunya di situ. Yup, kita ke tahun 2000, ketika saya masih berusia 13 tahun. Kala itu saya sedang mabuk judi, judi togel (toto gelap). bukan ala kasino di Vegas. Ini semacam tebak nomor, caranya kita membeli dengan karcis karbon seharga mulai dari Rp 1.000. Satu nomor--yang tersusun atas dua, tiga ,atau empat digit--harganya Rp 1.000. Gambarannya, 1234, 234, atau 34. Per nomor bisa dibeli lebih dari sekali. Maka di karcis akan tertulis 1234x3, berarti beli nomor 1234 sebanyak tiga kali. Jika nomor itu yang keluar, maka si pembeli (penjudi) mendapatkan tiga kali lipat.

Namanya juga masih putih biru, yang uang sangunya Rp 2.000, kalau sudah berjudi konsekuensinya nggak jajan di sekolah besok. Manakala gemerincing lonceng istirahat membahana, saya hanya ada di perpustakaan, dikira kutu buku. Ketika kawan-kawan menjilati manisnya es bonbon, saya tak mau kalah, saya juga jilati asinnya air mata ini. Jikalau mereka keringatan sebab kenyang, saya malah keringatan sebab lapar. Kutu kupret tuh togel, bikin gue sangsai! Pun kalau harus membayar biaya fotocopy. Tampang saya akan pucat pasi mirip Edward Cullen. Bilamana sudah begitu, kawan-kawan dengan berbesar hati akan menolongku. Kalau sampai Sang Jawara Kelas nggak ditolong, mereka akan keringat dingin, takut nggak dikasih contekan lagi. Ha ha ha ha, NARSIS!

Mekanisme judinya kurang lebih seperti ini, tiap empat hari kita diberi selembar kertas ramalan oleh seorang agen bandar (judi). Kontennya di antaranya bermetafor begini, "matahari di atas lautan, hewan-hewan mendekat", plus disertai angka-angka petunjuk. Jika Anda cermat, pasti menjawab hewan laron. Kemudian kita mencari kata laron di buku ramalan mimpi khusus togel. Di situ, misalnya, kita menemukan nomor 57 untuk kata laron. Lalu kita meracik (ngecak) angka itu, contoh modifikasinya 1257, 3575, 575, 12, dst. Paginya seorang agen menempelkan secarik kertas berisikan nomor yang keluar, amsalnya 7512. Kalau kita pasang 3312 dan/atau 12, maka kita dapat buntutnya. Jujur saya nggak pernah dapat, hiks hiks hiks. Dan jika sohib saya yang dapat, saya tentu ditraktir untuk minum-minum. Maaf nih, saya nggak mau mabuk sajang,anggur, bir, apalagi jamu. Tahu Intisari? Itu jamu vitalitas untuk emak-emak yang habis beranak. Aturannya minumnya satu sloki, mereka satu botol. Jadi terngiang-ngiang lirik lagu dangdut, "Sudah mabuk minuman ditambah mabuk judi/Masih saja kakang tergoda janda kembang/Tak sudi, ku tak sudi." Saya pernah curhat ke ibu saya, "Ma, aku lagi berhubungan sama janda." Ia spontan menyergah, "Cari yang perawan!" Saya kaget dan menimpali, "Maksudnya perempuan hartawan?" Beliau pun mengangguk setuju. Ibu dan anak bujangnya ternyata sama gendengnya.

Bukan hanya meramal dari kertas ramalan dan mimpi, namun juga dari peristiwa hot yang baru terjadi. Salah satunya ialah tragedi tabrakan antara kereta api dengan angkot mikrolet di Bintaro. Salah satu korban yang kepalanya buntung, terseret hingga ke TPU Tanah Kusir, dan tergeletak di plang Semboyang 35 (panduan masinis untuk membunyikan klakson). Saya memprediksi angka itu (35), tapi alpa untuk membelinya. Alhasil, esoknya keluar. Huh....

Penjelajahannya cukup, kita kembali ke lorong waktu. Ingin cerita lebih banyak, tapi nyokap gue yang bawelnya persis nenek-nenek encok itu, tiba-tiba menelpon. Katanya si Tuminem lagi nonton The Twilight Saga:New Moon, terus saya yang disuruh cuci piring. GEMAZ!!!