Jumat, 18 Desember 2009

97. Nyalakan Api Kehidupan, Kobarkan Api Asmara



Cakrawala mulai diselimuti oleh tirai malam. Mega-mega yang merona jingga bergelayutan di antero angkasa. Di atap, gerombolan burung jalang bernyanyi sukacita sebab penuhnya tembolok mereka. Mereka mematuk-matuk nasi yang kujemur di tampah. Senandung para burung telah lenyap. Saya beralih ke musik India, dengan suara khas Lata Mangeshkar. Tatkala menikmati syahdunya musik India, sekonyong-konyong ada suara minta tolong. Kucari sumber suaranya, mulai dari kolong-kolong, lorong-lorong, hingga di gentong yang kosong. Ternyata asalnya dari seorang ibu yang minta tolong. "Mas An, kompor saya nggak bisa nyala," suaranya mirip serigala melolong yang lapar karena belum makan lontong. Maka membaralah welas asihku, segera kutolong dia. Wajib ditolong dong, jangan cuma bengong. Nanti ketiban durian montong.

Begitulah jadinya apabila para ibu kesulitan menyalakan kompornya. Mereka akan mohon bantuan pada pria yang paling gagah dan tampan. Mereka ialah penerima kompor dan tabung gas gratis dari pemerintah. Gratis dari Hong Kong...! Mereka tetap kena pungutan liar sebesar Rp 5.000-Rp 20.000. Padahal pemerintah berkoar bahwa ongkos distribusi sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Kenyataannya? Mana kualitas barangnya KW 3. Kalaupun niat memberi, berilah yang kualitasnya wahid. Pemimpinnya dapat fasilitas yang super lux. Amsalnya, biaya laundry untuk jas dan pakaian dinas yang mencapai Rp 70 juta per bulan. Sedangkan rakyatnya hanya dapat kompor gas picisan. Mungkin kebanyakan beban APBN kali ya....

"Mas An bisa?" tanya seorang ibu. "Tenang saja. Beres dech," kumencoba menenangkan, meski saya juga bingung bagaimana agar kompor menyala. Pria harus pandai mendamaikan hati wanita sekalipun kondisinya genting. Cetak-cetuk, bunyi pematik tergesek, namun si jago biru enggan timbul. Utak sana, atik sini, hingga saya berpeluh dan bertelanjang dada. Saya terkejut, sebab ada gadis yang matanya berpendar ketika menyelidiki lekuk badanku yang tambun. Seketika kukenakan baju, malu akan perut Semar ini. Di tengah senyuman malu dengan wajah semerah biji saga, tebersit hasrat untuk mencopot regulator dari selang. Kemudian kumemasok aliran gas ke selang, kugesek pematiknya, dan blup...si jago biru pun berkobar. HOREEE, Dora berhasil!!!

Sejak peristiwa itu, saya kerap dipanggil oleh para ibu jika mereka kesulitan menyalakan kompornya. Mestinya saya yang jadi model iklan untuk program konversi minyak tanah ke gas, bukan Dik Doank. Dia sich cuma bisa mejeng doank. "Mas ganteng, ini uang untuk beli rokok," tawar seorang ibu yang riasannya menor. "Wah, terima kasih. Saya sudah berhenti merokok," tolakku halus, sehalus bokong bayi Timor Leste. "Oh, pantas bibirnya tampak merah jambu," pujinya padaku. Berikanlah pelayanan untuk dan karena Allah, tanpa pamrih.

Bahkan tangan suami mereka tak berkutik. Saya menyindir ke seorang suami, "Kau tak mampu menyalakan api kehidupan bagi keluargamu, lalu bagaimana kau mampu mengobarkan api asmara untuk istrimu di ranjang?"

Perlahan Sang Lunar mendaki puncak zenit, pertanda malam kian larut. Lengkingan jangkrik menggema dari semak gulma. Kami kongko-kongko seraya disuguhkan kopi panas dan pizza jawa alias bakwan toge. SEDAAAP!!!

Syukurlah. Sekarang mereka sudah sanggup menyalakan api kehidupannya sendiri. Blup....

Tidak ada komentar: