Selasa, 20 Mei 2014

146. Godzilla, Sang Penyelamat Kota (?)

Apa yang baru dari kadal mutan raksasa yang telah melegenda di dongeng perfilman? Mukanya lebih gahar, teriakannya selantang sangkakala Isrofil (ini lebay), dan menyemburkan api layaknya naga tiongkok. Kali ini apinya biru. Lebih tepatnya berupa napas atomik warna biru. Karena versi Jepang-nya kaiju ini memang sudah begitu.

GODZILLA
Pemain: Aaron Taylor-johnson, Ken Watanabe, Elizabeth Olsen, Juliette Binoche, Sally Hawkins, David Starthairn, Bryan Cranston.
Skenario, naskah cerita: Max Borenstein, David Callaham.
Sutradara: Gareth Edwards.
Produksi: Legendary Pictures, Warner Bros.





Karena arogansi sainsnya, (baca: obsesi nuklir) manusia tanpa menduga menciptakan sejenis makhluk mutan menyerupai pteronadon dengan kaki bagai laba-laba. Entah nongol dari mana, makhluk ini ditemukan sarangnya di pertambangan di Filipina. MUTO, nama makhluk penyerap (memakan) radiasi atom ini. Tak ayal MUTO melacak keberadaan instalasi nuklir di Janjira, Jepang. Dan tanpa sengaja pula kehadiran dua MUTO itu memicu kembalinya Godzilla dari Pasifik ke daratan.

Adalah Joe Brody (Bryan Cranston), ilmuwan Amerika yang menetap di Janjira menemukan kejanggalan dari bencana hancurnya instalasi nuklir Janjira tempat di mana istrinya, Sandra (Juliette Binoche), tewas di depan mukanya. Bukan gempa penyebab hancurnya instalasi itu. Namun hingga 15 tahun ia terus mencari kebenaran yang ditutupi otoritas Jepang.

Sampai suatu hari anaknya, Ford (Aaron Johnson), yang sudah menetap di San Fransisco, harus kembali menemui ayahnya di Jepang karena menerabas area karantina, zona radiasi sisa paparan bencana 15 tahun silam. Dari sinilah bangunan drama yang sejak menit-menit pertama dibangun sang sutradara kembali dipoles, meski sedikit mencomot porsi sosok Godzilla yang kemunculannya kurang banyak di frame.

Penampilan Ken Watanabe sebagai Dr. Ishiro Serizawa dan rekan ilmuwannya, Vivienne Graham (Sally Hawkins) terkesan biasa saja. Mereka tidak memberi solusi-aksi seperti ilmuwan Dr Niko Tattopoulus dalam Godzilla tahun 1998. Tapi di sinilah menariknya, di mana kepongahan militer meremehkan ilmuwan. Saran Dr. Serizawa adalah "let them fight" dalam konteks biarkan Godzilla membunuh dua MUTO-yang tengah bereproduksi- yang mengancam peradaban. Seperti sebuah bid'ah jika Godzilla yang gahar dan penghancur kota yang menakutkan itu dibalikkan oleh penulis naskah menjadi sang penyelamat kota--tetap sih dia menghancurkan kota. Masih ingat pelajaran biologi tentang penyeimbang alam?

Secara teknik visual Godzilla versi baru ini lebih mengedepankan gambar-gambar muram yang cenderung gelap. Pacific Rim dan Godzilla terdahulu lebih "ceria" tonase warnanya. Hal-hal klise selalu saja hadir semisal keluguan anak-anak kecil (di antaranya ada anaknya Ford) dalam bus sekolah yang terjebak di jembatan akibat pertempuran militer-MUTO-Godzilla. Dan visualisasi sekelompok karyawan kantor di gedung yang melihat amukan Godzilla. Ini juga klise, sering nongol di banyak film. Seharusnya dalam kondisi darurat sudah tidak ada orang yang bekerja. Tapi gambar klise ini memang digemari juru kamera karena very camera genic. Jangan lupakan sinematografi tsunami di Hawaii yang bikin merinding.

Music score (instrumentalia) terdengar pas menyokong tiap adegan. Nggak lebay. Nyaman di kuping. Kalau Pacific Rim cenderung bising. Kenapa harus dibandingkan dengan Pacific Rim (2013) karya Guillermo del Toro? Kan sama-sama film tentang kaiju. Kaiju tuh monster besar dalam budaya pop Jepang.

Andai durasi Godzilla ini yang 123 menit ditambah 10 menit lagi pertarungan Godzilla dan dua MUTO pasti saya kasih skor 5. Unfortunately, I give it 3,6/5.