Rabu, 16 Juli 2014

148. Sindiran dari Primata

"Ape don't kill ape." Kera tidak membunuh kera. Itulah sepenggal prinsip kera yang hidup sentosa di hutan Muir di taman nasional di San Fransisco.

Dawn of the Planet of the Apes adalah sekuel film Rise of the Planet of the Apes (2011) dengan latar rentang 10 tahun sejak penyerangan kera di San Fransisco yang dipimpin oleh Caesar--kera yang intelegensinya berkembang pesat dan bisa berbicara.

DAWN OF THE PLANET OF THE APES
Pemain: Jason Clarke, Andy Serkis, Gary Oldman, Toby Kebbel, Keri Russel, Kodi Smit-mcphee, Kirk Acevedo.
Tim penulis: Mark Bomback, Rick Jaffa, Amanda Silver, Pierre Boulle.
Sutradara: Matt Reeves.
Studio: 20th Century Fox, Chernin Entertainment.

Sekuel film ini dibuka dengan aksi kera berburu rusa, juga perlawanannya pada beruang bongsor yang secara sinematik cukup menawan dilihat. Sampai akhirnya seorang manusia menembak seekor kera di Muir--mungkin karena panik, maka simpul konflik pun disulut. Kera lain, Koba (Toby Kebbel)-- tangan kanan Caesar, menyarankan agar membunuh balik orang itu namun Caesar memaafkan asalkan... manusia tidak kembali lagi ke hutan, rumah para kera.

Namun itu hal sulit bagi Malcolm (Jason Clarke) dan rombongannya. Mereka (sekoloni kecil manusia yang bertahan dari wabah flu simian) krisis listrik, satu-satunya cara adalah pergi ke bendungan di hutan dan merestorasi instalasi PLTA. Negosiasi antara Malcolm dan Caesar berjalan mulus, dengan syarat manusia tidak membawa senjata (senapan) saat di hutan. Apalah arti perjanjian bila ternyata salah satu rombongan, Carver (Kirk Acevedo), masih menyimpan senapan di kopernya. Eskalasi konflik mulai menanjak. Belum lagi provokasi dan fitnah dari Koba, kera antagonis nan rapuh. Dia adalah kera yang punya pengalaman getir dengan manusia--tubuhnya pernah dijadikan "kera percobaan" di laboratorium.

Perseteruan antar kera kontra manusia tak terelakkan. Para kera pimpinan Koba yang terprovokasi menyerang manusia dengan senapan laras panjang. Perang yang tampak jomplang itu dimenangkan pihak Koba.

Kepercayaan dan kepemimpinan mungkin dua kata yang kita dapat setelah memeras isi cerita dalam film ini. Itu hal biasa! Menjadi luar biasa jika koridor cerita itu dilakonkan oleh kera yang berevolusi setara dengan manusia, juga ambisius dan brengsek seperti manusia.

"Dulu aku pikir kera lebih baik daripada manusia, namun kita ternyata memiliki kesamaan," kata Caesar sendu.

Dari sesi penokohan manusia tak ada akting yang menonjol. Justru akting Caesar, dalam ekspresi tubuh dan muka yang digerakkan oleh Andy Serkis (Gollum, King Kong), memancarkan pesona sepanjang film yang sulit kita abaikan. Sinematografi bernuansa muram ditampilkan dengan cuaca mendung yang panjang. Efek rekayasa komputer (CGI) sentuhan Hollywood nggak perlu diragukan. CGI melebur dalam naskah cerita mewujud nyaris sempurna; rapi, logis, dramatis, dan epik. Film ini ibarat makanan yang punya jejak rasa kuat di lidah usai kita menyantapnya. Kita, sebagai manusia, akan tersindir. Sindiran seperti apa? Tontonlah....

147. Ketika Transformers Dikhianati Manusia

Transformers adalah waralaba film robot tergemilang dekade ini. Film yang diangkat dari mainan produksi Hasbro Inc (Hassenfeld Brothers) ini berkisah tentang alien-robot dari Planet Saiberton, manusia menyebut mereka Transformers (karena bisa mengubah bentuk). Ada dua kubu Transformers yang berseteru: Autobots (dikomandoi Optimus Prime) dan Decepticons (dikomandoi Megatron).

Transformers terbaru dengan subjudul Age of Extinction berusaha lepas dari bayang-bayang remaja canggung, Sam Witwicky, dan benar-benar lepas sebab tokoh yang dibawakan Shia Labeouf terlupakan begitu saja.

TRANSFORMERS: AGE OF EXTINCTION
Pemain: Mark Wahlberg, Stanley Tucci, Nicola Peltz, Jack Reynor, Bingbing Li, TJ Miller.
Penulis cerita: Ehren Kruger.
Sutradara: Michael Bay.
Studio: Paramount Pictures

Setelah perang melelahkan antara Autobots dan Decepticons di Chicago empat tahun lalu, manusia dengan kekuatannya (IPTEK) berhasil menciptakan robot-robot baru demi melindungi diri. Autobots sudah tak dipercayai lagi, mereka terbuang, dan harus dimusnahkan oleh robot produksi KSI-perusahaan teknologi milik Joshua Joyce (Tucci). Contohnya purwarupa Galvatron yang mirip Optimus Prime tapi berjiwa Megatron. Robot ciptaan KSI sangat canggih karena berupa molekul (mungkin molekul metal?) yang bisa mengubah wujud.

Tapi Optimus Prime bangkit dari truk tua jelek milik duda kere, Cade Yaegar (Wahlberg). Yaegar sedang kesulitan finansial dan berusaha jadi ilmuwan yang bisa menciptakan robot pembantu manusia, lalu menjual hak patennya. Apa daya? Kebangkitan Prime terlacak oleh CIA. Dia, putrinya-Tessa (Nicola Peltz), pacar putrinya-Shane Dyson (Jack Reynor), karyawan bengkelnya-Lucas (TJ Miller), diburu CIA. Aksi kejar-kejaran antara mereka berempat di Texas sangat beradrenalin.

Joshua Joyce yang ambisius itu belum tahu bahwa ada robot-robot purba dari era prasejarah yang sudah bangkit, seperti dijelaskan pada prolog film ini. Mereka disebut Dinobots (Dinosaur robots). Perang tak terhindarkan, berpuncak di Hongkong, aksinya megah, jor-joran, dan natural karena mengambil gambar di sisi-sisi kumuh Hongkong.

Kehadiran tokoh utama baru yang dibawakan si gempal Mark Wahlberg terasa segar. Dia posesif terhadap anak semata wayangnya, penyayang, dan kadang lucu. Plot sisi relasi Yaegar dan putrinya lumayan klise ya. Bisa dimaafkan kok, kan ini bukan film drama keluarga. Tapi ekspresi tubuh aktor Wahlberg saat tokoh Tessa terculik pesawat luar angkasa cukup bikin hatiku nyeess.

Jangan lupakan rombongan Dinobots yang sangar itu. Huuh, tapi mereka unyu-unyu kok. Loh?