Rabu, 03 Mei 2017

199. Kartini, Sang Bunga Penutup Abad

“Tubuh boleh terpasung tetapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebasnya.”

Dalam catatan sinema Indonesia pahlawan nasional Kartini sudah tiga kali bangkit dari sejarah dan berlakon dalam film R.A. Kartini (1983), Surat Cinta Untuk Kartini (2016), dan Kartini (2017). Kartini terbaru adalah garapan Hanung Bramantyo di bawah payung Legacy Pictures dan Screenplay Production.

Kartini—Trinil (diperankan Dian Sastro), adalah anak seorang bangsawan Japara. Ibunya bukan bangsawan sehingga dengan terpaksa Kartini memanggil Yu (Bibi) pada M.A. Ngasirah (Christine Hakim). Bapaknya (Dedy Sutomo) menikah lagi demi menyinambungkan kekuasaan lantaran dia hanya wedana, untuk menjadi bupati mesti menikah dengan RA Moeryam (Djenar Maesa Ayu) wanita bangsawan. Plot cerita Kartini memang familiar. Tentang gadis-gadis Jawa dalam kungkungan budaya feodalisme dan patriarki. Ada Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita) saudara-saudara Kartini yang juga mengalami laku pingitan sejak hari pertama menstruasi hingga dilamar.

Dalam masa pingitan, masnya Kartini, Kartono, (diperankan singkat oleh Reza Rahadian), memberikan kunci keluar kamar pada Kartini sebelum Kartono studi ke Belanda. Kunci untuk keluar rupanya bukan makna denotatif, melainkan kunci lemari berisi buku supaya pikiran Kartini bebas terbang sejauh mungkin. Pengadeganan baca buku dan korespondensi oleh Kartini dengan temannya, Stella (Rebecca Reijman) di Belanda divisualisasikan satu dimensi dalam ruang Kartini. Cara yang diambil Hanung Bramantyo cukup segar.

Di era kolonialisme sosok Kartini dipuja oleh orang-orang Belanda, Ovink Soer (Hans de Kraker) dan istrinya. Tapi ibu tirinya, RA Moeryam, sinis padanya. “Setinggi apa pun kamu dipuji oleh londo-londo itu, di sini tetap aku yang paling tinggi.” Termasuk menghadapi masnya yang kaku, Slamet (Denny Soemargo). Bagaimana rintangan mengaral tatkala Kartini mengajukan beasiswa ke Nederland. Titik kulminasi memuncak saat Raden Adipati Aryo Sosroningrat, bapaknya, terserang strok ringan dan Kartini gagal meraih beasiswa kemudian menikah dengan Bupati Rembang Raden Adipati Joyodiningrat (diperankan dengan karikatural oleh Dwi Sasono). Lakon Christine Hakim sebagai ibu kandung Kartini tampil dengan wajah sentimental dan penuh bakti pada suami. Air matanya memancing kelenjar lakrimalis penonton. Secara keseluruhan mengharukan tanpa jatuh menyak-menyek sekaligus disisipi humor.

Film Kartini yang syutingnya sempat tertunda setahun ini menggunakan tiga bahasa, Indonesia, Jawa, dan Belanda. Dilengkapi teks terjemahan. Ada kata yang kurang teliti untuk disunting, semisal untuk kata depan di dan di- untuk prefiks verba pasif. Sementara transisi dialog Jawa dan Indonesia sering diucapkan simultan terdengar agak berantakan. Misal satu kalimat bahasa Jawa lalu selanjutnya bahasa Indonesia. Mungkin bisa satu alinea bahasa Jawa, alinea berikutnya Indonesia. Untuk logat Jawa cuma Pak Atmo (Bondan Nusantara) yang terdengar pulen. Dia berperan sebagai pembantu keraton. 

Kartini seperti bunga penutup abad. Abad saat posisi perempuan sekadar komoditi lelaki. Tidak punya hak dan posisi yang sama dalam sosio kultural dan pendidikan, tanpa mesti melawan takdir kodrati. Sebuah tontonan bergizi bagi generasi muda, meski kurang diminati—jumlah penonton kurang memuaskan (*)