Rabu, 08 Maret 2017

198. Sang Raja Diraja Hutan (resensi Kong Skull Island)

Melihat poster resmi Kong: Skull Island dengan nuansa lembayung senja terpaksa memancing memori poster film Apocalypse Now. Dengan latar tempat sama-sama Vietnam, dan kawasan Indochina umumnya, serta sungai dan perahu. Vietnam dan Hollywood ibarat sejoli mesra namun penuh kepalsuan. Sejak Amerika kalah perang dengan komunis Vietnam, Hollywood melahirkan sinema patriotis semacam tetralogi Rambo.

Dua tentara Jepang dan Amerika (era Perang Dunia II) mendarat di pulau berantah. Mereka bertarung hidup mati, muncullah sosok gigantik. Seekor primata (sebenarnya secara harfiah tidak berekor) dari spesies gorila. Primata yang secara DNA dekat dengan manusia setelah simpanse. Menurut catatan produksi, Kong 2017 lebih besar (85 kaki) dari King Kong 2005 (30 kaki).

Di era flowers generation, di mana The Beatles sedang didewa-dewakan, anak-anak muda menentang perang di Vietnam lewat sinematografi yang bertutur dari video-video footage. Dua orang ilmuwan Amerika meminta bantuan seorang senator untuk mensponsori misi mereka menjelajah pulau fiktif tengkorak di lautan Pasifik. Setelah perlombaan luar angkasa bersama Soviet, Amerika memasang satelit, memotret citra janggal di pulau itu. Senator menolak dengan dalih menghabiskan anggaran.

“Pak, Anda tidak mau kan keduluan Soviet?”

Seperti Asia Tenggara umumnya, Indochina juga baru 20 tahun merdeka dari Perancis. Vietnam masih dan sudah 19 tahun dicengkeram oleh aliansi SEATO yang melawan komunis. Dua ilmuwan (Bill Randa [John Goodman] dan Houston Brooks [Corey Hawkins]), fotografer jurnalis Time Mason Weaver (Brie Larson), sepasukan peleton yang dipimpin Letnan Preston Packarc (Samuel L. Jackson), dan prajurit bayaran  Inggris James Conrad (Tom Hiddlestone). Tak ketinggalan aktris Tiongkok Jing Tian sebagai San Lin si ahli biologi. Legendary kerjasama dengan Tencent Pictures asal Tiongkok demi merebut pasar menjanjikan di daratan itu.

Seperti insting hewan, mereka tidak akan mengganggu apabila tidak diganggu. Manusia selalu pongah merasa dirinya raja rantai makanan, sifat itu diperankan apik oleh Samuel L. Jackson. Tidak sampai seperempat durasi, Kong sudah mengamuk membantai iring-iringan helikopter pelempar bom. Kong Skull Island lebih simpel dan resep cerita apa adanya. Mereka masuk ke pulau neraka, bagaimana bisa keluar dari sana? Sudah. Kong adalah raja pulau hutan penyeimbang ekosistem. Musuh terbesarnya adalah kadal serupa komodo berkaki dua berjulukan Tengkorak Yang Merayap. Kadal ini lebih sangar dari T-rex di film sebelumnya. Dan fauna-fauna di Kong lebih sedikit. Hanya ada tarantula raksasa, semacam Pterodactyl, kerbau raksasa, belalang kayu, dan gurita. Tidak banyak yang buas.

Latar waktu 70an maka musiknya juga musik masa itu. Cuma tidak ada lagu Queen, The Rolling Stone, John Lennon 😁. Ada David Bowie sih. Penyuntingan visualnya bagus ya, termasuk footage, kuburan gas yang kekuningan itu, dinding-dinding api, desain make up suku pedalaman, dan panorama alam. Audionya khas film musim panas. Kursi sampai bergetar dan bokong cukup geli. Kong buatan Legendary ini disutradarai oleh sutradara yang portfolio karyanya belum banyak, Jordan Vogt-Roberts. Rencananya Kong akan satu semesta cerita dengan Godzila tahun-tahun mendatang. Harap bersabar beberapa menit setelah credit-title sebab ada adegan tambahan. 

Nah, Kong Skull Island masih cocok ditonton sekeluarga. Sensornya untuk 13 tahun ke atas. Mengandung adegan kekerasan dan agak sadis. Moderat lah.