Minggu, 06 Desember 2009

96.Secarik Gelitik di Tangan Mistik


Berselancar dengan mesin waktu,yuk! Kita mindik-mindik ke kamarnya Nobita, lalu masuk ke laci belajarnya. Doraemon kan mengatur mesin waktunya di situ. Yup, kita ke tahun 2000, ketika saya masih berusia 13 tahun. Kala itu saya sedang mabuk judi, judi togel (toto gelap). bukan ala kasino di Vegas. Ini semacam tebak nomor, caranya kita membeli dengan karcis karbon seharga mulai dari Rp 1.000. Satu nomor--yang tersusun atas dua, tiga ,atau empat digit--harganya Rp 1.000. Gambarannya, 1234, 234, atau 34. Per nomor bisa dibeli lebih dari sekali. Maka di karcis akan tertulis 1234x3, berarti beli nomor 1234 sebanyak tiga kali. Jika nomor itu yang keluar, maka si pembeli (penjudi) mendapatkan tiga kali lipat.

Namanya juga masih putih biru, yang uang sangunya Rp 2.000, kalau sudah berjudi konsekuensinya nggak jajan di sekolah besok. Manakala gemerincing lonceng istirahat membahana, saya hanya ada di perpustakaan, dikira kutu buku. Ketika kawan-kawan menjilati manisnya es bonbon, saya tak mau kalah, saya juga jilati asinnya air mata ini. Jikalau mereka keringatan sebab kenyang, saya malah keringatan sebab lapar. Kutu kupret tuh togel, bikin gue sangsai! Pun kalau harus membayar biaya fotocopy. Tampang saya akan pucat pasi mirip Edward Cullen. Bilamana sudah begitu, kawan-kawan dengan berbesar hati akan menolongku. Kalau sampai Sang Jawara Kelas nggak ditolong, mereka akan keringat dingin, takut nggak dikasih contekan lagi. Ha ha ha ha, NARSIS!

Mekanisme judinya kurang lebih seperti ini, tiap empat hari kita diberi selembar kertas ramalan oleh seorang agen bandar (judi). Kontennya di antaranya bermetafor begini, "matahari di atas lautan, hewan-hewan mendekat", plus disertai angka-angka petunjuk. Jika Anda cermat, pasti menjawab hewan laron. Kemudian kita mencari kata laron di buku ramalan mimpi khusus togel. Di situ, misalnya, kita menemukan nomor 57 untuk kata laron. Lalu kita meracik (ngecak) angka itu, contoh modifikasinya 1257, 3575, 575, 12, dst. Paginya seorang agen menempelkan secarik kertas berisikan nomor yang keluar, amsalnya 7512. Kalau kita pasang 3312 dan/atau 12, maka kita dapat buntutnya. Jujur saya nggak pernah dapat, hiks hiks hiks. Dan jika sohib saya yang dapat, saya tentu ditraktir untuk minum-minum. Maaf nih, saya nggak mau mabuk sajang,anggur, bir, apalagi jamu. Tahu Intisari? Itu jamu vitalitas untuk emak-emak yang habis beranak. Aturannya minumnya satu sloki, mereka satu botol. Jadi terngiang-ngiang lirik lagu dangdut, "Sudah mabuk minuman ditambah mabuk judi/Masih saja kakang tergoda janda kembang/Tak sudi, ku tak sudi." Saya pernah curhat ke ibu saya, "Ma, aku lagi berhubungan sama janda." Ia spontan menyergah, "Cari yang perawan!" Saya kaget dan menimpali, "Maksudnya perempuan hartawan?" Beliau pun mengangguk setuju. Ibu dan anak bujangnya ternyata sama gendengnya.

Bukan hanya meramal dari kertas ramalan dan mimpi, namun juga dari peristiwa hot yang baru terjadi. Salah satunya ialah tragedi tabrakan antara kereta api dengan angkot mikrolet di Bintaro. Salah satu korban yang kepalanya buntung, terseret hingga ke TPU Tanah Kusir, dan tergeletak di plang Semboyang 35 (panduan masinis untuk membunyikan klakson). Saya memprediksi angka itu (35), tapi alpa untuk membelinya. Alhasil, esoknya keluar. Huh....

Penjelajahannya cukup, kita kembali ke lorong waktu. Ingin cerita lebih banyak, tapi nyokap gue yang bawelnya persis nenek-nenek encok itu, tiba-tiba menelpon. Katanya si Tuminem lagi nonton The Twilight Saga:New Moon, terus saya yang disuruh cuci piring. GEMAZ!!!

Tidak ada komentar: