85. Senjataku


nafasku terendam dalam kubangan zaman
zaman di tepi penghabisan
poranda, lantah, musnah oleh yang mereka ciptakan sendiri
lalu, aku?
kumerangkak di atas jembatan takdir
goyah...getir... menyiksa, namun romantis
kupamerkan jajaran remuk gigiku
tersenyum, walau tak selayaknya tersenyum
aku masih bisa tersenyum

Kautunjukkan padaku, suka, duka, dan rasa di antaranya
Kautunjukkan padaku, benar, salah, namun tidak yang di antaranya

kupegang tali keyakinan
kutapaki padang keihklasan
dan dengan senjataku (doa), kulumpuhkan buruknya takdirku
hingga kuterjungkal karam di lautan hikmah


Sudarmanto s

Komentar

Postingan Populer