Sabtu, 22 Oktober 2011

122. Hadiah yang Kosong


Cerpen karya Abu Waswas



"ALHAMDULILLAH! ANE MENANG HAPE!" teriak Rasyid berjingkrak-jingkrak. Sementara Hans, sobatnya, bermuka kecut.

Simelekete!" cibirnya.



Dua penganggur ini kerap melekat ke mana pun arah angin menuju. Bersepeda ria di jalur bebas kendaraan bermotor, tahlilan orang mati ataupun selametan wanita bunting, hingga seiya setidak dalam berpartisipasi dalam program hadiah uang dan barang-barang bermartabat.



Siang berawan ini Hans punya agenda segudang, dari memenuhi undangan interview di kantor perusahaan minyak goreng, mengunjungi galeri seni rupa agar tampak menjadi warga urban yang melek seni (walau kenyataannya tidak!), hingga jalan-jalan ke mall (hanya jalan-jalan). Sudah tentu, sudah pasti, sudah yakin ia akan ditemani oleh Rasyid, sobatnya yang alim itu.

"Gimana tadi wawancara ente, Hans?" ujar Rasyid sambil mengamati lukisan kubisme yang tak ia pahami.

"Biasa aja," balasnya meninggalkan si penanya.

"Astagfirullah, gitu aja ente ngambek, Hans!"

"Siapa yang ngambek? Gue cuma tahu diri aja, Syid. Cuma lulusan SMA," gerutunya.

"Jangan gitu, kan ente cuma ngelamar jadi buruh pabrik, bukan manajer."

"Yup, I know. Tapi kan banyak pelamar. Nah kalau gak ada uang pelicin atau orang dalam, bakal susah." Rasyid mematung di samping patung harimau berbahan tembaga. Ia tak hentinya komat-kamit melafalkan asmaul husna bersama kenaifannya sendiri.



Di sela-sela jajaran toko dan interior yang cantik, menarik, dan eksotik, mereka cuma wara-wiri beserta ludah mereka yang hambar bin tawar. Tiada segelas sirup rasa lemon untuk sekadar pembasah kerongkongan ataupun pemanis mulut. Pun tiada karcis bioskop di genggaman, yang mana ingin sekali menyaksikan kekocakan dan atraksi silat si Po Panda dkk.

"Eh Hans, udah ada pengumuman belum hadiah kecap botol cap Bebek?" tanya Rosyid yang lalu duduk di sebuah bangku cuma-cuma.

"Nama gue gak ada."

"Sabarlah, mungkin belum rejekinya. Padahal hadiahnya lumayan; kulkas, motor, laptop, uang. Kan kalau dapat bisa buat modal buka usaha pondok bakso," harapnya dengan diiringi kesabaran.

Lagi-lagi keduanya melamun di hamparan orang-orang yang modis, klimis, dan manis. Dalam tertegun, Hans membaca poster yang terbentang di beranda toserba.

"Syid, daripada elu nanya mulu apa lamaran gue diterima atau gak, mending kita ikut itu aja!" Ia setengah berteriak dengan jari mengacung ke tulisan: Menangkan hadiah utama satu unit BMW dan hadiah hiburan lainnya dengan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk memakai deterjen Gaya!

"HAHAY!!!" Berpijarlah bohlam 100 watt di atas kepala Rasyid.



Demi sejumput tujuan mulia, Rasyid dan Hans memasang target untuk menggaet sebanyak-banyaknya pemakai deterjen Gaya. Mereka melancarkan aksi demo persuasif dari pintu ke pagar, kost ke kontrakan, pagi ke siang, dan siang ketiduran.



Gayanya sudah seperti sales kantoran. Padahal nasib menuntunnya menjadi pengangguran. Niat mereka sekeras baja. Usaha mereka sungguh-sungguh menginjak keluh. Daya lenting mereka selentur rotan Kalimantan.



"Hans, pagi ini ente ke perumahan RT sebelah, ane di RT sini dulu," aju si Rasyid.

"Oke deh. Gue pasang target 10 orang hari ini. Jangan lupa, selain bungkusnya, elu minta juga fotokopi KTP-nya."

"Insya Allah, niat kita jadi barokah," doa Rasyid dengan tangan dan kepala menengadah ke langit.

"Aamiin."



Hans yang pemalu semakin malu tatkala ia mesti memalukan dirinya sendiri di hadapan para ibu dan remaja putri yang tersenyum malu. Ditambah ada Sri yang lirak-lirik dengan rambut yang ia kibaskan penuh kesan. Ia menciut. Ia gemetar. Tak pernah ia mempelajari ilmu penjualan.

"Kamu promosi apa sih?" tanya Sri mesam-mesem.

"A...a...anu, Sri." Gagap mendadak.

"Anu apa hayooo...," ledek Sri.



Ia melamun memandang kecantikan alami wajah Sri. Sri laksana spora bunga desa yang terbang terbawa angin urbanisasi. Akibat dari penyerbukan yang subur ia mekar berjajar di jalanan metropolitan. Gadis sanjai sederhana yang mematik naluri lelakinya hingga berkobar, membakar tiap tetes birahinya yang panas. Ia berhasrat untuk mempersuntingnya jika memenangkan hadiah utama BMW. Seandainya.... Apabila... Bilamana....



"Anu, aku lagi ikut program mencari sebanyaknya pemakai deterjen Gaya. Aku dan Rasyid jadi agennya," bebernya lancar.

"Oh gitu. Memang apa bagusnya Gaya?"

"Bisa mengangkat noda membandel, menjaga serat kain agar tetap lembut, dan harum pastinya," promonya dengan senyum tersungging di gigi yang kering. Serta merta gadis berambut panjang legam itu mendekatinya, meraba kaosnya dan mengendus pada bagian dadanya.

"Betul. Lembut dan harum, hehehe..."

Seutuh jiwa dan raga Hans terjeblos ke mulut bumi. Terus terperosok dalam magma endorfin yang meletup-letup.



Derap segerombolan kaum bapak dan pemuda keluar dari rumah yang menggelar kenduri nujuh bulanan. Dua sekawan, Hans dan Rasyid, ialah peserta yang tak pernah absen pada acara serupa. Kehadiran orang-orang macam mereka diperlukan untuk periuh suasana dan pendukung supaya doa-doa terpanjat tembus ke langit.

Rasyid setengah berlari ke arah Hans yang berbalut koko putih dan bersarung hijau terang setengah betis.



"Assalamualaykum," salamnya, terengah-engah.

"Waalaykumsalam."

"Tadi ente siang dapat berapa?"

"Wah, menakjubkanlah. Gue laksana ketiban durian gundul, hehehe," ujarnya terkekeh geli.

"Alhamdulillah. Ane mau tahu ente dapat apa, Hans?"

Ia menepuk pundak Rasyid. Lengkung alisnya menggeliat. Nasi berkatnya ia angkat. Lalu dengan ligat ia merampas songkok putih yang bercokol di kepala Rasyid. Ia kabur dengan tawa yang berderai derai.

"Astagfirullah! Woy, kembalikan peci ane!”

"Berita sukacita dan peci bisa didapatkan di rumah gue, hahaha..."



Di beranda rumah Hans, mereka menjumlah bungkus per bungkus deterjen hasil perjuangan melumpuhkan rasa gengsi. Kepulan asap membumbung terurai desau angin malam. Sisa-sisa sendawa meledak dalam bahasa kenyang.

"Masa tiga hari cuma terkumpul 70 bungkus sih," keluh Rasyid.

"Betul! Kita bisa kalah banyak dari agen lain yang berkonspirasi dengan pihak penyelenggara," tukasnya.

"Konspirasi apa tuh? Ane kagak ngerti, Hans."

"Kongkalikong."

"???"



Ia menyambit tarbus merahnya ke muka Rasyid yang melongo. Ia menawarkan strategi.

"Kalau lamban gini, kapan gue bisa ngelamar Sri. Gimana kalau kita memanfaatkan pak RT supaya dia bisa mengimbau warganya untuk pakai deterjen Gaya."

"Cuma mengimbau?"

"Iya, kan dia punya kuasa dan disegani. Begitu warganya nurut, baru kita ketuk door to door tanpa perlu mempromosikannya lagi. Hemat waktu, jadi kita bisa lebih cepat dan dapat banyak!" tegasnya mantap.

"Target kita pak RT sebelah, Pak Widodo."

"Persis!"



Pak Widodo masih sibuk dengan burung prenjak jawa kesayangannya. Ia menyemprotnya agar lebih segar. Siulannya beradu dengan cit cit cuit sang burung yang lincah.

"Assalamualaykum, Pak Widodo," salamnya menghatur dengan map biru terlampir brosur informasi program deterjen berhadiah.-

"Waalaykumsalam. Eh kamu, Hans," sahutnya sembari menggantungkan sangkar bambu ke langit-langit serambi.

Pak Widodo menggiring tamunya ke dalam. Sementara ia nyelonong ke kamar tidur meninggalkan Hans di ruang tamu.

Ia kembali dengan segepok kartu undangan bercorak batik yang cantik lagi harum.

"Kamu ada perlu apa? Mungkin bisa saya bantu."

"Ini Pak," jawabnya. Hans mengangsurkan mapnya.

"Oh hadiah Gaya itu. Oke, gampanglah. Nah, coba kamu bagikan undangan pernikahan ini ke warga saya."

"Pernikahan siapa, Pak?"



Hans membanting segepok kartu undangan itu di hadapan kawan karibnya. Rasyid terpental ke arah tenggara. Mukanya tegang melintang. Dan wajah Hans berang meradang.

"Astagfirullahal 'azhiim, sabar deh ente, Hans."



Mukanya yang layu bertambah mendayu. Gemericik air hujan di luar bersuara bisu. Guntur nan sangar terdengar sendu. Parasnya yang sebam kian kelabu.



Ia tak mengerti lagi bagaimana mesti membawa harapan. Ia tak paham lagi harus bagaimana memintal impian. Dan ia tambah tak tahu lagi bagaimana meninggalkan sebuah cita-cita.



Ia belum kuasa beranjak dari bayangan hitam yang semakin hitam tersiram silaunya cahaya masa depan. Bayangan yang lahir dari seberkas angan-angan dan tuntutan yang bersetubuh dalam lelapnya malam. Dan sialnya, bayangan itu hanya hadir manakala ia berdiri di bawah silaunya bintang masa depan. Ia pun tak memiliki kekuatan untuk memilih. Juga takdir memilihnya supaya ia tak punya kekuatan.



Lima hasta dari tempatnya duduk, kawannya yang setia ikut terselubung atmosfer yang berkemelut. Ia tergugu dalam hanyut udara yang kian karut-marut. Seharian ini Rasyid sedikit bicara mengimbangi dirinya yang tengah kalut. Ia sadar dan paham bahwa Hans tak perlu wejangan yang bikin dirinya ringan. Apalagi ia tak butuh ceramah yang membuat jiwanya cerah.

"Kau butuh bersembunyi dalam tempurung sunyi," tutur Rasyid puitis.

"Sedangkan pujaan hatiku bersembunyi dengan bidadara yang merdu bernyanyi," timpalnya pilu.



Rasyid menghampiri rumahnya yang terjilat juluran lidah cahaya surya. Sang subuh baru saja dijemput sang waktu yang angkuh. Jendela kamarnya tak mengembuskan napas kehidupan. Masih rapat terhalang tirai menjuntai.

Ia mendapati Hans terkulai loyo bak kurang kalsium. Mukanya dibenamkan di bantal yang tak lagi harum. Rasyid mengguncang bahunya yang tanpa baju. Ia hendak mengutarakan sesuatu.



"Hans, ente seminggu ini mengurung diri terus di rumah. Boro-boro mau bantu kejar target. Masa gara-gara Sri kawin, cita-cita kita berdua kandas," ulasnya.

"Yeeh... kata elu, gue kudu bersembunyi dalam sunyi."

"Yaah... seruan ane berubah jadi sesat."

"Tadi lu bilang apa, gara-gara Sri kawin cita-cita kita berdua kandas," tegasnya, ia bangkit seraya mengelus dadanya yang kokoh dan atletis.

"Betul begitu."

Hans beranjak, meraih kaos katunnya. Tak lupa ia menjinjing sepatu bola favoritnya. Rasyid mengikutinya.

"Mau main bola?"

"Yoi. Ngapain juga patah hati dikelonin di kasur." Ia menjalin temali sepatunya di ruang tamu.

"Secepat itukah?"

"Yee... tadi lu yang nasihati gue. Hati tuh sulit diatur sama otak, makanya gerakin aja sama otot, yaitu olah raga.

"Intinya, dipaksakan," simpul si Rasyid.

"Persis."



Hans memerhatikan para wanita berkumpul di rumah Sri usai bersepakbola. Rumah pengantin baru itu riuh rendah oleh bahak mereka.

"Ada apa, Syid?"

"Entahlah."

Ia bertanya pada seorang ibu yang keluar berjalan mendekatinya. "Kenapa bu, ada ramai-ramai di sana?"

"Oh... kami menukarkan bungkus kosong Gaya dengan gelas ini," pamer si ibu.

"Bukannya warga sini jadi target ente, Hans? Itu janji Pak Widodo, kan?" Rasyid mengingatkannya.



Ia menyetil senar gitar diiringi lengkingan jangkrik, gumaman kodok, dan lenguhan dorbia. Kini ia mampu bernyanyi dalam tempurung sunyi. Namun segala lamunannya robek tersayat gemuruh gesekan udara oleh pesawat jet di atas rumahnya. Tempurung sunyi makin melantunkan bahasa sunyi yang sejatinya tatkala sahabatnya sedang tak ada di sisinya.



Mulutnya terasa lidas menyairkan bait-bait berjudul Asap Rokok. Syair tanpa kata, tanpa diksi.

"Apa yang kau cari, Hans?" Bisikan bertanya dari telinga kanannya.

"Kebahagian," jawab hatinya.

"Bukankah engkau belum mengosongkan tempurung sunyi untuk kau isi dengan kebahagian dan kesedihan."

"Aku belum sanggup. Aku masih terlalu hijau."

"Maka dengan begitu kebahagian dan kesedihanmu takkan pernah bersandar pada penciptanya."



Lengkung senyum dan deret gigi kinclong tergambar di paras Hans dan Rasyid Minggu terik ini. Bagaimana tidak. Hans--tentu saja Rasyid kecipratan--memenangi undian berhadiah televisi LCD 32" yang disponsori perusahaan susu tersohor.

"Alhamdulillah, selama setahun gue ikut bersepeda di jalur car free day, akhirnya gue dapat hadiah, hahaha," tawanya girang.

"Alhamdulillah, itu rezeki ente. Bagi ane dong... kan ane yang maksa ente berangkat subuh tadi," tagih Rasyid mengharap.

"Oke deh. Padahal kalau kita menang BMW itu kan bisa untuk investasi. Modal UMKM."

"Sudahlah, yang itu kan rezekinya Bram.



Laju sepeda mereka melesat kencang tak terkendali menghantam pantat sedan luks di tikungan curam. Mereka terhuyung, ambruk ke aspal. Mengeluh, meringis, mengutuk tumpah ruah dari mulut mereka. Sang pemilik menghentikan sedannya, turun, kemudian menghampiri mereka.



"Bram," sapa Hans terkejut.

"Hans. Kalian perlu ke rumah sakit?"

"Oh tidak! Cuma lecet dikit dan untung pakai helm," tolaknya pura-pura gagah.



Mereka tergesa-gesa mengangkat sepeda yang tergolek lesu. Jok telah diduduki, pedal siap dikayuh.

"Hans, kamu baik-baik saja?" tanya seorang wanita ayu yang baru keluar dari jok depan. Mukanya cemas dan maras. Parasnya masih alami. Dialah pujaan hatinya yang dulu. Ya, ketika dulu.



Jakarta, 18-21 Oktober 2011

Tidak ada komentar: