Minggu, 06 September 2015

171. Konflik Tanah Leviathan

Kata Leviathan tertulis di Kitab Ayub (Injil). Kepercayaan Kristen cenderung mengasosiasikan Leviathan dengan setan. Dalam wujud mitologi berupa naga berkepala banyak di samudera.

Dalam film buatan Rusia yang pertama kali dirilis di De Cannes Mei 2014, Leviathan menjadi semacam simbologi kejahatan atau kehancuran atau cobaan dari dalam dan luar diri.

Cerita bermula dari Koyla (Aleksei Serebryakov), si mekanik mobil, dan istri keduanya, Lilya (Elena Lyadova) serta anak bujangnya yang bengal, Roma (Sergey Pokhodyaev). Yang mana, properti pribadi mereka akan dibebaslahankan oleh negara demi kepentingan umum, dalam hal ini akan dibangun menara telekomunikasi oleh Walikota Vadim (Roman Madyanov), di wilayah Pribrezhny. Biaya kompensasi ganti rugi yang rendah bikin Koyla gusar dan harus melawan balik dengan menyewa pengacara dari Moskow, Dima (Vladimir Vdovichenkov).

Dalam konflik agraria di banyak negara, rakyat yang terusir selalu menjadi pecundang yang dimarjinalkan. Apalagi hukum selalu tumpul ke atas. Walikota Vadim sebagai sosok licik munafik tentulah punya kekuatan untuk melawan balik dengan tangan kotornya. Dia mengancam Dima, memfitnah Koyla, dan membeli hukum.

Apalah daya semut melawan gajah?

Berdurasi 140 menit, film pasti akan membosankan bila terus menyorot sengketa tanah antara rakyat dan pemerintah. Rangkap sebagai sutradara dan penulis, Andrey Zvyagintsev dibantu Oleg Negin merancang cerita dalam sub plot yang tidak mengganggu plot utama. Perselingkuhan Dima-Lilya, pemberontakan ala remaja--Roma, dan kepercayaan Dima-Kolya. Juga efek dari tema cerita utama; di manakah keadilan bagi rakyat biasa?

Nuansa muram dari cara bertutur dan merekam gambar menjadikan Leviathan lebih serius dan kelam dibanding kompetitornya di Oscar 2015 yaitu Ida dari Polandia. Mungkin para juri Oscar masih merasa film-film Yahudi macam Ida masih seksi dan menggemaskan.

Tema konflik agraria atau sengketa tanah masih sangat relevan di kehidupan masyarakat kita. Baik yang berdampak pada kerugian material dan non material maupun kerugian lingkungan hidup. Seperti sengketa tanah Mesuji di Lampung, kontra warga Rembang dan PT Semen, termasuk seringnya bentrok petani-TNI yang detailnya bisa ditelusuri sendiri di Google.

Tidak ada komentar: