Selasa, 15 September 2015

173. Distopia Rasa Zombie

Saga distopia dengan tokoh para remaja ini masih berlanjut dari film pertamanya tahun lalu, The Maze Runner. Babak kedua kisah ini berjudul The Scorch Trials.

Setelah melalu ujian berat di labirin (maze) para Glader yang selamat "diselamatkan" oleh W.C.K.D. di markas berdinding baja tebal. Tempat yang nyaman dan aman bila dibandingkan di labirin dulu, begitu kira-kira kata Newt (Thomas Brodie-Sangster). Namun Thomas tidak percaya begitu saja terlebih ketika Teresa (Kaya Scodelario) dibawa anggota medis tanpa penjelasan.

Menurut Thomas (Dylan O'Brien) dan temannya, Aris (Jacob Lofland), W.C.K.D menyimpan banyak rahasia dan konspirasi. Mulai dari menggembleng ketahanan tubuh para remaja di labirin hingga mencapai sistem imun tubuh yang berevolusi maju. Darah (serum) mereka bisa menjadi vaksin untuk mengobati infeksi suar (virus zombie).

Karena dipenuhi syak wasangka, Thomas dkk memutuskan cabut dari markas WCKD. Pemeo klasik: keluar kandang singa masuk mulut buaya; itulah yang terjadi pada bocah-bocah remaja itu. Di luar markas, area yang disebut Scorch sebagai ekosistem gurun tandus dan berbatu, mereka mesti bertempur melawan panas, haus, petir, dan zombie. Tujuan mereka ke pegunungan di mana faksi Right Arm bermukim. Right Arm ialah faksi yang melawan WCKD.

Dalam perjalanan ke gunung itulah naskah film bergulir sebagai wujud sinema beraroma horor-ilmiah dengan bahan baku zombie dan geledek.

Entah apa filmnya terlalu berlarat-larat atau memang naskah adaptasinya yang encer dengan durasi mubazir 130 menit, Scorch Trials bikin saya menguap berkali-kali. Sebagai bukan pembaca novelnya kok aku merasa ada yang salah dengan naskahnya. Dan aku yakin sekalipun mungkin naskah aslinya (novelnya) jelek paling nggak dia punya semacam kedalaman sensasi atau suasana atau apalah itu.

Masa iya sementah ini (setengah mateng sih)? Akting pemain-pemainnya medioker, sisi dramanya kurang emosional, gangguan zombie yang terkesan murahan, pokoknya ibarat kamu minum es teh manis segelas cembung tapi kurang gula dan es batu. Saya rasa Mas Wes Ball (sutradara) nggak suka es teh manis LOL.

Tetapi... sinematografinya bagus sih.

Tidak ada komentar: