Minggu, 11 Desember 2016

195. Aksi Amnesia Yang Mudah Terlupakan [review Headshot 2016)

Bagaimana film laga yang bagus? Yang banyak bercerita atau banyak beraksi? Keduanya bisa bagus. Cerita ibarat aliran sungai dan para aktor berlayar dengan perahunya (juga komponen-komponen lain penyokong pelayaran). Bicara Headshot teringat The Raid 2: Iko Uwais, Julie Estelle, Very T. Yulisman, silat, sadistis, namun naskah Headshot teramat tipis sehingga terasa begitu kepayahan mengejar sekuen-sekuen laga nan begitu padat.

Dengan prolog kerusuhan adu tembak di penjara, adegan berganti ke sosok Ishmael/Abdi (Iko Uwais) bersama dokter muda-cantik Ailin (Chelsea Islan)—terbaring di ranjang dengan diagnosis amnesia retrogade akibat trauma tembakan. Mengingatkan akan film laga terkeren Oldboy (2003) yang amnesia akibat hipnosis. Ishmael tidak kenal siapa dirinya dan apa yang terjadi padanya. Fragmen per fragmen memori Ishmael muncul bersamaan dengan stimulus yang diterimanya.

Kerusuhan di penjara ada hubungannya dengan Ishmael. Lee (Sunny Pang) ialah gembong pemasok senjata haram yang merekrut anak-anak pesisir untuk dijadikan mesin pembunuh. Dia disebut bapak-dari-neraka. Lee bersama anak-anaknya: Rika (Julie Estelle), Tejo (David Hendrawan), Tano (Zack Lee), Besi (Very T. Yulisman) memburu Ishmael untuk dibantai. Menjadikan Ailin sebagai umpan.

Dengan aksi tembak-tembakan ala sinema yang suka melanggar logika (perhatikan jumlah pelor yang ditembakkan pada duel Abdi-Tejo), adu silat, tusuk-tusukan disertai darah segar menghambur dalam gerakan lambat, Headshot membuat meringis dan hati jeri. Sayang, terlalu banyak bikin jenuh dan garing. Seperti rumus abadi: terlalu banyak hantu nongol dalam film horor, rasa ngeri akan kebal. Terlalu melodrama dalam film romansa, akan terasa picisan.

Sutradara duo Kimo Stamboel-Timo Tjahjanto (Timo rangkap sebagai penulis) bagi saya kurang berhasil memegang Headshot. Tapi sinematografinnya cukup memesona. Akting aktor Singapura Sunny Pang lah yang cukup mencuri perhatian. Pemilihan Chelsea Islan sebagai dokter Ailin seperti salah pilih aktris. Kalau yang dipilih Nurul Arifin sepertinya akan meyakinkan, sayang dia sudah tua.

Headshot tidak terlalu buruk, tapi juga tidak sebaik The Raid 2. Gampang terlupakan, tak membekas di hati.

Tidak ada komentar: