Selasa, 06 Oktober 2015

177. He Was Alien, He Was American-alien

Misi Ares III merupakan misi NASA di Planet Mars. Sekelompok astronot yang dipimpin Melissa Lewis (Jessica Chastain) membangun anjungan di wilayah Acidalia Planitia. Suatu malam, terjadi badai yang super ganas dan mampu menggulingkan pesawat. Mereka lepas landas darurat, dan meninggalkan Mark Watney (Matt Damon) yang tergulung badai dan diduga tewas.

Tetapi Watney selamat dan hidup sebatang kara di planet merah itu. Komunikasi dengan NASA terputus. Kalaupun harus menanti penjemputan,  itu memakan waktu tahunan. Sementara, Watney semakin kekurangan pangan dan air. Mars planet tandus. Sebagai botanis, Watney menanam kentang di Habitat (tempat yang dirancang khusus untuk manusia) dengan pupuk kotoran manusia dan air dari pembakaran hidrogen dan oksigen. Hari demi hari (atau sol demi sol--satu solar/satu hari di Mars~25,67 jam), Watney mampu bertahan dengan kentang dan musik disko.

Sampai suatu hari, kompresi di kompartemen tempat tumbuhan kentang tidak stabil hingga meledak. Melenyapkan ladang kentangnya.

Sementara di Bumi, di tubuh NASA,  setelah mendapat kabar keselamatan Watney mereka berdebat, haruskah menyelamatkan astronotnya dengan konsekuensi tambahan anggaran juga mesti mengorbankan keselamatan lima astronot lain.

Direktur NASA, Teddy Sanders (Jeff Daniels) merasakan dilema antara mengorbankan satu nyawa (Watney) atau mencoreng institusinya. Sanders berseberangan dengan Henderson (Sean Bean) dan Vincent Kapoor (Chiwetel Ejiofor) yang optimis.

Komandan Melissa Lewis dan para astronot , Rick Martinez (Michael Pena), Johansen (Kate Mara),  Chris Beck (Sebastian Stan), dan Alex Vogel (Aksel Hennie) berusaha menolong Watney tanpa harus mendarat di Mars.

Secara sinematografi The Martian memang jawara. Pembawaan aktor Matt Damon sebagai astronot penuh tekanan juga apik. Ada saatnya dia bergurau sendiri dan nangis sendiri. Juga bagaimana transformasi fisiknya, dari gempal menjadi kurus. Kehadiran musik lawas di Habitat cukup menganulir kesunyian di Mars yang mana lebih sering terdengar suara badai.

Untuk segmen di Bumi ya standar khas Hollywood. Perdebatan dan obrolan berdiksi sainstifik. Nggak perlu mumet lah sama obrolan mereka. Ambil saja benang merahnya dan anyaman cerita bakal mengasyikkan.

Dan adegan tepuk tangan kegirangan banyak banget muncul di ruang kontrol NASA dan bikin basi. Adegan basi ini sebetulnya bisa elegan kalau ditakar pas dosisnya. Termasuk, karakter-karakternya bisa dipersempit aja. Biar nggak mubazir dan menyesakkan layar. Misal si tokoh Rich Purnell (Donald Glover), ahli astrodinamika itu dikembangkan lebih banyak. Dan aktor-aktor Tiongkok dieliminasi aja. Well, memang pasar di Tiongkok besar sih buat Hollywood tapi jangan dikit-dikit Tiongkok. Kita kan jadi jenuh. Kalau bisa bikin subplot parsial aja khusus Tiongkok kayak Iron Man 3 itu loh.

Intinya film Ridley Scott ini keren lah, walau secara drama-emosional masih di bawah Interstellar-nya Christopher Nolan.

Tidak ada komentar: