Rabu, 14 Maret 2012

128. Kado untuk Stefani (episode 3)


Andrew memanjat pohon berbatang nila. Ia berusaha meraih sekuntum bunga paling indah dan besar yang bermahkota di pucuk pohon. Berhasil. Serta-merta....



"Andrew!" Ia terjungkal. Telentang di hamparan butir-butir emas. Kudekati. Lantas ia tersenyum waktu mengangsurkan ratu bunga padaku.



"Harum sekali kembang ini," ulasku. Terpejam. Belum pernah sebelumnya wewangian ini terhirup. Baik puspa dari bumi tropis maupun puspa dari bumi empat musim. Terlena. Ia telah berlari menjauhiku ke kerumunan pemuda yang meniup serunai berlanggam syahdu nan merdu.



"Andrew sayang, kamu hendak ke mana?" Pengejaranku terhalang dinding halimun tebal. Aku di pinggir sungai susu. Pikiranku, dia bersembunyi ke arah estuaria di kuala sungai.



Ya habibah, aku di sini." Jubah putihnya berkibar. Kemah miliknya tampak agung dan kemilau. Dia kususul. Kupeluk. Erat. Melekat.



"Kamu jangan tinggalkan aku." Pintaku manja. Keningku dikecup. Mendamaikan.



"Ya maula, maaf, hidangannya sudah datang." Dari luar kemah, seorang pelayan memohon izin masuk.



"Silahkan," sahutnya, duduk di tempat tidur yang pinggirannya bertabur manikam aneka warna.



Pelayan masuk membawa dua nampan perak. Satu nampan berisi dua gelas kaki dan seteko khamr. Satu nampan lainnya tergolek burung bakar. Menteganya melumer ke dasar.



Si pelayan mohon undur. Rambutnya berkilau dan harum. Seperti disemir dengan pomade. Di pinggangnya, terpasang sebilah keris.



"Ya habibah, mari kita nikmati hidangan lezat ini." Andrew mempersilakan, menarik kursi untukku. Kami berhadapan di antara meja pualam. Aih... getarannya bikin perutku mulas.



Kubalikkan piring logam bermotif segi oktagonal. Diambil olehnya. Ia menyobek seiris daging untukku. Kupetik sebutir anggur dalam keranjang. Kusorongkan ke mulutnya. Dia mengunyah seraya tersenyum. Hidungku dicubit.



Tak perlu instrumen untuk menimbulkan irama musik. Cukup deburan ombak dan cericit ciblek lincah. Serta kami berdua sudah menjadi nada-nada yang padu dan satu, meski tetap ada timbre sewaktu kami mendendangkan tembang tentang sejoli yang ingin hidup abadi di tepi nirwana.



Ada yang masuk. Pedang mengacung. "Hai Stefani!!!" Berteriak keras sekali. Lelaki itu. Dia betoga merah kental. Tommy. Kemunculannya mengejutkan agenda percumbuan kami.



"Kakanda Tom." Aku menyahut. Kepergok. Alamat leherku bakal dipenggal.



Klang! Andrew mencabut samurainya dari sarung. Matanya waspada. Akan ada pertarungan sepasang pendekar memperebutkan seorang perawan.



"Kakanda Tom, jangan." Supaya ia mundur, aku maju menahannya. Terompahnya bergesek. Pedangnya menghalau. Aku berhenti.



"Gadis pengkhianat!" tukasnya sengit. Dia tunanganku. Dijodohkan. Aku tak mencintainya. Ia brutal.



Kemudian mereka beradu pedang. Mencabik angin. Membelah kain. Memeras darah. Menumbuk amarah. Menyisakan penyerah.



"Hentikan!" Kutahan dia. Dibanting tubuhku.



Aku keluar mencari pertolongan. Sepi nian. Hanya seekor kuda merah legam kepunyaan Tom. Tiada harapan.



"Aaaarrrhhh...!!!" Teriakan pilu. Andrew. Jiwanya sudah menyangkut di ujung ketajaman logam panjang keparat milik pendekar bejat.



"Kamu jahat!!!" Aku menuju kekasih setengah nyawa. Akan tetapi pendekar bejat menarikku kasar. Tangisanku menyublim membentuk batu-batu membara yang dicengkram kawanan burung ababil. Hancur lebur surga menjadi lautan api.



**



Penglihatan perdanaku tertumbuk ke korden yang terolesi berkas cahaya lampu balkon. Apa yang baru terjadi? Bunyi dengkuran. Khas suamiku. Aku berbalik. Astaga, cuma kembang tidur.



Latar lokasinya... di Shangri-la? Ya, Shangri-la di Provinsi Yunan di China selatan. Ah, jauh. Surganya lebih mirip penggambaran dalam Al Quran. Aku pernah membacanya di toko buku. Surat apa ya? Aku harus tanya Rahayu.



Di sana ada nuansa campur-tabrak. Nuansa Timur Tengah. Jawa. China. Kakanda Tom. Habibah. Keris. Baju toga. Amboi... surganya banyak akulturasi. Dan klimaksnya adalah pertengkaran itu. Suram. Muram.



Melancong ke negeri mimpi cukup menguras energi. Ujungnya perut lapar jikalau terjaga pada dua pertiga malam.



Kuturuni anak tangga. Kuselidik lukisan naturalisme dari cat akrilik yang terpajang di dekat sofa sebab ada yang berubah. Obyeknya. Gadis cilik bercheongsam merah kerah tinggi itu menghilang! Barang itu dibeli Tom saat perayaan Tahun Baru Imlek di pameran seni rupa peranakan di galeri ternama. Kini gambarnya tersisa sungai, pohon bambu, dan sebongkah batu tempat gadis itu duduk. Mistik.



Kendati lapar, selera makanku padam. Berusaha berani. Abaikan saja. Kuputar kenop kompor. Mi instan kuaduk.



Perhatianku tersita. Ada yang tampak berlari. Kuintai dari meja dapur. Bocah. Citra lukisan itukah? Aku amati. Dia berlari-lari di ruang tamu, ruang televisi, sekitar tangga.



Siapakah gerangan? Makhluk fantasi? Anak hantu? Dia menjauhi tangga. Seketika aku mengibrit tunggang langgang ke lantai atas. Kutengok dia. Matanya bersinar.



"Kakak!" Oh mama, dia memanggilku.



Pintu kamar kutubruk. Menjerit. Tom terbangun.



"Kakak." Nyatanya pintu lupa kututup. Ia melongok dan memanggil lagi.

"Kamu siapa?" Tom mengucek mata.

"Aku mau pulang." Tom menengok ke arahku. Jidatnya lecek memerhatikan gadis sipit itu. Bertanya padaku lewat tatapan. Telah dia dapatkan jawaban.



Ia menghampirinya dengan gurat waswas. Usai mencapai tiga hasta, ia berlutut. Menyamai tinggi makhluk ajaib itu. Kutebak dadanya bergumuruh rusuh. Pun aku.



"Kamu mau main di sungai?"

"Aku mau pulang." Jawabannya kerap diulang.



Kedua lengannya akan menyentuhnya. Hendak digendong. Ia berani menghadapi hantu. Yang jelas itu hantu.



Hantunya menyerang! Kepalanya menyeruduk muka Tom. Mengerang. Sangat tegang adegan ini. Kemudian ia berpendar menjadi cahaya merah oval. Naik. Terbang. Hinggap di lukisan tempat dia bermuasal. Sungguh aneh namun mengagumkan.



"Mas, kamu gak papa?"

"Gusiku berdarah nih."



**

Telah tergenggam jawaban atas hilangnya "Kado untuk Stefani". Adiknya mencacah satu demi satu nama orang yang masuk ke kamarnya. Jo telah lancang. Sehingga mengakibatkan seuntai harta raib tanpa buronan.



"Seingatku Mukhlis, Aditya, Riza, dan Marisa." Ia jawab begitu saat kutanya kemarin.

"Marisa?"

"Yup, almarhumah Marisa yang meninggal valentine lalu."

"Apa hubungan dia denganmu?"

"Teman semasa SMP."



Tentu curiga pada mereka berempat. Kecuali Marisa, mereka berjanji menemuiku di sebuah kafe. Sebenarnya kecurigaanku lebih condong pada Marisa. Perempuan satu-satunya. Perempuan lazimnya menggilai perhiasan. Terus apa motif dibalik pencurian tersebut? Sekadar suka? Ekonomi? Atau ia punya klepotomoni?



Di tangan siapa benda berharga itu menjuntai? Kuduga disita dokter forensik yang mengotopsi mayat Marisa. Bukankah proses otopsi sudah selesai sehingga jenazah beserta benda-benda yang tersandang telah dikembalikan ke pihak keluarga korban. Apa musabab kematiannya? Apakah hasil VeR (Visum et Repertum) yang diterima penyidik atas kasus kematian superaneh pada valentine lalu? Dicekik setan? Hmm....



Aku pun teringat dengan obrolan dengan Rahayu di mal tanggal 15 Februari--sehari setelah kasus kematiannya. Dia bilang hasil visum menunjukkkan bahwa Marisa tidak dicekik cowok dalam mobil, melainkan bagaikan dililit tali--entah tali apa dan dari mana-- hingga lehernya memerah. Itu janggal. Setergesa itukah dokter menjabarkan hasil otopsi? Lagi pula setahuku dokter forensik tak memiliki wewenang menyiarkan VeR pada media massa ataupun umum. Itu melanggar sumpah jabatannya. Pihak kepolisiankah? Aku sangka itu rumor yang tertampung di media siber.



"Astagfirullahal azhiim, saya enggak mungkin nyolong, Mbak. Duit jajan saya lebih dari cukup." Mukhlis menjawab.

"Apalagi gue, eh, aku." Aditya duduk di sebelahku. Tubuh sintalnya berbau keringat puber, cologne spirtus, dan sengatan sang surya.

"Tentu bukan ane, ya ukhty. Barangkali Marisa. Bukan bermaksud su'uzon nih." Aku sependapat dengan Riza. Dia yaitu calon tersangka. Siapa lagi. Ketiga remaja ranum di sekitarku tak beralibi.



Cuaca siang ini cerah. Lengkung langit diselimuti awan sirostratus yang menimbulkan efek lingkaran halo di sekitar matahari. Lingkaran biru di bagian luarnya. Lingkaran merah di bagian dalamnya. Indah sekali.



**

"Kamu baru pulang?" Aku curiga. Pukul 21 lewat sekian.



"Sebagai financial planner ganteng dan profesional, aku wajib menepati janji sang klien." Kilahnya lancar. Dia mencari sesuatu di kulkas. Sampanye. Minuman itu kurang cocok mendampingi tempe goreng tepung yang tengah kumasak.



"Wuidih, Katy Perry goreng tempe sambil nyanyi The One That Got Away, ha ha ha ha...." Lelucon dan sindirannya kuabaikan.

"Aku berencana ke rumah Marisa dan menanyakan kalung itu pada orangtuanya."

"Dan mereka akan menganggap kamu adalah cici penjual emas di toko Sinar Widjaja Cemerlang."

"Ah aku capek ngomong sama kamu!"



Dia merangkul dari belakang. Membisikkan kalimat, "Aku sudah tidak tahan." Bibirnya hangat beraroma alkohol.



Oh, Kakanda Tom. Aku masih membaui amis hawa nafsumu dari sisik-sisik kulitmu, walaupun telah lebih tujuh puluh tujuh malam seliramu dan seliraku berenang di lautan peluh lalu memuncrat menuju puncak bulan berlumur madu.





Kurang puaskah dikau? Nyaris tiap malam aku duduk di antara kedua pahamu. Mengisap ujung tumpul dagumu sampai dikau menggelinjang. Ular nagamu yang panas lagi keras membuat aku lupa di mana kuletakkan kedua buah dadaku kala engkau unggat-unggit menahan desahan pendek yang rasanya memanjang ke seluruh jaringan pembuluh darah. Merambat teramat lambat ke otak. Melesat terlampau cepat ke sumsum tulang belakang. Lebih dari dadamu, aku mengagumimu. Lebih dari kelaminmu, aku menghormatimu. Kurang dari kedua itu, aku bisa tertunduk lesu.



Aku balikkan badan. Meraba wajahnya yang hangat terpanggang bara kama sutra. Bibirku dicium. Dikunyah bak kiwi selandia. Lidahku dibelit. Digulung. Ditekuk. Saliva tertukar.



"Kakak!"



Melepas. Dilepas. Terlepas.



Pemanasan terusik suara setan cilik itu. Bagaimana dia bisa keluar lagi dari selembar kanvas dwimatra? Anomali. Tetapi tak ada kata 'tak normal' dalam kamus metafisika.



"Eh Mei Mei, mau buat gusiku berdarah lagi?"



Ia berlari mengitari ruang tamu, ruang televisi, ke taman kecil. Makan malam tertunda. Lauk dan sayur mendingin. Menihilkan rasa ingin.



Dalam kegelapan ruang televisi, ada lagi penampakan seorang pria yang merokok. Bara apinya terlihat. Tak ada lagi lelaki di rumah ini kecuali Tom.



"Tom, banyak hantu di rumah kita." Ia mengangguk.

"Aku lapar banget. Makan aja yuk. Kalau mereka ke sini, ya kita tawari saja tempe, he he he."



Jeritan membahana. Dia jatuh berguling-guling di tangga lalu tersungkur ke lantai keramik tak berpermadani.



Tom berlari. Ingin menolong pasti. Derapnya berhenti saat sosok perokok itu bangkit, berjalan ke arah korban. Tak salah lagi jin Andrew muncul kembali. Kupeluk suamiku. Kurasakan genderang bertabuh saat kuraba bidang dadanya.



Dia melempar rokoknya. Mengusap darah di dahi gadis mungil. Membopongnya ke lantai atas. Ada apa ini? Kami diteror komplotan jin yang bersekongkol.



Tom memungut sepuntung rokok yang terlempar.

"Dji Sam Soe," katanya keheranan.

"Rokoknya Andrew." Aku keheranan pangkat tiga ditambah kebingungan kuadrat dibagi pemakluman akar satu..



Sesudah 15 menit, kutatap lekat-lekat lukisan itu beberapa saat. Memar wajahnya. Secuil cairan merah menempel di keningnya. Aku tak sanggup lagi mencerna antara logika dan gaib. Namun selama 31 tahun hidup di dunia fana ini, baru kali ini aku mengalami kemelut gaib yang beda dan baru. Bukan lagi melihat pocong lompat-lompat yang talinya minta dilepas. Kuntilanak yang rambutnya tak pernah di-creambath. Atau genderuwo yang merangkak di genteng sekolah semasa aku kemalaman menjadi panitia HUT RI.



Tanganku yang bertisu dengan amat hati-hati mendekati spot darah itu. Entah darah asli atau sintetis. Deg. Sudah kena. Citranya telah bersih dari noda. Tak terjadi apa pun. Hai Mei Mei, aku percaya kau sudah mati akibat perbuatanmu sendiri. Jangan ganggu tuan rumahmu lagi.



"Kakak."



Bersambung...



Jakarta, 21 Februari-2 Maret 2012

Tidak ada komentar: