Minggu, 30 Agustus 2015

169. Mengapa Makanan di Bioskop Mahal?

Kenapa harga makanan/minuman di bioskop mahal, hampir 2 kali harga retail, misal di Alfamart Minute Maid 7000, di bioskop 14.000. Untung kasarnya 110 % lah.

Ya karena untungnya buat biaya operasional bioskop yg juga besar. Singkatnya supaya harga tiket tetap murah dan secara psikologis bisa diterima masyarakat. Konon biaya operasional pemutaran satu film di satu studio per satu kali baru ter-cover bila jumlah penonton 30 % dari jumlah kursi, kata Mbak Catherine si sekretaris Grup 21. Misal satu studio rata-rata 300 kursi, otomatis kuota dari 30 % ya 100 penonton per studio per sekali tayang.

Pengalamanku selama ini nonton di Jakarta baik weekday/weekend tiap nonton di bioskop jumlah kursi yang penuh 30 % aja jaraaaaaang banget, kecuali event nobar, baik gratis maupun dibayari. Dan rasio nobar dan non nobar paling 1:9. Bahkan bisa 0,5:9,5

Jadi pengusaha bioskop bikin konsesi (di outlet biasa ditulis concession) dengan memahalkan harga makanan/minuman (produk sekunder) dibanding harga tiket film itu sendiri (produk primer). Yang disasar adalah tipe penonton yang nggak begitu kritis sama film. Jalan-jalan ke mal, misalnya, lalu tetiba pengen ke bioskop, pas di meja loket bingung 10 detik mau film apa, lalu beli makanan, lalu pulang dan semua berakhir.

Tapi bukan berarti "penonton beneran" gak pernah beli makanan. Kayak aku kalo kepepet haus di studio terpaksa beli es teh selasih 20ribu. *mahal ;(

Padahal aku yakin loh kalau harga popcorn dan minuman di bioskop lebih murah, misal popcorn dan minuman orson jeruk cuma 15 ribu pasti kurva penjualan naik walau margin keuntungan lebih kecil.

Misal pembeli sebelumnya cuma 500 orang per hari dengan margin laba 5.000.000 (contoh saja). Bisa jadi bila harga di kantin konsesi murah jumlah pembeli naik 1.000 orang dengan laba 7.000.000. Butuh hitung-hitungan lebih rinci sih. Ya walau laba turun tapi kantin kan rame, penjual gak banyak bengongnya. Ditambah lagi konsesi bioskop adalah usaha mandiri, 100 % buat bioskop. Tidak seperti tiket film yang 50 % buat bioskop, 40 % buat produser film, dan 10 % pajak.

Bisa jadi mengurangi penonton yang kucing-kucingan bawa makanan dari luar. Kalau aku biasanya sih minuman tetrapack, biskuit, kacang, cokelat di celana gunungku yang gombrong. Kalau celana jins ketahuan nonjolnya hihihi...

Balik lagi sih, ini cuma uneg-uneg konsumen, bukan dari perspektif pengusaha bioskop yang perlu strategi agar bioskopnya terus bernapas.

Tidak ada komentar: