Sabtu, 14 Februari 2015

159. Kalung Valentine (novelet versi revisi)



Novelet ini edisi revisi cerbung Kado Untuk Stefani empat bagian yang ditulis 2012 lalu. Sedikit memangkas kalimat yang nggak guna aja

"Kamu harus tahu bahwa Andrew masih sering
menangis di kamarnya walau sudah satu tahun
berlalu!”

Suara wanita bernada ketus dari membran ponselku putus tanpa permisi. Peringatan itu bagai menyisihkanku ke teluk penyesalan. Kubaringkan ponsel di meja dapur. Adonan kue
untuk hidangan hari valentine yang sempat
terbengkalai  kulanjutkan lagi. Namun percuma
saja.

Tanganku yang gemetar saat memegang
spatula mendamparkanku mundur ke masa silam
tatkala aku melakoni kecerobohan cinta yang berdampak pada tragedi klise. Menghempaskanku ke pojok tempat tidurku nan dingin. Memerah tetes per tetes air dari mataku. Sementara
hidup harus berjalan tanpa ampun. Hingga aku
berani berkeputusan dan takdir menjemputku sampai ke sini.

Aku terjaga dari kilas balik masa lampau.
Sekonyong-konyong serbuk kastor terbang dan menyembur wajahku.

“Ya Tuhan, uhuk uhuk!”
Serbuk gula halus itu masuk ke hidung dan mataku. Tersedak dan memedihkan. Apa yang baru saja terjadi? Siapa yang
meniupnya?
“Kenapa, Bu?” Asisten rumahku datang memasang raut heran.
“Enggak papa, Bi. Tolong lanjutkan adonan itu,
lalu tuang ke loyang, masukan ke oven suhunya
170 derajat dan harus 12 menit. Bentar aja, saya balik
lagi.

**

Ah… Hari keagungan cinta tahun ini berhambur
air hujan warna merah jambu dari langit. Dengan senyum merekah di wajah, aku memilih busana yang wajib kukenakan untuk menemani suami makan malam sederhana di
rumah. Memusnahkan cahaya-cahaya pongah
lampu. Memekarkan kuntum-kuntum lilin yang remang. Menyemprotkan partikel pengharum ruangan aroma mawar di
kamar tidur.

Hmm, aku tak boleh saltum malam ini. Cardigan kuning yang berpadu dengan kemeja merah muda dan pleated skirt warna ungu sekiranya cocok. Kuperagakan padu-padan busana itu di hadapan cermin lebar bersama senyumku yang menyebar.
Ahai, namun dress selutut warna magenta
bermotif mawar merah sejatinya menampilkan
kesan romantisme merah jambu.

Huh, bimbang juga. Sudahlah… cardigan lebih pas membalut ragaku pada musim hujan yang menggigil ini. Andaikan suamiku ingin yang lebih panas, sebelum naik ke ranjang aku akan memakai lingerie yang menggodanya.

“Fani, ayo turun.” Dia sudah siap, bersandar di daun pintu. Kemilau kemeja biru terangnya memendarkan kesan elegan. Aroma minyak rambutnya menyengat sekali.

“Tunggu, Tom, aku sedang merias.”

And even if the sun refuse to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart until the end of
time
You’re all I need, my love, my Valentine.

Lagu My Valentine mengalun syahdu di ruang makan. Lidah api sudah membakar metanol, menjilat panci logam yang berisi minyak kacang. Hmm… sudah menyeruak bebauan pancingan yang meneteskan liur. Ya, kami akan menyantap daging founde malam ini.

“Aku paling suka coklat fondue yang dicelupkan stroberi segar. Hmm….” Rupanya Tom nafsu pada coklat fondue.
“Coklat fondue kapan-kapan ya….”

Kucelupkan ham ke minyak panas dan menunggu beberapa saat.
“Okay, that’s why there’s no war if we eat fondue, he he he,” guraunya.
“Agree. Lagi pula aku punya strawberry mouse cake lho.”
“Hingga serbuk kastor bikin kamu keselak?”
“Sudah ah. Aneh sekali itu.”

Kuperhatikan sampai topik obrolan usai dan menu habis, belum juga Tom memamerkan kadonya. Bentuk dan warna sampulnya pun tak mampu kuterawang. Apa dia benar-benar tak mempersiapkan kado vlentine untukku.

“Tom….” Senyumku kecut. Rahangku kaku. Ada darah mengalir lembut dari keningnya ke hidungnya yang bangir. Baunya teramat anyir. Horor.
“Iya.”

Dengan gemetar aku menyeka hidungnya. Darah itu teramat dingin dan anyir. Teramat ganjil. Apakah Tom diam-diam punya penyakit?
“Fani, kenapa?”
“Darah.”

Dia mengusap dahi, hidung, dan pipinya. Dilihatlah tangannya sendiri. Kemudian telapaknya digosokkan ke serbet putih.

“Tak ada darah. Hanya keringat, mungkin banyak api
di meja ini.”
“Aku nggak bohong.”
“Tetapi tidak ada."

Tom mengeluarkan kotak bersampul merah jambu berpita biru tua dari kursi di sebelahnya. Ekspresinya separuh tertawa separuh tersenyum seraya menimang benda itu.

“Mungkin kamu sedang kalut. Dan di malam keagungan cinta ini aku persembahkan kado spesial untuk istriku tercinta, Stefani Widjaja. You would still have my heart until the end of
time. You’re all I need, my love, my valentine.”

Tembang yang dia lagukan amat merdu di hati. Dia berpindah kursi. Menghampiri lantas menarik tanganku yang masih bergetar untuk menerima pemberiannya.

“Terima kasih, suamiku tercinta.” Maka
dikecuplah pipiku.
“Apakah pria tak pantas dapat kado?” Tagihnya menggoda.
“Hadiah untuk pria selalu ada di ranjang sutra.”

Aku balas menggoda. Kubelai pipi putihnya. Dia menggenggam pergelangan tanganku sambil menciumnya. Terpejamlah kedua mata sipitnya. Dia menggigiti kecil jemariku.
**

Aku masih di kasur hangat dengan separuh ragaku yang lisut dihisap kumbang raja. Aku melepaskan diri dari rangkulannya. Tak sabar mau segera kucium kalung berlian hadiah dari Tom. Model macam ini pasti nilainya belasan juta. Tak salah alamat
aku memilih dia sebagai pasagan hidupku. Saat seperti ini aku jadi teringat masa lalu. Masa lalu yang tak mau beranjak dari tiap pagiku yang biru.

Nada diam ponselku berbisik. Ada pesan singkat dari Jenny rupanya. Aku tersenyum geli kala membaca isi pesannya. Duh… tadi siang dia berencana nimbrung makan malam dengan kami. Tapi dia berdalih takut memorakporandakan
malam keagungan cinta milik kami. Sebenarnya dia iri pada kami lantaran valentine ini tak ada gandengan. Semoga dia tetap tangguh dalam kejombloannya.

Ada notif suara burung. Twitter. Ah aku lupa mematikan notif suaranya.

Bagong Germanotta (@pokerface): RT @kecebonggenit Ada cewek mokat di mobil pas lagi pacaran di suropati @LilMon666 #BloodyValentine

Bagong? Dia kan adiknya Rahayu.

beritakilatdotcom (@beritakilat): 23.23 Seorang gadis remaja tewas di mobil dengan leher memerah. Sementara pacarnya masih syok belum bisa diajak bicara (cont...)

Aku terusik oleh rentetan linimasa di jejaring sosial itu. Berita kilat yang lumayan mencekat.

Nana Pasaribu (@nanaalem): Mank betul y di kaca mobil korban di tamsur itu ada tulisan 'aku ingin pergi tak mau menginjak bumi’. Hii siapa yg nulis? #BloodyValentine.

Rasa penasaran membuatku membuka tiap link berita yang disebar. Menelisik ke situs berita tersebut, sayang infonya masih kerdil. Mungkin esok mulai melebar.

Tiba-tiba tirai jendela melambai di pojok keremangan yang panjang. Mataku terbelalak mulutku mangap. Ada sosok yang
berdiri di luar jendela. Mewujudkan siluet bayangan dan meremas hatiku. Malingkah itu? Ah
tidak! Mungkin itu setan.

“Wo yao qu, wo bu yao zai di chu. (我要去 我不要
在地处)." [aku ingin pergi tak mau menginjak bumi].

Hantu itu berbisik dalam bahasa Mandarin.

“Tom! Bangunlah!” Kuguncang tubuhnya yang bugil berbalut selimut.
“Kenapa?”
“Ada setan!” Napasku memburu. Kalimatku menyeru.
“Kita di mana?” Dia menyelidik ke berbagai sisi.
Kesadarannya terbangun paripurna. “Sepertinya di
hutan….”

Baru kusadari kami berpindah ruang ke hutan bersama tempat tidur besi. Tempat yang dipagari pepohonan jangkung yang menjulang menyundul bintang. Tom bergegas mengenakan setelan piyamanya. Lalu dia mendekapku dengan damai, walau tetap saja panik mukanya.

“Apakah kita bermimpi?” bisikku.
“Aku baru bangun dari mimpi dikejar sapi. Apa aku mengalami mimpi lapis kedua kayak The Inception ?”
“Kenapa kita malah berdiskusi!” Kuomeli dia atas keengganan mencari jalan keluar tetapi cuma bisa memelukku.

Suara langkah menuju posisi kami. Perlahan.

“Tom, ada yang mendekat," desahku lemas.
“Itu Jeepers Creepes.”
“Kamu pikir leluconmu itu lucu!” Teriakanku menggema, berayun-ayun dengan liukan dahan pohon yang disembur angin. Kucubit putingnya sampai dia meringis.

“Mana hapemu. Aku mau menelpon Mas Luki.” Tom menyebut nama paranormal kenalannya.
“Apa ada sinyal?”

Mengatupkan kelopak mata adalah cara paling
jitu mengenyahkan rasa takut dari suasana mengerikan. Dengkingan anjing hutan bersahutan mengurung gelap. Koor aneka serangga menggenapi aroma liar. Roma-roma di
badanku berdiri ditegakkan angin malam. Sementara Tom belum berhasil menghubungi sang dukun itu.

Tak tuk tak tuk… Suara langkah kuda sepertinya. Ya tepat sekali. Juga ada ringkik kuda yang memantul ke tiang-tiang kayu. Siapa juga tengah malam berkuda di hutan. Apa pangeran istana yang dikejar Angling Dharma? Atau mungkin kuda siluman yang ditunggangi jin gondrong?

“Tom, suara langkah kuda.”
“Abaikan saja. Sepuluh menit lagi kita akan dikembalikan ke rumah.” Syukurlah, Tom sukses minta tolong pada dukun itu. Tapi….
“Sepuluh menit? Kuda itu keburu menginjak-injak badan kita!” Protesku rewel.
“Paling si penunggang akan merampas harta kita. Berikan saja kalung berlianmu itu.”

Aku cemberut. Pelan-pelan rasa takutku memudar karena celetukan-celetukan Tom yang menjengkelkan akan tetapi terasa menghibur.

Suara itu membesar. Sesuai Efek Doppler itu berarti kuda dan penunggangnya telah memangkas pita jarak mendekati kami. Ya Bapa di surga, kirimkanlah malaikat penyelamat dari langit.

“Awas, Tom!” Tom tiarap. Merengkuhku sambil menarik kemul menutupi seluruh tubuh kami yang menggigil. Kuda itu seperti menerjang, melompati kasur kami bak sirkus di pasar malam. Sialnya mereka berhenti dengan ringkikan kuda yang melentur laksana guntur. Kudengar dia hengkang dari pelana, langsung menjejak bumi tanpa meniti sanggurdi.

Ketukan kaki manusia atau iblis? Aku membayangkan sebilah keris menghunus ke arahku. Tom, bangkitlah sebagai pria sejati. Lindungilah wanitamu ini. Dia, penunggang itu, duduk di sebelahku, menggumam geram.

“Tom!” Aku kaget, bokongku disentuh oleh makhluk itu. Meremas dengan binalnya. Kurang ajar sekali dia. Belum pernah seumur hidup aku dilecehkan. Kini pantatku diremas bagaikan adonan donat. Aku ingin bangun dan menjotos
muka setan brengsek itu. Tapi aku takut…. Janganlah takut,
Stefani. Ayo sang wonder woman, bangkitlah!

“Kurang ajar kau!" pekikku ratusan desibal.

Loh? Kosong. Tiada penunggang. Tak ada kuda. Tak ada hutan. Ini kamar tidurku. Ah… aku akhirnya
kembali ke ruangan yang hangat dan sentosa. Puji Tuhan.

“Tom, kita sudah berganti tempat.”
“Tadi seru banget. Kayak nonton film horor 4 dimensi.”
“Kamu diam saja pantat istrimu dilecehkan dedemit itu.” Aku komplain.

**

Petang ini aku ada janji kongkow di mal bersama Rahayu. Sekadar menyeruput kopi hitam dan menonton bioskop. Meski
aktivitas ini hanya seminggu dua kali namun ampuh menetralisir kesumpekanku lantaran menjadi istri rumahan.

Biarlah Tom tak mendapati coklat fondue di meja makan. Aku lagi kesal dengan si muka Wuu Chun itu.

“Hai, Ayu, sudah panas bokongmu?” Aku memasan secangkir kopi toraja agar kompak dengan dia.
“Banget ha ha ha….” Behelnya tersibak manakala dia terbahak.

Setelah cas cis cus dan bla bli blu hampir setengah jam, tajuk obrolan kami berpindah ke kasus kematian super aneh yang berlangsung kemarin malam di Taman Suropati.

“Oh ya?” Aku terperanjat.
“Iya. Si cewek yang namanya Marisa itu berselingkuh. Yaa selingkuh model ABG gitu. Cowok yang di sampingnya masih bengong sampai sekarang. Dari hasil visum, leher Marisa
seakan-akan dililit tali bukan cekikan tangan manusia. How peculiar!”

Rahayu begitu lancar membeberkan berita yang tengah hangat di masyarakat.
"Satu lagi cin. Kaca mobilnya ada kalimat ‘aku ingin pergi tak
mau menginjak bumi’. Omaigot! Apa itu?”

Deg. Katup jantungku tertutup mendadak. Sesak sekali dadaku mendengar kalimat itu. Kalimat itu aku dengar dari hantu di luar jendela sebelum aku dan Tom bertamasya ke rimba berantah.
Kejanggalan bermula dari serbuk gula yang bagai ditiup, darah amis dari kening Tom, hantu di luar jendela, hingga perpindahan dimensi ruang yang terjadi dalam setengah detik.

Semua itu berjalan di antara kami. Sebuah valentine horor. Aku melihat labirin buntu antara valentine horor di rumah dengan valentine berdarah di taman itu. Kalimat misterius itulah yang membuntukannya sekaligus menghubungkannya.

Aku harus membongkar misteri ini. Kudesak Tom agar dia mau membantuku.

“Halo, Tom, masih di kantor?”
“Iya, aku sebentar lagi pulang kok.” Suaranya tetap saja bikin kangen.
“Kamu mau aku buatkan coklat fondue?”

Interval 1

Napas suamiku tersengal seperti habis lari sprint. Kuambil tas tentengnya. Aroma parfum kayunya sudah memudar dihajar
keringat. Kusuguhkan sekaleng minuman elektrolit.

“Kamu dikejar sapi?”
“Sejak kapan lantai dua beranak tangga seribu?”
Pertanyaannya masih mentah.
"Maksudnya?” Dia tak langsung menyahut. Peluh di mukanya diseka. Wajahnya tampak serius di balik kemudaannya. Usianya memang 4 tahun lebih muda dariku. Namun kariernya seperti 40 tahun lebih tua dariku.
“Sudahlah.” Dia pasrah. Melepas sepatu dan
kemejanya. Kurapikan. Barangkali dia lelah dan
penat.
“Stefani….” Telapak tanganku diremas, guratnya
cemas.
“Iya, sayang.”
“Seperti ada kekuatan hitam yang mengganggu
kita,” ucapnya serius.
“Jelaskan dulu apa maksud seribu anak tangga?”

Tom mengembuskan napas melunturkan keganjilan yang baru dia alami.

“Aku merasa jauh menaiki tangga dan terlihat tinggi sekali.”

Aku menjawab dengan bahasa diam, bahasa mengerti. Ada lagi pengalaman supranatural di antara kami sedangkan lampion-lampion misteri belum sanggup aku nyalakan.

“Kamu sudah tanya Mas Luki tentang tempo
hari?”
“Belum sempat.” Dia berdiri.
“Lalu kalimat itu?” tuntutku tak sabar.
“Apalagi itu. Aku sibuk.”
“Apa? Sibuk?” Aku menggertak.
“Iya sibuk, duitnya juga buat kamu. Enggak kayak
kamu, bisa jalan-jalan di mall.”

Cibirannya memenggal batang leherku. “Enak saja kamu, Tom! Kamu menyuruhku berhenti mengajar agar fokus menjadi istri rumahan yang melayani suami, mencucikan celana dalammu,
mengambilkanmu ini-itu. Aku kuliah capek toh akhirnya aku cuma di rumah melayani suami kolokan macam kamu. Nggak heran karena kamu anak lelaki satu-satunya yang dimanja!”

Kudengar petir di depan mukaku. Ah!

Aku membisu. Ini kali pertama Tom menampar pipiku. Tangannya panas sekali. Aku menangis sebagai wanita. Amat menyakitkan bila hidup harus dipilih, bukan memilih.

Dia berjongkok. Bersimpuh di sisiku. Tangannya yang kasar dilingkarkan di pinggangku. Kepalanya dibenamkan ke perutku.

“Fani, maafkan aku ya.” Penyesalan terucap dari
bibirnya. “Aku berjanji takkan memukulmu lagi.
Juga akan berusaha menyibak kalimat itu. Aku
rencana minta tolong pada rekan kerja dan
teman-temanku. Mungkin kamu bisa minta
bantuan pada murid-muridmu tempat kamu dulu
mengajar. Biasanya anak SMA lebih kreatif dan
rasa ingin tahunya berapi-api.”

**

Malam-malam terasa memanjang; nyenyak di pangkuan kelam. Siang-siang begitu ringkas, datang terlambat tanpa maaf. Bulan maduku bersama suami mengembun beku di ujung daun guyuran hujan.

Pembuntu labirin itu sedikit mendapat lubang jalan. Nasihat Tom usai aksi KDRT tiga hari lalu ada benarnya. Salah satu muridku berhasil meretakkan kaca buram yang menghalangi
maksud kalimat itu. Malam ini kami mengundang dia makan malam di restoran Jepang.

“Ternyata kamu suka sekali ya dengan ramen.” Aku sedikit terkekeh pada Galung. Senyumannya menyimpul.
"Sejak nonton film Ramen, Bu. Andai saja ramen
ini dibuat oleh Britany Murphy, wuihh saya rela
bayar sejuta ha ha ha….”
“Betul. Bahkan tempe goreng buatan Katy Perry
tuh lebih lezat daripada rendang bikinan Zhang
Ziyi.” Tom buka guyonan. Menyindir. Kutendang
betisnya.
“Aduuhh… kakiku ditendang arwah Marisa ha ha
ha.” Ya ampun, Tom memang memalukan.
“Kak Tom.”
“Iya.”
“Hmm, saya mendengar tawa perempuan berbarengan dengan tawa Kakak.”

Galung heran. Begitupun kami berdua. Semua sendok
diturunkan. Semua alis dinaikkan.

“Sudah tak ada wanita di resto ini, kecuali mantan guru fisika-mu yang cantik ini. Eh nggak ada istilah mantan ya buat guru?” Tom menekan hidungku. Menampik Galung.
“Iya, mungkin sekadar halusinasi.”
“Okay, langsung saja. Kenapa kamu berkesimpulan kalau kalimat ‘aku ingin pergi tak mau menginjak bumi’ ialah orang yang bunuh diri? Krek!” Tom memeragakan gerakan tangan
seperti menghabisi nyawa dengan menyembelih.
“Begini, Kak. Semua orang yang pergi pasti menginjak bumi, sekalipun naik pesawat insya Allah akan turun ke bumi. Ya kecuali astronot. Tapi suatu hari sang astronot yang bertugas di
luar bumi insya Allah akan kembali ke observatorium di bumi. Dan sepenggal kalimat 'tak mau menginjak bumi’ seperti pergi
selamanya.”

Galung amat brilian. Angkat topi untuknya.
“Why not?” Sanggahan Tom bikin pahit suasana.
“Tapi, Kak, kita sedang membahas hal gaib, bukan ilmiah. Yang menyampaikan pesan ini yaitu jin, bukan Yuri Gagarin.” Galung berkelit.
“Kalau begitu, model bunuh dirinya apa dengan gantung diri?” cetusku.
“Nah, Bu Fani benar! Gantung diri termasuk nggak menginjak bumi. Kalimatnya memang bercabang.”
“Lalu siapa yang bunuh diri pakai tali jemuran?”
Ah, Tom, kau masih saja bergurau.
**

Aku terhisap lubang waktu dengan putaran yang kencang. Sekencang mulut Galung. Pikiranku terhuyung ke suatu masa.
Ketika kali pertama Tom muncul, aku yakin dia masih mencium harum kembang kuburan yang menyeruak dari tetes terakhir air mataku. Dia adalah macam pemuda yang tak mau banyak
tahu. Kusembunyikan lembaran itu di hati terdalam.

Apa lacur. Makhluk bernama kenangan bangkit dari peti mati. Andrew, masa laluku, kini sudah turun dari tali api yang
menebas batang lehernya.

“Fani-ku sayang, aku dipecat.”

Karena itu kah kamu gagal meminangku.

“Fani, aku tak punya uang untuk membelikanmu kado valentine.”

Kamu ingin selalu menjadi pahlawan di depanku.

Kemudian aku cuma diam tersedu tatkala kau menuduhku selingkuh. Memang kamu benar. Bukankah kamu sudah mengaku kalah. Tak ada lagi wibawa yang menahanku agar tetap di sisimu.

Lalu kamu menjambak rambutku. Pria kedua itu kamu tonjok hingga mimisan. Setelah itu aku hanya melihat seekor anak iblis terbang dari bumi.

“Andrew, kamu marah padaku?” Aku bergumam.
“Kak Fani, Kak Andrew telah tiada.”

Ucapan dari adikmu hampir membuatku semaput.
Selama tiga hari namamu aku doakan ke langit
dari altar suci tempat sembilan malaikat memuji.

Tom berwajah masam geram. Sedikit dongkol mengetahui narasi besar masa laluku. Dosa masa lalu.

“Ada yang membuntuti kita sejak dari resto.” Spion tengah diselidik. Kami menyingkir ke warung kecil.
“Bermobil?”
“Bukan. Berjalan kaki.” Lagi-lagi banyolan. Di jalan belakang lengang. Bercahaya LED jingga yang terang. Manusia macam apa yang bertenaga kuda. Dan ternyata….

“Tom.” Dia mendekat bersama sebotol air mineral.
“Kamu lihat kan? Siapa dia?”
“Itu Andrew….” Bisikku gemetar, gentar.

Tom dengan tergesa memutar ban. Suhu dalam kabin turun meski hujan belum mendarat. Uap keluar dari mulut Tom. Kugesekkan jari-jariku biar hangat.

“Sekencang apa mobil ini, dia bisa mengejar kita
walau terlihat bagai orang berjalan santai.” Tom menggerutu. Bersungut.

Arwah Andrew mengejar mobil kami. Wajahnya dingin. Buluku bergidik. Tom bergaya bak pereli yang berambisi naik podium. Sukses. Hantu tersebut kehabisan tenaga untuk membuntuti
kami.

“Bagaimana? Mau melawan Latvala, ha ha ha….”

Guntur memanggil hujan. Temperatur yang berubah prematur, kini menghangat. Kaca samping mengembun. Di sinilah keajaiban bermula. Terukir di samping bahwa “aku ada di
belakang”. Ya Tuhan, apakah dia yang mencekik
Marisa?

“Dia sudah mendekat, Tom.”
“Sinting tuh!” Sedan berbelok cepat. Tergelincir namun terkontrol. Berpacu di aspal licin.
“Kampret!” Palang di perlintasan kereta diturunkan. Kereta listrik berlari sekuat predator.
“Kereta anjing! Panjangnyaaa.” Dari tadi Tom mengumpat. Rangkaian KRL yang memotong perjalanan kami tak kunjung habis. Bilangan gerbongnya seolah ribuan. Tidak mungkin.

“Dia sudah duduk di jok belakang.” Aku berbisik. Ya itu Andrew yang telah duduk. Jas hitamnya tampak gres. Seperti jas yang ia kenakan saat terlelap dalam peti mati. Bahkan Tom lebih
pengecut dariku. Tak pernah dia melirik ke spion.

“Ini kereta iblis! Kita tabrak aja!” Bentakannya menghilangkan bayangan Andrew di kaca. Dia menghilang.
“Mobil kita bisa terseret, Tom,” cegahku.
“Kereta ini hanya ilusi. Fatamorgana. Permainan visual setan!”

Teriakanku menggelegar. Kaca samping diketuk olehnya. Bukan. Bukan Andrew. Bukan Andrew yang mengetuk. Bukan Andrew yang mengetuk kaca samping. Penjaga perlintasan yang melakukannya.

“Neng, ayo jalan. Kan keretanya sudah lewat dari
tadi.”
Aku membuang napas.

**

Semerbak bau kopi arabika yang kumasak bertebaran di meja ruang tamu. Aku menjamu Mas Luki. Tergoda oleh wanginya, dia menghirup kepul-kepul dari cangkir, kemudian lidahnya
mengisap barang sekelumit. Tampilan dia klimis. Muda dan enerjik. Tiada satu pun aksesoris yang melambangkan bahwa dia seorang ahli paranormal. Dia lebih mirip presenter olahraga.

Ini untuk kali perdana dia bertamu ke rumah. Saya ingin tahu rumah Mas Tommy, dia bilang begitu. Ini pun istimewa karena tak biasanya dia menyambangi kliennya. Naga-naganya, pundi-
pundi Tom harus rela mengempis. Tarif VIP.

“Mas Tommy biasa pulang jam berapa?” Dia mendahulukan perbincangan.
“Akibat macet, ya sekitar jam 7 sampai jam 8, Mas.”

Gelasnya diletakkan di tatakan. Kroket hangat yang terhidang ia cicipi dengan sukacita. Gerak-geriknya teratur. Tiap zat yang masuk ke lambungnya diawali dengan komat-kamit atau
berdoa.

“Mas Luki, apa benar roh Andrew yang membunuh Marisa?” Bibirnya yang berminyak diseka tisu.
“Hmm… terus siapa yang membunuh Andrew?”

Aku tak sanggup menjawab. Itu sindiran.

“Lantas apa kaitannya antara kematian Marisa, lompatan ruang ke hutan, dan kalimat misterius itu, Mas?” Rasa penasaran melontarkan setumpuk pertanyaan.

“Ada pesan yang ingin disampaikan. Dia punya unfinished business denganmu.” Telunjuknya mengarah ke mukaku. Ia tersenyum dua lapis; menyejukkan dan mencemaskan.
“Jangan takut. Dia hanya jin yang menyerap memori dan energi Andrew sewaktu masih hidup. Untuk melatih keberanian spiritual, bagaimana jika kamu yang menghadapinya?” Mas Luki
menyodorkan opsi yang lumayan frontal.
“Menghadapinya? Nggak.”

Rambutku dibelai. Dipetik. Rautnya serius. Sehelainya direntangkan dengan kedua pasang jarinya. Ditekankan ke bibir cangkir. Terbelah sempurna. Rambut itu seperti sembilu mengiris tahu. Aku terpana.

“Rambutmu saja punya kekuatan. Masa
jantungmu tidak.”
“Tapi, Mas….” Aku keberatan. Takut.
“Saya akan menjagamu dari belakang.”
**

Aku dan Tom berbagi tugas. Tom bernegosiasi dengan adiknya Andrew, Jonathan, supaya aku bisa masuk; menyelundup ke kamar tidurnya tanpa harus mengetuk pintu mengucap salam pada nyonya besar pemilik rumah. Wanita tua itu sungguh membenciku. Kebencian akut.

Segala sesaji kupersiapkan; kemenyan, dupa, dan
bunga tujuh rupa. Klenik. Makanan makhluk gaib.
Pancingan. Undangan. Oh… mengerikan.

“Tom, xian zai wo zhen de hen pa. (现在我真的很
怕) [Tom, aku benar-benar takut akan semua ini]” Aku merengek padanya. Dia mengantarku.
“Ni fang sin, wo gen ni yi qi. (你放心, 我跟你一起)
[Tak apa, aku di sampingmu].

Keluar dari mobil angin dingin menampar kulitku. Kegelapan memeluk. Lamat-lamat terdengar rintih punguk. Terlihat seekor cerpelai merangkak di atap rumah. Aku menoleh ke Tom.

Jonathan melambaikan aba-aba dari jendela. Komandonya
kuturuti. Lewat pintu alternatif.
“Jo, terima kasih ya.”
“Nggak papa, kok.” Parasnya mirip Andrew. Suaranya teduh. Ramah.

Daun pintu kutekuk. Berderit. Engselnya kurang pelumas. Lampu benderang di kamarnya. Jo pamit meninggalkanku. Apakah Andrew masih sering menangis di ruangan ini seperti yang ibunya katakan?

Terang lampu kupadamkan. Terbakarlah dupa dan kemenyan. Di pinggir gelisahku membumbung aroma kembang tujuh rupa. Gelap kian genap. Aku duduk bersandar di ranjang. Setengah jam telah lewat. Suhu ruangan naik. Seperti ada pergerakan. Halus. Meringkus keberanian.

Pesan apa yang hendak disampaikan jin itu? Perihal apa? Urusan apa yang belum selesai antara aku dan Andrew? Kesepiankah dia di sana? Mungkinkah nyawaku akan ditarik untuk menemaninya bercanda di taman firdaus?

Pelbagai tanda tanya kusebarkan di kepala sebagai strategi pengusir rasa ngeri.

Lalu…. Ada lenguhan napas panjang. Apakah jin bernapas? Bagaimanapun itu, dia benar-benar nongol ke arahku. Aku memejamkan mata.

“Stefani.” Dia memanggil. Aku meriang. Kulitku serasa
menebal. Napasku menjadi berat. Menghadapi makhluk gaib adalah hal paling konyol. Jangankan muka ke muka, mendengar cekikikannya saja bikin aku lari pontang-panting.

Tetapi… misi ini akan amburadul apabila aku mundur; menutup mata. Dengan doa-doa yang kuucapkan pelan–tentu tidak khusyuk–kuberanikan membuka penglihatan. Meledakkan
cangkang-cangkang fobia yang memenjara.

Tidak ada. Hilang. Tak ada apa-apa. Hening. Ya Tuhan! Dia duduk di sampingku. Di tepi kasur, membelakangiku. Berjas. Astaga… bagaimana struktur mukanya kalau dia menoleh.
“Andrew….” Ah, tak kuduga, aku berani juga memanggilnya balik, walau keringat sudah kuyup.

Dia menengok. Menatapku. Tak ada darah khas hantu di film. Pucat membiru. Cembung matanya tampak cekung menampung bahasa nan sinis. Tenagaku terkuras saat duduk
berdampingan dengan makhluk ini. Dunia kami yang berbeda serasa berat bertemu pada frekuensi yang sama–disamakan.

“Aku menyayangimu. Jangan tinggalkan aku.” Dia berbicara lagi. Suaranya timbul mengambang antara gelap dan terang. Aku paham suara hati Andrew. Air mataku meleleh membasahi isak penyesalan.
“Maafkan aku, sayang.” Aku sesenggukan melisankan permohonan itu. Untukmu Andrew. Untuk kekasihku yang tak kuat bertahan tanpaku.

Sesaat sebelum sosok itu raib dariku, ia mengujarkan pesan. Laci. Ya, dia menyebut kata itu dalam kepalaku. Aku bergegas menuju laci susun empat di samping rak sepatu. Inspeksiku berhasil. Sekotak tempat perhiasan kalung dari beludru merah.
Ternyata ini. Aku mengusapnya. "Kado untuk Stefani”, itulah tulisan yang tertera di kotak. Tergores mungil dari spidol biru.

Aku terharu biru ketika tahu Andrew akan menghadiahi kado ini sebelum jiwanya pergi.
Namun barang ini gagal terberi dari tangan
pangeran Andrew ke tangan putri Stefani. Dongeng sekali.

Saat kubuka ternyata… kosong. Di mana seuntai kalung itu?

Interval 2

Andrew memanjat pohon berbatang nila. Ia berusaha meraih sekuntum bunga paling indah dan besar yang bermahkota di pucuk pohon. Berhasil. Serta-merta….

“Andrew!” Ia terjungkal. Telentang di hamparan butir-butir emas. Kudekati. Lantas ia tersenyum waktu mengangsurkan ratu bunga padaku.
“Harum sekali kembang ini,” ulasku. Terpejam.
Belum pernah sebelumnya wewangian ini
terhirup. Baik puspa dari bumi tropis maupun
puspa dari bumi empat musim.

Ia telah berlari menjauhiku ke kerumunan pemuda yang
meniup serunai berlanggam tradisi syahdu.

“Andrew sayang, kamu hendak ke mana?”
Pengejaranku terhalang dinding halimun tebal.
Aku di pinggir sungai susu.

"Ya sayang, aku di sini.” Jubah putihnya berkibar.
Kemah miliknya tampak agung dan kemilau. Dia kususul. Kupeluk erat. Melekat.
“Kamu jangan tinggalkan aku.” Pintaku manja. Keningku dikecup. Mendamaikan.
“Yang mulia, maaf, hidangannya sudah datang.”

Dari luar kemah, seorang pelayan memohon izin masuk.

“Silahkan,” sahutnya, duduk di tempat tidur yang
pinggirannya bertabur manikam aneka warna. Pelayan masuk membawa dua nampan perak. Satu nampan berisi dua gelas kaki dan seteko anggur. Satu nampan lainnya tergolek burung
bakar. Menteganya melumer ke dasar.

Si pelayan mohon undur. Rambutnya berkilau dan harum. Seperti disemir dengan pomade. Di pinggangnya, terpasang sebilah keris.
“Ya habibah, mari kita nikmati hidangan lezat
ini.” Aku agak geli saat dia memanggilku habibah. Andrew mempersilakan, menarik kursi untukku. Kami berhadapan di antara meja pualam. Aih… getarannya bikin perutku mulas.

Kubalikkan piring perak. Ia menyobek seiris daging untukku. Kupetik sebutir anggur dalam keranjang. Kusorongkan ke mulutnya. Dia mengunyah seraya
tersenyum. Hidungku dicubit.

Ada yang masuk. Pedangnya mengacung. “Hai Stefani!!!” Dia berteriak keras sekali. Lelaki itu. Dia bertoga merah kental. Tommy. Kemunculannya mengejutkan kami.
“Kakanda Tom.” Aku menyahut. Kepergok.

Klang! Andrew mencabut pedangnya dari sarung. Matanya waspada. Akan ada pertarungan sepasang pendekar memperebutkanku.

“Kakanda Tom, jangan.” Supaya ia mundur, aku
maju menahannya. Pedangnya menghalau. Aku berhenti.
“Gadis pengkhianat!” tukasnya sengit. Dia tunanganku. Dijodohkan. Aku tak mencintainya.

Kemudian mereka beradu pedang. Mencabik angin. Membelah kain. Memeras darah. Menumbuk amarah.

“Hentikan!” Kutahan dia. Tubuhku dicampakkan. Aku keluar mencari pertolongan. Sepi. Hanya seekor kuda merah legam kepunyaan Tom. Tiada harapan.

“Aaaarrrhhh…!!!” Teriakan pilu. Andrew.
“Kamu jahat!!!” Aku menuju Andrew yang sekarat. Akan tetapi pendekar bejat menarikku kasar.

**

Apa yang baru terjadi? Bunyi dengkuran. Khas suamiku. Aku
berbalik. Astaga, cuma kembang tidur. Latar lokasinya… di Shangri-la? Ya, Shangri-la di Provinsi Yunan di China selatan. Ah, jauh. Surganya lebih mirip penggambaran dalam Alkitab.

Melancong ke negeri mimpi cukup menguras energi. Ujungnya perut lapar jika terjaga pada dua pertiga malam. Kuturuni anak tangga. Kuselidik lukisan naturalisme dari cat akrilik yang terpajang di dekat sofa sebab ada yang berubah. Obyeknya.
Gadis cilik bercheongsam merah kerah tinggi itu menghilang!

Barang itu dibeli Tom saat perayaan Tahun Baru Imlek di pameran seni rupa peranakan tahun lalu. Kini gambarnya tersisa sungai, pohon bambu, dan sebongkah batu tempat gadis
itu duduk.

Kendati lapar, selera makanku padam. Berusaha berani. Abaikan saja. Kuputar kenop kompor. Mi instan kuaduk.
Perhatianku tersita. Ada yang tampak berlari. Kuintai dari meja dapur. Bocah. Obyek ukisan itukah? Aku amati. Dia berlari-lari di ruang tamu, ruang televisi, sekitar tangga.

Siapakah gerangan? Makhluk fantasi? Anak hantu? Dia menjauhi tangga. Aku mengibrit ke lantai atas. Kutengok dia. Matanya bersinar.

“Kakak!” Oh Kristus, dia memanggilku.

Pintu kamar kutubruk. Tom terbangun.
“Kakak.” Nyatanya pintu lupa kututup. Ia melongok dan memanggil lagi.
“Kamu siapa?” Tom mengucek mata.
“Aku mau pulang.” Tom menengok ke arahku. Jidatnya lecek memerhatikan gadis sipit itu. Ia bertanya padaku lewat tatapan.

Ia menghampiri gadis itu dengan gurat waswas. Usai mencapai tiga langkah ia berlutut. Menyamai tinggi makhluk ajaib itu.
“Kamu mau main di sungai?”
“Aku mau pulang.” Jawabannya kerap diulang.

Kedua lengan Tom akan menyentuhnya. Hendak digendong. Ia berani menghadapi hantu. Yang jelas itu hantu. Kepalanya menyeruduk muka Tom. Tom mengerang. Kemudian gadis hantu itu berpendar menjadi cahaya merah. Naik. Terbang. Hinggap di lukisan tempat dia bermuasal. Sungguh aneh namun
mengagumkan.

“Tom, kamu gak papa?”
“Gusiku berdarah nih.”

**

Telah tergenggam jawaban atas hilangnya “Kado untuk Stefani”. Adik Andrew membongkar satu demi satu nama orang yang masuk ke kamarnya. Jo telah lancang, membiarkan teman-temannya masuk ke kamar Andrew. Sehingga mengakibatkan seuntai harta raib tanpa buronan.

“Seingatku Mukhlis, Aditya, Riza, dan Marisa.” Ia jawab begitu saat kutanya kemarin.
“Marisa?”
“Yup, almarhumah Marisa yang meninggal valentine lalu.”
“Apa hubungan dia denganmu?”
“Teman semasa SMP.”

Tentu aku curiga pada mereka berempat. Kecuali Marisa, mereka berjanji menemuiku di sebuah kafe. Sebenarnya kecurigaanku lebih condong pada Marisa. Perempuan satu-satunya. Perempuan lazimnya menggilai perhiasan. Terus
apa motif dibalik pencurian tersebut? Sekadar suka? Ekonomi? Atau ia punya klepotomoni?

Di tangan siapa benda berharga itu sekarang? Kuduga disita dokter forensik yang mengotopsi mayat Marisa. Bukankah proses otopsi sudah selesai sehingga jenazah beserta benda-benda yang tersandang telah dikembalikan ke pihak
keluarga korban. Apa musabab kematiannya? Apa hasil VeR ( Visum et Repertum) yang diterima penyidik atas kasus kematian super aneh pada valentine lalu? Dicekik setan? Hmm….

Aku pun teringat dengan obrolan dengan Rahayu di mal tanggal 15 Februari–sehari setelah kasus kematiannya. Dia bilang hasil visum menunjukkkan bahwa Marisa tidak dicekik cowok
dalam mobil, melainkan bagaikan dililit tali–entah tali apa dan dari mana– hingga lehernya memerah. Itu janggal. Setergesa itukah dokter menjabarkan hasil otopsi? Lagi pula setahuku
dokter forensik tak memiliki wewenang menyiarkan VeR pada media massa ataupun umum. Itu melanggar sumpah jabatannya. Pihak kepolisiankah? Aku sangka itu rumor yang
tertampung di media sosial.

“Astagfirullahal azhiim, saya enggak mungkin nyolong, Mbak. Duit jajan saya lebih dari cukup.” Mukhlis menjawab setelah kutuduh dengan halus.
“Apalagi gue, eh, aku.” Aditya duduk di sebelahku. Tubuh sintalnya berbau keringat puber, cologne spirtus, dan sengatan matahari.
“Tentu bukan saya, ya Mbak. Barangkali Marisa. Bukan bermaksud su’uzon nih.”

Aku sependapat dengan Riza. Dia yaitu calon tersangka. Siapa
lagi. Ketiga remaja ini tak punya pendapat yang mungkin meyakinkan.

Cuaca siang ini cerah. Lengkung langit diselimuti awan sirostratus yang menimbulkan efek lingkaran halo di sekitar matahari. Lingkaran biru dibagian luarnya. Lingkaran merah di bagian dalamnya. Aku memicingkan mata.

**

“Kamu baru pulang?” Aku curiga. Pukul 21 lewat sekian.
“Sebagai financial planner ganteng dan profesional, aku wajib menepati janji sang klien.” Gombal. Dia mencari sesuatu di kulkas. Bir kaleng. Minuman itu kurang cocok mendampingi tempe goreng tepung yang tengah kumasak.

“Wuidih, Katy Perry goreng tempe sambil nyanyi The One That Got Away, ha ha ha ha….” Leluconnya kuabaikan.
“Aku berencana ke rumah Marisa dan
menanyakan kalung itu pada orangtuanya.”
“Dan mereka akan menganggap kamu adalah cici
penjual emas.”
“Ah aku capek ngomong sama kamu!”

Dia merangkul dari belakang. Membisikkan kalimat, “Aku sudah tidak tahan.” Bibirnya hangat beraroma alkohol.
"Genit ya...."

“Kakak!”
“Eh Mei Mei, mau buat gusiku berdarah lagi?”
Hantu cilik itu berlari mengitari ruang tamu, ruang televisi, ke
taman kecil. Makan malam terpaksa tertunda.

Dalam kegelapan ruang televisi, ada penampakan seorang pria yang merokok. Bara apinya terlihat. Tak ada lagi lelaki di rumah ini kecuali Tom.

“Tom, banyak hantu di rumah kita.” Ia mengangguk.
“Aku lapar banget. Makan aja yuk. Kalau mereka ke sini, ya kita tawari saja tempe, he he he.” Hah!

Jeritan membahana. Hantu cilik jatuh berguling-guling di
tangga lalu tersungkur ke lantai keramik tak berkarper. Tom berlari. Derapnya berhenti saat sosok perokok itu bangkit, berjalan ke arah korban. Tak salah lagi itu wujud Andrew.

Kupeluk Tom.  Andrew melempar rokoknya. Mengusap darah di dahi gadis mungil itu. Membopongnya ke lantai atas. Ada
apa ini? Kami diteror komplotan hantu.

Tom memungut sepuntung rokok yang terlempar.
“Dji Sam Soe,” katanya keheranan.
“Rokoknya Andrew.” Kututup mulutku.

Sesudah 15 menit, kutatap lekat-lekat lukisan itu beberapa saat. Memar wajahnya. Secuil cairan merah menempel di keningnya. Aku tak sanggup lagi mencerna antara logika dan gaib.

Interval 3

Asma kronis. Penyakit menahun. Itulah jawabannya. Jawaban yang kalah semarak dibanding kicauan-kicauan sampah di Twitter. Rumor yang kurang memuaskan bagiku. Terlebih tentang rumor kematiannya akibat dicekik roh jahat dari
Andrew. Yang terakhir adalah rumor yang aku ciptakan sendiri hanya karena dia menyampaikan pesan yang sama antara aku dan Marisa. Wo yao qu, wo bu yao zai di chu [aku ingin pergi, tak mau menginjak bumi].

Lalu berkembang di benakku akhir-akhir ini penyebabnya yakni Marisa. Kusangka dia yang menghilangkan kalung milik Andrew
sehingga mati menyedihkan. Segalanya patah. Robek. Itulah faktanya ketika kubaca salinan berkas VeR ( Visum et
Repertum) yang diserahkan Ibunya Marisa. Anak itu ngeyel waktu dicegah keluar oleh Ibunya saat cuaca di luar dingin.

Kondisinya sedang memburuk. Bantahannya berakhir maut demi perayaan valentine yang menyesatkan pikirannya.

“Marisa nggak pakai perhiasan emas waktu itu. Paling aksesori gelang plastik yang dibeli di pasar malam.” Ibunya ramah. Ia tak curiga dengan pertanyaanku yang setengah menuduh putrinya.
Aku mengundurkan diri setelah suamiku habis mengunyah tiga donat yang tersuguh. Saat-saat serius dia masih sempat menikmati lezatnya makanan.

“Kamu malah makan.” Protesku di mobil.
“Donat seribuan lebih enak dari Jeko.” Sebutir meises menempel di bibirnya.
“Nggak menghormati orang susah.”
“Lho? Dikasih makanan di meja ya harus dimakan dong. Kalau nggak namanya nggak menghormati."

TIN!

Ada sedan hendak masuk ke garasi saat kami tengah berusaha keluar. Anak muda. Kayaknya itu cowok yang menyaksikan kematiam Marisa. Aku menahan tangan Tom di stir.

“Lihat nopolnya. 9342. Kombinasi angka pada
rokok Dji Sam Soe yang dibakar setan kemarin
malam.”
"Ah lebay lu kayak detektif aja. Rokoknya juga hilang Padahal sudah kusimpan di toples.”
“Nanti kita buntuti dia!” Aku sangat membara dan penasaran dengannya.

Di jalan aspal nan sepi, Tom berhasil menghadang dia dari depan. Tak pelak terjadi insiden tabrakan. Tidak parah.

“Ngehek lu!" Si pengemudi memaki kami.
“Kontol!” Mulut kotor Tom mulai.

Wah payah jika Tom begini. Rencanaku bisa kandas. Kuhampiri sang pemaki. Kusampaikan maaf untuknya dan kujabarkan maksud kami membuntuti. Dia melunak.

“Betul. Marisa menyerahkan kalung itu pada saya.” Semua jadi terang.
“Bersedia kalau saya beli kalung itu dua kali lipat?” godaku.
“Nggak. Itu kenangan terakhir saya dengannya. Priceless." Wah repot.
“Memang kenapa kepengin kalung ini? Di toko emas banyak.”

Kata-katanya keluar bersama kalung tersebut dari tas laptopnya. Pemuda yang ternyata bernama Fiyan itu segera membenamkan kalungnya.

“Karena dia cici penjual emas yang paham emas mana yang berkualitas premium.” Tom membelaku.
“Tetap saja. Takkan saya lepaskan.” Fiyan benar-
benar keras kepala.

**

Apakah wanita tak pernah mau bangkit dari masa lalu? Jika memang iya, wanita itu adalah aku. Kaki kananku telah berpijak di garis masa depan. Kaki kiriku masih terbelenggu rantai masa lalu. Aku masih mencintai Andrew. Terlalu cepat tamat untuk tak terselesaikan. Juga begitu cepat bersambung untuk diselesaikan. Tom, hanyalah pelarianku. Plester. Nafsu badaniyah belaka.

Aku tak sabar menunggu kepulangan Tom. Ia minta bantuan pada Mas Luki supaya rencananya berjalan halus. Tak mengerti
pertolongan jenis apa yang diberikan ahli supranatural berperawakan tinggi itu. Apa pun usahanya, itu lebih baik daripada kami menuduh Marisa sebagai pencuri lalu menunjuk
Fiyan si penghilang barang bukti atau justru penadah.

Kami hanya punya saksi anak-anak, di bawah 18, dan dia Jo. Kami tak tega menggiringnya ke pengadilan. Bukan nilai
ekonomi yang aku tuntut dari seuntai kalung itu,
melainkan nilai kenangan di tiap karatnya. Tapi itu lebay.
Harapanku, Tom kembali membawa apa yang aku cari. Andaikata tuntas dan selesai, aku yakin teror-teror gaib akan sirna. Takkan lagi ada jin Andrew, setan Mei Mei, kereta hantu,
dan apa saja yang selama ini terasa mendecakkan jantung.

“Kakak.” Panjang umur. Makhluk kecil yang bersangkutan bersuara. Aku mencoba mengendalikan rasa takut. Rasa
dalam diri sendiri. Harus ditaklukkan. Walau tetap waspada.

“Apa maumu?” tanyaku. Dia malah terisak. Hanya suara saja.

“Hai istriku yang jelek!” Panggilannya bikin aku lompat. Suamiku yang sipit. Ia memegang sesuatu. Keberhasilan.
“Ini, simpan baik-baik,” ucapnya riang. Aku
berjingkrak girang.
“Bagaimana kamu bisa meraihnya dari tangan
Fiyan?” Bikin penasaran sekali.
“Azimat bermahar 500 ribu dari Mas Luki, yaitu
gendam.” Ia memperlihatkan semacam batu kecil.

Hah, okultisme atau klenik.
“Gendam?”
“Mix antara pelet dan hipnosis, kurang lebih.”
“Sebuah kejahatan,” gumamku.
“Aelah, pencuri dilarang menyalip pencuri bro!”

Ia berlalu, tertawa puas, melepas bajunya. Kalung emas 10 gram 20 karat tanpa liontin. Tentu tak sebanding disejajarkan dengan kalung valentine dari Tom. Ini pengikat emosional
antara aku dan Andrew.

Bayangan Andrew meluntur terurai cahaya di penglihatanku. Mukanya tak biru pasi lagi. Senyum Mei Mei pun melengkung gagu. Air matanya jatuh terburai di sungai. Tak ada lagi terang di belakang bayangan. Tiada lagi gaduh di tengah keheningan.

**

Aku menghidupi kenangan
jelmaan aksara di marmer hitam
pada nisan di gunduk pusaramu
menabur kembang hidup
agar namamu hidup
bukankah kenangan akan hidup bila segalanya
mati, sayang…
namun butuh saksi hidup untuk mengenangnya,
cinta…
ingatkah engkau tatkala kita menerima hosti suci
dari tarbernakel?
hosti lapuk! keluhmu
selapuk cinta kita
nanar matanya menerawang pada diam
aku melipir ke malam
tersisa kelam

“Masak apa kau?” Tanyamu dari kantor. Tommy-ku sayang.
“Beef steak,” asal kujawab. Spontan engkau terpingkal. Nyaring. Ingin kecelupkan hapeku ke wajan. Aku tahu kamu sedang mengurangi lemak daging supaya program fitness-mu sukses. Ah, gombal kamu, Tom. Punya perut six pack adalah tahayul bagi orang sibuk macam kamu.

Obrolanku dengannya mengganggu aktivitas masakku. Malam ini akan ada menu yang tak terlalu berlemak. Tahu mapo, capcay, mi hijau, dimsum (dianxin) aku sajikan. Tapi bukan dim
sum fang zau (ceker ayam), cukup bakpao kacang hijau.

Penutupnya ialah gelato, bukan es krim yang berlemak. Sebagian kumasak dibantu bibi pembantu. Sisanya aku membeli di luar.

“Mama mia, amazing birthday
celebration !” Komentar Tom ketika baru pulang.
“Ulang tahun suami kolokan, he he he,” gurauku
“Biar kolokan tapi pahlawanmu.”

Dia naik ke kamar untuk mandi. Tak sampai setengah jam dia kembali.

“Selamat menikmati.” Kupersilakan semangkok mi hijau untuknya.
“Bu yao, wo chi bao le ,” [不要, 我吃饱了. Tidak, aku sudah kenyang] tolaknya sketika.
“Kenapa?”
“Buang dulu kalung itu.” Ia memerintahkan hal
yang tak ternyana. Hatiku tersayat.
“Memangnya kenapa?” Kusentuh kalung ini yang masih ada di leher.

Air mukanya marah. Ada apa? Kenapa tiba-tiba?

“Serahkan sini!” bentakannya sambil membelalak.

Aku buru-buru mematuhinya. Ia mencampakkan kalung
itu ke lantai. Keras sekali. Andai yang ia lempar berupa telur bercangkang keramik pasti remuk. Seremuk hatiku.

Tangisanku tak bersuara. Sungguh kejam. Merobek perasaan Andrew.

“Besok aku nggak mau melihat kalung itu di
lehermu. Deal ?”

**

“Hai Jeng, come in," ajak Rahayu ketika aku di depan pintu rumahnya. Aku dituntun me kamar tidurnya.
“Drink what? Tea, coffee, juice, hot chocolate;
which one?”
“Nggak usah.”
“Please, you need it .”

Mataku menjelajah kamarnya, terpaku pada foto pernikahannya. Wajahnya bahagia, juga suaminya dalam bingkai itu. Mereka berdua berpacaran
sejak SMA. Meski kerap putus-nyambung, kekuatan cintalah yang mengikat mereka dalam pernikahan. Ada sebentuk iri membuncah di dadaku.

Ia datang membawa nampan. Ada secangkir teh hijau dan kudapan roti vla tabur almond. Menggiurkan, namun tidak untuk kesempatan ini. Suasana jiwaku berantakan. Pikiranku lagi kacau.

Apalagi semalam Tom minggat dan belum juga pulang. Ia foya-foya merayakan ulang tahunya dengan kawan-kawannya.

“Ayu, kira-kira kenapa dia? Dia enggan menjelaskannya.”
“Kamu harus peka, Jeng, sebagai perempuan,” timpalnya singkat.
“Peka?” tegasku kurang paham. Kuminum sedikit teh hijau agar pikiran lebih rileks.
“Ember. Maksudku, kita sebagai perempuan harus peka dalam membaca perasaan lelaki. Mungkin aja Mas Tom tuh cemburu
karena kamu pakai kalung dari Andrew. Lelaki mana sih, Jeng, yang gak jealous. ” Rahayu benar.

Aku tidak peka. Aku tak mau peka.

“Ayu, aku amat menyesal.” Aku tergolek lemah di
dekapan sahabatku. "Aku sudah dua kali mengecewakan lelaki aku benar-benar wanita durhaka….”

**

Tiga hari kulewati hidup tanpa lawakan garing ala Tom. Ia mendiamkanku. Keperluan apa pun ia kerjakan sendiri. Ia pernah mengenakan dasi motif batik dengan kemeja kuning. Menurutku itu kurang sesuai. Aku tak berani meralatnya. Ia mudah merajuk. Itulah sifat aslinya yang keluar sesudah tiga bulan menikah dengannya.

“Mas Tom, mau dong digendam. Aku rela diapa-
apain,” godaku diiringi gestur genit. Aku ingin
melumerkan kebekuan. Sebenarnya aku mau muntah mendengar suaraku sendiri. Ia sedang memainkan game smartphone di tempat tidur. Beberapa detik kemudian ia terpingkal-pingkal mendengar ajakanku.

“Jangan panggil Mas Tom ah  cukup Tom aja," katanya di akhir tawa. Kudekati dia. Tiduran di sisinya. Meraba perutnya.
“Nanti aku dicap istri yang tak hormat.”

Kusingkirkan smartphone dari tangannya.

“Ya enggaklah. Lagian aku maunya disapa Ayah Tom. Bila kita sudah punya anak,” harapnya.
“Dan aku dipanggil Bunda Fani. Cetak tebal Bunda.” Kami saling berpelukan. Kurindukan kehangatan badannya.
"Dalam kurung buntingin janda, ha ha ha….” Mulai lagi candaan garingnya. Lengannya kucubit hingga merah.

“Mana kalung itu?” ungkitnya
“Kenapa kamu tanya lagi? Sudah kulupakan. Kalung itu ada di Jonathan. Kusuruh ia menjaganya,” terangku.
“Kamu yakin akan melupakannya?” tanyanya menyelidik. Ia duduk.
“Iya,” balasku ringkas, antara yakin dan tidak.

Dia turun. Menuju ke lemarinya. Mengambil bungkusan hitam.

“Ini kado untuk Stefani dari… Andrew!” Dikeluarkan kotak perhiasan. Dibuka. Seuntai kalung. Aku belum mengerti apa maksudnya. Napasku tersumbat. Menebak, apakah ini kejutan
atau lelucon belaka?

“Apa ini?”
“Itu yang original. Yang disimpan Jo cuma duplikat.”
“Jadi kamu cuma akting, Tom? Kamu jahat ya!” Aku menangis antara bahagia dan kesal. Akting sinetronnya Tom sungguh mengecoh. Menyebalkan.
“Aku bilang kan simpan baik-baik, bukan dipakai. Masa lalu nggak mesti dibuang, simpan saja, tapi nggak perlu diletakkan di depan.” Tumben Tom menyabdakan kata-kata mutiara untukku.
“Tom, maafkan aku ya. Wo ai ni.” [我爱你. Aku
mencintaimu]
“Wo ye ai ni.” [我也爱你. Aku juga mencintaimu]

Aku telah merepotkannya untuk melalui dan memecahkan misteri yang amat mendebarkan selama sebulan ke belakang. Pasti ia tersundut percikan api cemburu manakala sering kusebut nama Andrew.

“Hayo, katanya minta digendam.” Ia mengelitiku. Aku meronta-ronta manja dalam dekapannya. Jeritan-jeritan geli menciptakan gelombang longitudional yang bermedium ke seluruh udara kamar. Berisik.
“Nggak mau ah. Entar aku disuruh gaya-gaya aneh.”
“Mulai 1-2-3!”

Jakarta, ditulis 28 Januari sampai 8 Maret 2012

Tidak ada komentar: