Minggu, 25 Desember 2016

196. Kisah-Kasih di Kosmos (review film Passengers 2016)

Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
Seperti takkan pernah pulang, kau membias di udara dan terhempaskan cahaya

(lirik lagu Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa — Frau dgn. Ugoran Prasad)

Kosmos merupakan rimba buas nan dingin lagi nirbatas dalam sejarah pengetahuan manusia. Manusia sendiri penengah antara mikro dan makrokosmos menurut desain neoplatonik Yunani kuno. Tiada manusia yang mampu menembus pucuk langit kecuali dengan ilmu. Alkisah, kapal antarbintang Avalon menjelajah membawa 5000 penumpang dan 250 kru (semua berhibernasi panjang) dari Bumi ke Homestead II—planet kosong serupa Bumi di sistem bintang Bhakti. Berupa misi kolonisasi manusia di planet baru.

Jim Preston (Chris Pratt), mekanik yang terbangun dari hibernasi panjang akibat malfungsi kapsulnya. Lama perjalanan 120 tahun waktu Bumi. Baru 30 tahun tertidur Jim terbangun dan depresi menghadapi sisa 90 tahun sendiri dengan metabolisme tubuh manusia normal, kecuali hanya ditemani android-bartender bernama Arthur (Michael Sheen). Mati kesepian dalam dinding baja. Ada pikiran nekat di benak Jim. Ia ingin membangunkan penumpang lain dalam kapsul, yaitu Aurora Lane (Jennifer Lawrence), penulis cantik yang ia sukai ketika membaca rekaman pribadi Aurora. Terbangunlah Aurora tanpa tahu Jim yang membangunkannya.

Sepasang pria-wanita dalam dinding baja yang dingin dan senyap pasti ada gesekan-gesekan romansa, memang itu rencana Jim. Adegan sepasang kekasih yang bercinta di luar angkasa, dialog-dialog gombal, termasuk lawakan-lawakan kecil. Bumbu-bumbu itu terlumat dan kian harum bersama sumbu konflik yang akan meledak. Aurora murka saat tahu kenyataannya. Tadinya cinta berubah benci. Namun benci saja bukan pilihan terbaik. Sistem permesinan dan catudaya yang sedari awal bermasalah memuncak seiring amarah Auora. Meski kepala dek Avalon terbangun, Gus (Laurence Fishburne), tetapi tidak banyak membantu.

Akankah Jim dan Aurora berhasil memperbaiki sistem catudaya reaktor nuklir yang kian membara dan berisiko menjeblukkan mesin, membunuh ribuan manusia koloni di Avalon? Pertanyaan ini tak perlu ditunjukkan ke sinema Amerika. Sebab perselingkuhan antara Hollywood dan mimpi Amerika sudah berpola mengulang. Passengers yang disutradarai sineas Norwegia—Morten Tyldum (film debut Amerika-nya The Imitation Game) mencoba mengalir, ringan, manis, tegang, dan tidak berusaha pintar dengan istilah-istilah fiksi ilmiah astronominya.

Performa Lawrence tak perlu diragukan (peraih Academy Awards di Silver Linings Playbook). Dia menyuntikkan akting psikologis wanita penuh letupan. Walau bahasa mata Chris Pratt kurang meyakinkan untuk pria yang sedang kasmaran. Tapi tidak terlalu buruk sih gesekan molekul cinta mereka. Memuaskan.

Minggu, 11 Desember 2016

195. Aksi Amnesia Yang Mudah Terlupakan [review Headshot 2016)

Bagaimana film laga yang bagus? Yang banyak bercerita atau banyak beraksi? Keduanya bisa bagus. Cerita ibarat aliran sungai dan para aktor berlayar dengan perahunya (juga komponen-komponen lain penyokong pelayaran). Bicara Headshot teringat The Raid 2: Iko Uwais, Julie Estelle, Very T. Yulisman, silat, sadistis, namun naskah Headshot teramat tipis sehingga terasa begitu kepayahan mengejar sekuen-sekuen laga nan begitu padat.

Dengan prolog kerusuhan adu tembak di penjara, adegan berganti ke sosok Ishmael/Abdi (Iko Uwais) bersama dokter muda-cantik Ailin (Chelsea Islan)—terbaring di ranjang dengan diagnosis amnesia retrogade akibat trauma tembakan. Mengingatkan akan film laga terkeren Oldboy (2003) yang amnesia akibat hipnosis. Ishmael tidak kenal siapa dirinya dan apa yang terjadi padanya. Fragmen per fragmen memori Ishmael muncul bersamaan dengan stimulus yang diterimanya.

Kerusuhan di penjara ada hubungannya dengan Ishmael. Lee (Sunny Pang) ialah gembong pemasok senjata haram yang merekrut anak-anak pesisir untuk dijadikan mesin pembunuh. Dia disebut bapak-dari-neraka. Lee bersama anak-anaknya: Rika (Julie Estelle), Tejo (David Hendrawan), Tano (Zack Lee), Besi (Very T. Yulisman) memburu Ishmael untuk dibantai. Menjadikan Ailin sebagai umpan.

Dengan aksi tembak-tembakan ala sinema yang suka melanggar logika (perhatikan jumlah pelor yang ditembakkan pada duel Abdi-Tejo), adu silat, tusuk-tusukan disertai darah segar menghambur dalam gerakan lambat, Headshot membuat meringis dan hati jeri. Sayang, terlalu banyak bikin jenuh dan garing. Seperti rumus abadi: terlalu banyak hantu nongol dalam film horor, rasa ngeri akan kebal. Terlalu melodrama dalam film romansa, akan terasa picisan.

Sutradara duo Kimo Stamboel-Timo Tjahjanto (Timo rangkap sebagai penulis) bagi saya kurang berhasil memegang Headshot. Tapi sinematografinnya cukup memesona. Akting aktor Singapura Sunny Pang lah yang cukup mencuri perhatian. Pemilihan Chelsea Islan sebagai dokter Ailin seperti salah pilih aktris. Kalau yang dipilih Nurul Arifin sepertinya akan meyakinkan, sayang dia sudah tua.

Headshot tidak terlalu buruk, tapi juga tidak sebaik The Raid 2. Gampang terlupakan, tak membekas di hati.

Rabu, 16 November 2016

194. Dunia Sihir Penuh Kesenangan dan Getir

Fantastic Beasts And Where To Find Them bercerita tentang Newt Scamender, diperankan aktor berbakat pemenang Oscar—Eddie Redmayne, seorang magizoologist yang melancong ke New York. Namun hewan-hewan ajaib di kopernya terlepas. Oleh dewan Macusa (kementerian sihirnya US) Newt tertuduh membuat kekacauan atas kematian seorang senator Shaw akibat sihir jahat.

Di sisi lain Credence (Ezra Miller) kehilangan kendali atas kemampuan sihirnya sehingga mengacaukan seluruh kota.

Film ini bercerita pada dua hal tersebut. Keduanya adhesif satu sama lain. Newt sibuk mencari hewan-hewan ajaibnya bersama Jacob Kawolski (Dan Fogler). Sangat lucu dan menyenangkan. Apalagi hewan Niffler, campuran tikus dan platipus, menyukai aneka blink-blink. Hewan yang paling susah ditangkap. Adegan di toko perhiasan yang terbaik. No-maj (muggle: manusia tanpa bakat sihir) Jacob sangat komikal gayanya. Namun menurut saya Eddie Redmayne belum menemukan formula gesture dan akting yang lepas. Entahlah masih beradaptasi mungkin.

Di sisi lain Graves (Collin Farrel) dan Goldstein (Katherine Waterston) sibuk dengan silang sengkarut yang menimpa Macusa terkait hubungan dengan kematian senator. Juga "menjinakkan" sihir Credence. Di balik kisah getirnya.

Fantastic Beasts dikepalai oleh sutradara empat film Harry Potter—David Yates. Sebagai film tunggal Fantastic terkesan fun dan penuh keajaiban visual dunia hewan ajaib serta bombastisasi ala Hollywood dengan naskah tipis berdurasi 132 menit. Sebagai prolog dari (rencana) film pancalogi, Fantastic Beasts and Where To Find Them menjadi pembuka yang santai dan tidak menggebu-gebu. Jangan makan berat untuk menu appetizer.

Format IMAX 3D.

Ditonton dalam format IMAX 3D rasio 1.9:1 dengan sengaja menyisakan black bar atas bawah demi efek pop out yang diperlukan. Banyak sekali pop out keluar layar sampai kepala saya harus melengos, khususnya hewan kumbang itu. Kedalamannya cukup meyakinkan seolah pemain ada di depan penonton.

Rabu, 12 Oktober 2016

193. Neraka Yang Kurang Membara

Inferno

Gambar dibuka dengan opini-opini radikal Bertrand Zoobrist (Ben Foster) tentang hiperpopulasi pada manusia dan akibat buruk, misal secara alamiah dan naluriah manusia akan menyeleksi habitatnya sendiri. Saling bunuh rebutan pangan. Penyakit yang mengendalikan umur dan hidup manusia. Dll.

Prof. Robert Langdon (Tom Hanks) terbangun di RS dalam keadaan kepala robek tergores proyektil pistol. Dia mengalami amnesia jangka pendek. Ingatan 48 jam terakhir hilang. Hanya fragmen-fragmen wanita berkerudung yang berkata "cari dan temukan" bersama gambaran dimensi neraka dalam deskripsi puisi Dante, Inferno. Dante Alighieri merupakan penyair Firenze (Italia) penulis epos The Divine Comedy, yang mana puisi berjudul Inferno menjadi roda cerita yang menginspirasi Zoobrist termasuk kaitannya dengan Wabah Hitam di Eropa abad pertengahan. Melalui puisi itu pula dan teka-teki simbologi di Palazzo Vellachio hingga ke Hagia Sophia di Turki.

Bersama Sienna Brooks (Felicity Jones), dokter yang menyelamatkan Langdon dari kejaran agen SRS dan agen konsorsium. Langdon masih bingung mana lawan mana kawan. Selama ini konsorsium yang diketuai Provos alias Sims (Irrfan Khan) melindungi Zoobrist dari kejaran W.H.O, musuh Zoobrist. Tapi Provos pun merasa tertipu dengan menolong Zoobrist sebab Zoobrist akan merilis virus berbahaya di Waduk Kuno di Turki tempat ratusan wisatawan sedang menonton konser. Berhasilkah Langdon dan Sienna menemukan di mana virus tersegel plastik itu sebelum pecah dan mewabah di dunia?

Tak banyak bisa diharapkan dari sutradara Ron Howard (Apollo 13, A Beautiful Mind, In The Heart of The Sea) untuk proyek trilogi Robert Langdon bersama Sony Pictures ini. Entah karena sudah terlalu tua sehingga tidak punya kesabaran bertutur dan visi kuat dengan penulis skenario, David Koepp (Jurassic Park, Mission: Impossible, dan dua film prekuel Inferno). Walau tidak seburuk Angels & Demons (2009) yang mementahkan bagian fundamental ceritanya, Inferno seharusnya bisa lebih keren dan menggigit. Padahal penyuntingan cerita Inferno (dari buku ke sinema) bagus sih. Mengubah sedikit cerita tanpa kehilangan roh naskah aslinya (novel). Bagian penutup filmnya terasa template Hollywoodisasi banget. Lebih keren novelnya. Tapi bukan berarti buruk. Efek ledakan di waduk nggak semegah ledakan tabung antimateri di Angels & Demons (bagi saya itu ledakan nonapi terepik sepanjang hidup saya). Visualisasi Hagia Sophia dan kanal Venesia dilupakan begitu saja oleh sang sutradara fotografi, Salvatore Totino. Nuansa sephia kuning untuk flashback Zoobrist sih ajib.

Editing flashback ketika Langdon mengingat memorinya itu alamak cakepnya. Dramatis dan tragis. Cuma bagi penonton umum yang tidak baca novelnya akan mumet dengan kecepatan bercerita yang ruwet tapi pemecahan teka-teki yang terlalu mudah sehingga pesona akting Tom Hanks jadi berkurang. Banyak potensi pesan sosial yang bisa menjadi otokritik untuk para penonton tentang jumlah penduduk dan kita secara individual bisa berperan juga namun rasanya karam sudah dengan adegan-adegannya yang thrilling. Ini sudah tidak seimbang. Walau tidak seburuk prekuelnya, Inferno bagus kendati mudah terlupakan.

Jumat, 08 Juli 2016

192. Garis Tipis Kepercayaan dan Kesombongan

Tidak ada formula yang benar-benar segar untuk sinema drama olahraga macam Sultan: motivasi, kemenangan, kekalahan, keterpurukan, dan melodrama. Disutradarai Ali Abbas Zafar di bawah produksi Yash Raj Films, Salman Khan mesti bertarung di arena gulat sebagai tokoh rekaan bernama Sultan Ali Khan.

Program mixed martial arts (MMA) Pro Take-down milik Aakash (Amit Sadh) terancam kandas di musim ketiga. Semua sponsor menarik diri. Bapaknya menyarankan dia untuk merekrut Sultan sebagai salah satu petarungnya demi rating. Sultan merupakan mantan atlet gulat peraih medali emas di Commonwealth Games, Asian Games, dll. Namun membujuknya kembali ke arena ring tak semudah meniup kapas di tangan.

Melalui Govind (Anant Sharma), sobat karibnya, cerita mundur ke masa lalu di mana Sultan hanyalah karyawan tv kabel dan pengejar layang-layang hingga jatuh cinta dan memutuskan jadi pegulat dengan Aarfa (Anushka Sharma) sebagai motivasinya. Pernah merasakan silaunya lampu kemasyuran dan gegapnya pekik kemenangan. Sampai ketika semuanya hilang terhembus angin akibat keangkuhannya. Sultan hidup menjadi pria yang hampa dan penuh penyesalan. Enaknya, kegalauan Sultan tidak terasa absurd dan menjengkelkan penonton.

Salman Khan melakukannya dengan cara Salman Khan (ini ada negatif dan positifnya), sebab ini bukan biopik tokoh lain di mana aktor sebisa mungkin membunglon sesuai karakter tokoh biopik. Termasuk penampilan Anushka Sharma dengan melankolis minimalis yang terasa mengiris-iris. Dan Randeep Hoda sebagai Fateh Singh—pelatih MMA, walau sekilas ia tetap mengesankan dengan caranya. Berdurasi 170 menit, Sultan terasa agak berlarat-larat untung meriah dengan musik, komedi, dan laga gulat. Setengah awal filmnya penuh nyanyian dan tari khas Bollywood seolah menyaksikan kabaret Hindustan. Paruh kedua filmnya diisi oleh persiapan dan pertarungan Sultan di arena Pro Take-down. Akankah Sultan memenangkan pertandingan setelah dokter mengatakan dia takkan keluar hidup-hidup jika kembali ke arena? Sultan (2016) tayang mulai Lebaran di jaringan bioskop tertentu.

Jumat, 17 Juni 2016

191. Memori Pendek Melintasi Jarak Nan Panjang

Siapa tak kenal film Pixar yang sangat melegenda, Finding Nemo. Ikan yang punya nama latin Amphiprion ocellaris ini sempat booming dan jadi primadona pencinta ikan hias. Tiga belas tahun kemudian Pixar merilis lanjutannya bertajuk Finding Dory di bawah asuhan yang sama oleh Andrew Stanton.

Dory ialah ikan biru (Paracanthurus hepatus) penyandang ingatan jangka pendek, yang kerap mengulang pertanyaan yang sama tiap—kurang lebih—lima detik. Pada suatu malam Dory (Ellen DeGeneres) bermimpi tentang orangtuanya yang terpisah sejak bayi. Bukan berarti Dory tidak punya informasi masa lampau. Mungkin dia berada dalam perenungan psikologi di mana peristiwa masa lalu terkuak kembali. Teluk Morro California adalah salah satu klu dari informasi tersebut. Walau Marlin (Albert Brooks) mencegahnya untuk mencari orangtua Dory nun jauh di sana, Dory bersikukuh.

Setelah menumpang arus penyu yang bermigrasi, Dory ditangkap oleh Sigourney Weaver dan dibawa ke Institut Kelautan untuk dikarantina. Bertemu Hank (Ed O'Neill) si gurita baik dengan kemampuan kamuflase, Dory dan Hank bekerjasama untuk pergi ke laut lepas. Sementara Nemo (Hayden Rolance) dan bapaknya, Marlin, terpisah dari Dory.

Tokoh yang menarik ialah paus putih bernama Bailey (Ty Burrel) yang bisa memetakan area di sekitarnya dengan bantuan pantulan resonansi suaranya. Canggih! Destiny (Kaitlin Olson) teman masa kecil Dory berada di Institut Kelautan dan rabun.

Klu lain ialah kerang ungu, kerang kesukaan Charlie, ayah Dory. Sesi flashback masa kecil Dory ditampilkan berkali-kali ketika secara impulsif ingatan memori lampaunya berkelebat di kepala. Dengan keterbatasan ingatan jangka pendek yang sebagian besar tidak masuk ke ingatan jangka panjang adalah hal yang nenyiksa mencari orangtua yang tercerai bertahun lamanya di luasnya samudera. Situasi ini memberikan rasa haru (baper) ke penonton. Bagaimana dengan sabarnya Jenny dan Charlie, orangtua Dory, merawat cinta pada Dory tanpa syarat dengan keyakinan. Ini sangat dalam, meski sang sutradara dan penulis tidak berlagak menggurui dan mengisinya dengan lelucon yang segar.

Soundtrack Beyond the Sea "Jack Lawrence" dan Unforgettable "Sia" pas banget munculnya dan menebalkan suasana. Untuk format trimatra (3D) Finding Dory tidak spesial di pop out, tapi lumayanlah efek "akuariumnya", maksudnya seolah-olah kita melihat ke akuarium atau kedalaman efek tiga dimensi.

Kamis, 10 Maret 2016

190. Siapa Aku? Aku Adalah...

Walau telat tayang enam minggu dari bioskop Amerika, riwayat Kung Fu Panda tetap memancing animo masyarakat Indonesia. Kung Fu Panda 3 telah genap sebagai trilogi utuh dengan cerita yang makin solid meski tiada yang benar-benar baru dari film yang disutradarai duo Jennifer Yuh Nelson dan Alessandro Carloni ini.

Kai (J.K. Simmons), prajurit dan pengumpul energi chi makhluk hidup bertarung dengan Master Oogway (Randall Duk Kim) di alam roh. Oogway terkalahkan.

Sementara di Pedepokan Jade, Master Shifu (Dustin Hoffman) memutuskan agar Po (Jack Black) untuk turun gunung, mengajar di perguruannya. Namun Po menolak karena dia merasa tidak punya kapabilitas dan kecakapan sebagai guru. Pertanyaan retoris masih dilontarkan di instalasi ketiga ini: siapa aku? Tentu pertanyaan itu tidak bisa dijawab dalam semalam. Apalagi ada panda lain yang masih tersisa, ayah biologis Po, Li Shan (Bryan Cranston) berkunjung ke resto ayah angkat Po. Sekalipun napas film ini komedi, rasanya ada yang mengganjal saat pertemuan ayah-anak. Terlalu komikal. Tanpa melankolia sedikit pun. Mungkin karena Po dan Li Shan tak punya ikatan emosional yang kuat di mana Po sudah dirawat oleh Mr. Ping (James Hong) sejak bayi.

Kai yang kabur ke dunia fisik membuat kekacauan di Lembah. Semua chi master kung fu dari berbagai wilayah ia curi, termasuk Monkey (Jackie Chan), Viper (Lucy Liu), Mantis (Seth Rogen), Crane (David Cross), terkecuali Tiggres (Angelina Jolie) yang menyusul Po ke kampung panda untuk memperingatkan bahaya yang akan terjadi.

Sebagai antagonis berperawakan kerbau dan banteng, Kai, kurang meyakinkan kesangarannya dibanding Lord Shen si merak lalim dalam Kung Fu Panda 2. Dirinya juga dijadikan unsur komedi yang tidak perlu sebenarnya. Kai ingin merebut chi Po si Ksatria Naga, sementara Po tidak tahu bagaimana mengeluarkan chi untuk melawan balik Kai. Keluarga Pandanya pun sudah tidak tahu lagi bagaimana melakukannya. Tapi nasihat dari Master Shifu kembali terngiang: aku takkan mengubah dirimu menjadi orang lain, kau adalah kau. Dari situlah Po dapat petunjuk untuk mengalahkan Kai.

Kung Fu Panda 3 sesak oleh unsur lawakan yang universal dan pecah. Juga pesan yang klasik. Sebuah sekuel yang matang dan mengharukan khususnya saat Po diselamatkan oleh orang-orang tersayangnya tatkala terjebak di dunia roh bersama Kai. Sepertinya bagian pertarungan terakhir itu perlu dipoles dengan suntingan suara yang grande tapi sang penata suara malas orangnya.

Trilogi Kung Fu Panda ibarat piramida utuh dengan puncaknya yang tangguh tanpa perlu bangunan tambahan berupa sekuel yang berpotensi merobohkan bangunan.

Selasa, 08 Maret 2016

189. Gadis Yang Mengakhiri Permainan

Membuat film yang minimalis memang susah-susah gampang. Di sisi lain banyak partikel-partikel yang perlu dibuang, di sisi lain perlu memberi kebersahajaan demi gaya film tersebut, seperti pada Final Girl (2015)

Gadis kecil tanpa latar belakang yang terang diwawancarai seorang pria.
"Ayah Ibumu meninggal, apa perasaanmu?"
"Biasa saja, semua orang mengalami itu."

Tanpa motivasi yang benderang (sebuah partikel yang tercampakkan), William (Wes Bentley) berencana melatih gadis itu, Veronica (Gracyn Shinyei). Ketika besar, Veronica (Abigail Breslin) punya misi membasmi empat lelaki berandalan yang hobi memburu dan membunuh puluhan gadis muda. Yaitu Jameson (Alexander Ludwig), Shane (Cameron Bright), Nelson (Reece Thompson), dan Daniel (Logan Huffman).

Singkat cerita, Veronica mengorbankan diri sebagai target para lelaki bandit yang suka pakai tuksedo ke hutan untuk membunuh para cewek. Veronica yang dalam dialog William telah dilatih satu dasawarsa lebih dua tahun untuk menjadi jagoan mesti menghadapi keempat lelaki, terutama sang alfa, Jameson, yang lebih tangguh.

Sudut kamera dan sinematografi secara keseluruhan sangat indah mendukung kosmetika cerita film. Namun penokohan Veronica yang seharusnya penonton bersimpatik kepadanya terasa hambar. Karakternya hanya satu dimensi: pembalas dendam bagi 20 cewek yang mati sia-sia di tangan empat cowok berandal. Lalu hubungan dengan sang pelatih, William, juga tidak berkembang. Ada partikel sampah yang mesti dibuang di sini: Veronica sudah terlatih membunuh dan membela diri selama 12 tahun lalu untuk apa dia menjebak ketiga cowok, kecuali Jameson, untuk minum alkohol bercampur cairan DNT yang bikin si cowok berhalusinasi sehingga mudah dikalahkan oleh Veronica? Kita analogikan, kamu sudah berlatih berenang 12 tahun lalu ketika kapal yang kamu naiki karam di pantai (kayak Rafelia), kamu masih pakai pelampung.

Juga gaya bela diri Veronica terasa kikuk. Dan apa motivasi William melakukan ini semua, apa dia anggota FBI yang mengincar keempat cowok jahanam itu. Oh, come on, banyak potensi dari skrip yang sebetulnya bisa menarik tapi tersisih. Tapi saya punya sanggahan, ini hanya film yang sifatnya kurang ajar dengan dunianya sendiri. Jika kamu berpikir begitu, oh amboi betapa Final Girl begitu molek, minimalis, dan stylish, walau kurang garang aja aksi fight-nya.

Kamis, 21 Januari 2016

188. Melodrama Himalaya

Film tentang pendakian gunung Everest (pegunungan Himalaya umumnya) sudah banyak dibuat. Korea Selatan sebagai produsen film yang melaju secepat cahaya tak mau kalah. Bisa dibilang The Himalayas (2015, rilis di Indonesia 2016) adalah film pendakian Himalaya pertama mereka.

Mendaki gunung selalu dialegorikan sebagai mendaki batas kemampuan manusia itu sendiri terhadap kesejatian hidup. Atau pada batas (solidaritas) kemanusiaan.

Dengan embel-embel berdasar kisah nyata, Um Hong Gil (Hwang Jung Min) dan timnya; Ra Mi Ran (Jo Myung Ae), Lee Dong Gyo (Cho Seong Ha), dan Kim Moo Young (Kim Won Hae), dll, mendaki gunung lagi setelah Moo Taek (Jung Woo) dikabarkan menghilang di Everest bersama dua rekannya. Moo Taek adalah murid Hong Gil dan mereka pernah mendaki Puncak Kangchengjunga. Sampai suatu hari kaki Hong Gil cedera serius dan memaksanya untuk pensiun dari dunia daki gunung.

Hong Gil seorang mentor yang tegas dan berwibawa namun hatinya lembut. Sementara Moo Taek murid humoris dan berkemauan keras, misal saat mendaki dan cuaca sedang ganas ia pantang mundur karena tidak tahu jalan turunnya. Di sisi lain dia mesti memutuskan pacarnya yang akhirnya dinikahi juga. Juga hubungan Hong Gil dan keluarganya yang terasa berjarak lantaran hobi mendakinya. Sampai pada alinea ini fundamen drama digodok perlahan dalam api kecil. Dimatangkan dengan seting utama film ini dalam sinematografi pegunungan berbadai salju, lika-liku dan rintangan menghadapi Himalaya, dan sisi humanis yang masih logis; tak usah membahayakan nyawa sendiri jika Moo Taek masih ingin tinggal di gunung, kata Soo Young (Jung Yu Mi) istri Moo Taek.

The Himalayas tampil dengan wajah melodrama khas Asia yang pada beberapa bagian cenderung hiperbolik karena sudah nampol di bagian sebelumnya dan melempem di bagian selanjutnya. Lee Suk Hoon, sang sutradara, seperti kebablasan mendramatisasir airmata. Sesi daki-mendaki tidak terlalu intens dan lebih sesak dengan dramanya. Tapi Suk-Hoon cukup sukses sih dengan tujuan film ini.

Saat di Tanah Air demam Star Wars, di Korea Selatan film ini berhasil menjegal film JJ Abrams itu di box office Korea. The Himalayas rilis di Indonesia dengan sensasi studio Sphere X dan Starium milik CGV Blitz.

Kemarin saya coba studio Sphere X di Blitz Grand Indonesia HTM weekdays IDR 60K. Sphere X sendiri adalah wahana sinema dengan layar melengkung berformat audio Dolby Atmos. Ruangan sengaja melengkung di bagian atap demi menciptakan efek akustik yang menggetarkan. Katanya begitu, tapi saya tidak terkesan dibandingkan IMAX di XXI yang berlayar normal (lengkung dikit) dengan audio bombastis. Sphere X teknologi Korea Selatan ini seperti “ada-ada aja” karena layar melengkung frontal itu gak ada gunanya buat visual penonton, bagian sisi bawah di teks terlihat gelap dan efek cahaya proyektor di tepi-tepi layar terasa aneh. Termasuk audio Dolby Atmos-nya yang tidak menggetarkan reseptor kuping saya. Beda sama Atmos Epicentrum XXI yang cuma 25ribu.


3,5/5

Minggu, 17 Januari 2016

187. Dua Jam Bersama Victoria

Di biru remangnya suasana kelab malam di Berlin, cewek pendatang dari Madrid berjumpa dengan empat cowok begundal, di antaranya Sonne (Frederick Lau), Boxer (Franz Rogowski), dan Fuss (Max Mauff), juga Blinker (Burak Yigit). Victoria (Laia Costa) tertarik dengan kebergajulan mereka. Fuss yang teler berat, lalu mereka kongko-kongko di atap apartemen, sampai Sonne yang mengutil minuman di toko.

Mereka berlima hanyut dalam lautan endorfin. Apalagi Victoria kecolongan curhat pada Sonne tentang kemampuannya memainkan piano dan pupusnya cita-cita itu. Hingga letupan senyawa di antara mereka tumbuh dengan pelan dan terarah. 

Victoria (2015, Jerman) yang direkam dalam satu take ini akan terasa hambar bila tak ada komplikasi cerita. Boxer merasa berutang budi pada Andi (Andre Hennicke) semasa di penjara, dan dengan berat hati mesti menuruti perintah Andi si kepala gangster itu. Ya, kecuali Fuss yang teler parah, mereka harus merampok bank pagi buta termasuk Victoria sebagai sopirnya. Nah dari situlah segala titik balik kemudaratan terjadi.

Judul resensi ini memang dua jam dalam arti sebenarnya. Lebih tepatnya 138 menit. Maka penonton diajak menyaksikan waktu aktual (real time) dari pukul 4.30 pagi sampai sekitar 7 pagi bersama aktor, aktris, ekstra, dan dimensi ruang kota Berlin. Tiada teriakan cut sebagaimana model produksi film semestinya. Tidak ada penyuntingan gambar, kendati tetap harus disunting minor. Tidak ada dialog yang mutlak, boleh diimprovisasi pemerannya. Mungkin yang membuat hal ini mudah bagi aktornya adalah ini bukan film drama serius, ini film bersenang-senang dan jatuhnya menjemukan di beberapa bagian. 

Judul film dengan teknik serupa sebutlah Birdman (film terbaik Oscar 2014) walau tidak murni sebab masih menggunakan trik kamera dan efek khusus. Salut untuk sutradara Victoria Sebastian Schipper dan sinematografer Sturla Brandth Grovlen yang namanya disebut pertama di credit title.

Victoria berjaya di antaranya, di German Film Awards, Berlin International Film Festival, dan San Diego Film Festival. 

4/5

Rabu, 13 Januari 2016

186. Teror Bioskop Tengah Malam

Syahdan, manakala krisis moneter Asia 1997 (film ini berlatar 1998) bioskop Podium sedang lesu darah. Di samping iklim politik yang membara, jumlah penonton selalu sepi. Pak Jo (Ronny P. Tjandra), si empunya bioskop, mencoba menarik pengunjung dengan diputarkan pertunjukan tengah malam dengan iming-iming film berdasar kisah nyata tentang bocah 12 tahun bernama Bagas yang membantai semua keluarganya. Ya, film itu berjudul “Bocah”.

Midnight Show menyoroti latar bioskop dan orang-orangnya seperti Juna (Gandhi Fernando) si proyeksionis, Naya (Acha Septriasa) penjual dan penyobek tiket, Lusi (Gesata Stella) tukang bersih-bersih, dan Allan (Daniel Topan) keamanan. Saat malam pertunjukan ada saja penonton aneh, Sarah (Ratu Felisha) perek yang sedang berkencan dengan pelanggannya, Ikhsan (Boy Harsya), dan lelaki berjaket jumper nan misterius juga seorang bapak pembawa tas yang gelisah.

Tak dinyana terjadi chaos di studio di mana satu demi satu orang di gedung Podium dihabisi oleh Tama (lelaki berjaket, Ganindra Bimo) yang konon sutradara dari film Bocah itu. Lakon Ganindra Bimo si eksekutor tidak sedingin Fahri Albar di Pintu Terlarang (2009) dan Kazuki Kitamura di Killers (2014). Mungkin dia pakai topeng scream. Dalam film thriller-slasher kebanyakan, aksi bunuh-bunuhan berdarah yang bikin hati jeri hanyalah awal untuk masuknya sisi misterinya. Siapa itu Bagas sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan hakim, jaksa, dan wartawan yang merasa bertanggung jawab atas vonis 15 tahun kurungan yang ditanggung Bagas? Ada penjahat di balik penjahat.

Twist ending is common formula in thriller movie. Yang bikin twist kurang nonjok mungkin ketaktelatenan penulis Husein M. Atmodjo menguak proses “kejahatan di balik kejahatan” itu sendiri. Tergantung perspektif audien sih. Padahal ceritanya simpel. Ada aroma persekongkolan dalam proses peradilan atas kasus Bagas. Selain kehororan, tersempil pula humor seperti permen emut seharga 100 perak dan celetukan Ratu Felisha.

Jika menengok portofolionya (macam saham) sutradara Ginanti Rona sebelumnya pernah jadi astrada The Raid dan The Raid Berandal, Rumah Dara, dan Killers. Film produksi Renee Pictures ini lumayan jadi ragam dalam khasanah perfilman lokal yang box office-nya didominasi komedi dan religi. Tapi audien Tanah Air memang masih cemen akan film penuh darah.

☆☆☆/☆☆☆☆☆

Minggu, 10 Januari 2016

185. Dia Yang Dijuluki "Wanita Maut"

“Berapa musuh yang Anda bunuh? “ tanya Eleanor Roosevelt (Joan Blackham) ibu negara AS kepada seorang delegasi militer Uni Soviet.

“Tidak banyak. Hanya fasis,” jawabnya sedingin luka.

Bitva Za Sevastopol, 2015 (Pertempuran Mempertahankan Sevastopol) sebuah biopik Rusia-Ukraina tentang perempuan penembak jitu asal Uni Soviet semasa Perang Dunia II melawan pendudukan Fasis Jerman (Nazi). Gadis muda itu, Lyudmila Pavlichenko (Yuliya Peresild) ialah anak seorang pejuang yang seperti memikul beban patriotik sementara ia hanyalah perempuan. Walau masa itu kontribusi perempuan dalam perang masih terbentur bias gender, kapabilitasnya sebagai penembak mumpuni membawanya ke garis medan terdepan, salah satunya di Sevastopol.

Bakat Lyudmila tidak terlepas dari peran Kapten Makarov (Oleg Vasilkovas) di debut perangnya di Odessa. Ada benih cinta di antara mereka sekalipun temannya, Sonia, telah memperkenalkan pada dokter militer bernama Boris. Di antara pertempuran terselip pula cerita cinta. Antara Lyudmila dan Makarov maupun antara Lyudmila dan Kitsenko (Evgeniy Tsyganov). Harus diakui segmen romansa mereka sungguh garing dan tidak berkembang. Ini yang bikin penonton tidak simpatik kepada tokoh utamanya. Dalam bahasa sinismenya, betapa perempuan ini begitu gatal dengan dua lelaki dalam interval berdekatan di samping kebutuhan psikologisnya di situasi nan berat.

Meski begitu bahasa cinta tersampaikan lewat sinematografi keanggunan padang rumput dan putihnya salju yang berdarah. Juga maskulinitas perang yang kurang bombastis dan mencekam. Maklum tema utama yang mau ditonjolkan ialah “perempuan sniper Soviet yang mencabut nyawa 309 Nazi” yang di posternya diimbuhi “perempuan yang mengubah dunia”. Kecuali akting Yuliya yang cukup menjiwai sebagai prajurit perang, tujuan utama sutradara Serhiy Mokrytskyi kurang memenuhi hasrat itu sendiri. Good but not great yet...