186. Teror Bioskop Tengah Malam

Syahdan, manakala krisis moneter Asia 1997 (film ini berlatar 1998) bioskop Podium sedang lesu darah. Di samping iklim politik yang membara, jumlah penonton selalu sepi. Pak Jo (Ronny P. Tjandra), si empunya bioskop, mencoba menarik pengunjung dengan diputarkan pertunjukan tengah malam dengan iming-iming film berdasar kisah nyata tentang bocah 12 tahun bernama Bagas yang membantai semua keluarganya. Ya, film itu berjudul “Bocah”.

Midnight Show menyoroti latar bioskop dan orang-orangnya seperti Juna (Gandhi Fernando) si proyeksionis, Naya (Acha Septriasa) penjual dan penyobek tiket, Lusi (Gesata Stella) tukang bersih-bersih, dan Allan (Daniel Topan) keamanan. Saat malam pertunjukan ada saja penonton aneh, Sarah (Ratu Felisha) perek yang sedang berkencan dengan pelanggannya, Ikhsan (Boy Harsya), dan lelaki berjaket jumper nan misterius juga seorang bapak pembawa tas yang gelisah.

Tak dinyana terjadi chaos di studio di mana satu demi satu orang di gedung Podium dihabisi oleh Tama (lelaki berjaket, Ganindra Bimo) yang konon sutradara dari film Bocah itu. Lakon Ganindra Bimo si eksekutor tidak sedingin Fahri Albar di Pintu Terlarang (2009) dan Kazuki Kitamura di Killers (2014). Mungkin dia pakai topeng scream. Dalam film thriller-slasher kebanyakan, aksi bunuh-bunuhan berdarah yang bikin hati jeri hanyalah awal untuk masuknya sisi misterinya. Siapa itu Bagas sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan hakim, jaksa, dan wartawan yang merasa bertanggung jawab atas vonis 15 tahun kurungan yang ditanggung Bagas? Ada penjahat di balik penjahat.

Twist ending is common formula in thriller movie. Yang bikin twist kurang nonjok mungkin ketaktelatenan penulis Husein M. Atmodjo menguak proses “kejahatan di balik kejahatan” itu sendiri. Tergantung perspektif audien sih. Padahal ceritanya simpel. Ada aroma persekongkolan dalam proses peradilan atas kasus Bagas. Selain kehororan, tersempil pula humor seperti permen emut seharga 100 perak dan celetukan Ratu Felisha.

Jika menengok portofolionya (macam saham) sutradara Ginanti Rona sebelumnya pernah jadi astrada The Raid dan The Raid Berandal, Rumah Dara, dan Killers. Film produksi Renee Pictures ini lumayan jadi ragam dalam khasanah perfilman lokal yang box office-nya didominasi komedi dan religi. Tapi audien Tanah Air memang masih cemen akan film penuh darah.

☆☆☆/☆☆☆☆☆

Komentar

Postingan Populer