Minggu, 17 Januari 2016

187. Dua Jam Bersama Victoria

Di biru remangnya suasana kelab malam di Berlin, cewek pendatang dari Madrid berjumpa dengan empat cowok begundal, di antaranya Sonne (Frederick Lau), Boxer (Franz Rogowski), dan Fuss (Max Mauff), juga Blinker (Burak Yigit). Victoria (Laia Costa) tertarik dengan kebergajulan mereka. Fuss yang teler berat, lalu mereka kongko-kongko di atap apartemen, sampai Sonne yang mengutil minuman di toko.

Mereka berlima hanyut dalam lautan endorfin. Apalagi Victoria kecolongan curhat pada Sonne tentang kemampuannya memainkan piano dan pupusnya cita-cita itu. Hingga letupan senyawa di antara mereka tumbuh dengan pelan dan terarah. 

Victoria (2015, Jerman) yang direkam dalam satu take ini akan terasa hambar bila tak ada komplikasi cerita. Boxer merasa berutang budi pada Andi (Andre Hennicke) semasa di penjara, dan dengan berat hati mesti menuruti perintah Andi si kepala gangster itu. Ya, kecuali Fuss yang teler parah, mereka harus merampok bank pagi buta termasuk Victoria sebagai sopirnya. Nah dari situlah segala titik balik kemudaratan terjadi.

Judul resensi ini memang dua jam dalam arti sebenarnya. Lebih tepatnya 138 menit. Maka penonton diajak menyaksikan waktu aktual (real time) dari pukul 4.30 pagi sampai sekitar 7 pagi bersama aktor, aktris, ekstra, dan dimensi ruang kota Berlin. Tiada teriakan cut sebagaimana model produksi film semestinya. Tidak ada penyuntingan gambar, kendati tetap harus disunting minor. Tidak ada dialog yang mutlak, boleh diimprovisasi pemerannya. Mungkin yang membuat hal ini mudah bagi aktornya adalah ini bukan film drama serius, ini film bersenang-senang dan jatuhnya menjemukan di beberapa bagian. 

Judul film dengan teknik serupa sebutlah Birdman (film terbaik Oscar 2014) walau tidak murni sebab masih menggunakan trik kamera dan efek khusus. Salut untuk sutradara Victoria Sebastian Schipper dan sinematografer Sturla Brandth Grovlen yang namanya disebut pertama di credit title.

Victoria berjaya di antaranya, di German Film Awards, Berlin International Film Festival, dan San Diego Film Festival. 

4/5

Tidak ada komentar: