Kamis, 21 Januari 2016

188. Melodrama Himalaya

Film tentang pendakian gunung Everest (pegunungan Himalaya umumnya) sudah banyak dibuat. Korea Selatan sebagai produsen film yang melaju secepat cahaya tak mau kalah. Bisa dibilang The Himalayas (2015, rilis di Indonesia 2016) adalah film pendakian Himalaya pertama mereka.

Mendaki gunung selalu dialegorikan sebagai mendaki batas kemampuan manusia itu sendiri terhadap kesejatian hidup. Atau pada batas (solidaritas) kemanusiaan.

Dengan embel-embel berdasar kisah nyata, Um Hong Gil (Hwang Jung Min) dan timnya; Ra Mi Ran (Jo Myung Ae), Lee Dong Gyo (Cho Seong Ha), dan Kim Moo Young (Kim Won Hae), dll, mendaki gunung lagi setelah Moo Taek (Jung Woo) dikabarkan menghilang di Everest bersama dua rekannya. Moo Taek adalah murid Hong Gil dan mereka pernah mendaki Puncak Kangchengjunga. Sampai suatu hari kaki Hong Gil cedera serius dan memaksanya untuk pensiun dari dunia daki gunung.

Hong Gil seorang mentor yang tegas dan berwibawa namun hatinya lembut. Sementara Moo Taek murid humoris dan berkemauan keras, misal saat mendaki dan cuaca sedang ganas ia pantang mundur karena tidak tahu jalan turunnya. Di sisi lain dia mesti memutuskan pacarnya yang akhirnya dinikahi juga. Juga hubungan Hong Gil dan keluarganya yang terasa berjarak lantaran hobi mendakinya. Sampai pada alinea ini fundamen drama digodok perlahan dalam api kecil. Dimatangkan dengan seting utama film ini dalam sinematografi pegunungan berbadai salju, lika-liku dan rintangan menghadapi Himalaya, dan sisi humanis yang masih logis; tak usah membahayakan nyawa sendiri jika Moo Taek masih ingin tinggal di gunung, kata Soo Young (Jung Yu Mi) istri Moo Taek.

The Himalayas tampil dengan wajah melodrama khas Asia yang pada beberapa bagian cenderung hiperbolik karena sudah nampol di bagian sebelumnya dan melempem di bagian selanjutnya. Lee Suk Hoon, sang sutradara, seperti kebablasan mendramatisasir airmata. Sesi daki-mendaki tidak terlalu intens dan lebih sesak dengan dramanya. Tapi Suk-Hoon cukup sukses sih dengan tujuan film ini.

Saat di Tanah Air demam Star Wars, di Korea Selatan film ini berhasil menjegal film JJ Abrams itu di box office Korea. The Himalayas rilis di Indonesia dengan sensasi studio Sphere X dan Starium milik CGV Blitz.

Kemarin saya coba studio Sphere X di Blitz Grand Indonesia HTM weekdays IDR 60K. Sphere X sendiri adalah wahana sinema dengan layar melengkung berformat audio Dolby Atmos. Ruangan sengaja melengkung di bagian atap demi menciptakan efek akustik yang menggetarkan. Katanya begitu, tapi saya tidak terkesan dibandingkan IMAX di XXI yang berlayar normal (lengkung dikit) dengan audio bombastis. Sphere X teknologi Korea Selatan ini seperti “ada-ada aja” karena layar melengkung frontal itu gak ada gunanya buat visual penonton, bagian sisi bawah di teks terlihat gelap dan efek cahaya proyektor di tepi-tepi layar terasa aneh. Termasuk audio Dolby Atmos-nya yang tidak menggetarkan reseptor kuping saya. Beda sama Atmos Epicentrum XXI yang cuma 25ribu.


3,5/5

Tidak ada komentar: