Minggu, 10 Januari 2016

185. Dia Yang Dijuluki "Wanita Maut"

“Berapa musuh yang Anda bunuh? “ tanya Eleanor Roosevelt (Joan Blackham) ibu negara AS kepada seorang delegasi militer Uni Soviet.

“Tidak banyak. Hanya fasis,” jawabnya sedingin luka.

Bitva Za Sevastopol, 2015 (Pertempuran Mempertahankan Sevastopol) sebuah biopik Rusia-Ukraina tentang perempuan penembak jitu asal Uni Soviet semasa Perang Dunia II melawan pendudukan Fasis Jerman (Nazi). Gadis muda itu, Lyudmila Pavlichenko (Yuliya Peresild) ialah anak seorang pejuang yang seperti memikul beban patriotik sementara ia hanyalah perempuan. Walau masa itu kontribusi perempuan dalam perang masih terbentur bias gender, kapabilitasnya sebagai penembak mumpuni membawanya ke garis medan terdepan, salah satunya di Sevastopol.

Bakat Lyudmila tidak terlepas dari peran Kapten Makarov (Oleg Vasilkovas) di debut perangnya di Odessa. Ada benih cinta di antara mereka sekalipun temannya, Sonia, telah memperkenalkan pada dokter militer bernama Boris. Di antara pertempuran terselip pula cerita cinta. Antara Lyudmila dan Makarov maupun antara Lyudmila dan Kitsenko (Evgeniy Tsyganov). Harus diakui segmen romansa mereka sungguh garing dan tidak berkembang. Ini yang bikin penonton tidak simpatik kepada tokoh utamanya. Dalam bahasa sinismenya, betapa perempuan ini begitu gatal dengan dua lelaki dalam interval berdekatan di samping kebutuhan psikologisnya di situasi nan berat.

Meski begitu bahasa cinta tersampaikan lewat sinematografi keanggunan padang rumput dan putihnya salju yang berdarah. Juga maskulinitas perang yang kurang bombastis dan mencekam. Maklum tema utama yang mau ditonjolkan ialah “perempuan sniper Soviet yang mencabut nyawa 309 Nazi” yang di posternya diimbuhi “perempuan yang mengubah dunia”. Kecuali akting Yuliya yang cukup menjiwai sebagai prajurit perang, tujuan utama sutradara Serhiy Mokrytskyi kurang memenuhi hasrat itu sendiri. Good but not great yet... 

Tidak ada komentar: