Kamis, 11 Desember 2014

155. Domo Arigato, Doraemon

Doraemon ialah idola pop lintas zaman dan negara. Paling tidak bagi generasi 70-an hingga kini. Animenya masih berkibar di RCTI dan layar perak, manganya (komik) masih mejeng di rak toko buku di saat buku lain sudah didepak ke area cuci gudang.

Tahun ini tiga rumah produksi Jepang gotong royong dengan ambisi besar: memboyong versi animasi dwimatra (2D) Doraemon ke dalam bentuk trimatra (3D) dengan judul Stand By Me Doraemon (SBMD). Tren ini pernah dilakukan oleh Nickelodeon Movies melalui The Adventures of Tintin pada 2011 dan studio yang sama lewat The Spongebob Movie: Sponge Out of Water tahun depan. Plot SBMD merupakan potongan seri-seri manga seperti "All the Way From the Country of the Future", "Romance in Snowy Mountain", "Nobita's the night Before a Wedding", dan "Goodbye, Doraemon...".

STAND BY ME DORAEMON
Pengisi suara: Megumi Ohara, Yumi Kakazu, Subaru Kimura, Tomokazu Seki, Shihoko Hagino, Wasabi Mizuta.
Penulis skenario: Takashi Yamazaki, berdasar komik karya duo Fujiko F. Fujio (Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko).
Sutradara: Takashi Yamazaki, Ryuchi Yagi.
Produksi dan distribusi: Shirogumi, Robot Communications, Shin-Ei Animations, dan Toho.

Prolog dibuka dengan gambar Nobi Nobita (Megumi Ohara) terbang melayang di angkasa lantaran dipanggil Shizuka Minamoto (Yumi Kakazu) dalam mimpi--dasar cinta monyet--sampai... tentu saja terlambat sekolah dan dihukum di depan kelas. Lalu diledek oleh Giant/Takeshi Gouda (Subaru Kimura) dan Suneo Honekawa (Tomokazu Seki). Itu generik sekali.

Suatu hari Sewashi (Yoshiko Kamei) yang adalah cucunya cucu Nobita (generasi keempat keturunan Nobita) datang dari masa depan pada abad 22 dalam misi membantu dan membahagiakan kakek buyutnya dengan bantuan robot kucing bernama Doraemon (Wasabi Mizuta). Misi besarnya adalah supaya di masa depan Nobita bisa sukses dan menikah dengan Shizuka.

Tapi itu bukan perkara mudah sebab rival terberatnya adalah Dekisugi (Shihoko Hagino). Anak yang rajin belajar dan berkemauan keras. Alat-alat Doraemon yang legendaris hadir dengan sekuen cepat karena sutradara merasa penonton sudah akrab dengannya. Sebut saja demonstrasi Baling-Baling Bambu yang digarap sangat epik ketika Nobita pertama kali mencobanya. Kocak dan koplak, yah sebagian komedinya splastick sih. Tak mungkin tawa penonton tak pecah. Bisa dibilang SBMD lebih lucu dan enggak sesendu yang diperkirakan.

Detail rambut Nobita sangat teliti meski tidak seteliti tokoh Merida dalam Brave. Apalagi latar kota masa depan yang terlalu futuristik. Warna-warni pastel. Deru badai salju yang terasa hidup. Sayangnya perancang musik malu-malu menyisipkan selirik-dua lirik lagu Himawari no Yakusoku/Janji Bunga Matahari pada slot yang tepat, malah saat tutup layar baru keluar.

Jika SBMD dilihat secara tunggal, maksudnya Anda tidak mengenal Doraemon cs sama sekali, bisa dibilang film ini terasa prematur. Penulis skenario seolah sprinter yang terengah-engah menjalin banyak cuplikan manganya dalam rentang waktu 90-an menit kendati mampu menginjak garis finis dengan sukses (enggak tega bilang... dengan klise... karena Yamakazi patuh pada pakem manganya meski sedikit beda di bagian pertama kali Nobita bertemu Doraemon. Di manga dan anime ketemu siang hari, di SBMD malam). Bisa dibilang tidak banyak studio animasi yang berani memproduksi fitur animasi lebih dari 100 menit. Ini berisiko bikin anggaran membengkak dan tahap produksi jadi lebih lama.

Stand By Me cukup menghibur dan sayang dilewatkan sebagai tontonan ujung tahun. Baik sebagai nostalgia maupun hiburan keluarga bagi yang sudah berkeluarga. Ditayangkan di jaringan sinema blitzmegaplex, Cinemaxx, dan Platinum Cineplex.

Minggu, 30 November 2014

154. Anugerah dalam Atribut Kesetanan

"I will love you for the rest of my life."
"Just love me for the rest of mine."

Dialog manis pada pembuka film terasa (tidak) ambigu ketika Merrin (Juno Temple) membalas gombalan Ignatius "Ig" Perrish (Daniel Radcliffe). Mereka sejoli yang memadu kasih di rumah pohon di bibir hutan, tempat persembunyian mereka sejak kanak-kanak.

Maka biarkanlah penonton menahan napas kemanisan sebab gambar berubah seratus delapan puluh derajat. Merrin terbunuh di rumah pohonnya. Tidak meninggalkan jejak kejahatan sama sekali. Tak ayal, hampir semua orang (orangtua Ig, orangtua korban, tetangga, nyamuk pers, pelayan restoran yang terobsesi jadi terkenal, termasuk dua polisi gay yang membuntuti tindak-tanduk Ig) menaruh syak wasangka bahwa Ig lah yang paling punya motif untuk melakukannya. Walau Ig punya alibi yang kuat dan terbebas dari tuntutan hukum.

Dari sinilah sebuah premis original bertutur lewat tanduk (horns) yang tumbuh dari kepala Ig, tanpa tedeng aling-aling, bersama ular (-ular) yang mengalung di pundaknya. Maklumi saja, ini fantasi-kriminal-supra.

HORNS
Pemain: Daniel Radcliffe, Juno Temple, Max Minghella, Joe Anderson, Kelli Garner, James Remar, Mitchell Kummen, Sabrina Carpenter.
Skenario: Keith Bunin.
Sutradara: Alexandre Aja.
Produksi & distribusi: Red Granite Pictures, Mandalay Pictures, Dimension Films.

Suatu hari, saat terbangun karena mabuk atas apa yang telah terjadi pada pujaan hatinya, Ig mendapati dua tanduk tumbuh dari keningnya. Panik, ia menemui seorang dokter untuk menangangi anomali di tubuhnya. Sampai ia tersadar mempunyai kekuatan ketika menyentuh pasien wanita bersama putri kecilnya yang terus berteriak.

Rupanya, atribut keiblisan berupa tanduk di kepala Ig hanyalah ironi belaka. Alih-alih memiliki kekuatan setan nan menakutkan, ia menikmatinya sebagai demoniak, dengan galau. Ig berusaha menyelidiki siapa bajingan yang telah memperkosa sekaligus membunuh kekasihnya itu. Melalui pendekatan secara persuasi Ig mampu mempengaruhi orang melakukan apa yang ia mau dan menampilkan sisi kelam mereka, tak terkecuali dua polisi yang kerap membuntuti Ig--lalu keluarlah pengakuan terbesar mereka (homoseksual). Tak lupa mendesak orang-orang terdekatnya untuk mengakui, seperti Terry (Joe Anderson) dan Lee (Max Minghella). Mereka berdua dan Ig adalah orang-orang yang terakhir kali bersama Merrin sebelum tewas.

Demi memperdalam koherensi cerita, Alexandre Aja sering melakukan sesi alur mundur, terutama tatkala Ig dkk masih belia. Ini membikin penonton mencurigai tokoh mana yang bertanggung jawab atas kematian Merrin. Formula penuturannya terkesan absurd, kaku, dan encer sebagai film kriminal, dengan beberapa sub genre. Namun Horns tidak memposisikan diri sebagai kriminal klasik, di mana tokoh dan otoritas kepolisian menguak tiap kemungkinan sebagai umpan investigasi. Lantaran Ig punya demon power sebagai interogrator mumpuni... yang bimbang dan masih manusiawi.

Alexandre Aja memang tipe yang suka main-main (lihat saja Maniac). Latar kota Horns seolah terpencil lantaran lokasi syuting di beberapa daerah di Provinsi British Columbia, Kanada. Tata kamera dan efek visual yang sederhana, mood gambar yang muram, kalung salib sebagai klu, nuansa komedi, dan lagu David Bowie--Heroes--yang rotasinya berulang. Dengan drama romansa yang kuat, dukungan akting Juno dan Joe, seperti sembunyikanlah kepahitan dengan kata-kata ambigu nan manis.

Paling tidak, Horns semacam film yang menghibur sebagian penontonnya dan membuat yang lain jengkel (penulis sih lumayan terhibur). Seperti film yang minta dimengerti penontonnya, bukan sama-sama dimengerti.

Horns merupakan adaptasi novel drama kriminal supranatural (dengan judul sama) karya Joe Hill--Joseph Hillstrom King--anak Stephen King, maestro novel/skenario horor, supranatural, gotik, dsj. Adagium "buah jatuh tak jauh dari pohonnya" memang abadi.

Horns sudah diputar pada ajang Toronto International Film Festival 2013 dan pada momen Halloween tahun ini. Sayangnya, film produksi bersama AS-Kanada ini tersengal-sengal dalam tangga box office dan harus ikhlas di posisi 30 pada awal perilisannya.

Film ini khusus dewasa karena mengandung unsur ketelanjangan dan seks.

I, I wish you could swim
Like the dolphins, like dolphins can swim
Though nothing, nothing will keep us together
We can beat them, for ever and ever
Oh we can be Heroes, just for one day

Jumat, 17 Oktober 2014

153. Perempuan Tangguh di Samping Sang Pahlawan


Likas Tarigan adalah istri dari pejuang Letjen Djamin Ginting, sang tentara PETA, satu dari dua ajudan Jenderal Ahmad Yani yang selamat saat pemberontakan G30S, dan pernah menjadi duta besar Indonesia untuk Kanada.

Nama Likas boru Tarigan memang tidak sepopuler Ainun, Kartini, bahkan Cut Nyak Dien dalam (wanita) sejarah Indonesia. Melalui layar lebar bertajuk 3 Nafas Likas, Rako Prijanto berusaha mengenalkan nama beliau dalam seratusan menit.

3 NAFAS LIKAS

Pemain: Atiqah Hasiholan, Vino G. Bastian, Tutie Kirana, Marissa Anita, Mario Irwinsyah, Arswendi Nasution, Ernest Samudra, Tissa Biani Azzahra.
Produser: Rihana Djamin Gintings, Reza Hidayat.
Penulis: Titien Wattimena.
Sutradara: Rako Prijanto.
Studio: Oreima Films

Likas kecil (Tissa Azzahra) adalah perempuan yang bersemangat bersekolah dan cerdas. Dia sampai mengobrak-abrik ladang jagung milik tetangganya hanya karena merasa dihina temannya. Kemauannya untuk sekolah kian membara karena tidak mau hanya menjadi perempuan yang tunduk pada kodrat adat--menemani suami ke sawah, menumbuk padi, mengurus anak dan babi, sementara sang suami bersenang-senang dengan mulut bau tuak. Begitulah kira-kira nasihat yang dia dengar dari Jure (Ernest Samudra), kakak laki-lakinya, seorang pelaut.

Ibunya (Jajang C Noer) yang konservatif dan posesif adalah tembok berlin bagi kebebasan Likas melanjutkan ke sekolah Belanda. Ia diimingi-imingi perhiasan agar mengurungkan niatnya bersekolah lebih tinggi.

"Kalau kau bersekolah ibu bisa mati," raung Ibunya sedih. Tapi bapaknya (Arswendi Nasution) adalah penolongnya hingga Likas kecil bersekolah sampai menjadi guru di Padang Panjang.

Sampai suatu ketika di Pangkalan Brandan, Likas dewasa (Atiqah Hasiholan) bersua dengan pejuang PETA bernama Djamin Ginting (Vino G Bastian) yang mengiriminya banyak surat demi mencuri hatinya. Walau tak mudah, Likas pun luluh menerima pinangannya. Sebagai pasangan baru, hidup Likas yang getir baru akan dimulai.

Dia sering ditinggal suaminya berjihad di medan perang melawan pihak Belanda baik sebelum dan sesudah membonceng sekutu pasca kemerdekaan. Likas dan handai tolannya juga mesti mengungsi hingga ke Aceh selatan.

Konsekuensi membuat film biopik (biography picture) bagi para film maker adalah membingkai banyak rentang masa dalam slot-slot minor (sebut saja fragmen). Rentang masa yang cukup lebar antara tahun 1930-an hingga 2000-an memungkinkan film menangkap banyak pesan dan emosi. Berhasilkah? Sedikit kedodoran. Jika biasanya film biopik, sebut saja Soegija (2012), Habibie & Ainun (2012), dan Sang Kiai (2013)--film milik Rako Prijanto sendiri dan meraih Citra tahun lalu, berpola atau katakanlah beritme 2-2-4-6-2 dengan emosi kita membuncah karena tenggelam di not 6, sepertinya 3 Nafas Likas mempunyai ritme 2-2-3-2-2. Penonton mungkin akan tersentuh (minimal berkaca-kaca) tapi emosinya kurang ditenggelamkan oleh not 3.

Film ini tetap terjaga dengan naskah yang ditulis apik oleh Titien Wattimena, walau kurang entah karena rentang masa yang terlalu banyak dalam fragmen-fragmen yang kecil atau memang kurang ada plot yang diprioritaskan. Ibaratnya kita mau menangis karena kematian Jure (abang Likas) tapi sekonyong-konyong adegan berganti tahun. Juga saat kita mau trenyuh saat pengungsian di Aceh, dengan cepat adegan berganti tahun.

Sisi humor tetap diselipkan saat Likas hendak ke Medan mau melihat suaminya ditawan dengan naik truk milik orang Tionghoa. Sepanjang jalan Likas mesti memangku akumulator yang berat itu dan banyak gerak sehingga truknya mati.

"Makanya bu, daripada banyak gerak mending banyak bicara," kata Tionghoa itu yang sebelumnya dibentak Likas karena ceriwis. Juga saat Djamin Ginting pulang ke Sisingamangaraja dengan naik panser sampai kaca rumah bergetar.

Sepuluh persen film ini memakai aksen Tanah Karo saat Likas dan Djamin sudah menikah. Seharusnya aksen Karo mulai diperkenalkan di awal film saat masa kecil Likas di desanya nan permai di Sibolangit demi menjaga keotentikan lokalitas. Pemeran ibu Likas (Jajang C Noer) juga tampak sangat tua. Zaman londo kan perawan 15 tahun juga sudah dinikahkan. Harusnya jadi neneknya.

Apalagi pertempuran melawan sekutu terasa kurang semenggigit seperti pada film Sang Kiai yang amat heroik dan patriotik di Surabaya. Hanya beberapa animasi pesawat, sedikit bom, dan tembakan. Mungkin kurang anggaran.

Tetap 3 Nafas Likas menarik diikuti sebagai perayaan perempuan dalam kancah perjuangan bangsa yang sering diremehkan karena benturan adat. Bilamana kita lama mengenal petitih "ada perempuan hebat di balik pria sukses", maka film ini punya petitih sendiri, "ada perempuan tangguh di samping sang pahlawan bangsa".

Minggu, 05 Oktober 2014

152. Alien

Aku melihatmu tanpa mata
Molek rupawan raga dan parasmu
Di ceruk lembah longsoran gletser berudara beku

Dengan mata, aku percaya
tanganmu terulur bagai angin pembawa musim

"Kau alien?" Pertanyaanku berdasar tatapan matamu
"Kau juga alien." Tuduhanmu ialah musim pembawa basah uap mataku menyirami lautan

Kau adalah keterasingan kaum liberal pada kitab suci nenek moyang
Yang melesakkan doa dari gurun

"Kau rumit." Protesmu mengenai kalimat figuratifku

Katamu, kaulah keterasingan kupu-kupu dan kepompong mengepak sayap bermotif cerita
Mengharap nektar yang tunduk pada angin pembawa musim

"Jadi kau yang alien!"
"Kau yang alien!"

Kau dan aku kaum asing dari warisan pitarah
Bermetamorfosis dari raga baru bersayap cerita
Yang alpa membaca arah musim kelima

Selasa, 23 September 2014

151. Lari dari Kenyamanan Semu

Datang lagi di jagat fiksi-sinema sebuah film berlatar dunia distopia (antitesis utopia), sebut saja di antaranya The Hunger Games dan The Divergent.

Apa yang baru dari film yang dipinang dari novel laris manis karya James Dashner, The Maze Runner? Premis cerita nan menjanjikan!

THE MAZE RUNNER

Pemain: Dylan O'Brien, Aml Ameen, Ki Hong Lee, Blake Cooper, Thomas Brodie-Sangster, Will Poulter, Kaya Scodelario, Joe Adler, Patricia Clarkson.

Sutradara: Wes Ball.

Skenario: Noah Oppenheim, Grant Pierce Myers, T.S. Nowlin.

Produksi/distribusi: Gotham Group,
Temple Hill Entertainment/ 20th Century Fox.

Dari elevator yang menderu-deru, muncullah seorang remaja yang kepayahan dan amnesia temporer. Dia disambut oleh cowok-cowok sepantarnya ke sebuah tempat berupa hutan kecil, padang rumput, ladang palawija, dan kandang (rumah) yang dikitari dinding beton ratusan meter, di pusat labirin. Mereka semua terjebak di tengah labirin. Bukan labirin seperti kebanyakan. Labirin yang disebut Glade itu konfigurasi dindingnya bisa berubah kapan saja (secara periodik?).

Remaja yang amnesia itu akhirnya tahu siapa namanya, Thomas (Dylan O'brien), beserta fragmen memori mengapa dia ada di sini, di Glade, walau ingatannya abu-abu. Thomas diterima dengan tangan terbuka oleh Alby (Aml Ameen) si pemimpin Glader (sebutan bagi penghuni Glade) dan dekat dengan Chuck (Blake Cooper), Glader termuda, gemuk, dan berambut merah tembaga.

Tak ada yang tahu siapa yang mengirim mereka ke Glade, semuanya terasa gelap. Yang pasti mereka hidup nyaman di sana setelah usai masa-masa kelam. Itulah kira-kira prinsip Gally (Will Poulter) si Glader antagonis yang taat aturan (di antaranya dilarang memasuki dinding Glade).

Sampai pertanyaan demi pertanyaan bercokol di benak Thomas: untuk apa kita di sini, ini bukan rumah kita, lebih baik mati daripada terpenjara. Dan Thomas bersama Minho (Ki Hong Lee) adalah dua dari para runner (pelari) yang tiap siang memasuki dan memetakan rongga-rongga labirin dan mesti kembali ke pusat sebelum matahari terbenam karena sebelumnya tiada Glader yang sanggup bertahan di rongga labirin karena ancaman Griever (serangga hibrida robot dan otot) yang sengatannya bisa mengacaukan pembuluh darah.

Hingga suatu petang, yang seharusnya pintu Glade bertala-tala tanda tertutup, kali itu tidak. Teror muncul. Griever masuk ke pusat dan membantai separuh penghuninya.

Menggetarkan!

Dengan tonase visual yang muram dan hangat, dan tekstur musik yang sederhana, The Maze Runner terbilang cukup menegangkan (thrilling) secara aksi namun melempem pada sektor drama dan penokohan. Banyak tokoh yang terasa bagai tempelan dan kurang kuat mengabarkan karakter sebenarnya. Misal aktor Will Pouter yang secara muka dan gestur terkesan satu dimensi sebagai Gally si antagonis. Sisi rapuhnya kurang disorot. Termasuk aktris Kaya Scodelario (Teresa), satu-satunya Glader cewek, si pemanis yang kurang manis. Kecuali untuk aktor Blake Cooper si pemeran Chuck yang dapat bumbu drama. Ia memahat patung mini dari kayu untuk orangtuanya yang bahkan tidak diingatnya. Terlepas apa akting mereka tersekat naskah skenarionya atau tidak. Semoga iya.

Apa pun itu, The Maze Runner unggul dari segi aksi thriller yang membuat penonton menahan kedip mata tatkala Griever menyerang dan saat formasi pintu dan pisau labirin bergerak dinamis dan sadis. Horor! Hampir tiada sekuens yang longgar.

Maka dengan premis yang menjanjikan (terperangkap di pusat labirin, labirin yang kompleks, tanpa tahu motifnya) sang sutradara cukup berhasil. Lumayan menghibur.

Rabu, 03 September 2014

150. Sparta Versus Persia Versi Asia


Syahdan, empat abad lalu, angkatan laut (AL) Dinasti Joseon (sekarang Korea) hanya memiliki 12 armada kapal untuk menangkis kembali invasi kedua AL Jepang (Zaman Azuchi-Momoyama) dengan 300 kapalnya di pantai Joseon.

ROARING CURRENTS
Pemain: Choi Min Sik, Ryu Seung-ryong, Jin-Woong Cho, Myung-gon Kim, Ku Jin, Jung-hyun Lee.
Sutradara: Han-min Kim.
Naskah dan cerita: Cheol-Hong Jeon, Han-min Kim.
Studio: CJ Entertainment.

Laksamana AL Joseon, Yin Sun-sin (Choi Min Sik) meminta pasukan lebih pada raja namun ditolak. Akibat kekalahan telak di Chilchonryang, AL Joseon cuma memililki 12 kapal, sisa-sisa perang. Mau tak mau dia harus menghadapi ratusan armada Jepang di bawah komando Kurushima Michifusa (Ryu Seung-ryong) dan Wakisaka Yasuharu (Cho Jin-woong).

Kondisi tersebut cukup menciutkan nyali pasukan Joseon. Ketakutan akan kekalahan perang, mati sia-sia, bercokol di benak tiap pasukan. Bahkan demi membakar semangat pasukannya Yin Sun-sin harus memenggal kepala anak buahnya dan membakar kamp di pantai. Apa itu cukup? Tidak! Rasa takut akan tetap menjadi takut sampai kita benar-benar menghadapinya di depan mata.

Roaring Currents (Myeong-ryang) merupakan salah satu "bom atom" yang meledak dan terjual 16 juta tiket di bioskop lokal Korea Selatan [bandingkan di Indonesia yang penduduknya 230an juta, film paling banyak ditonton Laskar Pelangi, hanya terjual 5 juta tiket]. Film tentang sejarah Korea tahun 1597 melawan gempuran kolonial Jepang memang sangat menarik minat warga Korsel untuk mengapresiasinya, ditambah aktor Choi Min Sik dan Ryu Seung-ryong yang menjadi magnet untuk film ini. Meski di sektor akting tiada yang membekas di benak (forgettable).

Babak pertama film ini skenario dibangun lewat drama dan pergumulan masing-masing karakter, salah satunya tokoh sentral Yin Sun-sin merasa pernah babak belur di Chilchonryang. Lewat gestur dan mimik marah yang kalem, Min Sik agak berhasil menyampaikannya. Sekuen babak pertama pun terasa mengulur-ulur dan divergen (kurang fokus) membangun fondasi drama-cerita. Tidak seperti film Korea biasanya yang terasa mantap membangun drama dan menyublim jadi satu dengan gagasan utama cerita filmnya. Ini berpotensi menghambarkan rasa emosional penonton. Dan memang garing. Agak garing.

Namun, kekikukkan dan kegaringan di babak pertama dibayar di babak peperangan di selat dengan strategi kearifan alam berupa pusaran air dan siklus gelombang deras yang menjadikan Dewi Fortuna berpihak ke Joseon. Komposisi orkestra (score) nan riuh dan garang menyuntikkan semangat peperangan, cukup grande untuk konten bioskop. Sayang format audio teater studio 8 blitzmegaplex terdengar melempem.

Peperangan kapal jarak jauh dan jarak dekat pastinya patriotik dan heroik, dengan darah memuncrat, mata tertancap anak panah, dan kepala terpenggal, serta meriam berdebum. Memang dibayar tapi tidak dibayar lunas. Peperangan Roaring Currents sangat klise. Ya memang perang seperti itu. Mungkin kesalahan di babak pertama.

Alhasil... Roaring Currents tetap renyah sebagai tontonan alternatif selain hegemoni basi Hollywood.

Selasa, 12 Agustus 2014

149. Dook! Dook! Biarkan Aku Masuk

Apa ramuan horor visual-audio yang jamak tersaji di layar perak? Setting tempat yang angker, set yang gelap, komposisi suara yang menegangkan dan mengagetkan. Oh iya satu lagi bahan baku horor yang ketinggalan: momok hantu yang menyeramkan!

Bagaimana dengan The Babadook, film Australia arahan Jennifer Kent yang sempat menjadi 'the official selection of Sundance Film Festival 2014'?

THE BABADOOK
Pemain: Essie Davis, Noah Wiseman, Barbara West, Tim Purcell, Daniel Henshall.
Skenario dan sutradara: Jennifer Kent.
Studio: Screen Australia, Causeway Films.

Plot dibuka dengan mimpi buruk Amelia (Essie Davis), janda yang sudah enam tahun ditinggal mati suaminya akibat kecelakaan. Dia juga insomnia akut. Belum lagi anak semata wayangnya, Samuel (Noah Wiseman), yang sering berilusi melihat makhluk lain di kolong kasur dan lemari. Samuel merupakan anak yang sulit diatur, bahkan dirumahkan oleh pihak sekolah karena kebadungannya.

The Babadook? Itu nama dari buku cerita anak-anak bergambar, Mr. Babadook, yang dalam cerita diilustrasikan sebagai monster berjubah panjang, bertopi tinggi dan berkuku setajam pisau. "Ba-ba-dook-dook," begitulah jika Mr. Babadook mengetuk pintu rumah... lalu masuklah dalam alam pikiran Sam yang percaya bila Mr. Babadook eksis dan hadir di antara mereka.

Dalam durasi 90-an menit, film ini mencoba dengan ketat membangun drama psikologi antara seorang istri yang belum mampu bangkit dari kematian suaminya, seorang ibu yang merasa tertekan akan polah anaknya, dan seorang anak yang berilusi tentang kehadiran Mr. Babadook yang meneror (benar-benar meneror). Aktor cilik Noah Wiseman terampil menunjukkan ekspresi samar di mata penonton. Apa yang dia lihat cuma bualan atau kenyataan? Dia juga kerap melontarkan humor lugu khas anak-anak. Sang aktris utama, Essie Davis, juga bermain selaras dengan Noah. Mukanya yang meluntur hampir sepanjang film cukup mewakili beban sesuai karakternya.

The Babadook tidak mengambil lokasi rumah angker. Lokasinya di perumahan padat. Sosok hantu Mr. Babadook tidak begitu terdefinisikan, hanya siluet pria berjubah panjang dan bertopi tinggi yang gemar menggedor pintu rumah. Komposisi musik penggertak jantung pun terasa minim. Tapi percayalah, semua unsur itu tidak terlalu mengurangi senyawa horor dan misterius film ini. Mungkin ada satu bagian yang kurang sebab terlihat abu-abu, yaitu siapa itu Mr. Babadook, loh kok ya tokoh Amelia memberikan cacing tanah montok-montok untuk si monster/hantu di basement rumahnya. Ini terasa blunder.

The Babadook sudah tayang di jaringan sinema blitzmegaplex sejak 6 Agustus.

Rabu, 16 Juli 2014

148. Sindiran dari Primata

"Ape don't kill ape." Kera tidak membunuh kera. Itulah sepenggal prinsip kera yang hidup sentosa di hutan Muir di taman nasional di San Fransisco.

Dawn of the Planet of the Apes adalah sekuel film Rise of the Planet of the Apes (2011) dengan latar rentang 10 tahun sejak penyerangan kera di San Fransisco yang dipimpin oleh Caesar--kera yang intelegensinya berkembang pesat dan bisa berbicara.

DAWN OF THE PLANET OF THE APES
Pemain: Jason Clarke, Andy Serkis, Gary Oldman, Toby Kebbel, Keri Russel, Kodi Smit-mcphee, Kirk Acevedo.
Tim penulis: Mark Bomback, Rick Jaffa, Amanda Silver, Pierre Boulle.
Sutradara: Matt Reeves.
Studio: 20th Century Fox, Chernin Entertainment.

Sekuel film ini dibuka dengan aksi kera berburu rusa, juga perlawanannya pada beruang bongsor yang secara sinematik cukup menawan dilihat. Sampai akhirnya seorang manusia menembak seekor kera di Muir--mungkin karena panik, maka simpul konflik pun disulut. Kera lain, Koba (Toby Kebbel)-- tangan kanan Caesar, menyarankan agar membunuh balik orang itu namun Caesar memaafkan asalkan... manusia tidak kembali lagi ke hutan, rumah para kera.

Namun itu hal sulit bagi Malcolm (Jason Clarke) dan rombongannya. Mereka (sekoloni kecil manusia yang bertahan dari wabah flu simian) krisis listrik, satu-satunya cara adalah pergi ke bendungan di hutan dan merestorasi instalasi PLTA. Negosiasi antara Malcolm dan Caesar berjalan mulus, dengan syarat manusia tidak membawa senjata (senapan) saat di hutan. Apalah arti perjanjian bila ternyata salah satu rombongan, Carver (Kirk Acevedo), masih menyimpan senapan di kopernya. Eskalasi konflik mulai menanjak. Belum lagi provokasi dan fitnah dari Koba, kera antagonis nan rapuh. Dia adalah kera yang punya pengalaman getir dengan manusia--tubuhnya pernah dijadikan "kera percobaan" di laboratorium.

Perseteruan antar kera kontra manusia tak terelakkan. Para kera pimpinan Koba yang terprovokasi menyerang manusia dengan senapan laras panjang. Perang yang tampak jomplang itu dimenangkan pihak Koba.

Kepercayaan dan kepemimpinan mungkin dua kata yang kita dapat setelah memeras isi cerita dalam film ini. Itu hal biasa! Menjadi luar biasa jika koridor cerita itu dilakonkan oleh kera yang berevolusi setara dengan manusia, juga ambisius dan brengsek seperti manusia.

"Dulu aku pikir kera lebih baik daripada manusia, namun kita ternyata memiliki kesamaan," kata Caesar sendu.

Dari sesi penokohan manusia tak ada akting yang menonjol. Justru akting Caesar, dalam ekspresi tubuh dan muka yang digerakkan oleh Andy Serkis (Gollum, King Kong), memancarkan pesona sepanjang film yang sulit kita abaikan. Sinematografi bernuansa muram ditampilkan dengan cuaca mendung yang panjang. Efek rekayasa komputer (CGI) sentuhan Hollywood nggak perlu diragukan. CGI melebur dalam naskah cerita mewujud nyaris sempurna; rapi, logis, dramatis, dan epik. Film ini ibarat makanan yang punya jejak rasa kuat di lidah usai kita menyantapnya. Kita, sebagai manusia, akan tersindir. Sindiran seperti apa? Tontonlah....

147. Ketika Transformers Dikhianati Manusia

Transformers adalah waralaba film robot tergemilang dekade ini. Film yang diangkat dari mainan produksi Hasbro Inc (Hassenfeld Brothers) ini berkisah tentang alien-robot dari Planet Saiberton, manusia menyebut mereka Transformers (karena bisa mengubah bentuk). Ada dua kubu Transformers yang berseteru: Autobots (dikomandoi Optimus Prime) dan Decepticons (dikomandoi Megatron).

Transformers terbaru dengan subjudul Age of Extinction berusaha lepas dari bayang-bayang remaja canggung, Sam Witwicky, dan benar-benar lepas sebab tokoh yang dibawakan Shia Labeouf terlupakan begitu saja.

TRANSFORMERS: AGE OF EXTINCTION
Pemain: Mark Wahlberg, Stanley Tucci, Nicola Peltz, Jack Reynor, Bingbing Li, TJ Miller.
Penulis cerita: Ehren Kruger.
Sutradara: Michael Bay.
Studio: Paramount Pictures

Setelah perang melelahkan antara Autobots dan Decepticons di Chicago empat tahun lalu, manusia dengan kekuatannya (IPTEK) berhasil menciptakan robot-robot baru demi melindungi diri. Autobots sudah tak dipercayai lagi, mereka terbuang, dan harus dimusnahkan oleh robot produksi KSI-perusahaan teknologi milik Joshua Joyce (Tucci). Contohnya purwarupa Galvatron yang mirip Optimus Prime tapi berjiwa Megatron. Robot ciptaan KSI sangat canggih karena berupa molekul (mungkin molekul metal?) yang bisa mengubah wujud.

Tapi Optimus Prime bangkit dari truk tua jelek milik duda kere, Cade Yaegar (Wahlberg). Yaegar sedang kesulitan finansial dan berusaha jadi ilmuwan yang bisa menciptakan robot pembantu manusia, lalu menjual hak patennya. Apa daya? Kebangkitan Prime terlacak oleh CIA. Dia, putrinya-Tessa (Nicola Peltz), pacar putrinya-Shane Dyson (Jack Reynor), karyawan bengkelnya-Lucas (TJ Miller), diburu CIA. Aksi kejar-kejaran antara mereka berempat di Texas sangat beradrenalin.

Joshua Joyce yang ambisius itu belum tahu bahwa ada robot-robot purba dari era prasejarah yang sudah bangkit, seperti dijelaskan pada prolog film ini. Mereka disebut Dinobots (Dinosaur robots). Perang tak terhindarkan, berpuncak di Hongkong, aksinya megah, jor-joran, dan natural karena mengambil gambar di sisi-sisi kumuh Hongkong.

Kehadiran tokoh utama baru yang dibawakan si gempal Mark Wahlberg terasa segar. Dia posesif terhadap anak semata wayangnya, penyayang, dan kadang lucu. Plot sisi relasi Yaegar dan putrinya lumayan klise ya. Bisa dimaafkan kok, kan ini bukan film drama keluarga. Tapi ekspresi tubuh aktor Wahlberg saat tokoh Tessa terculik pesawat luar angkasa cukup bikin hatiku nyeess.

Jangan lupakan rombongan Dinobots yang sangar itu. Huuh, tapi mereka unyu-unyu kok. Loh?

Selasa, 20 Mei 2014

146. Godzilla, Sang Penyelamat Kota (?)

Apa yang baru dari kadal mutan raksasa yang telah melegenda di dongeng perfilman? Mukanya lebih gahar, teriakannya selantang sangkakala Isrofil (ini lebay), dan menyemburkan api layaknya naga tiongkok. Kali ini apinya biru. Lebih tepatnya berupa napas atomik warna biru. Karena versi Jepang-nya kaiju ini memang sudah begitu.

GODZILLA
Pemain: Aaron Taylor-johnson, Ken Watanabe, Elizabeth Olsen, Juliette Binoche, Sally Hawkins, David Starthairn, Bryan Cranston.
Skenario, naskah cerita: Max Borenstein, David Callaham.
Sutradara: Gareth Edwards.
Produksi: Legendary Pictures, Warner Bros.





Karena arogansi sainsnya, (baca: obsesi nuklir) manusia tanpa menduga menciptakan sejenis makhluk mutan menyerupai pteronadon dengan kaki bagai laba-laba. Entah nongol dari mana, makhluk ini ditemukan sarangnya di pertambangan di Filipina. MUTO, nama makhluk penyerap (memakan) radiasi atom ini. Tak ayal MUTO melacak keberadaan instalasi nuklir di Janjira, Jepang. Dan tanpa sengaja pula kehadiran dua MUTO itu memicu kembalinya Godzilla dari Pasifik ke daratan.

Adalah Joe Brody (Bryan Cranston), ilmuwan Amerika yang menetap di Janjira menemukan kejanggalan dari bencana hancurnya instalasi nuklir Janjira tempat di mana istrinya, Sandra (Juliette Binoche), tewas di depan mukanya. Bukan gempa penyebab hancurnya instalasi itu. Namun hingga 15 tahun ia terus mencari kebenaran yang ditutupi otoritas Jepang.

Sampai suatu hari anaknya, Ford (Aaron Johnson), yang sudah menetap di San Fransisco, harus kembali menemui ayahnya di Jepang karena menerabas area karantina, zona radiasi sisa paparan bencana 15 tahun silam. Dari sinilah bangunan drama yang sejak menit-menit pertama dibangun sang sutradara kembali dipoles, meski sedikit mencomot porsi sosok Godzilla yang kemunculannya kurang banyak di frame.

Penampilan Ken Watanabe sebagai Dr. Ishiro Serizawa dan rekan ilmuwannya, Vivienne Graham (Sally Hawkins) terkesan biasa saja. Mereka tidak memberi solusi-aksi seperti ilmuwan Dr Niko Tattopoulus dalam Godzilla tahun 1998. Tapi di sinilah menariknya, di mana kepongahan militer meremehkan ilmuwan. Saran Dr. Serizawa adalah "let them fight" dalam konteks biarkan Godzilla membunuh dua MUTO-yang tengah bereproduksi- yang mengancam peradaban. Seperti sebuah bid'ah jika Godzilla yang gahar dan penghancur kota yang menakutkan itu dibalikkan oleh penulis naskah menjadi sang penyelamat kota--tetap sih dia menghancurkan kota. Masih ingat pelajaran biologi tentang penyeimbang alam?

Secara teknik visual Godzilla versi baru ini lebih mengedepankan gambar-gambar muram yang cenderung gelap. Pacific Rim dan Godzilla terdahulu lebih "ceria" tonase warnanya. Hal-hal klise selalu saja hadir semisal keluguan anak-anak kecil (di antaranya ada anaknya Ford) dalam bus sekolah yang terjebak di jembatan akibat pertempuran militer-MUTO-Godzilla. Dan visualisasi sekelompok karyawan kantor di gedung yang melihat amukan Godzilla. Ini juga klise, sering nongol di banyak film. Seharusnya dalam kondisi darurat sudah tidak ada orang yang bekerja. Tapi gambar klise ini memang digemari juru kamera karena very camera genic. Jangan lupakan sinematografi tsunami di Hawaii yang bikin merinding.

Music score (instrumentalia) terdengar pas menyokong tiap adegan. Nggak lebay. Nyaman di kuping. Kalau Pacific Rim cenderung bising. Kenapa harus dibandingkan dengan Pacific Rim (2013) karya Guillermo del Toro? Kan sama-sama film tentang kaiju. Kaiju tuh monster besar dalam budaya pop Jepang.

Andai durasi Godzilla ini yang 123 menit ditambah 10 menit lagi pertarungan Godzilla dan dua MUTO pasti saya kasih skor 5. Unfortunately, I give it 3,6/5.

Rabu, 02 April 2014

145. Berandal: Aksi Tanpa Basa-basi



Mengulang kesuksesan The Raid tahun 2011 silam, Merantau Films kembali dengan instalasi kedua dari franchise laga silat yang pernah menggegerkan separuh dunia. Dengan sub judul BERANDAL, sang sutradara mencoba meramu lebih banyak aksi dan tarung dengan setting lokasi dan pemain yang lebih beragam.


Judul: The Raid 2: Berandal.

Pemain: Iko Uwais, Arifin Putra, Alex Abbad, Tio Pakusadewo. Yayan Ruhian, Oka Antara, Julie Estelle, Cecep Arif Rahman, Ryuhei Matsuda, Kenichi Endo

Skenario dan sutradara: Gareth Evans

Produksi: Merantau Films, XYZ Films



Sekuel, yang naskahnya ditulis lebih dulu dari film pertamanya ini, berplot setelah penyergapan maut di rusun 15 lantai. Adalah Rama (Iko Uwais) polisi muda yang meringkus polisi korup, Wahyu (Pierre Gruno), ke polisi senior, Bunawar (Cok Simbara). Tak dinyana, Bunawar langsung mneghabisi Wahyu. Rama yang polisi idealis dan menjunjung hukum dihadapkan pada dilema bahwa tak ada lagi hukum yang bersih, mafia dan polisi adalah entitas yang sama. Maka dipilihlah jalan kekerasan. Rama mau gak mau mesti dijebloskan ke penjara demi mendekati Uco (Arifin Putra), anak mafia Bangun (Pakusadewo), dan masuk ke jantung organisasi mafia tersebut dengan identitas baru.


Drama terbangun mengalir tanpa mesti diplot bolak-balik. Uco adalah anak mafia yang belum diberi kepercayaan untuk memimpin organisasi yang diketuai ayahnya. Dia berkemauan keras, bahkan mengambil jalan berbahaya dengan bernegosiasi ke Bejo (Abbad), mafia dari organisasi lain yang bermimpi memperluas wilayah kekuasaan. Masalah kian pelik setelah itu. Pertarungan antar geng tak terelakkan. Di sinilah ramuan aksi mengalir tanpa basa-basi; mulai dari tawuran berlumpur di penjara, kejar-kejaran dengan mobil yang menguras adrenalin, aksi pembantaian oleh Hammer Girl (Estelle) dan Baseball Bat Man, hingga duel melelahkan antara Rama dan The Assasin (Arif Rahman).


Kehadiran aktor-aktor Jepang sepertinya hanya sebagai tempelan, tak ada aksi apa pun dalam konten bisokop. Termasuk mixing audio yang terasa kurang hebat gitu, soalnya saya keseringan dimanja audio film Hollywood yang keren, misal ada suatu suara ketukan pintu yang nongol hanya dalam satu saluran sampai saya menengok ke belakang studio karena merasa yang ngetuk di belakang hehehe.... Beberapa gambar pemandangan terasa menyejukkan mata di antara aksi yang cukup membikin saya menelan ludah beberapa kali. Juga gambar surealis berupa salju yang turun memeluk raga Prakoso (Ruhian). Sadis kuadrat. Belum pernah saya nonton film aksi sepuas ini. Tanpa basa-basi.


Well, film ini menarik sebagai tontonan Indonesia yang sudah mendunia. Hanya kamu yang cukup umur dan bermental mapan yang disarankan nonton film ini. Tidak cocok sebagai film pelepas penat di kala senggang, karena hanya akan menambah penat hehehehe.... Jangan dengarkan apa kata Pak Firman Bintang tentang kritiknya ke film ini yang katanya mencoreng nama Indonesia sebab film ini digambarkan amat brutal. Ahh mental dia belum mapan walau sudah beruban.


Skor: 4,7/5


Sabtu, 01 Maret 2014

144. Lebih Baik Mati daripada Menjadi Budak

"Plat!" teriak seorang penjual budak itu. Namun budak yang dipanggil tidak juga berdiri.
"Kenapa kau tidak berdiri?" tanya si penjual itu.
"Namaku bukan Plat!" Maka ditamparlah budak itu. Seorang yang menjadi budak harus kehilangan namanya. Tak punya hak berbicara. Hak melawan. Bahkan hak untuk sekadar mendapatkan sabun untuk mandi.

Dengan materi ala Oscar, 12 Years A Slave jeli menggambarkan kehidupan budak di Amerika pada abad 19, tahun 1841. Film dibuka dengan adegan para budak kulit hitam (kulit putih menyebut mereka "properti" atau julukan yang lumayan "negro") membabat kebun tebu dengan "sukacita" sembari bernyanyi. Plot mundur saat di mana Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) atau nama budaknya Plat dijebak oleh dua penipu yang sesumbar akan merekrutnya sebagai pemusik di sirkus lantaran Solomon piawai menggesek biola. Alih-alih menggesek biola, dia dikurung, dirantai, dan dirajam dengan papan hingga papannya hancur. Meski berkali-kali mengaku memiliki sertifikat bebas (org kulit hitam yang punya kertas ini tidak menjadi budak) berkali-kali pula dia dihajar. Punggungnya berdarah-darah. Dia juga harus terpisah dari keluarganya di Washington dan menggarap lahan sebagai budak di Lousiana.

Judul: 12 Years A Slave (12 tahun menjadi budak)
Sutradara: Steve McQueen
Skenario: John Ridley
Pemain: Chiwetel Ejiofor, Michael Fasbender, Lupita Nyong'o, Benedict Cumberbatch, Sarah Paulson, Brad Pitt.
Produksi dan distribusi: Summit Entertainment, Regency, Plan B
Berdasarkan buku dengan judul yang sama karya Solomon Northup.






Akting Ejiofor lumayan menjiwai dan makin kokoh dengan penampilan dari Lupita Nyong'o (budak bernama Patsy). Hampir setengah film penonton ditenggelamkan dalam tokoh Patsy yang merana. Patsy disukai tuannya, Edwin Epss (Fasbender), diistimewakan, dan ditiduri. Dia juga dicemburui istri tuannya, Mrs Epps (Sarah Paulson) yang zalim padanya. Dia dicambuk, ditusuk jarum pipinya, dihantam botol anggur mukanya oleh Nyonya Epps. Tangisan Patsy seperti meremas jantung penonton. Mungkin penonton kesal dengan orang kulit putih di film ini. Tapi kehadiran Brad Pitt (memerankan Bass) yang tidak begitu setuju dengan perbudakan bikin penonton lebih obyektif. Sayang kemunculan dia cuma sesaat.

Jempol untuk pencipta lagu dan kru di departemen musik yang membuat film suram ini terasa sedikit ceria--walau nggak dapat nominasi Oscar. Yang mana nyanyian para negro ketika membabat tebu maupun memetik kapas meniupkan angin keceriaan dalam duka. Cuma ada satu tenunan cerita yang serasa robek: perubahan fisik Solomon ketika menjadi budak selama 12 tahun. Mungkin Ejiofor bisa menguruskan badan supaya makin terlihat imej budak kurang makan, kurang tidur. Overall, cerita film ini solid, mudah diikuti, dan sukses bikin penonton iba.

Dari sisi gambar 12 Years A Slave cukup indah. Setting otentik abad 19, juga beberapa gambar yang sengaja dikendur-dikendurkan. Contoh saat Solomon digantung seharian dan suratnya yang terbakar hingga titik api terakhir.

12 Years A Slave menggondol beberapa penghargaan bergengsi tahun ini di antaranya best film (drama) in Golden Globe, best film in BAFTA, best actor in BAFTA, best picture in Academy Awards/Oscar (nominasi), best actor in Oscar, Chiwetel Ejiofor (nominasi), best suporting actor in Oscar, Michael Fasbender (nominasi), best suporting actress in Oscar, Lupita Nyong'o (nominasi), best director in Oscar, Steve McQueen (nominasi), best adapted screenplay (nominasi).

Happy watching at theatre :) Follow my twitter @AbuSudar

Senin, 03 Februari 2014

143. Penipu Ditipu Penipu

Sepandai-pandainya bajing melompat pasti nyusrup juga. Begitulah kira kira pepatah yang cocok buat film American Hustle. Film bergenre musical-drama ini menggondol Piala 71st Golden Globe Award tahun ini untuk kategori comedy or musical movie. Dengan ensembel para pemain yang menjanjikan, film ini seakan menawarkan pengembangan karakter tiap pemainnya. Sebut saja Jennifer Lawrence yang pernah meraih best actress in leading role for Academy Award 2013 untuk film Silver Linings Playbook, yang beradu akting dengan Bradley Cooper, yang mana Cooper juga bermain di film ini menjadi Richard, agen FBI yang terlalu ambisius membongkar praktik suap di Kongres AS tahun 73. Juga si Batman, Christian Bale yang merubah total tampilan fisiknya menjadi pria buncit dan botak rambutnya. Ini adalah kali kedua Bale mengorbankan perubahan fisiknya demi peran di layar emas setelah menjadi amat kurus dalam film The Machinist.


Judul: American Hustle

Sutradara: David O Russel

Pemain: Christian Bale, Amy Adams, Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Jeremy Renner.

Penulis skenario: David O Russel, Eric Warren Singer

Produksi: Annapurna Pictures

Musik: Danny Elfman



Alkisah, Irving (Bale), adalah penipu sekaligus pengusaha binatu yang juga menipu pembelinya akan benda-benda seni yang aspal, asli tapi palsu. Suatu hari ia bertemu dengan Edith (Amy) dan menyukainya karena pintar dan seksi. Sampai suatu saat ketika Richard (Cooper) berhasil menangkap Edith karena persengkongkolannya dengan Irving. Edith dipenjara, tapi Irving tidak. Agar Edith bisa selamat maka Richard menawarkan kejasama dengan menangkap para koruptor di Kongres. Namun misi mereka terlalu riskan lantaran juga menjebak Walikota Carmine Polito (Renner), walikota "baik baik" yang mau membangun kasino demi membuka lapangan kerja untuk warganya yang menganggur.


Bagaimanakah nasib Irving yang harus berhadapan dengan mafia yang bisa mengancam keluarganya? Juga nasib pernikahannya dengan Rosalyn (Lawrence)? Termasuk agen FBI ambisius yang mesti dipecat karena mentransfer uang 20 juta dolar milik anggaran FBI kepada penipu?


Aku suka tokoh Rosalyn yang galau tapi liar, tapi porsi dia di film ini kecil sehingga dia memang lebih layak nerima Oscar untuk perannya di Silver Linings Playbook tahun lalu. Juga Edith atau Sydney yang kuat, tidak mau ML dengan lelaki kecuali sudah serius dengannya. Ia juga dengan baik mengekspresikan kesakitan hatinya karena Irving dianggap menjebaknya dan tidak sungguh sungguh mencintainya. Pertengkarannya dengan Rosalyn di toilet menjadi ''cat fight" terbaik versiku hehehe.


Secara garis besar film ini menarik, belum lagi backsound lagu lagu di era 60-70an yang enak didengar. Paling gak, dapat 3,7 dari 5 bintang versi Abu Waswas.