Sabtu, 01 Maret 2014

144. Lebih Baik Mati daripada Menjadi Budak

"Plat!" teriak seorang penjual budak itu. Namun budak yang dipanggil tidak juga berdiri.
"Kenapa kau tidak berdiri?" tanya si penjual itu.
"Namaku bukan Plat!" Maka ditamparlah budak itu. Seorang yang menjadi budak harus kehilangan namanya. Tak punya hak berbicara. Hak melawan. Bahkan hak untuk sekadar mendapatkan sabun untuk mandi.

Dengan materi ala Oscar, 12 Years A Slave jeli menggambarkan kehidupan budak di Amerika pada abad 19, tahun 1841. Film dibuka dengan adegan para budak kulit hitam (kulit putih menyebut mereka "properti" atau julukan yang lumayan "negro") membabat kebun tebu dengan "sukacita" sembari bernyanyi. Plot mundur saat di mana Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) atau nama budaknya Plat dijebak oleh dua penipu yang sesumbar akan merekrutnya sebagai pemusik di sirkus lantaran Solomon piawai menggesek biola. Alih-alih menggesek biola, dia dikurung, dirantai, dan dirajam dengan papan hingga papannya hancur. Meski berkali-kali mengaku memiliki sertifikat bebas (org kulit hitam yang punya kertas ini tidak menjadi budak) berkali-kali pula dia dihajar. Punggungnya berdarah-darah. Dia juga harus terpisah dari keluarganya di Washington dan menggarap lahan sebagai budak di Lousiana.

Judul: 12 Years A Slave (12 tahun menjadi budak)
Sutradara: Steve McQueen
Skenario: John Ridley
Pemain: Chiwetel Ejiofor, Michael Fasbender, Lupita Nyong'o, Benedict Cumberbatch, Sarah Paulson, Brad Pitt.
Produksi dan distribusi: Summit Entertainment, Regency, Plan B
Berdasarkan buku dengan judul yang sama karya Solomon Northup.






Akting Ejiofor lumayan menjiwai dan makin kokoh dengan penampilan dari Lupita Nyong'o (budak bernama Patsy). Hampir setengah film penonton ditenggelamkan dalam tokoh Patsy yang merana. Patsy disukai tuannya, Edwin Epss (Fasbender), diistimewakan, dan ditiduri. Dia juga dicemburui istri tuannya, Mrs Epps (Sarah Paulson) yang zalim padanya. Dia dicambuk, ditusuk jarum pipinya, dihantam botol anggur mukanya oleh Nyonya Epps. Tangisan Patsy seperti meremas jantung penonton. Mungkin penonton kesal dengan orang kulit putih di film ini. Tapi kehadiran Brad Pitt (memerankan Bass) yang tidak begitu setuju dengan perbudakan bikin penonton lebih obyektif. Sayang kemunculan dia cuma sesaat.

Jempol untuk pencipta lagu dan kru di departemen musik yang membuat film suram ini terasa sedikit ceria--walau nggak dapat nominasi Oscar. Yang mana nyanyian para negro ketika membabat tebu maupun memetik kapas meniupkan angin keceriaan dalam duka. Cuma ada satu tenunan cerita yang serasa robek: perubahan fisik Solomon ketika menjadi budak selama 12 tahun. Mungkin Ejiofor bisa menguruskan badan supaya makin terlihat imej budak kurang makan, kurang tidur. Overall, cerita film ini solid, mudah diikuti, dan sukses bikin penonton iba.

Dari sisi gambar 12 Years A Slave cukup indah. Setting otentik abad 19, juga beberapa gambar yang sengaja dikendur-dikendurkan. Contoh saat Solomon digantung seharian dan suratnya yang terbakar hingga titik api terakhir.

12 Years A Slave menggondol beberapa penghargaan bergengsi tahun ini di antaranya best film (drama) in Golden Globe, best film in BAFTA, best actor in BAFTA, best picture in Academy Awards/Oscar (nominasi), best actor in Oscar, Chiwetel Ejiofor (nominasi), best suporting actor in Oscar, Michael Fasbender (nominasi), best suporting actress in Oscar, Lupita Nyong'o (nominasi), best director in Oscar, Steve McQueen (nominasi), best adapted screenplay (nominasi).

Happy watching at theatre :) Follow my twitter @AbuSudar