Rabu, 02 April 2014

145. Berandal: Aksi Tanpa Basa-basi



Mengulang kesuksesan The Raid tahun 2011 silam, Merantau Films kembali dengan instalasi kedua dari franchise laga silat yang pernah menggegerkan separuh dunia. Dengan sub judul BERANDAL, sang sutradara mencoba meramu lebih banyak aksi dan tarung dengan setting lokasi dan pemain yang lebih beragam.


Judul: The Raid 2: Berandal.

Pemain: Iko Uwais, Arifin Putra, Alex Abbad, Tio Pakusadewo. Yayan Ruhian, Oka Antara, Julie Estelle, Cecep Arif Rahman, Ryuhei Matsuda, Kenichi Endo

Skenario dan sutradara: Gareth Evans

Produksi: Merantau Films, XYZ Films



Sekuel, yang naskahnya ditulis lebih dulu dari film pertamanya ini, berplot setelah penyergapan maut di rusun 15 lantai. Adalah Rama (Iko Uwais) polisi muda yang meringkus polisi korup, Wahyu (Pierre Gruno), ke polisi senior, Bunawar (Cok Simbara). Tak dinyana, Bunawar langsung mneghabisi Wahyu. Rama yang polisi idealis dan menjunjung hukum dihadapkan pada dilema bahwa tak ada lagi hukum yang bersih, mafia dan polisi adalah entitas yang sama. Maka dipilihlah jalan kekerasan. Rama mau gak mau mesti dijebloskan ke penjara demi mendekati Uco (Arifin Putra), anak mafia Bangun (Pakusadewo), dan masuk ke jantung organisasi mafia tersebut dengan identitas baru.


Drama terbangun mengalir tanpa mesti diplot bolak-balik. Uco adalah anak mafia yang belum diberi kepercayaan untuk memimpin organisasi yang diketuai ayahnya. Dia berkemauan keras, bahkan mengambil jalan berbahaya dengan bernegosiasi ke Bejo (Abbad), mafia dari organisasi lain yang bermimpi memperluas wilayah kekuasaan. Masalah kian pelik setelah itu. Pertarungan antar geng tak terelakkan. Di sinilah ramuan aksi mengalir tanpa basa-basi; mulai dari tawuran berlumpur di penjara, kejar-kejaran dengan mobil yang menguras adrenalin, aksi pembantaian oleh Hammer Girl (Estelle) dan Baseball Bat Man, hingga duel melelahkan antara Rama dan The Assasin (Arif Rahman).


Kehadiran aktor-aktor Jepang sepertinya hanya sebagai tempelan, tak ada aksi apa pun dalam konten bisokop. Termasuk mixing audio yang terasa kurang hebat gitu, soalnya saya keseringan dimanja audio film Hollywood yang keren, misal ada suatu suara ketukan pintu yang nongol hanya dalam satu saluran sampai saya menengok ke belakang studio karena merasa yang ngetuk di belakang hehehe.... Beberapa gambar pemandangan terasa menyejukkan mata di antara aksi yang cukup membikin saya menelan ludah beberapa kali. Juga gambar surealis berupa salju yang turun memeluk raga Prakoso (Ruhian). Sadis kuadrat. Belum pernah saya nonton film aksi sepuas ini. Tanpa basa-basi.


Well, film ini menarik sebagai tontonan Indonesia yang sudah mendunia. Hanya kamu yang cukup umur dan bermental mapan yang disarankan nonton film ini. Tidak cocok sebagai film pelepas penat di kala senggang, karena hanya akan menambah penat hehehehe.... Jangan dengarkan apa kata Pak Firman Bintang tentang kritiknya ke film ini yang katanya mencoreng nama Indonesia sebab film ini digambarkan amat brutal. Ahh mental dia belum mapan walau sudah beruban.


Skor: 4,7/5